IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Manado Open Journal Systems
Not a member yet
    878 research outputs found

    MUDHARABAH BANK SYARIAH DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PERBANKAN SYARIAH

    Get PDF
    The problem of banks with customers lies in the number of bids to charge bank interest, but customers want to get financing / net savings (bank interest) and in accordance with Islamic Shari'a. Islamic banks provide collateral with mudharabah financing. Mudharabah financing is part of the syariah banking system with the trust given by the bank to the customer with the profit-sharing transaction. Concerning the mudaraba system is contained in Law No.21 of 2008 on Sharia Banking which regulates the mudaraba system in Indonesia. In article 1 of Law No.21 of 2008 stated that savings is a deposit in akad wadi'ah and akad mudharabah which akadnya not contrary to Islamic Shari'a.Persoalan bank dengan nasabah terletak pada banyaknya tawaran mengenakan bunga bank, namun nasabah ingin mendapatkan pembiayaan/tabungan yang bersih (bunga bank) dan sesuai dengan syariat Islam.Bank syariah memberikan jaminan dengan pembiayaan mudharabah.Pembiayaan mudharabah adalah bagian dari sistem perbankan syariah dengan kepercayaan yang diberikan bank pada nasabahdengan transaksi bagi hasil.Mengenai sistem mudharabah tercantum pada UU No.21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang mengatur sistem mudharabah di Indonesia.Pada pasal 1 UU No.21 tahun 2008 disebutkan bahwa tabungan adalah simpanan dalam akad wadi’ah dan akad mudharabahyang akadnya tidak bertentangan dengan syariat Islam

    Konsep Makkiyah dan Madaniyyah Dalam Al-Qur’an (Sebuah Analisis Historis-Filosofis)

    Get PDF
    Abstract. This article would try to elaborate an important concept in the Qur’an which deal with the process of revelation. Major of ulama devided the process of revelation into two periods, namely Makkah period (before hijrah) and Madinah period (after hijrah). According to Abdullahi Ahmed An-Na’im and his teacher, Mahmoud Mohamed Taha, this two periods of revelation contains different doctrines and teachings. Makkah period (Makkiyah) expressed a universal-democratic-egalitarianism doctrines of Islam. Whereas, Madinah period (Madaniyyah), is considered to be sectarian and discriminative. In this period, the prophet and his adherents created a city-state with a multi-religious and multi-cultural community. Therefore, they need a concrete and strict rules and regulations to manage the new state and new community. An-Na’im stated that most of the verses in the Qur’an which deal with law and regulations revealed through this period, including the relation between muslim and non-muslim community.Key words: concept, Makkah period, Madinah period, al-Qur’an Abstrak.Artikel ini akan mencoba untuk menguraikan konsep penting dalam Al Qur'an yang berhubungan dengan proses penyataan. Mayoritas ulama membagi proses penyataan menjadi dua periode, yaitu periode Makkah (sebelum hijrah) dan periode Madinah (setelah hijrah). Menurut Abdullahi Ahmed An-Na'im dan gurunya, Mahmoud Mohamed Taha, dua periode wahyu ini mengandung doktrin dan ajaran yang berbeda.Periode Mekah (Makkiyah) menyatakan doktrin universal-demokratis-egalitarianisme Islam.Padahal, periode Madinah (Madaniyyah), dianggap sektarian dan diskriminatif.Pada periode ini, nabi dan pengikutnya menciptakan negara-kota dengan komunitas multi-agama dan multi-budaya.Oleh karena itu, mereka membutuhkan aturan dan peraturan yang konkrit dan ketat untuk mengelola negara baru dan komunitas baru.An-Na'im menyatakan bahwa ayat-ayat dalam Al Qur'an yang berhubungan dengan hukum dan terungkap selama periode ini, termasuk hubungan antara Muslim dan komunitas non-Muslim.Kata kunci: konsep, periode Mekkah, periode Madinah, Alqura

