E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
861 research outputs found
Sort by
IMPLEMENTATION OF LOCAL WISDOM: PENERAPAN ORNAMEN KAIN SONGKET PALEMBANG PADA BANGUNAN, RUANG PUBLIK DAN INFRASTRUKTUR DI KOTA PALEMBANG
Abstract: The city of Palembang, as the capital of South Sumatra Province, is known as a center of cultural acculturation between Malay, Middle Eastern and Chinese cultures, reflected in various aspects of life, including architecture and traditional culture. One of the most prominent cultural heritages is the Palembang Songket Fabric, which serves not only as traditional attire but also as a symbol of social status, luxury and cultural identity from the Sriwijaya Kingdom era to the present day. The motifs on the songket fabric, such as bungo tanjung, pucuk rebung, bintang berante and nago besaung, carry deep philosophical meanings, symbolizing the values of life, hope, social harmony and the hospitality of the people of Palembang City. In the context of architecture, songket fabric ornaments have been widely adapted and applied to buildings, public spaces and infrastructure in Palembang City as a form of preserving local wisdom and strengthening the city's identity. This study employs a qualitative descriptive method through field observations, literature reviews and case studies on architectural objects incorporating songket fabric motifs. The findings reveal that the application of songket fabric ornaments enhances the city's visual appeal, boosts community pride, and reinforces Palembang City's branding as a cultural city. However, challenges remain, particularly regarding the authenticity of motifs and the preservation of philosophical values amid modernization. Therefore, collaboration between the government, community, cultural practitioners and architects is essential to ensure that the application of songket motifs is not only visually appealing but also remains authentic and meaningful as a living and relevant cultural heritage in the era of globalization.
Keyword: Local Wisdom, Ornament, Palembang Songket Fabric
Abstrak: Kota Palembang, sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Selatan, dikenal sebagai pusat akulturasi budaya Melayu, Timur Tengah dan Tionghoa yang tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk arsitektur dan kebudayaan tradisional. Salah satu warisan budaya paling menonjol adalah Kain Songket Palembang, yang tidak hanya berfungsi sebagai busana adat, tetapi juga simbol status sosial, kemewahan dan identitas budaya sejak masa Kerajaan Sriwijaya hingga kini. Motif-motif pada kain songket, seperti bungo tanjung, pucuk rebung, bintang berante dan nago besaung, mengandung makna filosofis yang mendalam, melambangkan nilai-nilai kehidupan, harapan, keharmonisan sosial dan keramahtamahan masyarakat Kota Palembang. Dalam konteks arsitektur, ornamen kain songket diadaptasi dan diaplikasikan secara luas pada bangunan, ruang publik dan infrastruktur di Kota Palembang, sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal dan penguatan identitas kota. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, studi literatur dan studi kasus pada objek-objek arsitektur yang menerapkan motif kain songket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan ornamen kain songket memperindah visual kota, meningkatkan kebanggaan masyarakat, serta memperkuat branding Kota Palembang sebagai kota budaya. Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait keaslian motif dan pelestarian nilai filosofis di tengah modernisasi. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku budaya dan arsitek sangat diperlukan agar penerapan motif songket tidak hanya indah secara visual, tetapi juga tetap otentik dan bermakna sebagai warisan budaya yang hidup dan relevan di era globalisasi.
