E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
861 research outputs found
Sort by
PERENCANAAN STRATEGI PEMASARAN DIGITAL UNTUK MENINGKATKAN PENJUALAN UMKM DONAT ANJALI DI TASIKMALAYA DENGAN MENGGUNAKAN METODE MARKETING MIX
Currently, marketing can not only be done conventionally, but can be done in a more sophisticated way, namely digitally using the internet. This research aims to design an effective digital marketing strategy to increase sales of Donat Anjali, an MSME located in Arjamukti Housing, Singaparna, Tasikmalaya. Using the marketing mix (4P) approach, product, price, place, and promotion, this research analyzes marketing elements that can be optimized through social media, such as Instagram or Facebook, as well as online delivery services such as Gojek, GrabFood and ShopeeFood and other online delivery services. A qualitative approach was used in this research, with data collection methods in the form of interviews, field observations, and documentation studies. The results of the analysis show that Anjali Donuts has a great opportunity to increase sales by diversifying products, strengthening brand identity, implementing competitive pricing strategies, and optimizing distribution through digital platforms. Utilizing social media as a promotional tool can also increase product visibility and reach more consumers. This research provides relevant strategic recommendations for MSME players to compete in the digital era by utilizing information technology to the fullest.Saat ini pemasaran tidak hanya bisa dilakukan secara konvensional, namun dapat dilakukan dengan cara yang lebih canggih yaitu secara digital dengan menggunakan internet. Penelitian ini bertujuan untuk merancang strategi pemasaran digital yang efektif guna meningkatkan penjualan Donat Anjali, sebuah UMKM yang berlokasi di Perum Arjamukti, Singaparna, Tasikmalaya. Dengan menggunakan pendekatan marketing mix (4P), yaitu produk, harga, tempat, dan promosi, penelitian ini menganalisis elemen- elemen pemasaran yang dapat dioptimalkan melalui media sosial, seperti Instagram atau Facebook, serta layanan pesan antar online seperti Gojek, GrabFood dan ShopeeFood dan pesan antar online lainya. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, dengan metode pengumpulan data berupa wawancara, observasi lapangan, dan studi dokumentasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa Donat Anjali memiliki peluang besar untuk meningkatkan penjualan dengan diversifikasi produk, penguatan identitas merek, penerapan strategi harga yang kompetitif, serta optimalisasi distribusi melalui platform digital. Pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi juga dapat meningkatkan visibilitas produk dan menjangkau lebih banyak konsumen. Penelitian ini memberikan rekomendasi strategis yang relevan bagi pelaku UMKM untuk bersaing di era digital dengan memanfaatkan teknologi informasi secara maksimal
the ANALISIS KELAYAKAN USAHA SUSU SAPI DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA DI DESA GURANTENG: ANALISIS KELAYAKAN USAHA SUSU SAPI DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA
This study aims to analyze the feasibility of dairy cattle farming and to formulate development strategies in Guranteng Village, Pagerageung Subdistrict, Tasikmalaya Regency. The dairy farming business in this village is dominated by small-scale farmers employing semi-intensive management systems. The research employs a mixed-method approach, combining quantitative descriptive analysis and qualitative data collected through field surveys, structured interviews, direct observations, and SWOT analysis. Feasibility is evaluated using financial indicators such as Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PP), and Benefit Cost Ratio (BCR). Results indicate that dairy farming in Guranteng Village is financially feasible, with an NPV of IDR 8,750,000, IRR of 17%, PP of 2.6 years, and BCR of 1.52. The main challenges include low technology adoption, weak business management, and limited market access. Development strategies are formulated based on SWOT analysis, incorporating SO, ST, WO, and WT strategies. Proposed strategies focus on strengthening cooperative institutions, enhancing farmer capacity, product diversification, and fostering collaboration among stakeholders. With effective implementation, dairy farming in Guranteng Village has the potential to become a sustainable and competitive pillar of the local economy.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha susu sapi rakyat serta merumuskan strategi pengembangannya di Desa Guranteng, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya. Usaha sapi perah di desa ini didominasi oleh peternak skala kecil dengan sistem pemeliharaan semi-intensif. