BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
Not a member yet
122 research outputs found
Sort by
Tradisi Pendidikan Iman Anak dalam Perjanjian Lama
Abstract: Using a qualitative-descriptive approach, this article shows that in ancient Israel society there was a certain educational mechanism where a child had the opportunity to learn the Scriptures (faith education). Educating children from childhood in the context of ancient Israel society is a task entrusted by God to parents and the community. Children have the right to education from their parents. Children's faith education must be done by parents. However, the community is responsible for helping families to nurture their children. The tradition of ancient Israel can be a lesson for the current context that the family is the main place in the inheritance of the faith. Abstrak: Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dan menunjukkan bahwa dalam masyarakat Israel kuno telah terdapat mekanisme pendidikan tertentu dimana seorang anak mendapatkan kesempatan untuk mempelajari Kitab Suci (pendidikan iman). Mendidik anak sejak kecil dalam konteks masyarakat Israel kuno merupakan tugas yang dipercayakan Allah kepada orangtua dan komunitas. Anak-anak berhak mendapatkan pendidikan dari orangtua mereka. Pendidikan iman anak harus dilakukan oleh orangtua. Akan tetapi komunitas bertanggung jawab membantu keluarga dalam membina anak-anak mereka. Tradisi Israel kuno tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi konteks saat ini bahwa keluarga merupakan tempat utama dalam pewarisan iman
Prinsip Teologi Kristen Pendidikan Orang tua terhadap Anak di Era Revolusi Industri 4.0
This article discusses the role of parents in educating children in the industrial revolution era 4.0 based on Christian principles. The author analyzes several library sources both books and journals related to the topic of discussion. From the results of the analysis of several literature sources, children's education is God's mandate given to parents. Parents have a role to educate them to become mature Christians. Spiritual maturity is the provision for children to face challenges in the era of the industrial revolution. Parents also play a role in educating about love and fairness. Love and fair moral values need to be instilled so that children can compete in a healthy manner in the era of the industrial revolution. The next role is to provide guidance to be able to live in groups. The development of digital media causes behavior changes that become increasingly individualistic, therefore children need to be educated to live in groups because humans cannot escape social life. Education in the era of the industrial revolution was done by example. Children need a model that is a role model for living in the digital age.Abstrak: Artikel ini memembasan tentang peran orang tua mendidik anak di era revolusi industri 4.0 berdasarkan prinsip Kristen. Penulis melakukan analisis beberapa sumber pustaka baik buku maupun jurnal yang terkait dengan topik bahasan. Dari hasil analisis beberapa sumber pustaka, pendidikan anak merupakan mandat Allah yang diberikan pada orang tua. Orang tua memiliki peran untuk mendidik mereka untuk menjadi orang Kristen dewasa. Kedewasaan rohani adalah bekal untuk anak-anak menghadapi tantangan di era revolusi industri. Orang tua juga berperan utnuk mendidik tentang kasih dan adil. Nilai moral kasih dan adil perlu ditanamkan agar anak-anak dapat bersaing secara sehat di era revolusi industri. Peran selanjutnya adalah memberikan bimbingan untuk dapat hidup dalam kelompok. Berkembangnya media digital menyebabkan perubahan perilaku yang menjadi semakin individualistis, oleh sebab itu anak-anak perlu dididik hidup dalam kelompok sebab manusia tidak dapat lepas dari kehidupan sosial. Pendidikan di era revolusi industri dilakukan melalui teladan. Anak-anak membutuhkan model yang menjadi teladan untuk hidup di era digital
Kontribusi Hermeneutis 1 Raja-Raja 21 terhadap Konflik Agraria di Indonesia
