Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
878 research outputs found
Sort by
Remembering and Forgetting: Counter-Memories of Tausug Survivors of the 1974 Battle of Jolo (Sulu, Philippines)
Examining the case of the 1974 Battle of Jolo, this article unpacks how Tausug survivors have constructed, remembered, and made sense of their memories of one of the bloodiest conflicts between the Moro National Liberation Front (MNLF), a Muslim secessionist movement in the southern Philippines, and the Armed Forces of the Philippines (AFP) during the martial law period (1972-1986). As counter-memory to the narratives of the MNLF and the military on the 1974 Battle of Jolo, this study argues that while many of the survivors want to forget and move on from the tragedy of war and violence, their memories revealed layers of problems faced by Muslim Mindanao in the recent decades. Some survivors are eager to document their experiences to reclaim their agency, while many of them transmit their collective memories and life lessons to the next generations of Tausug.[Artikel ini mengungkap bagaimana para orang-orang Tausug, yang mengalami Pertempuran Jolo tahun 1974, membangun, mengingat, dan memaknai ingatan mereka tentang salah satu konflik paling berdarah antara Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) dengan Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) selama periode darurat militer (1972-1986) tersebut. Sebagai memori tandingan terhadap narasi MNLF tentang Pertempuran Jolo Tahun 1974, penulis berpendapat bahwa banyak penyintas ingin melupakan dan mengalihkan perhatian mereka dari tragedi perang dan kekerasan di atas. Sementara, konstruksi ingatan mereka mengungkapkan lapisan-lapisan masalah yang dihadapi oleh Muslim Mindanao dalam beberapa dekade terakhir. Beberapa penyintas sangat ingin mendokumentasikan pengalaman mereka untuk mendapatkan kembali hak pilihan mereka, sementara banyak dari mereka tetap meneruskan cerita tentang kenangan kolektif dan pelajaran hidup ini kepada generasi Tausug berikutnya.
Unsur-Unsur Agama Kaum Santri yang Tercermin dalam Kitab centini
Artikel ini dikasudkan sebagai suatu pengkajiaan awal tentang satu aspek dari sedemikian banyak topik yang penting dan menarik berkenaan dengan serat centini (Buku Centini) yakni peranan dan pengajaran dari Syeh Among Raga, sau tokoh yang paling penting diantara 4 tokoh lainnya. Perlu disebutkan terlebih dahulu bahwa materi Centini yang dipergunakan dalam artikel ini didasarkan pada Serat Centini, yang diterbitkan oleh Bataviaasch Genootschap dalam 4 bagian. Serat Centini terdiri dari 12 Volume dan 722 canto. Volume i-IV : Serat Cabolang. Volum V-XII : Serat Centini. Volume V- IX : ditulis dengan tinta emas sewaktu pemerintahan Paku Buana VII (1830-1858 AD). Dan dilengkapi dengan canto pengantar baru dalam bentuk dandanggula berisi 17 canto. Dalam canto pengantar terdapat chronogram : Atata Resi Amulang Djalma, bertahun 1775 A.J = 1846 A.D. (A.J. = Anno Javanico). Bagaimana juga dalam versi ini berisi ceritera yang tidak komplit. Oleh karena itu, untuk tujuan artikel ini telah digunakan juga monograf dar Dr. Pigeaud, yang berisi satu summary yang penting, tidak hanya ini dari versi Centini yang diterbitkan tetapi juga permulaan dan kelanjutan ceritera,, yang juga belum diterbitkan
Konsepsi Tentang Insan Kamil dalam Tasawuf
Nama Tasawuf, Tasawuf dalam Bahasa inggris sering disebut Sufism. H.A.R Gibb misalnya mengatakan: There is room here only a brief summary of the beginings of the mystical movement in Islam which goes by the name of sufism. The origion of the term sufi is complex, but in general connected with the wearing of undyed garment of wool (suf). At first it was not a uniform but a mark of personal penitence, and some early ascetics comdemned the use of it. Ibn Sirin (d. 729) critized some early ascetics for wearing suf in imitation of jesus (as he said): I prefer to follow the example of the propehet who dressed in cotton. It appears that a particular group of ascetics but by the fourth century the wearing of wollen garments had becom the regular badge of the Sufis of Iraq and the name was commonly applied to all mystics. Jadi kata tasawuf dan sufi dihubungkan dengan kebiasaan mereka mengenakan pakaiaan wool kasar atau pakaiaan yang umum bagi para fakir-miskin di Timur-Tengah pada masa itu. Mereka mengenakan pakaiaan wool kasar sebagai simbul atau sebagai tanda bahwa merekalah golongan yang lebih mengutamakan hidup sederhana, mementingkan kesucian Rohani, berlainan dari kebanyakan umat Islam dimasa itu yang berlomba-lomba mengejar kesenangan hidup duniawi, berlomba dalam memakai pakaiaan yang indah-indah (sutra) dan mahal. Dengan demikiaan pemakaiaan wool kasar merupakan reaksi terhadap kecenderungan masyarakat yang mengejar kekayaan dan perhiasan duniawi, serta tidak memperhitungkan haram dean halal
Kedududkan akal dalam Hukum Islam
Akal ialah perangai manusia yang melebihi derajatnya daripada makhluq-makhluq lainnya. Dengan akalnya, manusia dapat membedakan antara yang benar dengan yang salah, antara yang baik dengan yang buruk. Akal adalah alat berfikir yang hanya dimiliki oleh manusia. Yang dimaksu dengan Hukum Islam dalam uraiaan ini ialah meliputi fiqih, yakni hukum syar’iy yang berhubungan dengan tingkah laku mukallaf yang tersimpul .
