Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    Undang-Undang Melaka, Sosok Akulturasi Dari Sebuah Proses “Reseptio In Complex” (Suatu Tinjauan Reseptif)

    No full text
    Perhatian terhadap naskah-naskah sastra Indonesia lama dewasa ini di kalangan orang-orang Indonesia sendiri, sudah semakin baik  --sesuatu yang sangat menggembirakan-- khususnya bagi yang berkepentingan dalam hal ini. Dengan semakin banyaknya kajian yang dilakukan terhadap naskah-naskah lama yang sangat beragam itu kita akan dapat lebih memahami dan mendapatkan alur dan gambaran kebudayaan kita yang lebih utuh dan lengkap, khususnya alur diakronitas perkembangan kesusastraan Indonesia

    Kontak kebudayaan Pengalaman Islam

    No full text
    Setiap orang tentu tidak mengingkari, bahwa konsep pembaharuan masyarakat (social change )adalah salah satu dari konsep instrumental yang banyak dibahas oleh buku-buku sosiologi. Pembaharuan masyarakat tidak hanya dijadikan judul bab dalam suatu buku atau judul artikel dalam jurnal tetapi dan malahan dijadikan judul dari buku

    Kata Pengantar

    Get PDF

    Towards an Interreligious Fiqh: A Study of the Culture-Based Religious Tolerance in the Kaloran Community, Central Java, Indonesia

    No full text
    This paper explores local wisdom in Kaloran, Temanggung, Central Java, Indonesia, with its religious diversity that influences the understanding and practice of their religiosity. The people’s local wisdom is agama ageming aji and sing penting brayan, which becomes the basis for building religious tolerance. It raises the question of how people interpret this philosophy as a guideline for building religious tolerance. What is the dialectic pattern of religion and culture practised by Kaloran Muslims? What is the form of implementation of inter-religious fiqh that manifests religious tolerance? The researchers argue that religion for the Kaloran people is like ageman (clothing), so choosing a religion is an individual’s freedom and rights that somebody must respect. The ultimate purpose of religion is to build social harmony (brayan). In addition, the pattern of religious and cultural dialectics practised by the Muslim Kaloran is in the form of desacralisation and culturalization of religious teachings. The pattern, in turn, encourages the rise of such kind of inter-religious fiqh built by placing religion as a private matter and must go hand in hand with culture as a medium for building tolerance. The Muslim community integrated religion and culture through desacralisation and culturalization.[Tulisan ini membahas kearifan lokal masyarakat Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia, dengan keragaman keagamaannya yang mempengaruhi pemahaman dan praktik keberagamaan masyarakat. Mereka memiliki kearifan lokal berupa agama ageming aji dan sing penting brayan sebagai dasar membangun toleransi beragama. Hal ini menimbulkan pertanyaan bagaimana masyarakat memaknai falsafah tersebut sebagai pedoman dalam membangun toleransi beragama? Bagaimana pola dialektika agama dan budaya yang dipraktikkan Muslim Kaloran? Bagaimana bentuk implementasi fikih antar agama yang merupakan perwujudan dari toleransi beragama? Penelitian ini menunjukkan bahwa agama bagi masyarakat Kaloran diibaratkan sebagai ageman (pakaian), sehingga memilih agama adalah kebebasan dan hak individu yang harus dihormati. Tujuan beragama adalah untuk membangun harmoni sosial (brayan). Dengan pemahaman seperti itu, pola dialektika agama dan budaya yang dipraktikkan oleh masyarakat Kaloran berupa desakralisasi dan kulturalisasi ajaran agama terhadap budaya. Pola ini kemudian mendorong munculnya konstruksi fikih antar agama yang dibangun dengan menempatkan agama dalam wilayah privat yang harus berjalan beriringan dengan budaya sebagai media membangun toleransi. Agama dan budaya diintegrasikan melalui pola desakralisasi dan kulturalisasi

    Beberapa Prinsip Pengajaran Bahasa Asing Serta Contoh-Contoh dan Ciri-Cirinya.

    No full text
    Pengajaran Bahasa yang akan diterangkan dibawah ini berdasarkan atas pembahasan Bahasa secara ilmiah, atau Bahasa menurut linguistic. Ilmu ini melihat Bahasa itu bukan sebagai Bahasa tulisan, tetapi lebih menitik beratkan pada Bahasa ujaran (speech). Dengan alas an bahwa orang didunia ini lebih dulu memiliki Bahasa lisan, sedangkan Bahasa tulisan dating kemudian. Orang pedesaan di Indonesia, umpamanya, banyak yang buta huruf, tetapi mereka masih bisa berkomunikasi dengan Bahasa lisan. Hal ini bukan berarti bahwa Bahasa tulisan itu tidak penting dan harus diremehkan, masalahnya ialah bahwa Bahasa lisan itu merupakan gambaran Bahasa yang paling sempurna. Pada Bahasa itu terdapat: mimic, tekanan, jungtur, prosodi dan lain sebagainya. Obyek penyelidikan ilmu Bahasa ialah Bahasa lisan tersebut, bukan Bahasa tulisan

