BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
Not a member yet
    122 research outputs found

    Kosmopatriotisme Digital: Tantangannya dan Prospek Pendidikan Berdimensi Kosmopolitanisme

    Get PDF
    The present article offered an analytical framework to evaluate critically the current phenomenon in Indonesia revolved on the patriotism claim, in particular religious patriotism, in which the formation of the narrative is adopting cosmopolitan imagination, metaphors, and presumptions. The narrative revolved on religious and cultural purity, and nationalism, appeared as cosmopolitanism through digital signifiers and its global networking. This framework might overcome the persistent dichotomies such as “West and East,†“Cosmopolitanism and Nationalism,†or “Nusantara and Transnational.†Further elaboration might reveal complex exchange, overlapping and synthesizing narratives undergone within our society. Three cases are the focus of the present investigation in building the cosmopatriotism’s argument, i.e. Islamism discourse, pro-Israel Christians, and historical comic books by the Bali and Jakarta-based publishers, which manifested the historical burdens among Hindu and Buddhist communities in Indonesia. It is ultimately offered an insight the significance of considering the cases at hands in order to seek cosmopolitan dimension and relevant education of citizenship and netizenship. AbstrakDalam artikel ini penulis menawarkan bingkai analisa dalam melihat secara kritis gejala yang sedang berkembang di Indonesia yaitu menguatnya semacam klaim patriotisme, khususnya patriotisme agama, sementara pembentukan narasinya mengadopsi imajinasi, metafora, dan asumsi-asumsi kosmopolitan. Narasi yang dikembangkan berkisar pada wacana kemurnian agama, budaya, dan nasionalisme, namun diungkapan dalam rupa yang kosmopolit melalui penanda-penanda digital dan jejaring globalnya. Bingkai yang disebut sebagai kosmopatriotisme ini membebaskan diri dari dikotomi-dikotomi, mulai dari yang klasik namun gigih semacam “Barat dan Timur,†hingga yang lebih kekinian seperti “Kosmopolitanisme dan Nasionalisme,†atau “Nusantara and Transnasional.†Sebab telisikan yang lebih dalam menunjukkan arus ulang alik, tumpang tindih dan sintesa terus menerus di tengah masyarakat. Tiga rumpun contoh akan menjadi perhatian dalam membangun argumentasi kosmopatriotisme, yaitu wacana Islamisme, kelompok Kristen pro-Israel, dan inisiatif komik-komik sejarah terbitan penerbit Bali dan Jakarta, yang mencerminkan beban sejarah komunitas Hindu Bali dan Buddha di Indonesia. Pada akhirnya diskusi dalam artikel ini menyarankan pentingnya memberi perhatian kritis pada anggitan-anggitan tersebut di atas dalam pencarian model pendidikan kewargaan dan kewarganetan yang berdimensi kosmopolitan dan yang lebih relevan

