BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
Not a member yet
    122 research outputs found

    Implementasi Karakteristik Pelayan Tuhan Menurut Filipi 2:1-11 bagi Guru Sekolah Minggu GPdI Ekklesia Jember

    Get PDF
    Abstract: The main problem in this research is the character of Sunday school teachers in their service. This study focuses on the characteristics of God's servants according to Philippians 2:1-11 which aims to provide an understanding of the characteristics of God's servants to the teachers of the GPdI Ekklesia Jember Sunday School. With a qualitative approach applying descriptive analysis method to the text of Philippians 2:1-11, the results obtained are three characteristics of God's servants, namely unity, example and obedience, which can be implemented in life and ministry in the field of Sunday School. Keywords: Philippians 2; Sunday School Teachers; Servant of God Abstrak: Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah karakter guru Sekolah Minggu dalam pelayanannya. Penelitian ini berfokus pada karakteristik pelayan Tuhan menurut Filipi 2:1-11 yang bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai karakteristik pelayan Tuhan kepada para guru Sekolah Minggu GPdI Ekklesia Jember. Dengan pendekatan kualitatif menerapkan metode deskriptif analisis pada teks Filipi 2:1-11 diperoleh hasil tiga karakteristik pelayan Tuhan yaitu kesatuan, keteladanan dan ketaatan, yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan dan pelayanan di bidang Sekolah Minggu. Kata kunci: Filipi 2; Guru Sekolah Minggu; Pelayan Tuha

    Liturgi Ratapan Sebagai Model Liturgi Pelayanan Kedukaan Pasca Pemakaman Dalam Konteks Pandemi Covid-19

    Get PDF
    Abstract : This article is discussed about the use of lamentation as a ritual in the mourning service liturgy after the funeral in the context of covid-19 pandemic. Lamentation as a ritual gives space for the mourning family to express their deepest feeling through ritual elements where it intertwined in the function of liturgy as a mean of congregations companion when they fave mourning condition. Keywords : lamentation, ritual, mourning, liturgy, covid-19 pandemic. Abstrak: Tulisan ini mendiskusikan penggunaan ratapan sebagai sebuah ritual dalam liturgi pelayanan kedukaan pasca pemakaman dalam konteks pandemi Covid-19. Ratapan sebagai sebuah ritual memberi ruang bagi keluarga yang berduka untuk mengekspresikan perasaan terdalamnya melalui unsur-unsur ritual dimana hal tersebut berkelindan dalam fungsi liturgi sebagai sarana pendampingan warga jemaat ketika tengah menghadapi kondisi kedukaan. Kata-kata kunci : ratapan, ritual, kondisi kedukaan, liturgi, pandemi covid-19

    Optimis, Pesimis, atau Realistis: Kajian Terhadap Perspektif Qoheleth Mengenai Kehidupan

