Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
878 research outputs found
Sort by
Islamic Faith as A Source of Coping with Work Stress
Many alternative strategies, mainly faith-based, have been used to cope with stress. The main purpose of this research is to understand the stress experienced by managers and the role of the Islamic faith in the process of coping. A qualitative phenomenological design was used, and 19 managers in the Düzce Organized Industrial Zone in Turkey were reached by snowball sampling method. Face-to-face and online interviews were conducted using a semi-structured interview form. The data were subjected to content analysis and coded using a mixed method, resulting in 282 codes grouped into 30 categories and six themes (perception of stress, sources of stress, consequences of stress, coping, place of Islam in life, Islamic coping). The study shows that the participants perceive stress as a process that can spread to all areas of life. Meanwhile, religious belief influences how an individual perceives stress and its consequences. The perception of stress also determines what type of coping strategies will be preferred. The author further argues that Islamic teachings deal with coping with stress in a more holistic way, covering both psychological and physiological dimensions. In addition, time management discipline triggered by Islamic rituals, such as prayers and other forms of worship, has a positive stress-regulating effect.[Sudah banyak strategi alternatif yang telah digunakan untuk mengatasi stres, terutama yang berbasis agama. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memahami stres yang dialami oleh para manajer perusahaan dan peran ajaran Islam dalam proses penanggulangan stres. Dengan desain fenomenologis kualitatif, penelitian ini melibatkan 19 manajer di Kawasan Industri Terorganisasi Duzce di Turki, melalui snowball sampling. Wawancara tatap muka dan daring dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara semi-terstruktur. Data yang diperoleh kemudian dikaji dengan analisis isi dan mixed-method, yang menghasilkan 282 kode yang dikelompokkan ke dalam 30 kategori dan enam tema (persepsi stres, sumber stres, konsekuensi stres, penanggulangan, posisi ajaran Islam, penanggulangan Islami). Studi ini menunjukkan bahwa para peserta menganggap stres sebagai suatu proses yang dapat menyebar ke semua bidang kehidupan. Sementara itu, keyakinan agama memengaruhi cara seorang individu memandang stres dengan segala konsekuensinya. Persepsi terhadap stres juga menentukan jenis strategi penanggulangan yang akan dipilih. Penulis juga berpendapat bahwa ajaran Islam menangani stres dengan cara yang lebih holistik, yang mencakup dimensi psikologis dan fisiologis. Selain itu, disiplin manajemen waktu yang dipicu oleh ritual-ritual Islam, seperti salat dan bentuk-bentuk ibadah lainnya, memiliki efek positif dalam mengatur stres.
Pembangunan dengan Pengembangan Lingkungan
Sebagai negara berkembang dengan jutaan penduduk menekan berat sumber-sumber alam dan tingkat kemiskinan yang masih besar, maka Indonesia hadapi masalah-masalah lingkungan Hidup yang serius. Luas dan mutu hutan banyak menurun. Areal tanah kritis yang tak produktif bertambah tiap tahun. Erosi semakin meningkat akibat semakin gundulnya bukit dan gunung. Sungai semakin dangkal akibat pelumpuran sehingga cepat membanjir. Air dipermukaan dan didalam tanah kian mengurang dan semakin kotor. Laut semakin cemar dan karang serta ikan kian menipis. Jenis binatang dan tumbuh-tumbuhan cenderung berkurang. Lingkungan pemukiman manusia kian padat dan tak sehat. Semua ini pertanda bahwa keseimbangan lingkungan hidup ditanah air kita sudah terganggu. Karena itu Garis-garis Haluan Negara dan Pelita III memuat komitmen untuk menanggulanginya. Dalam uraiaan ini diajukan rencana penanggulangan dengan permohonan supaya memperoleh pengertian dan partisipasi pemimpin formal untuk mengajak serta seluruh masyarakat dan gerak pembangunan dengan pengembangan lingkungan