    Khotbah yang Berwawasan Misiologis

    Get PDF
    A church is then called a church if it carries out a mission. Preaching is part of the mission of the church. Preaching in the context of Christianity is a form of verbal preaching of the gospel. The Protestant Church places preaching at the center of worship. The strategic position of this sermon can be the starting point for a missiological sermon. Even though the sermon is the center of worship and one of the models of preaching the gospel, but whether these sermons have a missiological perspective. The purpose of this study is to describe the basis of the sermon which is called missiological insight. Another goal is that through this descriptive description, the church understands further the mission of the church in preaching the gospel and then becomes an evaluative starting point for present-day church sermons towards missionary-minded sermons towards missionary congregations. This study uses a descriptive qualitative approach, which relies on efforts to describe and describe the phenomenon of contemporary sermons to be confronted with the reality of the sermons offered, namely sermons with a missiological perspective. This research shows that preaching the gospel through preaching is a means of preaching the gospel and it is part of the church's mission and churches need to develop missiological-minded preaching for church growth. A sermon with a missiological perspective is a sermon that can direct and move all elements of the congregation to be involved in carrying out God's mission as a result of these sermons in the context of church growth.Gereja barulah disebut gereja jika melakukan misi. Berkhotbah adalah bagian dari misi gereja. Khotbah dalam konteks kekristenan adalah salah satu bentuk pemberitaan Injil secara verbal. Gereja Protestan menempatkan khotbah sebagai pusat ibadah. Posisi strategis khotbah inilah yang dapat menjadi titik berangkat khotbah yang misiologis. Sekalipun khotbah adalah pusat ibadah dan salah satu model pemberitaan Injil, akan tetapi apakah khotbah-khotbah tersebut sudah berwawasan misiologis. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pendasaran khotbah yang disebut berwawasan misiologis. Tujuan lain adalah melalui uraian deskriptive ini gereja memahami lebih jauh misi gereja dalam pemberitaan Injil lalu menjadi titik berangkat evaluatif terhadap khotbah-khotbah gereja masa kini menuju khotbah yang berwawasan misiologis.Penelitian ini menggunakan metode pendekatan descriptive qualititavie, yang bertumpu pada upaya menguraikan dan mendeskripsikan fenomena khotbah-khotbah masa kini untuk diperhadapkan pada realitas khotbah yang ditawarkan yaitu khotbah yang berwawasan misiologis. Penelitian ini memperlihatkan bahwa pemberitaan Injil melalui khotbah adalah sarana pemberitaan Injil dan itu adalah bagian dari misi gereja dan gereja-gereja perlu untuk mengembangkan khotbah yang berwawasan misiologis untuk pertumbuhan gereja. Khotbah yang berwawasan misiologis adalah khotbah yang dapat mengarahkan dan menggerakkan seluruh elemen jemaat untuk terlibat dalam pelaksanaan misi Allah sebagai dampak dari khotbah-khotbah tersebut dalam rangka pertumbuhan gereja

    Pilatus Dalam Pengakuan Iman Rasuli: Dalam Terang 1 Timotius 6:12-13

    Get PDF
    Churches and theologians usually interpret the mention of Pilate in the Apostles' Creed as a time frame during the reign of Roman political rulers for the events of Jesus' passion, thereby providing a historical framework for Christ's redemptive work. The phrase “under Pontius Pilate†in the church creed is taken for granted with the same meaning as the Greek phrase epi Pontiou Pilatou in 1 Timothy 6:13, the only direct reference in the New Testament. However, the Bible translation of the Greek phrase is usually “before Pontius Pilateâ€, slightly different from the creedal formulation. Biblically, there is a connection between epi Pontiou Pilatou and Jesus’ long testimony before Pilate’s trial in the gospel of John, the only gospel that explicitly mentions Jesus coming into the world “to testify to the truth†(John 18:37, NRSV). This article adds a theological significance to that mention in light of I Timothy 6:12-13. Not only Jesus “suffered under Pontius Pilateâ€, He also gave testimony “before†the Roman administrator, a representation of the then world, and thus the witness of the church throughout the ages before the world.Gereja dan teolog biasanya menafsirkan penyebutan Pilatus dalam Pengakuan Iman Rasuli sebagai kerangka waktu selama pemerintahan penguasa politik Romawi untuk peristiwa sengsara Yesus, demikian memberikan kerangka sejarah untuk karya penebusan Kristus. Frasa “di bawah pemerintahan Pontius Pilatus†dalam kredo gereja diandaikan begitu saja sama maksudnya dengan frasa epi Pontiou Pilatou dalam teks Yunani 1 Timotius 6:13, satu-satunya rujukan langsung dalam Perjanjian Baru. Namun, terjemahan Alkitab untuk frasa Yunani itu biasanya “di muka Pontius Pilatusâ€, sedikit berbeda dari rumusan kredo. Secara alkitabiah, ada hubungan antara epi Pontiou Pilatou dan kesaksian panjang Yesus di muka pengadilan Pilatus dalam Injil Yohanes, satu-satunya Injil yang secara eksplisit menyebutkan Yesus datang ke dalam dunia “untuk memberi kesaksian tentang kebenaran†(Yoh. 18:37). Artikel ini menambahkan signifikansi teologis untuk penyebutan itu bahwa Yesus tidak hanya “menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatusâ€, tetapi juga bersaksi “di muka†wali negeri Romawi itu, sebuah representasi dunia waktu itu. Begitu juga kesaksian gereja sepanjang masa di hadapan dunia

