E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
    861 research outputs found

    Implementasi MOORA dalam Sistem Pendukung Keputusan untuk Kata Kunci Iklan Terbaik Shopee menggunakan Looker Studio

    No full text
    In an increasingly competitive digital era, PT Soka Cipta Niaga is required to optimize its marketing strategy through marketplace platforms such as Shopee. One of the main challenges in carrying out a marketing strategy on Shopee is the selection of the right keywords, because it can affect product visibility and the effectiveness of advertising costs. This study aims to help the process by applying the MOORA (Multi-Objective Optimization on the Basis of Ratio Analysis) method in the decision support system. The MOORA method was chosen because it is able to evaluate various alternatives by objectively considering the criteria that are beneficial (benefit) and unprofitable (cost). The development of the system is carried out through structured stages using the waterfall approach, with the stages of needs analysis, design, implementation in the form of a dashboard looker studio, to the testing process using black box testing. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, and literature studies. The result of this research is in the form of an interactive dashboard that not only displays keyword performance, but also provides the best keyword recommendations with three advanced groupings, namely prioritize and improve by 20%, maintain, and re-evaluate/reduce, based on the results of the MOORA method ranking. This system has been proven to provide more objective and consistent results compared to manual evaluations. Thus, this system can help PT Soka Cipta Niaga's digital marketing division in making decisions related to the selection of the best keywords more optimally.Di era digital yang semakin kompetitif, PT Soka Cipta Niaga dituntut untuk mengoptimalkan strategi pemasaran melalui platform pasar seperti Shopee. Salah satu tantangan utama dalam menjalankan strategi pemasaran di Shopee adalah pemilihan kata kunci yang tepat, karena hal ini dapat memengaruhi visibilitas produk dan efektivitas biaya iklan. Studi ini bertujuan untuk membantu proses dengan menerapkan metode MOORA (Multi-Objective Optimization on the Basis of Ratio Analysis) dalam sistem pendukung keputusan. Metode MOORA dipilih karena mampu mengevaluasi berbagai alternatif dengan mempertimbangkan secara objektif kriteria yang menguntungkan (manfaat) dan tidak menguntungkan (biaya). Pengembangan sistem dilakukan melalui tahapan terstruktur menggunakan pendekatan air terjun, dengan tahapan analisis kebutuhan, desain, implementasi dalam bentuk dashboard Looker Studio, hingga proses pengujian menggunakan pengujian kotak hitam. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan studi literatur. Hasil penelitian ini berupa dasbor interaktif yang tidak hanya menampilkan kinerja kata kunci, tetapi juga memberikan rekomendasi kata kunci terbaik dengan tiga pengelompokan lanjutan, yaitu prioritaskan dan tingkatkan sebesar 20%, pertahankan, dan evaluasi ulang/kurangi, berdasarkan hasil peringkat metode MOORA. Sistem ini telah terbukti memberikan hasil yang lebih objektif dan konsisten dibandingkan dengan evaluasi manual. Dengan demikian, sistem ini dapat membantu divisi pemasaran digital PT Soka Cipta Niaga dalam mengambil keputusan terkait pemilihan kata kunci terbaik secara lebih optimal

