Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika
Not a member yet
1406 research outputs found
Sort by
Pengaruh Model Pembelajaran FIVES untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi dan Kemampua Numerasi Siswa Kelas V Sekolah Dasar
Kompetensi literasi dan numerasi memiliki peran krusial untuk pendidikan dasar yang sangat mempengaruhi pencapaian akademik dan kehidupan sehari-hari siswa. Berdasarkan temuan PISA 2023, kompetensi literasi dan numerasi siswa Indonesia masih berada pada level rendah dengan skor rata-rata 366, yang berada di bawah standar internasional. Riset ini bertujuan menganalisis pengaruh model pembelajaran FIVES (Fakta, Inferensi, Kosakata, Pengalaman, Ringkasan) terhadap peningkatan kompetensi literasi dan numerasi siswa kelas lima sekolah dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan kuasi eksperimen pretest-posttest dengan kelompok kontrol. Sampel penelitian terdiri dari 25 siswa yang dipilih secara purposif, dengan 14 siswa sebagai kelompok eksperimen di UPTD SDN Kali Pasir dan 11 siswa kelompok kontrol di UPTD SDN 1 Tegal Ombo, Kecamatan Way Bungur, Lampung Timur. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen tes kemampuan literasi dan numerasi serta observasi pembelajaran. Analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, homogenitas, uji t berpasangan, dan uji t independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model FIVES memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap peningkatan kompetensi literasi (rata-rata kenaikan 16,50 poin, t = -22,778, p = 0,000) dan numerasi (rata-rata kenaikan 17,00 poin, t = -24,731, p = 0,000). Secara bersamaan, model ini juga meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Kesimpulannya, model pembelajaran FIVES efektif meningkatkan kompetensi literasi dan numerasi melalui integrasi proses kognitif yang sistematis. Model ini direkomendasikan sebagai alternatif inovatif dalam pembelajaran di sekolah dasar
Meta Analisis: Efektivitas Augmented Reality Terhadap Materi Geometri Sekolah
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan Augmented Reality dalam pembelajaran geometri di sekolah melalui pendekatan meta-analisis. Analisis dilakukan terhadap 17 artikel yang relevan, melibatkan perhitungan ukuran efek dan kesalahan standar sebagai dasar analisis menggunakan model efek acak. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata ukuran efek sebesar 1,74 yang tergolong sangat besar, mengindikasikan bahwa Augmented Reality memiliki dampak signifikan terhadap pembelajaran geometri. Distribusi ukuran efek mencakup 8 artikel dengan efek sangat besar, 2 artikel dengan efek besar, 3 artikel dengan efek sedang, dan 4 artikel dengan efek kecil. Analisis menggunakan forest plot mengonfirmasi variasi ukuran efek dengan rentang -5,57 hingga 3,24. Hasil uji Egger menunjukkan tidak terdapat bias publikasi dalam meta-analisis ini (p = 0,107). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa Augmented Reality efektif digunakan dalam pembelajaran geometri, dengan korelasi yang signifikan dan pengaruh yang kuat. Temuan ini diharapkan menjadi acuan untuk pengembangan pembelajaran berbasis teknologi serta penelitian lebih lanjut mengenai penerapan Augmented Reality pada berbagai disiplin ilmu
Efektivitas Model Pembelajaran RICOSRE (Reading, Identifying, Constructing, Solving, Reviewing, Extending) Berbantuan Scratch Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X Dalam Materi Fungsi Kuadrat
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterlaksanaan dan mengukur efektivitas model pembelajaran RICOSRE berbantuan Scratch terhadap hasil belajar siswa kelas X pada materi fungsi kuadrat. Latar belakang penelitian ini didasari oleh rendahnya hasil belajar matematika siswa. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan quasi experiment dan desain pretest-posttest nonequivalent control group. Instrumen penelitian berupa soal pretest dan posttest sebanyak lima butir serta lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Analisis data meliputi uji normalitas, uji homogenitas, uji hipotesis (independent sample t-test dan one sample t-test), serta perhitungan gain ternormalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan model RICOSRE tergolong sangat baik dengan skor rata-rata 3,82. Terdapat perbedaan signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol (sig. 0,000), dan hasil belajar siswa kelas eksperimen melebihi Kriteria Ketuntasan Tujuan Pembelajaran (KKTP) berdasarkan uji-t (t-hitung > t-tabel). Nilai gain ternormalisasi sebesar 0,7895 juga menunjukkan efektivitas tinggi. Dengan demikian, model pembelajaran RICOSRE berbantuan Scratch terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi fungsi kuadrat
Pengaruh Model Pembelajaran CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Extending) Terhadap Kemampuan Generalisasi Siswa Kelas VIII di MTs Negeri Jombang
