BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
Not a member yet
122 research outputs found
Sort by
Memaknai Penyelamatan Zipora atas Rencana Tuhan Membunuh Musa
In the Bible it is often found a difficult part to understand, especially in this paper about the plan of the Lord who wanted to kill Moses. Even if you look deeper, Moses is a person sent by the LORD to free the nation of Israel from occupation in Egypt. This section needs to be examined more deeply, so that it can be searched for what is the basis of this action of the Lord, and at the same time what theological meanings are contained in this section, which are also relevant to present life. Through word study research efforts, it can be found that the plan of the Lord to kill Moses was not a playful plan, but it was a truly serious plan. But all these plans could be failed because Zipporah, the wife of Moses, succeeded in making atonement with the LORD through the foreskin of Moses 'son who was affixed to Moses' pubic. This indicates that the Lord's plan occurred because Moses was negligent in keeping his holiness, which is to circumcise his child. Holiness is the most important thing in carrying out all forms of service and call of God. If this holiness was ignored, then it could be that the Lord's plan to send someone turned into the anger of the LORD against the one sent.Abstrak: Dalam Alkitab seringkali dijumpai bagian yang sulit untuk dipahami. Terkait dengan tulisan ini, bagian yang sangat sulit itu adalah tentang rencana TUHAN yang hendak membunuh Musa. Padahal kalau dilihat lebih dalam lagi, Musa adalah orang yang diutus oleh TUHAN untuk membebaskan bangsa Israel dari kerja paksa di Mesir. Bagian ini perlu untuk diteliti lebih dalam lagi, agar dapat dicari apa yang menjadi dasar dari tindakan TUHAN ini, dan sekaligus ditarik makna teologi apa yang terkandung dalam bagian ini, yang juga relevan bagi kehidupan sekarang. Melalui studi kata, maka dapat dijumpai bahwa rencana TUHAN membunuh Musa bukanlah rencana yang main-main, tetapi merupakan rencana yang memang sungguh-sungguh. Namun semua rencana itu dapat digagal-kan karena ada Zipora, istri Musa, yang berhasil mengadakan upaya ‘pendamaian’ dengan TUHAN melalui kulit khatan anak Musa yang ditempelkan ke ‘kemaluan’ Musa. Ini menandakan bahwa rencana TUHAN itu terjadi karena Musa telah lalai dalam menjaga kekudusan dirinya, yaitu menyunatkan anaknya. Kekudusan meru-pakan hal terpenting dalam menjalankan segala bentuk pelayanan dan panggilan TUHAN. Apabila kekudusan ini diabaikan, maka bisa saja rencana TUHAN mengutus seseorang berubah menjadi kemarahan TUHAN terhadap yang diutus.Â
Memahami dan Menerapkan Prinsip Kepemimpinan Orang Muda Menurut 1 Timotius 4:12 bagi Mahasiswa Teologi
Leadership is mostly required in church management. There are many leadership characteristics in the Bible that can be used as leadership patterns in the church. This article is a literature study with a qualitative approach to the text of 1 Timothy 4:12 concerning the leadership of a young person, which aims to encourage students to understand and apply the pattern of leadership referred to in the text of 1 Timothy 4:12. The method used is descriptive analysis in the text of 1 Timothy 4:12, to provide a clear picture and understanding of the principles of the leadership of young people. In addition, descriptive methods are also used to determine students' understanding of the principles of leadership according to the text, as well as the level of application in life and service. In conclusion, students understand the principle of leadership in 1 Timothy 4:12, which is about giving an example, but not all students are ready and able to do it.AbstrakKepemimpinan merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam manajemen gereja. Ada banyak karakteristik kepemimpinan dalam Alkitab yang dapat dijadikan pola kepemimpinan dalam gereja. Artikel ini merupakan kajian literatur dengan pendekatan kualitatif terhadap teks 1 Timotius 4:12 tentang kepemimpinan seorang muda, yang bertujuan untuk mendorong mahasiswa memahami dan menerapkan pola kepemimpianan yang disebut dalam teks 1 Timotius 4:12 tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif analasis pada teks 1 Timotius 4:12, untuk memberikan gambaran dan pemahaman yang jelas tentang prinsip kepemimpinan orang muda. Selain itu, metode deskriptif juga digunakan untuk mengetahui pemahaman mahasiswa tentang prinsip kepemimpinan menurut teks tersebut, serta tingkat penerapannya dalam kehidupan dan pelayanannya. Kesimpulannya, mahasiswa memahami prinsip kepemimpinan dalam 1 Timotius 4:12, yaitu tentang memberikan teladan, namun tidak semua mahasiswa siap dan mampu melakukannya
Mewartakan Injil - Menahan Roti: Sebuah Catatan Kritis atas Model Pelayanan Yudas
