IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Manado Open Journal Systems
Not a member yet
878 research outputs found
Sort by
DAMPAK PHYSICAL DISTANCING TERHADAP KEMAMPUAN SOSIAL PEMUDA
ABSTRACTThis research aims to study the impact of physical distancing on the youth's social abilities. This research using a qualitative approach by observation, interviews, and documentation to data collects. This study involved those who participated in youth organizations (PMRD) in Sindulang Satu Lingkungan I Village, Tuminting District, Manado City. The results show that the physical distancing on the youth's social abilities is that they do not get obstacles to communicating and educating the public regarding Covid-19 by utilizing social media. In terms of social interaction, there is still a lack of youth interest in participating in youth organizations (PRMD), whether there is physical distancing or not. Regarding youth socialization (PRMD), it has an active role in minimizing the spread of Covid-19 by distributing free masks to the public and collaborating with the Ansor Youth to spray disinfectant liquid in the Darussalam Sindulang I Mosque environment.Keywords: Impact, Physical Distancing, Covid-19, Social Ability, Youth. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak physical distancing terhadap kemampuan sosial pemuda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini melibatkan pemuda yang ikut serta dalam organisasi kepemudaan (PMRD) di Kelurahan Sindulang Satu Lingkungan I Kecamatan Tuminting Kota Manado. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa physical distancing tidak menghalangi kemampuan sosial pemuda di Kelurahan Sindulang Satu Lingkungan I Kecamatan Tuminting Kota Manado untuk berkomunikasi dan mengedukasi masyarakat terkait Covid-19 dengan memanfaatkan media sosial. Dalam hal interaksi sosial masih kurangnya minat pemuda untuk ikut serta dalam organisasi kepemudaan (PRMD) baik ada atau tidaknya pemberlakuan physical distancing. Terkait dengan sosialisasi pemuda (PRMD) sangat berperan aktif dalam meminimalisir penyebaran Covid-19 dengan membagikan masker gratis kepada masyarakat dan bekerjasama dengan Pemuda Ansor untuk penyemprotan cairan desinfektan di lingkungan Masjid Darussalam Sindulang I.Kata Kunci: Dampak, Physical Distancing, Covid-19, Kemampuan Sosial, Pemuda
PENGARUH IKLIM ORGANISASI TERHADAP BURNOUT PADA PERAWAT RUMAH SAKIT DI LEBAK DALAM MASA COVID-19
ABSTRACTThis study aims to find effect from organizational climate to burnout in hospital nurses in Lebak during the COVID-19. Nurses who worked during the COVID-19 were at the forefront of cutting infected tissues and this resulted in quite high suffering. The main fatigue is emotional or better known as burnout. One of the causes of burnout is organizational climate. A high organizational climate can produce a positive work environment so that nurses don’t feel a threat at work. Respondents in this study were nurses who worked at the hospital in Lebak as many as 177 respondents who were selected through purposive sampling technique. The measuring instruments used in this research were CLIOR Scale Short Version and Maslach Burnout Inventory. The results of the calculation of the regression analysis technique show that the significance value is 0.283 (p> 0.05). This means that there is no effect from organizational climate to burnout in hospital nurses in Lebak during the COVID-19.Keywords : Organizational Climate, Burnout, Nurse, COVID-19 ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh iklim organisasi terhadap burnout pada perawat rumah sakit di Lebak dalam masa COVID-19. Perawat yang bekerja dalam masa COVID-19 ini menjadi salah satu garda terdepan bagi pemutusan jaringan tertular dan hal tersebut mengakibatkan kelelahan yang cukup tinggi. Kelelahan yang paling utama adalah secara emosional atau lebih dikenal dengan istilah burnout. Salah satu penyebab terjadinya burnout adalah iklim organisasi. Iklim organisasi yang tinggi dapat menghasilkan lingkungan kerja yang positif sehingga perawat tidak merasa adanya ancaman dalam bekerja. Responden dalam penelitian ini merupakan perawat yang bekerja di rumah sakit di Lebak sebanyak 177 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah CLIOR Scale Short Version dan Maslach Burnout Inventory. Hasil perhitungan teknik analisis regresi menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0.283 (p > 0.05). Hal tersebut berarti tidak terdapat pengaruh iklim organisasi terhadap burnout pada perawat rumah sakit di Lebak dalam masa COVID-19.Kata kunci : Iklim Organisasi, Burnout, Perawat, COVID-1
Deradikalisasi Paham Keagamaan Melalui Pendekatan Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga
