Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika
Not a member yet
1406 research outputs found
Sort by
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik TSTS (Two Stay Two Stray) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa
Hasil belajar matematika siswa SMP PGRI Pekanbaru kelas VIIIA masih tergolong rendah karena proses pembelajaran matematika dikelas masih didominasi oleh metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas sehingga dibutuhkan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran kooperatif teknik TSTS (Two Stay Two Stray). Sehingga penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIIIA SMP PGRI Pekanbaru tahun pelajaran 2023/2024 melalui penerapan model pembelajaran kooperatif teknik TSTS (Two Stay Two Stray). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan jumlah siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 65 setelah diterapkannya teknik TSTS dibandingkan sebelum tindakan dilakukan. Observasi juga menunjukkan peningkatan aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran. Meskipun terdapat beberapa kendala seperti siswa yang belum terbiasa belajar dalam kelompok, suasana kelas yang sempat ribut saat pembentukan kelompok, serta kesulitan memahami dan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS), kendala-kendala tersebut berhasil diatasi oleh guru melalui pemberian instruksi yang jelas, pengaturan posisi duduk yang terstruktur, serta penekanan pada tanggung jawab bersama dalam kelompok. Hasil akhir menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata siswa dari skor dasar yaitu 51,56% hingga UH I yaitu 57,88% dan UH II yaitu 64,06%. Dengan demikian, teknik pembelajaran kooperatif TSTS terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa
Analisis Kelengkapan dan Kesesuaian Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Pada Pembelajaran Matematika SMPN 21 Samarinda
Kurikulum merdeka merupakan pendekatan terbaru dalam sistem pendidikan Indonesia yang mengharuskan penyusunan dokumen Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) untuk mendukung pembelajaran yang sistematis, terukur, dan relevan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelengkapan dan kesesuaian dokumen Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) pada materi geometris fase D yang disusun oleh guru matematika SMPN 21 Samarinda, berdasarkan Panduan Pembelajaran dan Asesmen (PPA) serta platform Merdeka Mengajar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, dokumentasi, dan wawancara. Hasil analisis menunjukkan bahwa dokumen Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) memiliki tingkat kelengkapan sebesar 88,89%, termasuk kategori sangat lengkap. Adapun kekurangan komponen yang ada pada Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yaitu tidak mencantumkan alokasi waktu. Sedangkan, kesesuaian dokumen Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) hanya mencapai 75% yang dikategorikan sesuai. Beberapa ketidaksesuaian ditemukan seperti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yang tidak menuntaskan satu fase secara utuh, tampilan tujuan pembelajaran tidak diawali dengan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), nomor atau huruf dalam Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) tidak menunjukkan penyelesaian satu fase. Meskipun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) oleh guru matematika SMPN 21 Samarinda telah memenuhi sebagian besar indikator kesesuaian isi, beberapa aspek penting seperti kelengkapan fase, struktur penyajian, dan penomoran masih memerlukan perbaikan
Peningkatan Pemahaman Konsep Matematika Siswa Pada Materi Teorema Pythagoras Melalui Pendekatan Realistic Mathematics Education Berbantuan Alat Peraga Papan Triple Pythagoras
Pemahaman konsep sebagai keterampilan penting dalam pendidikan matematika agar siswa dapat mengingat, menerapkan, dan memaknai suatu hal mendasar hingga ke level abstrak terkait penyelesaian berbagai permasalahan kehidupan sehari-hari. Namun, kondisi aktual di sekolah dengan pembelajaran konvensional menunjukkan adanya kesenjangan bahwa konsep matematika masih begitu rendah dikuasai siswa. Konsep matematika tidak dapat dihafal atau diterapkan begitu saja, tetapi juga perlu pemaknaan mendalam agar melekat pada memori jangka panjang dan menaikkan level kesanggupan diri dalam menghadapi permasalahan yang lebih kompleks. Oleh karenanya, fokus penelitian ini ialah mengeksplorasi efektivitas pendekatan RME yang didukung oleh alat peraga papan triple Pythagoras dalam mengoptimalkan keterampilan siswa memahami konsep matematika. Dalam penelitian ini, diimplementasikan metode kuantitatif yang dirancang dengan model Quasi-eksperimental berupa control group yang melibatkan pre-test dan post-test. Sebanyak 48 siswa kelas 8 SMPS Bina Satria Medan ditetapkan sebagai sampel penelitian, mencakup 24 siswa dari 8-1 sebagai kelas yang diterapkan alat peraga papan triple Pythagoras berbasis RME maupun 24 siswa dari 8-2 sebagai bagian dari kelas kontrol dengan pendekatan konvensional. T-test menunjukkan besaran p-value 0.000115 < = 0.05. Selain itu, uji korelasi Pearson sebesar 0.7839843, mengidentifikasi siswa dengan nilai pre-test tinggi cenderung memiliki nilai post-test yang tinggi juga. Adapun analisis N-Gain juga mengindikasikan peningkatan capaian belajar kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol, terkait keterampilannya memahami konsep matematika. Untuk itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan alat peraga papan triple Pythagoras berbasis RME pada materi teorema Pythagoras mampu meningkatkan keterampilan siswa dalam memahami konsep matematika secara efektif
