Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
878 research outputs found
Sort by
Fiqh-Based Social Transformation in Farmer Empowerment: A Participatory Action Research Approach
A key challenge in contemporary Islamic jurisprudence (fiqh) is its practical application to socio-ecological issues, such as sustainable agriculture and poverty alleviation. While Mas’udi’s Fikih Transformatif (Transformative Fiqh) offers a critical-emancipatory framework, it remains understudied, with some scholars questioning its feasibility. This study bridges that gap by examining three key questions: (1) What theological principles underpin transformative fiqh? (2) How can it be operationalized to empower farmers? and (3) How does it inform eco-farming practices? Applying a law and society approach alongside a year-long Participatory Action Research (PAR) study, this research engaged Indonesian farmers in implementing transformative fiqh through three mechanisms: (1) Quranic and Sunnah-based agrarian ethics; (2) the operationalization of maṣlaḥah (public benefit) via a transition to sustainable agroecological methods; and (3) farmer-led action plans for equitable resource management. Findings suggest that transformative fiqh, deeply rooted in Islamic theology, can structurally empower farmers while fostering eco-farming. This study offers a practical model for integrating faith-based values into participatory development.[Tantangan utama dalam fikih kontemporer adalah bagaimana menerapkannya pada isu-isu sosial-ekologis, seperti pertanian berkelanjutan dan pengentasan kemiskinan. Untuk itu, Masdar F. Mas’udi menawarkan Fikih Transformatif dengan kerangka kerja emansipatoris-kritis, namun tawaran tersebut masih kurang diteliti, bahkan ada yang mempertanyakan kelayakannya. Tulisan ini mengisi kesenjangan tersebut dengan melihat tiga isu utama: (1) prinsip teologis yang mendasari fikih transformatif, (2) operasionalisasi fikih transformatif untuk pemberdayaan petani, dan (3) penerapan fikih transformatif pada pertanian ramah lingkungan. Dengan pendekatan hukum dan masyarakat dalam bentuk Penelitian Aksi Partisipatif (PAR) selama setahun, penelitian ini melibatkan petani dalam menerapkan fiqh transformatif melalui tiga Langkah pokok: (1) internalisasi etika agraria berbasis al-Qur’an dan Sunnah; (2) operasionalisasi maṣlaḥah berbasis maqasid al-syari‘ah melalui transisi ke metode agroekologi berkelanjutan; dan (3) rencana aksi mandiri untuk pengelolaan sumber daya yang adil. Penelitian ini menunjukkan bahwa fiqih transformatif, yang berakar kuat dalam teologi Islam, dapat memberdayakan petani secara struktural sekaligus mendorong pertanian ramah lingkungan. Penelitian ini menawarkan model praktis untuk mengintegrasikan nilai-nilai berbasis agama ke dalam pembangunan partisipatif.
Negotiation Identity and Religious Expression in Early Childhood: A Case Study of SDITs in Lombok, Indonesia
In recent years, Integrated Islamic Elementary Schools (Sekolah Dasar Islam Terpadu, SDIT) have witnessed significant expansion, particularly in Indonesia’s urban areas. Targeting urban professionals and the upper-middle class, these institutions present a novel educational model that integrates secular and religious instruction. This movement actively disseminates broader Islamic symbols to the public while conducting specific experiments, such as the Islamization of formal education. Notably, several SDITs, classified as elite elementary schools in Lombok, West Nusa Tenggara, exhibit distinct teaching methodologies and incorporate ideological elements that diverge from those commonly found in public elementary schools, which are often perceived as more inclusive. Employing Michel Foucault’s concept of narrative and his framework of power-knowledge as an analytical lens, this study identifies the integration of these schools’ curricula as a significant marker of the emergence of a “new style of Islam” within Indonesia’s educational landscape. This evolving religious paradigm is characterized by an accelerated incorporation of Islamic symbols and the narratives of Post-Reform Islam, including pedagogical approaches that emphasize the teaching of “kaffah” Islam and the cultivation of religious identity from an early age. Educational institutions interpret this transformation favorably, viewing it as an intersection of economic, ideological, and religious opportunities.