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif melalui survei lapangan, wawancara terstruktur, observasi langsung, dan analisis SWOT. Data kelayakan usaha dianalisis menggunakan indikator Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PP), dan Benefit Cost Ratio (BCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha sapi perah di Desa Guranteng layak secara finansial dengan nilai NPV sebesar Rp 8.750.000, IRR sebesar 17%, PP selama 2,6 tahun, dan BCR sebesar 1,52. Permasalahan utama dalam pengembangan usaha meliputi rendahnya adopsi teknologi, lemahnya manajemen usaha, dan keterbatasan akses pasar. Strategi pengembangan usaha disusun berdasarkan analisis SWOT, dengan pendekatan SO, ST, WO, dan WT. Strategi yang diusulkan meliputi penguatan kelembagaan koperasi, peningkatan kapasitas peternak, diversifikasi produk susu, dan penguatan kolaborasi antar pemangku kepentingan. Dengan implementasi strategi yang tepat, usaha sapi perah di Desa Guranteng berpotensi menjadi salah satu pilar ekonomi lokal yang berkelanjutan dan berdaya saing
PENGARUH PERBEDAAN LATAR BELAKANG SUKU DAN POLA KOMUNIKASI TERHADAP KINERJA PENGURUS HMTI
The phenomenon of inter-ethnic life in Indonesia is very interesting to study. Because, Indonesia which has various ethnic diversity, this country does not only belong to one ethnicity, so an attitude of tolerance is needed in communicating to remain conducive. This study aims to determine the effect of ethnic background on the performance of HMTI UKRI administrators. This research method uses a quantitative method with data collection techniques through questionnaires and statistical analysis. With a population of all HMTI members totaling 20 members and using multiple linear regression analysis in processing its data based on the results of research, discussion and test results described about ethnic background and communication patterns on HMTI performance, the communication pattern factor has a significant effect of 26.64% compared to the factor of differences in ethnic background which tends not to have a significant effect on the performance of HMTI administrators with a value of -3.4%.Fenomena kehidupan antar etnis di Indonesia sangat menarik untuk dikaji. Sebab, Indonesia yang memiliki berbagai keanekaragaman dalam suku, Negara ini bukan hanya milik dari satu etnis saja, sehingga diperlukan sikap toleransi dalam berkomunikasi agar tetap kondusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latar belakang suku terhadap kinerja pengurus HMTI UKRI. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner dan analisis statistik. Dengan populasi seluruh anggota HMTI yang berjumlah 20 anggota dan menggunakan analisis regresi linier berganda dalam pengolahan data-nya berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan hasil pengujian yang di uraikan tentang latar belakang suku dan pola komunikasi terhadap kinerja HMTI, faktor pola komunikasi berpengaruh signifikan sebesar 26,64% disbanding dengan faktor perbedaan latar belakang suku yang cenderung tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pengurus HMTI dengan nilai sebesar -3,4%
PENDEKATAN EKOLITERASI DAN ARSITEKTUR HIJAU DALAM MENCIPTAKAN EDUKASI BERKELANJUTAN DI SDN 3 BATURITI, BALI
Abstract: Schools are formal educational institutions that systematically implement learning programs to develop the potential of students. However, the current school concept tends to be rigid and conventional, which requires a strategic approach such as an ecoliteracy approach that aims to build ecological awareness and understanding of environmental issues. Green behavior can be formed through the elaboration of educational aspects, technology and cooperation, so that later it is more responsive and responsible for the environment. Considering the geographical conditions of SDN 3 Baturiti that support the concept of environmentally friendly buildings, the optimization of the ecoliteracy approach is carried out through the redesign of the school using the concept of green architecture. The implementation refers to the green assessment tools and parameters from various literature studies, such as the use of environmentally friendly and recycled materials; thermal and visual comfort; resource and energy efficiency; addition and expansion of several spaces; interior rearrangement; and the use of stimulating colors and textures. The research uses glass box and black box design methods that focus on environmental integration, energy efficiency, functionality and aesthetics. The result of the research is the redesign of SDN 3 Baturiti with the concept of green architecture to support learning with an ecoliteracy approach, because environmental education plays an important role in realizing an environmentally sound society in the future.