    Get PDF
    The book of Ecclesiastes shows Qoheleth’s viewpoints that seem contradictory. On the one hand, Qoheleth looks like a pessimistic nihilist about life under the sun, which is judged in vain because everything leads to death. However, on the other hand, Qoheleth also looks optimistic with his advice to enjoy pleasure through eating, drinking, and joyful living. Therefore, it is not surprising that Qoheleth was once considered a neurotic who doubted himself. However, recent studies show that Qoheleth deliberately uses contradictions as complex irony to invite readers to look at the realities of life and reflect on that life is meaningful because of its purpose, significance, and coherence. By referring to the view that Qoheleth is teaching the meaning of life, this paper aims to show Qoheleth’s perspective on life that is not pessimistic or optimistic but realistic. By using the method of in-textuality, inner-textuality, and inter-textuality analysis, it is concluded that Qoheleth views that although death is inevitable, it should not be treated with pessimism but by fearing God, carrying out His commands, and enjoying His blessings like Adam. and Eve in the garden of Eden, because God will bring every human act to the final judgment and there is life after death.AbstrakKitab Pengkhotbah memperlihatkan cara pandang Qoheleth yang tampak kontradiktif. Di satu sisi Qoheleth terlihat seperti seorang nihilis yang pesimistis terhadap kehidupan di bawah matahari, yang dinilainya sia-sia karena semua berujung pada kematian. Namun di sisi lain, Qoheleth juga terlihat optimis dengan nasihatnya untuk menikmati kesenangan melalui makan, minum dan bersukaria. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika Qoheleth pernah dianggap seorang neurotik yang meragukan dirinya sendiri. Namun demikian, studi terkini menunjukkan bahwa Qoheleth sengaja menggunakan kontradiksi sebagai ironi kompleks untuk mengajak pembacanya melihat realitas kehidupan dan merenungkan bahwa hidup itu bermakna karena ada tujuan, signifikansi dan koherensinya. Dengan mengacu kepada pandangan bahwa Qoheleth sedang mengajarkan makna kehidupan maka tulisan ini bertujuan untuk memperlihatkan perspektif Qoheleth mengenai kehidupan yang bukan pesimis atau optimis, melainkan realistis. Dengan menggunakan metode analisis in-textuality, inner-textuality dan inter-textuality dihasilkan kesimpulan bahwa Qoheleth memandang meskipun kematian tidak terhindarkan, tidak semestinya disikapi dengan pesimistis melainkan dengan takut akan Tuhan, melakukan perintah-perintah-Nya, dan menikmati berkat-Nya seperti Adam dan Hawa di taman Eden, karena Allah akan membawa setiap perbuatan manusia ke pengadilan akhir dan ada kehidupan sesudah kematia

    Signifikansi YouTube Sebagai Medium Pewartaan Injil bagi Generasi Milenial di Indonesia

    Get PDF
    The rapid development of information technology has given rise to a variety of social media platforms that can connect many people from all walks of life, and in all places quickly. In various studies show that most users of the platform have the millennial generation. Freedom and speed to access it is a consideration for the use of social media as a medium for proclaiming the gospel. YouTube as a social media platform, very popular with millennials, can help evangelists in communicating it attractively, creatively, interactively, and inspiratively. The problem with this research is how is the significance of YouTube as a medium for evangelism for the millennial generation in Indonesia? While the purpose of this study is to explain the significance of YouTube as a medium for proclaiming the gospel for the millennial generation in Indonesia. In this study, it was found that basically, YouTube is significant as a medium for proclaiming the gospel for the millennial generation in Indonesia because it is in accordance with the context of those who like social media platforms that are attractive, creative, interactive, and inspiring.Perkembangan teknologi informatika yang begitu cepat memunculkan berbagai platform media sosial yang dapat menghubungkan banyak orang dari segala lapisan, dan di segala tempat secara cepat. Dalam berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengguna terbanyak dari platform tersebut ada generasi milenial. Kebebasan dan kecepatan untu mengaksesnya, menjadi pertimbangan pemanfaatan media sosial sebagai medium pewartaan Injil. YouTube sebagai salah satu platform  media sosial, sangat digemari oleh generasi milenial, dapat menolong pewarta injil dalam mengkomunikasikannya secara atraktif ,  kreatif, interatif dan inspiratif. Masalah penelitian ini adalah bagaimanakah signifikansi YouTube sebagai medium pewartaan Injil bagi generasi milenial di Indonesia? Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan signifikansi YouTube sebagai medium pewartaan Injil bagi generasi milenial di Indonesia. Pada penelitian ini ditemukan bahwa pada dasarnya YouTube  signifikan sebagai medium pewartaan Injil bagi generasi milenial di Indonesia karena sesuai dengan konteks mereka yang menggemari platform media sosial yang atraktif,  kreatif, interatif dan inspiratif.Â

    Kepercayaan Kepada Debata Tiga Batu Tungku Sebagai Pola Kepercayaan Untuk Lebih Memahami Ajaran Allah Tritunggal Yang Kontekstual Di Mamasa

