Institut Teknologi Nasional: Jurnal Itenas Online
Not a member yet
1717 research outputs found
Sort by
Comparative Analysis of Graph Neural Network with SAGE Conv, GAT Conv, and GCN Conv Techniques for Fake News Detection
In today's rapidly evolving information landscape, the spread of fake news poses a critical challenge to the integrity of public information. Fake news, characterized by intentionally falsified or misrepresented information, can manipulate public opinion, disrupt political processes, and incite social instability. Consequently, the detection of fake news has become essential for maintaining media integrity and ensuring a healthy democratic function. Traditional methods for detecting fake news, such as decision trees and support vector machines, often fall short due to their inability to capture the relational and structural context of data. To address this, Graph Neural Networks (GNNs) have emerged as promising solutions, offering the ability to process data structured as graphs and retain topological information. This study investigates three GNN models—Graph Convolutional Network (GCN Conv), Graph Attention Network (GAT Conv), and GraphSAGE (SAGEConv)—each with unique strategies for handling graph data in the context of fake news detection. Our comparative analysis reveals that GAT Conv achieves the highest test accuracy of 0.9488 at epoch 86, demonstrating strong learning performance and efficient convergence. SAGE Conv, while slightly less effective, achieves a maximum accuracy of 0.9472 at epoch 93, indicating its potential in specific scenarios. GCN Conv offers a balanced performance with a maximum accuracy of 0.9482 at epoch 99, showcasing its robustness as an alternative approach. These findings underscore the importance of selecting suitable GNN models based on the characteristics of the network, optimizing fake news detection efforts, and contributing to enhanced media integrity and democratic stability.Keywords: GNN, Fake News Detection, Deep Learnin
Sistem Evaluasi Lahan Penentuan Tanaman menggunakan Metode Forward Chaining
ABSTRAKSistem Evaluasi Lahan merupakan sistem untuk menilai kesesuaian suatu lahan bagi berbagai jenis tanaman. Kurangnya pengetahuan petani tentang tingkat kesuburan tanah untuk jenis tanaman tertentu menyebabkan kegagalan dalam usaha pertanian mereka. Kandungan unsur NPK (Nitrogen, Phospor, dan Kalium) dalam tanah menentukan tingkat kesuburan lahan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem evaluasi lahan menggunakan teknologi pengolahan citra tanah dan metode forward chaining untuk menentukan kesesuaian lahan dan memberikan rekomendasi tanaman. Hasil penelitian menghasilkan tingkat akurasi dalam prediksi nilai kandungan Nitrogen sebesar 96,6%, Phospor sebesar 91,03%, dan Kalium sebesar 94,69% serta memberikan rekomendasi tanaman yang tepat. Sistem evaluasi lahan ini diharapkan dapat membantu petani meningkatkan produktivitas pertanian mereka.Kata kunci: pertanian, unsur hara NPK, pengolahan citra, sistem pakar, forward chaining ABSTRACTA land evaluation system is a system for assessing the suitability of land for different types of crops. The lack of farmers' knowledge about the soil fertility level for certain crops led to failure in their agricultural endeavors. The soil's content of NPK elements (Nitrogen, Phosphorus, and Potassium) determines soil fertility. The research aims to develop an evaluation system of soil using soil image processing technology and forward chaining methods to determine soil suitability and give plant recommendations. The results of the research yield accuracy in the prediction of nitrogen content values of 96.6%, phosphorus of 91.03%, and potassium of 94.69% and give the correct plant recommendation. This land evaluation system is expected to help farmers increase their agricultural productivity.Keywords: agriculture, NPK hara element, image processing, expert system, forward chainin
IMPLEMENTASI NILAI SIMPLICITY DENGAN KONSEP PENDEKATAN DESAIN MINIMALIS DI TOKO ELZATTA
Artikel ini membahas implementasi nilai simplicity melalui pendekatan desain interior minimalis pada toko Elzatta di Salatiga. Penelitian menggunakan metode perancangan berbasis riset (design-based research) dengan tahapan observasi lapangan, dokumentasi, studi literatur, dan analisis desain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip minimalisme—ditandai dengan penggunaan bentuk geometris sederhana, warna monokrom, dan tata ruang efisien—mampu menciptakan suasana ruang yang nyaman, fungsional, dan sesuai dengan identitas merek Elzatta. Implementasi desain ini tidak hanya meningkatkan pengalaman berbelanja, tetapi juga merepresentasikan nilai kesederhanaan sebagai bagian dari strategi branding perusahaan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan desain interior retail yang berorientasi pada identitas merek dan kenyamanan pengguna. Kata kunci: desain interior, minimalis, simplicity, retail, Elzatt
