IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Manado Open Journal Systems
Not a member yet
    878 research outputs found

    KETANGGUHAN GURU KELAS INKLUSI: HUBUNGAN ANTARA SELF-COMPASSION DAN SELF-EFFICACY PADA GURU SEKOLAH DASAR DI MAKASSAR

    Full text link
    ABSTRAKRegulasi pendidikan inklusi di Indonesia bertujuan untuk memberikan akses setara bagi semua anak dalam memperoleh pendidikan. meskipun manfaat pendidikan inklusif diakui efektif, namun implementasinya masih menghadapi tantangan, terutama terkait kesiapan dan kompetensi guru. Dalam konteks ini, self-compassion dan self-efficacy dapat menjadi faktor penting dalam penguatan dan pemberdayaan guru di kelas inklusi, untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dengan self-efficacy guru kelas inklusi pada beberapa Sekolah Dasar yang tersebar di kota Makassar. Penelitian ini melibatkan 59 guru yang mengajar siswa berkebutuhan khusus, terdiri dari 18 guru laki-laki (30,51%) dan 41 guru perempuan (69,49%) dengan lama pengalaman partisipan mengajar di kelas inklusi berkisar antara 2 hingga 18 tahun. Penelitian ini meggunakan uji korelasi dengan teknik analisis Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan nilai korelasi sebesar 0,467 (p<0.05), yang mengindikasikan adanya hubungan positif antara self-compassion dan self-efficacy dimana semakin tinggi self-compassion maka semakin tinggi pula self-efficacy guru. Penelitian memperlihatkan ketangguhan guru dalam menghadapi tantangan di lingkungan pendidikan, terutama dalam dukungannya terhadap siswa berkebutuhan khusus

    DAMPAK PRODUK ARRUM HAJI DI PEGADAIAN SYARIAH KOTA KOTAMOBAGU TERHADAP PEMBIAYAAN ONGKOS NAIK HAJI

    Full text link
    Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa implementasi produk arrum haji Pegadaian Syariah Kotamobagu dan dampak sosial ekonomi masyarakat terhadap produk arrum haji di pegadaian syariah cabang Kotamobagu. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif dengan pendekatan analisis data. Sumber data penelitian ini adalah melalui sumber primer, observasi serta wawancara dengan Pimpinan dan Karyawan Pegadaian Syariah Kotamobagu, nasabah arrum haji dan tokoh agama yaitu Ketua umum MUI Bolaang Mongondow tujuan penelitian ini mengetahui mekanisme implementasi produk arrum haji di pegadaian Syariah Kotamobagu dan bagaimana dampak ekonomi sosial masyarakat ketika menggunakan pegadaian syariah untuk ongkos naik haji. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pertama pelaksanaan implementasi pegadaian syariah Kotamobagu dalam menarik nasabah untuk menggunakan produk arrum haji telah sesuai sebagimana peraturan yang berlaku yaitu tertera pada Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI No 92/DSN-MUI/IV/2014 tentang pembiayaan yang disertai al-rahn (al Tamwil al Mausuq bi al-Rahn). Sosialisasi pegadaian syariah berdampak tingginya minat masyarakat menunaikan ibadah haji karena adanya kemudahan mendapatkan porsi dibandingkan dengan menabung jangka waktu yang lama mendapatkan porsi. Produk Arrum haji pada pegadaian syaraiah secara moril dan bahkan materil sangat berdampak sosial ekonomi masyarakat dibuktikan dengan pola fikiran masyarkat tentang kemampuan menunaikan ibadah haji dengan berhutang melalui arum haji dengan menggadaikan emas tiga koma lima gram pada pegaraian Syariah, maka akan mendapatkan pinjaman uang setoran awal biaya ibadah haji

    ZUHUD DAN MATERIALISME (Kajian Sufistik tentang Fungsi Harta)

