IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Manado Open Journal Systems
Not a member yet
878 research outputs found
Sort by
Pemakaian Bahasa Indonesia Dalam Karya Tulis Mahasiswa (Suatu Kajian dengan Pendekatan Analisis Wacana)
Penelitian ini mengkaji pemakaian pemarkah keterpaduan wacana secara deskriptif dengan menganalisis berdasarkan pendekatan analisis wacana. Sumber data ialah buku skripsi mahasiswa STAIN Manado.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemarkah keterpaduan wacana yang digunakan oleh para mahasiwa ialah pengulangan leksikal, transisi, substitusi, pemberian con toh, pernyataan kembali, syarat, kata penghubung, referensi, praanggapan, pelesapan, sebab akibat, alasan, penambahan, proverba, deiksis, antonimi, alternatif, kata tumpuan, simpulan/hasil, kontras, dan pengurutan. Di antara deretan pemarkah keterpaduan itu, dua di antaranya yang dominan yaitu pengulangan leksikal dan transisi.Dari segi keterpaduan penggunaan pengulangan leksikal mahasiswa mempunyai kebiasaan yang sama untuk menggunakan pemarkah pengulangan leksikal. Demikian pula bentuk penanda transisi, hampir setiap mahasiswa menggunakan hal yang sama. Proporsi kesalahan mahasiswa pada kedua bentuk pemadu wacana itu pun relatif sama. Artinya, mahasiswa belum memahami cara pemakaiannya. Berdasarkan hal ini, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa belum terampil menyusun wacana yang kohesif sebagai dasar dalam penyusunan skripsi sebagai karya tulis ilmiah.Kata Kunci: Bahasa Indonesia, wacana, karya tulis ilmiah.
Konsep Pendidikan Akhlak dalam Tafsir Al-Ibriz Bisri Mustofa Serta Relevansinya dengan Pendidikan Islam di Indonesia
Abstract: Moral education is the initial foundation for forming and creating a better and quality life. In addition, it can also develop human attitudes to become more perfect, so that they have a positive impact on life and are always open to good and closed from all forms of evil. Furthermore, with the values of moral education will certainly have a positive impact on various aspects and elements of life, moral education can be interpreted as a process of internalizing moral values into oneself. In order to be firmly planted in the mindset, speech, actions, and interactions with God, humans and nature. In addition, moral values can also form trancendental-spiritual vision, sociological vision and ecological vision. Thus, these values can be inherent in themselves so as to form a culture of behavior and character. Departing from the background of the thoughts described above, this article is directed at reviewing and constructing Bisri Mustofa's thinking with a focus on studies on the values of moral education contained in Bisri Mustofa's Tafsir al-Ibriz. The factors behind the author chose Bisri Mustofa's interpretation because he was an Indonesian native, so the interpretations made by him would certainly be very interactive with the social realities that exist on Indonesian soil, which would greatly help writers in their efforts to benefit the education world in Indonesia especially Islamic education, and will be able to answer various problems that exist in the world of education today. Abstrak: Pendidikan akhlak merupakan landasan awal untuk membentuk dan menciptakan kehidupan yang lebih baik dan berkualitas. Selain itu, dapat juga menumbuh kembangkan sikap manusia agar menjadi lebih sempurna, sehingga berdampak positif bagi kehidupan dan selalu terbuka bagi kebaikan dan tertutup dari segala bentuk keburukan. Lebih lanjut, dengan adanya nilai-nilai pendidikan akhlak tentunya akan berdampak positif juga pada berbagai aspek dan unsur kehidupan, pendidikan akhlak dapat diartikan sebagai proses internalisasi nilai-nilai akhlak ke dalam diri. Agar tertanam kuat dalam pola pikir, ucapan, perbuatan, serta interaksinya kepada Tuhan, manusia dan alam. Selain itu, nilai-nilai akhlak dapat pula membentuk visi trancendental-spiritual, visi sosiologis dan visi ekologis. Sehingga, nilai-nilai