E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
861 research outputs found
Sort by
PERBANDINGAN PENGARUH DESAIN RECTILINEAR DAN CURVILINEAR PADA INTERIOR TERHADAP PENGURANGAN STRES PENGGUNA
Abstract: Interior design continues to evolve by increasingly considering the psychological aspects of space users, one of which involves efforts to reduce stress level through aesthetic approaches and the geometric forms of spatial elements. The contribution of interior spaces to user well-being can be provided through the human aesthetic experience of the interior environment, with the geometry of spatial elements playing a crucial role. Geometry or planes composed of collections of lines, including both rectilinear and curvilinear types. This study aims to determine the appropriate design guidelines to stimulate positive emotions and thereby contribute to the reduction of user stress levels. The research was conducted by analyzing primary data obtained from questionnaires completed by respondents who experienced the spaces through Augmented Reality (AR) simulations, as well as secondary data collected from literature studies. Based on the collected data, this study focuses on comparing the effects of curvilinear and rectilinear line types on stress levels. The results demonstrate that interiors designed with curvilinear elements can effectively reduce stress levels and serve as ideal design strategies to support productivity.
Keyword: curvilinear, rectilinear, positive emotion
Abstrak Desain interior terus berkembang dengan memperhatikan aspek psikologis pengguna ruang, salah satunya adalah dengan berupaya mengurangi tingkat stres melalui pendekatan estetika dan bentuk geometris elemen ruang. Kontribusi ruang terhadap kesejahteraan pengguna dapat diberikan melalui media pengalaman estetika manusia terhadap interior ruang yang digunakan dan elemen yang berperan penting dalam interior adalah geometri elemen ruang itu sendiri. Geometri atau bidang terdiri dari kumpulan garis; baik itu garis jenis rectilinear, maupun curvilinear. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pedoman desain yang sesuai untuk merangsang emosi positif sehingga terjadi penurunan tingkat stres pengguna. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis data primer yang didapatkan melalui hasil kuisioner responden yang merasakan ruang dengan Augmented Reality (AR) dan data sekunder yang didapatkan melalui studi literatur. Melalui data yang didapatkan, penelitian ini akan berfokus kepada perbandingan pengaruh antara jenis garis curvilinear dengan rectilinear terhadap tingkatan stres. Hasil yang didapatkan membuktikan bahwa interior dengan desain curvilinear dapat menurunkan tingkat stres dan menjadi elemen desain yang ideal untuk mendukung produktivitas.
Kata Kunci: curvilinear, rectilinear, emosi positifDesain interior terus berkembang dengan memperhatikan aspek psikologis pengguna ruang, salah satunya adalah dengan berupaya mengurangi tingkat stres melalui pendekatan estetika dan bentuk geometris elemen ruang. Kontribusi ruang terhadap kesejahteraan pengguna dapat diberikan melalui media pengalaman estetika manusia terhadap interior ruang yang digunakan dan elemen yang berperan penting dalam interior adalah geometri elemen ruang itu sendiri. Geometri atau bidang terdiri dari kumpulan garis; baik itu garis jenis rectilinear, maupun curvilinear. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pedoman desain yang sesuai untuk merangsang emosi positif sehingga terjadi penurunan tingkat stres pengguna. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis data primer yang didapatkan melalui hasil kuisioner responden yang merasakan ruang dengan Augmented Reality (AR) dan data sekunder yang didapatkan melalui studi literatur. Melalui data yang didapatkan, penelitian ini akan berfokus kepada perbandingan pengaruh antara jenis garis curvilinear dengan rectilinear terhadap tingkatan stres. Hasil yang didapatkan membuktikan bahwa interior dengan desain curvilinear dapat menurunkan tingkat stres dan menjadi elemen desain yang ideal untuk mendukung produktivitas.
Kata Kunci: curvilinear, rectilinear, emosi positi
EKSPANSI TERITORI PADA HUNIAN DI KAMPUNG MOJO KOTA SURAKARTA PASCA PROGRAM UPGRADING
Abstract: Kampung Mojo is one of the settlements in Surakarta City where the KOTAKU (City Without Slums) program is implemented. This initiative aims to improve the quality of basic infrastructure in slum areas, thereby reducing slum conditions. The program has redesigned the settlements by clear boundaries within residential areas, including the organization of residential layouts, plot arrangements, street spaces, and open spaces. During observations in September 2023, a notable phenomenon emerged regarding how residents use the outdoor spaces of their houses, such as alleys, streets, and leftover land, to accommodate personal and social activities. This research aims to identify the forms and patterns of territorial expansion within residential areas, providing valuable insights for future space management in Kampung Mojo following infrastructure upgrades. The study employs a qualitative approach, with primary data collected through direct observation and interviews at the research site, followed by descriptive analysis. Findings indicate that territorial expansion is a response to the limited available space, where residents utilize surrounding spaces to meet personal needs and create spaces for social gatherings.