Identifikasi Gaya Arsitektur Indische Empire Style pada Bangunan Rumah Tinggal Wangsadikrama Kota Cimahi
AbstrakBangunan cagar budaya adalah salah satu warisan peninggalan zaman dahulu beruwujud benda yang harus dilestarikan, dijaga, dan dirawat karena keberadaannya memiliki nilai penting bagi ilmu pengetahuan, sejarah, pendidikan, dan sosial budaya di masa lampau yang dapat menjadi pembelajaran di masa kini. Gaya arsitektur kolonial merupakan salah satu warisan peninggalan zaman kolonial yang menjadi bukti atas penjajahan Belanda di Indonesia. Gaya Arsitektur Indische Empire Style pertama kali dikenalkan oleh seorang Gubernur Jendral Hindia Belanda pada sekitar tahun 1808 hingga 1811 yaitu Herman Willen Daendels. Gaya Indische Empire Style atau disebut juga Gaya Indis Imperial merupakan gaya arsitektur yang berkembang di Indonesia sekitar abad ke-18 hingga abad ke-19. Bangunan Wangsadikrama merupakan salah satu peninggalan penjajahan Belanda di Kota Cimahi. Tak banyak artikel yang menjelaskan secara rinci bangunan tersebut. Namun, pada Penelitian ini lebih difokuskan pada analisis gaya arsitektur Indische Empire Style. Penelitian ini menggunakan metode penenelitian kualitatif dengan teknik deskriptif. Teknik deskriptif ini adalah dengan mencari sumber jurnal yang membahas karakteristik arsitektur Indische Empire Style. Kemudian jurnal tersebut dikorelasikan dengan data survey lapangan yang selanjutkan dianalisis untuk mencari kesamaan gaya arsitektur antara bangunan Wangsadikrama dengan karakteristik / ciri – ciri gaya arsitektur Indische Empire Style. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengidentifikasikan bagaimana penerapan gaya bangunan Indische Empire Style pada bangunan Wangsadikrama. Hasil yang didapat menunjukan bangunan ini memang termasuk pada kategori bangunan kolonial era Indische Empire Style dikarenakan temuan pada elemen utama bangunan seperti denah, fasad, kolom, dan atap yang menyerupai gaya bangunan tersebut.Kata kunci: Bangunan Cagar Budaya, Identifikasi, Indische Empire Style, Wangsadikrama AbstractThe cultural reserve building is one of the ancient heritage of objects that must be preserved, guarded, and cared for because its existence has an important value for the science, history, education, and social culture of the past that can be learned in the present. The colonial architectural style is one of the colonial heritage that is evidence of the Dutch colonization of Indonesia. The Indische Empire Style was first introduced by the Governor-General of the Dutch Indian Empire between 1808 and 1811, Herman Willen Daendels. The Wangsadikrama building is one of the remains of Dutch colonization in the city of Cimahi. Not many articles describe the building in detail. However, the study focuses more on the analysis of the Indische Empire Style architectural style. The study uses qualitative research methods with descriptive techniques. This descripative technique is by searching for sources of journals that deal with characteristics of the Empire style architecture. Then the journal is correlated with field survey data that is further analyzed to find similarities of architectonic style between Wangsadikrama buildings with characteristics of the Indische Empire Stijl architecture style. The results obtained show that this building is indeed included in the category of colonial buildings of the Indische Empire Style era due to the findings on the main elements of the building such as the plan, facade, columns, and roof that resemble the building style.Keywords : Heritage Building, Identification, Indische Empire Style, Wangsadikram
Profitability on Solar Power Plant Systems for Households Electricity in Indonesia
