Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika
Not a member yet
1406 research outputs found
Sort by
Kemampuan Literasi Matematis Siswa Kelas VIII Ditinjau dari Kemandirian Belajar
Literasi matematis sangat diperlukan untuk menghadapi permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Namun, hasil PISA 2018 menunjukkan literasi matematis siswa di Indonesia masih rendah. Setiap siswa memiliki tingkat kemandirian belajar yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan literasi matematis siswa kelas VIII ditinjau dari kemandirian belajar, dan mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi siswa dalam menyelesaikan soal kemampuan literasi matematis ditinjau dari kemandirian belajar. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 20 Singkawang. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII di SMP Negeri 20 Singkawang yang berjumlah 25. Objek pada penelitian ini adalah kemampuan literasi matematis siswa yang ditinjau dari kemandirian belajar. Pengumpulan data dilakukan dengan pemberian angket, tes kemampuan literasi matematis dan wawancara. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu 1) siswa dengan kategori kemandirian belajar yang tinggi sudah cukup mampu dalam semua proses kemampuan literasi matematis dengan baik. Untuk siswa dengan kategori kemandirian belajar sedang hanya mampu dalam proses pertama dan kedua, untuk proses ketiga siswa masih kurang dapat menjalankannya dengan baik. Kemudian untuk siswa dengan kategori kemandirian belajar rendah hanya bisa pada proses kemampuan literasi matematis yang pertama, untuk proses kedua dan ketiga siswa masih belum dapat menjalankannya dengan baik. 2) faktor yang memengaruhi kemampuan literasi matematis siswa yaitu faktor internal yang mencakup faktor intelegensi, konsentrasi, minat dan motivasi. Kemudian faktor eksternal yaitu faktor fasilitas belajar
An Action Research on The Effect of Using Real Modeled Object in Teaching Orthographic Drawing Concepts on Students’ Performance
Computer-Aided Design (CAD) has become a common tool used by educational institutions in teaching engineering drawing. Although more practical, learning that relies too heavily on CAD can lead to a decrease in students' ability to visualize and interpret technical drawing objects. This study will examine the integration of CAD in technical drawing education with the use of real model objects in the orthographic drawing and its impact on students’s performance. The study employed a three-step data collection approach, including a pre-test, intervention, and post-test, as well as a questionnaire to determine students' perceptions of the learning process. The study participants were fifteen fourth-grade high school students from SMA Seri Aman, Kota Tinggi. The students had previously been taught orthographic drawing and had prior knowledge of the subject matter. Based on the regression testing results, a p-value of 0.00 <0.05 was obtained, indicating a significant relationship between real modeled object learning and students' learning performance. Additionally, based on the average scores, there was an improvement in each phase, with pre-test scores of 4.46 and post-test scores of 8.40, indicating that the use of real modeled objects significantly improved learning outcomes compared to conventional learning models in orthographic drawing materials
Penalaran Imitatif Siswa Berkemampuan Matematika Tinggi dalam Memahami Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penalaran imitatif siswa SMP dalam memahami sistem persamaan linear dua variabel. