Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS): Publikasi Ilmiah Online Mahasiswa ITS (POMITS)
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS): Publikasi Ilmiah Online Mahasiswa ITS (POMITS)Not a member yet
4139 research outputs found
Sort by
Analisis Pengambilan Keputusan Investasi Infrastruktur Rantai Pasok PT X dengan Skenario Sewa atau Bangun
PT X merupakan third party logistic yang bergerak di bidang distribusi consumer goods. Saat ini, Gudang penyimpanan eksisting PT X tidak lagi dapat menampung average stock persediaan, dan mengakibatkan terjadinya overstock. Di sepanjang tahun 2021, sebanyak 765.904 CAR (satuan karton) permintaan tidak terpenuhi dan kerugian yang terjadi mencapai Rp 83.976.885.618. Demi meningkatkan kapabilitas infrastruktur rantai pasok perusahaan dalam memenuhi permintaan yang meningkat, perusahaan memiliki rencana investasi untuk penambahan Gudang penyimpanan dengan skenario sewa atau bangun. Lokasi calon Gudang baru yang dipertimbangkan pada penelitian ini berlokasi di Gedangan, Sidoarjo. Data demand hasil simulasi monte carlo digunakan untuk mengukur inventory level tiap bulan yang selanjutnya digunakan untuk menghitung luas gudang yang dibutuhkan. Luas lantai Gudang yang dibutuhkan hingga akhir tahun ke-20 dari masa manfaat aset ialah seluas 59.692m2. Tingkat diskonto yang digunakan berupa MARR sebesar 10.89%. Berdasarkan nilai capital expenditure (CAPEX), operational expenditure (OPEX), selanjutnya dilakukan analisis inkremental untuk memilih skenario penambahan gudang terbaik dengan parameter annual equivalent cost. Didapatkan bahwa nilai EUAC skenario sewa lebih baik dari EUAC kondisi eksisting, sehingga alternatif penambahan gudang dengan skenario sewa merupakan alternatif terpilih. Dimana perolehan nilai EUAC skenario sewa sebesar Rp 20.098.559.712. Estimasi biaya investasi untuk skenario sewa gudang sebesar Rp 9.647.587.925, dengan perolehan NPV sebesar Rp 779.337.573, tingkat IRR sebesar 12%, dan periode pengembalian pada tahun ke 16. Analisis Sensitivitas menunjukkan bahwa skenario sewa akan tetap dikatakan layak ketika proporsi investment cost dan annual operating cost normal atau lebih rendah dari base scenario
Prediksi Spasial Perkembangan Lahan Terbangun berbasis Trend dengan Skenario Perlindungan LP2B di Kecamatan Kota Sumenep
Adanya dinamika yang terjadi pada masyarakat meliputi pertumbuhan penduduk, dan pola pengembangan wilayah terus bertambah, sehingga setiap tahunnya menyebabkan perkembangan lahan terbangun yang tidak dapat dihindari. Lahan pertanian produktif di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, makin menyempit. Hal ini, disebabkan oleh tergerusnya lahan pertanian dengan banyaknya perkembangan lahan permukiman. Dengan adanya Peraturan Daerah No. 2 Tahun 2018 Kabupaten Sumenep, tampaknya kondisi LP2B masih diabaikan oleh sejumlah pihak, beberapa dinas masih mengizinkan pengembang untuk membangun perumahan di lahan pertanian yang tergolong LP2B meski PERDA terkait LP2B sudah diresmikan. Tujuan dari penelitian ini untuk memodelkan perkembangan lahan terbangun di Kecamatan Kota Sumenep tahun 2041. Analisis menggunakan pemodelan spasial sangat diperlukan untuk mem-prediksi perkembangan lahan terbangun dengan pendekatan LP2B, sehingga dapat meminimalisir dampak perkembangan lahan terbangun yang akan mengkonversi lahan pertanian pada masa yang akan datang, sebagai gambaran dan masukan kepada pemangku kepentingan dalam mengambil keputusan. LanduseSim merupakan