Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika
Not a member yet
1406 research outputs found
Sort by
Kemampuan Komunikasi Matematis Tulis Siswa Pada Materi Lingkaran Ditinjau Dari Self Efficacy Siswa
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis tulis siswa pada materi lingkaran ditinjau dari self efficacy. Penelitian ini merupakah penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive sampling dengan diikuti oleh 32 siswa kelas XI MIPA 1. Subjek dalam penelitian ini yaitu tiga siswa yang terdiri dari satu siswa self efficacy tinggi, satu siswa self efficacy sedang dan satu siswa self efficacy rendah. Data dikumpulkan melalui angket self efficacy dan tes. Hasil penelitian diperoleh 1) siswa dengan self efficacy tinggi mampu merumuskan yang diketahui dan ditanyakan, menuliskan strategi atau solusi yang dikaitkan dengan rumus atau konsep, menghitung dan menggunakan operasi matematika, merumuskan kesimpulan yang diperoleh, menyajikan masalah matematika ke dalam bentuk gambar atau grafik dan menuliskan simbol atau notasi matematika, 2) siswa dengan self efficacy sedang mampu merumuskan yang diketahui dan ditanyakan, menuliskan strategi atau solusi yang dikaitkan dengan rumus atau konsep, menghitung dan menggunakan operasi matematika dan 3) siswa dengan self efficacy rendah mampu menuliskan strategi atau solusi yang dikaitkan dengan rumus atau konsep dan menghitung dan menggunakan operasi matematika
Evaluasi Kemampuan Representasi Matematis Mahasiswa Terhadap Pembelajaran Online dalam Mata Kuliah Matematika Ekonomi
Tujuan penelitian ini mengidentifikasi aspek kemampuan representasi matematis mahasiswa yang perlu ditingkatkan efek dari pembelajaran online yang terjadi dalam mata kuliah matematika ekonomi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonom Dwi Sakti Baturaja. Aspek keterampilan representasi matematis yang telah dipelajari adalah keterampilan mahasiswa dalam merepresentasi: (1) gambar, membuat gambar atau grafik untuk menyelesaikan masalah yang diberikan, (2) simbol, menyelesaikan masalah dengan membuat model ekspresi matematis, (3) verbal, menjawab soal dengan menggunakan kata-kata atau teks tertulis. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre-eksperimen dengan rancangan penelitian One Group Pretest-Posttest Design. Sampel penelitian ini berjumlah 30 mahasiswa. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes yang dibagi menjadi pretest dan postest. Analisis data menggunakan statistik kuantitatif. Teknik pengolahan data menggunakan perhitungan uji-t dengan program SPSS 20. Hasil penelitian terdapat pengaruh kemampuan representasi matematis mahasiswa terhadap pembelajaran online dalam mata kuliah matematika ekonomi. Dari hasil uji-t menunjukkan bahwa thitung sebesar 2,658 dan ttabel (2,048). Nilai thitung > ttabel. Hasil menunjukan Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pembelajaran Online memiliki pengaruh terhadap kemampuan representasi matematis mahasiswa dalam mata kuliah matematika ekonomi. Hasil analisis menunjukkan Nilai R analisis korelasi antara pembelajaran Online terhadap kemampuan representasi matematis mahasiswa dalam mata kuliah matematika ekonomi adalah 0,715 yang artinya kuat karena dalam kategori 0,600-0,799 dan Nilai R square sebesar 71,5% yang artinya kontribusi pembelajaran Online terhadap kemampuan representasi matematis mahasiswa dalam mata kuliah matematika ekonomi adalah 71,5%. Hasil evaluasi kemampuan representasi matematis mahasiswa menunjukkan mahasiswa masih lemah dalam indicator representasi symbol dan representasi verbal
Peningkatan Kemampuan Koneksi Matematis Siswa dengan Penerapan Pendekatan RME
