IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Manado Open Journal Systems
Not a member yet
    878 research outputs found

    MODERASI ISLAM PENCANTUMAN PENGHAYAT KEPERCAYAAN DI KOLOM KTP/KK DALAM NALAR MAQASID

    No full text
    Abstract This article analyzes the decision of the Constitutional Court (MK) which rules that Penghayat Kepercayaan (the indigenous believers) has the right to include their credentials on their Identity (KTP) and Family Cards (KK). Using the “maqasid” approach, this article provides alternative answers, mediating the accepting and rejecting parties. The moderation of Islam is concluded, when the maqasid is used as reasoning sources in seeing things which bridges between texts and the reality besides considering the reasonality. By using the Jasser Auda’s maqasid paradigm, the paper concludes that inclusion of the local faith as their religious identity on the state documents is a part of development and human rights in the nation-state framing. Keywords:  Identity, indigenous believer, Maqasid, MK, and Human Right.Abstrak Artikel ini menganalisis Putusan Mahkamah Konstitusi tentang Pencantuman Penghayat Kepercayaan di kolom KTP/KK dengan menggunakan konsep maqasid. Dengan pendekatan maqasid, artikel ini memberikan jawaban alternatif, sebagai sintesis antara pihak yang menerima dan pihak yang menolak. Moderasi Islam itu tampak, ketika maqasid digunakan sebagai nalar dalam melihat sesuatu, yang bisa mendialogkan antara teks dengan realitas yang berkembanga dengan tetap berpegang kepada kekuatan nalar. Dengan menggunakan paradigma maqasid Jasser Auda, maka pencantuman itu merupakan bagian dari development (pembangunan) dan human right (hak insani). Kedua poin ini diletakkan dalam kerangka nation-state.Keyword: Identitas, Penghayat, Maqasid, MK, dan Human Right

    KONTROVERSI KEMAKSUMAN RASUL ÛLU Al-'AZMI DALAM PERSPEKTIF SYI’AH DAN SUNNI (STUDI KOMPARATIF TAFSIR AL- THABARSI DAN AL-QURTHUBI)

    Get PDF
    The prophets from the class of Ûlu Al-’Azmialso got warnings from Allah although this is the highest class. Those warnings emerged different ulama from different classes. Those warnings in Al-Qur’an need interpretation and explanation to avoid misinterpretation. Because when a prophet is claimed guilty, the followers will be hesitating. This thesis uses interpretation with comparative method that is done by Al-Thabarsidan Al-Qurthubi that is explained in Majma’ Al-BayandanAl-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an. Al-Thabarsi from Syi’ah tries to understand ayahs by interpreting in ‘saver’ way when there are ayahs that against prophets’ holiness. Al-Qurthubi from Sunni class understands the ayahs that against Prophets’ holiness as wrong deeds for Prophets. These different interpretations are caused by their differences and similarities of backgrounds in interpretation methods, education, teachers, etc. The result of this research of Al-Thabarsi and Al-Qurthubi’s interpretations which are relatively similar are expected to be a window in understanding Syiah and Sunni’s faiths in general, especially related to Prophets’ holiness. Their interpretations are also expected to be one alternative for those who are hesitating the warnings for Prophets.Keywords: Controversy; Holiness; Prophet; Ulu Al-‘Azmi; Al-Qur’an Para Rasul dari golongan Ûlu Al-’Azmi tidak luput dari teguran-teguran yang Allah SWT alamatkan kepada mereka. Meskipun golongan tersebut adalah golongan yang memiliki derajat yang paling tinggi diantara Rasul yang lainnya dan pada umat manusia pada umumnya. Teguran-teguran yang terdapat dalam Al-Qur’an tersebut tentulah membutuhkan penafsiran dan penjelasan dari kalangan mufassir agar tidak terjadi pemahaman yang salah. Tulisan ini bertujuan untuk mengetengahkan penafsiran dengan metode komparatif yang dilakukan oleh Al-Thabarsi dan Al-Qurthubi yang mereka tuangkan dalam tafsir Majma’ Al-Bayan dan Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an. Perbandingan ini dimaksudkan ketika berhadapan dengan ayat-ayat yang seolah bertentangan dengan kemksuman para Rasul, Al-Thabarsi dari kalngan Syi’ah berusaha memahami ayat-ayat dengan memalingkan makna kalimat pada ayat tersebut kepada makna yang lebih “aman”, sedangkan Al-Qurthubi dari kalangan Sunni memahami ayat-ayat yang seolah bertentangan dengan kemaksuman para Rasul tersebut adalah perbuatan keliru para Rasul yang sebenarnya memang tidak dianggap dosa jika dilakukan oleh orang selain beliau, semua ini karena adanya perbedaan dan persamaan latar belakang keduanya dari segi metode penafsiran, mazhab yang mereka anut, guru-guru, dan lain-lain. Hasil dari penelitian ini terhadap penafsiran Al-Thabarsi dan Al-Qurthubi yang relatif sama diharapkan sanggup menjadi jendela untuk memahami aqidah golongan Syiah dan Sunni pada umumnya, terutama yang berhubungan dengan kemaksuman para Rasul. Penafsiran mereka berdua ini juga mungkin sanggup menjadi salah satu alternaif bagi mereka yang merasa risih dengan adanya tuduhan kesalahan-kesalahan yang dialamatkan kepada para Rasul.  Kata kunci: Kontroversi; Kemaksuman; Rasul; Ulu Al-‘Azmi; Al-Qur’a