tersebut dapat melekat dalam diri sehingga membentuk budaya perilaku dan karakter. Berangkat dari latar pemikiran yang telah penulis uraikan di atas, maka artikel ini diarahkan untuk mengkaji dan mengkonstruk pemikiran Bisri Mustofa dengan fokus kajian pada nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung dalam Tafsir al-Ibriz karya Bisri Mustofa. Adapun faktor yang melatar belakangi penulis memilih tafsir Bisri Mustofa karena ia merupakan orang asli Indonesia, sehingga tafsir yang dibuat olehnya tentu akan sangat interaktif dengan realitas sosial yang ada di bumi Indonesia, yang hal tersebut akan dapat sangat membantu penulis dalam upaya memberikan manfaat terhadap dunia pendidikan di Indonesia khususnya pendidikan Islam, serta akan dapat mampu menjawab berbagai problem yang ada dalam dunia pendidikan dewasa ini
ILUSTRASI TENTANG REENGINEERING HUMAN RESOURCES (Kajian Buku: Lyle Spencer, Reengineering Human Resourcess)
Penggunaan teknologi berarti telah dimulai dari awal penggabungan antara Reengineering sumber daya manusia dengan teknologi, sebagai inti dari pemanfaatan teknologi, sebagai inti dari pemanfaatan teknologi dalam cara berpikir yang berdampak dalam pelaksanaan kegiatan yang kita kerjakan akan lebih cepat, tepat, akurat, efisien dengan jangkauan hubungan kescmua aspek kebutuhan Manusia
Hubungan Lingkungan Kerja dengan Stres Kerja Guru di SDN Se-Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: Hubungan lingkungan kerja dengan stres kerja guru di Sekolah Dasar Negeri se Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan menggunakan analisis korelasi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan kerja memiliki hubungan yang signifikan dengan Stres Kerja Guru di Sekolah Dasar Negeri Se Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo.Koefisien korelasi -0.667 mengandung arti bahwa peningkatan lingkungan kerja guru dapat menurunkan stres kerja guru, artinya semakin kondusif lingkungan kerja maka stres kerja guru semakin menurun atau dapat diminimalisir. Sebagai implikasi dari hasil penelitian ini, untuk meminimalisir tingkat stres kerja guru, warga sekolah sekolah perlu secara bersama-sama menata dan memperbaiki lingkungan kerja kearah yang kondusif, kondisi lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan demi mendukung efektifitas kinerja yang lebih optimal, guna mewujudkan tujuan organisasi yang telah ditetapkan bersama.Kata Kunci: Lingkungan Kerja, Stres Kerja Gur
Kajian Tafsir Mufassir di Indonesia
Abstract. This article described the interpretation study carried out by the Mufassir in Indonesia. The term Mufassir is now important to revise in order to have that continuity among identity, tradition, and Al-Qur’an scientific study with their generations. The results showed that the practice of Qur'anic interpretation in Indonesia was spearheaded by Abdurrauf al-Singkil, Sheikh Nawawi al-Bantani, Mahmud Yunus, Ahmad Hasan Muhammad Hashbi Ash-Shiddiqy, HB Jassin, H. Bakri Syahid, Buya Hamka and Muhammad Quraish Shihab. The conclusion told that the style of interpretation in Indonesia contains three main dimensions, namely epistemology (source / method / criteria of Al-Qur'an knowledge), methodology (how to translate the dimensions of normativity of Al-Qur'an), and historical science. Therefore, the subjective nature of the Qur'an text turned into the objective nature of science text and then ethics (functioning the relationship between AlQur'an and social reality). Keywords : Interpretation, Mufassir, Al-Qur'an Abstrak. Tulisan ini menguraikan tentang kajian tafsir yang digeluti oleh para Mufassir di Indonesia. Dunia mufassir penting ditinjau kembali agar terjadi kesinambungan identitas, tradisi dan reproduksi keilmuan Al-Qur’an antar generasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik penafsiran Al-Qur’an di Indonesia dipelopori oleh Abdurrauf al-Singkil, Syekh Nawawi al-Bantani, Mahmud Yunus, Ahmad Hasan Muhammad Hashbi AshShiddiqy, H.B Jassin, H. Bakri Syahid, Buya Hamka, Muhammad Quraish Shihab.Kesimpulannya adalah corak kajian tafsir di indonesia mengandung tiga dimensi utama yaitu epistemology (sumber/cara/kriteria pengetahuan Al-Qur’an yang dipakai, metodologi (cara menerjemahkan dimensi normativitas Al-Qur’an yang dipakai), historis ilmu. Dengan demikian, sifat subjektif teks Al-Qur’an berubah menjadi sifat objektif teks ilmu. Kemudian, etika (memfungsikan hubungan antara Al-Qur’an dan realitas sosial). Kata kunci : Tafsir, Mufassir, Al-Qur’a