Keywords: Expansion, Settlements, Post Upgrading
Abstrak: Kampung Mojo adalah salah satu kawasan lokasi penanganan KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) di Kota Surakarta.Tujuan program tersebut adalah meningkatkan kualitas infrastruktur dasar sehingga berkurang tingkat kekumuhannya. Kawasan permukiman didesain dengan batas-batas yang jelas pada ruang pembentuk kawasan seperti bentuk dan kavling hunian, jalan lingkungan, dan ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas sosial. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada bulan september 2023, banyak ditemukan fenomena penggunaan ruang di luar hunian seperti gang dan jalan untuk mengakomodasi aktivitas pribadi dan juga sosial.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk dan pola ekspansi teritori primer (hunian) dan agar dapat menjadi masukan terhadap pengelolaan ruang di Kampung Mojo pasca upgrading. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah melalui observasi wawancara yang diambil dari lapangan dan analisis data menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Ekspansi teritori yang terjadi di Kampung Mojo baik penataan Tahap 1 dan Tahap 2 pasca upgrading merupakan respon dari keterbatasan ruang di dalam rumah dan kebutuhan ruang komunal untuk aktivitas sosial.
Kata Kunci: Ekspansi, Permukiman, Pasca UpgradingKampung Mojo adalah salah satu kawasan lokasi penanganan KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) di Kota Surakarta.Tujuan program tersebut adalah meningkatkan kualitas infrastruktur dasar sehingga berkurang tingkat kekumuhannya. Kawasan permukiman didesain dengan batas-batas yang jelas pada ruang pembentuk kawasan seperti bentuk dan kavling hunian, jalan lingkungan, dan ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas sosial. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada bulan september 2023, banyak ditemukan fenomena penggunaan ruang di luar hunian seperti gang dan jalan untuk mengakomodasi aktivitas pribadi dan juga sosial.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk dan pola ekspansi teritori primer (hunian) dan agar dapat menjadi masukan terhadap pengelolaan ruang di Kampung Mojo pasca upgrading. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah melalui observasi wawancara yang diambil dari lapangan dan analisis data menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Ekspansi teritori yang terjadi di Kampung Mojo baik penataan Tahap 1 dan Tahap 2 pasca upgrading merupakan respon dari keterbatasan ruang di dalam rumah dan kebutuhan ruang komunal untuk aktivitas sosial
“SI PANDAI” MENUJU DESA GUDANG DIGITAL DAN BERDAYA SAING
Desa digital mengintegrasikan teknologi digital ke dalam kehidupan masyarakat desa untuk meningkatkan kualitas hidup, meningkatkan efisiensi, dan meningkatkan daya saing. Perkembangan teknologi digital semakin dirasakan manfaatnya dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di pedesaan. Salah satu permasalahan yang cukup sering ditemui di Desa Gudang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang adalah kesulitan kurir dan tamu dalam mencari alamat rumah warga karena belum adanya sistem penomoran rumah yang tertata dengan baik. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa mencoba memberikan solusi dengan mengembangkan Si PANDAI (Sistem Pencarian Alamat Digital). Aplikasi ini berbasis data nomor rumah warga dan dirancang untuk memudahkan pencarian lokasi secara cepat dan akurat. Artikel ini menceritakan proses penerapan aplikasi tersebut, hasil yang diperoleh, serta dampak yang dirasakan masyarakat. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa Si PANDAI membantu mempercepat proses pencarian alamat, meningkatkan kenyamanan layanan kurir, sekaligus mendorong Desa Gudang menuju desa digital yang adaptif dan berdaya saing.