    Implementasi Peraturan Bank Indonesia Tentang Pembiayaan Likuiditas Jangka Pendek Syariah Pada Bank Syariah Mandiri Cabang Manado

    Get PDF
    Using a qualitative method with eksploratory approach, it finds that Mandiri Syariah Bank Branch Manado has implemented a Bank Indonesia Regulation on Liquidity Financing of the Syariah Mandiri Bank Branch Manado, which has not yet been difficult to meet the statutory reserve requirement in rupiah. But this cannot be ignored given the factors that might be questioned regarding the problem of funds in meeting their clear needs which is unpredictable and can be returned to the internal and external. The existence of this regulation can provide solutions to problems such as Islamic banking to obtain financing from Bank Indonesia by fulfilling the requirements set by Bank Indonesia such as providing collateral containing securities and contributions from the Financial Services Authority. Penggunaan metode kualitatif dengan pendekatan eksplorasi, ditemukan bahwa Bank Syariah Mandiri Cabang Manado telah mengimplementasikan Peraturan Bank Indonesia tentang Pembiayaan Likuiditas Jangka Pendek kepada Bank Syariah dengan melakukan sosialisasi dan pelatihan terhadap pihak-pihak yang berkepentingan. Bank Syariah Mandiri Cabang Manado juga belum menghadapi kesulitan dalam memenuhi kewajiban giro wajib minimum (GWM) dalam rupiah. Namun hal ini tidak dapat disepelekan mengingat terdapat faktor-faktor yang mungkin saja dapat berpotensi menjadi risiko adanya kesulitan dana dalam memenuhi kewajibannya yang jelas yang tidak dapat diramalkan dan dihindari baik itu dari intern maupun ekstern. Dengan adanya peraturan ini dapat memberikan solusi terhadap masalah likuditas khususnya pada perbankan syariah untuk mendapatkan pembiayaan dari Bank Indonesia dengan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia seperti memberikan agunan berupa surat berharga dan rekomendasi dari Otoritas Jasa Keuanga