Kata Kunci: Kearifan Lokal, Ornamen, Kain Songket Palembang
Kota Palembang, sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Selatan, dikenal sebagai pusat akulturasi budaya Melayu, Timur Tengah dan Tionghoa yang tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk arsitektur dan kebudayaan tradisional. Salah satu warisan budaya paling menonjol adalah Kain Songket Palembang, yang tidak hanya berfungsi sebagai busana adat, tetapi juga simbol status sosial, kemewahan dan identitas budaya sejak masa Kerajaan Sriwijaya hingga kini. Motif-motif pada kain songket, seperti bungo tanjung, pucuk rebung, bintang berante dan nago besaung, mengandung makna filosofis yang mendalam, melambangkan nilai-nilai kehidupan, harapan, keharmonisan sosial dan keramahtamahan masyarakat Kota Palembang. Dalam konteks arsitektur, ornamen kain songket diadaptasi dan diaplikasikan secara luas pada bangunan, ruang publik dan infrastruktur di Kota Palembang, sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal dan penguatan identitas kota. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, studi literatur dan studi kasus pada objek-objek arsitektur yang menerapkan motif kain songket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan ornamen kain songket memperindah visual kota, meningkatkan kebanggaan masyarakat, serta memperkuat branding Kota Palembang sebagai kota budaya. Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait keaslian motif dan pelestarian nilai filosofis di tengah modernisasi. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku budaya dan arsitek sangat diperlukan agar penerapan motif songket tidak hanya indah secara visual, tetapi juga tetap otentik dan bermakna sebagai warisan budaya yang hidup dan relevan di era globalisasi
PENGELOLAAN SAMPAH PASAR LOTU DI KECAMATAN LOTU KABUPATEN NIAS UTARA
Pengelolaan sampah di Pasar Lotu belum berjalan dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan masih adanya tumpukan sampah di area pasar. Penumpukan sampah yang terjadi di area pasar, dikarenakan Pemerintah Desa belum menerapkan sistem pengelolaan sampah terkait perwadahan, pengumpulan, dan pengangkutan sampah ke TPS. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengamatan dan evaluasi mengenai kondisi eksisting pengelolaan sampah pasar di Pasar Lotu Kabupaten Nias Utara, sehingga dapat memberikan solusi bagi permasalahan pengelolaan sampah di Pasar Lotu. Metode penelitian dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam serta studi literatur. Analisis data kualitatif dilakukan dengan cara reduksi data untuk mendapatkan gambaran spesifik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengumpulan sampah hanya dilakukan secara mandiri oleh pedagang dengan menggunakan keranjang bambu atau plastik. Sampah yang sudah dikumpulkan akan diangkut ke TPS pasar yang merupakan lapangan terbuka sebelum diangkut oleh pihak pengangkut sampah. Proses pengangkutan dilakukan dari TPS pasar ke TPS Lotu, yang masih menggunakan metode open dumping. Rekomendasi solusi yang dapat diberikan adalah pewadahan yang dibagi menjadi dua (untuk kios dan umum), pemilahan dilakukan oleh penghasil sampah, pengumpulan dan pengangkutan sampah pasar dapat dilakukan oleh pedagang dan petugas kebersihan ke TPS Pasar yang disediakan. TPS Pasar disediakan oleh pengelola pasar sesuai dengan kebutuhan dan berupa bak sampah berbahan beton yang tertutup. Kemudian untuk proses pengangkutan, dapat dilakukan sehari setelah kegiatan pasar berlangsung.Pengelolaan sampah di Pasar Lotu belum berjalan dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan masih adanya tumpukan sampah di area pasar. Penumpukan sampah yang terjadi di area pasar, dikarenakan Pemerintah Desa belum menerapkan sistem pengelolaan sampah terkait perwadahan, pengumpulan, dan pengangkutan sampah ke TPS. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengamatan dan evaluasi mengenai kondisi eksisting pengelolaan sampah pasar di Pasar Lotu Kabupaten Nias Utara, sehingga dapat memberikan solusi bagi permasalahan pengelolaan sampah di Pasar Lotu. Metode penelitian dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam serta studi literatur. Analisis data kualitatif dilakukan dengan cara reduksi data untuk mendapatkan gambaran spesifik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengumpulan sampah hanya dilakukan secara mandiri oleh pedagang dengan menggunakan keranjang bambu atau plastik. Sampah yang sudah dikumpulkan akan diangkut ke TPS pasar yang merupakan lapangan terbuka sebelum diangkut oleh pihak pengangkut sampah. Proses pengangkutan dilakukan dari TPS pasar ke TPS Lotu, yang masih menggunakan metode open dumping. Rekomendasi solusi yang dapat diberikan adalah pewadahan yang dibagi menjadi dua (untuk kios dan umum), pemilahan dilakukan oleh penghasil sampah, pengumpulan dan pengangkutan sampah pasar dapat dilakukan oleh pedagang dan petugas kebersihan ke TPS Pasar yang disediakan. TPS Pasar disediakan oleh pengelola pasar sesuai dengan kebutuhan dan berupa bak sampah berbahan beton yang tertutup. Kemudian untuk proses pengangkutan, dapat dilakukan sehari setelah kegiatan pasar berlangsung
