Universitas Diponegoro: Undip E-Journal System (UEJS) Portal
Not a member yet
9349 research outputs found
Sort by
Faktor Risiko Kejadian Mikosis Superfisialis pada Nelayan di TPI Puger
Background: Superficial mycoses are a common global health problem among fishermen, particularly in tropical regions. Factors such as personal hygiene, length of employment, and obesity have been associated with superficial mycoses, while continuous exposure to high-salt seawater in fishermen’s occupational environments has been hypothesized as a potential protective factor. This study aimed to analyze the risk factors for the incidence of superficial mycoses among fishermen at the Puger Fish Auction Place (FAP) in Jember Regency.Methods: This cross‑sectional analytic study included 97 fishermen selected through quota sampling at Puger Primary Healthcare (PHC). Data on personal hygiene and length of employment were collected using validated questionnaires; obesity status was determined by Body Mass Index (BMI); and superficial mycoses were diagnosed by clinical examination. Univariable analysis described the distribution of all variables, and bivariable analysis using the Chi‑square test assessed associations between risk factors and superficial mycoses.Result: The prevalence of superficial mycoses was 10.3% (10/97). There were no statistically significant associations between personal hygiene (prevalence ratio/PR 1.88; 95% CI 0.42–8.33; p=0.494), length of employment (PR 0.88; 95% CI 0.81–0.95; p=0.353), or obesity (PR 0.36; 95% CI 0.10–1.30; p=0.178) and superficial mycoses.Conclusion: In this cross-sectional study, personal hygiene, length of employment, and obesity were not significantly associated with superficial mycoses among fishermen at Puger Primary Health Care. The relatively low prevalence of infection despite high exposure to conventional risk factors suggests that occupational environmental factors may contribute to reduced susceptibility to infection
PERBAIKAN DOK PERAHU SOPEK BERBAHAN BAMBU
Kegiatan pengabdian melalui sinergisitas kelompok nelayan, tokoh masyarakat dan karang taruna dilakukan untuk meningkatkan dan menggerakkan ekonomi masyarakat nelayan. Fokus kegiatan diarahkan pada pengembangan wilayah pantai dan masyarakat nelayan dengan menerapkan teknologi dok perahu untuk perawatan perahu sopek. Rancang bangun dok perahu mempunyai ukuran panjang x lebar yakni 8 m x 4 m dengan ketinggian menyesuaikan kedalaman pantai dan pasang surut air laut. Jarak pilar/penyangga diatur 2 meter antar penyangga lain dan penyangga ini menggunakan bambu petung. Realisasi perbaikan dok perahu dilaksanakan dengan berbahan utama bambu bambu petung dan bambu apus. Dok perahu di kelompok nelayan tersusun oleh penyangga bambu petung sebanyak 24 buah. Prosedur perbaikan dok perahu pada prinsipnya dilaksnakan pelepasan lapisan dasar yang berbahan bambu apus, pelepasan lapisan dasar penguat yang berbahan bambu petung dan penggantian atau perbaikan tiang dok yang berbahan bambu petun
Identifikasi Keterikatan Tempat di Alun-alun Kota Probolinggo
Keterikatan tempat terbentuk melalui proses interaksi manusia yang lama. Efek urbanisasi mempercepat perubahan yang berpotensi melemahkan dan menghancurkan ikatan manusia dengan tempat tersebut. Penting untuk memahami keterikatan tempat sebagai konsep untuk perencanaan ruang publik, seperti halnya yang terjadi di Alun-alun sebagai pusat aktivitas bagi masyarakat urban. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor pembentuk keterikatan tempat pada Alun-alun Kota Probolinggo. Dengan pendekatan explanatory sequential mixed methods, penelitian dimulai dengan pengumpulan data kuantitatif melalui kuesioner, kemudian dianalisis dan diperdalam dengan wawancara serta observasi, sehingga menghasilkan pemahaman komprehensif mengenai 3 dimensi keterikatan tempat. Penelitian menganalisis 3 aspek: (1) budaya (nilai historis dan tradisi), (2) pengalaman personal (intensitas kunjungan), dan (3) karakteristik demografis. Hasil menunjukkan keterikatan terbentuk melalui dimensi afektif (kenyamanan), kognitif (pemaknaan simbolik), dan budaya (partisipasi kegiatan). Hasil menunjukkan bahwa pemahaman pengguna terhadap sejarah terbatas, namun keterikatan tetap kuat karena pengalaman berulang. Sebanyak 68% responden merasa nyaman dan bangga, didorong oleh aspek fisik dan interaksi sosial. Alun-alun berfungsi multigenerasi: muda untuk sosialisasi; dewasa untuk relaksasi; dan lansia untuk interaksi sosial. Keberlanjutannya tidak hanya bergantung pada nilai historis, tetapi pada partisipasi aktif masyarakat. Strategi pengembangan perlu fokus pada inklusivitas, kenyamanan, dan pelibatan warga agar alun-alun tetap relevan sebagai ruang publik yang bermakna
Integrating Green Ship Recycling into Indonesia’s Circular Economy Roadmap: A Geoda-Based Spatial Analysis
Indonesia holds a strategic opportunity to develop Green Ship Recycling (GSR) as part of its transition toward a circular economy, particularly with the obligation to ratify the Hong Kong International Convention (HKC) 2009 by June 2025. However, GSR has not been fully integrated into the Circular Economy Roadmap 2025–2045, despite pressing issues of hazardous waste, material efficiency, and sustainable resource management. This study aims to demonstrate the crucial role of GSR in Indonesia’s circular economy and provide evidence-based policy recommendations for building a national GSR ecosystem. Data from 38 provinces were analyzed using GeoDa through multiple regression and spatial autocorrelation. The regression model shows a strong fit (R² = 0.829; Adjusted R² = 0.803; p < 0.001), with metal recyclers (β = 1.166), non-metal recyclers (β = 0.564), and hazardous waste facilities (β = 0.141) significantly supporting shipyard growth, while steel plants negatively affect development (β = –0.309). Spatial autocorrelation and LISA cluster analysis identified Riau Islands, East Java, Jakarta, and West Java as strategic hubs for GSR cluster development. The findings highlight those shipyards, recyclers, waste handlers, and steel manufacturers tend to cluster spatially, reinforcing the feasibility of establishing integrated GSR ecosystems in Indonesia. Such clustering could reduce dependence on volatile raw material imports by strengthening domestic recycled steel supply chains. Overall, this study provides empirical support for integrating GSR into Indonesia’s circular economy roadmap by enhancing cross-ministerial coordination, prioritizing cluster-based development, and ensuring alignment with HKC to promote sustainable and green ship recycling
Efek Penambahan Cangkang Telur Ayam Kampung (Gallus gallus domesticus) Terhadap Moulting dan Pertumbuhan Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan cangkang telur ayam kampung (Gallus gallus domesticus) terhadap moulting dan pertumbuhan lobster air tawar (Cherax quadricarinatus). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus 2024, selama 30 hari di Laboratorium Perikanan SMKN Rea Timur, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan meliputi perlakuan A (0% cangkang telur (kontrol), perlakuan B (5% cangkang telur), perlakuan C (10% cangkang telur) dan perlakuan D (15% cangkang telur). Parameter uji yang digunakan meliputi pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan spesifik, tingkat kelangsungan hidup, frekuensi moulting dan feed convertion ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan cangkang telur ayam kampung memberikan pengaruh nyata terhadap frekuensi moulting lobster air tawar (P0,05). Frekuensi moulting tertinggi yaitu pada perlakuan C dengan penambahan 10% cangkang telur yaitu sebesar 1,4 kali/ekor.Kata Kunci: Cangkang Telur Ayam Kampung, Lobster Air Tawar, Kelangsungan Hidup, Moulting, Pertumbuha
Laju Pertumbuhan Favites pentagona dan Mycedium elephantotus pada Substrat Berbeda Dalam Kondisi Terkontrol