Agrarian conflict is a very classic discussion in Indonesia. It affects humanity and environmental issues. As many discriminations happens toward marginalized society, it’s needed to be a concern. The author will dialogue this issue with text 1 Kings 21. This event is almost the same with the text 1 Kings 21, about the seizure of land between King Ahab and Naboth. To investigate and review the meaning of 1 Kings 21, the author uses critical history method. In conclusion, greed is the cause, so there was a land seizure between King Ahab and Nabot which resulted in the killing of Nabot as a weaker person. However, God declared justice for His people, and declared judgment on King Ahab. The event like this also often occurred in Indonesian society, due to economic interests and the legitimacy of national development. However, it is unfortunate that the prophetic voice from the church could not be heard. AbstrakKonflik agraria merupakan persoalan yang sangat klasik di Indonesia. Konflik tersebut berdampak pada kemanusiaan, bahkan pada masalah lingkungan. Dengan banyaknya terjadi diskriminasi terhadap orang-orang marginal (tak berdaya) tentunya ini perlu menjadi perhatian. Penulis akan mencoba melihat impikasi dari teks 1 raja-raja 21 terhadap konteks saat ini. Peristiwa diskriminasi tersebut tentunya hampir sama terjadi dalam teks 1 Raja-raja 2, tentang perebutan tanah antara raja Ahab dan Nabot. Dalam menyelidiki dan mengkaji makna dari 1 Raja-raja 21, penulis mengunakan metode penafsiran kritik sejarah (historis). Kesimpulannya, keserakahan yang menjadi penyebab, sehingga terjadi perebutan tanah antara Raja Ahab dan Nabot yang mengakibatkan terbunuhnya Nabot sebagai yang lemah. Namun, Tuhan tetap menyatakan keadilannya bagi umat-Nya, dan menyatakan penghakiman kepada raja Ahab. Peristiwa tersebut juga sering terjadi dalam masyarakat Indonesia, dikarenakan kepentingan ekonomi dan legitimasi pembangunan nasional. Namun, sangat disayangkan gaungan suara kenabian dari gereja tak begitu terdengar
Presuposisi dan Metode Yesus dalam Menyampaikan Pendapat: Sebuah Pedoman bagi Para Akademisi
Freedom of speech is the human rights of every human being. This freedom must be implemented responsibly with based on the right of thinking, good intentions and goals, and attention to the rules of thinking. This article examines how Jesus underlies and builds His paradigm and the method that He used to tell His arguments to others. By using a descriptive analysis method and hermeneutic approach to the narratives in the Gospels, it can be concluded that Jesus told his argument by using a logical and comprehensive paradigm and method so that it could be used as a guideline for the academics. Abstrak: Kebebasan berpendapat merupakan hak asasi setiap manusia. Kebebasan ini harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan berlandaskan pemikiran yang sehat, maksud dan tujuan yang baik, serta memperhatikan aturan-aturan penalaran. Artikel ini meneliti bagaimana Yesus mendasari dan membangun paradigma berpikir-Nya serta cara yang digunakan-Nya untuk menyampaikan pendapat kepada orang lain. Menggunakan metode analisis deskriptif serta pendekatan yang hermenutis pada narasi-narasi di kitab-kitab Injil, dapat ditarik kesimpulan bahwa Yesus menyampaikan pendapat dengan menggunakan paradigma dan metode yang logis dan komprehensif, sehingga dapat dijadikan sebagai suatu contoh bagi para akademisi
Pendidikan Perdamaian Dengan 12 Nilai Dasar Perdamaian
Conflict is a problem that is being faced in Indonesia. A peaceful way is needed to bring peace to a multicultural nation. From the analysis of various biblical literature and texts there are several peace values, including education for peace must guide students to accept themselves, peace education provides guidance to avoid bad prejudice, needs to be built understanding and attitudes that respect ethnic diversity, religious differences, different types sex, social status such as poor wealth, and group differences, in an effort to build a path for peace, students need to understand diversity, understand conflict, build an attitude of resisting violence, willingness to start admitting mistakes, and willingness to forgive.Abstrak: Konflik merupakan masalah yang sedang dihadapi di Indonesia. Perlu