Implementation of Black-Box Testing on the Information System for the Smart Indonesia Card College Recommendation
Testing on a system is carried out to determine whether a system that is built will run properly or if there are still bugs or errors that must be fixed. There are many methods in testing a system or software, one that is widely used by testers is the Black-box testing method. In this study the software that will be tested is an information system for the Smart Indonesia Card (KIP) Lecture Movement Ayo Lecture (GAK) recommendation information system. This information system is a system intended to provide information about the GAK program. In addition, this system is also expected to help optimize business processes in selecting applicants for KIP Lecture recommendations later. In implementing the GAK system, it is first necessary to test the system. System testing is one of the stages that cannot be eliminated in the development of a software. In testing, this system is tested using Black Box Testing in the hope of minimizing errors and ensuring that the system built has results that are in accordance with what is expected. With this test, it is expected that the quality of the software produced is in accordance with the expected function.
Black-Box Testing, KIP College Recommendation, GAK Program, Information Systems
 
English
This study investigates the phonological acquisition of Kamari Sky Wassink, a child aged 1 year and 8 months, focusing on his mastery of vowel and consonant phonemes. The findings reveal that Kamari has successfully acquired several vowel phonemes, including [a], [i], [u], [e], and [o], as well as consonant phonemes such as [d], [g], [k], [l], [m], [n], [t], [p], and [w]. Despite facing challenges in pronouncing certain consonants like [r], [s], and [v], these difficulties are considered normal for his age. The study highlights the processes of sound deletion and substitution as natural efforts to simplify pronunciation. Additionally, the research emphasizes the significant role of the surrounding environment in language development, with the acquisition of the first language serving as a crucial foundation for future linguistic growth. Overall, Kamari's phonological development reflects a positive trajectory in his language acquisition journey
DIMENSI PSIKOLOGIS DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER KEBANGSAAN
The complexity of global developments also affects the life of the nation. The power spread by the two main axes of the world can change the orientation that becomes the commitment and ideals of the nation. From the beginning, it was determined to form a character that is a characteristic of national nature but changed course and headed towards one of the axes that were competing for influence. This condition was experienced by Indonesia when the world constellation changed and created a transitional situation before a new power emerged. Indonesia's direction towards a particular axis had disturbed the psychological mentality of the nation's children because the life of the nation and state had deviated from the ideals. However, because of the strong awareness and spirit of nationalism, the direction that had changed finally returned to the true characteristics and nature of the nation. Based on these conditions, this study aims to determine the psychological dimension in forming national character. The method used is descriptive qualitative with literature methods. The results of the study show that the formation of national character must take into account the psychological dimension in order to raise awareness of identity and pride in one's own nation. Another interest is that generations who are aware of their national spirit will be a reminder when the nation's leaders take steps by