    Sistem Informasi Berbasis Web untuk Pendaftaran Kompetisi Internasional

    No full text
    The management of international student competitions in higher education institutions often faces challenges related to fragmented registration processes, manual data handling, and inefficient submission management. These issues may lead to data inconsistency, administrative errors, and limited transparency for participants. This research aims to design and implement a web-based information system that integrates competition registration and work submission into a single platform. The study adopts a system development–oriented approach, including requirement analysis, system design, implementation, and functional testing. The proposed system supports an integrated registration and submission process for participants, role-based access for administrators, administrative verification, and real-time status monitoring. The implementation results indicate that the system operates according to functional requirements and improves administrative efficiency, data accuracy, and accessibility for users. By centralizing registration and submission processes, the system reduces redundancy and simplifies competition management workflows. This research provides a practical solution for managing international student competitions, with a case implementation at Universitas Pancasakti Tegal.Pengelolaan kompetisi mahasiswa internasional di perguruan tinggi sering menghadapi tantangan terkait proses pendaftaran yang terfragmentasi, penanganan data manual, dan pengelolaan pengajuan yang tidak efisien. Masalah-masalah ini dapat menyebabkan inkonsistensi data, kesalahan administratif, dan keterbatasan transparansi bagi peserta. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan sistem informasi berbasis web yang mengintegrasikan pendaftaran kompetisi dan pengumpulan karya ke dalam satu platform. Studi ini mengadopsi pendekatan berorientasi pengembangan sistem, termasuk analisis kebutuhan, desain sistem, implementasi, dan pengujian fungsional. Sistem yang diusulkan mendukung proses pendaftaran dan pengiriman terintegrasi untuk peserta, akses berbasis peran untuk administrator, verifikasi administratif, dan pemantauan status waktu nyata. Hasil implementasi menunjukkan bahwa sistem beroperasi sesuai dengan persyaratan fungsional dan meningkatkan efisiensi administrasi, akurasi data, serta aksesibilitas bagi pengguna. Dengan memusatkan proses pendaftaran dan pengiriman, sistem ini mengurangi redundansi dan menyederhanakan alur kerja manajemen kompetisi. Penelitian ini memberikan solusi praktis untuk mengelola kompetisi mahasiswa internasional, dengan implementasi kasus di Universitas Pancasakti Tegal

    Adopsi Kecerdasan Buatan untuk Peramalan Sumber Daya Manusia pada Data Laporan Pemerintah di SatLinMas di bawah Satpol PP, Indonesia

    No full text
    This study investigates how Generative AI (GenAI) can be employed as a methodological innovation to extract and analyze human-capital information from fragmented Satlinmas and Satpol PP administrative reports across Indonesian regions. Using a three-phase AI-enabled process—comprising automated text extraction, competency clustering, and scenario-based manpower forecasting—the research reveals structural human-capital challenges, including uneven manpower distribution, aging volunteer-based personnel, limited training access, and the absence of standardized competency documentation. The competency mapping identifies three dominant capability clusters: operational patrol and event security, disaster-response capacity, and community mediation. Experimental scenario testing demonstrates that even qualitative, text-derived indicators can support directional manpower projections, showing that regions with high operational intensity benefit most from expanded training and digital reporting, while aging rural units require targeted recruitment strategies. Beyond generating these insights, the study contributes to the broader discourse on AI adoption by illustrating how GenAI can serve as both a diagnostic tool and an analytic engine in low-data public-sector environments. While findings remain constrained by inconsistent reporting formats and the absence of formal HR datasets, this research provides a replicable framework for future scholars seeking to integrate AI into human-capital planning and institutional capacity building within safeguarding and governance institutions.Studi ini menyelidiki bagaimana Kecerdasan Buatan Generatif (GenAI) dapat digunakan sebagai inovasi metodologis untuk mengekstraksi dan menganalisis informasi sumber daya manusia dari laporan administratif Satlinmas dan Satpol PP yang terfragmentasi di seluruh wilayah Indonesia. Menggunakan proses berbasis AI tiga fase—terdiri dari ekstraksi teks otomatis, pengelompokan kompetensi, dan perkiraan tenaga kerja berbasis skenario—penelitian ini mengungkap tantangan modal manusia struktural, termasuk distribusi tenaga kerja yang tidak merata, personel berbasis sukarelawan yang menua, akses pelatihan yang terbatas, dan tidak adanya dokumentasi kompetensi yang terstandarisasi. Pemetaan kompetensi mengidentifikasi tiga kelompok kemampuan dominan: patroli operasional dan keamanan acara, kapasitas tanggap bencana, dan mediasi masyarakat. Pengujian skenario eksperimental menunjukkan bahwa bahkan indikator kualitatif yang berasal dari teks dapat mendukung proyeksi tenaga kerja yang berarah, menunjukkan bahwa wilayah dengan intensitas operasional tinggi paling diuntungkan dari pelatihan yang diperluas dan pelaporan digital, sementara unit pedesaan yang menua membutuhkan strategi rekrutmen yang ditargetkan. Selain menghasilkan wawasan ini, penelitian ini berkontribusi pada wacana yang lebih luas tentang adopsi AI dengan mengilustrasikan bagaimana GenAI dapat berfungsi sebagai alat diagnostik dan mesin analitik di lingkungan sektor publik dengan data terbatas. Meskipun temuan tetap dibatasi oleh format pelaporan yang tidak konsisten dan tidak adanya kumpulan data SDM formal, penelitian ini menyediakan kerangka kerja yang dapat direplikasi bagi para sarjana di masa depan yang ingin mengintegrasikan AI ke dalam perencanaan sumber daya manusia dan pembangunan kapasitas kelembagaan dalam lembaga perlindungan dan tata kelola