Maraknya gerakan-gerakan radikalisme dan terorisme yang mengancam keutuhan NKRI telah menjadi perhatian serius pemerintah, duniapendidikan dan juga lembaga-lembaga pemerhati semangat kebangsaan. Berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka menangkal dan menanggulangi gerakan tersebut salah satunya dengan menambah materi anti radikalisme pada kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah. Tulisan ini mengemukakan gagasan untuk menangkal gerakan dan laju radikalisme melalui pendidikan agama Islam yang diberikan oleh orang tua dalam keluarga. Hal ini dipandang akan sangat berpengaruh dikarenakan keluarga merupakan sekolah pertama tempat seorang anak ditempa dan dibentuk sehingga bisa meng-counter informasi dengan konsep dasar yang telah ditanamkan dalam pendidikan yang diperolehnya dalam keluarga. Melalui analisis kualitatif deskriptif, tulisan yang menggunakan metode library research ini dalam risetnya menemukan bahwa perlunya pendidikan agama Islam diajarkan dalam bentuk teori dan praktik dalam keluarga adalah salah satu gerakan deradikalisasi yang mesti mendapat perhatian dan disosialisasikan kepada masyaraka
TRADISI NGEJOT: POSITIVE RELATIONSHIP ANTAR UMAT BERAGAMA
ABSTRACT Tradition ngejot has a very strategic role in an effort to take care of harmony between the Hindus and Islam in Lombok. Religious sentiments and cultural differences can be put together in a tradition that produce a positive relationship in the form of mutual care, tolerance, and uphold humanity as the container of happiness. This study aims to trace the history and basic principles of the tradition ngejot between the Sasak and Balinese in Lombok as an effort to knit the harmony for the happiness for the followers of the religion. In recent years, the tradition of ngejot almost never applied between the two religions. methods research using qualitative-descriptive approach of psychology and sociology. Technique of collecting data done by observation, interview, and documentation. The procedure of data analysis refers to the framework of Milles and Huberman. The results of the research about the traditions ngejot this ie. (1). Tradition ngejot have the value of a long history as a means of harmony among religions and cultures with reference to the basic principles of each religion. (2). Tradition ngejot in addition to fostering a sense of tolernasi and harmony, as well as a means to the happiness of religion.(3) filing it with the value of tradition ngejot caused by the modernization which is characterized by technology such as social media and the lack of understanding of religious and local culture. Keywords: Ngejot Tradition; Positive Relationship; Happiness; Modernization ABSTRAKTradisi ngejot memiliki peran yang sangat strategis sebagai upaya untuk merawat harmoni antara umat Hindu dan Islam di Lombok. Sentimen agama dan perbedaan budaya dapat disatukan dalam sebuah tradisi yang menghasilkan positive relationship berupa sikap saling peduli, toleransi, dan menjunjung tinggi kemanusiaan sebagai wadah kebahagiaan. Penelitian ini bertujuan untuk melacak sejarah dan prinsip dasar dari tradisi ngejot antara masyarakat Suku Sasak dan Bali di Lombok sebagai upaya merajut harmoni untuk kebahagiaan bagi para pemeluk agama. Dalam beberapa tahun belakangan ini, tradisi ngejot hampir tidak pernah diterapkan antara dua pemeluk agama. metode penelitian menggunakan kualitatif-deskriptif dengan pendekatan psikologi dan sosiologi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Prosedur analisis data mengacu pada kerangka Milles dan Huberman. Hasil dari penelitian tentang tradisi ngejot ini yaitu. (1). Tradisi ngejot memiliki nilai sejarah yang panjang sebagai sarana harmoni antar agama dan budaya dengan mengacu pada prinsip-prinsip dasar agama masing-masing. (2). Tradisi ngejot selain memupuk rasa tolernasi dan harmoni, sekaligus sarana untuk kebahagiaan pemeluk agama.(3) mengikisnya nilai tradisi ngejot disebabkan oleh modernisasi yang bercirikan tekhnologi seperti media sosial dan kurangnya pemahaman keagamaan dan budaya lokal. Kata kunci: Tradisi Ngejot; Positive relationship; Kebahagiaan; Modernisas
Penanaman Nilai-Nilai Moral Melalui Metode Movie Learning dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Siswa Kelas IX MTs N 2 Kotamobagu
