Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS): Publikasi Ilmiah Online Mahasiswa ITS (POMITS)
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS): Publikasi Ilmiah Online Mahasiswa ITS (POMITS)Not a member yet
4139 research outputs found
Sort by
Analisis Highest and Best Use pada Lahan Kosong di Jalan Mentawai II Kota Gresik
Lahan tidak termanfaatkan merupakan lahan yang memiliki dasar penguasaan, namun kurang dimanfaatkan oleh pemilik sesuai dengan sifat dan rencana tata ruang. Salah satu lahan yang kurang termanfaatkan dengan optimal adalah lahan kosong di Jalan Mentawai II Kota Gresik. Lahan seluas 5.502 m2 ini merupakan lahan milik PT. Bumi Lingga Pertiwi (BLP Properti). Saat ini lahan masih dalam keadaan kosong tanpa ada aktivitas di atasnya, padahal letak lahan tersebut berada pada kawasan komersial yang cocok untuk dikembangkan menjadi properti komersial seperti hotel, perkantoran, perto-koan apartemen, dan perumahan. Berdasarkan hal ini, maka perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis penggunaan lahan di Jalan Mentawai II Kota Gresik yang menghasilkan produktivitas maksimum. Untuk mengetahui peruntukan terbaik pada lahan di Jalan Mentawai II Kota Gresik dilakukan analisis dengan metode Highest and Best Use (HBU). Analisis HBU adalah penggunaan dari suatu lahan untuk mendapatkan peruntukan maksimum sehingga didapat penggunaan terbaik. Analisis ini meliputi empat hal pokok yaitu, aspek legal, aspek fisik, aspek finansial, dan produktivitas maksimum. Hal yang ditinjau dalam aspek legal meliputi zoning dan building code. Aspek fisik meliputi bentuk tanah, ukuran tanah, utilitas, dan aksesibilitas. Aspek finansial meliputi biaya investasi, penda-patan, pengeluaran, dan Net Present Value (NPV). Produktivitas maksimum meliputi nilai properti dan nilai bangunan untuk mendapatkan nilai lahan tertinggi. Dari hasil penelitian ini didapatkan tiga alternatif properti untuk pengembangan lahan, yaitu pertokoan, apartemen, dan perkantoran. Dari ketiga alternatif tersebut, pengembangan lahan bangunan perkantor-an merupakan alternatif properti dengan penggunaan tertinggi dan terbaik bagi lahan obyek penelitian ini. Alternatif properti bangunan perkantoran memiliki nilai lahan sebesar Rp17.974.215,78/m2 dengan persentase kenaikan lahan sebesar 327% dari nilai lahan awal
Perhitungan Waktu dan Biaya Pelaksanaan Pengembangan Menara 17 PWNU Jatim Menggunakan Aluminium Formwork
Penggunaan bahan bangunan material beton pada proyek konstruksi digunakan di hampir seluruh komponen struktur bangunan konstruksi. Untuk menopang berat beton dan pekerja di atasnya, bekisting yang digunakan sebagai cetakan beton harus kuat, kaku, dan kokoh. Untuk memotong biaya, disarankan untuk penggunaan material bekisting secara berulang. Proyek akhir ini merencanakan manajemen konstruksi pada proyek Pembangunan Menara 17 PWNU JATIM Kota Surabaya yang berlokasi di Jl. Masjid Al-Akbar Timur No. 9, Kota Surabaya, Jawa Timur dengan 17 lantai dan atap. Proyek akhir ini merencanakan dan menghitung biaya serta waktu penggantian metode pelaksanaan dari yang sebelumnya menggunakan metode bekisting konvensional menjadi metode bekisting aluminium formwork mulai dari lantai 2 sampai lantai 17. Hal ini dikarenakan proyek memiliki desain lantai tipikal. Penyusunan proyek akhir dimulai dari mengidentifikasi item pekerjaan, kemudian menghitung volume dan produktivitas pekerjaan yang akan digunakan dalam menentukan durasi setiap item pekerjaan sehingga dapat menyusun penjadwalan. Hasil analisa perhitungan waktu diperoleh selama 316 hari kerja dan biaya pelaksanaan sebesar Rp51.705.176.000,00
