e-Journal IAIN Bukittinggi (Institut Agama Islam Negeri)
Not a member yet
    784 research outputs found

    An Analysis of Students’ Need of English Subject at Elementary School

    Get PDF
    Abstrak Analisis kebutuhan merupakan landasan khusus untuk mencari informasi tentang kebutuhan dasar peserta didik sesuai dengan prioritas pembelajaran bahasa tertentu untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam pembelajaran bahasa. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian deskriptif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kebutuhan mata pelajaran bahasa Inggris di Sekolah Dasar (SD) di Kota Payakumbuh. Partisipan dalam penelitian ini adalah para guru yang mempunyai latar belakang pendidikan bahasa Inggris dan orang tua siswa di SD tersebut. Dalam pengumpulan data kuantitatif, peneliti menggunakan angket dan wawancara. Setelah menganalisis data, peneliti menemukan 94,76% guru dan 94,09% orang tua berpendapat bahwa sesuai dengan target kebutuhan bahwa mata pelajaran Bahasa inggris diperlukan untuk diajarkan di SD. Kemudian, 63,28% orang tua dan 92,32% guru berpendapat bahwa berdasarkan kebutuhan belajar mata pelajaran Bahasa Inggris diperlukan untuk diajarkan di SD. Oleh karena itu, mata pelajaran Bahasa Inggris di SD perlu diajarkan untuk menunjang siswa di Sekolah Menengah Pertama nantinya.Keyword: Analisis Kebutuhan, Mata Pelajaran Bahasa Inggris, Sekolah Dasar.AbstractNeed analysis is a specific ground for finding information about learners’ basic needs in accordance with the priority of learning a particular language to develop students’ knowledge and skills in language learning. In this research, the researcher used descriptive research. The purpose of this research to analyze the needs of English subjects at Elementary School of Kota Payakumbuh. Participants in this research were the teachers with English education background and parents from the Elementary School students. In gathering the quantitative data, the researcher used questionnaire and interview. After analyzing the data, the researcher found 94,76% of the teachers and 94,09% of the parents think target need is needed to be taught English subject at Elementary School. Then, 63,28% of the parents and 92,32% of the teachers think learning need is needed to teach English at Elementary School. As result, it is necessary to be taught English Subject at Elementary School to support students in Junior High School later.Keyword: Need Analysis, English Subject, Elementary Schoo