salah satu perangkat lunak yang memiliki basis pendekatan Cellular Automata yang fungsinya dapat memodelkan perubahan lahan. Dari hasil validasi model didapatkan tingkat akurasi sebesar 89.22 %, dengan kata lain pemodelan yang dilakukan memiliki tingkat akurasi tinggi atau baik. Hasil pemodelan perkembangan lahan menunjukkan Desa Parsanga, Paberasan, dan Kacongan merupakan daerah potensial untuk berkembang. Perkembangan lahan terbangun di Kecamatan Kota Sumenep akan terus bertambah berjalan lurus dengan peningkatan jumlah penduduk. Sehingga eksistensi dari LP2B tetap harus ada, guna menekan tingginya angka konversi terhadap lahan pertanian. Oleh karena itu untuk lokasi LP2B pengganti kedepannya dapat dirumuskan pada desa dengan tingkat potensi berkembang rendah
Estimasi Model Penyebaran Penyakit Demam Berdarah dengan Menggunakan Metode Ensemble Kalman Filter
Penyakit Demam Berdarah atau juga dikenal dengan Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah utama di Indonesia, salah satunya adalah pada provinsi Sulawesi Selatan. Penyakit Demam Berdarah merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dengan media penyebarannya merupakan nyamuk Aedes Aegypti. Dari masalah tersebut maka diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai penyebaran penyakit demam berdarah. Penelitian yang dilakukan adalah estimasi model matematika penyebaran penyakit demam berdarah. Model yang digunakan adalah model SIRS (Susceptible, Infected, Recovered). Didalam penelitian ini dilakukan estimasi model penyakit demam berdarah dengan metode Ensemble Kalman Filter dan metode Extended Kalman Filter. Pada penelitian ini diperoleh bahwa hasil estimasi untuk jumlah manusia yang terinfeksi penyakit demam berdarah (I_h) mendekati nilai realnya dengan nilai MAPE EnKF yaitu 0.6859% dan MAPE EKF yaitu 0.6578%. sehingga hasil estimasi menggunakan metode EnKF dan EKF dinyatakan akurat. Didapatkan dari hasil simulasi bahwa estimasi model SIRS penyebaran penyakit demam berdarah menggunakan metode Extended Kalman Filter lebih akurat dibandingkan metode Ensemble Kalman Filter
Optimasi Instalasi Pengolahan Air Limbah Industri Pemerahan Sapi menggunakan Moving Bed Biofilm Reactor
Instalasi Pengolahan Air Limbah Industri Pemerahan Sapi dengan sistem lumpur aktif seringkali mengalami masalah, salah satunya adalah masalah sludge bulking. Permasalahan sludge bulking menyebabkan pengendapan lumpur sangat buruk dan lumpur aktif melimpah menuju outlet bak sedimentasi menuju unit selanjutnya. Hal ini mengakibatkan kualitas pengolahan lumpur aktif tidak berjalan optimal dan hasil pengolahan masih sering keruh dan berbau. Salah satu solusi untuk mengurangi kondisi sludge bulking adalah penggunaan Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR). Pertumbuhan mikroorganisme akan menerapkan sistem terlekat pada media MBBR, sehingga produksi lumpur dapat berkurang, kualitas pengendapan lumpur lebih baik, dan mengurangi kondisi sludge bulking. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kemampuan MBBR dalam meningkatkan penyisihan COD dan mengurangi sludge bulking, menganalisa waktu aerasi optimum dan menganalisa media filling ratio optimum. Contoh uji air limbah diambil dari Bak Kontrol CIP IPAL Milking PT X. Sumber mikroorganisme berasal dari bio-starter EM4. Penelitian dilakukan pada reaktor dengan sistem continous flow. Reaktor teridiri dari reaktor MBBR yang terbuat dari bak plastik berdiameter 24 cm dengan tinggi air efektif 22,5 cm dan bak