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa berbagai isu dan permasalahan dalam ruang lingkup pendidikan terutama mengurai tentang fenomena “Degradasi Moral Siswa Kelas IX Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kotamobagu”. Dari segi seriousness, hal tersebut dianggap sangat gawat untuk ditindak lanjuti, guna pembuatan analisa dalam pencegahan degradasi moral siswa sehingga penanaman nilai-nilai moral dalam proses pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. Selain itu, dari sisi growth, hal ini dianggap cukup cepat menyebar dan berpotensi meningkat karena proses dalam pembelajaran di sekolah saling mempengaruhi satu sama lain. Penulis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dalam penelitian dengan skala pengukuran atau rating scale melalui observasi untuk memperoleh dan mengumpulkan data penelitian. Penyebaran angket dilakukan sebagai identifikasi penilaian skala kecenderungan perubahan nilai moral siswa pada tahapan pre-test dan post-test. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data mengukur tingkat kecerdasan moral yang terdiri dari Moral Knowing, Moral Feeling dan Moral Acting siswa dalam pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kotamobagu. Hasil penelitian menunjukan perubahan secara signifikan pada tahapan pre-test dan post-test dengan tingkat kecenderungan nilai moral siswa pada presentase 66,675 % menjadi 80,425% sering berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam proses sosial-pendidikan di MTs N 2 Kotamobagu. Abstract: Building Moral Values Through A Method Of Movie Learning At Aqidah Akhlak Learning Students Grade Ix Mts N 2 Kotamobagu. This research aims to analyze various issues and problems in the scope of education, especially unraveling the phenomenon of "Moral Degradation of Grade IX Students Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kotamobagu". In terms of seriousness, it is considered very difficult to follow up to analyze the prevention of students' moral degradation so that the planting of moral values in the learning process can be carried out correctly. Also, in terms of growth, this is considered to spread quite quickly and potentially increase because learning in schools affects each other. The authors used a qualitative descriptive approach in research with a measurement scale or rating scale through observation to obtain and collect research data. The questionnaire's spread is carried out as identification of the scale assessment of the tendency to change students' moral values at the pre-test and post-test stages. Instruments used in data collection measure the level of moral intelligence consisting of Moral Knowing, Moral Feeling, and Moral Acting students in learning at Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kotamobagu. The results showed a significant change in the pre-test and post-test stages with the level of a trend of students' moral grades at 66.675% to 80.425%, often behaving by moral values in the socio-educational process in MTs N 2 Kotamobagu. Kata Kunci: Moral, Aqidah Akhlak, Learning and Movie LearningPendahulua
HIZBUT TAHRIR INDONESIA DALAM RUANG MEDIA SOSIAL INSTAGRAM
Abstract. Instagram has become one of the most popular social media for young people, its appearance in the form of photos, memes and short videos is a means to convey various kinds of things including da'wah, various young clerics appear in the social media realm delivering their message including those of Transnational Islamic movement Hizb ut-Tahrir. Hizb ut-Tahrir is an organization that carries the Khilafah Islamiyah idea rejecting democracy, and Pancasila.Although Hizb ut-Tahrir was disbanded on July 19, 2017, they continue to spread their understanding online and on the fields. One of the online media used to disseminate their understanding is Instagram, with creative da'wah they are able to have many followers, this is found in the @felixsiauw account, @Ismail_Yusanto, and several general media accounts such as @ Tabiin.ID, @Mediaumat, and @Muslimahmediacenter . Based on this finding, the paper argues that Instagram has become a means of spreading knowledge, so that many young people are interested in what is conveyed. Key Words:Instagram, Hizbut Tahrir, Islam Transnasional Abstrak: Instagram telah menjadi salah satu sosial media yang banyak diminati oleh anak muda, tampilannya berupa foto, meme, dan video pendek menjadi sarana untuk menyampaikan berbagai macam hal termasuk dakwah, berbagai ustadz muda muncul di ranah sosial media menyampaikan pesan dakwahnya termasuk gerakan Islam Transnasional Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir adalah sebuah organisasi yang mengusung negera Khilafah Islamiyah dengan menolak demokrasi, pancasila, dan anti Barat . Meskipun Hizbut Tahrir telah dibubarkan pada tanggal 19 Juli 2017, namun mereka tetap menyebarkan pahamnya melalui online maupun offlinne. Salah satu media online yang digunakan untuk menyebaran pahamnya adalah Instagram, dengan dakwah yang kreatif mereka mampu memiliki banyak follower, hal ini terdapat dalam akun @felixsiauw, @Ismail_Yusanto, serta beberap akun media umum seperti @Tabiin.ID, @Mediaumat, dan @Muslimahmediacenter. Berdasarkan hal tersebut maka paper ini beragumen bahwasannya instagram telah menjadi sarana hizbut tahrir menyebarkan pahamnya, sehingga banyak anak muda yang tertarik dengan apa yang disampaikan. Kata Kunci :Instagram, Hizbut Tahrir, Islam Transnasional