    Students’ Perception on Reward and Punishment Given by English Teachers

    Get PDF
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa tentang pemberian hadiah dan hukuman yang diberikan oleh guru bahasa inggris di MTs.TI. Candung. Penelitian ini terjadi karena peneliti menemukan beberapa masalah. Beberapa siswa tidak memperhatikan penjelasan guru, beberapa siswa tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru dan beberapa siswa suka tidur dan berbicara dengan yang lain selama proses pembelajaran. Desain dari penelitian ini merupakan descriptive kuantitatif. Jumlah populasi sebanyak 134 siswa dan sampel 55 siswa yang dipilih menggunakan purposive sampling technique. Instrument yang digunakan oleh peneliti yaitu angket. Data dikumpulkan dari angket untuk mengetahui persepsi siswa tentang pemberian hadiah dan hukuman yang diberikan oleh guru bahasa inggris di MTs.TI.Candung. teknik analisis data dalam penelitian ini adalah (1) pengumpulan angket siswa, (2) menghitung persentase data, (3) mencari rata-rata, (4) mengkategorikan persepsi berdasarkan table penafsiran. Ada lima pilihan dalam menjawab angket, yaitu kategori sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju. Hasil menunjukan bahwa persentase skor persepsi siswa tentang pemberian hadiah sebesar 86,51%. Artinya, siswa memiliki persepsi dalam kategori sangat baik. Selain itu, persentase skor persepsi siswa tentang pemberian hukuman sebesar 68,6%, artinya siswa memiliki persepsi dalam kategori baik untuk aspek ini. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi siswa terhadap pemberian hadiah yang diberikan oleh guru bahasa Inggris adalah sangat baik dan persepsi terhadap pemberian hukuman yang diberikan oleh guru bahasa Inggris dikategorikan baik.Kata kunci: persepsi siswa, hadiah dan hukumanAbstractThis research is aimed to find out the students’ perception on reward and punishment given by English teachers at MTs.TI.Candung. This research was conducted because the researcher found several problems. Some students have lack attention of teacher explanation, some of students did not do the tasks given by teacher, some of students tended to converse during learning process.  Descriptive quantitative was the method of the research. The population was 134 students and the sample was 55 students and purposive sampling was used as the research sample. The instrument of this research is questionnaire. The data was collected from questionnaire to find out the students’ perception on reward and punishment given by English teachers at MTs.TI.Candung. The technique of data analysis in this research is (1) collecting the students’ questionnaire, (2) calculating the percentage of the data, (3) the finding mean of the data, (4) categorizing the perception based on table interpretation. There are five options in answering the questionnaire. Those are strongly agree, agree, moderate, disagree, strongly disagree. The result showed that the percentage of score students’ perception on reward given by English teachers aspect is 86,51%. It means that students had perception in very good category. Besides, the percentage score of students’ perception on punishment given by English teachers is 68,6%. The findings of this study indicate that the students' perception of the gift given by the English teacher is very good and the perception of the punishment given by the English teacher is categorized as good.Keywords: students’ perception, reward and punishmen

    Nationalism and Islam in Religious Learning: Optimization of Insan Kamil Character Building

    No full text
    This study aims to explain that religious learning held in public schools is able to instill the values of nationalism and Islam, thus forming the character of students of insan kamil. This theory refutes the opinion which states that religious education creates civic conflict and cannot be a complement to civic education. This research complements several previous studies by adding research on Rohis (spiritual learning program) as part of religious learning in public schools. The research method used is a mix-method research with qualitative analysis and a sociological approach. The conclusion of this study is that religious learning, both in terms of material and methodology, is able to instill the value of religious-nationalism. The internalization of the values of nationalism-religion is applied in PAI (Islamic) learning in the classroom which is guided by teachers, and religious learning in Rohis which is guided by mentorsPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bahwa pembelajaran agama yang diselenggarakan di sekolah umum mampu menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan Islam, sehingga membentuk karakter peserta didik yang insan kamil. Teori ini membantah pendapat yang menyatakan bahwa pendidikan agama berpotensi melahirkan konflik kewarganegaraan dan tidak mampu menjadi komplemen pendidikan kewarganegaraan. Penelitian ini melengkapi beberapa penelitian terdahulu dengan menambahkan penelitian pada pembelajaran Rohis sebagai bagian dari pembelajaran agama di sekolah umum. Metode penelitian yang digunakan adalah mix-method research dengan analisis kualitatif dan pendekatan sosiologi pendidikan. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa pembelajaran agama, baik dari segi materi dan metodologinya mampu menanamkan nilai nasionalisme-religius. Internalisasi nilai nasionalisme-religius ini diterapkan dalam pembelajaran PAI di kelas yang dibimbing oleh guru dan pembelajaran agama di Rohis yang dibimbing oleh para mento

    The Practice of Multicultural Education at Majelis Taklim in Sitiung Dharmasraya, West Sumatra