    Continuing the Paul Mission for the Gentiles in the New Era

    Get PDF
    The research in this paper seeks to find some thought as a product of research that examines the important role of Paul's mission in the early church planting. In addition, this article will examine the pattern of Paul's mission so that church growth is very sporadic. The purpose of this research is to show that Paul's success strategy in mission is very worthy and interesting to be researched and studied, so that it becomes a cornerstone for the church today to continue Paul's mission pattern. Methodology in this research is going to use the theory of Francis Watson which based on the freedom of Paul mission, and also it want to take advantage based on the theory of Terence L. Donaldson that stated the universalism of Paul mission. This research shows that through God's help, Paul succeeded in establishing Gentiles churches. The churches today may learn that the preaching of the Gospel to the new generation today has its own challenges, because the different context. Another thing that today's church needs to learn is that Paul's passion and strategy in his mission has enabled him to build churches for other nations in various places for the glory of Christ.Penelitian dalam tulisan ini hendak berupaya menemukan beberapa refleksi sebagai hasil riset yang meneliti tentang peran penting misi Paulus terhadap perintisan gereja perdana. Selain itu, risalah ini hendak meneliti bagaimana pola misi Paulus sehingga pertumbuhan gereja sangat sporadis. Tujuan penelitian ini adalah hendak menunjukkan bahwa strategi keberhasilan Paulus dalam misi sangat layak dan menarik untuk diteliti dan dipelajari, agar menjadi batu penjuru bagi gereja masa kini untuk melanjutkan pola misi Paulus. Teologi misi Paulus yang berkaitan dengan pekerjaan misionaris yang dia layani saat itu. Tulisan ini mencoba menggunakan perspektif Francis Watson tentang kebebasan misi rasul Paulus. Selain itu juga didasarkan pada teori Terence L. Donaldson yang menyatakan tentang universalisme dari misi Paulus. Metodologi dalam penelitian ini akan menggunakan teori Francis Watson yang didasarkan pada kebebasan misi Paulus, serta ingin memanfaatkan teori Terence L. Donaldson yang menyatakan universalisme misi Paulus. Penelitian ini memperlihatkan bahwa melalui pertolongan Tuhan, Paulus berhasil mendirikan gereja-gereja non-Yahudi. Manfaat bagi gereja masa kini adalah bahwa Pemberitaan Injil bagi generasi era baru saat ini memiliki tantangan tersendiri karena konteksnya tidak sama lagi dengan era Paulus. Hal lain yang perlu dikaji oleh gereja era masa kini adalah semangat dan strategi Paulus dalam misinya, telah memampukannya membangun gereja-gereja bagi bangsa-bangsa lain untuk kemuliaan Kristus

