BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
Not a member yet
122 research outputs found
Sort by
Teologi Fagogoru: Mewujudkan Perdamaian Berbasis Budaya
Abstract: This paper analyzes contextual theology based on peace through the philosophical culture of Fagogoru in Lelilef Sawai village and Lelilef Woebulen village, Central Halmahera district. In this study, the method used a qualitative method with interview techniques, observation and literature study. The results of the study found that the values contained in Fagogoru's philosophy were unity, brotherhood, and harmony. These three values are come from life practices that appear in three forms, namely babari or mutual cooperation activities, famasie or acts of loving each other and faderere or acts of helping each other. Based on this, GMIH can elaborate Fagoogoru's philosophical culture in the light of Christian faith as the basis for theology in society. In carrying out its role as a social institution, GMIH is called upon to care for the interfaith brotherly relations formed through the Fagogoru Philosophy culture as the basis of strength to build and apply the theology of peace in common life. Thus, the theology of peace based on Fagogoru's philosophy is not only at the conceptual level but is come from the reality of people's lives.Keyword: Fagogoru, GMIH, Lelilef Sawai, Lelilef Woebulen, Peace. Abstrak: Tulisan ini menganalisis tentang teologi kontekstual yang berbasis perdamaian melalui budaya falsafah Fagogoru di desa Lelilef Sawai dan desa Lelilef Woebulen, Kecamatan Halmahera Tengah. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan ialah metode kualitatif dengan teknik wawancara, observasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menemukan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah Fagogoru ialah persatuan, persaudaraan, dan kerukunan. Ketiga nilai ini lahir dari praktik hidup yang nampak dalam tiga bentuk, yakni babari atau kegiatan gotong royong, famasie atau tindakan saling menyayangi dan faderere atau tindakan saling menolong. Berdasarkan hal inilah, GMIH dapat mengelaborasikan budaya falsafah Fagoogoru dalam terang iman Kristen sebagai dasar berteologi di tengah masyarakat. Dalam melakukan peran sebagai lembaga sosial, GMIH terpanggil untuk merawat relasi-relasi persaudaraan antaragama yang terbentuk melalui budaya Falsafah Fagogoru sebagai dasar kekuatan untuk membangun dan menerapkan teologi perdamaian dalam kehidupan bersama. Dengan demikian, teologi perdamaian berbasis falsafah Fagogoru tidak hanya sekedar pada tataran konseptual melainkan lahir dari realitas kehidupan masyarakat.Kata Kunci: Fagogoru, GMIH, Lelilef Sawai, Lelilef Woebulen, Perdamaian
MERESPONS ATEISME BARU MENURUT PERSPEKTIF TEOLOGI LOGOS DARI YUSTINUS MARTIR, IRENAEUS, DAN KLEMEN ALEXANDRIA
Abstract: This article is a response to the existence of new atheism in the midst of present day reality of religious pluralism. The response manifests itself in a review on Logos theology according to three early patristic thinkers: Justin Martyr (Logos spermatikos), Irenaeus of Lyons (Logos emphutos), and Clement of Alexandria (Logos protreptikos). Through the review, this article will imaginatively map out each of the early patristic thinkers’s response to new atheism. Then, this article will evaluate all these responses to formulate a basis that Christianity can use to face new atheism. Keywords: Logos emphutos, Logos protreptikos, Logos spermatikos, New atheism.  