Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika
Not a member yet
1406 research outputs found
Sort by
Pengembangan Media Pembelajaran Menggunakan Adobe Flash Materi Balok dan Kubus Kelas VIII SMP Negeri 9 Satap Langowan
The use of technology in teaching and learning activities can increase the effectiveness of learning. Learning media is an important aspect used in the teaching and learning process which can be developed using technology such as learning media using Adobe Flash. The aim of this research is to develop the use of Adobe Flash learning media in learning blocks and cubes material for class 8 of SMP Negeri 9 Satap Langowan. and knowing the quality of the material from three aspects, namely validity, practicality and effectiveness. This type of research is Research and Development (R&D) using the ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation and Evaluation) model. According to the Validity aspect, the percentage from media experts is 95.3% with very valid criteria, from material experts 87.3% with very valid criteria, and the percentage from the practical aspect is 96.88% with very practical criteria, and the percentage from the effectiveness aspect is 95. 45% with effective criteria. So it can be concluded that the learning media using Adobe Flash is valid based on expert assessments, interesting based on the results of student response questionnaires, and effective based on student learning outcomes tests
Peningkatan Berpikir Matematis Siswa Sekolah Dasar Melalui Implementasi Model Problem Based Learning
Proses pembelajaran matematika di kelas khususnya di sekolah dasar, harus dilakukan dengan metode yang menyenangkan agar siswa terlibat aktif dan dapat menumbuhkan mathematical thinking. Karena tingkat sekolah dasar adalah modal memperoleh ilmu untuk melanjutkan ketingkat yang lebih tinggi. Kemampuan mathematical thinking meliputi aspek specialization, generalization, conjecturing, abstraction, reasoning and proving. Tujuan dari penelitian ini untuk menerapkan problem based learning dalam meningkatkan mathematical thinking siswa sekolah dasar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Desain penelitian yang digunakan adalah nonequivalent control group design., sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV sebanyak 20 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan pencapaian kemampuan mathematical thinking yang signifikan antara siswa dengan menerapkan model pembelajaran problem based learning dan yang dengan menerapkan pembelajaran konvensional. Perbedaan capaian kemampuan yang dibangun oleh empat indikator yakni specializing, generalizing, conjecturing and convincing antara siswa yang memperoleh model problem based learning dan model konvensional hanya terjadi pada siswa dengan kemampuan awal kategori sedang, dengan demikian model problem based learning efektif dalam meningkatkan mathematical thinking siswa sekolah dasar
Eksplorasi Nilai Karakter Pada Penyelesaian Masalah Materi Bilangan Di Kelas VII SMP Lkia Pontianak
Eksplorasi nilai karakter siswa pada penyelesaian masalah materi bilangan di Sekolah Menengah Pertama dilatarbelakangi oleh banyaknya siswa yang tidak bersemangat pada pelajaran matematika dan mengakibatkan nilai matematika siswa rendah. Hal tersebut menunjukkan nilai karakter siswa yang belum terlihat sehingga bertolak belakang dengan implementasi nilai karakter yang terdapat pada kurikulum 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan nilai karakter siswa pada penyelesaian masalah materi bilangan di Sekolah Menengah Pertama. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah 7 orang siswa kelas VII di SMP LKIA Pontianak. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik tes dan non tes. alat bantu yang digunakan adalah tes tertulis, observasi dan wawancara. Analisis data yang digunakan memiliki tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah nilai karakter jujur, kerja keras, dan kreatif muncul sebesar 66,7% sedangkan untuk nilai karakter rasa ingin tahu dan percaya diri muncul sebesar 33,3%
Analisis Kemampuan Pemahaman Konsep dan Berpikir Kritis Melalui Penerapan Model Pogil dengan Strategi LSQ
Berdasarkan nilai ujian tengah semester matematika, 66,2% siswa mendapatkan nilai di bawah KKM dari total 127 siswa. Pencapaian hasil belajar yang diperoleh siswa menunjukkan kemampuan yang mencerminkan rendahnya pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa. Mengetahui kemampuan pemahaman konsep dan berpikir kritis siswa yang dipengaruhi oleh penerapan model POGIL dan strategi LSQ menjadi tujuan dalam penelitian ini. Metode penelitian ini adalah eksperimen semu dengan desain yang digunakan adalah posttest kontrol. Instrumen untuk tes dengan analisis data melalui uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis menggunakan MANOVA. Setelah melakukan penelitian dan perhitungan dengan uji MANOVA, diperoleh nilai signifikansi ???? < 0,05. Disimpulkan bahwa model POGIL dengan strategi LSQ mempengaruhi kemampuan pemahaman konsep dan berpikir kritis matematis
Students’ Perceptions of Mathematics Learning Based on Their Brain Domination Group