Analisis Waktu dan Biaya Pelaksanaan pada Proyek Pembangunan Gedung Perkuliahan Jurusan Akuntansi dan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang Menggunakan Metode Hollow Core Slab
Dalam menentukan analisis biaya dan waktu diperlukan adanya metode pelaksanaan konstruksi yang benar. Metode yang dianggap tepat untuk menggantikan beton cor konvensional yaitu beton pracetak. Keunggulan yang ditawarkan beton pracetak seperti dapat mempercepat durasi serta mengurangi biaya penggunaan bekisting. Dalam penelitian ini menggunakan salah satu jenis beton precast yaitu Hollow Core Slab sebagai pengganti beton konvensional. Biaya dan waktu pelaksanaan diperhitungkan berdasarkan literatur maupun peraturan yang berlaku yang bertujuan memperoleh hasil yang sesuai dengan kondisi real lapangan. Durasi proyek diperhitungkan dengan menggunakan program bantu Microsoft Project. Sehingga diperoleh hasil analisis perhitungan durasi proyek pembangunan gedung perkuliahan akuntansi dsn administrasi niaga Politeknik Negeri malang 329 hari dengan biaya pelaksanaan proyek sebesar Rp26.298.329.150,51. Sedangkan menggunakan beton cor konvensional mencapai 340 hari kerja dengan total biaya pelaksanaan proyek sebesar Rp26.166.507.179,00
Desain dan Implementasi Bidirectional Voltage Source Inverter Satu Fasa dengan Metode Kontrol Arus Histerisis
Sejak diperkenalkannya sumber energi terbarukan ke dalam sistem pembangkit daya terdistribusi, inverter yang terhubung ke jaringan dan pengendaliannya memainkan peran penting dalam produksi energi secara keseluruhan. Namun, karena perilaku stokastik sumber daya terbarukan yang terhubung ke jaringan, pengendalian arus inverter menjadi tantangan terbesar. Terdapat berbagai teknik yang diusulkan dalam literatur untuk pengendalian arus dengan pengendali linear dan non-linear. Pengendali linear berdasarkan modulasi PWM memiliki respons keadaan yang lebih baik, namun memiliki kinerja dinamis yang lambat tergantung pada jenis beban yang terhubung. Di antara berbagai teknik yang ada, pengendali arus histerisis (Hysteresis Current Controller/HCC) menawarkan respons dinamis yang cepat, mudah diimplementasikan, dan ketangguhan terhadap variasi parameter beban keluaran. Pada studi ini akan dibuat desain, simulasi, dan alat Bidirectional VSI dengan kontrol arus histerisis. Dengan memvariasikan besar beban dan besar band histerisis, akan di buktikan konverter ini dapat menyuplai daya dua arah. Di tetapkan daya sistem sebesar 144 Watt, dengan tegangan AC 24 V dan tegangan DC sebesar 48 V
Pengaruh Keruntuhan Bendungan Ngancar terhadap Elevasi Muka Air Waduk Gajah Mungkur
Peraturan Menteri PUPR Nomor 27/PRT/M/2015 tentang bendungan, menyebutkan bahwa setiap bendungan harus dilengkapi dengan Dokumen Rencana Tindak Darurat (RTD) dalam rangka antisipasi penyelamatan jiwa dan harta benda, apabila terjadi kegagalan bendungan. Maka atas dasar tersebut, maka analisis keruntuhan diperlukan untuk Bendungan Ngancar. Sebagai bentuk tindakan preventif perlu dilakukan analisis kondisi hidrolis alur dan lembah sungai di hilir (downstream valley) bendungan dan pengaruh keruntuhan Bendungan Ngancar terhadap Bendungan Gajah Mungkur yang ada di hilirnya. Dan mengingat bahwa Waduk Ngancar merupakan waduk yang telah dibangun dari tahun 1942 dan telah berdiri selama kurang lebih 79 tahun. Analisis keruntuhan bendungan Bendungan Ngancar dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kedalaman banjir, kecepatan aliran yang ditimbulkan, dampak yang ditimbulkan dari keruntuhan berupa peta genangan banjir, klasifikasi bahaya pada wilayah terdampak, dan kondisi muka air Waduk Gajah Mungkur sebagai imbas keruntuhan Bendungan Ngancar. Analisis keruntuhan Bendungan Ngancar ini dilakukan dengan menggunakan