BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
Not a member yet
    122 research outputs found

    Refleksi Teologis Kitab Yeremia tentang Pesan Sang Nabi Bagi Orang-orang Buangan

    Get PDF
    The Book of Jeremiah is very difficult to understand because the events are not in chronological order. Jeremiah understanding by critical studies provides a more complete understanding even though it was written not in chronological order. This study is built on the understanding of the supervisor writing the book that would expose us, the author of the book, the time and place of writing, the outline of the contents of the book. Historical background, social and political book is also very necessary to study to provide a broader picture of the book of Jeremiah. Jeremiah did his job during the reforms of Josiah in 621 BC, (2) reign of Jehoiakim king in 609 BC, (3) the reign of King Jehoiachin in December 598 to March 597 BC, and (4) of Zedekiah in 597-587 BC.Abstrak: Kitab Yeremia merupakan kitab yang sangat sulit dipahami karena peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya tidak berlangsung secara teratur. Memahami Yeremia dengan kajian-kajian yang kritis memberikan sebuah pemahaman yang lebih lengkap sekalipun tidak ditulis secara urut. Kajian ini dibangun atas pemahaman tentang penulisan kitab yang akan menyingkapkan tentang penulis kitab, waktu dan tempat penulisan, garis besar kitab. Latar belakang sejarah, baik secara politik dan ekonomi juga sangat penting untuk dikaji untuk memberikan gambaran yang lebih luas tentang kitab Yeremia. Yeremia melakukan pekerjaannya selama reformasi Yosia pada tahun 621 SM; pemerintahan raja Yoyakhim pada tahun 609; pemerintahan raja Yehoakim pada Desember 598 hingga Maret 597 SM, serta pada masa raja Zedekia tahun 597-587 SM

    Memaknai Iconography Kristen dari Perspektif Keluaran 20:4-6

    Get PDF
    The presence of statues in the Church has led a debate in various aspects of life, one of the issues raised is related to the commandments in God's ten commandments not to make statues and to worship the statue (Exodus 20: 4-6; Deut. 5: 8-10; Lev. 19: 4). As much as possible, this study wants to see how this statue relates to the second commandment of ten laws. In the hermeneutic approach, the researcher found that the meaning of this command was to clearly reject the establishment of a statue that was used to personalize divinity especially believed to be a manifestation of God himself.Abstraksi: Kehadiran patung dalam Gereja telah menimbulkan pro dan kontra dalam berbagai aspek kehidupan, salah satu isu yang dimunculkan adalah berkaitan dengan salah satu perintah dalam sepuluh perintah Allah untuk tidak membuat patung dan sujud menyembah patung tersebut (Keluaran 20:4-6, bandingkan Ul. 5:8-10; Im.19:4). Penelitian ini sedapat mungkin ingin melihat bagaimana hubungan patung ini dengan perintah kedua dari sepuluh hukum. Dalam pendekatan hermenutik, peneliti menemukan  bahwa makna dari perintah  ini adalah dengan jelas menolak pendirian patung yang digunakan untuk mempersonafikasikan keillahian apalagi dipercaya sebagai wujud dari Allah itu sendir

    Tujuh Kebajikan Utama Untuk Membangun Karakter Kristiani Anak

    Get PDF
    Character is something that is very important for human progress, both individually and in a nation. This article motivated by the decline of the character of society that appears in the rampant crime, anarchism, vigilante, radicalism, hatred, intolerance, disrespect, terrorism, injustice which is causing violence in various human relationships. Individual and social clashes occurred which are always based on the society background, such as ethnicity, religion and social condition. It cannot be denied if it is said that the root of all this is caused by character problem. Character influences ethical and moral judgment and decision making. By this context, Christian families are called to participate in building the nation through education in family. Christian families become character educators for their children. This article aims to describe seven virtues main, namely compassion, empathy, self-mastery, respect, tolerance, fairness, and patriotism to build child Christian character.  AbstrakKarakter adalah suatu hal yang sangat penting bagi kemajuan manusia, baik secara individual maupun suatu bangsa. Tulisan ini dimotivasi oleh merosotnya karakter masyarakat yang nampak dalam maraknya tindakan kejahatan, anarkhis, main hakim sendiri, radikalisme, kebencian, intoleransi, rasa tidak hormat, terorisme, ketidakadilan, sehingga menyebabkan membudayanya kekerasan dalam berbagai relasi. Terjadi perbenturan-perbenturan  individual dan social yang masih selalu terkait dengan latar  belakang masyarakat, seperti etnis, agama dan keadaan social. Tidak dapat disanggah bila dikatakan akar penyebab semua itu disebabkan oleh problem karakter. Karakter memengaruhi pertimbangan dan pengambilan keputusan etis dan moral. Dalam konteks inilah keluarga Kristen dipanggil untuk turut serta membangun bangsa melalui pendidikan di keluarga. Keluarga Kristen menjadi pendidik karakter bagi anak-anaknya. Tulisan ini bertujuan mendiskripsikan tujuh kebajikan utama, yaitu belas kasih, empati, penguasaan diri, rasa hormat, toleransi, adil, dan cinta tanah air, untuk membangun karakter Kristiani anak