Terumbu karang merupakan ekosistem penting yang berperan sebagai habitat, tempat pemijahan, dan perlindungan bagi berbagai biota laut, namun keberadaannya semakin terancam akibat kerusakan lingkungan dan eksploitasi berlebih. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui laju pertumbuhan mutlak dua jenis karang, yaitu Favites pentagona dan Mycedium elephantotus, pada dua jenis substrat berbeda, yakni substrat pengisi nat (grout) dan semen biasa (portland cement). Penelitian ini penting dilakukan karena pertumbuhan dan kemampuan adaptasi karang terhadap media transplantasi berperan penting dalam keberhasilan rehabilitasi ekosistem terumbu karang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan observasi secara exsitu terhadap pertumbuhan fragmen karang hasil transplantasi selama empat bulan. Pengamatan dilakukan setiap bulan untuk mengukur perubahan luas koloni menggunakan perangkat lunak ImageJ. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan per-bulan pada masing-masing perlakuan substrat. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kedua jenis karang mengalami peningkatan luas koloni yang bervariasi setiap bulan. Laju pertumbuhan mutlak Favites pentagona mencapai nilai tertinggi sebesar 3,894 cm² pada substrat grout (kode A), sedangkan Mycedium elephantotus menunjukkan pertumbuhan mutlak tertinggi sebesar 5,199 cm² pada substrat portland cement (kode B). Secara statistik, Favites pentagona tidak menunjukkan perbedaan signifikan antar substrat (Sig. 0,110 > 0,05), sedangkan Mycedium elephantotus menunjukkan perbedaan signifikan (Sig. 0,033 < 0,05), yang berarti jenis substrat berpengaruh nyata terhadap pertumbuhannya. Dengan demikian, substrat grout lebih optimal untuk karang tipe massive seperti Favites pentagona, sementara portland cement lebih sesuai untuk tipe laminar seperti Mycedium elephantotus
Pengaruh Variasi Salinitas Terhadap Fase Pertumbuhan Mikroalga Tetraselmis chuii
Tetraselmis chuii merupakan mikroalga uniseluler yang termasuk dalam famili Chlorodendraceae dan kelas Chlorodendrophyceae. Tetraselmis chuii memiliki masa depan yang menjanjikan sebagai sumber makanan atau produk kesehatan karena memiliki kandungan gizi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi salinitas terhadap fase pertumbuhan Tetraselmis chuii menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan salinitas (Kontrol = 30ppt, P1 = 27ppt, P2 = 35 ppt, dan P3 = 37 ppt) serta tiga ulangan. Pengamatan kepadatan sel (sel/mL) dilakukan menggunakan haemocytometer dan dianalisis secara statistik dengan uji korelasi dan regresi linier sederhana. Hasil menunjukkan pola pertumbuhan normal melalui fase adaptasi, eksponensial, stasioner, dan kematian. Perlakuan yang menggunakan salinitas 35ppt (P2.1) dan 37ppt (P3.2) menunjukkan jumlah kepadatan sel yang lebih tinggi senilai 1.176 × sel/mL dan 2.692 × sel/mL, serta bertahan lebih lama dibandingkan perlakuan lainnya. Analisis statistik menunjukkan hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa salinitas tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan jumlah sel Tetraselmis chuii (r = 0,054; Sig. = 0,625), sehingga perubahan salinitas tidak berdampak pada pertumbuhannya secara nyata. Uji ANOVA juga memberikan hasil yang serupa (F = 0,241; Sig. = 0,625), yang menunjukkan bahwa model regresi tidak signifikan dan variasi jumlah sel lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti nutrisi, pencahayaan, oksigen terlarut, pH, dan suhu, daripada salinitas
Ethno Tide Masyarakat Pesisir Indonesia Timur Dalam Menentukan Penanggalan Hijriah
Masyarakat Indonesia timur menentukan penanggalan hijriah selain melihat ukuran cakram bulan, mereka juga mengamati perubahan pasang surut terhadap waktu shalat fardhu. Pengetahuan mereka dalam menerjemahkan fenomena pasang surut disebut dengan ethno-tide. Diperlukan identifikasi karakter pasang surut sebagai buktian kebenaran ilmiah dari ethno tide tersebut. Ethno tide masyarakat indoinesia Timur adalah suatu kebenaran ilmiah. Konsistensi waktu terjadinya Tsw terhadap waktu shalat relatif kecil (deviasi < 44 menit. Waktu terjadinya slack water (TSW), merupakan indikator penciri dari umur bulan dan effektif (sederhana) dalam menentukan penanggalan hijriah. Waktu Tsw pada peak II (siang hari) lebih effektif mengidentifikasi umur bulan dibandingkan Tsw yang terjadi