directing themselves to one of the world powers that is different from the national vision.Kompleksitas perkembangan global turut mempengaruhi kehidupan bangsa. Kekuatan yang disebarkan dua poros utama dunia dapat mengubah orientasi yang menjadi komitmen dan cita-cita bangsa. Dari awal bertekad membentuk karakter yang menjadi ciri dari sifat kebangsaaan, namun berubah haluan dan mengarah pada salah satu poros yang tengah beradu pengaruh. Kondisi ini sempat dialami Indonesia manakala konstelasi dunia berubah dan menciptakan situasi transisi menjelang kekuatan baru muncul. Arah Indonesia menuju ke salah satu poros tertentu sempat menggangu mental psikologis anak bangsa karena kehidupan berbangsa dan bernegara telah melenceng dari cita-cita. Namun karena kesadaran dan jiwa kebangsaan yang kukuh, haluan yang sempat berubah akhirnya kembali pada ciri diri dan sifat kebangsaaan yang sebenarnya. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dimensi psikologi dalam membentuk karakter kebangsaan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan metode literatur. Hasil penelitian menunjukkan, pembentukan karakter kebangsaan harus mememperhitungkan dimensi psikologis agar dapat mengguggah kesadaran pada jati diri dan kebangaan pada bangsanya sendiri. Kepentingan lainnya, para generasi yang sadar pada jiwa kebangsaannya akan menjadi pengingat manakala pemimpin bangsa mengambil langkah dengan mengarahkan pada salah satu kekuatan dunia yang berbeda dengan visi kebangsaan
the PENERAPAN METODE RULA DAN REBA DALAM GERAKANKERJA DI PT. COOPERATIVE CAFÉ TIMOR-NATIONAL COPERATIVE BUSINESS ASSOCIATION: APPLICATION OF RULA AND REBA METHODS IN WORK MOVEMENT
Effective and ergonomic work movements are the key to increasing employee productivity and well-being in various companies. However, most SMEs in Timor-Leste do not realize the importance of ergonomics and are reluctant to adopt an ergonomic work environment. By using the Rapid Upper Limb Assessment (RULA) and Rapid Entire Body Assessment (REBA) methods which aim to evaluate and improve working conditions that are inefficient and have the potential to cause musculoskeletal injuries. Data regarding the number of occupational hazards that occurred in 2021 amounted to 93 workers, in 2022 there were 84 workers, and in 2023 there were 79 workers who experienced work disruptions due to musculoskeletal injuries. The resultsof the ergonomic analysis carried out by applying the RULA and REBA methods can be concluded that the worker's posture which has a certain risk score with individual workers is the working posture of standing or bending with the hands, and the neck and hands moving togetherwith a score of 3 for worker 1, for worker 2 got a score of 5, for worker 3 got a score of 5, and for worker 4 got a score of 6. From the results of this analysis it is necessary to prevent the possibility of work accidents in accordance with the hierarchy of occupational health and safetyrisk control.Gerakan kerja yang efektif dan ergonomis adalah kunci untuk meningkatkan produktivitasdan kesejahteraan karyawan di berbagai perusahaan. Akan tetapi sebagian besar UKM di negara Timor-Leste tidak menyadari pentingnya ergonomi dan enggan mengadopsi lingkungan kerja yang ergonomis. Dengan menggunakan metode Rapid Upper Limb Assesment (RULA) dan Rapid Entire Body Assesment (REBA) yang bertujuan untuk mengevaluasi dan memperbaiki kondisi kerja yang tidak efisien dan berpotensi menyebabkan cedera muskuloskeletal. Data mengenai angka resiko bahaya kerja yang terjadi pada tahun 2021 berjumlah 93 pekerja, pada tahun 2022 berjumlah 84 pekerja, dan pada tahun 2023 berjumlah 79 pekerja yang mengalami gangguan kerja akibat cedera muskuloskeletal. Hasil analisa ergonomis yang dilakukan dengan menerapkan metode RULA dan REBA dapat disimpulkan bahwa postur pekerja yang memiliki skor resiko tertentu dengan pekerja tersendiri adalah postur kerja berdiri atau membungkuk dengan tangan, serta leher dan tangan ikut bergerak dengan memperoleh skor 3 untuk pekerja 1, untuk pekerja 2 memperoleh skor 5, untuk pekerja 3 memperoleh skor 5, dan untuk pekerja 4 memperoleh skor 6. Dari hasil analisa tersebut perlu dilakukan pencegahan kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja sesuai dengan hierarki pengendalian risiko kesehatan dan keselamatan kerja
the ANALISIS PENINGKATAN KINERJA MESIN SCREW PRES MENGGUNAKANMETODE PREVENTIF MAINTENANCE DI PT. DENDYMARKER INDAH LESTARI: ANALISIS PENINGKATAN KINERJA MESIN SCREW PRES