    Memahami Bangsa-bangsa Lain dalam Injil Matius

    Get PDF
    This article described one of the uniqueness of the Gospel of Matthew, namely: the emergence of systemic and consistent elements of other nations (gentile). Though Matthew's Gospel is a gospel written for Jews with an emphasis on fulfilling the Old Testament in Jesus and His ministry. Then, why are the elements of other nations in it? This paper answers it by looking more at the salvation (soteriology) aspects designed by God and also includes other nations in it. Abstrak: Artikel ini menjelaskan salah satu keunikan dari Injil Matius, di mana secara sistematis dan konsisten menjelaskan unsur bangsa-bangsa lain (gentile). Meskipun injil Matius ditulis kepada orang Yahudi dengan sebuah penekanan penggenapan PL dalam Yesus dan pelayanan-Nya. Lalu, mengapa unsur bangsa-bangsa lain dijelaskan secara konsisten dan sistematis di dalamnya? Penelitian ini menjawabnya dengan melihat lebih kepada aspek keselamatan yang telah didesain oleh Allah juga bagi bangsa-bangsa lai

    Membaca Teks dalam Pandangan Poskolonial: Catatan Kritis atas Bacaan Terhadap Teks Kitab Suci

    Get PDF
    Superior and inferior are two confronted words which are in postcolonial to build an awareness of "oppression". Oppression is not only in physical form, but more concerning is oppression in the mind. Postcolonial is a way of thinking to build an awareness of oppression. It did not merely show the residues of the Colonial mind, but at the same time gave a new postcolonial interpretation and tried to form a postcolonial identity. Postcolonial will always come into contact with two things namely text and context. Text and context are two things which always dialogue by interpreters. Thus talking about postcolonial means being unable to escape from context, text, and interpreters. This paper will describe how the text deals with the context and how the interpreter treats the text. Interpreters may be wrong in treating the text (according to their interests), thus making others become subalterns. This means that the process of interpreting is also political action.Abstrak: Superior dan inferior adalah dua kata yang saling bertentangan yang ada dalam postkolonial untuk membangun kesadaran akan "penindasan". Penindasan tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi yang lebih memprihatinkan adalah penindasan terhadap pikiran. Postkolonial adalah cara berpikir untuk membangun kesadaran penindasan. Ini tidak hanya menunjukkan sisa-sisa pikiran kolonial, tetapi pada saat yang sama memberikan interpretasi postkolonial baru dan mencoba membentuk identitas postkolonial. Postkolonial akan selalu bersentuhan dengan dua hal yaitu teks dan konteks. Teks dan konteks adalah dua hal yang selalu di-dialog-kan oleh penerjemah. Jadi berbicara tentang postkolonial berarti tidak dapat melepaskan diri dari konteks, teks, dan penerjemah. Makalah ini akan menjelaskan bagaimana teks berhubungan dengan konteks dan bagaimana penerjemah memperlakukan teks. Penerjemah mungkin salah dalam memperlakukan teks (sesuai dengan minat mereka), sehingga membuat yang lain menjadi hamba. Ini berarti bahwa proses penafsiran juga merupakan tindakan politik