Abstrak: Artikel ini merespons eksistensi ateisme baru di tengah realitas keagamaan plural masa kini. Respons tersebut mewujud pada tinjauan terhadap teologi Logos yang diusung oleh tiga tokoh patristik awal: Yustinus Martir (Logos spermatikos), Irenaeus dari Lyons (Logos emphutos), dan Klemen dari Alexandria (Logos protreptikos). Melalui tinjauan tersebut, artikel ini akan secara imajinatif memetakan respons tiap-tiap tokoh patristik awal terhadap ateisme baru. Kemudian, artikel ini akan mengevaluasi ketiga respons tersebut demi merumuskan sebuah dasar bagi kekristenan dalam menghadapi ateisme baru. Kata Kunci: Ateisme baru, Logos emphutos, Logos protreptikos, Logos spermatikos.Artikel ini merespons eksistensi ateisme baru di tengah realitas keagamaan plural masa kini. Respons tersebut mewujud pada tinjauan terhadap teologi Logos yang diusung oleh tiga tokoh patristik awal: Yustinus Martir (Logos spermatikos), Irenaeus dari Lyons (Logos emphutos), dan Klemen dari Alexandria (Logos protreptikos). Melalui tinjauan tersebut, artikel ini akan secara imajinatif memetakan respons tiap-tiap tokoh patristik awal terhadap ateisme baru. Kemudian, artikel ini akan mengevaluasi ketiga respons tersebut demi merumuskan sebuah dasar bagi kekristenan dalam menghadapi ateisme baru.Kata Kunci: Ateisme baru, Logos emphutos, Logos protreptikos, Logos spermatikos
Rekonstruksi Apokaliptis Antara Wahyu 22 1-5 Dengan Tradisi Kebo-Keboan
Abstract: "Kebo-keboan" tradition has been widely discussed in various journals nowadays. But no one has studied the gospel bridge from Christian apocalyptic literature with "kebo-keboan" tradition. The author asked, can the apocalyptic concept in Revelation 22:1-5 be a gospel bridge for the “kebo-keboan†tradition? The author uses Paul Hiebert's critical contextualization concept as a research methodology. This methodological procedure consist of cultural analysis, Bible analysis, critical responses, and making new contextualization practices. From the cultural and Bible analysis, the author compares the vision receiver, apocalyptic environment, vision, and trancendent person. The author gives two critical response. The trancendent person replaced by God and the Lamb. The vision receiver, apocalyptic environment, and the Using community’s vision is acceptable. The author proposes three things for the new contextualization practice. The sowing seeds practice can be seen as a consumnation from God through tree and water of life. Offerings can be interpreted as an expression of gratitude for God as He lifted the curse. Then the dependence and eminence of Dewi Sri are diverted to God. In conclusion, the writer proves that the apocalyptic concept in Revelation 22:1-5 can be a gospel bridge for the “kebo-keboan†tradition. Keywords: Revelation 22:1-5, apocalyptic, kebo-keboan tradition, and critical contextualization Abstrak: Tradisi “kebo-keboan†ramai diperbincangkan dalam banyak jurnal kekinian. Namun belum ada yang mengkaji jembatan injil dari literatur apokaliptik Kristen dengan tradisi “kebo-keboanâ€. Penulis bertanya, apakah konsep apokaliptik dalam Wahyu 22:1-5 dapat menjadi jembatan injil bagi tradisi “kebo-keboanâ€? Penulis memakai konsep kontekstualisasi kritis Paul Hiebert sebagai metodologi penelitian. Prosedur metodologi ini yaitu analisa kultur, analisa Alkitab, memberi respons kritis, serta membuat praktik kontekstualisasi baru. Dari analisa kultur dan Alkitab, penulis membandingkan sosok pahlawan yang menerima visi, lingkungan apokaliptik, visi yang diterima, dan pribadi transenden yang disembah. Penulis memberikan dua respon kritis. Respons pertama adalah pribadi transenden yang dipercayai masyarakat Using perlu diganti dengan Allah dan Anak Domba. Respons kedua adalah sosok pahlawan, lingkungan apokaliptik, dan visi yang diterima masyarakat Using dapat diterima. Penulis mengusulkan tiga hal dalam praktik yang diperbaharui. Penyemaian bibit dapat dilihat sebagai pemulihan Allah melalui pohon dan air kehidupan. Sesaji dapat dimaknai sebagai ungkapan syukur atas kutukan yang telah diangkat oleh Tuhan. Lalu kebergantungan dan keutamaan dari Dewi Sri dialihkan kepada Allah. Pada akhirnya penulis membuktikan bahwa konsep apokaliptik dalam Wahyu 22:1-5 dapat menjadi jembatan injil bagi tradisi kebo-keboan. Kata Kunci: Wahyu 22:1-5, apokaliptik, tradisi kebo-keboan, kontekstualisasi kritisÂ