[Dalam beberapa dekade terakhir, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) telah mengalami perkembangan signifikan, khususnya di kawasan perkotaan Indonesia. Lembaga pendidikan ini menyasar kalangan pekerja urban dan kelas menengah atas dengan menawarkan pendidikan model baru yang mengintegrasikan pendidikan umum dan agama. Gerakan ini secara aktif memperkenalkan simbol-simbol Islam yang lebih luas kepada masyarakat, sekaligus menawarkan pengalaman khas, seperti islamisasi pendidikan formal. Secara khusus, beberapa SDIT yang dikategorikan sebagai sekolah dasar elit di Lombok, Nusa Tenggara Barat, menerapkan metode pengajaran yang unik dengan memasukkan unsur ideologi yang berbeda dibandingkan dengan sekolah dasar negeri, yang sering dianggap lebih inklusif. Dengan menggunakan konsep narasi Michel Foucault serta kerangka kerja power- knowledge sebagai alat analisis, penelitian ini menemukan bahwa integrasi kurikulum di SDIT merupakan salah satu indikator penting dari munculnya “Islam model baru” dalam lanskap pendidikan di Indonesia. Paradigma keagamaan yang berkembang ini ditandai oleh akselerasi penggunaan simbol- simbol Islam serta narasi Islam Pasca-Reformasi, termasuk pendekatan pedagogis yang menekankan pengajaran Islam “kaffah” serta pembentukan identitas keagamaan sejak usia dini. Institusi pendidikan membaca perubahan ini secara positif, melihatnya sebagai peluang ekonomi, ideologi, dan keagamaan yang menguntungkan.
Kalimat Kondisional Bahasa Inggris, Arab dan Indonesia (Suatu Studi Perbandingan)
Sebagaimana yang telah diterangkan dalam paper saya, pada diskusi ilmiah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tanggal 14 Juli 1978 dengan judul “ Perbedaan Struktur Kata Benda Antara Bahasa Aran, Inggris Dan Indonesia” dengan moderator Prof. dr. Mukti Ali, bahwa Bahasa-bahasa yang ada di dunia ini berbeda-beda. Akibat logis dari perbedaan itu ialah bahwa pemakai sesuatu Bahasa menganggap Bahasa lain yang bukan bahasanya sebagai suatu yang lucu. Dan demikiaan keadaan Bahasa-bahasa di dunia. Bahasa itu berbeda. Dalam perbedaan itu terletak kebesaran Allah SWT. Tuhan berfirman yang artinya: “dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lain bahasamu dan warna kulitmu, sesungguhnya pada yang demikiaan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui
Sepuluh Wasiat Tuhan dalam Al-Qur’an
Pada mulanya, belumlah ramai dibicarakan orang tentang 10 wasiat Tuhan yang terdapat dalam Al-Qur’an, karena 10 wasiat Tuhan itu tidak termuat secara tersurat, tetapi baru dapat diketahuai oleh orang setelah memperhatikan benar-benar kandungan tiga buah ayat yang terletak dalam surat al-an’am, ayat 151-153 yang tersusun secara berturut-turut. Namun demikian bagi mufasir yang memperhatikan munasabah tiga ayat tersebut dengan ayat-ayat sesudahnya, ia akan segera mendapatkan assosiasi terhadap sepuluh perintah Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Musa
IAIN Menghasilkan Doktor Pertama Dalam Ilmu Agama Islam
Istitut Agama Islam Negeri (IAIN) sebagai gabungan dari Perguruan Agama Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta dan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) Jakarta berumur 31 tahun. IAIN Yogyakarta sebagai kelanjutan dari PTAIN, didirikan di Yogyakarta pada tanggal 26 September 1951 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 34 tahun 1950 tertanggal 14 Agustus 1950, merupakan IAIN tertua. Dan IAIN Jakarta, yang cakal bakalnya adalah ADIA, yang didirikan di Jakrta berdasarkan penetapan Mentri Agama No. 1 tahun 1957, adalah IAIN kedua, yang kini berusia 25 tahun
Gejala Krisis Integritas Ilmiah di Kalangan Ilmuwan Islam