Poverty is often used as an excuse for fighting for justice and solidarity. Poverty becomes a magnet for anyone to raise it as an issue of partiality. Even poverty can be used as a means of struggle to criticize the leaders of the nation and the church. Jude, one of Jesus disciples show this in Jesus anointing narrative in Bethany. Jude fought for justice while at the same time showing his solidarity when criticizing Mary for anointing Jesus by using expensive aromatic oil. At the symbol level, Judas shows a concrete emphaty attitude. He showed partiality and dared to rebuke others so that they were not wasteful while poverty was so rampant. Even though Jude’s attitude was counter-productive with narratives about him. But the story becomes an inspiration and source of learning about the interpretation of poverty and also a warning sign for church leaders so that in their works, the must “proclaim the Gospel – share bread†and not “proclaim the Gospel – hold the bread.â€Abstrak: Kemiskinan sering dijadikan alasan dalam memperjuangkan keadilan dan solidaritas. Kemiskinan menjadi magnet bagi siapa saja untuk mengangkatnya sebagai isu keberpihakan. Bahkan kemiskinan dapat dijadikan sebagai alat perjuangan untuk mengkritisi para pemimpin bangsa maupun pemimpin gereja. Yudas, salah satu murid Yesus telah menunjukkan hal tersebut dalam narasi pengurapan Yesus di Betania. Yudas memperjuangkan keadilan sekaligus menunjukkan sikap solidaritasnya saat mengkritik Maria yang mengurapi Yesus dengan menggunakan minyak narwastu yang mahal. Dalam tataran simbol, Yudas menunjukkan sikap empati yang konkrit. Ia menunjukkan keberpihakan dan berani menegor orang lain agar tidak berlaku boros sementara kemiskinan begitu merajalela. Walau sikap Yudas kemudian kontra produktif dengan kelanjutan narasi-narasi tentang dirinya. Tetapi kisahnya kemudian menjadi inspirasi dan sumber pembelajaran tentang penafsiran atas kemiskinan dan juga tanda awas bagi para pemimpin Gereja agar dalam karya-karyanya, harus “mewartakan Injil – membagi roti†dan bukan “Mewartakan Injil – Menahan Roti.â€Â Â
Refleksi Konsep Proto Logos Lukas dalam Membangun dan Meningkatkan Kegiatan Publikasi Ilmiah di Lingkungan Sekolah Tinggi Teologi
The activity of scientific publication is an academic reflection in the field of higher education. This activity has been increasing significantly in the last two years, especially with the regulations of the ministry of research and higher education which regulated publishing research issues in the online journals. Theological College as a higher education under the Ministry of Religion is not immune to the effects of regulations concerning scientific journals. This article aimed to show a biblical reflection on building and improving scientific publications. By using a descriptive analysis method on the text of Luke 1:1-4, the conclusion obtained is that the writing process of the Gospel of Luke reflected the phases of scientific publication, so that it could become a theological reflection for theological colleges to carry out academic activities in building and improving publication activities through online journals.Abstrak: Kegiatan publikasi ilmiah merupakan sebuah refleksi aktivitas akademis di lingkungan sekolah-sekolah pendidikan tinggi. Kegiatan ini telah mengalami eskalasi yang siginifikan dalam dua tahun belakangan, terlebih lagi dengan munculnya peraturan kementrian riset dan pendidikan tinggi yang mengatur publikasi penelitian dalam bentuk jurnal online. Sekolah Tinggi Teologi sebagai pendidikan tinggi yang berada di bawah Kementrian Agama tidak luput dari imbas peraturan yang menyangkut jurnal ilmiah. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan sebuah refleksi biblikal untuk membangun serta meningkatkan publikasi ilmiah. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif pada teks Lukas 1:1-4, maka diperoleh kesimpulan bahwa proses penulisan Injil Lukas merefleksikan fase-fase publikasi ilmiah, sehingga hal ini menjadi sebuah refleksi teologis bagi Sekolah-sekolah Teologi untuk melakukan kegiatan akademis membangun dan meningkatkan kegiatan publikasi ilmiah melalui jurnal online
Kompetensi Pedagogik Menurut Analisis Ulangan 6:7-9 dengan Pendekatan Hermeneutik Schleiermacher