sedimentasi dari bak plastik dengan tinggi air efektif 13,5 cm. Variasi waktu aerasi adalah 4 jam; 8,5 jam; dan 17 jam. Variasi volume pengisian media atau media filling ratio adalah 25%, 40%, dan 50% dari volume reaktor. Media MBBR menggunakan Media Kaldness K1. Parameter yang dianalisis adalah COD, Amonia, TSS, dan Kekeruhan sebelum air limbah diolah dan sesudah air limbah diolah secara time series. Berdasarkan hasil penelitian, waktu aerasi optimum adalah pada 8,5 jam. Media filling ratio optimum adalah 40% untuk parameter COD dan TSS, 50% untuk SVI dan Kekeruhan, serta 25% untuk Ammonia
Kajian Desalinasi Air Laut Menggunakan Sistem Reverse Osmosis sebagai Pemenuhan Kebutuhan Air Tawar Kampung Wisata Apung, Malahing, Kota Bontang dan SDGs Poin 6
Sustainable Development Goals merupakan agenda pembangunan berkelanjutan dimana salah satu tujuannya berisikan tentang penyediaan akses air bersih dan sanitasi layak untuk semua. Prinsip SDGs adalah “Leave No One Behind” dimana tidak ada satupun orang yang tertinggal keterlibatan maupun manfaat dari diterapkannya tujuan SDGs. Kampung Malahing merupakan salah satu daerah di Indonesia di mana sumber air bersihnya terbatas. Kampung yang berdiri di tengah laut sejauh 3,32 km dari bibir pantai Kota Bontang dan menjadi rumah bagi 50 KK ini masih memenuhi kebutuhan air hariannya dengan membeli air ke daratan atau menampung air hujan. Metode pemenuhan kebutuhan air bersih di kampung ini tidak dapat diandalkan karena sering terjadi kendala seperti kapal rusak, jumlah air terbatas, kurangnya biaya, serta cuaca yang tidak menentu. Salah satu metode penyediaan air bersih bagi Kampung Malahing adalah dengan desalinasi air laut menggunakan teknologi Reverse Osmosis. Reverse Osmosis merupakan teknologi pengolahan air dengan metode osmosis balik dimana air dilewatkan melalui membrane semipermeabel dengan ukuran pori tertentu untuk menyisihkan zat yang tidak diinginkan. Perencanaan pengolahan air dengan teknologi Reverse Osmosis dilakukan dengan menghitung kebutuhan air warga Kampung Malahing, menghitung debit, dan merencanakan instalasi sesuai dengan debit air yang dibutuhkan serta sesuai dengan kondisi lokasi studi. Didapatkan debit air yang dibutuhkan adalah sebesar 23,15m3/hari dengan panjang pipa intake 5,5 m; diameter pipa 22 mm; debit pompa intake 0,0003m3/detik, dan penyimpanan air dengan kapasitas total 32000 liter
Studi Pustaka: Teknologi Pengolahan Air Limbah pada Industri Penyamakan Kulit
Industri penyamakan kulit merupakan salah satu industri di Indonesia yang mengalami peningkatan cukup pesat dan keberadaannya didominasi wilayah Magetan, Garut, dan Yogyakarta. Air limbah penyamakan kulit mengandung polutan organik dan kimia dengan kuantitas besar, serta termasuk limbah berbahaya dan beracun. Sebagian besar air limbah industri kecil penyamakan kulit belum dilakukan pengolahan dan langsung dibuang ke badan air. Adapun industri penyamakan lainnya yang telah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), namun terdapat kualitas efluen air limbah yang masih tinggi dan melebihi baku mutu. Berdasarkan permasalahan yang ada, diperlukan kajian pustaka mengenai teknologi pengolahan yang tepat dalam mengolah air limbah penyamakan kulit. Dalam mendukung pembahasan mengenai penentuan teknologi pengolahan, diperlukan analisis karakteristik air limbah dari beberapa industri penyamakan kulit berdasarkan klasifikasi skala industri, kemudahan operasional, dan biaya investasi. Karakteristik air limbah penyamakan