Maintenance activities function as activities to maintain and maintain factoryfacilities or equipment, make repairs and adjustments or replacements as needed so that there is a satisfactory state of production operations in accordance with what is planned and all activities related to maintaining smooth production such as machines in a condition that isfeasible to work sothat smooth production at the PT Dendymarker Indah Lestari palm oil mill is maintained. The application carried out in machine maintenance activities in supporting smooth production is preventive maintenance and correctivemaintenance which is one of a series of activities that need to be carried out as well as the application of sciencewhich aims to keep the condition of the machine stable or perfect when used. In this study, researchers used qualitative data types using secondary data sources in the form of written documents, direct data and oral testimony or questionnaires from the factory without changing. From the results of the analysis using the results of the application of machine maintenance is very influential on the performance ofthe machine which affects the smoothproduction. Where referring to best practice or world class machine performance at the PTDendymarker Indah Lestari palm oil mill is still fairly low and inhibits smooth production.Kegiatan maintenance berfungsi sebagai kegiatan untuk memelihara dan menjaga fasilitas atau peralatan pabrik, mengadakan perbaikan dan penyesuaian atau penggantian yang diperlukan supaya terdapat suatu keadaan operasi produksi yang memuaskan sesuai dengan apa yang direncanakan dan semua aktivitas yang berkaitan untuk mempertahankan kelancaran produksi seperti mesin dalam kondisi yang layak bekerja agar kelancaran produksi pada pabrik kelapa sawit PT Dendymarker Indah Lestari tetap terjaga. Adapun penerapan yang dilakukan dalam kegiatan perawatan mesin dalam menunjang kelancaran produksi yaitu preventive maintenance dan corrective maintenance yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang perlu dilakukan serta penerapan ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk menjaga kondisi mesin tetap stabil atau sempurna ketika digunakan. Dalam penelitianini peneliti menggunakan jenis data kualitatif denganmenggunakan sumber data sekunder yang berupa dokumen tertulis data langsung serta keterangan lisan atau kuesionerdari pihak pabrik tanpa mengalami perubahan. Dari hasil analisis menggunakan memberikanhasil penerapan perawatan mesin sangat berpengaruh pada kinerja mesin yang berpengaruhpada kelancaran produksi, dimana mengacu kepada best practice atau kelas dunia kinerja mesin pada pabrik kelapa sawit PT Dendymarker Indah Lestari masih terbilang rendah dan memperhambat kelancaran produksi
IMPLEMENTASI GREENSHIP EXISTING BUILDING V.1.1 DENGAN INDIKATOR TEPAT GUNA LAHAN, KATEGORI COMMUNITY ACCESSIBILITY (Studi Kasus Serpong M-Town Residences)
Abstract: Community Accessibility is one of the key aspects in implementing green building principles, particularly in the Land Use Efficiency criteria of the Greenship Existing Building rating system version 1.1. This aspect aims to optimize connectivity networks around the building, promote easy access to public facilities, and reduce dependence on motorized vehicles, thereby supporting environmental sustainability. At Serpong M-Town Residences, various public facilities are available in the surrounding area, such as shopping centers, educational institutions, and public transportation. However, it is necessary to assess whether these facilities are easily accessible for pedestrians in accordance with the Community Accessibility principles. This study aims to examine the application of Community Accessibility at Serpong M-Town Residences and evaluate the comfort and safety of pedestrian facilities using Regulation of the Minister of Public Works and Housing (PUPR) No. 07/P/BM/2023. This research adopts a descriptive qualitative method through surveys and interviews.The results indicate that the implementation of Community Accessibility at Serpong M-Town Residences is well executed, with all criteria successfully met by the management. Additionally, pedestrian facilities within the site area are highly comfortable and comply with PUPR No. 07/P/BM/2023. However, pedestrian access outside the site area (public areas) is less comfortable due to the lack of pedestrian facilities (sidewalks) and supporting safety infrastructure..