Implementasi Kurikulum 2013 Revisi Sebagai Solusi Alternatif Pendidikan Di Indonesia Dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0
AbstrakDisrupsi teknologi, khususnya teknologi informasi telah mewarnai revolusi industri 4.0 sehingga mendorong perubahan kebutuhan dan perkembangan masyarakat dalam bidang kehidupan, termasuk pendidikan. Hal ini merupakan salah satu pemicu perlunya dilakukan revisi terhadap kurikulum 2013 sebagai antisipasi perkembangan dan kebutuhan abad 21. Kurikulum 2013 Revisi merupakan wujud penyempurnaan kurikulum yang berbasis karakter sekaligus berbasis kompetensi. Dalam implementasinya,kurikulum 2013 Revisi menuntut guru untuk mengembangkan pembelajaran dengan mengintegrasikan empat hal penting, yaitu Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Literasi, Keterampilan Abad ke-21 (4C) dan Higher Order Thingking Skill (HOTS).Kata kunci: Revolusi Industri 4.0; Kurikulum 2013 AbstractDisruption of technology, especially information technology has colored the industrial revolution 4.0 so that it encourages changes in the needs and development of society in the field of life, including education. This is one of the triggers for the revision of the 2013 curriculum in anticipation of 21st century development and needs. 2013 Curriculum Revision is a form of perfecting a character-based and competency-based curriculum. In its implementation, the 2013 Revised curriculum requires teachers to develop learning by integrating four important things, namely Strengthening Character Education (SCE), Literacy, 21st Century Skills (4C) and Higher Order Thingking Skills (HOTS).Keywords: The industrial revolution 4.0; 2013 Curriculu
Pembelajaran Bahasa Arab Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Santri di Pondok Pesantren
AbstrakPenelitian ini berawal dengan adanya kecurigaan peneliti terhadap peran kajian bahasa Arab dalam pembentukan karakter santri di Pondok Pesantren dengan memotret kegiatan berbahasa Arab di Pondok Pesantren terutama pada Pondok Pesantren modern dan Pondok Pesantren konvensional (salafi). Fokus utama analisis adalah penggunaan bahasa Arab serta aktifitas berbahasa Arab baik di dalam maupun diluar kelas.Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pembelajaran bahasa Arab dapat membantu pembentukan karakter santri secara berkesinambungan dengan ditopang oleh kehadiran sistem dan corak pembelajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren. Corak dan sistem tersebut membentuk karakter santri, diantaranya karakter komunikatif, disiplin, relegius dan beretika, toleran dan bertanggungjawab, kemandirian dan percaya diri, serta penghargaan.Kata kunci: Pembelajaran Bahasa Arab, Pembentukan Karakter, Pondok PesantrenAbstractThis study began with the researchers' suspicion of the role of Arabic studies in shaping the character of students in the Islamic Boarding School by photographing Arabic activities in the Boarding School especially in modern Boarding School and conventional Boarding School (Salafi). The main focus of the analysis is the use of Arabic and Arabic language activities both inside and outside the classroom.The results showed that, learning Arabic could help the formation of the character of students in a sustainable manner supported by the presence of Arabic learning systems and patterns in Pondok Penatren. The patterns and systems form the character of the santri, including communicative, disciplined, religious and ethical character, tolerant and responsible, independence and confidence, and appreciation.Keywords: Learning Arabic, Forming Characters, Islamic Boarding School
MULTICULTURALISM AND TRANSDISCIPLINARITY: AN EPISTEMOLOGICAL PROPOSAL FOR IAIN MANADO’S MULTICULTURALISM