    Full text link
    AbstrakTulisan ini mencoba mendiskusikan pilihan dalam hidup yang ditawarkan oleh tasawuf, dengan konsep zuhudnya, dan materalisme. Menurut materialisme, manusia modern harus menjadikan harta (materi) sebagai pilihan utama dalam hidup mereka. Sebab, harta dan materi juga merupakan instrumen penting bagi setiap orang agar hidupnya diliputi oleh kebahagiaan dan kesuksesan. Untuk dapat memperoleh harta (materi) yang berlimpah, materialisme mendorong manusia untuk memajukan ilmu dan teknologi, dan keduanya harus terpisah dari dimensi ketuhanan dan tradisi yang suci. Tasawuf, di sisi lain, menawarkan pilihan kepada manusia modern agar tidak menjadikan harta dan materi sebagai satu-satunya instrumen dalam merasakan kebahagiaan. Dalam Perspektif Zuhud, harta dan materi bukan merupakan instrumen tunggal yang menentukan kebahagiaan seseorang. Fungsi harta dan materi, menurut Zuhud, hanyalah sebagai ‘alat’ atau ‘media’ agar seseorang memiliki fasilitas yang memadai menjadi hamba terbaik Allah SWT.Kata Kunci: tasawuf, harta, zuhud, materialisme AbstractThis paper attempts to discuss the choices in life offered by Sufism, with its concept of zuhud, in comparison to the materialism. According to materialism, modern humans must make wealth (material) the main choice of their lives. This is because wealth and materials are considered important instruments for everyone so that their lives are filled with happiness and success. To be able to acquire abundant wealth, materialism encourages people to advance science and technology, and both must be separated from the divine dimension and sacred traditions, in various fields and aspects of life. Tasawwuf, on the other hand, offers modern man the option of not making wealth the sole instruments of happiness. In the Zuhud Perspective, wealth are not the sole instruments that determine one's happiness. The function of wealth and material, according to Zuhud, is only as a ‘tool’ or ‘medium’ so that a person has facilities that make him capable and easy to become the best servant of Allah SWT.Key Words: tasawuf, wealth, zuhd, materialis

    PERBEDAAN PENGAMBILAN RISIKO WIRAUSAHA DITINJAU DARI JENIS MOTIVASI BERWIRAUSAHA

    No full text
    ABSTRACT Entrepreneurship is an activity that involves risk, so a risk-taking attitude is required for entrepreneurs to develop a business. Previous studies have confirmed that entrepreneurs' risk-taking is affected by individuals' motivation to start businesses. However, most studies focused on two types of motivation - necessity-based or opportunity-based or pulled and pushed - even though individual entrepreneurial motivations vary. This research aims to fill the gap by examining the risk-taking in 100 entrepreneurs regarding six types of motivation (Reluctant entrepreneurs, convenience entrepreneurs, economically driven entrepreneurs, social entrepreneurs, learning and earning entrepreneurs, and prestige and control entrepreneurs). Participants are 100 entrepreneurs in South Sulawesi who are founders, run their businesses every day, and are willing to participate in the research. The effects of examination suggest a distinction in the risk-taking of entrepreneurs based on their motivation. Prestige and control entrepreneurs are the highest risk-takers, while social entrepreneurs are the lowest. Research also suggests that the effect of education on risk-taking is significantly different. However, the difference in risk-taking among male and female entrepreneurs is insignificant. Our research has potential practical benefits to assist policymakers or business advisors in mapping risks according to business development potential based on an entrepreneur's entrepreneurial motivation categories, help women to increase their confidence in taking risks for their businesses, and encourage entrepreneurs to continue to learn and improve their abilities in both formal and informal environments.Keywords: entrepreneur, entrepreneurial motivation, entrepreneurial risk-taking ABSTRAKKewirausahaan merupakan suatu kegiatan yang memiliki risiko, sehingga diperlukan sikap berani mengambil risiko bagi wirausaha dalam mengembangkan usahanya. Penelitian sebelumnya telah mengkonfirmasi bahwa pengambilan risiko wirausaha dipengaruhi oleh motivasi individu untuk memulai bisnis. Namun, sebagian besar penelitian berfokus pada dua jenis motivasi – berdasarkan kebutuhan (necessity-based) atau berdasarkan peluang (opportunity-based) atau pulled and pushed – meskipun motivasi berwirausaha individu berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan mengkaji pengambilan risiko pada 100 wirausaha mengenai enam jenis motivasi, yaitu reluctant entrepreneurs, convenience entrepreneurs, economically driven entrepreneurs, social entrepreneurs, learning and earning entrepreneurs, dan prestige and control entrepreneurs. Responden penelitian adalah 100 wirausaha di Sulawesi Selatan yang merupakan pendiri, menjalankan usahanya setiap hari dan bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Dampak dari pemeriksaan ini menunjukkan adanya perbedaan dalam pengambilan risiko yang dilakukan wirausaha berdasarkan motivasi mereka. Prestige and control entrepreneurs merupakan pengambil risiko tertinggi, sedangkan social entrepreneurs merupakan pengambil risiko paling rendah. Penelitian juga menunjukkan bahwa pengaruh pendidikan terhadap pengambilan risiko berbeda secara signifikan. Namun, perbedaan pengambilan risiko antara wirausaha laki-laki dan perempuan tidak signifikan. Penelitian ini mempunyai potensi manfaat praktis untuk membantu pengambil kebijakan atau penasihat bisnis dalam memetakan risiko sesuai potensi pengembangan usaha berdasarkan kategori motivasi wirausaha seorang wirausaha, membantu perempuan untuk meningkatkan rasa percaya diri dalam mengambil risiko bagi usahanya, dan mendorong wirausaha untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuannya baik di lingkungan formal maupun informal.Kata Kunci: motivasi berwirausaha, pengambilan risiko, wirausah