Keyword: Community Accessibility, Appropriate Land Use, Greenship, Apartment, Green Building, Serpong M-Town
Abstrak: Community Accesibility merupakan salah satu aspek penting dalam penerapan prinsip bangunan hijau, khususnya pada kriteria Tepat Guna Lahan dalam sistem penilaian Greenship Existing Building versi 1.1. Aspek ini bertujuan untuk mengoptimalkan jaringan konektivitas di sekitar bangunan, mendorong kemudahan akses terhadap fasilitas umum, dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor, sehingga mendukung keberlanjutan lingkungan. Di Apartemen Serpong M-Town Residences, berbagai fasilitas publik tersedia di sekitar kawasan, seperti pusat perbelanjaan, sarana pendidikan, dan transportasi umum. Namun, perlu ditinjau apakah fasilitas ini mudah dijangkau oleh pejalan kaki sesuai dengan prinsip Community Accessibility. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan Community Accesibility di Apartemen Serpong M-Town Residences dan evaluasi kenyamanan serta keamanan fasilitas pejalan kaki dengan menggunakan Peraturan Menteri PUPR No. 07/P/BM/2023. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui survei lapangan dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Community Accesibility pada Apartemen Serpong M-Town Residences sangat baik dilakukan, semua kriteria mampu dipenuhi oleh pihak pengelola, disamping ini fasilitas pejalan kaki pada area luar tapak sangat nyaman digunakan oleh pejalan kaki dan memenuhi kriteria PUPR No. 07/P/BM/2023. Akses pejalan kaki diluar area tapak (area publik) kurang nyaman digunakan karena sangat jarang ditemukan fasilitas pejalan kaki (trotoar) beserta kelengkapan fasilitas keamanannya.
Kata Kunci: Community Accessibility, Tepat Guna Lahan, Greenship, Apartemen, Bangunan Hijau, Serpong M-Town
Community Accesibility merupakan salah satu aspek penting dalam penerapan prinsip bangunan hijau, khususnya pada kriteria Tepat Guna Lahan dalam sistem penilaian Greenship Existing Building versi 1.1. Aspek ini bertujuan untuk mengoptimalkan jaringan konektivitas di sekitar bangunan, mendorong kemudahan akses terhadap fasilitas umum, dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor, sehingga mendukung keberlanjutan lingkungan. Di Apartemen Serpong M-Town Residences, berbagai fasilitas publik tersedia di sekitar kawasan, seperti pusat perbelanjaan, sarana pendidikan, dan transportasi umum. Namun, perlu ditinjau apakah fasilitas ini mudah dijangkau oleh pejalan kaki sesuai dengan prinsip Community Accessibility. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan Community Accesibility di Apartemen Serpong M-Town Residences dan evaluasi kenyamanan serta keamanan fasilitas pejalan kaki dengan menggunakan Peraturan Menteri PUPR No. 07/P/BM/2023. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui survei lapangan dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Community Accesibility pada Apartemen Serpong M-Town Residences sangat baik dilakukan, semua kriteria mampu dipenuhi oleh pihak pengelola, disamping ini fasilitas pejalan kaki pada area luar tapak sangat nyaman digunakan oleh pejalan kaki dan memenuhi kriteria PUPR No. 07/P/BM/2023. Akses pejalan kaki diluar area tapak (area publik) kurang nyaman digunakan karena sangat jarang ditemukan fasilitas pejalan kaki (trotoar) beserta kelengkapan fasilitas keamanannya
Persepsi Permeabilitas Kota Singaraja Menurut Generasi Milenial
Abstract: Singaraja City, the capital of Buleleng Regency, plays a strategic role in the historical and spatial development of North Bali. However, the city is currently facing challenges related to accessibility and spatial connectivity, particularly in areas with aging road networks and suboptimal pedestrian infrastructure. These issues reflect a low level of urban permeability, defined as the degree to which urban spaces allow free movement and functional connectivity. This study aims to explore the perceptions of the Millennial Generation toward the level of permeability in Singaraja City, focusing specifically on the Udayana Street corridor, which functions as a hub for education and daily urban mobility. Using a qualitative approach that combines field observation, in-depth interviews, and mental mapping, the study investigates accessibility quality, mobility constraints, and spatial connectivity as experienced by young adults (born 1994–2000). The findings reveal that Millennials are highly aware of the physical conditions of urban spaces, such as the lack of continuous pedestrian paths, poor street lighting, and spatial disconnection across neighborhoods. Although Udayana Street holds a strategic urban function, it is not yet fully supportive of active mobility. This study contributes to the theoretical understanding of urban permeability in medium-sized cities and provides valuable input for urban planners and policymakers to develop inclusive, youth-responsive, and sustainable mobility strategies.