Pada kesempatan yang membahagiakan ini izinkanlah saya meminta perhatian segenap civitas akademika IAIN Syarif Hidayatullah kepada suatu gejala yang kalau kita biarkan berkembang akan merupakan hambatan yang cukup besar bagi keutuhan keterlibatan Islam dan umat Islam dalam proses pembaharuan dan pembangunan kehidupan nasional Indonesia. Gejala Yang saya maksudkan itu ialah adanya krisis integritas ilmiah yang melanda kalangan ilmuwan Islam, termasuk ilmuwan Islam di Indonesia, krisis mana telah menimbulkan akibat-akibat sampingan seperti munculnya banyak kontradiksi dalam pengertian kita tentang Islam, kesenjangan-kesenjangan yang menyolok antara pendirian formal kita dan perilaku kehidupan kita sehari-hari, dan yang tidak kurang memprihatinkan adalah timbulnya krisis panutan dan kebingungan di kalangan umat
Apakah Benar Utsman Bin Affan Seorang Nepotis? (Sebuah Tanggapan)
Pada bulan Januari 1984 terbitlah sebuah buku dengan judul Menguak Sejarah Muslim: Suatu Kritik Metodologis oleh Drs. Nurouzzaman Shiddiqi MA. Dengan terbitnya buku ini maka bertambahlah Hasanah perpustakaan sejarah Islam. Buku ini, seperti dikatakan oleh penulisnya pada “sekapur sirih”, terdiri atas tiga bab: “Penulisan Sejarah Muslim,” ”Utsman bin Affan,” dan “Islam Pada Masa Pendudukan Jepang (1942-1945).” Khusus mengenai bab kedua telah disiarkan oleh majalah Al-Jami'ah tahun XV nomor 20 (1980) dengan judul “Apakah Benar Utsman Bin Affan Seorang Nepotis?.” Dan yang akan saya tanggapi hanya yang telah disiarkan oleh majalah Al-Jami'ah atau bab kedua buku tersebut di atas
Expanding Religious Freedom Through Organizational Forms: Kebatinan, Sufism and The Global Growth Movement in Indonesia’s Spiritual Training Industry
In Indonesia, the practice of religious freedom remains deeply contested, with marginal spiritual movements often subject to stricter limitations than their officially recognized counterparts. This paper investigates two hybrid spiritual groups in contemporary Indonesia, Bhakti Nusantara and Bionergi, based in Yogyakarta, which integrate elements of Javanese spiritual traditions (Kebatinan), Sufism, and facets of the Global Growth Movement. Despite their syncretic practices, these organizations occupy a distinctive social position that grants them greater latitude in religious and spiritual expression. By comparing them with other fringe spiritual movements that have faced criticism and blasphemy charges, this paper argues that their status as spiritual or religious corporations enables them to enjoy broader freedoms. This distinction highlights the complexities of religious freedom and its dynamic governance in Indonesia, where the legal and social treatment of spiritual groups can vary significantly depending on their organizational shape and social location.[Di Indonesia, praktik kebebasan beragama tetap menjadi isu yang masih sering diperdebatkan dan gerakan spiritual marginal sering kali mendapat tantangan yang lebih berat dibandingkan kelompok keagamaan resmi. Makalah ini mengkaji dua kelompok spiritual hibrida di Indonesia kontemporer, Bhakti Nusantara dan Bionergi, yang berbasis di Yogyakarta, yang mengintegrasikan elemen tradisi spiritual Jawa (Kebatinan), Tasawuf, dan elemen-elemen dari Global Growth Movement. Meskipun bersifat sinkretik, dua kelompok ini mempunyai posisi sosial unik. Konfigurasi organisasi yang unik memberi mereka kebebasan yang lebih luas dalam mengekspresikan praktik keagamaan dan spiritual. Dibandingkan dengan gerakan-gerakan spiritual pinggiran lain yang sering mendapat kritik dan tuduhan penodaan agama, dua kelompok ini dengan status sebagai korporasi spiritual mendapat kebebasan yang lebih luas. Temuan ini menandakan kompleksitas dan dinamika tata kelola kebebasan beragama di Indonesia, bahwa ragam perlakukan kebebasan yang didapat secara sosial dan legal suatu kelompok spiritual turut ditentukan oleh bentuk organisasi dan lokasi sosialnya.
Gejala Universalitas Dalam Perkembangan Puisi Arab Modern
Fakta sejarah kesusastraan Arab telah membuktikan bahwa karya sastra genre puisi, merupakan suatu genre sastra yang paling tua dan paling kuat sebagai suatu media kesadaran estetis bangsa Arab. Tidak ada satupun bentuk ungkapan estetis lainnya yang menyamai atau melebihi kedudukan genre puisi di mata masyarakat Arab, terutama pada masa pra-Islam. Oleh karenanya perjalanan sejarah perkembangan puisi Arab akan dapat memberikan berbagai aspek dan fenomena yang menarik untuk dikaji