BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
Not a member yet
122 research outputs found
Sort by
Nilai Teologis Masikka': Sebuah Ritus di Rantai Damai
Masikka' culture is very important to know it’s meaning and its theological values so that the citizens of the Church can understand it in the context of Christianity. This research uses a qualitative method that is by observing and conducting interviews with the purpose of obtaining information about Masikka' which uses a combination of language between Bugis and Toraja to find the meaning of poetry and the theological values contained therein. On the essence of Masikka' is done because the people are considered to have merit, influential, useful, and have exemplified as a leader and also a hero for the people of Rante Balla. In the concept of Christianity, Masikka' is a lamentation poem that tells the process of traveling the dead to the creator by being sung by a group of people interchangeably. Masikka's culture if it is reviewed from the perspective of Christian faith also contains theological values, namely cosmology, reverence, social structure, hierarchy, togetherness, temporary life, and also the arts. Some of these values are also described in the Bible either directly or indirectly through the stories of Biblical figures. But in practice, the Masikka culture has not yet reflected the value of Christianity completely so that it needs to be transformed into Christianity. AbstrakBudaya Masikka’ sangat penting untuk diketahui makna dan nilai-nilai teologisnya agar warga Gereja dapat memahaminya dalam konteks Kekristenan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu dengan mengamati dan melakukan wawancara dengan tujuan mendapatkan informasi tentang syair masikka’ yang menggunakan perpaduan bahasa antara Bugis dan Toraja agar menemukan makna syair dan nilai-nilai teologis yang terkandung di dalamnya. Pada hakekatnya masikka’ dilakukan oleh karena orang-orang tersebut dianggap telah berjasa, berpengaruh, berguna dan telah memberi teladan sebagai pemimpin dan juga pahlawan bagi masyarakat Rante Balla. Dalam konsep Kekristenan, masikka’ merupakan syair ratapan yang menceritakan proses perjalanan orang yang telah meninggal menuju kepada Sang Penciptanya dengan cara dinyanyikan oleh sekelompok orang secara bergantian. Budaya masikka’ jika ditinjau dari perspektif iman Kristen juga mengandung nilai-nilai teologis, yaitu kosmologi, penghormatan, struktur sosial, hirarki, kebersamaan, kehidupan yang sementara, dan juga kesenian. Beberapa nilai ini juga dijelaskan di dalam Alkitab baik secara langsung maupun tidak langsung melalui cerita tokoh-tokoh Alkitab. Namun dalam prakteknya, budaya masikka’ belum mencerminkan nilai Kekristenan secara utuh sehingga perlu ditransformasikan ke dalam Kekristenan
Analisis Tingkat Kesiapan Organisasi untuk Berubah (Transformasi Menuju IAKN Kupang)
Higher Education Transformation has become a trend among colleges under the Ministry of Religious Affairs. The organizational readiness for change in status and function is not merely about an individual readiness, but the readiness of all of the organization. This research aimed at finding how high the readiness level in the transformation of STAKN Kupang to IAKN Kupang was. A quantitative approach was used by using a survey method. The questionnaire used was the Organizational Readiness for Implementing Change (ORIC) by Weiner which measures two dimensions of readiness named change efficacy and change commitment to face an organizational change. A sample of 50 people was taken out of the population of 200. The result of One Sample T-test shows tcount= 5,738, which compared to the value of ttable=0,67964. Since the t-count > t-table, H0 is accepted which means the readiness level in the institution transformation becoming IAKN Kupang is greater than or equals to 75% as expected (H0:m ≥ 75 %). Even though, STAKN Kupang is categorized into a high readiness level group, there are five factors to be considered in the future for the sake of its continuity and sustainability: organizational climate and culture, interpersonal relationship, leadership, past habit and mindset, and techonolgy implementation.  