    Islam dan Tantangan Abad Baru

    No full text
    Lahirnya abad baru ke-XV Hijriyah merangsang banyak orang merenungkan perkembangan abad lalu untuk bahan pertimbangan menghadapi abad baru. Banyak kejadian telah mengisi abad ke-XV Hijriyah yang baru berakhir ini. Perang Dunia telah pecah dua kali melibatkan hamper semua negara-negara dunia. Sungguhpun perdamaian dunia secara formal berlaku sekarang namun dibanyak negara masih terdapat sengketa bersenjata yang menelan banyak korban jiwa. Teknologi dan ekonomi banyak negara maju pesat. Jumlah dan keragaman barang material tidak pernah begitu banyak dinikmati negara maju seperti halnya sekarang ini. tetapi kemiskinan dan kekurangan pangan masih diderita banyak negara-negara berkembang. sehingga pemerataan pembangunan dan keadilan sosial semakin kuat didambakan oleh semakin banyak orang.TRANSLATE with x EnglishArabicHebrewPolishBulgarianHindiPortugueseCatalanHmong DawRomanianChinese SimplifiedHungarianRussianChinese TraditionalIndonesianSlovakCzechItalianSlovenianDanishJapaneseSpanishDutchKlingonSwedishEnglishKoreanThaiEstonianLatvianTurkishFinnishLithuanianUkrainianFrenchMalayUrduGermanMalteseVietnameseGreekNorwegianWelshHaitian CreolePersian //  TRANSLATE with COPY THE URL BELOW Back EMBED THE SNIPPET BELOW IN YOUR SITE Enable collaborative features and customize widget: Bing Webmaster PortalBack/

    Perbedaan Struktur Kata Benda Antara Bahasa Arab, Inggris dan Indonesia

    No full text
    Memang sudah menjadi kenyataan bahwa Bahasa itu berbeda-beda. Dalam perbedaan itu, seorang penutur sesuatu Bahasa menganggap Bahasa lainselain dari bahasanya sebagai Bahasa yang lucu. Seorang wartawan Mesir yang Bernama Anis Mansur, umpamanya, waktu berkunjung ke Indonesia pada tahun Enam puluhan, berkata bahwa Bahasa Indonesia itu lucu. Dia merasa heran dengan bentuk jamak dalam Bahasa Indonesia, yaitu dengan mengadakanpengulangan kata yang dijadikan jamak itu, seperti ‘ buku-buku’, ‘pelan-pelan’, dan lain sebagainya. Begitu pula seorang Amerika menganggap Bahasa Indonesia itu lucu. Dia merasa heran kenapa kalimat ‘’  How do you do” diterjemahkan dengan ‘’ apa kabar’’ padahal ‘’apa kabar’’ itu jika diterjemahkan kedalam Bahasa inggris secara harfiah akan menjadi ‘’what is the news” begitu pulah orang Indonesia merasa heran, seperti yang telah dikemukakan oleh Sdr Khazin Siraj pada waktu siding diskusi ilmiah IAIN Sunan Kalijaga tanggal 30 Juni 1978, kenapa susunan Bahasa arab begitu, seakan-akan tak enak didengar oleh telinga. Sdr. Tadi, sebagai contoh, mengutip al-Qur’an surat An Nisa’ ayat ke-134 yang menimbulkan keheranannya itu. Ayat itu berbunyi, ‘’yaa ayyuhal ladziina aamanuu billaahi war a suuli.’’ Artinya, ‘’Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.’’ Dia heran kenapa orang yang telah beriman kok masih disuruh beriman lagi

    Pola pemikiran Aliran-Aliran Mutakallimin

    No full text
    Dengan judul diatas, dapat dipahami bahwa hal tersebut dikemukakan karena setiap aliran di dalam ilmu kalam memnampakkan pola yang characteristic didalam pemikirannya. Karena itulah, maka aliran yang satu berbeda dengan aliran yang lain di dalam mendekati, membahas dan menyelesaikan setiap problem akidah yang dihadapi. Oleh karena itu timbul pertanyaan: mengapa terjadi demikiaan. Yakni factor-faktor apakah yang mempengaruhinya; bahkanfaktor apakah yang lebih dominan diantara sekian factor yang ada dan mempengaruhi serta membentuk dan menentukan terciptanya pola pemikiran aliran-aliran mutakallimin itu. Di sekitar masalah inilah yang menjadi pokok permasalahan dari judul tersebut di atas

    When Literary ‘Arabiya Adopted for A Religious Mission: The Quran and the Expansion of the Arabic Poetic Koine

