Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika
Not a member yet
1406 research outputs found
Sort by
Analisis Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Peluang Berdasarkan Teori Newman Ditinjau dari Gaya Belajar
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal peluang berdasarkan teori Newman yang ditinjau dari gaya belajar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang dilaksanakan di SMP Kristen Krista Citra Parakan. Subjek penelitian terdiri dari 9 siswa kelas IX yang diambil berdasarkan hasil angket gaya belajar dan masing-masing 3 siswa pada setiap gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Kemudian, dilakukan wawancara guna memvalidasi kesalahan yang dilakukan siswa. Instrumen penelitian utama dalam penelitian adalah peneliti sendiri dan instrumen bantu terdiri dari angket gaya belajar, tes, dan pedoman wawancara. Keabsahan data dilakukan dengan triangulasi waktu dan metode. Data yang diperoleh akan dipilah sesuai kebutuhan, disajikan secara naratif ke dalam bentuk teks, dan mengambil kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesalahan yang dilakukan cenderung sama antara gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik yakni kesalahan pemahaman soal dan transformasi. Selain itu, faktor penyebab kesalahan ialah terburu-buru ketika menyelesaikan soal sehingga tidak teliti dalam menuliskan keseluruhan jawaban dan kurang memahami terkait konsep peluang yang ada
Pengembangan Instrumen Kemampuan Penalaran Matematis Pada Peserta Didik Kelas XI SMA Muhammadiyah Batudaa Semester Ganjil
Penelitian ini membahas tentang pengembangan instrumen kemampuan penalaran matematis, dimana bertujuan menghasilkan instrumen untuk mengukur kemampuan penalaran matematis pada peserta didik yang memiliki kualitas kategori baik yang sudah diuji berdasarkan uji kevalidan, reliabilitas, tingkat kesukaran serta daya pembeda. Dengan jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian “formative research tessmer and development“ dimana terdiri atas; tahap preliminary, tahap self evaluation, tahap formative evaluation (prototyping) yang meliputi expert riviews, one-to-one, dan small group, serta field test (uji coba lapangan). Berdasarkan hasil yang didapat menunjukan jika instrumen yang dihasilkan sudah “valid” karena memiliki nilai CVR dan CVI dengan nilai 1 dengan reliabilitas tergolong reliabel dengan nilai 0,68. Hasil rata-rata tingkat kesukaran 0,52 dengan kategori sedang. Hasil rata-rata daya pembeda adalah sebesar 0,38 dengan kategori baik. Serta rata-rata kemampuan penalaran matematis peserta didik sebesar 33,61 dengan kategori cukup. Berdasarkan analisis data, dari 85 peserta didik ubjek uji coba terdapat 6 peserta didik (7,06%) yang memiliki kemampuan penalaran matematis sangat baik, 28 peserta didik (32,94%) yang memiliki kemampuan penalaran matematis baik, 36 peserta didik (42,35%) yang memiliki kemampuan penalaran matematis cukup, 14 peserta didik (16,47%) yang memiliki kemampuan penalaran matematis kurang, serta 1 peserta didik (1,18%) yang memiliki kemampuan penalaran matematis sangat kurang. Sehingga masih sangat dibutuhkan usaha lebih lanjut guru agar bisa memberikan tes-tes yang dapat memacu kemampuan penalaran matematis
Kemampuan Koneksi Matematis Peserta Didik dengan Pendekatan Pembelajaran Metaphorical Thinking