    PEMIKIRAN MUHAMMAD HATTA TENTANG EKONOMI SYARIAH DI INDONESIA

    Get PDF
    This chapter focuses on Mohammad Hatta's thoughts on Sharia Economics embodied in the 1945 Constitution, namely articles 33 and 34. The method used in this study is library research using a nomative approach. The concepts implicit in these Articles give birth to important points including the concept of Community Economy, where Hatta is very upholding the values of justice and prosperity in society and economic activities must be carried out by all Indonesian people by creating a spirit of kinship, mutual support mutual cooperation and no interference from the colonial nation, this is intended so that the Indonesian people free from the shackles of the invaders. the realization of this People's Economy is in line with the word of Allah in QS. Al-Haysr: 7; QS. Al-Maidah: 120; QS. Al-Humazah; 1-3; QS. Al-Ma’un: 1-7; QS. At-Taubah: 34 and 71Keywords: Mohammad Hatta; 1945 Constitution; Islamic Economics.Tulisan ini fokus pada pemikiran Mohammad Hatta tentang Ekonomi Syariah yang diejawantahkan dalam UUD 1945 yaitu pada pasal 33 dan 34. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah library research dengan menggunakan pendekatan nomatif. Konsep-konsep yang tersirat dalam Pasal-Pasal ini melahirkan poin-poin penting diantaranya konsep Ekonomi Kerakyatan, dimana Hatta sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan serta kemakmuran dalam bermasyarakat dan kegiatan perekonomian harus dilakukan oleh seluruh rakyat Indonesia dengan cara menciptakan semangat kekeluargaan, gotong-royong dan tidak ada campur tangan dari bangsa kolonial, hal ini dimaksud agar rakyat Indonesia terbebas dari belenggu penjajah.  Wujud implementasi Ekonomi Kerakyatan ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Haysr: 7; QS. Al-Maidah: 120; QS. Al-Humazah; 1-3; QS. Al-Ma’un: 1-7; QS. At-Taubah: 34 dan 71Kata kunci: Mohammad Hatta; Undang-Undang Dasar 1945; Ekonomi Syariah

    Kepemimpinan Pendidikan Islam Multikultural

    No full text
    AbstrakBanyaknya konflik maupun ungkapan-ungkapan rasis yang sering terjadi di Indonesia merupakan bukti bahwa dalam lingkaran sosial bangsa Indonesia masih kokoh semangat narsistik-egosentrisnya dan betapa rapuhnya konstruksi kebangsaan berbasis multikulturalisme di Indonesia. Sehingga tidak heran kalau belakangan ini rasa kebersamaan sudah tidak nampak lagi dan nilai-nilai kebudayaan yang dibangun menjadi terberangus.Maka, untuk mengatasi problematika tersebut diperlukan strategi khusus untuk memecahkan persoalan tersebut melalui berbagai bidang; sosial, ekonomi, budaya, dan pendidikan. Berkaitan dengan hal ini, maka pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat, khususnya yang ada pada siswa.Oleh karena itu, diperlukan kepemimpinan yang tepat dan mampu menanamkan nilai-nilai inti dari pendidikan multikultural dalam lembaga pendidikan. Pada gilirannya, out-put yang dihasilkan dari sekolah tidak hanya cakap sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai keberagamaan dalam memahami dan menghargai keberadaan para pemeluk agama dan kepercayaan lain.Kata kunci:  Multikultural; Kepemimpinan Pendidikan Islam. AbstractThe many conflicts and racist expressions that often occur in Indonesia are evidence that in the social circle of the Indonesian nation there is still a narcissistic-egocentric spirit and how fragile multiculturalism-based national construction in Indonesia is. So it is not surprising that lately a sense of togetherness is no longer visible and cultural values are being blazed.So, to overcome these problems a special strategy is needed to solve these problems through various fields; social, economic, cultural and educational. In this regard, multicultural education offers an alternative through the application of educational strategies and concepts based on the use of diversity in society, especially those of students.Therefore, appropriate leadership is needed and is able to instill the core values of multicultural education in educational institutions. In turn, outputs generated from schools are not only competent in accordance with the discipline they occupy, but are also able to apply religious values in understanding and valuing the existence of followers of other religions and beliefsKeywords:  Multicultural, Islamic Education Leadership