    Sistem Pendukung Keputusan Berbasis Web untuk Menentukan Guru Berprestasi Menggunakan Metode TOPSIS

    No full text
    The most difficult thing in determining an outstanding teacher is the effort to eliminate the subjectivity factor so that every choice made is objective based on predetermined criteria. In order for the implementation of teacher selection to run, this makes the need for a decision support system that is able to provide assessment consistency with the application of normalization and provide convenience in the results of the scores that will be determined from each criterion. By applying the Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) method, it is possible to determine the best alternative by looking at the closest distance from the positive ideal solution and the farthest distance from the negative ideal solution. This system is also useful for schools in determining and calculating scores in determining teachers who are worthy of awards in the selection of outstanding teachers. This system has also been designed dynamically so that it can make it easier for school principals to determine criteria according to the school year. This is supported by the results of the system testing using beta conducted with 6 respondents, indicating that 83.3% of users agreed that the system was easy to use, while 66.6% considered the information provided satisfactory. This system effectively reduces subjectivity in decision-making and provides a faster and more efficient assessment process compared to the manual file-based selection method previously used at SMPN 9 Tasikmalaya.Hal tersulit dalam menentukan guru berprestasi adalah upaya untuk menghilangkan faktor subjektivitas agar setiap pilihan yang dibuat bersifat objektif berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Agar pelaksanaan seleksi guru dapat berjalan, hal ini menimbulkan kebutuhan akan sistem pendukung keputusan yang mampu memberikan konsistensi penilaian dengan penerapan normalisasi dan memberikan kemudahan dalam hasil skor yang akan ditentukan dari setiap kriteria. Dengan menerapkan metode Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS), dimungkinkan untuk menentukan alternatif terbaik dengan melihat jarak terdekat dari solusi ideal positif dan jarak terjauh dari solusi ideal negatif. Sistem ini juga bermanfaat bagi sekolah dalam menentukan dan menghitung nilai untuk menentukan guru yang layak mendapatkan penghargaan dalam seleksi guru berprestasi. Sistem ini juga dirancang secara dinamis sehingga memudahkan kepala sekolah dalam menentukan kriteria sesuai tahun ajaran. Hal ini didukung oleh hasil pengujian sistem menggunakan beta yang dilakukan dengan 6 responden, menunjukkan bahwa 83,3% pengguna setuju bahwa sistem mudah digunakan, sementara 66,6% menganggap informasi yang diberikan memuaskan. Sistem ini secara efektif mengurangi subjektivitas dalam pengambilan keputusan dan menyediakan proses penilaian yang lebih cepat dan efisien dibandingkan dengan metode seleksi berbasis berkas manual yang sebelumnya digunakan di SMPN 9 Tasikmalaya