    FUNGSIONALISASI JABATAN PENGHULU DAN PENGARUHNYA TERHADAP KINERJAKUA KECAMATAN DI KOTA MANADO

    Get PDF
    The existence of the chief as an official in the government has existed since the existence of the Islamic kingdom both on Java and outside Java, including in the Dutch colonial government. currently the head of the government based on the ministerial regulation on the utilization of state apparatus number 26 in 2005 has been determined as a functional position according to government regulation Number 16 of 1999 concerning functional positions of civil servants. The tasks of the headman in relation to the application of Islamic teachings and Shari'a in the field of marriage are not just a ceremonial event, but also as a means of manifesting the strictness of a Muslim and unifying the sacred bonds of inner and outer relations between a man and woman. therefore the tasks and roles of the peghulu are considered very important. This paper will discuss the functionalization of the position of the chief and its influence on the performance of the KUA. This study took a research study in KUA Sub-District throughout Manado. The results of the study were that the researchers found that KUA resources in Manado in general still had to be evaluated, because the staff were mostly women, the number of employees was still minimal and the educational background was mostly not S1. Whereas according to the rules, one KUA has 7 or 6 staff but in this city of Manado one KUA only has two or three staff. In addition to the implementation of KUA activities, the budget is still attached to the Department office so that all activities carried out are less effective. Keywords:Penghulu, KUA Manado, Functionalization, Islamic Shari'a. Keberadaan penghulu sebagai pejabat dalam pemerintahan telah ada sejak adanya kerajaan Islam baik di Jawa maupun luar Jawa termasuk pada pemerintahan kolonial Belanda. Saat ini penghulu berdasarkan peraturan menteri pendayagunaan aparatur negara nomor: 26 tahun 2005 telah ditetapkan sebagai jabatan fungsional sesuai peraturan pemerintah Nomor 16 Tahun 1999 tentang jabatan fungsional pegawai negeri sipil. Tugas-tugas penghulu berkaitan dengan penerapan ajaran dan syariat agama Islam dibidang pernikahan tidak sekedar sebuah acara seremonial, melainkan juga menjadi sarana perwujudan ketatan seorang muslim dan pemersatu ikatan suci lahir batin antara seorang pria dan wanita. Oleh karena itu tugas dan peran peghulu dirasa sangat penting. Tulisan ini akan membahas tentang fungsionalisasi jabatan penghulu dan pengaruhnya terhadap kinerja KUA. Penelitian ini mengambil studi penelitian di KUA Kecamatan se-kota Manado. Hasil dari penelitian adalah peneliti menemukan masalah bahwa sumberdaya KUA yang ada di kota Manado pada umumnya masih ada yang perlu dievaluasi, karena para stafnya kebanyakan perempuan, jumlah pegawainya masih minim dan latar belakang pendidikan kebanyakan bukan S1. Sedangkan menurut aturan yang ada satu KUA memiliki 7 atau 6 orang staf tetapi di kota Manado ini satu KUA hanya memiliki dua atau tiga orang staf. Selain itu untuk pelaksanaan kegiatan KUA, anggaran masihmelekat dengan kantor Departemen sehingga segala kegiatan yang dilakukan kurang efektif. Kata Kunci:Penghulu, KUA Manado, Fungsionalisasi, Syariat Islam

    Inovasi Pengembangan Kurikulum Berorientasi Continous Quality Improvement di Lembaga Pendidikan Islam

    No full text
    Abstract.,Education always develops with the flow of time. Education must always be up to date to meet the need for education that is relevant to the needs of the times, education developers must do various kinds of efforts, including improvements in the curriculum.Efforts to improve curriculum are a necessity. Education managers cannot turn a blind eye to the flow of globalization, inevitably they have to innovate the curriculum so that it is relevant to the times, flexible and not troublesome, effective to implement, and efficient in time, cost and energy.These efforts can be carried out by applying the concept of Continuous Quality Improvement by adopting the Deming concept, namely PDCA (Plan, Do, Check, Act and Analyze).In the PDCA cycle there is a continuous link, it means that improvements will always occur during quality improvement is still a priority and aspiration with education managers Keyword: Continous Quality Improvement, Innovation, Education Curriculum. Abstrak., Pendidikan selalu berkembang setiap waktu, sehingga diharuskan untuk selalu melakukan pembaruan. Untuk memenuhi kebutuhan sistem pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman, pengembangan pendidikan harus melakukan berbagai upaya, salah satunya adalah peningkatan kurikulum.Upaya untuk meningkatkan kurikulum adalah suatu keharusan. Pemangku pendidikan tidak dapat menutup diri terhadap arus globalisasi yang mengharuskan adanya inovasi agar relevan dengan perkembangan zaman, pembaruan tersebut meliputi fleksibelitas, mudah dipahami, efektif , efisien baik waktu, biaya dan energi. Upaya ini dapat dilakukan dengan menerapkan konsep Continuous Quality Improvementdengan mengadopsi konsep Deming, yaitu PDCA (Plan, Do, Check, Act and Analyze). Dalam siklus PDCA terdapat hubungan yang berkelanjutan yang menunjukkan bahwa perbaikan akan selalu terjadi selama peningkatan kualitas dijadikan prioritas dan aspirasi oleh pemangku pendidikan.Kata Kunci: Continous Quality Improvement,Inovasi, Kurikulum Pendidika