kulit dikelompokkan dalam tiga skala industri, diantaranya industri skala kecil, besar, dan klaster. Studi kasus yang digunakan dalam studi ini, yaitu industri skala kecil Kamila Leather, skala besar PT. Adi Satria Abadi, dan skala klaster LIK Magetan. Debit yang dihasilkan dari ketiga industri memiliki nilai beragam, diantaranya industri kecil sebesar 3 m3/hari, industri besar sebesar 61,83 m3/hari, dan industri klaster sebesar 594,4 m3/hari. Terdapat sepuluh teknologi pengolahan yang telah digunakan pada industri penyamakan kulit, salah satunya Advanced Oxidation Processes (AOPs) yang paling banyak digunakan. Dari hasil analisis perbandingan teknologi pengolahan, didapatkan rekomendasi teknologi pengolahan yang tepat untuk ketiga skala industri, diantaranya industri kecil menggunakan unit adsorpsi, industri besar menggunakan tambahan unit wetland, dan industri klaster menggunakan tambahan unit adsorpsi
Identifikasi Karakteristik Kampung Wisata pada Kampung Wisata Edukasi Herbal Nginden
Kampung Wisata Edukasi Herbal Nginden berlokasi di Kelurahan Nginden Jangkungan, Kota Surabaya terbentuk dari inisiasi masyarakat setempat ini memiliki banyak daya tarik wisata, di antaranya yakni: Taman Herbal, Perpustakaan Herbal, Pustaka Budaya dan Bank Sampah. Melihat banyaknya potensi yang dimiliki Kampung Wisata Edukasi Herbal Nginden diperlukan identifikasi karakteristik kampung wisata pada Kampung Wisata Edukasi Herbal Nginden untuk melihat potensi yang dapat dikembangkan menjadi kampung wisata yang memiliki nilai pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kampung wisata pada Kampung Wisata Edukasi Herbal Nginden. Metode pengumpulan data dilakukan secara primer melalui wawancara dan observasi dan secara sekunder melalui tinjauan teori terkait kampung wisata. Metode analisis yang digunakan adalah content analysis. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kampung Wisata Edukasi Herbal Nginden telah memiliki banyak potensi daya tarik wisata namun hal tersebut tidak didukung oleh adanya fasilitas pendukung dan aksesibilitas yang memudahkan untuk menjangkau lokasi kampung wisata
Pengaruh Persepsi Pelajar dalam Penerimaan Pembelajaran Online Sinkron dan Asinkron (Studi Kasus: Institut Teknologi Sepuluh Nopember)
Fenomena pandemi COVID-19 mengharuskan tindak pencegahan penularan seperti jarak sosial dan jarak fisik yang wajib diterapkan. Pada bidang pendidikan, tidak ada pilihan lain selain beralih ke pembelajaran online atau e-learning dari pembelajaran tatap muka konvensional. Pembelajaran online ini terbagi menjadi 2 metode, yaitu pembelajaran sinkron dan asinkron. Pada pelaksanaannya pembelajaran online secara sinkron maupun asinkron mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang dapat mempengaruhi keefisienan dan keefektifan pembelajaran online yang dirasakan oleh peserta didik. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan menganalisis persepsi peserta didik pada penerimaan pembelajaran online sinkron dan asinkron dengan membandingkan hasil keduanya yang diharapkan dapat menjadi acuan bagi manajemen institusi. Data dari 165 responden pada survei pembelajaran online sinkron dan 150 pada asinkron yang didapatkan melalui penyebaran kuesioner menggunakan Google Forms. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan menggunakan Partial Least Square-Structure Equation Modelling (PLS-SEM) untuk analisis data. Diperoleh hasil yang mengindikasikan bahwa penerimaan peserta didik terhadap pembelajaran online sinkron dipengaruhi oleh karakteristik pengajar, inovasi teknologi dan kualitas sistem pembelajaran. Sementara pada pembelajaran online asinkron, karakteristik pengajar, dukungan organisasi dan teknis, inovasi teknologi, dan kepercayaan mempengaruhi penerimaan oleh peserta didik. Implikasi manajerial yang dapat diimplementasikan juga dicantumkan guna membantu institusi dalam meningkatkan penerimaan pembelajaran online secara sinkron maupun asinkron