    NILAI INFORMASI DALAM KOMUNIKASI BENCANA UNTUK PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN

    Full text link
    Entering the third month of 2025, a series of disaster tragedies filled the entire media space. The events beat other events that occurred at the same time. Routine disasters and have become a ritual every time the beginning of the year are floods and similar tragedies as part of the same cause as floods and landslides. Like a cassette that is played every year, the flood song is always heard loudly. But then it disappears along with the season which then changes to the dry season. On that basis, this study aims to determine the role and position of disaster communication which includes a series of efforts in disaster prevention, management and recovery. The research method used is qualitative. The results of the study show that disaster communication carried out by communicators has a significant role in disaster prevention and management and post-disaster. Prevention is not directed so that disasters do not occur immediately but rather prevent losses that will be suffered by disaster victims.Memasuki bulan ketiga tahun 2025 beruntutan tragedi bencana hampir memenuhi seluruh ruang media. Peristiwa bencana mengalahkan kejadian-kejadian lain yang dalam waktu bersamaan juga terjadi. Dari sejumlah bencana yang terjadi, terdapat bencana rutin dan sudah merupakan ritual yang terjadi pada setiap memasuki akhir dan awal tahun.  Bencana tersebut adalah banjir dan bencana serupa sebagai bagian dari peyebab yang sama seperti air bah dan tanah longsor. Layaknya kaset yang diputar setiap tahun, lagu banjir pun selalu terdengar nyaring. Tapi lantas menghilang bersamaan dengan musim yang kemudian berubah menuju kemarau. Masyarakat dibuat cemas, karena dampaknya sangat nyata. Atas dasar itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran dan posisi komunikasi bencana yang mencakup serangkaian upaya dalam pencegahan, penanggulangan dan pemulihan bencana. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi bencana yang dilakukan para komunkator memiliki peran signifikan dalam pencegahan dan penanggulangan bencana dan pascabencana. Pencegahan tidak diarahkan agar bencana tidak lantas terjadi melainkan mencegah kerugian yang akan diderita para korban bencana

    KOMUNIKASI POLITIK POLITISI PEREMPUAN INDONESIA RAYA (PIRA) JAWA BARAT DALAM MENDUKUNG UU TPKS

    Full text link
    Political Communication of Indonesian Women Politicians Greater Indonesia (PIRA) West Java shows how support is given by women as politicians who are involved in a wing of a political party for policies agreed upon by their political parties. This research will explain the forms of support carried out by PIRA politicians and what are the challenges faced by PIRA in supporting the TPKS Law, then how political communication is carried out by West Java PIRA politicians in supporting the TPKS Law. By using a qualitative research method with a qualitative descriptive approach with the aim of seeing how the support is provided and what challenges are faced with the existence of this TPKS Law. Then how is the political communication carried out by PIRA as a female politician. The results of this study indicate that the support provided by PIRA is by socializing the benefits and importance of the TPKS Law on the internalization of PIRA beforehand to focus on the quality of each PIRA member. Then, in facing the challenges of the TPKS Law, PIRA found points including differences in views, discrimination against women politicians, lack of education in the community, and a budget that did not cover the needs of the TPKS Law itself. Therefore this study fully answers the objectives of the research conducted.Komunikasi Politik Politisi Perempuan Indonesia Raya (PIRA) Jawa Barat menunjukkan bagaimana dukungan yang diberikan oleh perempuan selaku politisi yang terlibat dalam sebuah sayap partai politik terhadap kebijakan yang disepakati oleh partaii politiknya. Penelitian in akan menjelaskan tentang bentuk dukungan yang dilakukan oleh politisi PIRA  dan apa tantangan yang dihadapi PIRA dalam mendukung UU TPKS ini kemudian bagaiaman komunikasi politik yang dilakukan oleh politisi PIRA Jawa Barat dalam mendukung UU TPKS. Dengan menggunakan metode penelitian kualititatif dengan pendekatan deskriftif kualitatif dengan tujuan untuk melihat bagaimana dukungan yang diberikan dan tantangan apa saja yang dihadapi dengan adanya UU TPKS ini. Kemudian bagaimana komunikasi politik yang dilakukan PIRA sebagai politisi perempuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan yang diberikan oleh PIRA yaitu dengan mensosialisasikan manfaat dan pentingnya UU TPKS ini terhadap internalisasi PIRA terlebih dahulu untuk focus terhadap kualitas dari setiap anggota PIRA. Kemudian dalam menghadapi tantangan UU TPKS ini PIRA menemukan point diantaranya yaitu perbedaan pandangan, diskrimisasi politisi erempuan, kurangnya edukasi di masyarakat, serta anggaran yang kurang menutupi kebutuhan UU TPKS ini sendiri. Oleh karena itu penelitian ini menjawab penuh tujuan dari penelitian yang dilakukan