Peranan Jamaluddin Al-Afghani dalam Politik
Jamaluddin Al-Afghani nama aslinya adalah Muhammad bin Safar, dilahirkan pada tahun 1254 H atau 1838 M di kota Kabul Afghanistan, keluarganya adalah keturunan orang-orang ternama dan berpengaruh yaitu Attirmidzi, keturunan Husen bin Ali. Pada umur 18 tahun dia mempelajari cabag-cabang ilmu pengetahuaan Islam dan mempelajari filsafat serta ilmu pasti (Exacta). Dia pernah tinggal di India untuk beberapa tahun dan kemudia dia melaksanakan ibadah haji di Mekkah pada tahun 1273 H (1857 M). Sekembalinya dari ibadah haji dia langsung pulang ke Afghanistan menjabat sebagai Pembantu Amir Dust Muhammad Khan, untuk mengobarkan kampanye politiknya. Pada tahun 1285 H (1869 ) dia Kembali melakasanakan ibadah Haji untuk yang kedua kalinya, dan kemudian ke Cairo secara diam-diam mengadakan hubungan dengan Al-Azhar. Ditempat kediamannya dia mengadakan kaidah-kaidah khusus (private). Pada tahun 1287 H (1871 M) dia mengunjungi kontantinopel, yang ternyata kedatangannya dielu-eluhkan oleh masyarakat dengan penuh kemeriahan dan kehangatan
Pengaruh Al-Qur’an Terhadap Adab Bahasa Arab Pada Abad Pertama Dan Kedua Hijriah
Pembahasan ini berjudul PENGARUH AL-QUR’AN TERHADAP ADAB BAHASA ARAB PADA ABAD PERTAMA DAN KEDUA HIJRIAH. Dalam tulisan ini penulis hendak mengungkapkan (terlebih dahulu) tentang arti ADAB dalam sejarah pemakaiaannya, sebab kata ADAB sering diartikan tidak sebagaimana yang dimaksud dalam arti yang sebenarnya, bagaimana asal usul pemakaiannya dan bagaimana pengertianya saat ini. Disamping itu penulis berusaha menelusuri Riwayat singkat pertumbuhan dan perkembangan Bahasa harab agar bisa diketahui bahwa kedatangan al-Qur’an merupakan rahmat bagi Bahasa arab sebab ia menjadi Bahasa yang terus maju pesat, hidup sepanjang masa, mendapat perhatian dari seluruh dunia, berkat agama Islam. Sebab Bahasa-bahasa di dunia tidak ada yang menyamai Bahasa arab yang telah hidup lebih dari lima belas abad dan tetap hidup, dalam kata-kata dan susunan, serta uslub yang selalu bersumber kepada al-Qur’an. Penulis juga berusaha mengungkapkan bahwa al-Qur’an mempunyai pengaruh besar sekali terhadap sastra dan budaya arab, juga berpengaruh terhadap pertumbuhan ilmu-ilmu pada masa sesudahnya. Dalam pembahasan ini kami batasi hanya sampai abad pertama dan kedua hijriyah, atau sekitar masa akhir daulah bani Umayyah. Sekalipun demikiaan tidak semua gambaran yang terjadi masa itu dapat diungkapkan disini. Sebab untuk pembahasa yang Panjang lebar diperlukan tempat dan waktu yang cukup, karena pengaruh Al-Qur’an bukan hanya terbatas pada masa itu saja, tetapi ia terus berpengaruh kepada semua aspek kehidupan umat Islam, baik langsung maupun tidak
Al Hakam II Khalifah Sarjana
Telaah awal ini akan mencoba mengetengahkan seorang khalifah daulah Bani Umayyah yang berkuasa dispanyol atau Andalusia pada pertengahan ke dua Abad X, sekitar sepuluh abad yang lalu. Al hakam II menonjol karena cinta pada perdamaiaan, serta menghabiskan waktunya untuk membangun negaranya. Gelar khalifah sarjana lekat pada figure ini karena yang bersangkutan asyik menekuni perpustakaan pribadinya, yang memiliki lebih dari 400.000 (empatratus ribu) manuskrip yang semuanya ditulis dengan tangan, karena percetakan belum dikenal. Perhatian khalifahini lebih dari cukup terhadap dunia Pendidikan, dan telah menghasilkan hamper setiap warganya dapat membaca dan menulis
Pendekatan Interdenominational dalam Penyusunan Program Pendidikan Agama Pada Perguruan Tinggi Umum.