Tulisan ini membahas tentang kemampuan koneksi matematis peserta didik yang belajar dengan pendekatan metaphorical thinking di kelas VIII MTsN 6 Kota Padang. Penelitian ini adalah quasy experiment dengan randomized control group only design. Populasinya adalah seluruh kelas VIII MTsN 6 Kota Padang yang terdiri dari 14 kelas dengan VIII.13 dan VIII.14 sebagai kelas sampel. Instrumen yang digunakan adalah tes kemampuan koneksi matematis dan dianalisis secara statistic seperti uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis menggunakan uji-t. Hasil tes kemampuan koneksi matematis peserta didik yaitu kelas eksperimen 82.03 dan kelas kontrol 76.08. Uji hipotesis dengan = 0.05 diperoleh ttabel = 1.67 dan thitung = . Dengan demikian ditolak dan diterima. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan koneksi matematis peserta didik yang belajar dengan pendekatan metaphorical tinking lebih tinggi dari yang tidak menggunakan pendekatan tersebut. Dari hasil ini diharapkan guru dapat menerapkan pendekatan pembelajaran metaphorical thinking
Analisis Kesalahan Siswa Berbasis Newman’s Error Analysis (NEA) dalam Memecahkan Permasalahan Soal Cerita Trigonometri
Penelitian berikut memiliki tujuan untuk menggambarkan kesalahan dan faktor penyebab kesalahan siswa saat memecahkan soal cerita trigonometri menggunakan pendekatan Newman’s Error Analysis (NEA) dengan metode deskriptif kualitatif. Lima siswa dari kelas XI Sekolah Menengah Atas tahun ajar 2023/2024 menjadi subjek penelitian ini. Soal cerita berupa tes diagnostik telah diberikan kepada siswa, dan setelah itu jawaban mereka dianalisis menggunakan NEA. Pengumpulan data berupa tes tertulis yang telah melewati tahap validasi dan wawancara berdasarkan kesalahan siswa saat memecahkan soal cerita trigonometri. Teknik analisis data melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Mengacu pada hasil riset, ditemui bahwa para siswa melakukan beberapa jenis kesalahan, antara lain kesalahan membaca, memahami soal, transformasi, keterampilan proses, dan penulisan jawaban. Kesalahan membaca yaitu kurangnya pemahaman terhadap kata kunci dan simbol yang terdapat pada soal, kesalahan memahami ialah karena siswa terburu-buru dalam menyelesaikan soal cerita trigonometri tanpa memahami pernyataan dengan baik, kesalahan transformasi yaitu kesulitan mengubah informasi dari soal cerita menjadi bentuk matematika, kesalahan keterampilan proses yaitu lemah dalam menerapkan konsep trigonometri yang tepat, dan kesalahan menuliskan jawaban akhir ialah karena terburu-buru dalam menyimpulkan jawaban serta beberapa faktor yang menjadi penyebab kesalahan. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran materi trigonometri perlu diberikan perhatian khusus pada soal-soal yang berkaitan dengan konsep dasar trigonometri dan situasi sehari-hari
Kemampuan Penalaran Matematis Siswa dalam Menyelesaikan Soal HOTS pada Materi Pola Bilangan
Dalam matematika, penalaran diperlukan untuk menentukan menentukan benar salahnya dalam sebuah argumen matematika. Masalah dengan jenis HOTS membutuhkan banyak pemikiran dan melibatkan proses penalaran. Tujuan dari studi ini yaitu guna mengetahui kemampuan penalaran matematika belajar untuk menjawab soal HOTS pada materi pola bilangan. Jenis studi ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek studi ini adalah dua siswa kelas 8 SMP dengan kemampuan awal tinggi. Studi ini memakai instrumen berupa tes kemampuan penalaran matematika dan pedoman wawancara. Soal tes berbentuk uraian yang terdiri atas 3 soal dimana masing-masing soal mewakili 3 indikator soal HOTS. Hasil studi menjelaskan bahwasanya siswa dengan kemampuan awal yang tinggi memenuhi beberapa indikator penalaran matematika yaitu memanipulasi matematika, dapat memberi bukti dan alasan terhadap beberapa solusi, dan membuat konklusi dari pernyataan
Pengembangan Media Pembelajaran Berbantuan Smart Apps Creator 3 pada Materi Transformasi untuk Siswa Kelas IX SMP/MTs