    Agama Kristen dan Hoax: Peran Agama Kristen dalam Menekan Hoax

    Get PDF
    In the 4.0 era information has been transforming much faster and influencing daily interactions. Based on social recent phenomenon people were not given the interest to utilize these opportunities to look for the truth instead of prioritizing emotions, preferences to justify. This social atmosphere absolutely reduces the essential meaning of the ‘truth’ itself.  The 'truth' and 'untruth' can not be seen. The capability to analyze by the clear mind of intellect as one of the values of being a religious human has been paralyzed. The truth is claimed by like or dislike to something. How religion especially Christianity has its crucial functions as a social institution to reduce the hoax spreading behavior in its congregation will be provided in this paper. This study took palace in the HKBP Church in Bagansiapiapi, Rokan Hilir, Riau, Indonesia using the qualitative approach by taking the data from observation and interviews. The result shows found that religion by its dogma and religious leader comprehensively reduce the hoax spreading behavior in the congregation.Realitas Kemajuan Informasi 4.0 telah memengaruhi kehidupan. Berdasarkan fenomena terkini memperlihatkan bahwa orang-orang tidak lagi mau memberikan perhatian pada kebenaran yang hakiki dari sebuah informasi yang ia terima. Melainkan cenderung mengklaim kebenaran tersebut seturut dengan preferensi subjektif. Atmosfer kehidupan sosial seperti ini mereduksi perbedaan antara suka-tidak suka dan benar-salah menjadi demikian tipis. Alih-alih menjalani proses nalar yang panjang dan melelahkan, masyarakat cenderung tergesa-gesa mengklaim sesuatu yang disukainya sebagai kebenaran, sebaliknya tergesa-gesa menganggap salah atau sesat sesuatu yang dibenci/tidak disukai. Penelitian ini mencoba mengeksplorasi bagaimana agama sebagai pranata, khususnya agama Kristen memainkan peran yang krusial pada fenomena hoax. Penelitian ini dilaksanakan di Jemaat Gereja HKBP Bagansiapiapi ressort Bagansiapiapi, kabupaten Rokan Hilir, provinsi Riau-Indonesia menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan teknik wawancara dan observasi. Temuan memperlihatkan bahwa agama Kristen secara sistematis dan praksis menjalankan perannya sebagai pranata sosial melalui lembaga gereja. Peran tersebut berakar dari doktrin yang menekan prilaku penyebaran hoax. Penelitian juga memperlihatkan pemuka agama andil dalam menekan perilaku penyebar hoax bagi jemaatÂ

    Membincang Homoseksualitas: Membangun Sikap Etis Kristiani Terhadap Pelaku Homoseksual

    No full text
    Homosexuality is often seen as deviant and abnormal actions, and therefore must be avoided and avoided. Actions away from homosexuality have an impact on homosexuals getting the stigma of sinners and ultimately being marginalized by the existing social system, including the church. There is an injustice felt by homosexuals. This problem is the main focus in this article. By using qualitative methodologies, specifically by studying various literatures as material for analysis and then responding to the problems set forth in the form of narratives, the authors try to build ethical-Christian attitudes toward homosexuals. Ethically - Christianity, the practice of homosexuality is an unacceptable act, but against homosexual actors, the church must dare to accept them as brothers because their existence as human beings is the same, namely as 'imago Dei’. AbstrakHomoseksualitas seringkali dipandang sebagai tindakan yang menyimpang dan abnormal, oleh sebab itu harus dijauhi dan dihindari. Tindakan menjauhi homoseksualitas berdampak kepada kaum homoseksual mendapat stigma kaum berdosa dan akhirnya dimarginalisasikan oleh sistem kemasyarakatan yang ada, termasuk gereja. Ada ketidakadilan yang dirasakan oleh kaum homoseksual. Masalah inilah yang menjadi sorotan utama dalam artikel ini. Dengan menggunakan metodologi kualitatif, khususnya dengan memelajari berbagai literatur sebagai bahan analisis kemudian menanggapi masalah yang dituangkan dalam bentuk narasi, penulis berusaha membangun sikap etis – Kristiani terhadap pelaku homoseksualitas. Secara etis – Kristiani, praktik homoseksualitas adalah tindakan yang tidak bisa diterima, namun terhadap para pelaku (kaum) homoseksual, gereja harus berani menerima mereka sebagai seorang saudara karena keberadaan mereka sebagai manusia adalah sama, yaitu sebagai ‘gambar dan rupa Allah’