    No full text
    This article aims to describe the existence of the majelis taklim (Islamic forum) and how this majelis taklim strengthen its role in providing multicultural education for multicultural communities in Sitiung Dharmasraya, West Sumatra. In contrast to several studies which show that the majelis taklim is an agent of spreading intolerant narratives in society, this article tries to present the face of the majelis taklim that is friendly to diversity by strengthening multicultural education. This study uses a participatory action research method. Data were obtained through interviews, focus group discussion, observations, documentation, and actions or improvements through workshops in the July-November 2018 period at majelis taklim in Sitiung Dharmasraya, West Sumatra. The findings of this study indicate that the majelis taklim in Sitiung are attended by people who come from various elements and backgrounds and different mindsets, but the attitude of togetherness is maintained and synergized. In addition, the existing majelis taklim are used as a forum for increasing awareness of community members who are starting to feel the impact of modernization and globalization, and are starting to plunder solidarity and tolerance. The strengthening of multicultural education carried out through participatory action research in this study shows that the taklim assembly can function as a center for peace values, a center for change agents to become better Muslims, a community development center, communication and information center, a cadre center and a social control agent. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksistensi majelis taklim dan memperkuat perannya dalam menghadirkan pendidikan multikultural bagi masyarakat multikultural di Sitiung Dharmasraya, Sumatera Barat. Berbeda dengan beberapa studi yang menunjukkan bahwa majelis taklim menjadi agen penyebar narasi intoleran di masyarakat, artikel ini berusaha menghadirkan wajah majelis taklim yang ramah keragaman dengan usaha memperkuat pendidikan multikultural. Studi ini menggunakan metode participatory action research. Data diperoleh melalui wawancara, focus group discussion, observasi, dokumentasi, serta aksi atau penguatan melalui workshop pada periode Juli-November tahun 2018 di majelis taklim yang ada di Sitiung Dharmasraya, Sumatera Barat. Temuan studi ini menunjukkan bahwa majelis taklim-majelis taklim yang ada di Kecamatan Sitiung diikuti oleh masyarakat yang datang dari berbagai unsur dan latar belakang serta pola pikir yang berbeda, namun sikap kebersamaan tetap terjaga dan bersinergi. Selain itu, kelompok majelis taklim yang ada dijadikan sebagai wadah untuk peningkatan kesadaran anggota masyarakat yang mulai merasakan dampak modernisasi dan globalisasi, serta mulai menjarah solidaritas dan toleransi. Penguatan pendidikan multikultural yang yang dilakukan melalui participatory action research dalam studi ini, menunjukkan bahwa majelis taklim dapat berfungsi sebagai pusat nilai perdamaian, pusat agen perubahan untuk menjadi umat Islam yang lebih baik, pusat pengembangan masyarakat, pusat komunikasi dan informasi, pusat kader dan agen kontrol sosial

    Injustice Continuity: Gender Inequality in Japan in the 21st Century

    No full text
    The issue of gender equality is still a problem attached to the Japanese economic, social, political, and cultural system. The movement for Japanese liberation efforts and strived since the middle of the twentieth century is still stagnating. This problem remains inseparable from how stakeholders maintain a conservative thought. Women in the domestic sphere and women are the person who does not have the capacities as men are still the basis for reason. This paper will review how gender inequality is still a severe issue that needs to be fought for in the twenty-first century.Isu kesetaraan gender masih berupa permasalahan yang erat melekat dalam sistem ekonomi, sosial, politik dan budaya Jepang. Pergerakan upaya liberasi Jepang yang telah diperjuangkan sejak pertengahan abad ke dua puluh sampai saat ini masih mengalami stagnansi. Keberlanjutan isu ini tidak terlepas dari bagaimana sebuah konstruksi berpikir konservatif tetap dipertahankan oleh pemangku kepentingan. Perempuan dengan ranah domestik dan perempuan tidak memiliki kapasitas yang mumpuni daripada laki-laki masih menjadi dasar berpikir dalam permasalahan ini. Tulisan ini akan mengulas bagaimana isu ketimpangan gender masih merupakan isu serius yang perlu diperjuangkan di abad ke dua puluh satu

    The Islamic Formalism Movement in Malay Land: Experiences of the Muslim Community in Kerinci, Jambi

