BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
Not a member yet
122 research outputs found
Sort by
Evaluasi Kritis Penggunaan Membangun Jemaat Dari Perspektif Teologi Kontekstual
oai:www.jurnalbia.com/index.php/bia:article/20Using a qualitative approach we researched and then evaluated the use model of the book Building a Church in the Toraja Church in the South Sangalla Klasis by using a perspective on contextual theology. In this study we found 2 (two) models of using the Church Building book used by the servants there, namely the translation model and the post-translation model. We evaluate these two models as a model of use that is not sufficient to be able to bring the church to the celebration of God's great presence and work that surrounds all. We evaluate Both of these models is still very narrow in providing space for the development of theology and/ or preaching that is truly contextual. AbstrakDengan menggunakan pendekatan kualitatif kami meneliti untuk kemudian mengevaluasi model penggunaan buku Membangun Jemaat di Gereja Toraja se-Klasis Sangalla’ Selatan dengan menggunakan perspektif teologi kontekstual. Dalam penelitian ini kami menemukan 2 (dua) model penggunaan buku Membangun Jemaat yang digunakan oleh para pelayan di sana, yakni model terjemahan dan model post-terjemahan. Kedua model tersebut kami nilai sebagai model penggunaan yang belum memadai untuk bisa membawa jemaat (gereja) kepada perayaan akan kemahahadiran dan karya Allah yang besar dan yang melingkupi semua. Kedua model itu, kami nilai masih sangat sempit dalam memberi ruang bagi pengembangan teologi dan/atau khotbah yang sungguh-sungguh kontekstual
Korupsi sebagai Musuh Bersama: Merekonstruksi Spiritualitas Anti Korupsi dalam Konteks Indonesia
Abstract: Indonesian goverment established corruption as an extra ordinary crime. Government produced some policies as a manifestasion to prove that they are serious to overcome the practices of corruption and all of the impact in society. Not only government, church as an institution of religion which rich of moral and ethics views can play their role even to show their responsibilities to construct some formulas to solve some problems related to corruption that occur in the life of nation, society and church. Actually, the synergy between all alements of nation is needed, including the church as an agent of change to raise awareness to understand about corruption and the latent danger of it’s impact. Corruption is the common enemy. It’s also a social concern in Indonesia. So, church as a symbol of a salt and light of the world, has a calling to play the role reconstructing anti-corruption spirituality based on theological dialog and tradition about distributing parjambaran in the context of Batak society.Abstrak: Pemerintah Indonesia menetapkan korupsi sebagai extra ordinary crime. Kebijakan ini sebagai salah satu wujud keseriusan pemerintah mengatasi praktek korupsi dan segala dampak yang ditimbulkannya di tengah masyarakat. Tidak hanya pemerintah, gereja sebagai lembaga agama yang kaya akan ajaran-ajaran moral juga bertanggungjawab untuk menemukan sebuah formula yang dapat mendorong percepatan penyelesaian persoalan-persoalan terkait korupsi yang terjadi di tengah kehidupan bangsa, masyarakat, dan gereja. Dibutuhkan sinergi antara seluruh elemen bangsa, termasuk gereja sebagai agen perubahan untuk menumbuhkan kesadaran di tengah masyarakat akan pentingnya memahami korupsi dan bahaya laten yang ditimbulkannya. Korupsi merupakan musuh bersama dan keprihatinan sosial di tengah Indonesia. Upaya merekonstruksi spiritualitas anti korupsi yang didasarkan pada penekanan integritas dengan mendialogkannya dengan kearifan lokal pembagian parjambaran pada masyarakat Batak merupakan sumbang pikir teologis terhadap perlawanan korupsi