Mempelajari materi transformasi mengharuskan siswa berfikir abstrak. Namun berdasarkan fakta dilapangan, sebagian besar siswa masih kesulitan dalam memahami konsep dari materi transformasi, hal ini karenakan oleh lemahnya praktek pengajaran materi transformasi didalam kelas. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran berbantuan Smart Apps Creator 3 pada materi transformasi untuk siswa kelas IX SMP/MTs yang valid dan praktis. Penelitian ini merupakan penelitian Research and Development (R&D), serta model pengembangan yang dipakai dalam mengembangkan media pembelajaran ini adalah model ADDIE yang terdiri dari lima tahapan yaitu analysis (analisis), design (desain), development (pengembangan), implementation (implementasi) dan evaluation (evaluasi). Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu lembar validasi media pembelajaran dan angket respon siswa. Setelah media pembelajaran dikembangkan, selanjutnya divalidasi oleh tiga orang validator dan direvisi sesuai saran dari validator. Diperoleh nilai rata-rata validasi sebesar 3,77 yang menunjukkan bahwa media pembelajaran dikategorikan sangat valid. Media pembelajaran yang telah valid kemudian dilakuan ujicoba dalam uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar. Berdasarkan hasil analisis data angket respon siswa diperoleh presentase pada uji coba kelompok kecil 91,8% dan presentase pada uji coba kelompok besar 94,88% dengan kategori sangat valid. Hasil analisis data menunjukkan bahwasanya media pembelajaran telah valid dan praktis untuk digunakan siswa kelas IX SMP/MTs
Pembiasaan Karakter Berpikir Kritis Pembelajaran Matematika Kelas VIII SMP N 4 Banjarnegara
Salah satu pilar suatu negara untuk menyiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan zaman adalah pendidikan. Dimulai dari pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, sumber daya manusia harus disiapkan untuk bidang pendidikan.Pendidikan di Indonesia menurut berbagai pendapat masih banyak kurang dalam proses pembelajaran. Pada lokasi kali ini yaitu SMP N 4 BANJARNEGARA yang bertempat di kabupaten Banjarnegara, provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini bersifat kualitatif dan menggunakan prosedur pengumpulan data wawancara, observasi, dan pencatatan. Pembiasaan berpikir kritis, berpikir kritis ialah salah satu kecakapan abad 21. Pendidikan ialah salah satu bagian penting dalam mempersiapkan manusia menghadapi masa depan. Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas semua berperan dalam proses ini. Tujuan penelitian ini ada tiga.1.Penelitian ini bertujuan menganalisis pembiasaan memeriksa kebenaran argumen pada pembelajaran matematika di SMP N 4 Banjarnegara apakah sudah berjalan dengan baik sehingga memenuhi indikator karakter berpikir kritis 2. Penelitian ini bertujuan menganalisis pembiasaan menyelesaikan masalah pada pembelajaran matematika di SMP N 4 Banjarnegara apakah sudah berjalan dengan baik sehingga memenuhi indikator karakter berpikir kritis. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan dan bertempat di SMP Negeri 4 Banjarnegara. Pengambilan data pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi
Kemampuan Literasi Matematika Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Trigonometri
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kemampuan literasi matematis siswa kelas X dilihat dari pengetahuan metakognitif. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan penelitian ini berada di MA Darul Huda kelas X pada tahun ajaran 2022/2023. Penentuan subjek dilakukan dengan memberikan tes metacognitive awareness inventory (MAI). Dari hasil tes MAI diperoleh 2 subjek penelitian yaitu siswa dengan pengetahuan dominan deklaratif dan siswa dengan pengetahuan dominan prosedural. Instrumen penelitian yang digunakan diperoleh dari angket pengetahuan metakognitif, soal tes dan transkrip wawancara. Analisis data yang digunakan adalah analisis pengetahuan metakognitif dan soal tes berdasarkan indikator kemampuan literasi matematis. Pada penelitian ini diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa subjek dengan pengetahuan dominan prosedural pada proses literasi matematis hanya memenuhi sebagian proses merumuskan (formulate) dan menafsirkan (interprete), serta dapat memenuhi proses menerapkan (employ). Sedangkan subjek dengan pengetahuan dominan deklaratif pada proses literasi matematis hanya memenuhi sebagian dari proses merumuskan (formulate) dan menafsirkan (interprete)