Fungsi Manajemen dalam Perencanaan Pembelajaran
Mengapa kualitas lembaga pendidikan menjadi bahan perbincangan yang menarik? Hal ini disebabkan karena pengaruh lembaga pendidikan yang berkualitas dapat dirasakan secara langsung dalam perkembangan serta kehidupan masyarakat, kehidupan kelompok, dan kehidupan individu. Jika bidang – bidang lain seperti ekonomi, pertanian, perindustrian berperan menciptakan sarana dan prasarana bagi kepentingan manusia, maka lembaga pendidikan berurusan langsung dengan pembenukan manusianya. Lembaga pendidikan menentukan model manusia yang akan di hasilkannya, yakni manusia yang berkualitas dan berkepribadian. Lembaga pendidikan menjadi sesuatu yang sangat penting dan berharga bagi kepentingan suatu bangsa, karena berpengaruh positif terhadap segala bidang kehidupan dan berhubungan langsung dengan kepribadian bangsa Indonesia. Hanya dengan lembaga pendidikan yang benar bangsa Indonesia akan terbebas dari krisis multidimensi yang berkepanjangan.Kata kunci: Fungsi Manajemen, perencanaan, Pembelajaran
Membangun Kesadaran Gender Tentang Wali Nikah dan Sakis Dalam Hukum Keluarga Islam di Indonesia (Maqashid al-Syari`ah Approach)
Begitu banyak masalah yang dapat ditemukan dalam hukum keluarga Islam jika dirujuk melalui pendekatan modern, terutama tentang kesetaraan gender. Mulai dari aturan wali nikah yang dikendalikan oleh laki-laki, pembagian warisan yang didominasi oleh laki-laki, ketentuan tentang saksi yang melemahkan eksistensi perempuan, dll. Dalam konteks Indonesia, penting untuk menganalisis masalah wali dan saksi, melalui pendekatan maqashid al-syari’ah, dan akan menemukan solusi di mana wali nikah adalah unsur primer mengenai menjaga kehormatan, dan tentang saksi, ia merupakan unsur sekunder yang berfungsi untuk melengkapi tujuan utama pernikahan. Melalui klasifikasi tersebut, ditemukan bahwa unsur primer tentang wali nikah dan unsur sekunder tentang saksi, memunculkan perbedaan yang sangat signifikan antara Arab dan konteks Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan reformasi di bidang hukum keluarga Islam melalui pendekatan budaya, sehingga responsif di Indonesia. Jika dalam budaya Arab kekerabatan patrilineal begitu menguasasi, sedangkan di Indonesia terdapat multi kekerabatan yang kompleks, seperti patrilineal, matrilineal dan bilateral, maka ia berimplikasi kepada kebutuhan perubahan yang membawa solusi, sesuai dengan kearifan lokal yang hidup di Indonesia, seperti pelaksanaan kesetaraan gender secara terbuka.Kata Kunci : Maqasyid al-Syari’ah, Wali Nikah, Saksi, Kearifan Lokal, dan Pembaharuan Hukum There are a lot of problems discovered in the Islamic family law when they are observed through modern approaches, especially on the issue of gender equality. It ranges from the rule of the bride’s guardian which is controlled by men, the distribution of inheritance which is dominated by men, the witness requirements that weaken women role, to others. In Indonesian context, it is important to analyse the matters of guardians and witness through foundational goals of Islam (maqashid syariah) approaches and it will find solution where a bride’s guardian becomes a primary element for protecting honors, and about witness, it will serve as a secondary element to complete the main goal of marriage. Through those classifications, it is found that the primary and secondary elements emerge significant differences between Arabic and Indonesian contexts. Therefore, a reformed Islamic family law is neededthrough cultural approaches, that are responsive in Indonesia. The patrilineal kinship of the Arab culture is very controlling, whilst Indonesians have a complext multi kinships such as patrilineal, matrilineal and bilateral. Thus, it implies the needs of changes that will offer solutions that correspond with the local wisdom, as an application of gender equality.Keywords: Foundational goals of Islam (maqasid syariah), Bride’s guardian, witness, local wisdom and law reformation