This research discusses students' perceptions of mathematics learning based on their brain dominance. Descriptive qualitative methods were used with questionnaires and interviews. The research subjects were 26 students who filled out a questionnaire in the form of a brain dominance questionnaire, with details of 6 students who were interviewed in depth. Data analysis was carried out through discourse analysis of the interview results by considering the respondent's environmental context. The results of the research show that there are differences in perception between students who are right and left brain dominant and students who use both equally. Some students have different ease and difficulties in learning mathematics, as well as different views about the benefits of this material in everyday life. Apart from brain dominance, there are several other factors that influence students' perceptions, including the way teachers teach and the learning environment. Knowing students' brain dominance is important, because it can help teachers determine how to teach material appropriately so that it gets a good perception for all students, whether they are right-brain dominant, left-brain dominant, or those who tend to be balanced. In conclusion, students' perceptions of mathematics learning can be different, depending on their brain dominance
Analisis Metakognitif Ditinjau dari Kecerdasan Linguistik
Pembelajaran matematika adalah proses interaksi kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa yang melibatkan pengembangan pola berfikir dan mengolah logika pada suatu lingkungan belajar yang diciptakan oleh guru dengan berbagai aspek dan metode agar program belajar matematika tumbuh dan berkembang secara optimal, efektif, dan efisien. Hal ini dapat dipengarui oleh kemampuan metakognitif yang dimiliki siswa, dengan adanya kemampuan ini siswa akan lebih mudah memahami suatu masalah. Siswa yang memiliki keterampilan metakognitif akan bisa mengatur dan mengontrol kegiatan belajarnya sendiri. Hal lain yang perlu diperhatikan selain kemampuan metakognitif dalam menyelesaikan persoalan matematika adalah kecerdasan dominan linguistikyang dimiliki siswa. Dalam penelitian ini telah dianalisis dari kemampuan linguistik siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun teknik pengambilan data dilakukan dengan cara angket, tes dan wawancara. Dari data yang telah dianalisis diatas diperoleh tentang kemampuan metakognitif dari kecerdasan linguistic untuk siswa kelas X SMA ITP Surabaya. Dari analisis tersebut diperoleh bahwa siswa yang memiliki kecerdasan dominan linguistik hanya mampu memenuhi dua tahapan penyelesaian yaitu tahap pemantauan dan tahap evaluasi. Hal ini dapat disimpulkan bahwa siswa yang memiliki kecerdasan dominan linguistik kurang baik dalam menyelesaikan suatu persoalan. Hal ini dikarenakan pada siswa yang memiliki kecerdasan dominan linguistik cenderung kurang fokus atau kurang teliti dalam menuliskan pemodelan matematika, menyelesaikan soal Langkah demi Langkah jawaban yang benar serta tidak menuliskan kesimpulan dari jawaban yang diminta oleh soal
Systematic Literature Review: Strategi Scaffolding dalam Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan strategi Scaffolding dalam pembelajaran matematika dan hubungannya dengan kemampuan pemahaman siswa. Secara spesifik, penelitian ini berfokus pada dua aspek utama: (1) menganalisis bagaimana strategi Scaffolding diterapkan dalam konteks pembelajaran matematika, dan (2) mengeksplorasi hubungan antara penerapan strategi Scaffolding dan tingkat pemahaman siswa terhadap materi matematika. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR). Langkah-langkah dalam penelitian ini meliputi: develop research questions; selection criteria; developing the search strategy; the study selection process; coding studies; appraising the quality studies; dan synthesis result.. Data dikumpulkan dengan mencari dan mengidentifikasi artikel terkait dengan Scaffolding dalam pembelajaran matematika yang mencakup 50 artikel terkait pendidikan matematika diterbitkan antara tahun 2019 dan 2024, kemudian diperoleh 26 artikel yang memenuhi kriteria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan strategi Scaffolding dalam pembelajaran matematika melibatkan berbagai teknik seperti pemberian bantuan bertahap, penggunaan pertanyaan terbuka, serta penyediaan alat bantu belajar yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Lebih lanjut, penelitian ini menemukan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara penerapan strategi Scaffolding dan peningkatan kemampuan pemahaman siswa terhadap materi matematika. Siswa yang belajar dengan menggunakan strategi Scaffolding cenderung menunjukkan peningkatan dalam kemampuan menyelesaikan masalah, berpikir kritis, dan memahami konsep-konsep matematika secara lebih mendalam. Dengan demikian, strategi Scaffolding direkomendasikan sebagai metode yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika dan pemahaman siswa
Proses Memecahkan Masalah Numerasi Konten Bilangan pada Siswa SMP Ditinjau dari Gaya Kognitif Reflektif-Impulsif
