Universitas Diponegoro: Undip E-Journal System (UEJS) Portal
Not a member yet
9349 research outputs found
Sort by
Analisis Daya Tarik FDI pada Sektor Geothermal Indonesia melalui Paradigma OLI: Studi Referensi Kenya
Penelitian ini berangkat dari persoalan bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, realisasi pemanfaatannya masih jauh dari optimal karena hambatan regulasi, risiko eksplorasi yang tinggi, serta lemahnya daya tarik investasi dibandingkan negara lain seperti Kenya. Penelitian ini bertujuan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi masuknya Foreign Direct Investment (FDI) di sektor panas bumi Indonesia melalui analisis paradigma OLI, sekaligus menelaah bagaimana praktik sukses Kenya dapat menjadi acuan bagi reformasi kebijakan nasional. Menggunakan metode penelitian kualitatif-deskriptif berbasis studi pustaka, data diperoleh dari laporan lembaga internasional, kebijakan pemerintah, literatur akademik, dan studi kasus pengembangan geothermal di Kenya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan lokasi yang kuat, namun belum mampu menciptakan struktur kelembagaan dan insentif investasi yang memadai, sehingga investor asing menghadapi biaya transaksi yang tinggi dan ketidakpastian proyek. Sebaliknya Kenya berhasil menurunkan risiko melalui pemisahan eksplorasi-produksi, skema PPP, serta regulasi yang stabil sehingga menarik investor seperti Ormat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa percepatan pengembangan geothermal Indonesia membutuhkan reformasi regulasi, penyederhanaan perizinan, dan skema mitigasi risiko yang lebih efektif agar FDI dapat masuk secara berkelanjutan
Determinants of Farmers’ Herbicide Use Decisions: Evidence from Jelekong Village, Baleendah District, Bandung Regency, West Java
The use of herbicides for weed control is a common practice in rice farming. A variety of factors influences farmers’ decisions to use herbicides. This study aims to analyze the factors affecting farmers' decisions to use herbicides in Jelekong Village, Baleendah District, Bandung Regency. A quantitative research design was employed using a survey technique. The respondents consisted of 115 randomly selected rice farmers. Data were analysed using logistic regression and descriptively through the top two boxes analysis. The results indicate that cost efficiency is the primary factor influencing farmers' decisions to use herbicides. Other significant factors include ease of use, product effectiveness, and the size of the cultivated land. Another key finding is that informal social networks among farmers play a substantial role in the decision-making process, outweighing the influence of extension agents or promotional efforts from herbicide producers. These findings contribute theoretically by reinforcing the importance of socio-economic variables, particularly in farmers' decisions to use herbicides. In practice, this finding highlights the need for policy interventions that prioritize community-based extension strategies as an effective means of disseminating knowledge about herbicide use. These strategies must be integrated into farmers' social networks and tailored to their socioeconomic conditions and access to information because these factors significantly impact their decisions about herbicide use
A Real-Time Hooke's Law Experiment using IoT Mobile Application
Hooke's Law is one of the topics in physics that can be simplified for better understanding through practical methods. This research aims to design a Real-Time remote Hooke's Law experiment in laboratory with Blynk as IoT Mobile Application, allowing students to experiment more flexibly in terms of time and location. The research methodology is based on Research and Development (R&D), including hardware design, software design, testing and data collection, data analysis, and report writing. This study resulted in the development of a laboratory Hooke's Law experiment and a Blynk application as its controller. The apparatus was tested by conducting experiments with three different loads: 30 grams, 40 grams, and 50 