    Development of Arabic Educational Animation for Tourism in Arabic Education Study Program at IAIN Manado

    Full text link
    The study aims to develop animated educational media for Arabic for Tourism and to determine its impact on lecture activities in the Arabic Education Study Program. The development of animated education media is necessary to enhance the learning experience and the effectiveness of learning outcomes in the classroom, particularly in the Arabic for Tourism class, which focuses on understanding basic procedures for serving Arabic-speaking tourists and communication processes. It is hoped that the use of video-based media will also increase its utilization as it can be accessed on various devices, anytime and anywhere.The methodology of this study uses a Research and Development (R&D) basis with the ADDIE approach, which includes analysis, design, development, implementation, and evaluation. The study's test variables consist of two test variables: motivation and interest in learning, with a total of 35 respondents.The study results indicate that the Arabic educational animation media for tourism, when reviewed by experts, shows that the content and design are rated very good, with an average score of 80-81%, thus meeting expert criteria. Furthermore, during the evaluation, it shows a fairly good effectiveness regarding the variables of motivation and interest in learning. The learning motivation variable has an average effectiveness of 68.6%, and the interest in learning variable has an average effectiveness of 68.9%, thus being considered quite good in the evaluation results of the Arabic language learning animation media for tourism.Keywords: educational media, Arabic language, touris

    LIBRARY MANAGERS’ STRATEGY IN INCREASING STUDENTS' READING INTEREST AT MIN 1 MANADO

    Full text link
    Artikel ini bertujuan untuk menganalisis strategi pustakawan dalam meningkatkan minat baca siswa di MIN 1 Manado dan mengungkap faktor penghambatnya. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dalam menganalisis data. Data primer diperoleh dari responden penelitian yaitu pustakawan, dan guru, sedangkan buku, artikel jurnal, dan dokumen digunakan sebagai data sekunder. Data penelitian dikumpulkan dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, serta dianalisis dengan teknik analisis induktif. Penelitian ini menemukan bahwa dalam meningkatkan minat baca siswa, pengelola perpustakaan membentuk kelompok belajar yang menjadwalkan kunjungan ke perpustakaan dan membuat tempat baca (pojok baca) di setiap kelas. Selain itu, kegiatan membaca dilakukan dengan mengadakan storytelling, berkunjung ke perpustakaan untuk membaca selama 1 jam, memberikan technical reading, serta memberikan penghargaan kepada siswa yang rajin berkunjung dan meminjam buku di perpustakaan. Kegiatan dan program membaca yang telah disebutkan sebelumnya menarik minat siswa untuk aktif membaca. Selain itu, pengelola perpustakaan bekerjasama dengan wali kelas dan guru mata pelajaran, serta alumni (1 alumni, 1 buku cerita) dalam meningkatkan minat baca siswa. Terakhir, ditemukan faktor penghambat peningkatan minat baca siswa adalah keterbatasan jumlah koleksi buku, minimnya jumlah pengelola perpustakaan, dan kecilnya ruang perpustakaan. Oleh karena itu, diperlukan peran pemerintah terutama dalam hal penambahan koleksi buku, perekrutan tenaga perpustakaan, dan perluasan ruangan perpustakaan.