Analisis Komparatif Eklesiologi Tata Gereja 2010 Dan 2021 Gereja Kristen Pemancar Injil
Abstract: This article is the result of research on the comparison of the ecclesiology of the 2010 and 2021 Church Order of the Evangelist Christian Church (Gereja Kristen Pemancar Injil/GKPI). By using qualitative research methods through library research, the researcher does a comparative analysis of the ecclesiological reasons the GKPI pioneer separated from the Indonesian Christian Gospel Tabernacle Church (Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia/KINGMI) in 1959 and the differences between the ecclesiology of the 2010 and the 2021 GKPI Church Orders. The results of the study show the following. First, the ecclesiological reason for the GKPI pioneer separating from KINGMI was to develop an ecclesiology beyond KINGMI’s docetic tendencies and develop a holistic-empirical ecclesiology that answers the life challenges of congregation members and the peoples of North and East Kalimantan. Second, the 2010 GKPI church order ecclesiology, which has a “presbyterial-synodal†pattern with bureaucratic and feudal characteristics, tends to weaken the autonomy of the congregations in the GKPI Synod. Third, the 2021 Church Order ecclesiology develops a synodal-presbyterial institutional pattern that prioritizes equal and democratic relations between congregations and between congregations and synod. Fourth, both the ecclesiology of the 2010 Church Order and the 2021 Church Order do not sufficiently consider the culture of the Dayak people. Fifth, both the 2010 and 2021 Church Order pay enough attention to the Church’s social work in the midst of the North and East Kalimantan’s society. However, this still needs to integrate church order, liturgy, understanding of faith and the main tasks of the church’s social work so that the presence of the GKPI can become the ritual body of Christ as well as the social body of Christ.  Keywords: ecclesiology, Church Order, GKPI, contextual.  Abstrak: Artikel ini adalah hasil penelitian tentang perbandingan eklesiologi Tata Gereja 2010 dan 2021 Gereja Kristen Pemancar Injil (GKPI). Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui jenis penelitian kepustakaan peneliti melakukan analisis komparatif tentang alasan eklesiologis perintis GKPI memisahkan diri dari Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia (KINGMI) tahun 1959 dan perbedaan eklesiologi Tata Gereja 2010 dan 2021 GKPI. Hasil penelitian ini memperlihatkan hal-hal sebagai berikut. Pertama, alasan eklesiologis perintis GKPI memsahkan diri KINGMI tahun 1959 adalah panggilan Injili untuk melampaui kecenderungan eklesiologi dokestis KINGMI dan mengembangkan suatu eklesiologi holistik-empirik yang menjawab tantangan kehidupan sehari-hari warga jemaat dan masyarakat Kalimantan Utara dan Timur pada saat itu. Kedua, eklesiologi Tata Gereja 2010 yang berpola kelembagaan sinodal-presbiterial berciri birokratis dan feudal cenderung melemahkan kemandirian jemaat-jemaat dalam Sinode GKPI. Ketiga, eklesiologi Tata Gereja 2021 yang mengembangkan pola kelembagaan presbyterial-sinodal yang mengedepankan hubungan setara dan demokrats antarjemaat dan antara jemaat dan sinode. Keempat, baik eklesiologi Tata Gereja 2010 maupun Tata Gereja 2021  tidak cukup mempertimbangkan budaya orang Dayak. Kelima, baik Tata Gereja 2010 maupun 2021 cukup memberi perhatian pada tugas/karya sosial Gereja di tengah-tengah masyarakat. Namun perhatian ini masih perlu mengintegrasikan tata gereja, liturgi, pemahaman iman dan pokok-pokok tugas/karya sosial gereja sehingga dapat menjadikan kehadiran GKPI menjadi Gereja publik yang meragakan tubuh ritual Kristus sekaligus tubuh sosial Kristus.  Kata-kata Kunci: eklesiologi, Tata Gereja, GKPI, Kontekstual.   Â