grams. The experiments aimed to obtain the spring constant, k, which were then processed using Hooke's Law formula based determine spring elongation data, ∆x. The 30 gram load yielded an average ∆x of 0.059 meters with an accuracy of 99.98% and an average k value of 4.90 N/m with an accuracy of 98.75%. The 40 gram load yielded an average ∆x of 0.059 meters with an accuracy of 99.93% and an average k value of 5.32 N/m with an accuracy of 95.40%. The 50 gram load yielded an average ∆x of 0.089 meters with an accuracy of 99.94% and an average k value of 5.53 N/m with an accuracy of 96.39%. The overall accuracy of the apparatus was 99.95% for ∆x and 96.18% for the spring constant. The system can choose the mass, m with control the stepper motor via mobile application and the result of research can be monitored in smartphone display such as such as spring elongation, ∆x, and spring constant, k as well as streaming video for monitoring purposes. [1] Arsada, Bakhtiyar, and B. Suprianto, “Ultrasonic Sensor Application for Distance Position Detection in Space Using Arduino Uno” State Univ. of Surabaya, 6(2), 137-145, (2017).[2] K. A. Gamage, D. I. Wijesuriya, S. Y. Ekanayake, A. E. Rennie, C. G. Lambert, and N. Gunawardhana, "Online delivery of teaching and laboratory practices: Continuity of university programmes during COVID-19 pandemic" Educ. Sci., 10(10), 291, (2020). [3] H. S. Wattimena, A. Suhandi, and A. Setiawan, “Indonesian Physics Education Journal” Indones. Phys. Educ. J., 10(2), 128–139, (2014).[4] B. K. Prahani, E. Hariyono, H. V. Saphira, I. Zakhiyah, S. Eliezanatalie, and M. H. Ismail, "Digitalization of Physics Laboratory Tools: Increase Undergraduate Students Learning Motivation and Problem-Solving Skills" TEM J., 14(3), 2371–2380, (2025).[5] S. Madakam, R. Ramaswamy, and S. Tripathi, "Internet of Things (IoT): A Literature" J. Comput. Commun., 3, 164–173, (2015).[6] M. N. Ramadhani, "Real Laboratory Praktikum Kefisien Muai Panjang Berbasis Internet of Things dan Aplikasi Android" S1 Thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, (2021).[7] Z. Wan, Y. Song, and Z. Cao, "Environment dynamic monitoring and remote control of greenhouse with ESP8266 NodeMCU" in Proc. 2019 IEEE 3rd Inf. Technol., Netw., Electron. Autom. Control Conf. (ITNEC), 377–382, (2019). [8] D. C. Giancoli, Physics, Vol. 1, Jakarta: Erlangga, (2001).[9] N. Azman, Internet of Things dan Komputasi Edge: Pengenalan Hingga Keamanan, Jakarta: CV. Tampuniak Mustika Edukarya, (2020).[10] A. Kusumaningrum, A. Pujiastuti, and M. Zeny, "Pemanfaatan Internet of Things pada Kendali Lampu" Compiler, 6(1), 53–59, (2017). [11] T. Juwariyah, S. Prayitno, and A. Mardhiyya, "Perancangan Sistem Deteksi Dini Pencegah Kebakaran Rumah Berbasis ESP8266 dan Blynk" J. Transistor EI, 3(2), 120–126, (2018).[12] I. Setiawan and D. Sutarno, "Pembuktian Eksperimental Pengaruh Jumlah Lilitan Pegas dan Diameter Pegas terhadap Konstanta Pegas" in Conf. Proc. Sci., (2011).[13] P. F. Yudha and R. A. Sani, "Implementasi sensor ultrasonik HC-SR04 sebagai sensor parkir mobil berbasis Arduino" Einstein E-J., 5(3), 19–26, (2019).[14] G. N. Prakasa, "Prototipe Kunci Pintu Menggunakan Motor Stepper Berbasis Arduino Mega 2560 Dengan Perintah Suara Pada Android" S1 Thesis, Universitas Lampung, (2017).[15] Y. Efendi, "Internet of Things (IoT) Light Control System Using Mobile-Based Raspberry Pi" Sci. J. Comput. Sci., 4(1), 19–26, (2018). [16] C. Dziuban, C. R. Graham, P. D. Moskal, A. Norberg, and N. Sicilia, "Blended learning: the new normal and emerging technologies" Int. J. Educ. Technol. High. Educ., 15(1), 3, (2018).[17] C. Dziuban, C. R. Graham, P. D. Moskal, A. Norberg, and N. Sicilia, "Blended learning: the new normal and emerging technologies" Int. J. Educ. Technol. High. Educ., 15(1), 3, (2018).[18] M. R. Hidayat, S. Christiono, and S. S. Budi, “Design of IoT-Based Home Security System with NodeMCU ESP8266 Using PIR HC-SR501 Sensor and Smoke Detector Sensor” Kilat J., 7(2), 140–141, (2018).A. Cocco and S. C. Masin, "The Law of Elasticity" Psicologica, 31(3), 647–657, (2010).