    KOMUNIKASI PEMBANGUNAN: REMBUK WARGA TENTANG MUSRENBANG GUNA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

    Full text link
    The RW16 Jatihandap Residents Consultation is a development communication forum that aims to improve community welfare and infrastructure. Musrenbang (Develoment Planning Conference) is a development planning process that involves the community. The aim of this research is to analyze the role of the Jatihandap RW16 Residents’ Consultation in improving community welfare and infrastructure through the 2025 Musrenbang. This research uses qualitative methods with data collection and observation techniques. Data were analyzed using thematic analysis techniques. The research results show that the RW16 Jatihandap Residents’ Consultation has an important role in improving community welfare and infrastructure through the 2025 Musrenbang. Effective development communication and community participation in the Residents’ Consultation and Musrenbang can increase community awareness and involvement in development.Rembuk Warga RW16 Jatihandap merupakan salah satu wadah komunikasi pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan infrastruktur. Musrenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan) adalah salah satu proses perencanaan pembangunan yang melibatkan masyarakat. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Rembuk Warga RW16 Jatihandap dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan infrastruktur melalui Musrenbang tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data dan observasi. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rembuk Warga RW16 Jatihandap memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan infrastruktur melalui Musrenbang tahun 2025. Komunikasi pembangunan efektif dan partisipasi masyarakat dalam Rembuk Warga dan Musrenbang dapat meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam pembanguna

    KORELASI FAKTOR FISIK RUANG PUBLIK DENGAN PERSEPSI TEMPAT KETIGA (THIRD PLACE) BAGI GENERASI Y DAN Z: STUDI KASUS: Generasi Y dan Z di Wilayah Denpasar - Badung

    Full text link
    Abstract: Variation and characteristics of third places can change and develop according to user needs and activities. So that, one of the third place concepts is unstructured, and can adapts the social interaction needs of the humans who use it. Therefore, this research aims to further examine the characteristics of public spaces that can meet the needs of a third place for the young productive population, namely generation Y and generation Z in Indonesia. This research will focus on examining the characteristics of the third place of generations Y and Z in Bali, especially in the Denpasar - Badung area. The data collection method was obtained through a questionnaire, and 119 respondents' answers were obtained which were in accordance with the sampling criteria. The results of this questionnaire will be a reference for selecting further observation objects The perceptual data from respondents was then analyzed for correlation with the physical characteristics of the objects of observation, and the results showed that the factors adequacy of seating, diversity of accommodation, environmental temperature, permeability of facades, and personalization of seating areas were physical factors of public space that were strongly correlated with perceptions of third places. Keyword: Physical factors, Public space, Third place Abstrak: Variasi dan karakteristik tempat ketiga dapat berubah dan berkembang sesuai dengan perubahan kebutuhan dan aktivitas dari penggunanya. Salah satu konsep dari tempat ketiga adalah memiliki karakter yang tidak terstruktur, dan menyesuaikan dengan kebutuhan interaksi sosial dari manusia yang menggunakannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk dapat mengkaji karakteristik ruang publik dapat memenuhi kebutuhan tempat ketiga bagi penduduk usia muda produktif yaitu generasi Y dan generasi Z di Indonesia lebih lanjut. Penelitian ini akan memfokuskan untuk meneliti karakteristik tempat ketiga dari generasi Y dan Z di Bali, khususnya pada wilayah Denpasar – Badung. Metode pengumpulan data diperoleh melalui kuisioner, dan didapatkan 119 jawaban responden yang sesuai dengan kriteria sampling. Hasil kuisioner ini akan menjadi acuan pemilihan obyek observasi selanjutnya. Data perseptual dari responden kemudian dianalisis korelasinya dengan karakter fisik obyek observasi, dan hasil yang ditunjukkan bahwa faktor ketercukupan tempat duduk, keberagaman akomodasi, temperatur lingkungan, permeabilitas fasad, dan personalisasi area duduk menjadi faktor fisik ruang publik yang berkorelasi kuat dengan persepsi tempat ketiga Kata Kunci: Faktor fisik, Ruang publik, Tempat ketig