ABSTRAKPaper ini menganalisis secara teknis dan ekonomi PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) hibrid off-grid untuk rumahtangga di Yogyakarta, Indonesia. Sistem PLTS terdiri dari delapan panel surya polikristalin dengan daya 410Wp masing-masing, inverter 3kW, dan baterai LiFePO4 (lithium ferrophosphate) 48V 300Ah. PLTS telah dioperasikan sejak awal 2021, dan energi yang terkumpul dari panel surya dimulai November 2021 hingga akhir Agustus 2022, menunjukkan variasi nilai dari 3,2kWh hingga 17,4kWh. Dengan mempertimbangkan efisiensi perangkat 85%, hasil total energi diperkirakan 3.740,7 kWh per tahun. Penelitian ini mendapatkan nilai hasil rata-rata tahunan sebesar 1.140,5 kWh/kWp dan rasio kinerja 63,4%. NPV (net present value) digunakan sebagai indikator kelayakan investasi, dengan hasil masa investasi 24 tahun, tingkat diskonto 7%, laju degradasi PV (fotovoltaik) sebesar 0,8%, dan penurunan baterai sebesar 1,5% per tahun. Studi ini menyoroti potensi keuntungan investasi PLTS dengan kondisi tertentu dan mendorong intervensi regulasi pemerintah untuk meningkatkan aplikasi PLTS.Kata kunci: PLTS, off-grid, NPV, panel surya, rasio kinerja ABSTRACTThis paper presents technical and economic analysis of hybrid off-grid SPP (Solar Power Plant) for a home in Yogyakarta City, Indonesia. The system consists of eight polycrystalline photovoltaic with 410Wp each, 3kW inverter and a 48V 300Ah LiFePO4 (lithium ferrophosphate) battery. The harvested energy was recorded starting from November 2021 to the end of August 2022. The recorded data shows the variation of values from 3.2kWh to 17.4kWh. The annual energy is 3,740.7 kWh by considering 85% devices efficiency. Furthermore, an annual average final yield is 1,140.5 kWh/kWp and performance ratio is 63.4%. NPV (net present value) was used as an indicator of feasibility investments by considering device lifespan, 7% discount rate, 0.8% of PV (photovoltaic) degradation rate and 1.5% battery fade per year. This study highlights the potential benefits of investing in hybrid off-grid SPP under specific conditions and advocates for government intervention through regulations to enhance the SPP applications.Keywords: Solar Power Plant, off-grid, NPV, photovoltaic, performance rati
Increasing Hard Skills in Fire Alarm Systems for Graduates of Vocational High Schools and General High Schools
The fire alarm system is an early warning system for fire hazards in buildings and must be owned by large buildings. The Inalum building is a new building with a green building concept. The building will be operational in 2021 and inaugurated by the Minister of BUMN of the Republic of Indonesia. The partner's problem is that not all employees in charge master the operation of the fire alarm Master Panel. Because as a green building requirement, Inalum is obliged to employ residents. As a result, building management workers need to be more experienced. The purpose of this activity is to provide training to increase the capability of the fire alarm system in the training given the introduction, operation, re, and maintenance of fire alarm systems. This activity received positive feedback with a level of satisfaction with an average score of 4.37 on a scale of 5 from the trainees. Evaluation of the success of the training activities, which was initially 45.60% through the initial test at the start of the training, increased to 77.16% after the training. This evaluation means a significant increase in the trainees' ability by 33.56%
Analisis Pengaruh Teknik Coakan Dua Langkah terhadap Penurunan Torka Cogging terhadap Pergeseran Poros pada Mesin Magnet Permanen
ABSTRAKTorsi cogging adalah torsi yang terjadi akibat interaksi antara gaya tangensial di ujung magnet dengan material alur stator, yang menahan gerakan rotor pada generator magnet permanen. Torsi ini harus diminimalkan dalam aplikasi turbin angin karena dapat menghambat pergerakan awal generator. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode tertentu dalam mengurangi torsi cogging dan pergeseran poros. Metode yang digunakan melibatkan penerapan coakan dua tingkat pada ujung magnet rotor dengan tiga konstruksi magnet rotor yang berbeda, sementara kondisi inti stator tetap identik. Analisis numerik menggunakan FEMM 4.2 menunjukkan pengurangan torsi cogging yang signifikan sebesar 99,70% dan pengurangan pergeseran poros sebesar 60% secara vertikal dan 51% secara horizontal.Kata kunci: coakan dua tingkat, generator magnet permanen, gaya magnet tangensial, torka cogging, pergeseran poros ABSTRACTCogging torque is the torque resulting from the interaction between tangential forces at the magnet's edge and the stator slot material, which opposes the rotor's motion in a permanent magnet generator. This torque must be minimized in wind turbine applications as it can hinder the generator's initial movement. This study aims to analyze the effect of a specific method on reducing cogging torque and shaft shifting. The method involves applying a two-step notch at the rotor magnet's edge with three different rotor magnet constructions, while keeping the stator core conditions identical. Numerical analysis using FEMM 4.2 achieved a significant cogging torque reduction of 99.70% and reduced shaft displacement by 60% vertically and 51% horizontally.Keywords: Two-step notch, permanent magnet generator, tangential magnetic force, shaft shiftin