Geliat Kurikulum Pendidikan Islam Di Indonesia
Kurikulum disusun dengan tujuan untuk memudahkan penyelenggaraan pendidikan, oleh karena itu kontens kurikulum pendidikan Islam selalu berbeda-beda menurut kondisi perkembangan umat Islam, karena kaum muslimin berada di dalam lingkungan, daerah dan negeri yang berbeda-beda, Kurikulum harus didesain agar mampu menghasilkan muslim yang mampu menjadi khalifah di atas bumi. Pertimbangan dasar dalam mendesain kurikulum seperti itu ialah: Pertama, Pengembangan pendekatan keagamaan melalui semua mata pelajaran dan kegiatan. Kedua, kurikulum harus disusun sesuai dengan taraf perkembangan kemampuan pelajar. Ketiga, kurikulum haruslah disusun berdasarkan prinsip kesinambungan, berurutan dan terintegrasi.Kata Kunci: Kurikulum, Pendidikan Isla
Sistem Pengelolaan Kelas di Indonesia dalam Kurikulum 2013
Sistem pengelolaan kelas di Indonesia merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan dengan baik sesuai dengan kebijakan kurikulum 2013. Sehingga, proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Perbedaan tingkat kecerdasan, mental termasuk biologis peserta didik merupakan alasan mendasar.Kajian ini menunjukkan bahwa tujuan utama pengelolaan kelas adalah memberdayakan nalar, mental juga gerak peserta didik melalui pendekatan kekuasaan, ancaman, kebebasan, resep, pengajaran, perubahan tingkah laku, suasana emosi dan hubungan sosial, proses kelompok serta elektis atau pluralistik. Pendekatan ini mengikuti beberapa prinsip sekaligus keterampilan : hangat dan antusias, tantangan, bervariasi, keluwesan, pendekatan pada hal-hal yang positif, penanaman disiplin diri,sikap tanggap, membagi perhatian dan pemusatan perhatian kelompok. Kesimpulan dari kajian ini yaitu pengelolaan kelas berfokus kepada kegiatan pengaturan untuk kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas menyediakan fasilitas bagi berbagai kegiatan belajar peserta didik dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual. Kata Kunci : Sistem, Pengelolaan Kelas, Indonesia, Kurikulum 2013,
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA Peserta Didik Kelas VIII Taksifi 1 MTs. Negeri 1 Manado
AbstrakHasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai aktivitas guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran 3,42 dengan kategori baik pada siklus I dan 3,55 dengan kategori sangat baik pada siklus II. Aktivitas peserta didik secara klasikal 87,24% pada siklus I dan 91,90% pada siklus II. Ketuntasan belajar peserta didik pada siklus I, 74% dengan DSK 75% dan Siklus II, 85% dengan DSK 87%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT pada pembelajaran IPA dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik kelas VIII Taksifi 1 MTs. Negeri 1 Manado. Kata kunci: Model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT, Hasil BelajarAbstractThe results showed the average value of teacher activity in managing learning activities 3.42 with good category in cycles I and 3.55 with very good category in cycle II. Student activity is 87,24% classically in cycle I and 91,90% in cycle II. Completeness learners learners in cycle I, 74% with DSK 75% and Cycle II, 85% with DSK 87%. Thus it can be concluded that the application of cooperative learning model type TGT on science learning can improve the activity and learning outcomes of students class VIII Taksifi 1 MTs. Negeri 1 Manado.Keywords: Cooperative Learning Model TGT type, Learning Outcome