    ANALISIS CO-BRANDING IDENTITAS VISUAL DALAM PENATAAN INTERIOR RESTORAN RAMENYA X SUSHIYA DI SUMMARECON, BANDUNG

    Full text link
    Fenomena co-branding dalam industri restoran semakin berkembang sebagai strategi pemasaran yang efektif untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing. Salah satu contoh penerapan co-branding adalah restoran RamenYa x SushiYa di Summarecon, Bandung. yang menggabungkan dua identitas visual brand dalam satu ruang Restoran. Penggabungan ini memberikan tantangan dalam merancang elemen interior yang mampu merepresentasikan kedua merek tanpa menghilangkan karakteristik masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan penerapan co-branding identitas visual pada elemen interior restoran RamenYa x SushiYa . khususnya bagaimana desain interior dapat menciptakan keseimbangan antara kedua merek tanpa kehilangan keselarasan estetika dan fungsionalitas. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus, dimana data dikumpulkan melalui observasi lapangan, dokumentasi visual, dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen interior, seperti warna, material, pencahayaan, dan tata ruang, memiliki peran penting dalam menjaga konsep co-branding restoran. Desain interior yang tepat dapat mendukung integrasi kedua identitas merek tanpa mengurangi pengalaman pelanggan terhadap masing-masing konsep. Keselarasan desain menjadi faktor kunci dalam memastikan bahwa co-branding tidak hanya berfungsi secara strategis tetapi juga secara visual dalam menciptakan atmosfer restoranKata Kunci: Co-branding, Identitas Visual, Desain Interior, Restoran Jepan

    Efektivitas Prinsip Fleksibilitas Ruang sebagai Strategi Desain Creative Center

    Full text link
    Abstract: The Creative Center is a facility that demands high spatial flexibility to support various activities of creative economy actors. Spatial flexibility is crucial in the Creative Center to ensure optimal and responsive use of space, which may change over time. This study was conducted to analyze the impact of spatial flexibility on the optimization of activity diversity in the Creative Center. The method used in this study is descriptive with a qualitative approach. Therefore, data were collected through literature reviews, interviews, and direct field observations. The results of the study indicate that the concept of Spatial Flexibility can provide several layout options for different activities within the same room dimensions. A space arrangement that can adapt to the diverse needs of its users will help promote the development of the creative economy industry. In this way, the development of infrastructure that supports the productivity and creativity of creative economy workers can be realized. Keyword: Space Flexibility, Creative Center, Creative Industry. Abstrak: Creative Center merupakan sebuah fasilitas yang menuntut fleksibilitas ruang yang tinggi untuk mendukung berbagai aktivitas pelaku ekonomi kreatif. Fleksibilitas ruang menjadi penting dalam Creative Center untuk memastikan penggunaan ruang yang optimal dan responsif terhadap kebutuhan ruang yang bisa saja berubah dari waktu ke waktu. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh fleksibilitas ruang terhadap optimalisasi keragaman aktivitas pada Creative Center. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sehingga, data dikumpulkan melalui review literatur, wawancara, dan observasi langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Fleksibilitas Ruang mampu memberikan beberapa pilihan layout untuk aktivitas yang berbeda pada dimensi ruangan yang sama. Pengaturan ruang yang bisa beradaptasi dengan berbagai kebutuhan penggunanya akan membantu mendorong perkembangan industri ekonomi kreatif. Dengan cara ini, pembangunan infrastruktur yang mendukung produktivitas dan kreativitas bagi para pekerja ekonomi kreatif dapat terwujud. Kata Kunci: Fleksibilitas Ruang, Creative Center, Industri Kreatif  Creative Center merupakan sebuah fasilitas yang menuntut fleksibilitas ruang yang tinggi untuk mendukung berbagai aktivitas pelaku ekonomi kreatif. Fleksibilitas ruang menjadi penting dalam Creative Center untuk memastikan penggunaan ruang yang optimal dan responsif terhadap kebutuhan ruang yang bisa saja berubah dari waktu ke waktu. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh fleksibilitas ruang terhadap optimalisasi keragaman aktivitas pada Creative Center. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sehingga, data dikumpulkan melalui review literatur, wawancara, dan observasi langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Fleksibilitas Ruang mampu memberikan beberapa pilihan layout untuk aktivitas yang berbeda pada dimensi ruangan yang sama. Pengaturan ruang yang bisa beradaptasi dengan berbagai kebutuhan penggunanya akan membantu mendorong perkembangan industri ekonomi kreatif. Dengan cara ini, pembangunan infrastruktur yang mendukung produktivitas dan kreativitas bagi para pekerja ekonomi kreatif dapat terwujud

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Jurnal Universitas Kebangsaan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