A digital village integrates digital technology into the lives of rural communities to improve quality of life, increase efficiency, and increase competitiveness. The development of digital technology is increasingly being felt in various aspects of life, including in rural areas. One of the problems frequently encountered in Gudang Village, Tanjungsari District, Sumedang Regency is the difficulty for couriers and guests in finding residents' home addresses due to the lack of a well-organized house numbering system. Through the Community Service Program (KKN), students attempted to provide a solution by developing Si PANDAI (Digital Address Search System). This application is based on residents' house number data and is designed to facilitate fast and accurate location searches. This article describes the process of implementing the application, the results obtained, and the impact felt by the community. The results of the community service show that Si PANDAI helps speed up the address search process, improves the convenience of courier services, and simultaneously propels Gudang Village towards becoming an adaptive and competitive digital village
Prediction and Analysis of Heart Failure using Machine Learning Techniques
Heart failure, which includes a variety of heart-related disorders, has become the most prevalent cause of death worldwide. Access to reliable, acceptable, and accurate procedures is essential for prompt diagnosis and proper treatment of the problem. Heart failure occurs when there is insufficient heart muscle, making the heart's pumping motion insufficient. The body's smooth functioning depends on the heart's capacity to circulate blood that is high in nutrients and oxygen to all of the body's tissues and cells. Heart failure is one of the leading causes of death globally, responsible for 17.9 million deaths each year. However, the effectiveness of current risk prediction tactics is relatively moderate, perhaps due to their reliance on statistical analytic techniques that cannot extract prognostic information from big data sets with multi-dimensional interactions. We captured associations between patient features and death using a machine-learning approach. In a cohort of 1000 patients with heart failure, different machine learning algorithms were trained to associate a subset of patient data with a very high or shallow mortality risk. The objective of this work is to use the Heart Failure dataset to undertake a thorough survival analysis and prediction. Using the current dataset of heart failure patients, the model developed for this study shows several features linked to heart failure. It is based on supervised learning techniques such as Naive Bayes, decision trees, K-nearest neighbors, and random forests. 1000 instances and twelve characteristics make up the dataset. As result the K-nearest neighbor yields the highest accuracy score
PENGEMBANGAN SENTRA BATIK SKALA HOME INDUSTRY DESA KONDANGJAJAR KABUPATEN PANGANDARAN JAWA BARAT
Batik is the work of the Indonesian people which is a blend of art and technology by the ancestors of the Indonesian nation. Indonesian batik can develop to a level that is incomparable both in design or motifs as well as in the process. Kondangjajar Village, Cijulang District, as one of the areas in Pangandaran Regency, made a breakthrough by developing the art of batik craft called "Batik Kodja (Kondangjajar)" with the motif of "Marlin Fish" where the marlin fish became a trand mark in Pangandaran Regency. In its journey, the art of batik in Kondangjajar Village experienced ups and downs, especially the lack of adequate labor as batik to meet market needs, there was still a lack of knowledge about good and correct batik techniques including coloring techniques. Kondangjajar Village, Cijulang District, as one of the areas in Pangandaran Regency with the majority of the population's livelihood being fishermen, farmers, breeders and tour guides. Based on these considerations, strategic efforts through KKN-KKU activities can be used as a solution. The activity begins with the stage of program coordination to the target group, followed by training led by experienced instructors and ends with the socialization of the art of batik. The results of the activity show that the written batik training at "Batik Kodja" is able to increase the benefits and understanding of higher quality batik and coloring techniques so that in the future it can have an effect on improving the quality of Batik Kodja.Batik adalah hasil karya bangsa Indonesia yang merupakan perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia. Batik Indonesia dapat berkembang sampai pada suatu tingkatan yang tidak ada bandingannya baik dalam desain atau motif maupun prosesnya. Desa Kondangjajar Kecamatan Cijulang sebagai salah satu wilayah di Kabupaten Pangandaran melakukan terobosan dengan mengembangkan seni kerajinan batik yang dinamakan “Batik Kodja (Kondangjajar)” bermotifkan “Ikan Marlin” dimana ikan marlin tersebut menjadi trand mark di Kabupaten Pangandaran. Dalam perjalanannya, seni kerajinan batik di Desa Kondangjajar mengalami pasang surut terutama kurangnya tenaga kerja sebagai pembatik yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar, masih kurangnya pengetahuan tentang teknik batik yang baik dan benar termasuk didalamnya teknik pewarnaan. Desa Kondangjajar Kecamatan Cijulang sebagai salah satu wilayah di Kabupaten Pangandaran dengan mayoritas mata pencaharian penduduknya menjadi nelayan, petani, peternak dan tour guide. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka upaya strategis melalui kegiatan KKN-KKU dapat dijadikan sebagai salah satu solusi pemecahannya. Kegiatan diawali dengan tahapan koordinasi program kepada kelompok sasaran, dilanjutkan dengan pelatihan yang dituntun oleh instruktur yang berpengalaman dan diakhiri dengan sosialisasi seni membatik. Hasil kegiatan menunjukan bahwa pelatihan batik tulis di “Batik Kodja” mampu menambah manfaat dan pemahaman teknik membatik dan mewarnai yang lebih berkualitas sehingga kedepannya dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas Batik Kodja
SISTEM ALAT BANTU JALAN BAGI PENYANDANG TUNA NETRA DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA FUZZY
Pada penelitian ini penulis mengembangkan alat bantu jalan tunanetra otomatis untuk penyandang tunanetra saat berjalan dan untuk melakukan aktifitas sehari – hari. Alat ini berfungsi untuk memberi tahu dan juga mendeteksi adanya objek atau halangan yang berada di depan, kiri dan kanan penyandang tunanetra saat mereka berjalan. Alat ini menggunakan Arduino Nano sebagai mikrokontroller pengendali dan memanfaatkan sensor ultrasonik sebagai alat bantu pengendali dan memberikan sinyal kepada penyandang tunanetra tersebut bahwa ada halangan atau suatu objek di depan, kiri dan kanan mereka. secara otomatis. Pengguna dapat merasakan adanya halangan melalui umpan balik berupa suara atau bunyi dari Buzzer Menggunakan tongkat penyandang tunanetra tersebu
MAKNA DARI RAGAM HIAS PURA PURNA, DESA MENGWI, BADUNG, BALI
Abstract: This article explores the meaning embedded in various ornamental designs of Balinese buildings, with Pura Purna in Mengwi Village, Badung Regency, as the case study. It highlights the diversity and richness of the ornaments, emphasizing their central role in characterizing religious structures. Using a qualitative approach, the study employs in-depth interviews, manuscript reviews, physical observations, and architectural documentation to analyze the form and design of these ornaments, contributing to understanding Balinese architectural identity. Data collection involved in-depth interviews, reviews of relevant manuscripts, physical observations, and architectural documentation, applying semiotic theory to interpret meanings. The study found that Pura Purna's architectural forms and ornamental designs were influenced by Dutch colonialism, encapsulated in the “Ni Dyah Tantri” animal tales, which embody deeply ingrained moral values within Balinese society. Moreover, the study observed that the ornaments used are not merely decorative elements but also reflections of the cultural and historical phases experienced by the community in Mengwi Village. Consequently, Pura Purna serves not only as a place of worship but also as a culturally rich and historically significant heritage that must be preserved.
Keyword: Ornamental Designs, Cultural Influence, Balinese Heritage
Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengungkap makna yang tertanam dalam berbagai ragam hias dari bangunan di Bali. Artikel ini memilih Pura Purna sebuah tempat ibadah di Desa Mengwi, Kabupaten Badung sebagai objek studinya. Fokus diskusi yang diangkat adalah pada bentuk dan desain ornamen yang digunakan di pura ini. Artikel ini melihat keragaman dan kekayaan ornamen sebagai bagian sentral yang mengkarakterisasi sebuah struktur ibadah dan bahkan sebuah pura secara keseluruhan. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan serangkaian wawancara mendalam, tinjauan terhadap naskah-naskah yang relevan, observasi fisik, dokumentasi arsitektur, serta menggunakan teori Semiotika dalam mengungkap makna yang. Studi ini menemukan bahwa bentuk arsitektur dan desain ornamen Pura Puada di setiap ragam hias. rna dipengaruhi oleh kependudukan penjajah Belanda, yang dikemas dalam kisah kehidupan hewan Ni Dyah Tantri yang nilai-nilai moralnya sangat tertanam dalam kehidupan masyarakat Bali. Selain itu, diamati bahwa ornamen yang digunakan bukan hanya elemen dekoratif, tetapi juga cerminan dari fase-fase budaya dan sejarah yang dialami oleh komunitas di Desa Mengwi. Oleh karena itu, Pura Purna bukan hanya tempat ibadah tetapi juga warisan yang kaya secara budaya dan penting secara historis yang patut dilestarikan.