Perbandingan Metode Content-based, Collaborative dan Hybrid Filtering pada Sistem Rekomendasi Lagu
AbstrakSistem rekomendasi dapat dimanfaatkan untuk membantu pengguna menemukan item atau informasi sesuai preferensi mereka, termasuk lagu. Metode seperti Collaborative Filtering (CF), Content-Based Filtering (CBF), dan Hybrid Filtering digunakan untuk meningkatkan kualitas rekomendasi berdasarkan interaksi pengguna dan karakteristik konten. Penelitian ini membandingkan efektivitas ketiga metode tersebut dalam rekomendasi lagu menggunakan dataset dengan 68.330 entri data. Metode CF dan CBF diterapkan secara terpisah, lalu dikombinasikan dalam pendekatan hybrid untuk mengevaluasi peningkatan hasil. CF mencapai presisi 49.9%, CBF 39.5%, sedangkan hybrid CF-CBF mencatat presisi tertinggi sebesar 50.7%. Sebaliknya, hybrid CBF-CF menghasilkan presisi terendah, yaitu 38.4%. Kesimpulannya, pendekatan hybrid CF-CBF lebih unggul dalam merekomendasikan lagu sesuai preferensi pengguna dibandingkan metode lainnya.Kata kunci: sistem rekomendasi, rekomendasi lagu, content-based filtering, collaborative filtering, hybrid filtering AbstractRecommender systems can be utilized to assist users in discovering items or information that align with their preferences, including music. Methods such as Collaborative Filtering (CF), Content-Based Filtering (CBF), and Hybrid Filtering enhance recommendation quality based on user interactions and content characteristics. This study compares the effectiveness of these three methods in music recommendation using a dataset containing 68,330 entries. CF and CBF were implemented separately and combined in a hybrid approach to evaluate performance improvements. CF achieved a precision of 49.9% and CBF 39.5%, while the hybrid CF-CBF approach recorded the highest precision at 50.7%. In contrast, the hybrid CBF-CF approach yielded the lowest precision, at 38.4%. In conclusion, the hybrid CF-CBF approach outperforms other methods in delivering music recommendations tailored to user preferences.Keywords: recommendation system, song recommendation, content-based filtering, collaborative filtering, hybrid filterin
Pengaruh Pencahayaan Pada Proses Relaksasi di Ruang Spa dan Refleksiologi (Studi Kasus : Zen Family Spa & Reflexology Sukajadi Bandung)
Salah satu unsur yang paling penting untuk menciptakan suasana pada sebuah ruang adalah pencahayaan. Penerapan pencahayaan yang baik pada ruang spa dan refleksologi adalah pencahayaan yang dapat memberikan pengaruh relaksasi pada tubuh para pengunjung. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui seberapa besar kontribusi pencahayaan dapat memberikan kesan relaksasi dan ketenangan kepada para pengunjung. Studi kasus yang diambil adalah sebuah tempat relaksasi dan kebugaran di kota Bandung yakni Zen Family Spa & Reflexology cabang Sukajadi. Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan metodologi deskriptif kualitatif yakni dengan menyebar kuesioner serta melakukan sesi wawancara kepada para pengunjung Zen Family Spa & Reflexology cabang Sukajadi. Hasil kuesioner maupun wawancara yang dilakukan berguna untuk menguji hasil analisa kondisi pencahayaan pada objek studi kasus dibandingkan dengan standar pencahayaan fasilitas spa yang diperoleh dari studi literatur.Kata kunci: pencahayaan, suasana ruang, relaksasi, tempat spa
Implementasi Batik Sunda Pada Desain Interior Kamar Hotel The (new) Papandayan Bandung
Penelitian ini membahas implementasi batik Sunda sebagai elemen desain interior pada kamar Hotel The Papandayan Bandung. Batik Sunda, dengan kekayaan motif dan simbol yang merepresentasikan nilai budaya lokal, menjadi identitas penting yang dapat memperkuat karakter ruang interior. Studi ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan, dokumentasi visual, serta analisis literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan motif batik Sunda tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi visual, tetapi juga sebagai medium representasi identitas budaya. Integrasi motif batik ke dalam elemen interior kamar hotel memperlihatkan harmoni antara estetika tradisional dan kebutuhan desain kontemporer. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan nilai budaya lokal dalam desain interior perhotelan sebagai sarana pelestarian sekaligus promosi budaya Sunda kepada wisatawan.Kata kunci: batik Sunda, desain interior, hotel, identitas budaya, pelestaria