Dalah satu modal dasar pembangunan nasional yang dimiliki bangsa Indonesia sebagaimana disebutkan dalam GBHN ialah “modal rohaniah dan mental yaitu kepercayaan dan ketaqwaann kepada tuhan yang maha esa. (Modal ini) merupakan tenaga penggerak yang tak ternilai harganya bagi pengisian aspirasi-aspirasi bangsa. Juga kepercayaan dan keyakinan bangsa atas kebenaran falsafah Pancasila merupakan modal sikap mental yang dapat membawa bangsa menuju cita-citanya”. Modal dasar rohaniah dan mental ini sebagaimana halnya modal-modal dasar lainnya, memerlukan pemeliharaan, pembinaan dan pengelolahan untuk dapat mencapai cita-cita pembangunan nasional mewujudkan suatu masyarakat adil dan Makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila
Filsafat Manusia Menurut Ibnu Khaldun
Pengertiaan filsafat secara elementer terambil dari Bahasa Yunani, kata majemuk filo dan sofia atau dari kata philein dan Sophia, Filo atau philein artinya cinta dalam pengertiaan yang luas yaitu berkemahuaan dan berkehendak untuk memperoleh apa yang dikehendaki. Sedangkan kata sofia adalah kebijaksanaan, yang juga mempunyai arti yang luas, yaitu mempunyai kemampuan memahami, mengerti dengan mendalam sehingga mampu menyentuh hakekatnya. Ada kaitan antara filsafat dan agama. Filsafat adalah suatu studi untuk mencari kebenaran, sedangkan agama mengajarkan tentang kebenaran. Kebenaran dalam filsafat adalah kebenaran yang berdasarkan akal fikiran, sedangkan kebenaran yang berdasarkan wahyu
Qur’anic Exegesis as A Social Critique: A Study on the Traditionalist Bisri Musthofa’s Tafsīr al-Ibrīz
This article examines Tafsīr al-Ibrīz, a Javanese exegetical work of the Quran authored by the traditionalist Muslim scholar Kyai Bisri Musthofa (1915–1977). Adopting a dialogical approach to tafsr literature, the study seeks to explore the intersection between the scriptural text and the sociocultural contexts that the exegete engages with. Written during a period marked by the intensification of Islamic reform and modernization, al-Ibrīz offers valuable historical insights into these dynamics, as well as the exegete’s responses and critiques of contemporary socio-religious challenges in Indonesia. Through a critical-dialectical epistemological framework, the article underscores two significant aspects: the intellectual perspective of the author and the socio-cultural milieu in which the book was produced. Furthermore, it contends that Bisri Musthofa epitomizes a defender of Islamic traditionalism, whose religious authority is articulated through classical Islamic scholarship. His book embodies the responses of traditionalist Muslims to the processes of modernization and rationalization in late 20th-century Indonesia, addressing issues spanning economics, theology, and ethics.[Artikel ini mengkaji Tafsir al-Ibrīz, sebuah karya tafsir al-Qur’an Jawa yang ditulis oleh ulama tradisionalis, Kyai Bisri Musthofa (1915–1977). Dengan menggunakan pendekatan dialogis literatur tafsir, penelitian ini berupaya untuk mengeksplorasi persinggungan antara teks kitab suci dan konteks sosial budaya yang dihadapi oleh penafsir. Ditulis selama periode yang ditandai oleh intensifikasi reformasi dan modernisasi Islam, al-Ibrīz menawarkan wawasan sejarah yang berharga serta tanggapan dan kritik penafsir terhadap tantangan sosial-keagamaan kontemporer di Indonesia. Melalui kerangka epistemologis dialektis-kritis, artikel ini menggarisbawahi dua aspek penting: perspektif intelektual penyusun dan lingkungan sosial-budaya tempat buku tersebut disusun. Lebih jauh, penulis berpendapat bahwa Bisri Musthofa merupakan lambang pembela tradisionalisme Islam, yang otoritas keagamaannya diartikulasikan melalui keilmuan Islam klasik. Tafsir al-Ibrīz merangkum respons kaum Muslim tradisionalis terhadap proses modernisasi dan rasionalisasi di Indonesia akhir abad ke-20, dengan membahas isu-isu yang mencakup ekonomi, teologi, dan etika.