    No full text
    This article aims to analyze the development of Islamic religious movements in the Malay traditional land of Kerinci Jambi, particularly related to the tendency of religious formalism in Islamic communities. The pattern of education, local customs and traditions, as well as religious ideology contributed to the emergence of a Muslim community that only paid attention to the formal side of religion or known as formalist Islam. This study uses an anthropological approach through interviews, observations, and documentation of Muslim communities in Kerinci Jambi. This paper finds that formalist Islam tends to be difficult to develop in Malay society exclusively from indigenous groups, and more easily accepted for inclusive societies from immigrant groups or mixing with outsiders and academics. This exclusive Malay community seeks to maintain the Islamic ideology that has been institutionalized in the structure of society that does not contradict between custom and religion since the first, namely Islam with the nuances of Sufism, based on the Shafi'i Madhhab in fiqh, and al-Ghazali Madhhab in theology. Meanwhile, inclusive societies tend to be open to accepting various Islamic identities and most of them do not hold strong traditional values. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan gerakan keagamaan Islam di tanah adat Melayu Kerinci Jambi, khususnya terkait kecenderungan formalisme keberagamaan komunitas-komunitas Islam. Pola pendidikan, adat dan tradisi lokal, serta ideologi keagamaan memberi kontribusi bagi kemunculan komunitas Muslim yang hanya memperhatikan sisi formal agama saja atau dikenal dengan Islam formalis. Studi ini menggunakan pendekatan antropologis melalui wawancara, observasi dan dokumentasi terhadap komunitas-komunitas Muslim yang terdapat di Kerinci Jambi. Tulisan ini menemukan bahwa Islam formalis cenderung sulit berkembang dalam masyarakat Melayu eksklusif dari golongan masyarakat pribumi, dan lebih mudah diterima bagi masyarakat inklusif dari golongan pendatang atau percampuran dengan masyarakat luar dan para akademisi. Masyarakat Melayu eksklusif ini berupaya mempertahankan ideologi Islam yang telah melembaga dalam struktur masyarakat yang tidak mempertentangkan antara adat dan agama semenjak dahulu yakni Islam dengan nuansa tasawuf, bermazhab Syafi’i dalam fikih, dan bermazhab al-Ghazali dalam teologi. Sedangkan masyarakat inklusif cenderung terbuka menerima beragam identitas Islam dan mereka sebagian besar tidak memegang nilai adat secara kuat.

    Determinants of Financing Disbursed by Islamic Rural Banks (BPRS) in Indonesia

    Get PDF
    This study aims to determine the factors influencing the total financing disbursed (PYD) in Islamic Rural Banks in Indonesia in the 2015-2019 period. The data in this study were collected from the documentation on the Financial Services Authority (OJK) official website from a quarter I 2015 to quarter IV 2019. The data were analyzed using the multiple regression method with SPSS software. The results showed that Third Party Funds (Dana Pihak Ketiga) positively and significantly affected the total disbursed financing (p-value 0.000). Non-Performing Financing (NPF) has a positive and significant effect on total financing (p-value 0.004). Return on Assets (ROA) has a positive and significant effect on total financing (p-value 0.035). Simultaneously, the three variables also positively affect the total financing disbursed by Islamic Rural Banks in Indonesia (p-value 0.000) with an Adjusted R Square value of 0.968 or 96.8%. The findings of this study contribute to the development of empirical studies related to the determinants of financing in microfinance institutions such as Islamic Rural Banks and can be used as a reference for financing management in Islamic Rural Banks.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi total pembiayaan yang disalurkan (PYD) pada BPRS di Indonesia dalam periode 2015-2019. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dari dokumentasi website resmi Otoritas Jasa Keuangan dari triwulan I 2015 - triwulan IV 2019. Data dianalisis dengan menggunakan metode regresi berganda dengan software SPSS 16.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) berpengaruh positif dan signifikan terhadap total pembiayaan disalurkan (p-value 0,000). Non Performing Financing (NPF) berpengaruh positif dan signifikan terhadap total pembiayaan (p-value 0,004). Return on Asset (ROA) berpengaruh positif dan signifikan terhadap total pembiayaan (p-value 0,035). Secara simultan ketiga variabel juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap total pembiayaan yang diberikan BPRS di Indonesia (p-value 0,000) dengan nilai Adjusted R Square sebesar 0,968 atau 96,8%. Temuan penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan studi-studi empiris terkait determinan pembiayaan pada lembaga keuangan mikro seperti BPRS dan dapat digunakan untuk acuan pengelolaan pembiayaan di BPRS.