Kata Kunci: Desain Ornamen, Pengaruh Budaya, Warisan Bal
OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) (STUDI KASUS: PASAR RAKYAT TIPE A BANGKO, KABUPATEN MERANGIN)
Pasar Rakyat Tipe A Bangko, di Kelurahan Pematang Kandis, Kecamatan Bangko, Kabupaten Merangin, merupakan pusat aktivitas ekonomi utama yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar. Namun, pengelolaan sampah di pasar ini belum optimal, ditandai dengan penumpukan sampah tanpa pemilahan, kurangnya fasilitas wadah sampah, dan perilaku membuang sampah sembarangan. Hingga kini, belum ada Standar Operasional Prosedur (SOP) khusus yang diterapkan untuk pengelolaan sampah di pasar ini. Penelitian bertujuan menganalisis timbulan dan komposisi sampah, mengidentifikasi hubungan tingkat pengetahuan pedagang terhadap pengelolaan sampah, serta merancang SOP pengelolaan sampah. Metode penelitian menggunakan SNI 19-3964-1994 untuk pengukuran timbulan dan komposisi sampah. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata timbulan sampah harian mencapai 58,58 kg, didominasi sampah organik (90,97%) dan plastik (9,03%). Tingkat pengetahuan pedagang mayoritas tinggi (86%) namun tidak merata, sehingga mendukung hipotesis alternatif (H1) dan menjadi dasar penyusunan SOP yang efektif. Rancangan SOP difokuskan pada penguatan peran pedagang dan pengelola pasar untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah. SOP mencakup pedoman pemilahan, penyediaan fasilitas memadai, serta pelatihan pedagang. SOP ini diharapkan menjadi acuan UPTD Pasar dalam mengelola sampah secara efisien dan berkelanjutan, meningkatkan kualitas lingkungan pasar, dan mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar
AN ANALYSIS OF FIGURATIVE LANGUAGE IN LORDE’S SELECTED SONG AND ITS CONNOTATIVE MEANING
This study investigated the figurative language in Lorde’s selected song entitled “Royals” and its connotative meaning. This study was descriptive qualitative research. The source of the data was Lorde selected song entitled “Royals”. The data were word, phrase, clause, and sentence in the song expressing figurative language. The finding indicated that there were 16 figurative languages found in “Royals” lyric. They were simile, personification, metaphor, symbolism, metonymy, hyperbole, understatement, and irony. The most frequent figurative language found in “Royals” lyric was symbolism since it symbolized the materialism in American society. The connotative meaning of the whole figurative language is negative because it shows the rejection of materialism in American society
REVITALISASI NASIONALISME DIGITAL MELALUI APLIKASI BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DI ERA MASYARAKAT 5.0
The rapid digitalization of society presents both opportunities and challenges for cultivating nationalism among younger generations. Traditional expressions of nationalism often fail to resonate with digital natives, requiring more adaptive and participatory approaches. This study aims to explore how a mobile application, e-Nasionalis, can be utilized to strengthen civic values and digital nationalism among Indonesian youth. Employing a mixed-methods approach, the research integrates the development and limited testing of the application with user feedback analysis from 60 participants, including students, university youth, and digital community members. Features of the app include civic education modules, daily acts of nationalism, and a hoax reporting tool. Quantitative data showed a high level of user engagement and satisfaction, while qualitative insights revealed positive changes in users’ understanding and practice of nationalism in everyday digital life. The findings suggest that the integration of information technology and political education can provide innovative civic learning platforms that are relevant, engaging, and impactful in the context of Society 5.0.Digitalisasi masyarakat yang pesat membawa peluang sekaligus tantangan dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme, khususnya bagi generasi muda. Ekspresi nasionalisme tradisional kerap tidak lagi relevan bagi generasi digital native, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih adaptif dan partisipatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana aplikasi mobile e-Nasionalis dapat digunakan untuk memperkuat nilai-nilai kewarganegaraan dan nasionalisme digital di kalangan pemuda Indonesia. Dengan pendekatan metode campuran, penelitian ini menggabungkan pengembangan dan uji coba terbatas aplikasi dengan analisis umpan balik dari 60 partisipan, yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan anggota komunitas digital. Aplikasi ini dilengkapi dengan modul edukasi kewarganegaraan, tantangan aksi nasionalisme harian, dan fitur pelaporan hoaks. Data kuantitatif menunjukkan tingkat keterlibatan dan kepuasan pengguna yang tinggi, sementara temuan kualitatif mengungkap perubahan positif dalam pemahaman dan praktik nasionalisme dalam kehidupan digital sehari-hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi teknologi informasi dan pendidikan politik dapat menghasilkan platform pembelajaran kewarganegaraan yang inovatif, relevan, dan berdampak di era Masyarakat 5.0