bantuan program HEC-RAS 6.2. Bendungan Ngancar memiliki volume muka air normal 371.56 ribu m3 dan saat muka air banjir memiliki volume 498.92 ribu m3. Simulasi keruntuhan bendungan dilakukan dengan menggunakan Q 0,5 PMF. Pada hasil simulasi keruntuhan didapatkan kedalaman banjir tertinggi adalah 8,16 m dengan kecepatan aliran 6,84 m/s. jarak genangan terjauh mencapai 13,7 m dari Bendungan Ngancar. Akibat dari keruntuhan ini terdapat 5 pemukiman desa tergenang dan seluas 85,6 hektar sawh dan ladang penduduk tergenang. Adapun kondisi Waduk Gajah Mungkur yang berjarak 8,5 km dari Bendungan Ngancar mengalami peningkatan elevasi muka air waduk hingga mencapai 139 mdpl dari muka air banjir Waduk Gajah Mungkur
Studi Preferensi Pelayanan Jalur Pejalan Kaki dan Halte untuk Menunjang Suroboyo Bus di Kecamatan Mulyorejo, Kota Surabaya
Optimalisasi kualitas pelayanan Suroboyo Bus meningkatkan minat masyarakat untuk menaiki transportasi umum yang ada di Kota Surabaya. Hal tersebut terbukti dari adanya peningkatan pengguna bus setiap tahunnya. Adanya peningkatan kualitas layanan transportasi umum perlu diikuti dengan peningkatan kualitas penunjangnya yang terdiri dari non-motorized mode feeder dan motorized mode feeder. Jalur pedestrian sebagai salah satu non-motorized mode feeder memiliki peran penting dalam memberikan kenyamanan pengguna bus dari titik asal hingga tujuan, yakni halte atau pemberhentian bus. Namun, jalur pedestrian dan halte di Kecamatan Mulyorejo saat ini kondisinya banyak yang memprihatinkan, seperti sulit dilewati dan tidak terlihat keberadaannya di beberapa titik yang dilewati oleh transportasi umum. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pembangunan jalur pedestrian dan halte dibangun tanpa mempertimbangkan konektivitas keduanya. Fakta demikian dapat berpengaruh terhadap minat pengguna jalur pedestrian dan halte. Untuk itu, perlu diketahui preferensi penduduk Kecamatan Mulyorejo terhadap penggunaan jalur pedestrian dan halte sebagai penunjang Suroboyo Bus. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan pengkajian faktor-faktor berpengaruh dengan metode Systematic Literature Review yang hasilnya adalah faktor keamanan kenyamanan, daya tarik, landuse, konektivitas, dan service availability. Kemudian, enam faktor tersebut digunakan untuk mendapatkan preferensi penduduk terhadap penggunaan jalur pedestrian dan halte. Melalui penelitian ini, dihasilkan preferensi pengguna jalur pedestrian dan halte terhadap tiap-tiap faktor berpengaruh sehingga diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Pemerintah Kota Surabaya dalam penyediaan jalur pedestrian yang terhubung dengan halte bus sebagai penunjang Suroboyo Bus
Studi Numerik Pengaruh Baffle Spacing Jenis Double Segmental terhadap Aliran Fluida dan Perpindahan Panas pada Shell And Tube Heat Exchanger
Masalah Heat exchanger di PLTA disebabkan oleh air sungai sebagai fluida pendingin terpengaruh oleh kondisi lingkungan sehingga dapat menyebabkan fouling. Salah satu cara mengatasi dengan menggunakan model double segmental baffle karena menghasilkan lebih banyak turbulensi yang dapat mengurangi terdepositnya fouling. Akan tetapi, standar TEMA ataupun pendekatan teoritis tidak mengatur secara spesifik untuk model tersebut sehingga harus dicari konfigurasi yang optimal. Dilakukanlah penelitian ini untuk mengetahui pengaruh baffle spacing terhadap aliran fluida, perpindahan panas, dan pressure drop STHX dengan jenis double segmental baffle. Penelitian studi numerik CFD menggunakan ANSY Fluent dengan memvariasikan jarak baffle 55 mm, 45 mm, dan 35 mm pada 90 mm diameter shell dengan mass flow rate fluida shell divariasikan 0.5 kg/s, 1 kg/s, dan 2 kg/s