    Get PDF
    The author understands that the Debata Tiga Batu Tungku belief system in the To Salu tribe in Mamasa can be an interesting instrument (which the authors call "bridges") for understanding the system of teaching or doctrine of the Triune God in Christianity. The author is very sure that Debata Tiga Batu Tungku is a symbol of the presence of the same God in Christianity for the Mamasa context. First, the author examines the Debata Tiga Batu Tungku belief system and its meaning for the life of the To Salu tribe in Mamasa. Second, the writer traces the responses of the evangelists who were present and brought the teachings of the Triune God in that context. Third, analyze the Debata Tiga Furnace teaching system with the perspective of relevant theologians. The research method in this paper is qualitative. The author collects the data needed through the study of literature relating to the doctrine of the Triune God, contextual theology and so forth. Hold in-depth observations accompanied by interviews with native people. The author finds an understanding of the contextual, natural God from the perspective of the Debata Tiga Batu Tungku doctrine system. God's attributes in the Bible are clearly illustrated through the analysis of the intended doctrine system. AbstrakPenulis memahami bahwa sistem kepercayaan Debata Tiga Batu Tungku pada suku To Salu di Mamasa dapat menjadi instrumen yang menarik (yang penulis sebut "jembatan") untuk memahami sistem pengajaran atau doktrin Dewa Tritunggal dalam agama Kristen. Penulis sangat yakin bahwa Debata Tiga Batu Tungku adalah simbol kehadiran Tuhan yang sama dalam agama Kristen untuk konteks Mamasa. Pertama, penulis meneliti sistem kepercayaan Debata Tiga Batu Tungku dan artinya bagi kehidupan suku To Salu di Mamasa. Kedua, penulis menelusuri tanggapan para penginjil yang hadir dan membawa ajaran-ajaran Allah Tritunggal dalam konteks itu. Ketiga, menganalisis sistem pengajaran Debata Tiga Tungku dengan perspektif para teolog yang relevan. Metode penelitian dalam tulisan ini adalah kualitatif. Penulis mengumpulkan data yang dibutuhkan melalui kajian literatur yang berkaitan dengan doktrin Allah Tritunggal, teologi kontekstual dan lain sebagainya.  Mengadakan observasi mendalam disertai wawancara dengan pihak pribumi. Penulis menemukan pemahaman tentang Allah Tritunggal yang kontekstual dan alami dari sudut pandang sistem doktrin Debata Tiga Batu Tungku. Atribut Allah dalam Alkitab dengan jelas diilustrasikan melalui analisis sistem doktrin yang dimaksud.Â

    Interseksionalitas Pengalaman Perempuan Toraja: Sebuah Konstruksi Teologi Feminis Melalui Ritus Ma’ Bua’ Kasalle

    Get PDF
    This paper discusses the Toraja ritual, namely ma' bua' kasalle as a life thanksgiving ceremony which then becomes the basis for offering a feminist theological perspective, regarding the intersectionality of women's experiences in ritual. The method used in this article is a qualitative method with an analytical description approach that brings together Ronald L. Grimes' thoughts on ritual as a bodily experience with Denise L. Carmody's thoughts on women's experiences rooted in the experience of the Christian faith. The aim is to provide a feminist theological perspective that the intersectionality in the experience of Toraja women results in an attempt at equality in cultural rituals such as ma' bua' kasalle. The results show that the intersectionality of the experiences of Toraja women occurs through the first pa'gellu' dance, the second group of nani and simbong songs and the third is the placement of the fallen women who are in the tower. The three representations have created a dynamic and inclusive space for action, language, and relations. The interaction between the experiences of Toraja women is a source of self-empowerment and community. The thesis statement of this paper is that the intersectionality of the Toraja women's experience means a social interaction that involves the role of women with all their existence including faith, perspective, and presence as an effort to equal women in culture.Tulisan ini membahas tentang ritual Toraja yaitu ma' bua' kasalle sebagai upacara syukuran kehidupan yang kemudian menjadi dasar untuk menawarkan perspektif teologi feminis, tentang interseksionalitas pengalaman perempuan dalam ritual. Metode yang digunakan dalam artikel ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan deskripsi analitis yang mempertemukan pemikiran Ronald L. Grimes tentang ritual sebagai pengalaman tubuh dengan pemikiran Denise L. Carmody tentang pengalaman perempuan yang berakar pada pengalaman iman Kristen. Tujuannya adalah untuk memberikan perspektif teologis feminis bahwa interseksionalitas dalam pengalaman perempuan Toraja menghasilkan upaya kesetaraan dalam ritual budaya seperti ma' bua' kasalle. Hasil penelitian menunjukkan interseksionalitas pengalaman perempuan Toraja terjadi melalui pertama tari pa'gellu', kedua kelompok nyanyian nani dan simbong dan ketiga adalah penempatan tumbang perempuan yang berada di menara. Ketiga representasi tersebut telah menciptakan ruang aksi, bahasa dan relasi yang dinamis dan inklusif. Interaksi antar pengalaman perempuan Toraja menjadi sumber pemberdayaan diri dan komunitas. Pernyataan tesis makalah ini ialah interseksionalitas pengalaman perempuan Toraja berarti suatu interaksi sosial yang melibatkan peran perempuan dengan segala keberadaan dirinya termasuk iman, perspektif dan kehadirannya sebagai upaya kesetaraan perempuan dalam budaya