    Get PDF
    Much has been discussed regarding the nature of the language of the Quran, whose vocabulary, according to Muslim belief, is meaningfully chosen and perfectly structured, a contention that underlies the doctrine of its inimitability (iʻjāz). For the majority of Muslims, the debates over the nature of the Quran’s language have been relatively conclusive; it is the most fluent Arabic, derived mainly from the Quraysh dialect. Meanwhile, modern scholars working under the umbrella of critical philology and history refuse to take the above theory for granted. They link the language of the Quran with the idea of the literary ʻArabiyya, a poetic koine that was constructed much more within the culture of the pre-Islamic Arabs living in the area of Najd. This article exhibits theoretical discussions that may shed light on a new perspective of the theme. This study argues that the literary ʻArabiyya is adopted by the Quran as a mode of discourse to introduce a monotheistic message to its first audience. By doing so, the Quran works within the literary tradition of Arabic rhetoric, which was highly valued within the pre-Islamic Arab culture. As the Quran aimed at promoting monotheism by convincing as many followers as possible, it creatively expanded the boundaries of the literary ʻArabiyya by introducing sabʻah aḥruf (variant styles of reading), through which it was able to address more and more audience.[Banyak yang telah menulis tentang hakikat bahasa al-Quran, yang menurut kepercayaan Muslim, kosakatanya dipilih secara bermakna dan terstruktur dengan sempurna sehingga menjadikannya mukjizat yang mendasari doktrin tentang kemustahilan untuk menandingi. Bagi mayoritas Muslim, perdebatan mengenai hakikat bahasa al-Quran relatif sudah selesai, yakni sebagai bahasa Arab yang paling fasih, yang sebagian besar berdasarkan dialek Quraisy. Sementara itu, para sarjana modern dengan disiplin sejarah dan filologi kritis menolak untuk menerima teori di atas begitu saja. Mereka mengaitkan bahasa al-Quran dengan koine puitis, sebagai bagian dari Arab sastrawi, yang lebih banyak terbentuk dalam budaya Arab pra-Islam di wilayah Najd. Artikel ini menyuguhkan diskusi teoretis untuk menjelaskan perspektif baru dalam pembahasan tema tersebut. Penulis berpendapat bahwa unsur Arab sastrawi diadopsi oleh al-Quran sebagai sebuah cara berwacana dalam memperkenalkan pesan monoteistik kepada audiens pertamanya. Dengan demikian, al-Quran bekerja dalam tradisi retorika sastra, yang sangat dihargai dalam budaya Arab pra-Islam. Karena bertujuan untuk mempromosikan monoteisme dan menarik sebanyak mungkin pengikut, al-Quran secara kreatif memperluas cakupan Arab sastrawi dengan memperkenalkan konsep sab‘ah aḥruf (variasi gaya bacaan), yang dapat dipakai untuk menjangkau lebih banyak pembaca.

    Tafsir Hikayati as A Resistance Hermeneutics: Hikayat Prang Sabi’s Contribution to Holy War Literature and Quranic Studies

    Get PDF
    This article will elaborate on the model of interpreting the Quran in Hikayat Prang Sabi. Guided by the text by Teungku Chiek Pante Kulu, the author analyses the data by Hans Georg Gadamer’s ideas about “Preunderstanding”, “Fusion of Horizons”, and “Historical Consciousness”. This research shows that Hikayat Prang Sabi has introduced a unique model of interpreting the Quran by adopting hikayat instruments in Acehnese culture. The author identifies this interpretation model in this research with Tafsir Hikayati. Tafsir Hikayati has contributed to constructing the Acehnese’s resistance to Dutch colonialism by bringing together two very influential spirits in Acehnese society: religion and culture. Through Tafsir Hikayati, Teungku Chiek Pante Kulu constructs a “Resistance Hermeneutics” by interpreting Islamic religious texts (the Quran) using the Acehnese cultural language (hikayat). Combining these two spirits has helped the Acehnese people accept and capture the message of resistance conveyed by Hikayat Prang Sabi so that it succeeded in awakening the spirit of ideological struggle against Dutch colonialism.[Artikel ini mengelaborasi model penafsiran Al-Quran dalam Hikayat Prang Sabi. Dengan berpedoman pada teks karya Teungku Chiek Pante Kulu, penulis menginterpretasi data dengan meminjam gagasan Hans Georg Gadamer tentang “Pra-Pemahaman”, “Perpaduan Horizon (cakrawala)”, dan “Kesadaran (keterpengaruhan) sejarah”. Penelitian ini menunjukkan bahwa Hikayat Prang Sabi telah memperkenalkan model penafsiran Al-Quran yang khas dengan mengadopsi intrumen hikayat dalam kebudayaan Aceh. Dalam penelitian ini, penulis mengidentifikasi model penafsiran tersebut dengan istilah Tafsir Hikayati. Tafsir Hikayati telah berkontribusi dalam mengkontruksi perlawanan orang Aceh terhadap kolonialisme Belanda dengan mempertemukan dua spirit yang sangat berpengaruh dalam masyarakat Aceh: agama dan budaya. Melalui Tafsir Hikayati, Teungku Chiek Pante Kulu mengonstruksi tafsir perlawanan (resistance hermeneutics) dengan melakukan interpretasi teks keagamaan Islam (Al-Quran) menggunakan bahasa kebudayaan (hikayat) yang berkembang di Aceh. Perpaduan dua spirit tersebut telah membantu orang Aceh dalam menerima dan menangkap pesan perlawanan yang disampaikan oleh Hikayat Prang Sabi sehingga berhasil membangkitkan semangat perjuangan ideologis dalam melawan penjajahan Belanda.

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