Keyword: ecoliteration; green architecture; green school; sustainability
Abstrak: Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program pembelajaran dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik. Namun konsep sekolah yang saat ini cenderung kaku dan konvensional, memerlukan pendekatan strategis seperti pendekatan ekoliterasi yang bertujuan untuk membangun kesadaran ekologis dan pemahaman tentang isu lingkungan. Perilaku hijau tersebut dapat dibentuk melalui elaborasi aspek pendidikan, teknologi, dan kolaborasi, sehingga nantinya lebih responsif dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Mempertimbangkan kondisi geografis SDN 3 Baturiti yang mendukung konsep bangunan ramah lingkungan, optimalisasi pendekatan ekoliterasi dilakukan melalui perancangan ulang sekolah menggunakan konsep arsitektur hijau. Implementasi mengacu pada rating tools greenship dan parameter dari berbagai kajian literatur, seperti penggunaan material ramah lingkungan dan daur ulang; kenyamanan thermal dan visual; efisiensi sumber daya dan energi; penambahan dan perluasan beberapa ruang; penataan ulang interior; serta penggunaan warna dan tekstur yang memberi stimulan. Penelitian menggunakan metode glass box dan black box design yang fokus pada integrasi lingkungan; efisiensi energi; fungsionalitas; dan estetika. Hasil dari penelitian adalah perancangan ulang SDN 3 Baturiti dengan konsep arsitektur hijau guna mendukung pembelajaran dengan pendekatan ekoliterasi, sebab pendidikan lingkungan berperan penting dalam mewujudkan masyarakat yang berwawasan lingkungan kedepannya.
Kata Kunci: Ekoliterasi, arsitektur hijau, sekolah hijau, sustainabilitasSekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program pembelajaran dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik. Namun konsep sekolah yang saat ini cenderung kaku dan konvensional, memerlukan pendekatan strategis seperti pendekatan ekoliterasi yang bertujuan untuk membangun kesadaran ekologis dan pemahaman tentang isu lingkungan. Perilaku hijau tersebut dapat dibentuk melalui elaborasi aspek pendidikan, teknologi, dan kolaborasi, sehingga nantinya lebih responsif dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Mempertimbangkan kondisi geografis SDN 3 Baturiti yang mendukung konsep bangunan ramah lingkungan, optimalisasi pendekatan ekoliterasi dilakukan melalui perancangan ulang sekolah menggunakan konsep arsitektur hijau. Implementasi mengacu pada rating tools greenship dan parameter dari berbagai kajian literatur, seperti penggunaan material ramah lingkungan dan daur ulang; kenyamanan thermal dan visual; efisiensi sumber daya dan energi; penambahan dan perluasan beberapa ruang; penataan ulang interior; serta penggunaan warna dan tekstur yang memberi stimulan. Penelitian menggunakan metode glass box dan black box design yang fokus pada integrasi lingkungan; efisiensi energi; fungsionalitas; dan estetika. Hasil dari penelitian adalah perancangan ulang SDN 3 Baturiti dengan konsep arsitektur hijau guna mendukung pembelajaran dengan pendekatan ekoliterasi, sebab pendidikan lingkungan berperan penting dalam mewujudkan masyarakat yang berwawasan lingkungan kedepannya
KONSEP PLACEMAKING ELEMEN COMFORT AND IMAGE PADA RUANG PUBLIK TAMAN JOGGING TRACK UNDIP
Abstract: Public space is one of the important things that need to be considered in improving the quality in urban areas. The quality of public space itself can be improved by strengthening the relationship between public space and its users. In this case it can be in the form of increasing the comfort of the public space itself. By using the Placemaking approach, public spaces can be designed by emphasizing on the Image and Comfort of the place towards the users themselves. This research uses descriptive qualitative method with descriptive analysis of Comfort and Image elements as a comparative study in identifying placemaking elements in the object. Placemaking is a concept of public space design approach that becomes the parent concept used, while Comfort and Image is an element that forms Placemaking itself which explains more about the comfort and image of an object. This research aims to find out the character of the placemaking concept in public buildings by reviewing one of the public spaces in Semarang City. Public space itself is the choice of research because many community activities are carried out in that place. The results showed that there is a close relationship between the components in public space design. These elements are very important to reinforce the character of a place and provide an overview and meaning of public space to provide shared comfort for the Community.