    Pemberdayaan Kaum Miskin Sebagai Panggilan Gereja terhadap Masalah Kemiskinan

    Get PDF
    This article aims to analyze empowerment measures as a church calling on the poverty problems faced by the people.These problems cover various aspects of life, namely education, health, economy and infrastructure including transportation, housing and drinking water.This research uses qualitative methods with interview techniques, observation, documentation, and literature study.The results of the study found that the people of Siahari hamlet experienced poverty in absolute and relative terms.Therefore, in the task and calling of the church, GPM is called to empower people by referring to the theological foundation of Christian faith. In addition, the church can also build cooperation with the government so that empowerment actions can be carried out holistically and produce change for them. AbstrakArtikel ini bertujuan menganalisis tindakan pemberdayaan sebagai panggilan gereja terhadap masalah kemiskinan yang dihadapi oleh umat. Masalah tersebut mencakup berbagai aspek kehidupan, yakni pendidikan, kesehatan, ekonomi dan infrastruktur yang meliputi transportasi, perumahan, dan air minum. Penelitianini menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara, observasi, dokumenasi, dan studi pustaka.Hasil penelitian menemukan bahwa masyarakat dusun Siahari mengalami kemiskinan secara absolut dan relatif.Oleh sebab itu, dalam tugas dan panggilan gereja maka GPM terpanggil untuk memberddayakan umat dengan mengacu pada landasan teologis iman Kristen. Selain itu, gereja juga dapat membangun kerja sama dengan pemerintah agar tindakan pemberdayaan dapat dilakukan secara holistik dan menghasilkan perubahan bagi mereka.Â

    Gereja Profetik Menurut Paulo Freire

    Get PDF
    This paper aims to elaborate Paulo Freire's thoughts on the prophetic church and its relevance for the church today. The method used to achieve the goal is library research. In particular, it is focused on the thoughts of one educational figure, Paulo Freire, who contributed to his thoughts on liberation education by the church in the prophetic church concept. The conclusion of this paper is that education in the church is an important means of bringing about change in society. Consientization by the church is carried out in the spirit of raising the critical awareness of the congregation.    Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk mengelaborasi pemikiran Paulo Freire tentang gereja yang profetik dan relevansinya bagi gereja masa kini. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan adalah penelitian kepustakaan (library research). Secara khusus difokuskan pada pemikiran salah satu tokoh pendidikan, Paulo Freire, yang memberi sumbangan pemikiran mengenai pendidikan pembebasan oleh gereja dalam konsep gereja yang profetik. Kesimpulan tulisan ini adalah pendidikan dalam gereja merupakan sarana penting dalam mewujudkan perubahan dalam masyarakat. Konsientisasi oleh gereja dilakukan dengan semangat menumbuhkan kesadaran kritis jemaat

    Gereja dan Gerakan Anti Vaksin: Sebuah Kajian Netnografi Komunitas Keagamaan Virtual