Gambar Allah yang Problematis: Meninjau Ulang Gambar Allah pada Kitab Suci Ibrani
Abstract: This article is written with the understanding that the Hebrew Bible records, in general, the testimony of God’s image in both senses, good and bad ways (cruel, violent). This article aims to identify several texts in the Hebrew Bible that depict God in a violent manner. Because it has the potential to legitimate and encourage violence, God’s image is viewed as problematic and troubling. Three attempts, at least, have been constructed to deal with the problematic image of God. Firstly, defending the image of God by stating that everything God does is for a good thing. Secondly, utilizing the method of interpretation claiming that God does not really enforce violence. Thirdly, acknowledging the problematic image of God as part of God, protesting the image, and arguing that humans do not imitate the violent God. By employing the critical analysis method on a number of texts, this article revisits the three attempts to interpret the problematic image of God. In conclusion, this study proposes a reading principle for dealing with the problematic image of God: befriend the problematic image of God while protesting against it. In this way, readers avoid justifying and imitating the violent image of God. Keywords: imitating God, Interpretations, Problematic Image of God, Hebrew Bible, testimony. Abstrak: Naskah ini datang dengan kesadaran bahwa Kitab Suci Ibrani mencatat, dalam pengertian yang umum, kesaksian tentang gambar Allah yang baik dan tidak (kejam, penuh kekerasan). Naskah ini bertujuan untuk mengindentifikasi sejumlah teks dalam Kitab Suci Ibrani yang menarasikan mengenai gambar Allah yang berkonotasi kekerasan. Gambar Allah itu dipandang problematis dan meresahkan karena berpotensi untuk melegitimasi dan mendukung kekerasan. Setidaknya, ada tiga usaha yang telah dikonstruksi untuk berurusan dengan gambar Allah yang problematis. Pertama, membela gambar Allah dengan menyatakan bahwa semua yang Allah lakukan demi kebaikan. Kedua, menggunakan metode tafsir yang mengeklaim bahwa Allah tidak sungguh memberlakukan kekerasan. Ketiga, mengakui gambar Allah yang problematis sebagai bagian dari Allah dan memprotes gambar Allah itu sembari menyatakan bahwa manusia tidak mengimitasi gambar Allah yang berkonotasi kekerasan. Dengan metode analisis kritis pada sejumlah teks, naskah ini meninjau ulang ketiga usaha menginterpretasi gambar Allah yang problematis tersebut. Sebagai kesimpulan, naskah ini menawarkan sebuah prinsip membaca untuk berurusan dengan gambar Allah yang problematis: bersahabat dengan gambar Allah yang problematis sembari memprotesnya. Dengan demikian, para pembaca terhindar dari menjustifikasi dan mengimitasi gambar Allah yang berkonotasi kekerasan. Kata Kunci: Allah yang problematis, imitasi Allah, kesaksian, Kitab Suci Ibrani, tafsir
Kepemimpinan Yang Berasal Dari Allah: Elaborasi Narasi Fabel Yotam Dalam Hakim-Hakim 9
Abstract: This article interprets the story of Israel's politics before having a king, with the main focus on Abimelek who viciously seized the kingdom through violence and fratricide. The story of Abimelek who commits violence and murder is finally cursed by Jotham who escapes murder through the Fable. Jotham's fable, with its political caricature, describes the proud, selfish, and dangerous thorn bush (Abimelek) as an act of leadership that does not come from God. With a narrative criticism approach, this article aims to reveal the points of continuity and contrast in these episodes to find the main motive of the Fable of Jotham. Keyword: Judges 9, Yotam Fable’s, Abimelek, Leadership from God Abstrak: Artikel ini menafsirkan kisah politik bangsa Israel sebelum memiliki seorang raja, dengan fokus utama pada Abimelek yang dengan kejam merebut kerajaan melalui