PEMANFAATAN PARALON DAN EMBER BEKAS SEBAGAI ALAT PENYARINGAN SERTA PENCACAHAN GUNA MENINGKATKAN HOMOGENITAS KOHE KAMBING UNTUK PEMBUATAN PUPUK ORGANIK
Proses pengolahan kotoran hewan (kohe) kambing menuai kendala, antara lain, pada aspek homogenitas material, yang diakibatkan karena ukuran partikel yang tidak seragam dan adanya pengotor. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan paralon dan ember bekas untuk menyaring dan menghomogenkan kohe kambing sebagai bahan untuk membuat pupuk organik. Metode penelitian ini meliputi desain dan konstruksi alat dari bahan bekas, proses penyaringan untuk memisahkan kotoran dari material kasar, dan penghomogenan untuk memperkecil ukuran partikel. Evaluasi dilakukan secara kualitatif dengan pengamatan keseragaman tekstur dan kemudahan proses pemadatan (komposting) lebih lanjut. Hasil penelitian menunjukkan alat (saringan dan penghomogen) bekas memudahkan untuk mengolah kohe kambing yang lebih homogen, dan mengurangi waktu untuk pengolahan lebih lanjut pupuk organik. Selain itu, penggunaan bahan bekas pada alat saring dan homogen ini menjadikan alat ramah lingkungan, berbiaya murah, dan mudah direplikasi oleh masyarakat. Dengan demikian, inovasi sederhana ini berpotensi sebagai alat teknologi tepat guna untuk pengelolaan dan peningkatan kualitas pupuk organik secara komunitas
Dinamika Komunitas Ikan pada Habitat Buatan di Perairan Teluk Awur, Jepara, Jawa Tengah
Degradasi ekosistem pesisir akibat tekanan aktivitas dari daratan sering kali mengakibatkan penurunan sumber daya ikan dan perubahan struktur komunitas biota laut. Pendekatan dengan menerapkan habitat buatan berbasis peningkatan komunitas ikan (fish enhancement) menjadi alternatif restorasi yang relevan untuk pesisir yang tergradasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan kelimpahan ikan dan struktur komunitas ikan pada tahap awal kolonisasi pada habitat buatan BHUMI (Bangunan Hunian Buatan untuk Rumah Ikan) yang dipasang di perairan Teluk Awur, Jepara. Pengamatan komunitas ikan dilakukan secara berkala, yaitu 2 bulan dan 4 bulan setelah instalasi struktur, dengan menggunakan metode survei bawah air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instalasi habitat buatan telah meningkatkan kelimpahan ikan secara signifikan seiring waktu pengamatan (p<0,05). Sebanyak 18 famili dan 28 spesies ikan telah menempati habitat buatan dengan kelimpahan berkisar 144–238 individu pasca-instalasi. Hasil juga menunjukkan bahwa kelimpahan ikan yang berasosiasi dengan habitat buatan dipengaruhi oleh lokasi penempatan dan waktu pemantauannya (p<0,05). Perubahan kelimpahan ikan akibat waktu cenderung terjadi di lokasi dekat pantai (Teluk Awur); sebaliknya, perubahan kelimpahan ikan di lepas pantai (Karang Bokor) relatif stabil. Terdapat perubahan struktur komunitas ikan yang signifikan selama periode pemantauan (p<0,05) yang mengindikasikan terjadinya proses suksesi komunitas pada habitat baru. Tahap awal kolonisasi oleh spesies ikan oportunistik dan generalis, kemudian diikuti oleh peningkatan keanekaragaman komunitas ikan yang menunjukkan proses stabilisasi ekologi. Temuan ini memperlihatkan bahwa desain struktur habitat buatan efektif dalam menyediakan habitat perlindungan dan meningkatkan agregasi ikan pada perairan pesisir yang dipengaruhi oleh aktivitas daratan
INTEGRASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM PEMETAAN ZONA RAWAN LONGSOR: PENDEKATAN SKORING DAN WEIGHTED OVERLAY PADA KELURAHAN HARAPAN BARU, SAMARINDA