Keyword: Comfort and Image, Placemaking Concept, Public Space
Abstrak: Ruang Publik merupakan salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kualitas di perkotaan. Peningkatan kualitas dari ruang publik dapat dilakukan dengan cara mempererat hubungan antara ruang publik dan penggunanya. Dalam hal ini dapat berupa meningkatkan kenyamanan dari ruang publik itu sendiri. Dengan menerapkan pendekatan Placemaking, ruang publik dapat dirancang dengan penekanan terhadap aspek Citra dan Kenyamanan tempat terhadap pengguna itu sendiri. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif dengan analisis deskriptif terhadap elemen Comfort and Image sebagai studi banding dalam mengidentifikasi elemen placemaking pada objek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter dari konsep placemaking pada bangunan publik dengan meninjau salah satu ruang publik yang berada di Kota Semarang. Ruang publik sendiri menjadi pilihan penelitian karena banyak kegiatan masyarakat yang dilakukan ditempat tersebut. Hasil yang didapat dalam penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara komponen dalam desain ruang publik. Elemen-elemen ini sangat penting untuk memperkuat karakter suatu tempat dan memberikan gambaran dan makna ruang publik untuk memberikan kenyamanan bersama bagi Masyarakat.
Kata Kunci: Comfort and Image, Konsep Placemaking, Ruang PublikRuang Publik merupakan salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kualitas di perkotaan. Peningkatan kualitas dari ruang publik dapat dilakukan dengan cara mempererat hubungan antara ruang publik dan penggunanya. Dalam hal ini dapat berupa meningkatkan kenyamanan dari ruang publik itu sendiri. Dengan menerapkan pendekatan Placemaking, ruang publik dapat dirancang dengan penekanan terhadap aspek Citra dan Kenyamanan tempat terhadap pengguna itu sendiri. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif dengan analisis deskriptif terhadap elemen Comfort and Image sebagai studi banding dalam mengidentifikasi elemen placemaking pada objek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter dari konsep placemaking pada bangunan publik dengan meninjau salah satu ruang publik yang berada di Kota Semarang. Ruang publik sendiri menjadi pilihan penelitian karena banyak kegiatan masyarakat yang dilakukan ditempat tersebut. Hasil yang didapat dalam penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara komponen dalam desain ruang publik. Elemen-elemen ini sangat penting untuk memperkuat karakter suatu tempat dan memberikan gambaran dan makna ruang publik untuk memberikan kenyamanan bersama bagi Masyarakat
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIVITAS MASYARAKAT DI JALUR PEDESTRIAN JALAN GAJAH MADA DENPASAR DENGAN PENDEKATAN ACTIVE LIVING
Abstract: The increasing use of private vehicles in recent years has become a pressing issue, contributing to various negative impact, including rising air pollution and a decline in the number of people walking. Active living refers to the effort to maintain a healthy lifestyle through regular physical activity, such as walking or cycling. Based on the triple-bottom-line theory, the aim of this study one the components that influence people’s behavior to move actively along the Jalan Gajah Mada Denpasar pedestrian path. The study area is located within a commercial zone that experiences significant traffic congestion during peak hours. A mixed-methods approach was employed, combining quantitative and qualitative techniques, including field surveys, interviews, and questionnaires for data collection. The results indicate that the majority of interviewees agreed that walking along the pedestrian path contributes to better health, enhances social well-being, and supports the local economy. However, challenges remain, such as inadequate infrastructure, the presence of parked vehicles on pedestrian paths, and safety concerns. Economic factors emerged as the primary motivator for people to engage in active mobility, while environmental conditions also played a crucial role. This tstudy emphasizes the importance of designing safe and comfortable pedestrian pathways to encourage active movement and ultimately improve quality of life. Further research is recommended to explore policy development and pedestrian design improvements through collaborative efforts with community stakeholders.