    Beritakan Injil Kepada Segala Makhluk

    Get PDF
    This article aims to describe the results of research on how to preach the gospel to all beings, based on Mark 16:15-16. Preaching the gospel is a great commission from the Lord Jesus to His followers after His resurrection from the dead. The world is the address of the gospel preaching, not only to man but to all beings.The Gospel writer of  Mark wants to explain that the world is synonymous with evil, therefore the gospel serves to salt the evil world, so when Iniil is preached to the wicked, it is expected to change the mindset and human behavior.Greedy and greedy human behavior that only views nature as a commodity. Human evil is seen when only the task of exploiting natural resources and forget the responsibility of caring for, nurturing nature and the environment. Gospel preaching aims to awaken peoples not only to view nature as power (dominio) but as a fellow of creatures, and friends (communio). Preach the gospel to all beings and receiving each other with referring to reduce, reuse, recycle and replace as a responsibility to God who has given the mandate for us. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil penelitian tentang bagaimana memberitakan Injil kepada  seluruh makhluk, bertolak dari Markus 16:15-16. Memberitakan Injil adalah amanat agung dari Tuhan Yesus kepada para pengikut-Nya setelah kebangkitan-Nya dari antara orang mati.Dunia adalah sebagai alamat pemberitaan Injil, bukan hanya kepada manusia melainkan kepada segala makhluk. Penulis Injil Markus hendak menjelaskan bahwa dunia identik dengan kejahatan, sebab itu Injil berfungsi menggarami dunia yang penuh kejahatan itu, karena itu ketika Iniil diberitakan kepada orang-orang jahat, diharapkan akan mengubah mindset dan perilaku manusia. Perilaku manusia yang serakah dan tamak yang hanya memandang alam sebagai komoditi. Kejahatan manusia terlihat ketika hanya bertugas mengeksploitasi sumber-sumber daya alam dan lupa pada tanggung jawab merawat, memelihara alam dan lingkungan hidupnya.  Pemberitaan Injil menyadarkan manusia agar tidak hanya memandang alam sebagai kekuasaan (dominio) tetapi sebagai sesama ciptaan, sahabat yang bersifat communio. Memberitakan Injil kepada seluruh makhluk dan menghargai segala makhluk dengan saling memberi dan menerima dengan mengacu pada pola-pola reduce, reuse, recycle dan replace sebagai tanggung jawab kepada Tuhan yang telah memberi amanat

    Teologi Tentang Berpacaran Menurut Amsal 30:18-19

    Get PDF
    Dating is an irresistible phenomenon in today's youth life. Actually, dating is a way that brings youth in two directions, towards a good or bad life. Therefore all parties in the community must be wise to anticipate. Proverbs 30: 18-19 can be a theological basis for the phenomenon of dating. Interestingly, numerical poetry in this text can give direction about relationships between young men and women. In this text, we can see that poems direct all audiences through observing the movements of objects in nature, can observe the essence of the formation of relations between men and women. Practically, this text can be applied to equip young people in anticipating the phenomenon of dating. Every young couple who is committed to dating must be equipped with this theological basis, so that their lives can be constantly built physically, mentally and spiritually. To apply the text of the Proverbs 30: 18-19 is an attempt to answer it.Abstrak: Bepacaran adalah fenomena yang tak tertahankan dalam kehidupan remaja saat ini. Berpacaran adalah cara yang membawa kehidupan remaja ke dua arah, menuju kehidupan yang baik atau buruk. Semua pihak dalam masyarakat harus bijak mengantisipasinya. Amsal 30:18-19 dapat menjadi dasar teologis untuk fenomena berpacaran. Menariknya, sejumlah puisi dalam teks ini memberikan arahan tentang hubungan antara pria dan wanita. Dalam teks ini dapat dilihat bahwa penyair mengarahkan pembaca dengan mengamati pergerakan benda-benda di alam yang dapat menjadi dasar dari pembentukan hubungan antara pria dan wanita. Secara praktis, teks ini dapat diterapkan untuk memperlengkapi kaum muda dalam mengantisipasi fenomena berpacaran. Setiap pasangan remaja yang berkomitmen untuk berpacaran harus dilengkapi dengan dasar teologis ini, sehingga kehidupan mereka dapat terus dibangun secara fisik, mental dan spiritual. Menerapkan teks Amsal 30:18-19 merupakan upaya untuk menjawabnya.Â

    Toleransi Berdasarkan Cerita Rakyat Tallu To Sala Dadi di Toraja

    Get PDF
    Tolerance is described as a concept of cultural phenomena that are integrated through religious life. Conflict as an internal problem while the challenges of the times (globalization) are goals that must be answered through a spirit of tolerance. The concept that will be analyzed is based on folklore tallu to sala 'dadi in Toraja. This study intends to examine the structure of the tallu to sala 'dadi story, and the tolerance value contained in the story. The theory used in this study is the semiotic social theory. While the method used is a qualitative method of content analysis and hermeneutic methods. As a result, data was obtained that the story was of a novel type, which revealed the struggles of human life in living everyday life. The values of tolerance contained include the value of acceptability and understanding that are paired with togetherness and complementarity. Based on these findings, it can be defined that tolerance is the attitude of accepting and understanding shortcomings and differences through togetherness and complementarity.AbstrakToleransi dideskripsikan sebagai konsep fenomena budaya yang terintegriasi melalui kehidupan beragama. Konflik sebagai masalah internal sedangkan tantangan jaman (globalisasi) merupakan tujuan yang harus dijawab melalui semangat toleransi. Konsep itulah yang akan dianalisa berdasarkan cerita rakyat tallu to sala’ dadi di Toraja. Penelitian ini bermaksud mengkaji struktur ceritera tallu to sala’ dadi, dan nilai toleransi yang terkandung dalam ceritera tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini ialah teori semiotik sosial. Sedangkan metode yang digunakan ialah metode kualitatif analisis kontent serta metode hermeneutik. Hasilnya, diperoleh data bahwa cerita tersebut berjenis novel, yang mengungkapkan pergumulan hidup manusia dalam menjalani hidup sehari-hari. Adapun nilai-nilai toleransi yang terkandung meliputi nilai keberterimaan dan kesepahaman yang dipadankan dengan kebersamaan  dan saling melengkapi. Berdasarkan temuan tersebut dapat di definisikan bahwa toleransi adalah sikap menerima dan memahami kekurangan dan perbedaan melalui kebersamaan  dan sikap saling melengkapi