Pada pembelajaran matematika terdapat beberapa aktivitas penting salah satunya adalah generalisasi. Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa masih banyak siswa SMP yang belum bisa melakukan generalisasi. Sehingga diperlukan suatu proses belajar yang membuat siswa dapat melakukan generalisasi. Tujuan dari study ini yaitu mengkaji pengaruh dalam menerapkan model CORE terhadap kecakapan/kemampuan generalisasi siswa. Penelitian ini di kelas VIII G MTs Negeri Jombang pada semester genap 2024/2025. Metode pengumpulan datanya menggunakan tes dengan instrumennya soal tes. Penelitian kuasi eksperimen ini menggunakan satu kelas yang diberi perlakuan dan siswa diberi tes sebelum serta sesuadah menerapkan model CORE. Analisis data nilai tes melalui uji t dengan sampel berpasangan. Berdasarkan hasil SPSS diperoleh taraf signifikansi sebesar 0,001 sehingga kurang dari 0,05. Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan nilai tes sebelum dan sesudah menerapkan model CORE. Sehingga dapat diambil kesimpulan Rata-rata nilai tes sebelum pembelajaran CORE sebesar 38,83. Setelah diterapkan model CORE, rata-ratanya naik menjadi 70,17. Berdasarkan hasil ini terlihat siswa mengalami peningkatan dalam melakukan generalisasi. Jadi dengan menerapkan model CORE dalam penelitian ini memiliki pengaruh secara significan terhadap kemampuan generalisasi siswa
Analisis Sistematis Analisis Sistematis Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah terhadap Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa SMP
Pembelajaran matematika memegang peranan penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir logis, analitis, serta keterampilan pemecahan masalah siswa. Namun demikian, masih banyak siswa SMP mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep matematika secara mendalam, yang berdampak pada rendahnya capaian akademik mereka. Penelitian ini bertujuan melakukan telaah sistematis terhadap pengaruh model Problem-Based Learning (PBL) dalam peningkatan capaian pembelajaran matematika siswa SMP pada periode 2020–2025. Metode yang digunakan yakni Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan analisis kualitatif terhadap publikasi ilmiah terindeks SINTA 1–5. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan PBL secara konsisten efektif dalam memperbaiki penguasaan konsep, kemampuan pemecahan masalah, serta mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu, integrasi media pembelajaran interaktif, seperti live worksheet dan video animasi, turut memperkuat efektivitas implementasi PBL. Meski demikian, tantangan awal seperti kesulitan merumuskan masalah dan menyelesaikan soal masih kerap muncul, namun secara keseluruhan, penerapan PBL mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan motivasi belajar siswa. Penelitian ini menegaskan potensi PBL sebagai pendekatan inovatif dalam pembelajaran matematika serta merekomendasikan perlunya penelitian lanjutan mengenai integrasi teknologi digital dan penerapan strategi pembelajaran berdiferensiasi guna mengakomodasi keragaman kemampuan siswa. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan model PBL berbasis media interaktif untuk optimalisasi capaian pembelajaran matematika
Analisis Peran Teknologi dalam Pembelajaran Matematika Berdasarkan Perspektif Guru dan Siswa
Kemajuan teknologi telah menyebabkan perubahan yang berarti dalam sektor pendidikan, termasuk dalam pengajaran matematika. Agar pemahaman konsep abstrak dan kemampuan berpikir logis siswa meningkat, pembelajaran matematika perlu menggunakan pendekatan yang berbeda. Teknologi dianggap dapat membantu siswa memvisualisasikan ide dan terlibat lebih erat dengan materi pelajaran. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis bagaimana teknologi berperan dalam pembelajaran matematika di daerah pedalaman baik sudut pandang guru maupun siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif subjek penelitian yang dipilih melalui teknik purposive sampling di salah satu SMP di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan Teknologi memiliki dampak yang penting dalam meningkatkan proses pembelajaran matematika. Dari perspektif guru, teknologi membantu dalam menyajikan materi secara lebih interaktif dan menarik, yang dapat meningkatkan motivasi siswa. Sementara itu, dari perspektif siswa merasakan kemudahan dalam mengakses sumber belajar, dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran
Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Berbantuan Google Sites untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Peserta Didik SMP