Pengembangan E-LKS Berbasis RME untuk Meningkatkan Koneksi Matematis Siswa
Penelitian bertujuan untuk mengembangkan E-LKS Berbasis Realistic Matheamtics Education (RME) Untuk Meningkatkan Koneksi Matematis Siswa. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan koneksi matematis siswa karena pembelajaran matematika yang dilaksanakan oleh guru kurang mampu mengembangkan kemampuan koneksi matematis siswa. Penelitian ini menggunakan metode research and development (R&D) atau penelitian dan pengembangan dengan model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementatiton, Evaluation). Hasil penelitian menunjukkan nilai hasil validasi yang diberikan oleh ahli materi menunjukan bahwa E-LKS yang dikembangkan berada pada kriteria sangat valid dengan nilai rata-rata 81,16% . Sedangkan penilaian ahli media menujukan bahwa E-LKS yang dikembangkan berada pada kriteria sangat valid dengan nilai rata-rata 95,83%. Hasil analisis yang diperoleh, E-LKS yang dikembangkan berada pada kategori praktis dengan nilai rata-rata penilaian guru sebesar 95% Sedangkan nilai persentase angket respon siswa sebesar 92%. Keefektifan E-LKS berdasarkan hasil uji coba di MTs Bina Bangsa dengan penilaian berupa tes kemampuan koneksi matematis memperloleh peningkatan hasil belajar dengan nilai rata-rata n-gain sebesar 0,75. Berdasarkan hal tersebut E-LKS Berbasis Realistic Mathematics Education (RME) Untuk Meningkatkan Koneksi Matematis Siswa dapat disimpulkan sangat layak digunakan oleh siswa
Analisis Kemampuan Metakognisi Siswa dalam Pemecahan Masalah Matematika Ditinjau dari Tipe Kepribadian Ekstrovert dan Introvert
Penelitian ini tujuannya untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki siswa yaitu kemampuan metakognisi siswa dalam pemecahan masalah matematika yang ditinjau dari tipe kepribadian ekstrovert dan Introvert. Dalam penelitian ini metode yang digunakan yaitu kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Subjek penelitian ini siswa Kelas VIII di SMP Pembangunan dengan jumlah sebanyak 6 orang dimana 3 orang mewakili tipe kepribadian ekstrovert dan 3 orang mewakili tipe kepribadian introvert. Pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik angket, tes tulis wawancara dan juga dokumentasi. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu angket tipe kepribadian, tes pemecahan masalah, dan wawancara. Analisis data yang digunakan adalah teknik reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Pada penelitian ini keabsahan data yang digunakan yaitu triangulasi teknik. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu siswa ekstrovert pada tahapan memahami masalah mampu menggunakan kemampuan metakognisinya dengan baik secara keseluruhan yaitu pada indikator perencanaan, monitoring, dan evaluasi. Sedangkan pada tahap pemecahan maslaah lainnya kemampuan metakognisi yang digunakan hanya pada indicator proses perencanaan saja. Kemudian siswa introvert pada tahap memahami masalah dan merencanakan penyelesaian mampu menggunakan kemampuan metakognisi nya dengan baik yaitu indicator proses perencanaan, monitoring dan evaluasi. Sedangkan pada tahap melaksanakan penyelesaian hanya pada indicator proses perencanaan saja yang dilakukan dan pada tahap memeriksa kembali hanya proses perencanaan dan monitoring saja. Siswa ekstrovert berdasarkan hasil wawancara berada pada tingkat tacit use sedangkan siswa introvert berada pada tingkat strategic use