Karakter Hutan Hujan Tropis sebagai Sumber Analogi dalam Penciptaan Multisensory Space Experience
Multisensory space experience yang diartikan sebagai pengalaman ruang melibatkan banyak indra, merupakan sebuah respon dari fenomena ocularcentrism – peristiwa pengistimewaan indra penglihatan dibandingkan indra lainnya – dalam arsitektur yang mengakibatkan arsitektur tidak lagi menjadi pengalaman yang menggugah kehidupan. Hutan hujan tropis memiliki atmosfir ruang yang dapat dirasakan melalui pengalaman sensoris, dimana hal tersebut menjadikan karakter lingkungan hutan hujan tropis kemudian diadaptasi sebagai karakter kualitas ruang dari multisensory space experience karena selaras dengan tujuan utama rancangan. Untuk mencapai proposisi tersebut, analogi sebagai metode desain digunakan untuk mencapai asosiasi antara karakter hutan hujan tropis (sumber) dan ranah arsitektur (target) yang memungkinkan melalui pembentukan relasi atau representasi. Analogi bekerja dengan mengambil elemen fundamental dari ide dasar konsep kualitas ruang yang ingin dikonstruksi, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa formal arsitektur (form making). Dalam rancangan pemandian air panas, keberhasilan translasi ide terletak pada kualitas kontras cahaya dalam ruang, pengalaman ragam aroma hutan, kualitas penghawaan serta pengalaman menyentuh ragam tekstur dalam ruang, medan dalam rancangan (ragam elevasi ruang) yang menyerupai pengalaman ketika menyusuri hutan
Konsep Play Experience untuk Perancangan Hunian Vertikal Ramah Anak
Rumah susun sewa (rusunawa) merupakan salah satu solusi permasalahan padatnya pemukiman penduduk serta akses kebutuhan hunian yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Namun, pada kenyataannya, bangunan rusunawa masih kerap memunculkan dampak negatif, baik yang berkaitan dengan kualitas fisik hunian serta interaksi sosial di dalamnya. Salah satu kelompok penghuni yang seringkali dilupakan adalah anak-anak. Usia anak adalah usia di mana seseorang sedang dalam tahap mempelajari serta menemukan hal-hal baru, sekaligus merupakan masa paling sensitif dan penting yang mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya mental dan fisik anak di lingkungannya. Anak-anak membutuhkan ruang yang dapat mewadahi segala aktivitas mereka sesuai dengan kebutuhan dan perilaku alami mereka. Sementara itu, sebagian besar rusunawa masih dirancang untuk kebutuhan penghuni dewasa dan kurang memberikan berbagai fasilitas yang aman dan nyaman untuk anak-anak dan remaja. Untuk mendukung konsep understanding children dalam desain sebuah rumah susun, maka digunakan pendekatan fenomenologi dalam lingkup children experience, khususnya dalam konteks anak-anak dari keluarga low-income. Solusi dihadirkan melalui elemen arsitektur dan penataan massa bangunan yang menghasilkan koridor jalan dengan banyak ruang-ruang kejutan. Pada lantai 2 dan 3, ruang bersama dihadirkan melalui shared spaces yang dibagi menjadi 3 jenis ruang dengan karakter yang berbeda untuk anak-anak, remaja, dan juga dewasa