AbstrakTransformasi pendidikan tinggi di Indonesia telah menjadi tren di lingkup per-guruan tinggi di bawah Kementerian Agama. Kesiapan organisasi untuk beralih status dan fungsi tidak semata-mata berbicara mengenai kesiapan individu dalam organisasi melainkan kesiapan organisasi secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan seberapa tinggi tingkat kesiapan dalam transformasi pendidikan tinggi dari STAKN Kupang menjadi IAKN Kupang. Pendekatan penelitian kuantitatif dengan metode survey digunakan dalam penelitian ini. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner Organizational Readiness for Implementing Change (ORIC) oleh Weiner yang mengukur dua dimensi kesiapan yakni keyakinan dan komitmen untuk berubah. Sampel penelitian yang digunakan adalah 50 orang dari total populasi 200 orang. Dari hasil uji One Sample t-test ditemukan harga t= 5,738, harga t tersebut selanjutnya dibandingkan dengan har-ga t-tabel =0,67964. Karena t-hitung lebih besar dari t-table atau jatuh pada penerimaan H0 (5,734>0,67964) maka H0 diterima sebagaimana dikatakan bahwa tingkat kesiapan transformasi Pendidikan Tinggi menuju IAKN Kupang adalah lebih besar atau sama dengan 75 % dari yang diharapkan (H0:m ≥ 75 %). Meskipun STAKN Kupang masuk dalam kategori siap bahkan sangat siap, namun terdapat lima faktor yang perlu diperhatikan untuk menjamin keberhasilan dan keberlangsungan transformasi di masa yang akan datang: iklim dan budaya organisasi, dinamika hubungan interpersonal dalam organisasi, kepemimpinan, kebiasaan dan pola pikir lama, dan penguasaan teknologi.  Kata kunci: kesiapan; organizational readiness for implementing change; transformas
Keadilan dan Advokasi sebagai Panggilan Gereja dalam Konteks Kehidupan Kaum Buruh
Abstract: This article aims to analyze several issues of injustice, which can threaten the welfare of port workers and build an advocacy theology as a form of defending the rights of their lives. These problems are related to the distribution of basic wages and overtime wages, as well as social benefits. The research uses a practical theological model with four phases, namely descriptive empirical task, interpretive task, the normative task, and the pragmatic task. It has a qualitative method with interview techniques, observations, documentation, and library studies. The results of study found that the existence of port workers in Ambon was in an unfair and prosperous situation. In addressing the issue, the Maluku Protestant Church was called to carry out advocacy actions by referring to theological foundations related to God’s justice. Acvocacy actions carried out in the church context can be based on social values with social dimensions such as truth, welfare, justice, and transparency in everything that is done. In addition, the Maluku Protestant Church can establish cooperation with govermment and followers of other religions to seek prosperity, uphold justice and truth for all members of the workers. Abstrak: Artikel ini bertujuan menganalisis masalah ketidakadilan yang dapat mengancam kesejahteraan hidup kaum buruh pelabuhan dan membangun teologi advokasi sebagai bentuk pembelaan hak-hak hidup mereka. Masalah tersebut ber-kaitan dengan pembagian upah pokok dan upah lembur kerja, serta tunjangan-tunjangan sosial. Penelitian ini menggunakan model teologi praktis dengan empat tahapan, yakni descriptive empirical task, interpretive task, the normative task, dan the pragmatic task. Didalamnnya terdapat metode kualitatif dengan teknik wawan-cara, observasi, dokumenasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menemukan bahwa eksistensi kaum buruh pelabuhan di Ambon berada pada situasi yang tidak adil dan sejahtera. Dalam menyikapi persoalan tersebut, Gereja Protestan Maluku terpanggil untuk melakukan tindakan advokasi dengan mengacu pada landasan-landasan teologis terkait keadilan Allah. Tindakan advokasi yang dilakukan dalam konteks bergereja dapat didasarkan pada nilai-nilai keagamaan yang berdimensi sosial seperti kebenaran, kesejahteraan, keadilan dan transparasi terhadap segala sesuatu yang dilakukan. Selain itu, Gereja Protestan Maluku dapat membangun kerja sama dengan pemerintah dan pemeluk agama lain untuk mengupayakan kesejahteraan, menegakkan keadilan dan kebenaran bagi seluruh anggota kaum buruh
Pentingnya Komunikasi dalam Penafsiran Alkitab