    Teologi dan Etika Politik Dalam Gereja di Zaman Post-Modern

    Get PDF
    Humans are essentially human politics (zoon politikon), so that all the dynamics of human life must always be related to politics, both as a political subject and as an object driven by politics itself. It can be clearly stated that the dynamics of human life in a country must be in circulation of the subject and object at once. Ideally, whether it is entrusted as a political leader or as a society controlled by politics itself, both are political subjects. That is, those who are entrusted with directing and regulating state politics are clearly a subject that always deals with politics in a concrete way, but the general public is also a subject, meaning that all aspects of life and community activities influence the political world both directly and indirectly, or with in other words it can be said that every activity of the community both in the world of education, religion, social, law, etc. is a political responsibility to organize, control, and direct all aspects of life for the common good, so that briefly it can be said that society is the determinant politics itself and as a function of political control, both directly and indirectly. AbstrakManusia pada hakikatnya adalah manusia politik (zoon politikon), sehingga seluruh dinamika kehidupan manusia pasti selalu berkenaan dengan politik, baik sebagai subjek yang berpolitik maupun sebagai objek yang digerakan oleh politik itu sendiri. Dengan jelas dapat dikatakan bahwa dinamika kehidupan manusia dalam suatu negara pasti berada dalam sirkulasi subjek dan objek sekaligus. Idealnya, baik yang dipercayakan sebagai pemimpin politik maupun sebagai masyarakat yang dikendalikan oleh politik itu sendiri, keduanya adalah subjek (pelaku) politik. Artinya, mereka yang dipercayakan mengarahkan dan mengatur politik negara jelas adalah subjek yang selalu bergelut dengan politik secara konkret , akan tetapi masyarakat umum juga adalah subjek, artinya segala aspek kehidupan dan aktivitas masyarakat membawa pengaruh bagi dunia politik baik  secara langsung maupun tidak langsung, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa setiap aktivitas masyarakat baik dalam dunia pendidikan, agama, sosial, hukum, dan lain sebagainya menjadi tanggung jawab politik untuk menata, mengendalikan, dan mengarahkan semua aspek kehidupan tersebut demi kebaikan bersama, sehingga dengan singkat dapat dikatakan bahwa masyarakat adalah penentu politik itu sendiri dan sebagai fungsi kontrol politik, baik secara langsung maupun tidak langsung

    Keadilan Dalam Bisnis Gadai

    Get PDF
    The habit of debit and credit has become tradition in human culture as far back as. The system of debit and credit also happened in outgrowth. In hundreds years, it expand  from barter system in primitive society towards variety methods, until now. There are many ways for people to get loans, and morover in easier manner. The commonly way in taking the allowance is by using bailed out. Thats why,nowdays there so many institution or person pop out to offer a term loan, such as bank, cooperative (enterprise) that emerge in saving and loan, credit union, financing instituion, loan office, and even moneylender. This research is needed to help emerge any understanding into some problem solving on how the christian ethics addressing the alternatives to face this problem of pawning.AbstrakBudaya utang piutang telah menjadi tradisi dalam masyarakat sejak dahulu. Sistem transaksi utang piutang juga mengalami perkembangan. Dari sistem barter dalam masyarakat primitif sederhana, berkembang melalui ratusan tahun menjadi berbagai macam cara hingga saat ini. Cara-cara yang dapat ditempuh untuk mendapatkan pinjaman saat ini beragam dan semakin mudah metodenya. Yang paling umum dilakukan adalah mengambil kredit dengan memberikan jaminan. Lantas, bermunculanlah berbagai lembaga/orang yang dapat memberikan pinjaman dengan bunga yang disepakati, seperti bank, koperasi simpan pinjam, credit union, lembaga finance dan pegadaian bahkan rentenir dengan resiko masing-masing. Masalah ini memerlukan kajian penelitian untuk memberi pandangan etis kristiani sebagai salah satu alternatif teologi menghadapi persolan bisnis gadai ini

    114

    full texts

    122

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