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pemecahan masalah numerasi konten bilangan pada siswa SMP dengan pendekatan gaya kognitif reflektif dan impulsif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang sesuai dengan tujuan tersebut. Subjek penelitian terdiri dari dua siswa kelas VII SMP, masing-masing satu siswa dengan gaya kognitif reflektif dan satu siswa dengan gaya kognitif impulsif. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi tes tertulis dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan gaya kognitif reflektif dapat melalui seluruh tahapan pemecahan masalah, yaitu memahami masalah, membuat rencana, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali. Siswa reflektif menunjukkan ketelitian dan kehati-hatian dalam setiap tahap pemecahan masalah. Sebaliknya, siswa dengan gaya kognitif impulsif hanya mampu memenuhi dua tahapan pemecahan masalah, yaitu memahami masalah dan membuat rencana, namun tidak melanjutkan ke tahap pelaksanaan rencana dan pemeriksaan kembali. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan siswa impulsif untuk terburu-buru dalam menyelesaikan masalah, yang berdampak pada kurangnya ketelitian dalam proses penyelesaian tugas
Problematika Penjumlahan Pecahan di Kelas IV Sekolah Dasar
penelitian ini dilakukan untuk menganalisis problematika penjumlahan pecahan kelas IV SDN BORO. Penelitian ini memakai metode kualitatif studi kasus. Studi kasus memungkinkan peneliti untuk mendalami problematika penjumlahan pecahan yang spesifik. Hal ini mencakup pemahaman konseptual, prinsip dan verbal siswa, serta factor yang mempengaruhi pemahaman mereka. Dengan focus pada satu kasus dapat menghasilkan informasi yang mendalam tentang masalah yang di hadapi siswa dalam pembelajaran penjumlahan pecahan. Metode menggunakan berbagai Teknik pengumpulan data seperti tes dan wawancara. wawancara ini digunakan untuk mengklarifikasi guru dan siswa kelas IV. Analisis data menggunakan penyajian data, reduksi data, dan verivikasi data. Hasil analisis problematika penjumlahan pecahan yaitu siswa sering mengalami masalah pada pemahaman konseptual, pemahaman prinsip, dan pemahaman verbal pada materi penjumlahan pecahan. Hal itu dapat terjadi karena siswa kurang teliti ketika menggerjakan soal serta tidak dicek ulang hasil kerjanya, selain itu siswa tidak memahami rumus pecahan dengan benar, siswa tidak memahami maksud soal yang telah diberikan, siswa tidak bisa mempresentasikan pecahan dalam bentuk gambar. Penelitian ini dapat diterapkan oleh guru kelas untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang dialami siswa dalam belajar penjumlahan pecahan. Informasi yang spesifik dan kontekstual ini dapat membantu dalam Menyusun strategi pembelajaran yang lebih efektif untuk membantu siswa mengatasi kesulitan tersebut. Metode kasus ini juga dapat memberikan wawasan yang mendalam bagi para pendidik untuk meningkatkan pengajaran dan pembelajaran matematika di kelas IV SDN BORO
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Problem Posing untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis dan Self-Efficacy Siswa Kelas VIII SMP Swasta Ali Imron
Peningkatan kualitas pembelajaran yang efektif dapat dicapai dengan mengembangkan perangkat pembelajaran yang inovatif. Namun demikian, situasi terkini di sektor pendidikan yang ditandai dengan perubahan kurikulum menimbulkan tantangan bagi guru tertentu dalam hal membuat dan melaksanakan sumber belajar matematika. Dengan maksud untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam matematika serta rasa percaya diri mereka, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kebenaran, kepraktisan, dan efektivitas sumber belajar yang memanfaatkan model pembelajaran problem logging. SMP Ali Imron akan menjadi lokasi tempat penelitian akan dilakukan, dan partisipannya adalah siswa kelas delapan pada semester ganjil tahun ajaran 2023-22. Hal ini terkait dengan penerapan paradigma pengembangan Dick dan Carey untuk menghasilkan perangkat pembelajaran Problem Posing, yang merupakan pengembangan yang sedang dibahas dalam penelitian ini. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa perangkat pembelajaran yang diperlukan untuk pembelajaran berbasis masalah berhasil meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam matematika serta rasa percaya diri mereka di antara siswa. Selanjutnya, gadget tersebut dianggap sah, praktis, dan efektif sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Penggunaan perangkat pembelajaran berbasis masalah telah menghasilkan perkembangan signifikan dalam keterampilan berpikir kritis dalam matematika, sebagaimana dibuktikan oleh nilai N-gain rata-rata sebesar 0,45, yang menunjukkan tingkat peningkatan yang "sedang". Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa perangkat pembelajaran berbasis masalah telah digunakan. Efikasi diri matematika siswa meningkat setelah penggunaan teknologi pembelajaran pengajuan masalah yang telah dirancang. Oleh karena itu, diharapkan bahwa siswa akan memiliki kemampuan untuk fokus dengan penuh perhatian pada dosen yang memberikan materi pengajaran, sehingga memungkinkan mereka untuk memeriksa informasi yang disampaikan secara efektif