    KONSEP DASAR EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM

    No full text
    Pendidikan islam bertujuan  untuk mengembangkan potensi fitrah yang ada pada diri manusia untuk menjadi insan kamil. Sehingga semua komponen yang ada dalam pendidikan  haruslah sesuai dengan tujuan pendidikan islam. Untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan tersebut, dibutuhkan evaluasi. Penelitian ini menggunakan studi literature dengan mengkaji beberapa buku dan pemikiran tokoh, peneliti akan membahas lebih dalam tentang evaluasi pendidikan islam baik secara epistimologi, terminology, aksiologi, dan ontology. Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu usaha yang dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan kelemahan suatu proses pendidikan islam, yang mencangkup seluruh komponen yang ada didalammnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses pelaksanaannya evaluasi harus menerapkan beberapa prinsip, tekhik dan prosedur yang harus di ikuti demi baiknya hasil yang akan didapatkan

    Effects of Material Incentives and Non Material on Employee Satisfaction Employees

    No full text
    AbstractThe purpose of this study was to determine the effect of material and non-material incentives on employee job satisfaction at PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Makassar Branch.               The analysis method used to determine the effect of material and non-material incentives on employee job satisfaction is to use multiple linear regression analysis through the SPSS version 24.0 program.               Partially and simultaneously shows that the variables of material and non-material incentives can affect employee job satisfaction. These results imply that the company is able to create added value in the provision of additional wages which can ultimately increase the job satisfaction of its employees.Keywords: Material Incentives, Non Material Incentives, Employee Satisfaction

    DAKWAH SIMBOLIK HIJRAH DAN MODERASI ISLAM DI MEDIA ONLINE

    Get PDF
    Abstract "Hijrah" with all its symbolic identities today is one of the most contemporary Islamic issues. This research aims to describe and analyze the meaning of "hijrah" ideologically. This research focuses on the discourse of "hijrah" through the representation of the news of "hijrah" photos of the artists and the supplementary news in online media such as "Kapanlagi.com" and "kiblat.net". The method used in this research is discourse analysis. Technique of analyzing the data used in this research is semiotic analysis. The result of data analysis showed that the meaning of "hijrah" is still symbolic, namely professional change, the change of name and performance. In addition, online media have not fully supported the Islamic moderation movement.Key Word: Hijrah, Meaning, Ideology, Islamic Moderation. Abstrak “Hijrah” dengan segala identitas simboliknya dewasa ini menjadi salah satu isu Islam kontemporer terhangat menghiasi ruang media. Untuk tujuan mendeskripsikan dan menganalisis makna “hijrah” secara ideologis, penelitian ini memfokuskan diri wacana “hijrah” melalui representasi pada berita foto “hijrah” artis dan berita pelengkapnya yang ada di media online “kapanlagi.com” dan “kiblat.net”. Menggunakan analisis wacana sebagai metode penelitian dan analisis semiotika sebagai metode analisis data, didapati hasil bahwa makna “hijrah” menurut media online masih bersifat simbolik, yaitu perubahan profesi, perubahan nama dan penampilan. Artinya, media online belum sepenuhnya mendukung gerakan moderasi Islam.Kata kunci: Hijrah, Makna Simbolik, Ideologi, Moderasi Islam.

    RESEPSI HADIS DO’A NABI JELANG PILPRES 2019 (ANALISIS INFORMATIF DAN PERFORMATIF)