This article will discuss a theological correlation between communication and biblical interpretation. After having established that coherence, it will show that the Reader-Response Criticism, one of the most attractive approach in Biblical interpretation among the postmodern scholars, is not only irrational but also dangerous to some degree even inapplicable and without spiritual value. Abstrak: Artikel ini membahas hubungan teologis antara komunikasi dan penafsiran Alkitab. Setelah menemukan hubungan antara kedua hal tesebut, artikel ini akan menelaah secara khusus mengenai Kritik Respons-pembaca, salah satu pendekatan paling menarik dalam penafsiran Alkitab di antara para sarjana postmodern, Artikel ini akan memperlihatkan bahwa metode ini tidak hanya irasional tetapi juga berbahaya sampai taraf tertentu, bahkan tidak dapat diterap-kan dan tanpa nilai spiritual
Kajian Ekoteologis tentang Konsep Tanah dalam Perjanjian Lama dan Implikasinya bagi Pemeliharaan Tanah
This article is an echotheological study of the basis of Israel's election and agreement as God's people in relation to the ownership of the Land of Canaan. Israel as a nation and chosen people certainly have a duty as a blessing to others. This study departs from the meaning of the agreement affirmed on Mount Sinai, namely that God wants Israel to live in loyalty and always care for social life. The agreement was subsequently implemented in the form of the giving of the land of Canaan as another symbol. The promised land management is not only for the benefit of the people of Israel, but also must have a social dimension for the poor, oppressed, and marginalized, this is the ethical basis of Israel's life as God's people. Land must be cultivated as a source of God's peace (syalom) for all His creatures, because only in this way can they breathe in the covenant with the Divine, God the Almighty. Furthermore, at the end of this paper it will be concluded that human beings as God's representatives do not mean acting according to their own desires, because humans must always remember that everything will be accounted for back to God.Abstrak: Artikel ini adalah sebuah kajian ekoteologis mengenai dasar pemilihan dan perjanjian Israel sebagai umat Allah dalam hubungannya dengan kepemilikan Tanah Kanaan. Israel sebagai bangsa dan umat pilihan tentunya memiliki tugas sebagai berkat bagi orang lain. Kajian ini berangkat dari makna perjanjian yang ditegaskan di Gunung Sinai, yaitu bahwa Tuhan menginginkan Israel hidup dalam kesetiaan dan selalu peduli pada kehidupan sosial. Perjanjian itu selanjutnya diem-plementasikan dalam bentuk pemberian tanah Kanaan sebagai simbol yang lain. Pengelolaan tanah yang dijanjikan tidak hanya untuk kepentingan rakyat Israel, tetapi juga harus memiliki dimensi sosial untuk orang miskin, tertindas, dan ter-pinggirkan, hal tersebutlah yang menjadi dasar etis kehidupan Israel sebagai umat Allah. Tanah harus diusahakan sebagai sumber kedamaian Allah (syalom) untuk semua makhluk-Nya, karena hanya dengan cara ini mereka dapat bernafas dalam ikatan perjanjian dengan yang Ilahi, Allah Yang Maha Kuasa. Selanjutnya, pada bagian akhir tulisan ini akan disimpulkan bahwa manusia sebagai wakil Allah bukan berarti berbuat sesuai dengan keinginan dirinya sendiri, karena manusia harus selalu mengingat bahwa segala sesuatu akan dipertanggungjawabkan kem-bali kepada Allah
Peran Gereja Masa Kini Menyikapi Teologi Pembebasan Gutiérrez
The background of Latin American society in the past who were familiar with the hegemony of power of the bourgeoisie caused concern in the hearts of Christian theologians at the time. This concern finally gave birth to a theological model known as Liberation Theology. Liberation Theology is a praxis-oriented theological model, namely real action for the liberation of marginalized, poor and oppressed people. But the thought of Marxism influenced the concept of Liberation Theology so that the theological model was more like a destructive ideology. Bringing the concept of Liberation Theology to the light of the word of God is the right action for the church today in responding to the Liberation Theology. The aim is to analyze the contents of Liberation Theology, and how should the role of the church address the Liberation Theology, and apply liberation theology in everyday life. The method used is an explanatory qualitative approach to the role of the church in response to Liberation Theology.Abstrak: Latar belakang masyarakat Amerika Latin di masa lampau yang akrab dengan hegemoni