    Get PDF
    The development of technology has created a new space for social interaction mediated by the internet (computer-mediated communications). Space which built on an agreement and shared understanding among the members. The author conducted research on virtual religious group expressing an opposite opinion to the general belief of the church, namely rejects COVID-19 vaccines. This research aims to find the religious reasons behind their exception on the COVID-19 vaccine. The research method applied in this study is qualitative with the netnography research approach. This approach was conducted to study culture and online community (cyberspace) using social interaction mediated by computer/internet. After underwent sets of research procedures, the author found the religious argumentations used to reject the vaccine, namely: the cares of an adverse effect of the vaccine; hesitancy of vaccine test procedures; moral and ethical objection; an intact of faith expression; religious - apocalyptic mindset; and the belief of global elite conspiracy.Perkembangan teknologi telah menciptakan ruang interaksi sosial baru yang dimediasi oleh internet (computer mediated communications). Ruang ini dibangun atas kesepakatan maupun kesepahaman antar anggotanya. Penulis melakukan penelitian terhadap kelompok virtual keagamaan yang mengungkapkan pemikiran yang berlawanan dengan keyakinan gereja pada umumnya, yaitu menolak vaksin COVID-19. Riset ini bertujuan untuk menemukan alasan-alasan keagaaman dibalik penolakan mereka terhadap vaksin COVID-19. Metode Penelitian yang digunakan di dalam kajian ini adalah kualitatif dengan pendekatan netnografi. Pendekatan ini dilakukan untuk mempelajari budaya dan komunitas daring (cyberspace) yang memanfaatkan interaksi sosial yang termediasi oleh komputer/internet. Setelah melewati serangkaian prosedur penelitian, penulis menemukan argumentasi-argumentasi keagamaan yang digunakan untuk menolak vaksin, yaitu: kekhawatiran terhadap efek negatif vaksin, keraguan dalam prosedur uji vaksin, keberatan moral dan etis, ekspresi iman yang utuh, pola pikir religious - apokaliptik, dan keyakinan tentang konspirasi elit global

    Pemikiran Nicholas of Cusa Tentang Coincidentia Oppositorum dan Sumbangsihnya Dalam Ilmu Pengetahuan

    Get PDF
    Nicholas of Cusa. Cusa's thinking has undergone several changes in several of his works, in connection with the influences of negative theology, humanism, scholasticism, nominalism, and the philosophy of Neo-Platonism. Nevertheless, Coincidentia Oppositorum is still a central theme in all of Cusa's work. Starting in the 18th century until the present, thinkers believe that Cusa's thoughts on the Coincidentia Oppositorum deserve to be reappointed as an academic discussion. Some thinkers have even linked Cusa's theological concept with secular sciences. Based on this background, this paper was written to describe Cusa's thoughts on the Coincidentia Oppositorum, then analyze the contribution of these thoughts to the integration of theology with sciences such as mathematics, science, psychology, and philosophy. The thesis of this paper is that Cusa's thought regarding the Coincidentia Oppositorum is still relevant to be discussed today, it can even provide a unio oppositorum between theology and other sciences. AbstrakKonsep Coincidentia Oppositorum adalah tema utama dalam pemikiran Nicholas of Cusa. Pemikiran Cusa sempat mengalami beberapa perubahan dalam beberapa karyanya, sehubungan dengan pengaruh-pengaruh teologi negatif, humanisme, skolastisisme, nominalisme, dan filsafat Neo-Platonisme. Namun demikian, Coincidentia Oppositorum masih merupakan tema sentral dalam semua karya Cusa. Dimulai pada abad ke-18 sampai saat ini, para pemikir meyakini bahwa pemikiran Cusa mengenai Coincidentia Oppositorum layak diangkat kembali sebagai sebuah pembahasan akademik. Beberapa pemikir bahkan menghubungkan konsep teologis Cusa ini dengan ilmu-ilmu sekuler. Berdasarkan latar belakang tersebut, paper ini dibuat untuk mendeskripsikan pemikiran Cusa mengenai Coincidentia Oppositorum, kemudian menganalisa sumbangsih pemikiran tersebut bagi integrasi teologi dengan ilmu-ilmu pengetahuan seperti matematika, sains, psikologi, dan filsafat. Tesis paper ini adalah pemikiran Cusa mengenai Coincidentia Oppositorum masih relevan diperbincangkan pada masa kini, bahkan dapat memberikan unio oppositorum antara teologi dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya.Kata Kunci: Coincidentia Oppositorum, Nicholas of Cusa, teologi negatif, teologi mistisÂ

    114

    full texts

    122

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