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VIII E SMPN 7 Pasuruan tahun ajaran 2022/2023. Dua subjek dalam penelitian ini dipilih dengan kriteria jawaban tes tuntas dan benar dengan menunjukkan adanya tiruan prosedur, menggunakan metode SPLDV yang sama, serta mempertimbangkan kemampuan siswa mengomunikasikan pemikirannya saat proses wawancara dan keteraturan penyusunan jawaban pada lembar pekerjaan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada unsur berlandasan matematika, subjek mengerti susunan langkah-langkah dalam menyelesaikan soal, tetapi dalam menerapkannya subjek hanya fokus untuk mengecek proses perhitungannya saja tanpa memperhatikan kelogisan dari langkah pemisalan variabel dan kesimpulan yang dibuat. Pada unsur peniruan prosedur, subjek menyelesaikan soal dengan mencontoh prosedur penyelesaian soal rutin SPLDV dan berkeyakinan bahwa prosedur tersebut hanya dapat diterapkan dengan mengikuti aturan pengerjaan yang telah dijelaskan oleh guru. Sedangkan pada unsur argumentasi logis, kedua subjek memiliki kemampuan yang berbeda dalam memberikan alasan logis dari prosedur penyelesaian yang telah dilakukan. Namun dalam hal membuktikan kebenaran kesimpulan, kedua subjek sama-sama tidak dapat menghubungkan jawaban pada pertanyaan sebelumnya untuk menjelaskan bukti terkait rincian uang untuk membeli bahan kue bipang yang dibutuhkan jika diketahui jumlah uang yang dikeluarkan
Analisis Profil Metakognisi Siswa dalam Pemecahan Masalah Matematis Ditinjau dari Gender pada Pembelajaran Matematika
Pemecahan masalah merupakan kemampuan tingkat tinggi, di mana setiap siswa mempunyai gaya kognitif yang berbeda-beda dalam memecahkan masalah. Keberhasilan dalam pemecahan masalah tergantung kesadaran atas informasi yang diketahui dan ditanyakan, rencana pemecahan masalah dan pelaksanaan rencana pemecahan masalah yang dikenal dengan metakognisi. Meskipun masalah yang dihadapkan sama, tetapi setiap siswa mempunyai kemampuan metakognisi yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor, salah satunya adalah perbedaan gender. Pada pengkajian ini akan dideskripsikan tentang profil metakognisi siswa laki-laki serta perempuan kelas X atas pemecahan masalah matematis materi trigonometri. Jenis pengkajian ini yakni pengkajian kualitatif deskriptif yang bertujuan guna mendeskripsikan profil metakognisi siswa laki-laki serta perempuan atas solusi pemecahan masalah matematis materi trigonometri serta mendeskripsikan perbedaan profil metakognisi siswa laki-laki dengan siswa perempuan atas pemecahan masalah matematis materi trigonometri. Subjek pengkajian ini yakni satu orang siswa laki-laki serta satu orang siswa perempuan yang masing-masing diambil dari siswa berkemampuan tinggi di kelas X-I SMA Negeri 2 Sragen Tahun Ajaran 2022/2023. Teknik pengumpulan data atas pengkajian ini yakni observasi, wawancara, dokumentasi, serta tes metakognisi. Kemudian teknik analisis data meliputi tiga kegiatan utama antara lain yakni reduksi data, penyajian data, serta mengambil kesimpulan serta verifikasi. Hasil pengkajian menegaskan bahwa profil metakognisi siswa laki-laki hanya mencapai aspek perencanaan, sedangkan profil metakognisi siswa perempuan sudah mencapai aspek perencanaan, pemantauan serta evaluasi sehingga dapat dikatakan bahwa kemampuan metakognisi siswa perempuan lebih tinggi daripada siswa laki-laki
Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik Berbasis Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Disposisi Matematis Siswa
Menganalisis validitas lembar kerja peserta didik berbasis model Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis siswa, menganalisis kepraktisan lembar kerja peserta didik berbasis model Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis siswa, menganalisis efektifitas lembar kerja peserta didik berbasis model Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis siswa. Penelitian ini menggunakan model pengembangan ADDIE. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII MTs Persiapan Negeri 4 Medan tahun ajaran 2022/2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembar kerja peserta didik yang dikembangkan sudah memenuhi kriteria valid berdasarkan nilai rata-ratanya 4,06, lembar kerja peserta didik yang dikembangkan sudah memenuhi kriteria praktis berdasarkan hasil keterlaksanaan pembelajaran yaitu IO = 4,01 (Tinggi). Lembar kerja peserta didik yang dikembangkan sudah memenuhi kriteria efektif ditinjau dari: ketuntasan klasikal mencapai 84,00%, respon peserta didik terhadap pembelajaran diperoleh di atas 80% untuk keseluruhan peserta didik yaitu 93%, peningkatan kemampuan pemecahan masalah dilihat dari nilai rata-rata N-Gain dari uji coba I sebesar 0,39 meningkat menjadi 0,50 pada uji coba II, artinya berada dalam kategori “sedang”, dan d) peningkatan disposisi matematis dilihat dari nilai rata-rata N-Gain dari uji coba I sebesar 0,52 meningkat menjadi 0,62 pada uji coba II, artinya berada dalam kategori “sedang”