A Primary educator is that parents have an obligation to educate their children to know God. God through Moses ordered the parents of the Israelites to love God with all their heart and not only be limited to that but then also taught their children about God. The method delivered by Moses, which must be done by parents is to teach repeatedly, talk at all times, tie it to the hands and forehead and write on the door and the gate. From these four methods it can be concluded that Moses commanded the Israelites to love God by the method of teaching repeatedly, talking at all times, binding to their hands and forehead and writing on the door of the house and gate, then every Israelite looked at God in sacredness and studied God in the context of life with, so that the teachings of God are one with the child and are realized in every life.Abstrak: Pendidik yang utama adalah para orang tua yang memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anak mereka untuk mengenal Allah. Allah melalui Musa memerintahkan agar para orang tua di Israel untuk mengasihi Allah dengan segenap hati dan tidak hanya terbatas pada hal tersebut, melainkan juga mengajarkan anak-anak mereka tentang Allah. Metode yang diajarkan oleh Musa agar para orang tua mengajarkan hal tersebut kepada anak-anak secara berulang-ulang, membicarakannya dalam segala waktu, mengikatnya di tangan dan dahi mereka serta menuliskannya pada pintu rumah dan pintu gerbang. Dari empat metode ini dapat disimpulkan bahwa Musa memberikan perintah orang-orang Israel untuk mengasihi Allah dengan cara mengajarkannya secara berulang-ulang, membicarakannya di segala waktu, mengikatnya pada tangan dan dahi, serta menulikannya pada pintu dan gerbang, maka setiap anak-anak Israel akan memandang Allah dengan kekudusan dan belajar tentang Allah melalui kehidupan, sehingga pengajaran tentang Allah dinyatakan dalam setiap kehidupan
Menerapkan Prinsip Pelayanan Konseling Berdasarkan Injil Yohanes
Counseling is a form of ministry that plays an important role in everyone's life, because everyone is always faced with various problems and in general people often have difficulty dealing with and resolving their problems. Therefore, a competent counselor is needed to provide careful consideration so that it can determine the right decision. The qualification of a counselor greatly influences effective counseling services. The example of a competent counselor can be learned from Jesus Christ because Jesus' loyalty as a counselor causes everyone to always seek and seek advice from Him. The principle of counseling services carried out by Jesus based on the Gospel of John uses very interesting counseling approaches according to the context of the counselee where every problem faced by the counselee can be resolved properly. The main thing that is always made by Jesus in counseling services is solving the problem of sin and sharpening the correct recognition of God because it is the foundation for the counselee in achieving life change. Life change is the main goal in every effective counseling service that is in accordance with Bible principles. Abstrak: Konseling merupakan bentuk pelayanan yang memegang peranan penting dalam kehidupan setiap orang, sebab setiap orang  selalu diperhadapkan dengan berbagai masalah dan pada umumnya orang sering mengalami kesulitan menghadapi dan menyelesaikan masalalnya. Oleh sebab itu, dibutuhkan seorang konselor yang kompeten untuk memberikan pertimbangan yang matang sehingga dapat menentukan keputusan yang benar. Kualifikasi seorang konselor sangat mempengaruhi pelayanan konseling yang efektif. Teladan seorang konselor yang kompeten dapat dipelajari dari diri Yesus Kristus sebab loyalitas Yesus sebagai konselor menyebabkan setiap orang selalu mencari dan meminta nasihat kepada-Nya. Prinsip pelayanan konseling yang dilakukan oleh Yesus berdasarkan Injil Yohanes menggunakan pendekatan-pendekatan konseling yang sangat menarik sesuai konteks si konseli dimana setiap masalah yang dihadapi konseli pasti dapat diselesaikan-Nya dengan baik. Hal utama yang selalu dibuat Yesus dalam pelayanan konseling adalah penyelesaian masalah dosa dan mempertajam pengenalan yang benar kepada Allah karena hal tersebut merupakan fondasi bagi konseli dalam mencapai perubahan hidup. Perubahan hidup adalah sasaran utama dalam setiap pelayanan konseling yang efektif yang sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab
Memahami Peran Psikologi Pendidikan Bagi Pembelajaran
Educational psychology as a science that examines the problems of the soul and psychological activity of a person in relation to education as an interaction is a discipline that is quite important in examining the problems that interfere with or support the psyche of students in the learning process, so that through understanding the mental state of students then the teacher can set and try to find a solution to the problem, so for this matter, it is fitting for a teacher to need to have comprehensive knowledge about the psychology of education so that learning can take place effectively and directed. AbstrakPsikologi pendidikan sebagai ilmu yang meneliti masalah jiwa dan aktivitas psikologis seseorang dalam kaitannya dengan pendidikan sebagai interaksi adalah disiplin yang cukup penting dalam memeriksa masalah yang mengganggu atau mendukung jiwa siswa dalam proses pembelajaran, Sehingga dengan memahami keadaan mental siswa maka guru dapat mengatur dan berusaha mencari solusi atas masalah tersebut, sehingga untuk hal ini, sepatutnya seorang guru perlu memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang psikologi pendidikan sehingga pembelajaran dapat berlangsung efektif dan terarah