Mencari Kebenaran dan Perspektifnya (Suatu Pemikiran Filsafat)
Manusia di dunia dengan karunia akal (ratio) yang diterimanya membedakan dirinya dari makhluk yang lain. Akal menjadikan manusia memiliki derahjat dan kedudukan yang lebih tinggi darppada makhluk yang lain, karena dengan akalnya manusia berfikir, berfikir tentang apa saja. Manusia sebagai “homo sepiens”, berfikir dan ingin mengetahui lebih jauh dan mendalam tentang kenyatan-kenyataan yang dihadapi.Manusia berusaha menalari dan menguak tabir-tabir rahasia dibalik kenyataan yang dilihatnya. Segala apa saja, termasuk alam semesta dijadikan obyek pemikiran
Syariah: Dinamic Legal System
First of all I would like to thanks my great friend, His excellency Mr. H. Mohamed, the Minister Transport and the Minister in Charge of the Muslim Religious and Culture Affaire of the Republic of Sri Lanka. For his kind invitation to me to take part in this very important Islamic gathering, the Third Asian Forum of the international Shariah Conference; and I deem it an exceptional privilege and honour to be invited to address this forum, attended by prominent Islamic jurists and scholar, all with in international repute, I am doubtful trough, that I Shall be able to come up to the expectation, and to satisfy the intellectual curiosity of this professionally well infromed audience
Orientalisme Modernisasi dan Ekonomi-Politik Tiga Pendekatan Di dalam Studi Sejarah Islam Mesir Sebagai Kasus
Di dalam mempelajari orientalisme, Edward B. Said menjumpai fakta-fakta yang membuat dia merasa tidak enak, dia menulis buku, orientalisme yang terbit pada tahun 1978. Saya itu memberikan definisi orientalisme sebagai “… disiplin ilmu di dalam mana oriental (Timur) dulu (dan sekarang masih) didekati secara sistematis sebagai topik ilmu pengetahuan, penemuan dan praktek.” (P. 73). Kata Orient memberikan suatu kategori lain ‘Occident’ (Barat). Orientalisme mengatakan bahwa ada perbedaan mendasar antara barat (Eropa yang disusul kemudian oleh Amerika) dan Timur (Asia). Di sini, Timur menggambarkan sebagai suatu gambar, ide, kepribadian, bahkan pengalaman yang kontras dengan Barat
Konsepsi “Yang Esa” Dalam Filsafatnya Platonisme Platonus
Filsafat sampai kini tidak berhenti, masih jalan terus. Berbagai usaha filosofi-filosof muncul untuk menjawab pertanyaan yang tak pernah hilang dari lubuk sanubarinya. Sulitnya pertanyaan itu justru mengenai hal segalanya, sehingga tak kunjung selesai. Pertanyaan itu bukan hanya meliputi dunia yang dapat dijamak, dapat dimiliki saja, melainkan juga mengenai “Tuhan”. Masalah Tuhan merupakan masalah asasi yang menyangkut kehidupan manusia secara menyeluruh. Pengumulan dengan masalah tersebut, tidak mungkin dihindari oleh manusia, ia bukan hanya masalah akademis melulu, ia persoalan lama yang tak kunjung habis juga. Usaha dari manusia baik itu ulama, sastrawan, Sufi maupun filosof tak kunjung padam untuk menemukan tanda tanya historis itu. Sebab setiap perangkat perjalanannya senantiasa menimbulkan problema sendiri, karena itu masalah Tuhan adalah tema abadi dari perjalanan manusia