Keywords: Active life, walking, pedestrian
Abstrak: Meningkatnya pengguna kendaraan pribadi belakangan ini menjadi isu yang belakangan ini sering dibahas dan menimbulkan berbagai dampak negatif, salah satunya adalah polusi udara meningkat dan terjadi penurunan jumlah masyarakat yang berjalan kaki. Active living merupakan berusaha untuk tetap menjalani gaya hidup sehat secara rutin setiap hari, misalkan seperti berjalan kaki atau bersepeda. Berdasarkan teori triple-bottom-line, tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari salah satu komponen yang mempengaruhi perilaku masyarakat untuk bergerak aktif di sepanjang jalur pedestrian Jalan Gajah Mada Denpasar. Lokasi ini berada disebuah kawasan komersial dengan tingkat kemacetan tinggi di jam tertentu. Metode yang digunakan adalah kombinasi kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui survey lapangan, wawancara dan pengumpulan data serta kuisioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas hasil dari wawancara menjawab setuju bahwa berjalan kaki di jalur pedestrian dapat meningkatkan kesehatan dan meningkatkan kesejahteraan sosial serta mendukung ekonomi lokal. Namun, terdapat beberapa tantangan kurangnya fasilitas seperti masih terdapat parkir di jalur pedestrian, dan masalah keamanan yang perlu diperbaiki. Faktor ekonomi menjadi faktor utama bagi masyarakat untuk bergerak aktif, sementara kondisi lingkungan juga berperan penting. Penelitian ini membahas pentingnya merencanakan jalur pedestrian yang aman dan nyaman untuk mendorong masyarakat dalam bergerak lebih aktif, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Rekomendasi untuk studi lebih lanjut mencakup pengembangan regulasi dan desain pedestrian serta kolaborasi dengan komunitas.
Kata Kunci: Active living, berjalan kaki, pedestrianMeningkatnya pengguna kendaraan pribadi belakangan ini menjadi isu yang belakangan ini sering dibahas dan menimbulkan berbagai dampak negatif, salah satunya adalah polusi udara meningkat dan terjadi penurunan jumlah masyarakat yang berjalan kaki. Active living merupakan berusaha untuk tetap menjalani gaya hidup sehat secara rutin setiap hari, misalkan seperti berjalan kaki atau bersepeda. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat untuk bergerak aktif di sepanjang jalur pedestrian Jalan Gajah Mada Denpasar berdasarkan teori triple-bottom-line. Lokasi ini berada disebuah kawasan komersial dengan tingkat kemacetan tinggi di jam tertentu. Metode yang digunakan adalah kombinasi kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui survey lapangan, wawancara dan pengumpulan data serta kuisioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas hasil dari wawancara menjawab setuju bahwa berjalan kaki di jalur pedestrian dapat meningkatkan kesehatan dan meningkatkan kesejahteraan sosial serta mendukung ekonomi lokal. Namun, terdapat beberapa tantangan kurangnya fasilitas seperti masih terdapat parkir di jalur pedestrian, dan masalah keamanan yang perlu diperbaiki. Faktor ekonomi menjadi faktor utama bagi masyarakat untuk bergerak aktif, sementara kondisi lingkungan juga berperan penting. Penelitian ini membahas pentingnya merencanakan jalur pedestrian yang aman dan nyaman untuk mendorong masyarakat dalam bergerak lebih aktif, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Rekomendasi untuk studi lebih lanjut mencakup pengembangan regulasi dan desain pedestrian serta kolaborasi dengan komunitas
Konsep Open-Air Shopping Center sebagai Solusi Retail di Era Post-Pandemic
Abstract: The COVID-19 pandemic has transformed patterns of interaction within public and commercial spaces, particularly in retail environments. Heightened awareness of health, air quality, and hygiene has shifted public preferences from enclosed shopping centers toward open spaces perceived as safer and more comfortable. In response to these changes, the Open-Air Shopping Center emerges as an architectural approach aligned with Post-Pandemic Architecture, addressing evolving social, economic, and environmental conditions. This study examines the potential of open-air shopping centers as a retail design solution that supports public health, user comfort, and Environmental Sustainability. The research employs a qualitative method through a literature review of post-pandemic architectural discourse and sustainable design principles, combined with a descriptive analysis of spatial configuration, natural ventilation, daylighting, and user behavior in commercial public spaces. The findings indicate that open spatial layouts integrating cross-ventilation, green vegetation, and semi-open transitional spaces enhance thermal comfort, reduce reliance on mechanical cooling systems, and improve visitor experience. This study concludes that the open-air shopping center represents a resilient, sustainable, and human-centered architectural model for future retail development.