Iluminasi, Eksegesis, dan Doa
This article is intended to discuss the doctrine of illumination in light of some current debates among scholars. In addition to the critical evaluation of the debate, I would like to contribute to this discussion by providing my own exegetical observation on various biblical texts. I will conclude this article with a brief review of the relationship between illumination and prayer. AbstrakArtikel ini dimaksudkan untuk membahas doktrin iluminasi terutama tentang beberapa perdebatan saat ini di antara para sarjana. Selain evaluasi kritis terhadap debat, saya ingin berkontribusi pada diskusi ini dengan memberikan pengamatan eksegetikal saya sendiri pada berbagai teks alkitabiah. Saya akan menyimpulkan artikel ini dengan tinjauan singkat tentang hubungan antara iluminasi dan do
Tradisi Massuru' dan Pertobatan Dalam Injil Sinoptik
This paper juxtaposes two models of wrong forgiveness and sin. Massuru 'in Toraja culture and repentance in the gospel. This research study is explanatory in order to explain the concept of masu suru and repentance from the theological roots that shape it. The materials used are sourced from the literature but in dialogue with the observations or experiences that the author has encountered in the field, both when observing the way the Toraja interpret their traditions and interpret liturgical confessions in the congregation. The results of this study found that massuru and repentance had a more or less the same basic pattern, which was initiated by false recognition or sin, forgiveness and finally peace. Another similarity is improving behavior, reestablishing relations with God and fellow creatures. But there are differences in terms of initiative, targets in the visible and inner aspects, atonement victims. Massuru 'can be used as a model for confession in congregations and repentant pastoral models, but it needs to adjust its meaning to the values of the contain of Christian teachings. AbstrakTulisan ini menyandingkan dua model pengampunan salah dan dosa. Massuru’ dalam kebudayan Toraja dan pertobatan dalam Injil. Kajian penelitian ini bersifat eksplanasi untuk menjelaskan konsep massuru’ dan pertobatan dari akar tradisi-teologis yang membentuknya. Bahan-bahan yang digunakan bersumber dari kepustakaan tetapi di dialogkan dengan pengamatan atau pengalaman yang selama ini penulis jumpai di lapangan, baik ketika mengamati cara orang Toraja memaknai tradisinya maupun memaknai liturgi pengakuan dosa dalam jemaat. Hasil penelitian ini menemukan bahwa massuru' dan pertobatan memiliki pola dasar yang kurang lebih sama, yakni dimulai dengan pengakuan salah atau dosa, pengampunan dan akhirnya perdamaian. Kesamaan lain yakni memperbaiki perilaku, membangun kembali relasi dengan Allah dan sesama ciptaan. Tetapi terdapat perbedaan dari segi inisiatif, sasaran pada aspek kelihatan dan batin, korban pendamaian. Massuru' dapat digunakan sebagai model akta pengakuan dosa dalam jemaat maupun model pastoral tobat, akan tetapi perlu menyesuaikan maknanya dengan nilai-nilai yang terkandung alam ajaran Kristen
Kualitas Pemimpin Sebagai Pendidik Dalam Menghadapi Konflik
The leader is the person whom is responsible to ensure all the task will be done. Therefore the leader needs to delegate those tasks for each person that was considered has some competences. A leaders as an educator must be able to carry out leadership base on the truth of God which always educate and motivate the team work. Being a leader who able to educate or as educator who can lead is two resposibilities those cannot be separated. Because the leader as an educator must be able to demonstrate their integrity based on truth. AbstrakPemimpin merupakan orang yang bertanggung jawab melakukan tugas, dan tugas itu dipercayakan kepada setiap bawahan yang dianggap dapat bertanggungjawab melakukannya sesuai dengan kompetensi. Pemimpin sebagai pendidik adalah pemimpin yang mampu menjalankan kepemimpinan dengan berstandar kebenaran, mendidik dan memotivasi. Menjadi pemimpin yang mampu mendidik dan pendidik yang dapat memimpin, dan dua kata penting yaitu “pemimpin dan pendidik†tidak dapat dipisahkan dalam menjalankan tanggungjawab. Pemimpin yang mampu menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin sekaligus menjadi pendidik adalah pemimpin yang mampu menunjukkan integritasnya berdasarkan kebenaran