dilakukan cara damai untuk menghadirkan perdamaian di bangsa yang multi-kultural. Dari analisis berbagai literatur dan teks Alkitab ada beberapa nilai-nilai per-damaian, antara lain pendidikan untuk perdamaian harus membimbing murid menerima dirinya sendiri, pendidikan perdamaian memberikan bimbingan untuk mengindari prasangka buruk, perlu dibangun pengertian dan sikap yang meng-hargai keragaman etnis, perbedaan agama, perbedaan jenis kelamin, status sosial seperti kaya miskin, dan perbedaan kelompok, dalam upaya membangun jalan menunju perdamaian maka murid perlu memahami adanya keragaman, memahami konflik, membangun sikap menolak kekerasan, adanya kerelaan untuk memulai mengakui kesalahan, dan kerelaan untuk memberi maaf
Raputallang sebagai Konsep Konseling Kontekstual di Masyarakat Toraja
The Toraja people understand Raputallang as an expression of personifi-cation (symbolic) in which it expresses the meaning of family relations that are built based on flesh-blood relations (genealogy). The purpose of this research is to explain the concept of Raputallang as a counseling media for the people of Toraja. This research is motivated by the lack of impact and the limited reach of the counseling process carried out by the church to the Toraja people who are facing problems. Therefore, it is necessary to develop counseling media that can reach and provide a more effective impact to help the people of Toraja to improve the value of life which had declined due to the problems they faced. This study, using the theory of Community Counseling, was developed by Judith A. Lewis and colleagues. This paper use a qualitative research with a descriptive approach. The source of this research information are to minaa '(traditional leaders) and cultural observers in Toraja. This research shows that Raputallang becomes or is used as a medium for community counseling through a cultural awareness approach. Abstrak: Masyarakat Toraja memahami Raputallang sebagai ungkapan personifi-kasi (simbolik) yang di dalamnya mengungkapkan makna relasi kekeluargaan yang terbangun berdasarkan hubungan darah daging (genealogi). Tujuan penelitian ini untuk mengkaji Raputallang sebagai media konseling masyarakat Toraja. Penelitian ini dilatar belakangi oleh kurangnya dampak dan terbatasnya jangkauan dari proses konseling yang dilakukan oleh gereja kepada masyarakat Toraja yang sedang menghadapi permasalahan. Oleh sebab itu, perlu dikembangan media kon-seling yang bisa menjangkau dan memberikan dampak yang lebih efektif untuk membantu masyarakat Toraja meningkatkan nilai hidup yang sempat menurun akibat permasalahan yang dihadapinya. Penelitian ini, menggunakan teori Kon-seling Masyarakat yang di Kembangkan oleh Judith A. Lewis dan rekan-rekan. Penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sumber informasi penelitian ini ialah to minaa’ (tokoh adat) dan pemerhati budaya yang ada di Toraja. Penelitian ini menunjukkan bahwa Raputallang menjadi atau dijadikan sebagai media kon-seling masyarakat melalui pendekatan kesadaran budaya
Meretas Kecakapan Komunikasi Interpersonal Keluarga Kristen Memasuki Era 4.0
This article is a study to show that in these days, we all are living in the time that named industry revolution 4.0, which’s all communication tool are connected and communicate each other to make smart decisions without human role. As we see now that our world is borderless. The communication is rapidly informed, and we could feel, hear, see clearly that such as sophisticated so as every event in “the edge of this earth†could be known to us almost in the same time while it happened. The result of this research has found that this revolution has totally changed our interpersonal communication way. This study also suggests that in delivery of their mission, christian and the church leader ought to recreate and transform their duty to serve. The most basicly community of the churc is family, thats why this research is put a special notice to the interpersonal communication. This is the strategic point to form christian generation to have their own identity and assist them in faith grow as the child of God. AbstrakTulisan ini merupakan studi yang hendak menyajikan bahwa kita semua sudah berada dalam budaya kehidupan yang disebut Era 4.0, di mana semua alat komunikasi sudah terjaring satu sama lain dan ternyata telah sanggup mencipta sendiri keputusan cerdas dan seringkali tanpa peran atau bantuan manusia lagi. Sekarang yang disaksikan adalah dunia yang tanpa batas. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa era sekarang telah mengubah cara kita berkomunikasi secara interpersonal. Tulisan ini juga hendak menggagas bahwa dalam rangka melayankan misinya, kekristenan dan para pemimpin gereja seharusnya mencipta ulang dan atau mentransformasi tugas pelayanan mereka. Dalam hal ini, komunitas basis dari gereja adalah keluarga, itu sebabnya penelitian ini memberi tekanan khusus pada komunikasi interpersonal; karena ini adalah pintu masuk yang strategis untuk membentuk generasi kristen agara mereka memliki identitas diri dan mendampingi mereka dalam bertumbuh secara iman sebagai anak Tuhan. Pada masa kini, kita semua sudah berada dalam budaya kehidupan yang disebut Era 4.0, yang mana komputer yang sudah terjaring satu sama lain ternyata telah sanggup mencipta sendiri keputusan cerdas dan seringkali tanpa peran atau bantuan manusia lagi. Perkembangan dalam abad ketiga sekarang ini telah diwarnai dengan digitalisasi segala sektor dan dicirikan dengan ketidakpastian. Sekarang yang disaksikan adalah dunia yang tanpa batas. Komunikasi tercipta makin cepat, dan setiap orang dapat merasa, mendengar dan melihat dengan jelas bahwa segala bentuk temuan teknologi yang canggih di setiap ujung dunia manapun, kini dapat kita ketahui langsung dan bersamaan ketika peristiwa itu terjadi. Secara menyeluruh, era ini telah mengubah cara kita berkomunikasi secara interpersonal. Dalam rangka melayankan misinya, maka kekristenan dan para pemimpin gereja seharusnya mencipta ulang dan atau mentransformasi tugas pelayanan mereka. Dalam hal ini, komunitas basis dari gereja adalah keluarga, itu sebabnya penelitian ini memberi tekanan khusus pada komunikasi interpersonal; karena ini adalah pintu masuk yang strategis untuk membentuk generasi kristen agara mereka memliki identitas diri dan mendampingi mereka dalam bertumbuh secara iman sebagai anak Tuhan
Pandangan Dunia Evolusioner dan Respon Iman Kristen
Abstract: The evolutionary worldview confirms its position since the discovery of various ancient human sites, and continues to develop with various genetic engineerings and protein discoveries as well as advances in the field of artificial intelligence (AI) technology. Initially the religious community was the party who felt most attacked by the theory of evolution because it stripped the Bible of the truth about the creation of the world and humans. Later some Catholic Church appreciative statements about the theory of evolution and the big bang theory, including Pierre Teilhard de Chardin's attempt to explain the evolution of human consciousness towards the cosmic Christ, showed a change in religion towards acceptance of the diversity of world views: religion, culture and science. This evolutionary world development raises ethical questions about what is religion’s contribution. One of them is the awareness about shadow. The awareness is derived from religion which teaches that men are created by God that even though unique, but mortal and finite creations. Shadow is liberation so that men are not shackled to matter. He is a fragile human who longs to evolve to be a Christ as the perfect human image.Abstraksi:Pandangan dunia evolusioner meneguhkan kedudukannya sejak penemuan berbagai situs manusia purba, dan terus berkembang dengan berbagai penemuan rekayasa genetik dan protein dan kemajuan di bidang teknologi artificial intelligence (AI). Semula kalangan agama menjadi pihak yang merasa paling diserang dengan teori evolusi karena melucuti kebenaran Alkitab tentang penciptaan dunia dan manusia. Belakangan beberapa pernyataan apresiatif Gereja Katolik terhadap teori evolusi dan teori big bang, termasuk usaha Pierre Teilhard de Chardin menjelaskan tentang evolusi kesadaran manusia menuju Kristus kosmis, memperlihatkan perubahan agama menuju penerimaan akan keragaman pandangan dunia: agama, budaya dan ilmu pengetahuan. Perkembangan dunia evolusioner ini memperhadapkan berbagai pertanyaan etis tentang apa sumbangan agama. Salah satunya adalah kesadaran tentang bayangan. Kesadaran akan bayangan diperoleh dari agama yang mengajarkan bahwa manusia yang diciptakan Tuhan, sekalipun unik, adalah ciptaan yang fana dan terbatas. Bayangan adalah pembebasan agar manusia tidak tertambat pada materi. Ia adalah manusia yang rapuh yang merindukan berevolusi menuju Kristus sebagai gambaran manusia yang sempurna