Keyword: Open-Air Shopping Center; Post-Pandemic Architecture; Environmental Sustainability
Abstrak: Pandemi COVID-19 telah mengubah pola interaksi dalam ruang publik dan komersial, khususnya pada lingkungan ritel. Meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan, kualitas udara, dan kebersihan telah menggeser preferensi masyarakat dari pusat perbelanjaan tertutup menuju ruang terbuka yang dianggap lebih aman dan nyaman. Menanggapi perubahan tersebut, Pusat Perbelanjaan Terbuka muncul sebagai pendekatan arsitektural yang sejalan dengan konsep Arsitektur Pasca-Pandemi, dengan menjawab kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan yang terus berkembang. Penelitian ini mengkaji potensi pusat perbelanjaan terbuka sebagai solusi desain ritel yang mendukung kesehatan publik, kenyamanan pengguna, dan Keberlanjutan Lingkungan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif melalui studi literatur mengenai wacana arsitektur pasca-pandemi dan prinsip desain berkelanjutan, yang dipadukan dengan analisis deskriptif terhadap konfigurasi ruang, ventilasi alami, pencahayaan alami, dan perilaku pengguna pada ruang publik komersial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata ruang terbuka yang mengintegrasikan ventilasi silang, vegetasi hijau, serta ruang transisi semi-terbuka mampu meningkatkan kenyamanan termal, mengurangi ketergantungan pada sistem pendingin mekanis, dan meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa open-air shopping center merupakan model arsitektur ritel yang tangguh, berkelanjutan, dan berorientasi pada manusia untuk pengembangan ritel di masa depan.
Kata Kunci: Pusat Perbelanjaan Terbuka; Arsitektur Pasca-Pandemi; Keberlanjutan Lingkungan.Pandemi COVID-19 telah mengubah pola interaksi dalam ruang publik dan komersial, khususnya pada lingkungan ritel. Meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan, kualitas udara, dan kebersihan telah menggeser preferensi masyarakat dari pusat perbelanjaan tertutup menuju ruang terbuka yang dianggap lebih aman dan nyaman. Menanggapi perubahan tersebut, Pusat Perbelanjaan Terbuka muncul sebagai pendekatan arsitektural yang sejalan dengan konsep Arsitektur Pasca-Pandemi, dengan menjawab kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan yang terus berkembang. Penelitian ini mengkaji potensi pusat perbelanjaan terbuka sebagai solusi desain ritel yang mendukung kesehatan publik, kenyamanan pengguna, dan Keberlanjutan Lingkungan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif melalui studi literatur mengenai wacana arsitektur pasca-pandemi dan prinsip desain berkelanjutan, yang dipadukan dengan analisis deskriptif terhadap konfigurasi ruang, ventilasi alami, pencahayaan alami, dan perilaku pengguna pada ruang publik komersial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata ruang terbuka yang mengintegrasikan ventilasi silang, vegetasi hijau, serta ruang transisi semi-terbuka mampu meningkatkan kenyamanan termal, mengurangi ketergantungan pada sistem pendingin mekanis, dan meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa open-air shopping center merupakan model arsitektur ritel yang tangguh, berkelanjutan, dan berorientasi pada manusia untuk pengembangan ritel di masa depan.