    Examining the Contribution of Transformational Leadership Style and Affective Commitment to Organizational Citizenship Behavior (OCB)

    Get PDF
    This study aims to determine the effect of the transformational leadership style on affective commitment, transformational leadership style on organizational citizenship behavior, affective commitment on organizational citizenship behavior, and transformational leadership style on organizational citizenship behavior mediated by employee’s affective commitment in the Bank Muamalat Indonesia (BMI) Padang Branch. This research was conducted at Bank Muamalat Indonesia Padang Branch. The questionnaires were distributed to collect data and analyzed using Regression analysis. The result of the analysis showed that a significant influence of transformational leadership style on employee’s affective commitment, transformational leadership style on employee’s organizational citizenship behavior, affective commitment on organizational citizenship behavior, and transformational leadership style on organizational citizenship behavior mediated by employee’s affective commitment in the BMI Padang Branch. Research findings contribute to the development of human resources to improve the performance of company employees.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap komitmen afektif, gaya kepemimpinan transformasional terhadap perilaku kewargaan organisasional, komitmen afektif terhadap perilaku kewargaan organisasional, dan gaya kepemimpinan transformasional terhadap perilaku kewargaan organisasional yang dimediasi oleh komitmen afektif pada karyawan Bank Muamalat Indonesia Cabang Padang. Penelitian ini dilakukan di Bank Muamalat Indonesia Cabang Padang, dengan sampel dalam penelitian ini berjumlah 60 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu analisa deskriptif dan uji analisis regresi. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan gaya kepemimpinan transformasional  terhadap komitmen afektif, gaya kepemimpinan transformasional terhadap perilaku kewargaan organisasional,  komitmen afektif terhadap perilaku kewargaan organisasional, dan gaya kepemimpinan transformasional terhadap perilaku kewargaan organisasional yang dimediasi oleh komitmen afektif pada karyawan bank muamalat indonesia cabang padang. Temuan penelitian berkontribusi pada pengembangan sumber daya manusia sehingga dapat meningkatkan kinerja karyawan perusahaan.

    Quality of Hadith Shalih in the Book of Sunan Abiy Dâwud Disputed by Nasr al-Dîn al-Albâniy and Shu'aib al-Arnauth

    No full text
    This study intends to examine the quality of hadîth shalih in the book Sunan Abiy Dâwud which was disputed by Nâshir al-Dîn al-Albâniy and Syu'aib al-Arnauth, namely by using library research (library research), which is to collect accurate and relevant data. This is then processed with a descriptive qualitative analytical approach through inductive and comparative thinking methods. In addition, it also uses the hadîth research step to determine the quality of hadîth both from the side of the sanad and its eyes. Based on the analysis, it can be concluded that the hadiths termed shahih Abû Dâwud, which are also debated by  al-Albaniy and  al-Arnauth in assessing their quality, when tested with authentic criteria do not necessarily mean maqbûl or authentic quality. and hasan, but some have the status of dha'if. Thus hadîth shalih can contain two possibilities, namely lil i'tibâr (to be studied) or li al-ihtijâj (used as evidence). Penelitian ini bermaksud mengkaji kualitas hadîth shalih dalam kitab Sunan Abiy Dâwud yang diperselisihkan oleh Nâshir al-Dîn al-Albâniy dan Syu’aib al-Arnauth, yaitu dengan menggunakan library research (penelitian kepustakaan) yaitu mengumpulkan data-data yang akurat dan relevan dengan pembahasan ini kemudian diolah dengan metode pendekatan deskriptif analitis kualitatif melalui metode berfikir induktif dan komparatif. Di samping itu penulis juga menggunakan langkah penelitian hadis untuk mengetahui kualitas hadis baik dari sisi sanad maupun matan-nya. Berdasarkan analisa dapat disimpulkan bahwa hadis  yang diistilahkan shâlih Abû Dâwud, yang juga diperdebatkan  al-Albâniy dan al-Arnauth  dalam menilai kualitasnya, ketika diuji dengan kriteria ke-shahih-an tidak serta merta berarti maqbûl atau berkualitas shahih dan hasan,  akan tetapi ada yang berstatus dha’if. Dengan demikian hadîth shalih dapat mengandung dua kemungkinan yaitu lil i’tibâr  (untuk dikaji) atau  li al-ihtijâj (dijadikan hujjah)

