IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Manado Open Journal Systems
Not a member yet
    878 research outputs found

    Analysis Of Stock Price In Retail Company That Applying E-Commerce In Idx

    Get PDF
    Abstract            Retail companies have an important role in helping the economy of a country, but in the era of globalization like today every company must prepare a new strategy, especially retail companies because they see the current rapid technological developments. They must provide a product service system that is online-based (E-commerce) because the purchasing power or level of public consumption to retail companies decreases due to the provision of products in the online-based business is not inferior to retail companies. The purpose of the research is to find out the differences in the stock price of retail companies on the Indonesia Stock Exchange before and after implementing E-commerce. In this study using a quantitative approach with hypothesis testing using Paired Samples T-Test. The results showed that at PT. Matahari Department Store Tbk there are significant negative differences in stock prices before and after implementing E-commerce, PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk shows that there are no significant negative differences in stock prices before and after implementing E-commerce and PT. Mitra Adiperkasa Tbk shows that there are significant positive differences in stock prices before and after implementing E-commerce. Keywords : Stock Price, Retail Companies, E-Commerce

    KEARIFAN LOKAL TAHLILAN-YASINAN DALAM DUA PERSPEKTIF MENURUT MUHAMMADIYAH

    Get PDF
    Abstract. Tahlilan or selamatan have been rooted and become a custom in the Javanese society. Beginning of the selamatan or tahlilan is derived from the ceremony of ancestors worship of the Nusantara who are Hindus and Buddhists. Indeed tahlilan-yasinan is a form of local wisdom from the worship ceremony. The ceremony as a form of respect for people who have released a world that is set at a time like the name of tahlilan-yasinan. In the perspective of Muhammadiyah, the innocent tahlilan-yasinan with the premise that human beings have reached the points that will only get the reward for their own practice. In addition, Muhammadiyah people as well as many who do tahlilan-yasinan ritual are received tahlian-yasinan as a form of cultural expression. Therefore, this paper conveys how Muhammadiyah deal with it in two perspectives and this paper is using qualitative method. Both views are based on the interpretation of the journey of the human spirit. The human spirit, writing apart from the body, will return to God. Whether the soul can accept the submissions or not, the fact that know the provisions of a spirit other than Allah swt. All human charity can not save itself from the punishment of hell and can not put it into heaven other than by the grace of Allah swt.Keywords: Tahlilan, Bid’ah, MuhammadiyahAbstrak. Ritual tahlilan atau selamatan kematian ini sudah mengakar dan menjadi budaya pada masyarakat Jawa yang sangat berpegang teguh pada adat istiadatnya. Awal mula dari  acara Selamatan atau tahlilan tersebut berasal dari upacara peribadatan (selamatan) nenek moyang bangsa Nusantara yang mayoritasnya beragama Hindu dan Budha. Sejatinya tahlilan merupakan satu bentuk kearifan lokal  dari upacara peribadatan. Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan dan mendo’akan orang yang telah meninggalkan dunia yang diselenggarakan pada waktu seperti halnya waktu tahlilan. Dalam perspektif Muhammadiyah, tahlilan bersifat bid’ah dengan dasar pemikiran bahwa manusia ketika ia telah meninggal hanya akan mendapatkan pahala atas perbuatan yang mereka kerjakan sendiri. Sedangkan dalam perspektif lain, orang Muhammadiyah, secara kultural, juga banyak yang melakukan ritual tahlilan-yasinan sebagai bentuk ekspresi budaya. Oleh karena itu, tulisan ini hendak membentangkan dua sudut pandang mengenai tahlilan-yasinan dalam perspektif Muhammadiyah. Kedua pandangan itu secara garis besar berkaitan dengan tafsir atas perjalanan ruh manusia. Ruh manusia, apabila terpisah dari jasad, akan kembali kepada Allah saw. Apakah ruh dapat menerima kiriman atau tidak, sebenarnya tiada yang mengetahui urusan ruh selain Allah swt. Semua amal manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya dari siksa neraka dan tidak pula dapat memasukkannya ke dalam surga selain karena rahmat Allah swt.Kata Kunci: Tahlilan, Bid’ah, Muhammadiya

    Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Epistimologi Ilmu

    No full text
    Philosophy and education are, them, but two stages of the some endeavor; philosophy to think out better values and idealism, education to realize these in life, in human personality. Philosophizing and education are, ten, but two stages of the some endeavor; The Islamic theory of education is fundamentally based upon the Qur’anic concepts. In this theory the door is left open for concepts which come from different fiels of knowledge propided thet they fit the Qur’anic perspective. All elements which be reconciled witch Islamic principles should be excluded..Philosophizing to think out better values and idealism, education to realize these in life, in human personality. The ultimate aim of muslim education lies in the realization of complete submission to Allah on the level of the individual, the community and humanity at large. In Islamic educational  field, howewer, there are some prominent figurest who .have highly proposed educational theories in Islam. Baced on this fact, Islamic educational has two sourcesr for their educational process, and therefore, Islamic  education must combined in balance they fungtion of school with the rule of society.Kata Kunci: Filsafat-Pendidikan Islam dan  Epistimologi ilm

    Membangun Kecerdasan Emosional Dalam Prespektif Pendidikan Islam

    No full text
    Oleh : Ishak W. TaliboAbstrakKecerdasan emosional merupakan konsep yang sangat penting dibahas dan perlu diterapkan dalam system pendidikan Islam. Oleh karena itu, perumusan konsep dan strategi penerapannya mesti dilakukan dalam system pendidikan Islam guna menumbuhkan kecerdasan emosional anak didik.Proses pertumbuhan kecerdasan emosional menurut pendidikan Islam adaah ditandai dengan adanya pendidikan akhlak. Pendidikan islam disamping berupaya membina kecerdasan intelektual, juga membina kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Pendidikan Islam membina dan membersihkan hati terlebih dahulu dari penyakit penyakit hati dan mengisi dengan akhlak yang terpuji, seperti ikhlas, jujur, kasih saying, tolong menolong, bersahabat, silaturahmi dan lain-lain. Ajaran akhlak yang demikian inilah yang menjadi titik berat dalam proses pendidikan islam.Kata Kunci : Kecerdasan Emosional, pendidikan, islam

    Empat Variabel Penting yang Mempengaruhi Kinerja Guru Madrasah Ibtidaiyah di Kota Manado

    Get PDF
    Artikel ini merupakan rangkuman dari hasil penelitian yang berhubungan dengan empat variabel penting yang mempengaruhi kinerja guru Madrasah Ibtidaiyah di Kota Manado. Keempat variabel dimaksud adalah budaya organisasi, pemahaman agama, pengalaman ibadah dan etos kerja.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif korelasional. Penelitian ini dilaksanaakn di Madrasah Ibtidaiyah di Kota Manado dengan sampel 96 yang diambil dari 127 guru dengan menggunakan proportional stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrument tes dan nontes. Tes digunakan untuk mengumpulkan data tentang pemahaman agama dan nontes digunakan untuk mengumpulkan data budaya organisasi, pengamalan ibadah, etos kerja dan kinerja. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis jalur.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa budaya organisasi berpengaruh langsung positif terhadap kinerja guru. Pemahaman agama berpengaruh langsung positif terhadap kinerja guru. Pengamalan ibadah berpengaruh langsung positif terhadap kinerja guru dan etos kerja berpengaruh langsung positif terhadap kinerja guru. Untuk meningkatkan kinerja guru maka upaya yang dilakukan terkait dengan empat variabel tersebut di antaranya menciptakan budaya organisasi yang kondusif, meningkatkan pemahaman agama guru dengan memperbaharui pengetahuan agama, meningkatkan pengamalan ibadah guru dengan memperkuat keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan, dan meningkatkan kesadaran diri, bahwa ketaatan dan kesungguhan dalam mengamalkan ibadah.Kata Kunci : Budaya organisasi, pemahaman agama, pengamalan ibadah, etos kerja dan kinerja