kekuasaan kaum borjuis menyebabkan timbulnya keprihatinan dalam hati para teolog Kristen kala itu. Keprihatinan ini akhirnya melahirkan suatu model teologi yang dikenal dengan nama Teologi Pembebasan. Teologi Pembebasan adalah model teologi yang berorientasi pada praksis, yaitu tindakan nyata untuk pembebasan kaum termarginalkan, miskin dan tertindas. Akan tetapi pemikiran Marxisme turut memengaruhi konsep Teologi Pembebasan sehingga model teologi ini lebih mirip ideologi yang destruktif. Membawa konsep Teologi Pembebasan kepada terang firman Tuhan adalah tindakan yang tepat bagi gereja masa kini dalam menyikapi Teologi Pembebasan. Tujuan tulisan ini adalah menganalisis isi Teologi Pembebasan, dan bagaimana seharusnya peran gereja menyikapi Teologi Pembebasan tersebut, dan menerapkan teologi pembebasan dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang bersifat eksplanatori tentang peran gereja menyikapi Teologi Pembebasan
Pendekatan Historis Kristis Terhadap Bilangan 3 dan 4 tentang Tanggung Jawab Pendeta
The tribe of Levi was chosen and ordained by God for hold whorsip in tabernacle of the congregation. Their work is simple but they must to do accordingly with their role in Number 3 and 4 and exactly that God command.  To investigate and review the Number 3 and 4, the author uses critical history method by putting attention to the situation in the text and the situation gave the text.  The role of the tribe of Levi is offer sacrifices and pray, interpretation the urim dan tumim, difference between holy and unholy and between clean and unclean, turn on the lamps, blowing of trumpets, unload, transport and rebuild the tabernacle. When the tribe of Levi doing the role they must maintain holiness in front of God. Based on that role then the life of tribe of Levi can be a reference for life of priest it mainly concerns the role of serving the Lord.Abstrak: Suku Lewi dipilih dan ditetapkan oleh Tuhan untuk menyelenggarakan ibadat di kemah suci. Mereka harus melaksanakannya sesuai yang diperintahkan Tuhan. Kajian terhadap peran suku Lewi dalam Bilangan 3 dan 4 ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library research) dengan pendekatan kritik historis. Metode ini menaruh perhatian pada situasi yang digambarkan dalam teks dan situasi yang melahirkan teks. Adapun peran suku Lewi yakni mempersembahkan korban-korban serta menaikan doa, menafsirkan urim dan tumim, harus dapat membedakan kudus dan tidak kudus, najis dan tidak najis, menyalakan kandil, meniup serunai perak, memberikan berkat dalam nama Allah, penasehat umat, menjaga kemah suci, membongkar, mengangkut dan mendirikan kembali kemah suci. Ketika melaksanakan peran tersebut suku Lewi harus tetap menjaga kekudusan hidupnya dihadapan Tuhan. Berdasarkan peran tersebut, maka kehidupan suku Lewi dapat menjadi acuan bagi kehidupan pendeta masa kini terutama menyangkut peran sebagai pelayan Tuhan
Perhadliran dalam Sakramen Perjamuan Kudus di Gereja Protestan Maluku
The article aims to analyze the meaning of perhadliran in the Sacrament of Holy Communion in the Protestant Church of Maluku. This study using qualitative methods with the techniques used are interviews and literature studies. In the study, data was obtained that the Protestant Church of Maluku did not have a clear historical background regarding the use term of the perhadliran. However, perhadliran was carried out by the Protestant Church of Maluku with the aim of preparing themselves before the Holy Communion was held. The Protestant Church of Maluku interpreted the perhadliran as a process of self-prepation, but some interpreted it as a means of confession, it is required to answer the four questions of the perhadliran. Based on the research data above, it is found that the perhadliran has three meanings, namely the meaning of self-preparation, the meaning of recognition, and the meaning of the agreement. Â Abstrak: Artikel ini bertujuan menganalisis makna perhadliran dalam sakra-men perjamuan kudus di Gereja Protestan Maluku (GPM). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik yang dipakai ialah wawancara dan studi kepustakaan. Dalam penelitian, diperoleh data bahwa GPM tidak me-miliki latar belakang historis yang jelas terkait penggunaan istilah perhadliran. Namun, perhadliran dilakukan GPM dengan tujuan untuk persiapan diri sebe-lum Perjamuan Kudus dilaksanakan. GPM memaknai perhadliran sebagai proses persiapan diri, namun sebagian memaknai se-bagai sarana pengakuan dosa, karena di dalam ibadah perhadliran anggota jemaat diharuskan menjawab empat pertanyaan perhadliran. Berdasarkan data-data peneli-tian di atas maka ditemukan bahwa perhadliran memiliki tiga makna yaitu makna per-siapan diri, makna pengakuan dan makna perjanjian