Since 2017, IAIN Manado has embraced multiculturalism as a core value for its vision to become an excellent Islamic higher education institution in Southeast Asia in 2035. This policy has however been taken without prior wide scholarly discussions. Consequently, the internalization and translation of this value into IAIN’s processes of education are facing some difficulties. This paper proposes a conceptual framework around multiculturalism and transdisciplinarity for IAIN Manado in its attempt to develop competitiveness. It argues that the notion of multiculturalism is always political so that IAIN Manado may develop its own concepts and practices of multiculturalism. It also argues that in order for IAIN Manado to accomplish the implementation of its multiculturalism as a culturally epistemological vision, it should consider the espousal of transdisciplinarity as an academically epistemological vision. Keywords: Multiculturalism; Transdisciplinarity; Vision; IAIN Manado Sejak 2017, IAIN Manado telah memilih multikulturalisme sebagai nilai utama dari visinya untuk menjadi perguruan tinggi Islam unggul di Asia Tenggara pada tahun 2035. Namun demikian, kebijakan ini telah diambil tanpa didahului diskusi-diskusi luas yang melibatkan para ahli. Akibatnya, internalisasi dan realisasi nilai ini ke dalam proses pendidikan di IAIN Manado mengalami berbagai kesulitan. Artikel ini mengajajukan kerangka konseptual tentang multikulturalisme dan transdisiplinaritas untuk IAIN Manado dalam usahanya mengembangkan daya saing. Artikel ini berargumen bahwa konsep multikulturalisme selalu bersifat politis sehingga IAIN Manado dapat mengembangkan konsep dan praktik multikulturalnya sendiri. Selain itu, untuk menyempurnakan implementasi visi multikuluralnya sebagai sebuah visi epistemologis secara budaya, IAIN Manado sebaiknya mempertimbangkan untuk mengadopsi transdisiplinaritas sebagai sebuah visi epistemologis secara akademik. Kata Kunci: Multikulturalisme; Transdisiplinaritas; Visi; IAIN Manad
ISLAMIC RELIGIOUS EDUCATION, STUDENT ACTIVITY AND INTOLERANCE IN STATE SENIOR HIGH SCHOOLS IN YOGYAKARTA
Abstract Several studies show the presence of intolerance and Islamist attitudes strengthened among teachers and students. However, studies on ‘radicalization’ process among teenagers at school are still limited. We address the issue by analyzing intolerance tendency, examining the religious education at school and revealing the shift of intolerance tendency among students. By conducting mixed methods research in three public schools, this study uncovers seven factors that cause the shift of intolerance tendency: First, stakeholders formulate school vision which endorses religious tolerance in public schools. Second, the school policies that support pluralism and tolerance towards other differences in the school environment. Third, government and school leaders conduct training to provide teachers with knowledge to counter radical teachings. Fourth, teachers integrate local wisdoms in their teaching materials. Fifth, the student activities, particularly Islamic religious activities, which accommodate pluralism and endorse tolerance towards different religions, ethnics and cultures. Sixth, the supervision of books and materials from the internet that contain radical doctrines by parents and teachers. Seventh, involving Islamic mainstream organizations in countering radical ideology and mitigating intolerance in public schools. Regarding Islamist movements at schools, we suggest that religious education, if properly formulated can be used to counter Islamist radicalism at school effectively.Key words: Intolerance, Islamist movements, Radical ideology, Religious, Education AbstrakBeberapa studi menunjukkan adanya intoleransi dan sikap Islamis yang menguat di kalangan guru dan siswa. Akan tetapi penelitian mengenai proses 'radikalisasi' di kalangan remaja di sekolah masih terbatas. Kami menyikapi masalah ini dengan menganalisa kecenderungan intoleransi dan meneliti pelaksanaan pendidikan agama di sekolah. Dengan memakai metode gabungan di tiga sekolah umum, studi ini mengungkap adanya penurunan kecenderungan intoleransi pada tahun 2017 - 2018. Penelitian ini mengungkap enam faktor yang mempengaruhi penurunan intoleransi agama di kalangan siswa. Pertama, para pemangku kepentingan merumuskan visi sekolah yang mendukung toleransi beragama. Kedua, kebijakan sekolah yang mendukung pluralisme dan toleransi terhadap agama lain di sekolah. Ketiga, pemerintah dan pimpinan sekolah mengadakan pelatihan bagi para guru untuk memberikan pengetahuan dalam rangka mengatasi paham radikal. Keempat, guru mengintegrasikan kearifan lokal dalam bahan ajar mereka. Kelima, kegiatan siswa terutama kegiatan Kerohanian Islam, yang mengakomodasi keberagaman dan mendukung toleransi terhadap berbagai agama, etnis, dan budaya. Keenam, pengawasan buku dan bahan dari internet yang mengandung doktrin radikal oleh orang tua dan guru. Ketujuh, melibatkan organisasi mainstream Islam dalam melawan ideologi radikal dan memitigasi intoleransi di sekolah umum. Sedangkan mengenai gerakan Islamis di sekolah, kami berpendapat bahwa pendidikan agama jika diformulasikan dengan benar dapat dipakai untuk melawan radikalisme di sekolah secara efektif.Kata kunci: Intoleransi, Gerakan Islamis, Ideologi radikal, Pendidikan Agam