Keywords: Urban Permeability, Milennial Generation, Singaraja City
Abstrak: Kota Singaraja sebagai ibu kota Kabupaten Buleleng memiliki peran strategis dalam sejarah dan dinamika pembangunan wilayah Bali Utara. Namun, perkembangan kota ini menghadapi tantangan dalam hal aksesibilitas dan keterhubungan ruang, terutama di kawasan dengan jaringan jalan lama dan infrastruktur pejalan kaki yang belum optimal. Permasalahan ini mencerminkan rendahnya tingkat permeabilitas kota, yaitu sejauh mana ruang kota memungkinkan pergerakan bebas dan konektivitas antarfungsi ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi Generasi Milenial terhadap tingkat permeabilitas Kota Singaraja, khususnya di koridor Jalan Udayana yang menjadi pusat aktivitas pendidikan dan mobilitas harian. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara mendalam, dan peta mental, penelitian ini menganalisis kualitas aksesibilitas, hambatan mobilitas, dan keterhubungan antar ruang berdasarkan pengalaman generasi muda usia produktif (lahir 1994–2000). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Milenial memiliki kepekaan terhadap kondisi fisik ruang kota, seperti keterbatasan jalur pejalan kaki, kurangnya penerangan jalan, hingga kesenjangan konektivitas antar kawasan. Kawasan Jalan Udayana dinilai memiliki fungsi strategis, namun belum sepenuhnya ramah terhadap mobilitas aktif. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman konsep permeabilitas kota dalam konteks kota sedang, serta menjadi masukan penting bagi perencana kota dan pemangku kebijakan dalam merumuskan kebijakan ruang yang inklusif, responsif terhadap kebutuhan generasi muda, dan mendukung mobilitas berkelanjutan.
Kata Kunci: Permeabilitas kota, Generasi Milenial, Kota Singaraja
Keywords: Urban Permeability, Milennial Generation, Singaraja CityKota Singaraja sebagai ibu kota Kabupaten Buleleng memiliki peran strategis dalam sejarah dan dinamika pembangunan wilayah Bali Utara. Namun, perkembangan kota ini menghadapi tantangan dalam hal aksesibilitas dan keterhubungan ruang, terutama di kawasan dengan jaringan jalan lama dan infrastruktur pejalan kaki yang belum optimal. Permasalahan ini mencerminkan rendahnya tingkat permeabilitas kota, yaitu sejauh mana ruang kota memungkinkan pergerakan bebas dan konektivitas antarfungsi ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi Generasi Milenial terhadap tingkat permeabilitas Kota Singaraja, khususnya di koridor Jalan Udayana yang menjadi pusat aktivitas pendidikan dan mobilitas harian. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara mendalam, dan peta mental, penelitian ini menganalisis kualitas aksesibilitas, hambatan mobilitas, dan keterhubungan antar ruang berdasarkan pengalaman generasi muda usia produktif (lahir 1994–2000). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Milenial memiliki kepekaan terhadap kondisi fisik ruang kota, seperti keterbatasan jalur pejalan kaki, kurangnya penerangan jalan, hingga kesenjangan konektivitas antar kawasan. Kawasan Jalan Udayana dinilai memiliki fungsi strategis, namun belum sepenuhnya ramah terhadap mobilitas aktif. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman konsep permeabilitas kota dalam konteks kota sedang, serta menjadi masukan penting bagi perencana kota dan pemangku kebijakan dalam merumuskan kebijakan ruang yang inklusif, responsif terhadap kebutuhan generasi muda, dan mendukung mobilitas berkelanjutan.