Interpretasi Yosua 6:1-27 tentang Penumpasan Kota Yerikho terhadap Kekerasan Atas Nama Agama
The reality of violence is a reality in relationship that has never disappeared from human life, the triggers also vary, ranging from personal issues, politics, economic culture, even religion. Violence is an action that always results in a bad impact for those who are the object of violence, so that it is not expected to exist in human relations. Furthermore, it cannot be denied that religion is one of the causes of violence, this is caused by various factors, one of which is the problem is about interpretation of the biblical text’s, so that it is necessary to study or interpret the biblical text with the right approach. The description in this research will focus on Joshua 6:1-27 with a narrative criticism approach which is certainly supported by other approaches such as historical criticism and grammatical criticism. So that through this study it will lead to an understanding that the story of the destroyed carried out by Joshua and the nation of Israel is a legitimate act because they acted on God's command. So that Joshua's actions cannot be classified as acts of violence in the name of religion. Abstrak: Realitas kekerasan adalah realitas dalam hubungan yang tidak pernah lenyap dari kehidupan manusia, pemicunya pun beragam, mulai dari masalah pribadi, politik, budaya ekonomi, bahkan agama. Kekerasan adalah tindakan yang selalu menghasilkan dampak buruk bagi mereka yang menjadi objek kekerasan, sehingga tidak diharapkan ada dalam hubungan manusia. Lebih jauh, tidak dapat dipungkiri bahwa agama adalah salah satu penyebab kekerasan, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah masalah penafsiran teks Alkitab, sehing-ga perlu dipelajari atau ditafsirkan teks Alkitab dengan pendekatan yang tepat. Des-kripsi dalam penelitian ini akan berfokus pada Yosua 6:1-27 dengan pendekatan kritik naratif yang tentu saja didukung oleh pendekatan lain seperti kritik sejarah dan kritik gramatikal. Sehingga melalui penelitian ini akan mengarah pada pemaha-man bahwa kisah kehancuran yang dilakukan oleh Yosua dan bangsa Israel adalah tindakan yang sah karena mereka bertindak atas perintah Tuhan. Sehingga tinda-kan Yosua tidak bisa digolongkan sebagai tindakan kekerasan atas nama agama.Â
Model Ibadah Sekolah Minggu Kreatif-Interaktif bagi Generasi Alfa di Gereja Toraja
: Industrial revolution 4.0 is bringing great impact into the global world, including children from the alpha generation. The alpha generation have a typical characteristic that need to gain a concern in terms of spiritual needs. Sunday schol expecially Toraja’s Church need to do an inovation to fulfill the spiritual need of The alpha generation. This study use Research and Development (RnD) method. The research produce a product which is a book with the tittle Sekolah Minggu Kreatif-Inovatif.The book is produced by a kualitatif approach with interactive analysis. The development of the product is done by critism of participant about the product. The result is a Sekolah Minggu Kreatif-Inovatif book For the alfa generation of Toraja’s Church with the collaborative and confrontative principle.Abstrak: Revolusi Industri 4.0 menghasilkan pengaruh besar bagi dunia global, salah satunya pada anak-anak generasi alfa.Anak-anak generasi alfa memiliki ciri khas yang perlu untuk mendapatkan perhatian dalam hal kebutuhan rohaninya. Sekolah Minggu terkhusus di Gereja Toraja perlu untuk melakukan inovasi untuk menjawab kebutuhan rohani anak-anak generasi alfa. Kajian ini menggunakan jenis penelitian dan pengembangan (RnD). Penelitian menghasilkan produk buku Sekolah Minggu Kreatif-Inovatif yang dihasilkan melalui pendekatan kualitatif dengan anali-sis interaktif. Pengembangan produk dilakukan dengan kristisi partisipan mengenai hasil produk yang dihasilkan.Hasil Akhir adalah buku Sekolah Minggu Kreatif-Inovatif bagi Generasi Alfa Gereja Toraja berdasarkan prinsip kolaboratif dan konfrontatif