    Get PDF
    Abstract: Prayer delivered in the context of war by the Prophet Muhammad was prayed by Neno Warisman, but in a totally different context; that is a political context. Prayers originally requesting a victory in Badar war was misled by Neno Warisman to achieve the same victory in the 2019 presidential election contest. Such submission of the same prayer with different contexts breeds various polemics among Indonesian Muslim communities. This article intends to discuss the prayer of the Prophet Muhammad contained in the Hadith regarding the context of Badr war, especially as was narrated by Imam Muslim. The discussion about the Prophet's prayer will be analyzed based on the reception theory which is analyzed informatively and performatively. An informative analysis is an analytical method that focuses on the hadith text by conducting in-depth studies to understand its content. Performative analysis is an analytical method that focuses on the readers of the hadith, examining how a hadith whose content is not well-understood but creates various receptions or attitudes from the readers. Furthermore, for informative analysis, this paper will discuss textual and contextual understanding, and discuss the implications of understanding when the prayer is performed by Neno in Munajat 212. As for performative analysis, this paper will discuss the responses or attitudes of the readers or recipients of the prayer delivered by the Neno Warisman.Keywords: Hadith, the Prophet's prayer, Warisman's prayer, Informative, and performative. Abstrak: Do’a yang disampaikan dalam konteks peperangan oleh Nabi Muhammad, kembali disampaikan oleh Neno Warisman namun dalam konteks berbeda, yakni perpolitikan. Do’a memohon kemenangan dalam perang badar digiring oleh Neno Warisman untuk mencapai kemenangan dalam kontestasi pemilihan umum presiden 2019. Penyampaian do’a yang berbeda konteks ini kemudian memunculkan berbagai polemik dalam lingkungan umat Islam di Indonesia. Tulisan ini hendak mendiskusikan do’a Nabi Muhammad yang terdapat dalam Hadis pada konteks perang Badar tersebut, khususnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Diskusi mengenai do’a Nabi akan dianalisis berdasarkan teori resepsi yang dianalisis secara Informatif dan Performatif. Analisis informatif yaitu analisis yang fokus pada teks hadis, yakni melakukan kajian mendalam sehingga menemukan pemahaman atas kandungan hadis. Sementara analisis performatif yaitu analisis yang fokus pada pembaca hadis, bagian ini meneliti bagaimana sebuah hadis yang secara kandungan tidak dipahami tetapi memunculkan resepsi atau sikap dari pembacanya. Selanjutnya, untuk analisis informatif, tulisan ini akan mendiskusikan pemahaman secara tekstual dan kontekstual, serta mendiskusikan implikasi pemahaman ketika do’a tersebut digunakan oleh Neno dalam munajat 212. Adapun analisis performatif, tulisan ini akan mendiskusikan respon atau sikap pembaca atau penerima do’a yang disampaikan oleh Neno Warisman tersebut.Kata Kunci: Hadis, do’a Nabi, do’a Neno Warisman, Informatif, dan performatif

    MUKTI ALI DAN TRADISI PEMIKIRAN AGAMA DI INDONESIA

    Get PDF
    This article discusses the religious ideas tradition of Mukti Ali. As a Muslim scholar, he has a concern for the future of religions in Indonesia. This phenomenon is caused by missunderstanding of peoples about the history and faith of other religions. That is why, there is a negative labeling, prejudice and discrimination. Mukti Ali filed four concepts to understand religions namely motivatif, creative, sublimatif and integration concepts. Mukti Ali also import three practical methodology in applying those concepts. First, a personal document. Second, an interview. Third, the participant observation. Thus, the concepts and methodologies can help Indonesian society in creating, managing and disseminating the values of peace.Keywords: Mukti Ali; Religions; Indonesia Artikel ini membahas tradisi pemikiran agama Mukti Ali. Sebagai cendekiawan Muslim, dia memiliki kepedulian terhadap masa depan agama-agama di Indonesia. Fenomena ini disebabkan oleh kesalahpahaman masyarakat tentang sejarah dan iman agama lain. Oleh sebab itu ada pelabelan negatif, prasangka serta diskriminasi. Mukti Ali mengajukan empat konsep untuk memahami agama-agama yaitu konsep motivatif, kreatif, sublimatif dan integrasi. Mukti Ali juga mengajukan tiga metodologi praktis dalam menerapkan konsep tersebut. Pertama, personal document. Kedua, interview. Ketiga, participant observation. Dengan demikian, konsep dan metodologi ini dapat membantu masyarakat Indonesia dalam menciptakan, mengatur dan menyebarluaskan nilai-nilai perdamaian. Kata kunci: Mukti Ali; Agama; Indonesi

    549

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Manado Open Journal Systems
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