    TINJAUAN SADD DZARI’AH TERHADAP PROBLEMATIKA HUKUM MENIKAHI WANITA AHLI KITAB DALAM HUKUM POSITIF

    Get PDF
    Halal marriage as a category makruh marriage between Muslim men with women experts of the book. In addition, the legal status of different religious marriages in Indonesia still reap the polemic and does not strictly prohibit. For the occurrence of different religious weddings are still open gaps or opportunities of occurrence, including marriage of Muslim men with female scribes even among Muslim women with men of the book. So with the second law of origin that provides an opportunity for the marriage of the woman of the book with the Muslim man, the researcher uses a review of Sadd Dzari'ah where in origin the legal action may be prohibited by the concern because of the great potential of giving negative impact (mafsadat).Pernikahan halal sebagai kategori makruh pernikahan antara lelaki muslim dengan wanita ahli kitab. Selain itu, status hukum pernikahan beda agama di Indonesia masih menuai polemik dan tidak melarang secara tegas. Untuk terjadinya pernikahan beda agama masih terbuka celah atau peluang terjadinya, termasuk pula pernikahan pria muslim dengan wanita ahli kitab bahkan antara wanita Islam dengan pria ahli kitab. Maka dengan adanya kedua hukum asal yang memberikan peluang untuk terjadinya pernikahan wanita ahli kitab dengan pria muslim tersebut, peneliti menggunakan tinjauan Sadd Dzari’ah dimana pada asalnya susuatu tindakan hukumnya boleh menjadi terlarang dengan adanya kekhawatiran sebab berpotensi besar melahirkan dampak negatif (mafsadat)

    Strategi Pelestarian Tradisi Katoba sebagai Media Pendidikan Islam pada Masyarakat Etnis Muna di Sulawesi Tenggara

    No full text
    ABSTRACT., The purpose of this study was to describe the preservation strategy of the katoba’s tradition as a medium of Islamic education in Muna ethnic communities at Southeast Sulawesi. Katoba was a life cycle tradition that deals with the practice of Islamic values which carried out hereditary by Muna ethnic communities. In Muna ethnic communities, the Katoba tradition was understood as a ritual of "repentance", or "child islamization" which aged 7-11 years old. In its implementation, the katoba tradition contains the values of Islamic education that are represented, both verbally and nonverbally. This study used a qualitative approach with the research location in Muna district and West Muna District, at Southeast Sulawesi Province. By using the interactive analysis, this study produced the facts about the preservation of the katoba tradition as a medium of Islamic education in the Muna community which carried out by (1) inheriting katoba values in the family environment, (2) preserving the Muna language, (2) increasing the professionalism of imamu, and (4) preservation through "Katoba-insightful" teaching and research.               Keywords: strategy of preservation, katoba tradition, Muna ethnic communities ABSTRAK., Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan strategi pelestarian tradisi katoba sebagai media pendidikan Islam pada masyarakat etnis Muna di Sulawesi Tenggara. Katoba adalah tradisi siklus hidup yang bertalian dengan praktik nilai-nilai Islam yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat etnis Muna. Bagi masyarakat etnis Muna, tradisi katoba dipahami sebagai ritual “pertobatan”, atau “pengislaman anak” berusia 7-11 tahun. Dalam pelaksanaannya tradisi katoba mengandung nilai-nilai pendidikan Islam yang direpsentasikan, baik secara verbal maupun nonverbal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan lokasi penelitian di kabupaten Muna dan Kabupaten Muna Barat Propinsi Sulawesi Tenggara. Menggunakan analisis interaktif, penelitian ini menghasilkan fakta-fakta strategi pelestarian tradisi katoba sebagai media pendidikan Islam pada masyarakat Muna dilakukan dengan langkah-langkah (1) pewarisan nilai-nilai katoba di lingkungan keluarga, (2) pelestarian bahasa Muna, (2) peningkatan profesionalisme imamu, dan (4) pelestarian melalui pengajaran dan penelitian “Berwawasan Katoba”. Kata Kunci: strategi pelestarian, tradisi katoba, masyarakat etnis Mun