    Religious Materialism in Sachet Packaging Al-Qur'an Sales on The @Quranfi_ Account on Tiktok

    Full text link
    Abstract: This study aims to examine the phenomenon of using the Qur'an in the form of sachet packaging which is often utilized for independent ruqyah, as part of the study of the Living Qur'an. This phenomenon reflects the adaptation and integration of sacred texts in the lives of modern people in order to obtain blessings, protection, or healing. This research uses a qualitative approach, involving social research steps to obtain descriptive data in the form of words and pictures. Data sources consist of primary data obtained from the comments of followers of the @Quranfi_ TikTok account and secondary data from related scientific works. Three questions that will be discussed First, how is the application of ruqyah in the use of sachet packaged Qur'anic verses. Second, how is the meaning of the word shifa as a medicine in the Qur'an. Third, how Tiktok social media users respond to the sale of Qur'anic verses on the @Quranfi_ account. As a result, TikTok as a popular social media, provides profitable business opportunities. The @Quranfi_ account utilizes TikTok to market the Qur'an in sachet form which has caused various reactions from netizens. Indonesian-speaking netizens generally see this sale as a form of commercialization of religion, causing debate. In contrast, English-speaking netizens gave positive reviews, pointing out the satisfaction and benefits of the product. This difference in response may be influenced by cultural differences.Keywords: Living Qur'an, Ruqyah, TiktokAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena penggunaan al-Qur'an dalam bentuk kemasan sachet yang sering dimanfaatkan untuk ruqyah mandiri, sebagai bagian dari kajian Living Qur'an. Fenomena ini mencerminkan adaptasi dan integrasi teks suci dalam kehidupan masyarakat modern guna memperoleh berkah, perlindungan, atau penyembuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, melibatkan langkah-langkah penelitian sosial untuk memperoleh data deskriptif berupa kata-kata dan gambar. Sumber data terdiri dari data primer yang diperoleh dari komentar pengikut akun TikTok @Quranfi_ dan data sekunder dari karya ilmiah terkait. Tiga pertanyaaan yang akan menjadi pembahasan Pertama, bagaimana penerapan ruqyah dalam penggunaan ayat al-Qur’an kemasan sachet. Kedua, bagaimana pemaknaan kata syifa sebagai obat dalam al-Qur’an. Ketiga, bagaimana respon Pengguna media sosial Tiktok terhadap penjualan Ayat-ayat al-Qur'an di akun @Quranfi_. Hasilnya, TikTok sebagai media sosial yang populer, memberikan peluang bisnis yang menguntungkan. Akun @Quranfi_ memanfaatkan TikTok untuk memasarkan al-Qur’an dalam bentuk sachet yang menimbulkan berbagai reaksi dari netizen. Netizen berbahasa Indonesia umumnya melihat penjualan ini sebagai bentuk komersialisasi agama, menimbulkan perdebatan. Sebaliknya, netizen berbahasa Inggris memberikan ulasan positif, menunjukkan kepuasan dan manfaat dari produk tersebut. Perbedaan respon ini mungkin dipengaruhi oleh perbedaan budaya.Kata Kunci: Living Quran, Ruqyah, Tikto

    Symbolic Values of the "Almari Meteng" Tradition in Family Education: A Case Study in East Java, Indonesia

    Full text link
    This study examines the contextualization of the interpretative symbolic meaning of the "Almari Meteng" tradition in marriage as family education in Mancon Village, Wilangan District, Nganjuk Regency, East Java. Using qualitative field research methods, including interviews and documentation, the study explores the symbolic values embedded in this tradition and their relevance to family education. The findings reveal that the Almari Meteng tradition, involving the groom bringing household items to the bride's family, carries rich symbolic meanings related to family resilience, gratitude, social values, and strengthening relationships. The tradition reflects important family education values such as harmony, respect, mutual cooperation, spirituality, health awareness, and children's education. The study employs theoretical frameworks including symbolic interactionism, ritual theory, and Bourdieu's concept of habitus to analyze the tradition's social and cultural implications. While facing challenges from modernization and urbanization, the Almari Meteng tradition demonstrates adaptability and continues to play a significant role in preserving cultural identity and instilling important values in family life. This research contributes to understanding the dynamics of local cultural practices in the context of social change and their potential for sustainable cultural preservation