Penelitian ini menggunakan Mix Methods desain Sequential Explanatory yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) terhadap kemampuan koneksi matematis. Penelitian dilaksanakan terhadap kelas VIII di SMP Negeri 1 Sambi. Adapun sampel hanya kelas VIII B dengan jumlah 20 siswa. Metode pengumpulan data berupa tes, wawancara, dan juga dokumentasi. Pada data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan Sign Test, sementara itu analisis data kualitatif melibatkan tiga langkah yakni reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Hasil uji Sign Test diperoleh 0,004 < 0,05 yang artinya pendekatan RME berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan terhadap koneksi matematis siswa. Selanjutnya, berdasarkan analisis data kualitatif: 1) Siswa berkoneksi matematis kategori tinggi terjadi peningkatan ketercapaian indikator dan menyelesaikan dengan tepat; 2) Siswa berkoneksi matematis kategori sedang terjadi peningkatan ketercapaian indikator, namun tidak menyelesaikan dengan tepat; 3) Siswa dengan kategori rendah, kemampuan koneksi matematisnya tidak terjadi peningkatan ketercapaian indikator. Dari penelitian ini, diperoleh kesimpulan pendekatan RME berpengaruh terhadap kemampuan koneksi matematis siswa
Pengembangan Media Animasi 3 Dimensi untuk Pembelajaran Bangun Ruang di Sekolah Dasar
Meningkatkan proses pembelajaran peserta didik, dibutuhkan sebuah media pembelajaran yang menarik serta dapat merangsang imajinasi dan kreatifitas peserta didik, salah satunya adalah media animasi 3 dimensi pada mata pelajaran bangun ruang. Media animasi 3 dimensi ini menggunakan PowerPoint Microsoft Office 365, perangkat lunak ini digunakan karena terdapat transisi terbaru yaitu Morph 3D Animation. Pengembangan media ini menggunakan model Hannafin & Peck untuk mendapatkan hasil kelayakan yang baik sehingga dapat digunakan oleh peserta didik di Sekolah Dasar (SD). Model pengembangan ini terdiri dari tiga langkah yaitu langkah analisis keperluan (need assesment), desain (design), pengembangan dan implementasi (development/implementation). Setiap langkah yang dilakukan harus melalui evaluasi dan revisi, jadi hasilnya tentu bagus karena jika belum baik tidak dapat melanjutkan pada langkah selanjutnya. Uji coba yang dilakukan menggunakan uji coba ahli, uji coba teman sejawat dan uji kelompok kecil. Subjek uji coba kelompok kecil terdiri dari 12 peserta didik. Hasil pengembangan produk dari data hasil uji coba ahli materi diperoleh persentase sebesar 91%, angka ini tanpa dilakukan revisi. Sedangkan, hasil uji coba media diperoleh hasil sebesar 81%, data ini diperlukan sedikit revisi dan untuk uji coba teman sejawat diperoleh hasil persentase sebesar 94%. Sedangkan, untuk persentase hasil data uji angket kelayakan memperoleh hasil sebesar 88%, angka tersebut masuk dalam kategori sangat baik. Sehingga media animasi tiga dimensi ini layak digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran peserta didik di Sekolah Dasar
Berpikir Kreatif Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Matematika Berdasarkan Gender
Tujuan dari penelitian ini ialah mendeskripsikan berpikir kreatif siswa SMP dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan gender. Aspek berpikir kreatif penelitian ini meliputi fluency (kelancaran), flexibility (keluwesan), dan novelty (kebaruan). Metode penelitian ini adalah penelitian deskriptif-kualitatif, data yang digunakan adalah jawaban tes tertulis siswa SMP dan transkrip wawancara. Subjek pada penelitian ini adalah dua siswa kelas VIII-M di MTsN 1 Kota Malang yaitu masing-masing satu siswa laki-laki dan satu siswa perempuan. Pemilihan subjek ini berdasarkan kelengkapan jawaban pada soal tes, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, dan rekomendasi guru Matematika kelas VIII-M. Analisis data yang dilakukan adalah jawaban tertulis satu siswa laki-laki dan satu siswa perempuan serta hasil jawaban wawancara kedua subjek. Hasil penelitian ini menunjukkan proses berpikir kreatif yang berbeda-beda. Subjek laki-laki pada aspek fluency menjawab dengan tepat dan lancar yaitu menggunakan luas bangun datar lingkaran sedangkan pada aspek novelty subjek laki-laki membentuk bangun datar lingkaran dalam bentuk seperempat. Aspek flexibility belum muncul pada subjek laki-laki. Subjek perempuan pada aspek fluency menjawab dengan tepat menggunakan luas bangun datar persegi yang dibentuk sebanyak empat bangun sehingga sama dengan luas persegi panjang. Pada aspek flexibility, subjek perempuan mampu menggunakan cara lain dalam mencari luas bangun datar yaitu menggunakan luas bangun datar segitiga, persegi, persegi panjang, dan belah ketupat