    Model and Construction of Islamic Education Curriculum : In Thamavitya Mulniti School Muang Yala Thailand

    No full text
    Historically Patani was an independent kingdom. However, it is now part of the Kingdom of Thailand. This creates dilemmas and various conflicts, including in regard to Islamic education. In this study the author will examine the model and curriculum construction of Islamic Education in the Thamavitya Mulniti School Muang Yala, Southern Thailand. This is a qualitative research using interview, observation and documentation techniques in extracting data. This study shows that, genealogically, the Thamaviya Mulniti School departs from the Islamic Boarding School (Pesantren), which is then complementary to the formal education system. The education model in Thamavitya Mulniti School uses traditional and modern education models. In formal education, the school applies a system of religious classes and academic classes which are carried out separately. Curriculum construction in the school is the application of a dualistic curriculum, namely religious and academic at the discretion of the Thai Government. The religious curriculum includes subjects of Islamic Religious Education, as well as Malay language and culture. Academic curriculum includes general subjects (science). This curriculum model has implications for the level of progressivity of Islamic education, especially if it is associated with historical and geopolitical conditions. The Patani Muslim community with regard to Islamic education experiences a dilemma, between hegemony, global demands in maintaining culture as a national identity.Menurut sejarahnya dahulu Patani merupakan kerajaan yang berdiri sendiri dan mandiri yang sekarang telah masuk ke dalam kekuasaan Kerajaan Thailand. Akibatnya timbul dilema dan konflik di berbagai bidang, termasuk dalam bidang pendidikan Islam. Pada penelitian ini penulis akan mengkaji tentang model dan konstruksi kurikulum Pendidikan Islam di Thamavitya Mulniti School Muang Yala Thailand Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi dalam penggalian datanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara genealogis Thamavitya Mulniti School merupakan sekolah yang berangkat dari pendidikan pesantren yang kini mengkomplementerkan dengan sistem pendidikan formal. Model pendidikan di Thamavitya Mulniti School Muang Yala Thailand menggunakan model pendidikan tradisional (pesantren) dan pendidikan modern (formal). Pada pelaksanaan pendidikan formal menerapkan sistem kelas yang terpisah antara kelas agama dan kelas akademik. Konstruksi kurikulum di sekolah menerapkan kurikulum dualistik yaitu agama dan akademik (sains). Kurikulum agama meliputi mata pelajaran rumpun Pendidikan Agama Islam termasuk Bahasa, dan Budaya Melayu. Kurikulum akademik meliputi mata pelajaran pengetahuan umum. Dengan adanya kebijakan penggunaan kurikulum tersebut berimplikasi terhadap progresivitas pengembangan pendidikan Islam. Terutama jika dikaitkan dengan kondisi historis dan geopolitik  menyebabkan masyarakat Muslim Patani mengalami dilema, antara hegemoni, tuntutan global dan dalam mempertahankan budaya sebagai identitas bangsa

    293

    full texts

    784

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal IAIN Bukittinggi (Institut Agama Islam Negeri)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