Implementasi Model PBL Berbasis Peta Konsep dalam Pembelajaran Matematika Ditinjau dari Keaktifan Peserta Didik
Tujuan penelitian ini berguna dalam memahami sampai manakah peserta didik dapat memahami matematika apabila diterapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan basis peta konsep dan hasil dari penggunaan model pembelajaran tersebut dilihat dari keaktifan peserta didik. Metode yang digunakan yakni metode penelitian kuantitatif. Sampel dari penelitian ini terdiri dari 62 peserta didik dengan setiap kelasnya memiliki jumlah 31 orang, dengan dua sub kelas control dan kelas eksperimen. Teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan ujian atau tes dalam bentuk esai. Metode penganalisisan data mengaplikasikan perhitungan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama dengan tingkat signifikansi sebesar 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Pada model pembelajaran tidak ditemukan adanya pengaruh yang signifikan terhadap hasil pembelajaran peserta didik dengan nilai FA = 0,049 < F0.05;1;56 = 4,012, (2) Ditemukan adanya pengaruh signifikan pada keaktifan peserta didik terhadap hasil pembelajaran matematika dengan nilai FB = 100,657 > F0.05;2;56 = 3,161, dan (3) Tidak ditemukannya pengaruh signifikan pada interaksi antar model pembelajaran dan keaktifan peserta didik terhadap hasil pembelajaran matematika dengan nilai FAB = 1,465 < F0.05;2;56 = 3,161
Analisis Proses Pemahaman Relasional Mahasiswa Ditinjau dari Kesulitan dalam Menyelesaikan Soal Induksi Matematika
Pemahaman adalah pemahaman mengenai prosedur atau konsep yang digunakan untuk menyelesaikan soal serta mengetahui alasan menggunkan prosedur atau konsep tersebut. Dalam menyelesaikan soal induksi matematika membutuhkan pemahaman relasional yang lebih baik karena seringkali mahasiswa mengalami kesulitan dalam proses pembuktian. Oleh sebab itu tujuan penelitian ini menganalisis dan mendeskripsikan proses pemahaman relasional mahasiswa ditinjau dari kesulitan dalam menyelesaikan soal induksi matematika. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Subjek penelitian adalah mahasiswa pendidikan matematika Universitas Negeri Malang. Instrumen penelitian yang digunakan berupa soal tes dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa mahasiswa sudah memiliki pemahaman relasional dengan baik, hal ini dibuktikan dengan jawaban dalam mengerjakan soal induksi matematika. Subjek mampu melakukan prosedur secara keseluruhan dengan baik pada langkah basis maupun langkah induksi dan memperoleh jawaban yang tepat. Namun dalam mengerjakan soal tes subjek masih mengalami kesulitan pada langkah induksi, terutama dalam membuktikan asumsi benar. Hal ini dikonfirmasi subjek melalui wawancara, bahwa subjek mengalami kesulitan pada langkah induksi. Selain itu subjek juga mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadi kesulitan dalam mengerjakan soal induksi diantaranya kurangnya pemahaman akan soal dan penguasaan materi prasyarat seperti induksi lemah, deret aritmetika, aljabar, pecahan maupun bentuk pangkat. Namun demikian secara keseluruhan pemahaman relasional subjek baik, karena dapat menjelaskan prosedur beserta alasan menggunkannya dalam menyelesaikan soal induksi matematika
Analisis Proses Berpikir Siswa dalam Pemecahan Masalah Matematik Ditinjau dari Perbedaan Gaya Kognitif
Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari proses berpikir siswa SMA Muhammadiyah Kendari yang bergaya kognitif impulsif dan reflektif ditinjau dalam memecahkan masalah matematika. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif. Penelitian dilaksanakan bulan Agustus Tahun 2022 pada siswa SMA Muhammadiyah Kendari. Teknik analisis data dalam penelitian ini, yaitu (1) reduksi data. (2) penyajian data. (3) Penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa: (a) Tahap memahami masalah: kedua subjek penelitian cenderung memiliki tipe proses berpikir konseptual. (b) Tahap merumuskan strategi pemecahan masalah: kedua subjek penelitian cenderung proses berpikirnya konseptual. (c) Tahap pelaksaan strategi pemecahan masalah: subjek reflektiv cenderung tipe berpikirnya konseptual, sedangkan subjek impulsif cendrung tipe berpikirnya semikonseptual. (d) Tahap memeriksa kembali hasil pemecahan masalah: subjek implusif cenderung tipe berpikirnya semi konseptual sedangkan implusif cenderung tipe berpikirnya komputasional
Pengembangan Bahan Ajar digital Interaktif Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar digital interaktif berbasis masalah yang valid, praktis, dan efektif, sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Model yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu model pengembangan ADDIE. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII-D SMP Swasta IT Al-Hijrah 2 Deli Serdang. Sebagai objek dalam penelitian ini adalah bahan ajar digital interaktif berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Perangkat pembelajaran berbasis masalah memenuhi kriteria kevalidan dengan nilai rata-rata validasi RPP adalah 3,78 dan rata-rata validasi bahan ajar digital interaktif sebesar 3,63 untuk ahli materi dan 3,93 untuk ahli media dengan kategori sangat layak, (2) Bahan ajar digital interaktif berbasis masalah yang dikembangkan telah memenuhi kriteria kepraktisan sebesar 96,87% dengan kategori sangat praktis, (3) Bahan ajar digital interaktif berbasis masalah yang dikembangkan memenuhi kriteria efektif, yaitu: (a) Ketuntasan belajar siswa secara klasikal pada uji lapangan sebesar 92,3%, (b) Nilai rata-rata ketercapaian indikator tujuan pembelajaran sebesar 89,52, (c) Waktu pembelajaran sama dengan pembelajaran biasa, (d) Nilai respon siswa sebesar 88,86%, dan (e) Terjadi peningkatan nilai kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan rata-rata sebesar 66,88. Melalui uji Gain menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa mengalami peningkatan sebesar 0,84, termasuk dalam kategori tinggi
The Effect of Problem-Based Learning (PBL) on Improving Students' Mathematical Ability: Meta-Analysis
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran efek dan mendeskripsikan penelitian-penelitian pengaruh model Problem-Based Learning (PBL) terhadap peningkatan kemampuan matematis siswa. Kemampuan yang dapat ditingkatkan melalui Problem-Based Learning (PBL) yaitu kemampuan matematis reflektif, penalaran, berpikir kritis, spasial, komunikasi, representasi, dan koneksi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode meta-analisis. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mendokumentasikan dan mengulas berbagai artikel yang memiliki keterkaitan pada topik penelitian. Jumlah artikel yang sesuai dengan karakteristik sesuai target, screening, dan kriteria inklusi eksklusi ditemukan 29 artikel (studi primer). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada periode tahun 2012-2021 kemampuan berpikir kritis matematis mendominasi hasil penelitian dalam peningkatan kemampuan matematis melalui Problem-Based Learning (PBL). Penelitian banyak dilakukan pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Pulau Jawa dan Bali dengan ukuran sampel 30 atau lebih. Metode penelitian dari studi primer yang digunakan didominasi oleh kuasi-eksperimen. Berdasarkan hasil penelitian kesimpulan penelitian-penelitian membuktikan nilai ukuran efek gabungan implementasi Problem-Based Learning (PBL) berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan matematis siswa dari studi primer yang dianalisis adalah 1.147 dalam kategori sangat tinggi. Model PBL sangat direkomendasikan untuk digunakan dalam upaya meningkatkan kemampuan matemasis siswa dan menanamkan konsep kepada siswa yang masih kurang efektif