Pengaruh Project Based Learning-STEAM dengan Konteks Budaya Banten Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMP
Siswa diharapkan memiliki empat kompetensi penting, yang sering disebut sebagai kecakapan abad ke-21 dalam pendidikan. Kompetensi mencakup kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi, yang diperlukan agar siswa bisa berkembang dan maju dalam tuntutan dunia modern yang terus berkembang pesat. Namun, kemampuan berpikir kreatif matematis siswa di Indonesia masih memerlukan peningkatan yang cukup besar. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana penerapan model project based learning yang terintegrasi dengan STEAM dalam konteks budaya Banten bisa meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa sekolah menengah pertama dalam matematika. Desain penelitian kuasi-eksperimental digunakan untuk penelitian ini. Metode pengumpulan data meliputi hasil pretest dan posttest dari kelompok eksperimen dan kontrol, serta kuesioner persepsi yang dibagikan pada kelompok eksperimen, untuk menilai pengalaman mereka dengan model project based learning-STEAM dalam konteks budaya Banten. Dalam membuktikan hipotesis, penelitian memanfaatkan independent T-test. Temuan penelitian menjelaskan siswa yang mengimplementasikan model project based learning-STEAM dengan konteks budaya Banten menandakan keterampilan berpikir kreatif matematika yang jauh lebih baik dibandingkan dengan siswa yang diajarkan mengimplementasikan model cooperative learning. Selanjutnya, kuesioner persepsi mengungkapkan, rata-rata siswa dalam kelompok eksperimen menandakan minat dan antusiasme yang tinggi untuk belajar menggunakan pendekatan project based learning-STEAM dalam konteks budaya Banten
Pendekatan Concrete Representational Abstract (CRA) dan Aplikasi Praktis dalam Pembelajaran Matematika Sekolah
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam konsep dari pendekatan CRA meliputi: teori yang melandasi pendekatan CRA; makna pendekatan CRA; pendekatan CRA berdasarkan gaya belajar, jumlah siswa, dan tingkat kemampuan; serta aplikasi praktis pendekatan CRA dalam pembelajaran matematika. Artikel ini merupakan studi literatur. Pengumpulan data bersumber dari berbagai jenis artikel jurnal dan buku yang bereputasi. Hasil studi literatur ini menunjukkan bahwa teori belajar yang melandasi pendekatan CRA adalah teori psikologi perkembangan kognitif Bruner dan Piaget. Pendekatan CRA terdiri dari tahap konkret, representasi, dan abstrak. Pendekatan CRA efektif diterapkan jika dikonseptualisasikan sebagai kerangka kerja, bukan sebagai urutan yang terpisah. Pendekatan CRA sukses diimplementasikan dengan berbagai gaya belajar; diterapkan secara individu, kelompok kecil atau besar; dapat memfasilitasi siswa berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Aplikasi praktis pendekatan CRA dalam pembelajaran matematika dituangkan dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran
Deskripsi Kemampuan Penalaran Matematika Siswa pada Pembelajaran Berdiferensiasi pada Materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel di SMA Negeri 1 Tapa
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kemampuan siswa dalam penalaran matematika ketika pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan individu, terutama pada materi sistem persamaan linear tiga variabel. Penelitian ini adalah studi deskriptif kualitatif yang memanfaatkan angket, tes, dan dokumentasi sebagai metode pengumpulan data. Teknik analisis data dimulai dengan mereduksi data, kemudian menyajikan data, dan akhirnya menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 27 siswa, sebanyak 8 siswa dengan gaya belajar visual mencapai rata-rata nilai 69, yang tergolong dalam kategori tinggi. Selanjutnya, dari 27 siswa, sebanyak 10 siswa dengan gaya belajar audiovisual memperoleh rata-rata nilai 73, yang termasuk dalam kategori tinggi. Sementara itu, dari total 27 siswa, sebanyak 9 siswa dengan gaya belajar kinestetik mencapai rata-rata nilai 71, yang termasuk dalam kategori tinggi. Siswa di kelas X-4 SMA Negeri 1 Tapa menunjukkan kemampuan penalaran matematika yang baik dalam materi sistem persamaan linear tiga variabel saat mengikuti pembelajaran berdiferensiasi. Rata-rata nilainya mencapai 73, yang tergolong tinggi, dengan gaya belajar audiovisual yang paling menonjol
Eksplorasi Etnomatematika Rumah Adat Suku Tolaki Mekongga (Raha Bokeo) Di Kabupaten Kolaka