    Pemikiran Instrumentalisme Bruner dan Relevansinya terhadap Pembelajaran Bahasa Arab

    No full text
    ABSTRACT: Language problems to date have always been in three aspects: linguistic, method-logical and sociological. Jerome Seymour Bruner, a linguist, describes his language thinking through instrumentalism. Therefore this study attempts to look at the concept of learning Arabic from the perspective of Bruner's instrumentalism which includes how the concept of Bruner's language instrumentalism and how relevant Bruner's instrumentalism is in learning Arabic. This qualitative research model with literature review uses philosophical, historical and psycholingu-isttic approaches with critical analytical descriptive methods. The result is the first theory of ins-trumentalism Bruner states that language is a tool for communication. Both concepts of Bruner's instrumentalism theory have quite strong relevance to contextual language learning. KEYWORDS: Bruner, Instrumentalism, Arabic Language, Learning and Relevance ABSTRAKSI: Persoalan berbahasa sampai saat ini selalu berada pada tiga aspek yaitu linguis-tik, metodologis dan sosiologis. Jerome Seymour Bruner seorang ahli bahasa menguraikan pe-mikiran bahasanya melalui teori instrumentalisme. Oleh karena itu penelitian ini berupaya me-lihat konsep pembelajaran bahasa Arab dari kacamata instrumentalisme Bruner yang meliputi bagaimana konsep instrumentalisme bahasa Bruner dan bagaiman relevansi teori instrumen-talisme Bruner dalam pembelajaran bahasa Arab. Model penelitian kualitatif dengan kajian pus-taka ini menggunakan pendekatan filosofis, historis dan psikolinguistik dengan metode deskriptif analitis kritis. Hasilnya adalah pertama teori instrumentalisme Bruner menyatakan bahwa ba-hasa merupakan alat untuk berkomunikasi. Kedua konsep teori instrumentalisme Bruner me-miliki relevansi yang cukup kuat dengan pembelajaran bahasa kontekstual. KATA KUNCI: Bruner, Instrumentalisme, Bahasa Arab, Pembelajaran, dan Relevans

    TA’ARUF LOKALITAS: INTEGRASI HUKUM ISLAM DAN HUKUM ADAT TERHADAP FENOMENA GREDOAN DI SUKU USING BANYUWANGI

    No full text
    Abstract. This research is a study which used a qualitative approach with the type field research, which is related to the Gredoan tradition as the event of looking for a life partner in using community located on Macan Putih Village, Kabat district in banyuwangi.  In this paper will explain how is the custom to find a mate in Banyuwangi society that has lasted since long ago. Gredoan is the relations between customary law and Islamic law which seeks to integrate between the customary laws with Islamic law in matters of marriage. the Contributions of research are: First, there is public space in the form of practice the ta'aruf process towards marriage in Banyuwangi Using society which known as gredoan custom. Second, that Islamic law turns out to have spaces to accommodate the customs as the joints of Islamic law. gredoan Tradition as an al-‘urf in using community of banyuwangi  in ta'aruf process towards marriage, it obtains legitimacy by the maqāṣid al-syarīʿah which is based on the rules is al-‘âdat al-Muhakkamah.Keywords: Islamic Law, Customary Law, GredoanAbstrak. Penelitian ini adalah kajian yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research), yang berkaitan dengan tradisi Gredoan sebagai proses ajang mencari pasangan hidup dimasyarakat suku using yang terdapat didesa macan putih kecamatan kabat. Dalam paper ini akan dipaparkan bagaimana adat mencari jodoh dimasyarakat banyuwangi yang telah berlangsung sejak dahulu. Gredoan adalah bentuk relasi antara hukum adat dan hukum islam yang berusaha mengintegrasikan antara hukum adat dengan hukum islam dalam hal perkawinan. Kontribusi penelitian yaitu: Pertama, adanya ruang publik berupa praktek proses ta’aruf menuju pernikahan dimasyarakat using banyuwangi yang dikenal dengan adat gredoan. Kedua, bahwa hukum Islam ternyata mempunyai ruang-ruang untuk menampung adat-istiadat sebagai sendi-sendi hukum Islam. Tradisi Gredoan sebagai al-‘Urf dimasyarakat using banyuwangi dalam proses ta’aruf menuju pernikahan, mendapatkan legitimasi dengan adanya tinjauan Maqasid Syari’ah yang di landasi dengan kaidah “al-‘adat al-Muhakkamah”.Kata Kunci: Hukum Islam, Hukum Adat, Gredoa