Kata Kunci: Pusat Perbelanjaan Terbuka; Arsitektur Pasca-Pandemi; Keberlanjutan Lingkungan
Hubungan Biaya Distribusi Produk Alat Kesehatan Tahun 2025 Dengan Metode Modified Distribution (MODI) dan Vogels ‘s Approximation (VAM)
Penelitian ini merupakan lanjutan dari studi sebelumnya yang dilakukan pada tahun 2020 dan bertujuan untuk mengoptimalkan biaya distribusi produk alat kesehatan pada tahun 2025. Untuk menyesuaikan dengan kondisi terkini, data permintaan, persedian, dan biaya transportasi diproyeksikan ke tahun 2025 menggunakan pendekatan metode regresi linear berdasarkan data inflasi Badan Pusat Statistika dan kenaikan harga bahan bakar. Hasil prediksi digunakan dalam formulasi model transportasi untuk menyusun solusi distribusi yang efisien. Metode Vogel’s Approximation Method (VAM) digunakan untuk mendapatkan solusi awal dan diuji optimalisasinya dengan Modified Distribution Method (MODI) guna memastikan bahwa solusi yang diperoleh bersifat optimal. optimasi biaya. Hasil analisis menunjukan bahwa solusi awal VAM menghasilkan biaya distribusi sebesar Rp 271.004.184, dan solusi awal VAM terbukti sudah optimal. Dengan demikian, model transportasi ini relevan untuk digunakan dalam perencanaan distribusi logistik kesehatan di masa terkini.Kata kunci: distribusi, VAM, MODI, regresi linear, biaya logisti
EVALUASI RUANG TERAPI SENSORI INTEGRASI BERDASARKAN KARAKTERISTIK HIPOVISUAL DAN HIPERVISUAL PADA ANAK AUTIS
Abstract: The increasing prevalence of autistic children globally, including in Indonesia, has highlighted the need for effective therapeutic environments, particularly sensory integration therapy spaces. These spaces play an essential role in supporting the development of autistic children by meeting their unique sensory needs. This study aims to compare the spatial characteristics of existing sensory integration therapy spaces with ideal design criteria, focusing on visual stimuli, which significantly impact the emotions, behaviors, and therapeutic outcomes of autistic children. This study used a comparative method to analyze two therapy sites, namely SLBS Mitra Ananda and Puspa Holistic Integrative Care, focusing on eleven design variables related to visual aspects. Findings showed significant differences in the design and functionality of the two spaces, with one space leaning towards a more open and visually stimulating environment. In contrast, the other space emphasized containment and controlled sensory input. The study concludes that while both sites meet some of the criteria for sensory integration therapy, there is a notable gap in achieving an optimal design that fully supports the sensory needs of children with autism. This research contributes on designing therapy spaces that meet the specific needs of autistic individuals in improving their quality and therapy outcomes.
Keyword: Autism spectrum disorder, sensory dysfunctions, spatial design
Abstrak: Meningkatnya prevalensi kelahiran anak autis secara global, termasuk di Indonesia, telah menyoroti kebutuhan akan lingkungan terapi yang efektif, khususnya ruang terapi integrasi sensori. Ruang ini memainkan peran penting dalam mendukung perkembangan anak-anak autis dengan memenuhi kebutuhan sensorik mereka yang unik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik spasial ruang terapi integrasi sensori yang ada dengan kriteria desain yang ideal, dengan fokus pada rangsangan visual, yang secara signifikan berdampak pada emosi, perilaku, dan hasil terapi anak-anak autis. Penelitian ini menggunakan metode komparasi untuk menganalisis dua lokasi terapi, yaitu SLBS Mitra Ananda dan Puspa Holistic Integrative Care, dengan fokus pada sebelas variabel desain yang terkait dengan aspek visual. Temuan menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam desain dan fungsionalitas kedua ruang, dengan satu ruang yang condong ke arah lingkungan yang lebih terbuka dan merangsang secara visual, sementara ruang lainnya menekankan pada penahanan dan input sensorik yang terkendali. Studi ini menyimpulkan bahwa meskipun kedua lokasi memenuhi beberapa kriteria untuk terapi integrasi sensori, terdapat kesenjangan yang mencolok dalam mencapai desain optimal yang sepenuhnya mendukung kebutuhan sensorik anak autis. Penelitian ini berkontribusi pada wacana yang sedang berlangsung tentang merancang ruang terapi yang memenuhi kebutuhan spesifik individu autis dalam meningkatkan kualitas dan hasil terapi.