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) memunculkan program pendidikan yang mengintegrasikan partisipasi budaya di sekolah. Pembelajaran matematika yang berorientasi pada budaya seringkali melibatkan materi matematika yang berhubungan dengan perhitungan. Bidang yang menghubungkan matematika dengan budaya ini dikenal sebagai etnomatematika. Salah satu contoh nyata yaitu adanya unsur matematika pada bangunan Rumah Adat Mekongga. Dari bangunan rumah adat terlihat unsur budaya dalam hal ini budaya Suku Tolaki Mekongga yang memiliki nilai seni yang tercermin dari gaya arsitektur bangunan. Mengkaji dan mengeksplorasi rumah adat Raha Bokeo Suku Tolaki Mekongga sebagai alternatif sumber belajar matematika berbasis kebudayaan lokal Suku Tolaki menjadi tujuan dalam penelitian ini dengan menggunkan jenis pendekatan etnografi. Instrumen yang digunakan adalah peneliti sendiri dan teknik analisis data mengacu pada metode yang dekemukakan oleh Miles Dan Hubermann. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi yang dilakukan pada Rumah Adat Mekongga, wawancara dilakukan dengan dua narasumber yaitu arsitek rumah adat sekaligus ahli sejarawan Suku Tolaki Mekongga dan ketua adat Suku Tolaki Mekongga dan dokumentasi yang berbentuk foto atau dokumen yang berkaitan. Hasil yang diperoleh yaitu terdapat konsep-konsep geometri pada bangunan Rumah Adat Mekongga seperti persegi panjang, segitiga sama kaki, segitiga siku-siku, prisma segi empat dan pencerminan atau refleksi. Selain itu, juga terdapat aktivitas matematika dalam proses pembangunan rumah adat seperti aktivitas mengukur, aktivitas merancang bangunan, aktivitas menjelaskan dan aktivitas menentukan lokasi
Kemampuan Berpikir Kritis Matematis ditinjau dari Kemandirian Belajar melalui Model Problem Based Learning terintegrasi STEM berbantuan Interactive Flat Panel
Kemampuan berpikir kritis dan kemandirian belajar yang diperlukan pada abad 21 tentu memerlukan model, pendekatan, maupun media yang selaras seperti model PBL yang diintegrasikan dengan STEM berbantuan Interactive Flat Panel (IFP). Tujuan penelitian ini (1) menganalisis kualitas model PBL terintegrasi STEM berbantuan IFP terhadap kemampuan berpikir kirtis matematis dan (2) menemukan pola kemampuan berpikir kritis matematis ditinjau dari kemandirian belajar. Metode penelitian yang digunakan adalah mixed methode. Populasi dalam penelitian ini adalah kelas X-MAN 1 Semarang dengan teknik pengambilan sampel yaitu random sampling. Teknik pengumpulan data melalui observasi, tes, angket, dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas model PBL terintegrasi STEM dalam setiap tahapnya memperoleh hasil yang sangat baik terhadap kemampuan berpikir kritis matematis. Siswa dengan kemandirian belajar tingggi memenuhi semua indkator kemampuan berpikir kritis matematis, siswa dengan kemandirian belajar sedang tidak dapat memenuhi indikator evaluasi dan pengecekan kembali, sedangkan siswa dengan kemandirian belajar rendah masih kesulitan dalam menarik kesimpulan. Sehingga kemandirian belajar memiliki hubungan dan berpengaruh positif terhadap kemampuan berpiki kritis matematis siswa melalui pembelajaran dengan model PBL terintegrasi STEM berbantuan IFP
Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Kelas X SMA pada Materi Barisan Aritmetika
Kemampuan pemecahan masalah matematis adalah kemampuan yang penting untuk dimiliki oleh siswa. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas X mengenai materi barisan aritmetika. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dengan tiga siswa dipilih dari 36 siswa kelas X di salah satu SMAN di Karawang. Pemilihan subjek dilakukan berdasarkan kriteria kemampuan yang bervariasi, yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Data yang dikumpulkan melalui instrumen tes dan non-tes (wawancara), kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa masih tergolong rendah. Siswa dengan kategori tinggi hanya tidak memenuhi indikator memeriksa kembali, siswa dengan kategori sedang hanya memenuhi dua indikator yaitu menyusun rencana dan melaksanakan rencana, dan siswa kategori rendah hanya melaksanakan rencana dengan hasil yang diperoleh kurang tepat
Analisis Butir Soal Tes Materi Pertidaksamaan Liner untuk Siswa Kelas XI
Analisis kualitas soal tes penting dilakukan untuk memastikan bahwa soal yang digunakan mampu mengukur kemampuan siswa secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas soal tes materi pertidaksamaan linear kelas XI berdasarkan aspek validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan data berupa 57 lembar jawaban siswa. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari enam soal yang diuji, satu soal tidak valid dan tidak layak digunakan. Reliabilitas soal tergolong sedang, dengan bentuk soal berupa uraian. Daya pembeda soal nomor 1 dikategorikan buruk sehingga perlu dihapus, sedangkan soal nomor 2 hingga 6 memiliki daya pembeda yang dapat diterima. Dari segi tingkat kesukaran, kelima soal yang tersisa berada dalam kategori sedang. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar soal memiliki kualitas yang cukup baik dan dapat dimanfaatkan oleh guru sebagai acuan dalam mengevaluasi kemampuan siswa pada materi pertidaksamaan linear. Dengan demikian, analisis butir soal menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas evaluasi pembelajaran