    Sejarah dan Bahasa Figuratif dalam Tradisi Katoba pada Masyarakat Muna

    Get PDF
    Masyarakat Muna memiliki salah satu tradisi, yakni katoba. Secara historis, keberadaan tradisi katoba di Muna terkait dengan awal masuknya Islam di Muna pada 1629-1665 M, yakni masa pemeritahan La Ode Abdul Rahman (bergelar Sangia La Tugho). Sejak masa pemerintahan Sangi La Tugho, hingga saat ini perkembangan tradisi katoba masih cukup kuat karena telah melembaga dalam sistem kebudayaan Muna. Tradisi ini dilaksanakan pada anak yang berusia (7-11 tahun) yang dipandu oleh seorang imamu (imam) desa. Dalam proses pelaksanaan tradisi katoba terjadi interaksi verbal antara imamu dan anak. Interaksi verbal tersebut, selain tercermin melalui bahasa sehari-hari anak, hadir pula kemasan bahasa figuratif (figurative language). Pemakaian bahasa figuratif tersebut, selain untuk memudahkan pemahaman anak terhadap nasihat/pesan katoba yang disampaikan, juga untuk memberikan makna khusus atau efek tertentu.Kata kunci: sejarah, bahasa figuratif, tradisi katoba, masyarakat MunaThe people of Muna has a tradition called Katoba. Historically, the existence of this tradition was related with the earlier penetration of Islam in Muna at 1629-1665 AD, during the ruling period of La Ode Abdul Rahman (titled Sangia La Tugho). Since the ruling period of Sangia La Tungo until today, the Katoba tradition has been growing stronger as it has institutionalised in the Muna Cultural System. The tradition is performed on to children aged 7 to 11 and guided by a village imam (imamu). During the procession, verbal interaction happens between the imamu and the child. The verbal interaction, while reflecting the child‘s everyday language, also shows occurances of figurative language expressions. The reason in using figurative language is to help children to better understand the messages and advices of Katoba and to give special meaning or certain effects.Keywords: history, figurative language, Katoba tradition, the Muna peopl

    Analisis Metode Pengajaran Fonetik dan Morfologi Bahasa Arab

    Get PDF
    Fonetik atau sistem bunyi bahasa adalah salah satu aspek bahasa yang pertama kali harus dipelajari ketika suatu bahasa diajarkan, karena kata dan kalimat suatu bahasa tersusun dari bunyi-bunyi tersebut. Adapun metode pengajaran fonetik, termasuk fonetik bahasa Arab adalah ”meniru”, yaitu meniru pengucapan bunyi-bunyi bahasa-bahasa asing yang dipelajarinya, yang diucapkan sebagaimana pemilik bahasa itu mengucapkannya, baik diucapkan langsung oleh native informant ataupun dengan rekaman. Sementara metode pengajaran morfologi, tidak dapat lepas dari tata bahasa. dan pembahasan tata bahasa tidak bisa lepas dari pembahasan pengajaran bahasa Arab secara keseluruhanKata Kunci: Metode Pengajaran, Fonetik, Morfolog