Kelurahan Harapan Baru, yang terletak di Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda, memiliki karakteristik morfologi wilayah yang kompleks serta intensitas curah hujan yang tinggi, sehingga berpotensi tinggi mengalami bencana tanah longsor. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan zona rawan longsor dengan mengintegrasikan metode skoring dan analisis overlay dalam kerangka Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode skoring digunakan untuk memberikan nilai pada setiap parameter yang mempengaruhi longsor, seperti kemiringan lereng, jenis tanah, curah hujan, elevasi, dan penggunaan lahan. Setiap parameter diberi bobot berdasarkan tingkat kontribusinya terhadap kejadian longsor, lalu dilakukan proses overlay berbobot untuk memperoleh peta probabilitas zona rawan longsor. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa wilayah studi didominasi oleh luas area dengan kerawanan sangat tinggi 2,061 km² yang dipengaruhi oleh parameter tingkat kemiringan lereng, elevasi, dan tutupan lahan. Zona dengan tingkat kerawanan tinggi hingga sangat tinggi cenderung berada pada area dengan kemiringan lereng terjal, semak belukar yang tidak mengikat tanah, juga area yang berada pada elevasi dengan ketinggian >66 m. Hasil pemetaan ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam perencanaan tata ruang dan pemanfaatan lahan yang lebih aman dan berkelanjutan, sekaligus mendukung langkah mitigasi untuk meminimalkan dampak bencana longsor di wilayah tersebut
Assessing the Mainstreaming of Land Subsidence Risk in Spatial and Development Planning: Evidence from Coastal Semarang, Indonesia
Spatial planning in coastal areas involves balancing economic development with the management of long-term environmental risks. Semarang City’s coastal zone faces severe land subsidence, with rate reaching approximately 10–13 cm per year, exacerbating the impacts of sea-level rise and climate change. This study examines the extent to which land subsidence issue has been incorporated into spatial and development planning policies in Semarang City. Using a qualitative approach based on content analysis of spatial and development planning documents across multiple governance levels, the findings reveal that despite long-standing scientific evidence, land subsidence is not formally designated as a disaster-prone area within spatial planning documents. Effective spatial planning is expected to respond to the disaster risks through adaptive and mitigative policies and programs that reflect environmental carrying capacity and regional support capacity. However, the limited mainstreaming of land subsidence risk has resulted in spatial planning and development practices that insufficiently integrate these environmental considerations. The study highlights a critical gap between scientific knowledge and planning implementation and underscores the need for stronger institutional integration of land subsidence risk to support sustainable coastal urban development
Peningkatan Kualitas Data Bidang Tanah di Kantor Pertanahan Kota Singkawang
Kementerian Agraria dan Tata Ruang Badan Pertanahan Nasional sedang melakukan transformasi dalam memberikan layanan pertanahan dengan beralih menggunakan sistem elektronik. Penggunaan sisten elektronik diharapkan mampu memberikan layanan publik yang mudah, cepat, tepat, terjangkau dan akuntabel serta meningkatkan jumlah Kabupaten/Kota lengkap di Indonesia. Untuk mempercepat Kabupaten/Kota Lengkap, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional menunjuk 100 (seratus) Kantor Pertanahan di Indonesia sebagai prioritas dalam program Kabupaten/Kota lengkap, di mana Kantor Pertanahan Kota Singkawang salah satunya. Kantor Pertanahan Kota Singkawang merupakan unit kerja Badan Pertanahan Naisonal yang memiliki fungsi pendaftaran tanah di Kota Singkawang. Kota Singkawang memiiki luas wilayah 55.067 ha dengan luas Areal Penggunaan Lain (APL) seluas 48.161 ha, dimana tersisa 4.454 ha (estimasi) APL yang belum terdaftar