sedangkan mass flow rate fluida tube konstan 0.85 kg/s. Hasil simulasi CFD menunjukkan terdapat pengaruh pada turbulensi dan kecepatan pada baffle. Semakin kecil baffle spacing akan menghasilkan vortex dan streamline yang lebih kecil sehingga terjadi peningkatan kecepatan aliran pada cross flow split baffle dan central baffle. Terjadi peningkatan kecepatan aliran rata-rata sebesar 0.9% pada spacing 45 mm dan 2.5% pada spacing 35 mm terhadap spacing 55 mm. Semakin kecil baffle spacing berpengaruh pada perpindahan panas dengan meningkatnya heat transfer coefficient. Variasi mass flow rate menghasillkan peningkatan h lokal rata-rata overall sebesar 6.26% pada spacing 45 mm dan 12.67% pada spacing 35 mm terhadap spacing 55 mm. Adapun pengecilan baffle spacing berpengaruh pada peningkatan pressure drop. Pada pressure drop lokal, variasi mass flow rate mengalami peningkatan rata-rata sebesar 3.1% pada spacing 45 mm dan 9% pada spacing 35 mm terhadap spacing 55 mm. Pada pressure drop overall, mengalami peningkatan rata-rata pada spacing 45 mm sebesar 21.43% dan 47.07% pada spacing 35 mm terhadap spacing 55 mm
Penyediaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Berdasarkan Perkembangan Permukiman di Kabupaten Tapanuli Utara
Abstrak—Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah alokasi kebutuhan TPST yang harus disediakan berdasarkan perkembangan permukiman mendatang di Kabupaten Tapanuli Utara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Melakukan identifikasi dan pembobotan variabel yang berpengaruh terhadap perkembangan permukiman dengan menggunakan analisis AHP. Penelitian ini juga menggunakan metode Cellular Automata yaitu dengan Landuse Sim dalam memodelkan perkembangan penduduk mendatang, dan menggunakan standar 3242-2008 dalam merumuskan jumlah kebutuhan TPST yang harus disediakan di Kabupaten Tapanuli Utara mendatang. Temuan dari penelitian ini adalah pada tahun 2042, luas permukiman di Kabupaten Tapanuli Utara adalah 16.195 ha. Hal ini mengalami peningkatan sebesar 2.617 ha dibanding tahun 2022. Dengan pola perkembangan permukiman yaitu mengelompok. Dan hasil akhir dari penelitian ini bahwa pada tahun 2042, Kabupaten Tapanuli Utara membutuhkan sebanyak 4 TPST yang melayani 10 Kecamatan. Dengan tahapan penyediaan yaitu (1) Tahun 2027: penyediaan TPST di Kecamatan Siborongborong; (2) Tahun 2032: penyediaan TPST di Kecamatan Tarutung, Adiankoting, Sipoholon, dan Siatas Barita; (3) Tahun 2037: penyediaan TPST di Kecamatan Garoga, Pangaribuan, dan Sipahutar; dan (4) Tahun 2042: penyediaan TPST di Kecamatan Parmonangan dan Pagaran
Analisis Bandara Internasional Sam Ratulangi Sebagai Gerbang Internasional Pariwisata Indonesia Timur Berdasarkan Travel Cost Dan Travel Time Wisatawan
Perkembangan pariwisata di Indonesia masih belum seimbang dari segi jumlah wisatawan yang mengunjungi daerah wisata di Indonesia bagian timur. Hal tersebut menyebabkan oleh travel time yang lama dan travel cost yang mahal untuk mencapai daerah wisata tersebut. Lokasi pariwisata yang ada di Indonesia Timur yang menjadi daerah tujuan adalah Kepulauan Kei, Kepulauan Banda Neira dan Pulau Seram di Maluku; Labuhan Bajo, Pulau Komodo dan Danau Kelimutu di Nusa Tenggara Timur; Raja Ampat di Papua Barat, Morotai di Maluku Utara, Teluk Cendrawasih dan Pulau Biak di Papua; Taman Nasional Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Likupang dan Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara; dan Teluk Tomini di Gorontalo. Selama ini perjalanan menuju daerah tersebut menempuh rute dari Jakarta atau Bali menuju ke daerah tersebut. Dari studi sebelumnya terkait distribusi cargo di Indonesia Timur, diperoleh hasil bahwa Bandar