Pemahaman konsep matematis peserta didik terindikasi rendah ditinjau dari nilai rapor, yang disebabkan kurangnya pemanfaatan media pembelajaran interaktif di sekolah. Tujuan peneliti untuk mengembangkan dan menguji kelayakan media pembelajaran interaktif menggunakan Google Sites untuk membantu peserta didik dalam meningkatkan pemahaman konsep matematis. Model pengembangan yang digunakan adalah model 4D oleh Thiagarajan dan Semmel (1974) (Define, Design, Develop, Disseminate). Tetapi, dalam pelaksanaan penelitian ini hanya sampai tahap Develop. Media ini memuat materi operasi aljabar yang sesuai dengan Kurikulum Merdeka dengan subjek penelitian berjumlah 30 peserta didik kelas VII UPT SMP Negeri 3 Jatirogo 2024/2025. Instrumen pengumpulan data meliputi lembar validasi oleh ahli materi dan ahli media yang dilakukan dua validator, serta tes hasil belajar yang berupa soal pre-test dan post-test. Hasil uji kevalidan dari ahli materi memperoleh sebesar 94% dan ahli media sebesar 87% dengan kategori sangat valid untuk keduanya. Selain itu juga dilakukan validasi soal tes oleh dua validator dengan perolehan presentase sebesar 93% yang berkategori sangat valid. Uji kepraktisan diperoleh presentase sebesar 83% dari observer termasuk kategori sangat praktis dan 75% dari angket tergolong praktis. Dan uji keefektifan diperoleh skor 0,7 dengan kriteria tinggi dalam rumus N-Gain. Jadi, Google Sites dinyatakan layak untuk meningkatkan pemahaman konsep matematis peserta didik dalam materi operasi aljabar
Kemampuan Representasi Matematis Peserta Didik MTs Ditinjau dari Self-Concept
Kemampuan representasi matematis sangat penting dalam memahami konsep dan menyelesaikan masalah, namun banyak peserta didik yang belum mampu merepresentasikan ide matematis secara optimal. Salah satu faktor yang memengaruhi kemampuan tersebut adalah self-concept. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kemampuan representasi matematis peserta didik MTs ditinjau dari tingkat self-concept mereka. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan subjek tiga peserta didik kelas IX yang dipilih secara purposif mewakili kategori self-concept tinggi, sedang, dan rendah. Data dikumpulkan melalui angket self-concept, tes representasi matematis pada materi bangun ruang sisi lengkung, dan wawancara semi-terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik dengan self-concept tinggi mampu memenuhi seluruh indikator representasi (visual, simbolik, verbal) dengan baik. Peserta didik dengan self-concept sedang menunjukkan pemahaman yang cukup namun kurang dalam ketelitian dan kejelasan penjelasan. Sebaliknya, peserta didik dengan self-concept rendah mengalami kesulitan dalam seluruh aspek representasi. Temuan ini menegaskan bahwa self-concept berpengaruh terhadap kemampuan peserta didik dalam membangun dan mengomunikasikan ide matematis. Oleh karena itu, penguatan self-concept penting dalam pembelajaran matematika
Hubungan Gaya Belajar terhadap Kemampuan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Statistika
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara gaya belajar dan kemampuan menyelesaikan masalah matematika siswa pada materi statistika. Adapun metode yang diterapkan ialah accidental sampling dengan sampel 31 siswa kelas XII yang mempelajari statistika di SMAS PAB 8 Saentis Percut Sei Tuan. Data dikumpulkan melalui kuesioner gaya belajar berbasis model VAK (Visual, Auditori, Kinestetik) dan tes matematika tentang statistika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 siswa (38,7%) memiliki gaya belajar visual, 11 siswa (35,5%) auditori, dan 8 siswa (25,8%) kinestetik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel lemah. Dengan demikian, disimpulkan bahwa gaya belajar bukan faktor utama keberhasilan dalam menguasai materi dan keberhasilan pembelajaran matematika tidak semata-mata ditentukan oleh jenis gaya belajar siswa, melainkan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain
Pengaruh Kompetensi Pedagogik Guru terhadap Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V dalam Konteks Adaptasiteknologi Digital SDN 3 Kunduran Kabupaten Blora
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji efek guru pada peningkatan hasil pembelajaran matematika siswa dan mencakup bidang kognitif dan non-kognitif. Kemampuan pendidikan memainkan peran penting dalam proses pembelajaran dengan membentuk keterampilan mental siswa, strategi kognitif, sikap dan keterampilan. Studi ini menggunakan metode kuantitatif menggunakan data yang dikumpulkan di SDN dengan kuesioner yang dibagi menjadi siswa kelas 5. Analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS dengan berbagai tes statistik termasuk keandalan, normalitas, multikolinieritas, organisasi, uji-t, uji-F, dan fitur feikation. Hasil menunjukkan bahwa kemampuan pelatihan guru memiliki dampak signifikan pada hasil hasil pembelajaran matematika siswa. Ini didukung oleh koefisien nilai penentuan (r²) dari t 8.037, p-value 0.000, dan 0,600. Ini menunjukkan bahwa 60% variasi matematika dapat dijelaskan oleh keterampilan guru pedagogi. Singkatnya, memperkuat kemampuan pelatihan guru sangat penting untuk meningkatkan tidak hanya kognitif