Kata Kunci: Permeabilitas kota, Generasi Milenial, Kota Singaraj
Kajian Arsitektur Biophilic Pada Bangunan Resort sebagai Peningkatan Lingkungan “Healing”
Abstract: This study examines the application of biophilic architecture principles in resort buildings to enhance a "healing" environment for its occupants. The research aims to investigate various biophilic elements that can be incorporated into resort design, identify the resulting benefits, and assess users' perceptions of environments designed based on biophilic principles. The research methodology refers to the 14 patterns of biophilia. The study shows that factors such as the use of natural materials, integration of vegetation, utilization of natural light, and visual access to the outdoor environment significantly contribute to creating an environment that supports the "healing process." Resort occupants reported improvements in their physical condition. The study concludes that the implementation of biophilic architecture in resort buildings not only enhances aesthetics and physical comfort but also provides significant psychological benefits. These findings will assist architects and designers in developing healthier and more nature-aligned resort designs.
Keyword: Biophilic Architecture, Resort, Healing Environtment
Abstrak: Studi ini mengkaji penerapan prinsip arsitektur biofilik pada bangunan resort dalam upaya meningkatkan lingkungan “Healing” bagi penghuninya. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki berbagai elemen biofilik yang dapat dimasukkan ke dalam desain resort, mengidentifikasi manfaat yang dihasilkan, dan menilai persepsi pengguna terhadap lingkungan yang dirancang berdasarkan prinsip biofilik. Metodologi penelitian ini mengacu pada 14 pattern of biophilic. Penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti penggunaan material alami, integrasi vegetasi, penggunaan cahaya alami, dan akses visual ke lingkungan luar berkontribusi signifikan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung “proses healing”. Penghuni resor melaporkan peningkatan kondisi fisik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan arsitektur biofilik pada bangunan resor tidak hanya meningkatkan estetika dan kenyamanan fisik, tetapi juga memberikan manfaat psikologis yang signifikan. Temuan ini akan membantu para arsitek dan desainer mengembangkan desain resort yang lebih sehat dan lebih selaras dengan alam.
Kata Kunci: Arsitektur Biofilik, Resort, Lingkungan HealingStudi ini mengkaji penerapan prinsip arsitektur biofilik pada bangunan resort dalam upaya meningkatkan lingkungan “Healing” bagi penghuninya. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki berbagai elemen biofilik yang dapat dimasukkan ke dalam desain resort, mengidentifikasi manfaat yang dihasilkan, dan menilai persepsi pengguna terhadap lingkungan yang dirancang berdasarkan prinsip biofilik. Metodologi penelitian ini mengacu pada 14 pattern of biophilic. Penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti penggunaan material alami, integrasi vegetasi, penggunaan cahaya alami, dan akses visual ke lingkungan luar berkontribusi signifikan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung “proses healing”. Penghuni resor melaporkan peningkatan kondisi fisik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan arsitektur biofilik pada bangunan resor tidak hanya meningkatkan estetika dan kenyamanan fisik, tetapi juga memberikan manfaat psikologis yang signifikan. Temuan ini akan membantu para arsitek dan desainer mengembangkan desain resort yang lebih sehat dan lebih selaras dengan alam