Udara Sam Ratulangi memberikan alternatif pada waktu perjalanan yang lebih singkat. Didasari oleh hal tersebut ide untuk menjadikan Bandar Udara Sam Ratulangi menjadi gerbang pariwisata muncul. Dalam menganalisa kemungkinan Bandar Udara Sam Ratulangi menjadi gerbang pariwisata, telah dilakukan pengumpulan data dan perhitungan terkait waktu dan biaya perjalanan menuju lokasi pariwisata yang ada di Indonesia Timur berdasarkan dua kondisi yaitu simulasi dari Bandara Internasional Sam Ratulangi dan dari rute eksisting yang melayani menuju bandara tujuan. Setelah dibandingkan didapatkan dari 8 bandara tujuan pilihan 6 diantaranya memiliki jarak yang lebih dekat serta waktu tempuh dan biaya perjalanan yang lebih rendah untuk kondisi simulasi dari Bandara Internasional Sam Ratulangi dibandingkan dengan keadaan rute eksisting, sedangkan satu bandara tidak bisa dibandingkan karena tidak adanya penerbangan komersial berjadwal menuju bandara tersebut
Desain Pabrik Bioetanol Dari Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS)
Setiap tahun, kebutuhan energi yang meningkat mendorong banyak penelitian untukmencari alternatif bahan bakar fosil. Salah satunya adalah bioetanol, yang diharapkan dapatmenjadi pengganti bensin. Saat ini, bioetanol digunakan sebagai campuran dalam bensinuntuk meningkatkan kualitasnya. Hadirnya oksigen dalam bioetanol meningkatkan efisiensidan mengurangi emisi yang berbahaya bagi kesehatan manusia, seperti partikulat dan gasnitrogen oksida. Bioetanol dapat diproduksi menggunakan bahan baku biomassa, sepertibagasse tebu.Proses produksi bioetanol telah berkembang dari generasi pertama hingga keempat.Generasi pertama menggunakan bahan pangan, generasi kedua menggunakan bahan nonpangan yang dianggap menguntungkan secara ekonomi dan teknis karena memanfaatkanlimbah agrikultur, generasi ketiga menggunakan mikro atau makro alga, sedangkan generasikeempat menggunakan organisme termodifikasi. TKKS masuk dalam generasi keduasehingga produksi bioetanol dari TKKS tidak hanya mengurangi limbah tetapi jugamenghasilkan produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.Pabrik bioetanol dari TKKS ini bertujuan untuk mendukung program pemerintahdalam transisi energi ke green energy. Dengan kapasitas produksi 5.000.000 L/tahun selama330 hari operasi, pabrik direncanakan akan dibangun di Kawasan Industri Dumai, Riau,Sumatera. Lokasi ini dipilih untuk meminimalkan biaya transportasi bahan baku karenaberada di satu pulau.Proses produksi bioetanol dari TKKS melibatkan tiga proses utama: pre-treatment,fermentasi (sebagai proses utama), dan purifikasi. Proses pre-treatment bertujuan untukmereduksi ukuran TKKS, menghilangkan kotoran, dan mendegradasi lignin menggunakanlarutan natrium hidroksida encer. Proses fermentasi menggunakan teknologi Simultaneous Saccharification Co-Fermentation (SSCF) di mana hemiselulosa dan selulosa pada TKKSdikonversi menjadi etanol dengan bantuan mikroba seperti Saccharomyces cerevisiae danScheffersomyces stipitis. Proses purifikasi melalui distilasi dan dehidrasi bertujuan untukmemisahkan etanol dari impuritasnya.Tinjauan ekonomi rancangan pabrik ini didasarkan pada dua sumber dana, yaituinvestasi modal sendiri sebesar 60% dan biaya modal pinjaman bank sebesar 40%. Hasilanalisa ekonomi mendapatkan nilai-nilai sebagai berikut: Capital Expenditure (CAPEX) : Rp133.995.418.843, Operational Ecpenditure (OPEX) : Rp45.759.391.627, Net Present Value (NPV) : Rp155.179.870.172, Internal Rate of Return (IRR) : 19,62%, Pay Out Time (POT) : 5,23 tahun, Break Even Point (BEP) : 52,52%Berdasarkan hasil analisa ekonomi, nilai-nilai %IRR, BEP, dan POT menunjukkan bahwaPabrik Bioetanol dari TKKS ini layak didirikan