kekerasan dan pembunuhan saudara. Kisah Abimelek yang melakukan kekerasan dan pembunuhan akhirnya di kutuk oleh Yotam yang luput dari pembunuhan melalui fabel. Fabel Yotam, dengan karikatur politiknya, menceritakan bahwa semak duri yang sombong, mementingkan diri sendiri, dan berbahaya (Abimelek) sebagai sebuah tindakan kepemimpinan yang tidak berasal dari Allah. Dengan pendekatan kritik naratif, artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan poin-poin kontinuitas dan kontras dalam episode-episode ini untuk menemukan motif utama dari fabel Yotam tentang kepemimpinan yang sesuai prinsip Alkitab yaitu pemimpin harus berasal dari Allah. Kata Kunci: Hakim-Hakim 9, Fabel Yotam, Abimelek, Kepemimpinan dari Alla
Kebermaknaan Peran Orang Tua Bagi Pendidikan Iman Anak (Upaya Keluarga Katolik Memenuhi KHK Kanon 1136 Selama Pandemi COVID-19)
Abstract: The focus of this study is to explore, initiate and identify the responsibilities and roles of Christian parents in children's education during the COVID-19 pandemic in the legal review of the Catholic Church canon 1136. The coronavirus that has hit human life indeed demands and changes all orders in human life, one of which is in the world of education. Usually, formal education of children is carried out in schools. This time, the children’s formal education of the children is carried out from their homes using the online method. This phenomenon certainly has an impact and demands the creativity of parents in seeking education for children and  children’s creativity of children in exploring every science that is learned. The methodology used in this study is descriptive qualitative with a phenomenological and interpretive approach to the text, specifically, canon 1136. This study found that children have the right to be nurtured and educated by their parents because one form of the Catholic marriage agreement is awareness, will, responsibility and obligation in seeking and ensuring a good education for children. Education taught by people includes physical, social, cultural, moral, and religious education. Keywords: good of offspring (bonum prolis), institution of matrimony, responsible procreation Abstrak: Fokus studi ini ialah menggali, menggagas dan mengidentifikasi tanggung jawab serta peran orang tua Katolik dalam pendidikan anak selama pandemi  COVID-19 dalam tinjauan Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik kan.1136. Virus corona yang melanda kehidupan umat manusia memang menuntut serta mengubah segala tatanan dalam kehidupan manusia, salah satunya dalam dunia pendidikan. Biasanya, pendidikan formal anak dilaksanakan di sekolah. Kali ini, pendidikan formal anak dijalankan dari rumah masing-masing dengan metode daring/online. Fenomena ini tentunya berdampak dan menuntut kreativitas orang tua dalam mengusahakan pendidikan bagi anak dan kreativitas anak dalam mendalami setiap ilmu yang dipelajari. Metodologi yang digunakan dalam studi ini ialah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologis dan interpretif terhadap teks secara khusus kan.1136. Studi ini menemukan bahwa anak memiliki hak agar dibina, dididik oleh orang tua sebab salah satu bentuk kesepakatan nikah suami-istri Katolik adalah kesadaran, kehendak, tanggung jawab dan kewajiban dalam mengusahakan serta memastikan pendidikan yang baik bagi anak-anak. Pendidikan yang diajarkan oleh orang meliputi pendidikan fisik, sosial, kultural, moral dan religius. Kata Kunci: kesejahteraan anak (bonum prolis), lembaga perkawinan, tanggung jawab berkeluarg
Merangkul Ibadah Virtual/Online: Melihat Keniscayaan Pengalaman Transendensi dalam Ruang Digital