tanahnya. Kondisi data pertanahan pada Kota Singkawang sejak ditunjuk sebagai prioritas "Kota Lengkap" masih terdapal overlap (12.754), gap (6.403), serta masih terdapat bidang tanah KW 456 (14.378 bidang tanah) belum terpetakan. Terkait kondisi data pertanahan pada Kantor Pertanahan Kota Singkawang, untuk memenuhi syarat sebagai kota lengkap maka diperlukan adanya peningkatan kualitas data bidang tanah. Setelah dilakukan peningkatan kualitas data bidang tanah, jumlah overlap (5.252) dan gap (2.398) berkurang, namun jumlah bidang tanah KW 456 mengalami peningkatan. Kata kunci: kota lengkap, Kota Singkawang lengkap, kadastral lengkap, spasial lengkap, clean and clea
Kajian Studi Hidrogeologi dan Hidrogeokimia di Area Waste Dump PT. XYZ
PT. XYZ merupakan perusahaan tambang emas yang membangun sistem underdrain untuk mengalirkan air permukaan melewati area waste dump. Seiring peningkatan elevasi timbunan, muncul rembesan dengan debit tinggi saat hujan (hingga ±8 L/s) dan tetap muncul pada musim kering (±1 L/s). Kondisi ini mengindikasikan muka airtanah telah mencapai permukaan, sehingga air keluar sebagai seepage yang berpotensi mengganggu kestabilan lereng serta menjadi jalur transport kontaminan. Uji tracer rhodamine tidak menunjukkan hasil pada area hilir, diduga akibat dilusi dan penjebakan pada kantong air bawah permukaan, sehingga diperlukan studi hidrogeologi dan hidrogeokimia untuk mengetahui sumber dan mekanisme rembesan. Penelitian ini mengintegrasikan pengukuran fisika-kimia in situ dan analisis laboratorium terhadap sampel airtanah, air permukaan, dan air hujan. Analisis ion utama dan logam terlarut dilakukan menggunakan IC dan ICP-MS, sedangkan isotop stabil δ²H–δ¹⁸O dan δ¹³C dianalisis dengan Picarro Analyzer serta IRMS. Hasil plot pada diagram Piper menunjukkan dua fasies air, yaitu Ca-SO₄ dan Ca-HCO₃. Data isotop mendukung bahwa rembesan berasal dari interaksi airtanah dangkal dan air permukaan yang meresap melalui zona permeabel. Model konseptual aliran bawah permukaan berhasil menggambarkan jalur rembesan potensial, dan penelitian ini merekomendasikan peningkatan sistem drainase, kontrol infiltrasi, serta optimalisasi underdrain sebagai mitigasi
Identifikasi Jalur Air Panas dengan Menggunakan Metode Geolistrik 2D dan Very Low Frequency Electromagnetic di Desa Muara Putih, Kecamatan Natar, Lampung Selatan
Mata air panas Cisarua di Desa Muara Putih, Natar, Lampung Selatan, merupakan manifestasi panas bumi yang terletak jauh dari zona vulkanik aktif, sehingga memerlukan penelitian untuk memahami mekanisme kemunculannya. Daerah ini tersusun atas endapan vulkanik muda, Formasi Lampung, dan batuan malihan, serta dilalui patahan berarah barat laut–tenggara sebagai bagian dari Sesar Lampung Panjang. Penelitian ini bertujuan mendeteksi jalur aliran fluida panas bumi melalui kombinasi metode Geolistrik 2D dan Very Low Frequency Electromagnetic (VLF-EM). Pengukuran dilakukan pada dua lintasan terintegrasi, sepanjang 350 m dan 470 m. Data VLF-EM diolah menggunakan filter NA- MEMD, Fraser, dan Karous-Hjelt serta inversi 2D. Hasilnya menunjukkan anomali resistif vertikal (≤100 Ωm) dan anomali resistif dangkal (≤60 Ωm) yang diduga jalur fluida. Tiga lapisan utama teridentifikasi: top soil (>80 Ωm), lempung tufan (0–20 Ωm), dan lempung pasiran (20–70 Ωm). Pada lintasan pertama terindikasi tiga zona sesar, salah satunya sesuai dengan penelitian sebelumnya yang diperkirakan sebagai jalur air panas dengan arah barat laut–tenggara . Lintasan kedua tidak menunjukkan sesar karena tidak adanya kontras anomali resistivitas dan tidak didukung oleh data sekunder atau penelitian yang lain. Kedua metode menunjukkan pola resistivitas yang selaras, sehingga efektif digunakan untuk studi pendahuluan panas bumi