    Mencari Definisi Kehadiran Antar-Subjek yang Bermakna di Ruang Digital

    Get PDF
    We need to re-define what is presence, especially in the frequent use of digital rooms and encounters during the Covid-19 pandemic. The article argues that meaningful presence in the digital rooms could be understood through Martin Heidegger idea in the metaphysics of presence and and Jacques Derrida's critique on it. Heidegger states that Dasein must think and analyze his or her thrownness in the world presence, so the presence is not an accidental event. Dasein also builds a relationship with other Dasein. Meanwhile, through the critique of the metaphysics of presence Derrida helps us to understand the signs and traces of presence that comes to us in his discussion on speech and text. By constructing an imagined discussion between both philosophers in the context of our question, the article will build an argument that meaningful presence between subjects can be achieved in the digital space. AbstrakDalam penggunaan pertemuan di ruang digital yang menjadi salah satu mode pertemuan di masa pandemi Covid-19, kita perlu memberi definisi ulang mengenai apa itu kehadiran. Makalah ini akan berargumen bahwa kehadiran yang bermakna di ruang digital bisa dipahami melalui lensa berpikir metaphysics of presence yang diajukan oleh Martin Heidegger dan Jacques Derrida. Heidegger mengatakan bahwa kehadiran tidak boleh menjadi sebuah proses yang tidak sengaja dan harus menjadi relasi yang membuat Dasein (subjek) menyadari keterlemparannya dalam ruang dan waktu. Derrida akan membuat kita menyadari akan tanda dan jejak kehadiran yang datang kepada kita dalam pembahasannya mengenai speech (ucapan) dan text (teks). Melalui kombinasi pemikiran keduanya, tulisan ini menunjukkan bahwa kehadiran antar-subjek yang bermakna bisa dicapai dalam ruang digital

    Problematika Teologis Hubungan Istilah Gereja dan Israel

    No full text
    The terms Church and Israel are two words which have always been the subject of much debate among Christian theologians. There are those who try to separate these terms by using the argument that the two terms do have very different essences and are contradictory or two terms that are discontinuity. On the other hand there are also those who try to unify the two words with the argument that the two words are inseparable because they have the same essence or continuity. However, based on an analysis of the two terms, the same essence is found between the Church in the New Testament and Israel in the Old Testament. These two terms cannot be separated and refer to the same meaning which is God's people AbstrakIstilah Gereja dan Israel merupakan dua kata yang selalu menjadi bahan perdebatan di kalangan teolog Kristen. Ada yang berusaha memisahkan istilah tersebut dengan menggunakan argumentasi bahwa kedua istilah itu memang memiliki esensi yang sangat berbeda dan patut dipertentangkan atau dua istilah yang bersifat diskontinuitas. Di pihak lain ada juga yang berusaha untuk menyatukan kedua kata itu dengan argumentasi bahwa kedua kata tersebut memang tidak dapat dipisahkan karena memiliki esensi yang sama atau bersifat kontinuitas. Namun berdasarkan analisis terhadap kedua istilah tersebut, maka ditemukan adanya esensi yang sama antara Gereja dalam Perjanjian Baru dengan Israel dalam Perjanjian Lama. Kedua istilah ini tidak dapat dipisahkan dan merujuk kepada makna yang sama yakni umat Allah

    Implikasi Pedagogi Paulo Freire dan Antonia Harder Terhadap Tindak Pidana Perdagangan Manusia di Nusa Tenggara Timur