di peak I (malam hari). Setiap TSw yang terjadi pada rentang waktu shalat fardhu menginformasikan umur bulan dalam satu fase bulan tertentu. Umur bulan dari fase bulan baru (BB) ke fase kuartil 1 (BB-KW1) untuk penanggalan 1 – 5 H lebih efektif diperlihatkan Tsw-SI yang terjadi antara Shalat Ashar dan Isha. Slack water untuk penanggalan di fase kuartil I (5 – 10 H) terjadi dalam rentang shalat shubuh ke Ashar oleh Tsw-SII. Rata-rata pergeseran Tsw harian awal bulan hijriah sebesar 48 menit yang mendekati pergeseran saat fase purnama (49 menit). Pergeseran harian saat fase kuartil 1 (01:23) lebih kecil dibandingkan kuatil 2 (02:50) sedangkan saat fase akhir bulan (bulan mati) sebesar 53 menit
Keterkaitan Jenis Sedimen dan Kandungan C-organik dengan Komunitas Makrozoobentos Epifauna di Tanjung Carat, Sumatera Selatan
Tanjung Carat, Sumatera Selatan merupakan kawasan estuari yang mengalami penurunan luasan hutan mangrove akibat pembukaan lahan untuk pembangunan pelabuhan. Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi karakteristik sedimen, khususnya kandungan C-organik yang berperan penting dalam mendukung kehidupan makrozoobentos. Kandungan bahan organik dalam sedimen merupakan sumber energi utama bagi makrozoobentos serta berperan dalam proses dekomposisi dan siklus nutrien. Kandungan C-organik yang optimal dapat meningkatkan produktivitas organisme bentik, namun kadar yang berlebihan berpotensi menimbulkan kondisi anaerob yang menghambat keberadaan fauna tertentu. Variasi kandungan C-organik dan jenis sedimen sangat memengaruhi kelimpahan, keanekaragaman, serta struktur komunitas makrozoobentos. Penelitian ini bertujuan menganalisis jenis sedimen, kandungan C-organik sedimen, kelimpahan beserta struktur komunitas makrozoobentos epifauna, hingga hubungan karakteristik sedimen dengan kelimpahan makrozoobentos. Penelitian dilakukan di Tanjung Carat, Kabupaten Banyuasin dengan tiga stasiun penelitian yang ditentukan secara purposive sampling. Pengambilan sampel makrozoobentos menggunakan metode transek. Analisis C-organik dilakukan menggunakan spektrofotometri, sedangkan ukuran butir sedimen dianalisis menggunakan ayakan basah dan kering dan diklasifikasikan berdasarkan skala Wentworth dan segitiga Shepard. Hubungan antara karakteristik sedimen dan kelimpahan makrozoobentos dianalisis menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 12 jenis makrozoobentos dari tiga kelas, dengan kelimpahan 233–1733 ind/100 m². Struktur komunitas menunjukkan keanekaragaman sedang, keseragaman tinggi, tanpa spesies dominan, serta hubungan positif antara kelimpahan makrozoobentos, kandungan C-organik, dan substrat lempung.
Spatial Utilization Pattern for Sasirangan Craftsmen's House in Sasirangan Village, Banjarmasin
The Seberang Masjid region is one of the last places that still looks like Banjar Village, and it has a unique art called sasirangan cloth. The government and the corporate sector changed the name of the region to Kampung Sasirangan in 2010 to make local knowledge more valuable. This development affects the change in the role of homes, which are now used for more than just living in. They are now used for business and manufacturing. The several steps in making sasirangan cloth affect how craftspeople act, which in turn affects how the company house uses space. This study seeks to identify and analyse the spatial utilization patterns in the residences of sasirangan textile craftspeople in Kampung Sasirangan, Banjarmasin. The research methodology employed is a case study utilizing a qualitative approach, incorporating field observation, in-depth interviews, and documentation. The results show that there are 17 craftsmen's houses on the land, along the riverbanks, and above the river. There are two primary ways that space is used: one building mass and two building masses. Craftsmen do not have a separate place to work; instead, they make the most of the space they already have by changing it to fit the stage of production. Craftsmen who have more complicated production stages use space in a wider range of ways