    ISLAMISME: KEMUNCULAN DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA

    No full text
    Abstract. This study examines the origin,  existence, and development of Islamism group in Indonesia since pre-independence until now. Islamism is a group of Muslims who are obedient to the teachings of Islam, but they are very extreme, literal,  static and rigid in understanding the teachings of Islam (Alquran), and reject to the other Muslims who disagree with Islamic ideology that they have embraced. The group of Islamism existed and emerged in Indonesia, it was not apart from the influence of the spread of Islamic teachings from al-Ikhwan al-Muslimun that was founded by Hasan al-Banna in Egypt in 1928. The group of Islamism was the first Muslim group before the other Muslim groups in Indonesia; such as the Pos-Islamism group, the Liberal Islam Group, the Moderate Islamic Group, the Progressive Islam Group. The group of Islamism in Indonesia—as al-Ikhwan al-Muslimun in Egypt who aspires to spread the ideology of Islam for all of the world—seeks  to spread  their ideology with the movement of "creeping up" for all of the area in Indonesian, since before independence until now. Islamist groups succeeded in spreading Islam and Sharia through mosques, schools, ta'lim majlis. The existence and development of Islamist groups in Indonesia today are flattered. They have very much support from the political elite. However, they are not aware that their hands are being borrowed or exploited by political elites to seize or get the  power in irrational ways. Keywords: Islamism, Emergence, Existence, Development, Indonesia. Abstrak. Studi ini membahas tentang asal usul, eksistensi dan perkembangan kelompok Islamisme di Indonesia sejak pra-kemerdekaan sampai sekarang. Kelompok Islamisme adalah kumpulan Muslim yang patuh terhadap ajaran Islam, namun mereka sangat ekstrem, literal, statis dan kaku dalam memahami ajaran Islam (Alquran), serta menolak golongan Muslim lain yang berbeda dengan faham Islam yang sudah mereka anut. Kelompok Islamisme ada dan muncul di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh penyebaran ajaran Islam ala  al-Ikhwan al-Muslimun yang didirikan oleh Hasan al-Banna di Mesir pada tahun 1928. Kelompok Islamisme merupakan kelompok Muslim yang pertama ada sebelum adanya kelompok-kelompok Muslim lain di Indonesia; seperti kelompok Pos-Islamisme, Kelompok Islam Liberal, Kelompok Islam Moderat, Kelompok Islam Progresif. Kelompok Islamisme di Indonesia –sebagaimana al-Ikhwan al-Muslimun di Mesir yang bercita-cita menyebarkan faham berislam ke seluruh dunia—berupaya menyebarkan paham Islamisme dengan gerakan “merayap” ke seluruh bumi Indonesia sejak sebelum Indonesia merdeka sampai sekarang. Kelompok Islamisme berhasil menyebarkan faham Islam dan Syariah melalui, antara lain:  masjid-masjid, sekolah-sekolah, majelis-majelis taklim. Eksistensi dan perkembangan kelompok-kelompok Islamisme di Indonesia zaman ini sedang merasa tersanjung, karena banyak mendapat dukungan dari para elit politik. Namun sebaliknya, mereka tidak sadar bahwa tangan-tangan mereka sedang dipinjam atau pun dimanfaatkan oleh para elit politik untuk merebut atau pun mendapatkan sebuah kekuasaan dengan cara-cara yang tidak rasional. Kata Kunci: Islamisme, Eksistensi, Kemunculan,  Perkembangan, Indonesia

    Implementasi Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) Pada Proses Pembelajaran

    Get PDF
    Kebiasaan sementara guru adalah lebih banyak diisi dengan ceramah, mencatat serta membaca, tidak mengherankan  bila suasana kelas lebih banyak pasif menerima apa yang diberikan oleh guru daripada anak aktif. Dampak dari sistem tersebut adalah anak belum sepenuhnya mengerti materi yang diajarkan, disisi lain keberanian untuk menanyakan hal-hal yang dianggap perlu juga jarang terjadi pada anak. Untuk itu perlu menggunakan model pembelajaran yang bervariasi termasuk model pembelajaran kooperatif tipe student teams achievement division (STAD).Kesimpulan: Student Tiem Achievement Division (STAD) merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. Ada 5 (Lima) lima komponen utama, yaitu : 1) Presentase kelas; 2) pembentukan Tim; 3) Kuis;  4) Skor kemajuan individual; 5) Rekognisi Tim.Rekomendasinya adalah: Guru harus mengetahui kemampuan setiap siswa didalam kelas, implikasinya pemerataan tingkat kompetensi dari masing-masing kelompok dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD. Guru membuat persiapan dengan baik, implikasinya pembelajaran lebih teratur sebab ada langkah-langkah pembelajarna yang telah diuraikan terlebih dahulu, disamping itu guru benar-benar siap untuk melaksanakan pembelajaran karena sudah mempersiapkan terlebih dahulu.Kata Kunci : Kooperatif, Student tim achievement division 

    549

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Manado Open Journal Systems
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