    Get PDF
    Current research on human trafficking in the Christian Evangelical Church in Timor (GMIT) does not currently involve an educational approach to analyze the problem. So, the aim of this article is to contribute ideas about the pattern of contextual education for GMIT in countering human trafficking cases in East Nusa Tenggara. This study is based on a literature study comparing the critical pedagogy of Paulo Freire and Antonia Harder. After that, the authors uses this pedagogy to analyze the praxis of the mission of the Christian Evangelical Church in Timor and the contextual education practices of an alternative school named Lakoat.Kujawas. Through the mission and education dialogue, the authors see that the resistance base of GMIT has not involved culture and nature as a basis for resistance. Through the critical pedagogical analysis of Freire and Antonia Harder, the author shows the relevance of Lakoat.Kujawas’s liberation pedagogy and contextual education model for the resistance process undertaken by GMIT. Finally, this research is limited to the exploration of critical pedagogy for cases of human trafficking and not involve further politic of education, intercultural theological and practical studies on the pedagogy of liberation. AbstrakPenelitian tindak pidana perdagangan orang oleh Gereja Masehi Injili di Timor sejauh ini belum melibatkan pendekatan pendidikan di dalamnya. Oleh karena itu, tujuan artikel ini ialah membedah perdagangan orang dari sudut pandang pendidikan dan memberikan kontribusi pendekatan pendidikan terhadap pengembangan perlawanan Gereja Masehi Injili di Timor kasus perdagangan orang di Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini didasarkan pada studi pustaka dengan mengandalkan pendekatan pedagogi pembebasan Paulo Freire dan Antonia Harder. Ide kedua tokoh tadi penulis pakai untuk menganalisa praksis misi perlawanan yang dikerjakan oleh Gereja Masehi Injili di Timor. Melalui tulisan ini, penulis menunjukan bahwa dengan mengembangkan praktik pendidikan, Gereja Masehi Injili di Timor mampu mengembangkan perlawanan yang berciri membebaskan, dan berdimensi multi keilmuan dengan mengandalkan konteks warga Gereja agar Gereja Masehi Injili di Timur mampu mendidik warga Gereja agar tidak lagi menjadi pelaku perdagangan orang

    Mengisahkan Ziarah Eksodus Melalui Eskterior Bangunan Gereja

    Get PDF
    The exterior of Church building is the clearest face of the community of its members because it is openly showed by anybody. It is not only evidence of the very art and historical heritage but also a content of theological narrative and re-narrative of Church role in the world. This writing will show that there is a theological narrative behind the Church building. In this writing, that theological narrative is limited to the story of the journey and the sojourn of the Israel people in the wilderness to the promised land. From the exodus narrative, I renarrate the role of the Church in the context where it lives. This writing used the theory of bottom with three elements, namely: concept, category, and proposition. The early concept is the exodus narrative according to the Bible. Catching the category, this exodus concept will be anriched by the blended with the narrative of some Church buildings in Indonesia, theology of the Old Testament and liturgy, the anthropology of culture, and the philosophy of architecture. The result of this research is renarrative of the living Church buildings. The proposition is an offer on an interrelation between Biblical narrative, a historical roll of the Church building, and the renarrative or the storytelling renewal, with the present of Church mission. Eksterior bangunan gereja adalah wajah paling jelas persekutuan anggotanya, sebab terlihat secara terbuka oleh siapa pun. Ia bukan hanya bukti mahakarya seni arsitektur dan peninggalan sejarah, tetapi juga berisi narasi teologis dan merenarasikan peran gereja di dunia. Tulisan ini ingin memperlihatkan bahwa ada narasi teologi di balik eksterior bangunan gereja. Dalam tulisan ini, narasi teologi tersebut dibatasi pada kisah perjalanan dan persinggahan umat Israel di padang gurun menuju tanah perjanjian. Dari narasi eksodus tersebut, saya merenarasikan peran gereja di dalam konteksnya.Tulisan ini menggunakan teori dari bawah dengan tiga unsur, yaitu: konsep, kategori, dan proposisi. Konsep awal adalah narasi eksodus sebagaimana kesaksian Alkitab. Untuk mencapai kategori, konsep eksodus ini akan diperkaya dengan memadukan narasi beberapa bangunan gereja di Indonesia, teologi Perjanjian Lama dan liturgi, antropologi budaya, dan filsafat arsitektur. Hasil penelitian adalah renarasi bangunan gereja yang hidup. Proposisi berupa tawaran akan hubungan-hubungan antara narasi Alkitab, guliran historis bangunan gereja berdiri, dan renarasi atau pembaruan penceritaan, dengan misi gereja kini.Â

    114

    full texts

    122

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