Kata Kunci: Gangguan spektrum autisme, Disfungsi sensori, Desain spasial ruangMeningkatnya prevalensi kelahiran anak autis secara global, termasuk di Indonesia, telah menyoroti kebutuhan akan lingkungan terapi yang efektif, khususnya ruang terapi integrasi sensori. Ruang ini memainkan peran penting dalam mendukung perkembangan anak-anak autis dengan memenuhi kebutuhan sensorik mereka yang unik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik spasial ruang terapi integrasi sensori yang ada dengan kriteria desain yang ideal, dengan fokus pada rangsangan visual, yang secara signifikan berdampak pada emosi, perilaku, dan hasil terapi anak-anak autis. Penelitian ini menggunakan metode komparasi untuk menganalisis dua lokasi terapi, yaitu SLBS Mitra Ananda dan Puspa Holistic Integrative Care, dengan fokus pada sebelas variabel desain yang terkait dengan aspek visual. Temuan menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam desain dan fungsionalitas kedua ruang, dengan satu ruang yang condong ke arah lingkungan yang lebih terbuka dan merangsang secara visual, sementara ruang lainnya menekankan pada penahanan dan input sensorik yang terkendali. Studi ini menyimpulkan bahwa meskipun kedua lokasi memenuhi beberapa kriteria untuk terapi integrasi sensori, terdapat kesenjangan yang mencolok dalam mencapai desain optimal yang sepenuhnya mendukung kebutuhan sensorik anak autis. Penelitian ini berkontribusi pada wacana yang sedang berlangsung tentang merancang ruang terapi yang memenuhi kebutuhan spesifik individu autis dalam meningkatkan kualitas dan hasil terapi
PEMBERDAYAAN KADER DESA KERTAMUKTI KABUPATEN BANDUNG BARAT MELALUI KETERAMPILAN KOMUNIKASI
The welfare of the village community is built through the communication skills of village empowerment cadres (KPMD). As informal officers recruited from community potential, the cadres work as catalysts connecting the village government with village residents. The relationship between cadres and villagers is mainly related to the delivery and implementation of various programs aimed at all villagers. With these roles and duties, the cadres have a very strategic position. Its existence is a driving force that encourages and awakens villagers to participate in the implementation of village community development programs. Given the importance of the role and position of village cadres, lecturers of Communication Studies at the National University of Indonesia (UKRI) conduct community service which aims to provide communication skills to Kertamulya village cadres, Padalarang District, West Bandung Regency, so that all government programs can be understood and conveyed to all villagers. With the lecture and discussion method, it is possible to identify and solve various problems that arise with regard to the communication of cadres. The PkM results show that the cadres gain applied knowledge that can be used in carrying out all the tasks assigned.Kesejahteraan masyarakat desa dibangun melalui keterampilan komunikasi kader pemberdayaan desa (KPMD). Sebagai petugas informal yang direkrut dari potensi masyarakat, kader bekerja sebagai katalisator yang menghubungkan pemerintah desa dengan warga desa. Hubungan antara kader dan warga desa terutama terkait dengan penyampaian dan pelaksanaan berbagai program yang ditujukan kepada seluruh warga desa. Dengan peran dan tugas tersebut, kader memiliki kedudukan yang sangat strategis. Keberadaannya menjadi motor penggerak yang mendorong dan membangkitkan warga desa untuk turut serta dalam pelaksanaan program pembangunan masyarakat desa. Mengingat pentingnya peran dan kedudukan kader desa, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Nasional Indonesia (UKRI) melakukan pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk memberikan keterampilan komunikasi kepada kader Desa Kertamulya, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, agar seluruh program pemerintah dapat dipahami dan tersampaikan kepada seluruh warga desa. Dengan metode ceramah dan diskusi, berbagai permasalahan yang timbul terkait dengan komunikasi kader dapat diidentifikasi dan dipecahkan. Hasil PkM menunjukkan bahwa kader memperoleh ilmu terapan yang dapat digunakan dalam melaksanakan seluruh tugas yang diberikan