    Manajemen Sarana dan Prasarana di Lembaga Pendidikan Islam

    Get PDF
    Tulisan ini menjelaskan tentang manajemen sarana dan prasarana di lembaga pendidikan Islam. Wacana ini penting diuraikan sebab sistem pendidikan merupakan komponen yang saling terkait seperti kurikulum, materi, metode, pendidik, peserta didik, sarana, alat, pendekatan dan sebagainya. Selama ini pemahaman konsep integrasi dan interkoneksi antar sub sistem di atas masih kurang sehingga proses pembelajaran menjadi tidak maksimal. Kajian ini menggunakan metode penelitian pustaka dengan pendekatan analisis-deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa manajemen sarana dan prasarana pendidikan adalah proses kerja sama pendayagunaan semua sarana dan prasarana pendidikan secara efektif. Tujuan pengelolaan sarana dan prasarana sekolah ini untuk memberikan layanan secara profesional agar proses pembelajaran bisa berlangsung secara efektif dan efisien. Proses manajemen sarana dan prasarana pendidikan islam meliputi (1) Perencanaan sarana dan prasarana pendidikan Islam (2) Pengadaan sarana dan prasarana pendidikan Islam (3) Inventarisasi sarana dan prasarana pendidikan Islam (4) Pengawasan dan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan Islam (5) Pengahapusan sarana dan prasarana sekolah. Kesimpulan dari kajian ini adalah  manajemen sarana dan prasarana di lembaga pendidikan Islam harus berorientasi kepada prinsip tepat waktu, tepat sasaran dan tepat guna.Kata Kunci :  Sarana dan Prasarana, Lembaga pendidikan Isla

    Konsepsi Bangunan Keluarga Sakinah Bagi Pasangan Suami Istri Yang Telah Bercerai Pada Masyarakat Muslim di Kota Manado

    Get PDF
    This study aims to describe the perception of married couples who have divorced to building harmonious family. The analysis is directed at the opinion of the informant research on the basic concept of harmonic family building which is understood to be glue of building harmonious family. This reserach is a case study using the qualitative approach. The results showed that couples who have been in Muslim Community in Manado city perceive that responsibility and mutual understanding, balance, and honesty is the foundation of harmonic family building

    KEDUDUKAN SUAMI-ISTRI (KAJIAN SURAH AN-NISA’ [4]: 34)

    Get PDF
    Abstract. This paper examined the position of husband and wife in according to Islam. Qs. an-Nisa '[4]: 34 becomes the focus of the reference and analysis on this topic. Qs Study. an-Nisa [4]: 34 highlights a lot about women. This Surah became the liberator of women from the injustice of society towards women since 15 centuries ago. In marriage, husbands are obliged to lead and protect their wives and all family needs, while women on the male side are like body organs on a body, men as heads, and women as bodies. Qs. an-Nisa '[4]: 34 explains the position of men is higher than women, this is intended to reinforce the division of tasks between men as husbands and women as wives. The mention of the words ar-Rijal and an-Nisa  in this verse does not emphasize biological significance, but rather character leadership and social functions. The figure of leadership (qawwam) is generally more dominantly indicated by men than women. The virtue of men in this verse is related to his responsibilities as head of the household. However, al-fadhl (excess) possessed by men does not make men (husbands) doing arbitrarily on their women (wives).  Keywords : Al-Rijal, An-Nisa‟, Qawwamun  Abstrak. Paper ini mengkaji tentang kedudukan suami dan istri dalam Islam. Qs. anNisa’ [4]: 34 menjadi fokus acuan dan analisis tentang topik ini. Kajian Qs. an-Nisa [4]: 34 ini banyak menyoroti tentang perempuan. Surah ini menjadi pembebas perempuan dari ketidakadilan masyarakat terhadap perempuan sejak 15 abad silam. Dalam pernikahan, suami wajib memimpin dan melindungi  isteri serta segala keperluan keluarga, sedangkan wanita di sisi kaum pria adalah laksana organ tubuh dalam raga yang satu, kaum pria sebagai kepala, sedangkan wanita sebagai badannya. Qs. an-Nisa’ [4]: 34 menjelaskan kedudukan laki-laki  lebih tinggi  dari perempuan, hal ini dimaksudkan untuk mempertegas pembagian tugas antara lakilaki sebagai suami dan perempuan selaku isteri. Penyebutan kata ar-Rijal dan anNisa’ dalam ayat ini tidak menekankan pada signifikansi biologis, tetapi lebih kepada kepemimpinan karakter dan fungsi sosial. Sosok kepemimpinan (qawwam) umumnya lebih dominan ditunjukkan oleh kaum laki-laki daripada perempuan. Keutamaan laki-laki dalam ayat ini dihubungkan dengan tanggung jawab nya sebagai kepala rumah tangga. Namun, al-fadhl (kelebihan) yang dimiliki oleh lakilaki lantas tidak menjadikan laki-laki (suami) berbuat semena-mena terhadap perempuan (isteri) nya.  Kata Kunci : Al-Rijal, An-Nisa‟, Qawwamu

    549

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Manado Open Journal Systems
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