    THE PATTERNS OF ISLAMIC EDUCATION DURING THE TIME OF THE PROPHET MUHAMMAD

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pendidikan Islam pada masa Nabi Muhammad SAW. Kajian ini menjadi penting karena pendidikan Islam mempunyai arti penting bagi umat Islam dalam meneladani proses pendidikan Islam sejak zaman Nabi, yang bermanfaat untuk memahami pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, sehingga mampu menjawab persoalan-persoalan kontemporer dalam pendidikan Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data mengenai sejarah pendidikan Islam pada masa Nabi Muhammad diperoleh melalui pembacaan dan kajian mendalam terhadap berbagai literatur. Penelitian ini menemukan pendidikan Islam di masa Rasulullah telah berlangsung di Mekah dan Madinah. Di Mekah, Nabi menjadikan lembaga pendidikan, yakni rumah, Dar al-Arqam dan Kuttab sebagai sarana yang efektif dan efisien. Materi pendidikan Islam berisi pendidikan akhlak dan budi pekerti, dan pendidikan jasmani (kesehatan), seperti menunggang kuda, memanah, dan menjaga kebersihan. Sementara pola pendidikan yang diterapkan Nabi di Madinah berorientasi pada pemantapan nilai-nilai persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Nabi mendirikan masjid dan Suffah sebagai sarana yang efektif. Muatan pendidikannya menekankan pada penanaman tauhid, pendidikan keluarga, pendidikan masyarakat, dan budi pekerti. Semua ini efektif karena motivasi dari dalam masyarakat Madinah dan karisma serta metode yang digunakan Nabi dalam menangani kepentingan masyarakat secara adil dan demokratis. Temuan ini menunjukkan pola pendidikan Islam yang diterapkan Nabi Muhammad SAW. di Mekah dan Madina. Kesimpulannya, pendidikan Islam dalam sejarahnya telah berkontribusi besar terhadap peradaban manusia terutama umat Muslim di dunia. This research aims to analyze the patterns of Islamic education during the time of the Prophet Muhammad. This study is important as Islamic education holds significance for Muslims in emulating the process of Islamic education since the time of the Prophet, which is beneficial for understanding the growth and development of Islamic education, thus addressing contemporary issues in Islamic education. The research methodology employed is qualitative with a descriptive approach. Data regarding the history of Islamic education during the time of the Prophet Muhammad was obtained through extensive reading and study of various literature sources. The study finds that Islamic education during the Prophet occurred in Mecca and Medina. In Mecca, the Prophet established educational institutions, such as homes, Dar al-Arqam and Kuttab as effective and efficient means. The curriculum of Islamic education included moral and character education, as well as physical education (health), such as horse riding, archery, and hygiene. Meanwhile, the educational pattern implemented by the Prophet in Medina focused on strengthening the values of brotherhood between the Muhajirin and the Ansar. The Prophet established mosques and Suffah as effective means. The educational content emphasized the cultivation of monotheism, family education, community education, and manners. All of these were effective due to the motivation from within the Medina community and the charisma and methods employed by the Prophet in fairly and democratically addressing the community's interests. These findings illustrate the pattern of Islamic education implemented by the Prophet Muhammad  in Mecca and Medina. In conclusion, throughout history, Islamic education has significantly contributed to human civilization, particularly for the Muslim community worldwid

    HUKUM MEMAKAI CADAR MENURUT IMAM MAZHAB

    Full text link
    Bercadar merupakan isu yang relevan dalam Islam, dan pandangan tentang praktik ini bervariasi di antara empat mazhab utama dalam Islam, yaitu Mazhab Syafi'i, Mazhab Hanbali, Mazhab Maliki, dan Mazhab Hanafi. Pandangan mazhab-mazhab ini memiliki pengaruh besar dalam menentukan praktik bercadar wanita Muslim di berbagai komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memahami pandangan empat mazhab utama Islam, Mazhab Syafi'i, Mazhab Hanbali, Mazhab Maliki, dan Mazhab Hanafi, tentang hukum bercadar bagi wanita Muslim. Tujuan khususnya adalah untuk membandingkan dan kontrastkan pandangan mereka, serta mengidentifikasi faktor-faktor budaya dan sejarah yang memengaruhi pandangan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Data diperoleh dari berbagai sumber teks hukum Islam, seperti Al-Quran dan hadis-hadis Nabi Muhammad, serta literatur yang memaparkan pandangan empat mazhab tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hanbali menganggap bercadar sebagai kewajiban (fard) bagi wanita Muslim, dengan dasar interpretasi teks-teks hukum Islam yang mengikat. Sementara itu, Mazhab Maliki dan Mazhab Hanafi memandang bercadar sebagai sunnah (perbuatan yang dianjurkan), memberikan fleksibilitas lebih besar dalam praktik bercadar. Faktor-faktor budaya dan sejarah di wilayah masing-masing mazhab juga mempengaruhi pandangan mereka tentang bercadar

    549

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Manado Open Journal Systems
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