Ibadah virtual/online bukan hanya sebagai pengganti ibadah onsite di tengah pandemi ini atau sebagai ibadah yang kurang sakral dari yang seharusnya atau yang memberikan dampak buruk karena media digital yang digunakan. Itu sebabnya, respons pragmatis tidak cukup untuk merangkul ibadah virtual/online, melainkan gereja perlu merangkulnya dengan pemahaman bahwa pengalaman esensial, yaitu pengalaman transendensi, sesungguhnya merupakan sebuah keniscayaan dalam ibadah virtual/online. Keniscayaan tersebut dilihat dari dua hal, pertama, sifat imanen dan mediated dari teori pengalaman transendensi selama ini yang selaras dengan sifat ibadah virtual/online itu sendiri. Kedua, keniscayaan tersebut ditinjau dari refleksi terhadap seni digital intermedia teori Elwell Sage. Pengalaman esensial justru terjadi ketika komposisi digital secara sengaja “dikorbankan†untuk digabungkan dengan objek nyata yang rentan dengan kesalahan, untuk dihubungkan kepada pengalaman liminal, atau pengalaman ambang antara keterbatasan dan ketidakterbatasan. Sekali lagi, ini selaras dengan sifat pengalaman transendensi dalam ibadah. Rangkulan gereja kepada ibadah virtual/online dengan pemahaman keniscayaan tersebut dapat mendorong gereja untuk berefleksi dan bertindak lebih dalam di konteks yang aktual. Abstract: An essential experiences in virtual worship is an inevitability experience. This article aims to see the inevitability of transcendence experiences in virtual worship. First, based on a study of transcendence experiences in worship and the characteristics of virtual spaces, it appears that transcendences experiences have a mediative nature that involves several manifestations. Thus, what is mediated through an onsite worship can also be mediated through virtual worship. Second, J. Sage Elwell’s theory about intermedia digital art in Crisis of Transcendences helps us to see the inevitability of transcendence experiences in digital space. Elwell proposes digital art not to make humans run from their limitations, but in that reality, they can feel hope that goes beyond them through digital art. Digital technology is not used as a substitute for the reality of life, but refers to a reality that transcends human beings without forgetting their own limitations. That theory can be applied in virtual worship that digital media can be used as a symbolic art to mediate transcendence experiences in the digital space. Therefore, the Church needs to embrace virtual worship and be open to what can be done with it as a faithful step to live in a dynamic context. Keywords: Transcendence, Virtual/Online Worship, Digital Art  Abstrak: Pengalaman esensial dalam ibadah virtual adalah suatu keniscayaan Demikian tujuan dari artikel ini, yaitu untuk melihat keniscayaan pengalaman transendensi dalam ibadah virtual. Keniscayaan tersebut dilihat dari dua hal. Pertama, sifat mediated dari pengalaman transendensi ibadah yang selaras dengan sifat ruang virtual/online itu sendiri, yang menunjukkan bahwa pengalaman yang termediasi melalui ibadah onsite dapat juga dimediasi melalui ruang virtual. Kedua, keniscayaan tersebut ditinjau dari refleksi terhadap teori J. Sage Elwell dalam bukunya Crisis of Transcendence mengenai seni digital intermedia. Elwell menawarkan solusi dari krisis transendensi melalui seni teknologi digital, yang berarti, media digital digunakan sebagai seni yang menghubungkan, bukan yang menggantikan realitas. Media digital sebagai seni berarti memerhatikan komposisi digital demi sebuah pengalaman ambang antara keterbatasan dan ketidakterbatasan. Artinya, media digital tetaplah alat yang menghubungkan, bukan untuk menciptakan realitas yang baru. Penerapan praktisnya dalam ibadah virtual adalah melihat media digital sebagai simbol seni dari pengalaman transendensi. Penerapan tersebut memberi tugas dan disiplin baru bagi gereja. Itu sebabnya, diperlukan rangkulan gereja terhadap pelaksanaan ibadah virtual untuk melihat dan mengupayakan pengalaman transendensi secara serius dalam ruang digital, sebagai suatu refleksi gereja di tengah konteks digital ini. Kata Kunci: Transendensi, Ibadah Virtual, Seni Digita