Penyelesaian Soal Matematika Kontekstual Siswa Kelas VII Berdasarkan Struktur Kalimat Ditinjau Dari Daya Juang Produktif
Penyelesaian masalah dan daya juang produktif memiliki hubungan yang erat dalam pembelajaran matematika. Siswa yang memiliki daya juang produktif cenderung memberikan pengaruh positif pada bagaimana siswa mengatasi kesulitannya saat menyelesaikan masalah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah kontekstual berdasarkan struktur kalimat ditinjau dari daya juang produktif serta mendeskripsikan strategi pembelajaran yang sesuai untuk mendorong daya juang produktif siswa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Penelitian ini dilakukan di salah satu SMP Swasta Kota Bandung yang berjumlah 20 siswa. Metode yang digunakan adalah tes, wawancara dan think aloud. Tes divalidasi oleh ahli pendidikan matematika pada validitas konten, konstruk dan muka. Analisis data pada penelitian ini mencakup reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa siswa dengan daya juang produktif yang tinggi mampu menyelesaikan soal dengan struktur bahasa kompleks dan penyelesaian kompleks. Sedangkan siswa dengan daya juang produktif rendah, masih kesulitan dalam menyelesaikan soal dengan stuktur bahasa kompleks maupun penyelesaian kompleks. Adapun beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mendorong daya juang produktif adalah dengan memberikan soal yang menantang, mengajukan pertanyaan pendorong, memberikan waktu yang cukup serta menekankan pentingnya proses kepada siswa
Kemampuan Membuat Model Matematika dan Daya Juang Produktif Siswa SMP dalam Menyelesaikan Soal Pemecahan Masalah
Membuat model matematika adalah kemampuan menerjemahkan situasi realitas ke dalam bahasa matematika. Model matematika sama dengan kemampuan representasi matematis. Ada tiga representasi matematika yang menjadi sorotan dalam penelitian ini yaitu konkrit, piktorial, dan abstrak. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu sekolah di kabupaten Bandung Barat sejumlah 51 siswa. Peneliti memilih siswa berdasarkan tingkatan daya juang produktifnya yaitu tinggi, sedang dan rendah. Siswa yang memiliki daya juang produktif tinggi dapat menjawab ketiga soal dengan benar dengan model matematika abstrak. Siswa yang memiliki daya juang produktif yang sedang dapat menjawab dua soal dengan benar dengan model matematika konkrit dan abstrak. Siswa yang memiliki daya juang produktif yang rendah dapat menjawab satu soal dengan bantuan intervensi/perlakuan dari peneliti guna mendorong daya juang produktif dengan memberikan soal pemecahan masalah dan mengajukan pertanyaan gaya Socrates. Bantuan ini tidak menghilangkan kesempatan siswa untuk aktif berfikir, sebaliknya melalui metode ini siswa dituntut untuk memaknai pengetahuannya. Sebanyak 2% siswa mengerjakan soal dengan menggunakan model matematika konkret dan seluruh siswa yang mengerjakan dengan menggunakan model matematika konkret tersebut dapat menjawab soal dengan benar. Sebanyak 7.5% siswa mengerjakan soal dengan menggunakan model pictorial dan seluruh siswa yang mengerjakan dengan menggunakan model pictorial tersebut dapat menjawab soal dengan benar. Sebanyak 90.5% siswa memilih untuk mengerjakan soal dengan menggunakan model matematika abstrak. Hanya 12.5% siswa yang mampu mengerjakan soal dengan tepat. Sebanyak 78% siswa yang gagal diakibatkan mereka memilih menggunakan model matematika abstrak padahal mereka belum menguasai model matematika abstrak dengan baik
Model Pembelajaran Generatif dalam Setting Team Accelerated Instruction (TAI) Ditinjau dari Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa
Peningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan dan partisipasi siswa dalam memecahkan masalah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menerapkan model pembelajaran generatif dalam setting TAI dalam kegiatan pembelajaran dengan siswa yang menerapkan metode pembelajaran langsung. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen. Peneliti mengambil secara acak 2 kelas yang setara untuk dijadikan sebagai kelas kontrol dan kelas eksperimen. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Langke Rembong yang berjumlah 70 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menerapkan model pembelajaran generatif dalam setting TAI lebih baik jika dibandingkan dengan siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran dengan metode pembelajaran langsung. Hasil ini diperoleh berdasarkan hasil analisis data dalam uji hipotesis dengan menggunakan uji t-Test: Two-Sample Assuming Equal Variances dengan berbantuan Ms. Excel, dimana telah ditemukan bahwa nilai peluang (P(T<=t)) yang diperoleh baik untuk one-tail maupun two-tail kurang dari nilai α yaitu . Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti menyimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang dalam pembelajarannya menerapkan pembelajaran generatif dalam setting TAI lebih tinggi/lebih baik jika dibandingkan dengan kelas yang menerapkan metode pembelajaran langsung. Selain itu, model pembelajaran ini juga dapat meningkatkan partisipasi aktif siswa sehingga kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan menyenangkan
Pengaruh Kepuasan dan Motivasi Kerja Melalui Variabel Intervening Kinerja Dosen Terhadap Prestasi Belajar Matematika Mahasisw
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar matematika mahasiswa, terutama kepuasan dan motivasi kerja dosen sebagai faktor-faktor yang mungkin memainkan peran penting dalam meningkatkan prestasi belajar matematika mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif survei dengan tujuan untuk menguji pengaruh kepuasan dan motivasi kerja dosen terhadap prestasi belajar matematika mahasiswa. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji analisis jalur (Path Analysis). Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan instrumen penelitian berupa angket kepuasan, angket motivasi kerja, penilaian kinerja dosen, dan dokumen Indeks prestasi belajar matematika mahasiswa. Sampel penelitian ini berjumlah 56 Dosen di IAIN Kerinci. Penelitian ini menunjukkan bahwa kepuasan dan motivasi kerja dosen memiliki pengaruh melalui variabel intervening kinerja dosen terhadap prestasi belajar matematika mahasiswa. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah pentingnya perhatian yang lebih serius terhadap kepuasan dan motivasi kerja dosen sebagai faktor yang berkontribusi pada peningkatan prestasi belajar matematika mahasiswa. Dengan memahami dan memperbaiki faktor-faktor ini, institusi pendidikan dapat meningkatkan kualitas pengajaran, memotivasi dosen, dan pada gilirannya, meningkatkan prestasi belajar matematika mahasiswa
Systematic Literature Review: Analysis of Learning Obstacle in Didactical Design Research on Geometry Material
Learning geometry is an important lesson because it is studied at every level of education and geometry is a sub-matter in mathematics that is very closely related to the lives of students. However, field data shows that there are still many students who experience learning difficulties in geometry material, both obstacles that are classified as ontogenic obstacles, epistemological obstacles and didactical obstacles. This study aims to identify how the distribution of research that addresses learning barriers in Didactical Design Research research on geometry material and also aims to find out what learning barriers students often experience when studying geometry. The research method used is a Systematic Literature Review using 25 articles that have been published in indexed journals Sinta and Scopus in the 2019-2023 period. The article was obtained from search results on the Google Scholar and ERIC data base. The results of this study indicate that research discussing learning barriers in geometry material is mostly carried out at the elementary school level with the sub-material that is most often discussed is two-dimensional material. The results of this study also show that students still experience many types of learning barriers including ontogenic obstacles, epistemological obstacles, and didactical obstacles