Instrumen Evaluasi Non-Tes dalam Penilaian Hasil Belajar Ranah Afektif dan Psikomotorik
Abstact: The Non-test Evaluation Instrument That Is Ignored in the Assessment of Affective and Psychomotor domains. This study aims to see the description of Christian Religious Education teachers in using non-test evaluation instruments in evaluating the learning outcomes of the affective and psychomotor domains of students. The method used in this research is survey method and literature study. Where it is explained that to measure and assess the learning outcomes of the affective and psychomotor domains, the right type of instrument to use is the non-test. The findings of this study explain that Christian Education teachers in SMP Negeri 5 and SMP Negeri 20 Kota Kupang are still low in using non-test evaluation instruments. The indicator is that teachers have difficulty using non-test evaluation instruments, and do not have time to prepare non-test evaluation instruments in evaluating the affective and psychomotor domains of students.Abstrak: Instrumen Evaluasi Non-tes yang Terabaikan Dalam Penilaian Ranah Afektif dan Psikomotorik. Penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat gambaran guru-guru Pendidikan Agama Kristen dalam menggunakan instrumen evaluasi non-tes dalam penilaian hasil belajar ranah afektif dan psikomotorik peserta didik.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dan studi pustaka.Dimana dijelaskan bahwa untuk mengukur dan menilai hasil belajar ranah afektif dan psikomotorik, jenis instrumen yang tepat digunakan adalah non-tes. Temuan hasil penelitian ini menerangkan bahwa guru-guru Pendidikan Agama Kristen di SMP Negeri 5 dan SMP Negeri 20 Kota Kupang masih rendah dalam menggunakan instrumen evaluasi non-tes. Indikatornya adalah guru-guru meng-alami kesulitan menggunakan instrumen evaluasi non-tes, serta tidak memiliki waktu untuk mempersiapkan instrumen evaluasi non-tes dalam penilaian ranah afektif dan psikomotorik peserta didik
Dampak Injil Bagi Transformasi Spiritual Dan Sosial
Abstract: The presence of the Gospel in the midst of human life is very interesting subject to study. Humans with all the complexity of their needs turn out to need something that can provide absolute answers. Abraham H. Marslow showed that in addition to material needs, humans also have social and spiritual needs. Through the gospel the needs are answered. Even the gospel can have a very significant impact on everyone who accepts it. The purpose of this research is to explain the impact of the gospel on spiritual and social transformation. The method used in this research is the literature study methode. The conclusion of this research is that the gospel was able to transform the humans' spiritual and social lives.Abstraksi: Kehadiran Injil ditengah-tengah kehidupan manusia sangatlah menarik untuk ditelaah. Manusia dengan segala kompleksitas kebutuhannya ternyata membutuhkan sesuatu yang dapat memberikan jawaban secara utuh. Abraham H.Maslow menunjukkan bahwa selain kebutuhan yang bersifat materi, manusia juga memiliki kebutuhan yang bersifat sosial dan spiritual. Melalui Injil yang diberitakan kebutuhan-kebutuhan tersebut terjawab. Bahkan injil mampu memberikan dampak yang sangat signifikan bagi setiap orang yang mau menerimanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan dampak Injil bagi transformasi spiritual dan sosial Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi literatur. Kesimpulan dari penelitian ini adalah  bahwa injil mampu untuk mentransformasi kehidupan spiritual dan sosial manusia