Nabi dan Sahabat: Teologi Publik sebagai Keterlibatan Simbolis
 Abstract:By using “symbolic engagement†as its method for thinking of the relationship between Church and the public space, this article proposes a constructive public theology that emphasizes the threefold prophetic task: critique, solidarity, and hope. Such a prophetic task must be carried on in the dialectic between the church’s faithfulness to the Kingdom of God and its participation in the world dominated by other kingdoms or empires. Therefore, any public theology must assert the identity of the church as a faithful presence, which simultaneously prophetic and hospitable. Keywords: symbolic engagement; prophetic; friendship; faithful presence  Abstrak: Dengan mempergunakan “keterlibatan simbolis†sebagai metode berpikir bagi relasi Gereja dan ruang publik, makalah ini mengusulkan sebuah konstruksi teologi publik yang menampilkan tugas profetis dengan tiga poros, yaitu kritik, solidaritas, dan pengharapan. Tugas profetis tersebut harus dijalani dalam ketegangan di dalam kesetiaan Gereja pada Kerajaan Allah dan keterlibatan di dalam dunia yang dikuasai oleh kerajaan-kerajaan lain (empire). Maka, teologi publik harus menegaskan identitas Gereja sebagai sebuah kehadiran yang setia, yang sekaligus profetis dan bersahabat. Kata Kunci: keterlibatan simbolis; profetis; persahabatan; kehadiran yang seti
Gereja Yang Elastis Sebagai Model Bergereja di Era Digital
Abstract: The church in the 21st century is undergoing such great development and change. This is due to the Industrial Era 4.0 which is marked by advances in digital technology and the COVID-19 pandemic which requires churches to rethink their ministry models in the digital space. The Church has entered a new era in the pattern of its ministry mediated by digital technology. This study aims to find models of churches that are emerging in the digital age by utilizing the idea of a liquid church in Pete Ward's thinking as a development of the new character of the church. The research method used is qualitative with a literature study and interview approach. This research shows that the face of the church in the digital era can be distinguished into four models, namely Analog Church, Digilog Church or Phygital Church, E-Church and Virtual Reality Church. The new characteristics offered in this paper are the "Elastic Church" as a model of church in the digital era which can be understood in three aspects, namely the church as a network-participatory community, a resilient-adaptive community, and a missional-inspirational community. Keywords: Digital Church, Ecclesiology,  Liquid Church, Elastic Church, Pete Ward.  Abstrak: Gereja di abad 21 mengalami perkembangan dan perubahan yang begitu besar. Hal ini disebabkan oleh Era Industri 4.0 yang ditandai dengan kemajuan teknologi digital yang mengharuskan gereja untuk memikirkan kembali model pelayanannya di ruang digital. Gereja telah memasuki era baru dalam corak pelayanannya yang distimulasi oleh teknologi digital. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model-model gereja yang muncul di era digital dengan memanfaatkan gagasan gereja cair dalam pemikiran Pete Ward sebagai pengembangan karakter gereja yang baru. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Penelitian ini memperlihatkan bahwa wajah gereja di era digital sebagai dapat dibedakan menjadi empat model, yakni Analog Church, Digilog Church atau Phygital Church, E-Church dan Virtual Reality Church. Karakteristik baru yang ditawarkan dalam tulisan ini yaitu “Gereja Elastis†sebagai model bergereja di era digital yang dapat dipahami dalam tiga aspek, yakni gereja sebagai komunitas jejaring-partisipatif, komunitas resiliensi-adaptif dan komunitas misional-inspiratif. Kata Kunci: Eklesiologi, Gereja Cair, Gereja Digital, Gereja Elastis,  Pete Ward