E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
861 research outputs found
Sort by
MENUMBUHKAN PENGETAHUAN WAWASAN KEBANGSAAN DI ERA DIGITAL MELALUI KOMUNIKASI KEPADA WARGA DESA GUDANGKAHURIPAN KBB
Attention to national values and insight has almost disappeared among the majority of residents of Gudangkahuripan village, Lembang District, West Bandung Regency (KBB). In their daily lives, residents are more focused on meeting daily consumption needs than increasing and honing their knowledge of national insight. The only knowledge they ever acquired about national insight was during elementary and secondary school. After graduating, some continued on to college, while most focused on finding work. From that point on, they were almost no longer connected to national symbols and terms. Likewise, refresher courses on national values and insight in the form of seminars, meetings, or discussions were almost never received. Starting from this condition, Community Service (PkM) lecturers and students of the Communication Science Study Program (Prodi Ilkom) of the National University of the Republic of Indonesia (UKRI) were directed to revitalize knowledge of national insight among the residents of Gudang Kahuripan village. The approach used was a lecture method by communicating the elements, components, mission and vision, and goals of nationality. PkM succeeded in raising awareness and interest among Gudangkahuripan villagers to trace the essence and identity as citizens of the nation. Awareness also occurs regarding the position of citizens as part of the digital world cycle.Perhatian pada nilai dan wawasan kebangsaan hampir hilang di sebagian besar warga desa Gudangkahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Dalam kesehariannya, warga lebih terfokus memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari daipada menambah dan mengasah pengetahuan tentang wawasan kebangsaan. Pengetahuan yang pernah diperoleh mengenai wawasan kebangsaan hanya saat bersekolah di tingkat dasar maupun menengah. Setelah tamat sebagian melanjutkan ke perguruan tinggi, sebagin besar fokus mencari pekerjaan. Dari saat itu, nyaris tidak lagi berhubungan dengan simbol dan istilah kebangsaan. Begitupun penyegaran mengenai nilai dan wawasan kebangsaan dalam format seminar, rapat, atau diskusi hampir tidak pernah diperoleh. Bertolak dari kondisi tersebut, Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi (Prodi Ilkom) Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) diarahkan untuk menumbuhkan kembali pengetahuan wawasan kebangsaan bagi warga desa Gudang Kahuripan. Pendekatan yang digunakan melalui metode ceramah dengan mengomunikasikan unsur-unsur, komponen, misi dan visi serta tujuan kebangsaan. PkM berhasil menumbuhkan kesadaran dan minat dari warga desa Gudangkahuripan untuk menjejak pada hakikat dan jati diri sebagai warga bangsa. Penyadaran juga terjadi pada posisi warga sebagai bagian dari putaran dunia digital
Anomie, Ketidakberdayaan Ekonomi-Sosial-Politik Dalam Tinjauan Tindakan Sosial Max Weber
Intentionally ending one's life by suicide is often an inevitable occurrence in society. Social phenomena in society greatly influence a person's suicide, as happened to mother EN, who reflects behavior experiencing anomie, moral confusion, and a loss of social direction related to dramatic socioeconomic upheaval. Economic-socio-political powerlessness triggered the suicide due to disappointment with her husband, who was considered to be a constant liar and was in endless debt, thus making her feel exhausted from facing the stressful socioeconomic situation and taking shortcuts. Her personal actions are causal to social actions against her two children, her husband, and part of the collectivity of society influenced by social relations that have been based on tradition as a norm of shared life, then changing rapidly due to various influencing factors. This new condition exceeds EN's capabilities, causing her to become frustrated without a normative solution as a binding force. Collective awareness that prioritizes togetherness amidst diversity needs to be created and maintained due to the fading social relations, identity conflicts, social inequality, and changing values that threaten social solidarity. That is the purpose of this paper using a sociological approach with a qualitative explanatory method to understand the reality faced by EN as an individual and social being. Threats to social solidarity and social cohesion are challenges that must be faced together in managing diversity and individual differences that have moral values/norms within the bonds of solidarity and social action that are inclusive, just, and interdependent, while simultaneously maintaining and building a strong community unity as a representation of socio-political change in preventing the tragedy of the loss of our own human civilization.mengakhiri hidup secara sengaja dengan bunuh diri sering merupakan kejadian tak terelakkan dalam masyarakat. Gejala-gejala sosial dalam masyarakat sangat mempengaruhi seseorang dalam melakukan tindakan bunuh diri, seperti terjadi pada sosok ibu EN mencerminkan perilaku yang mengalami anomie, kebingungan moral dan kehilangan arah sosial terkait pergolakan sosial ekonomi yang dramatis. Ketidakberdayaan ekonomi-sosial-politik memicu tindakan bunuh diri disebabkan kekecewaan terhadap suaminya yang dianggap selalu berbohong dan terlilit hutang tiada habisnya, sehingga membuatnya merasa lelah akibat menghadapi situasi penuh tekanan ekonomi sosial dan mengambil jalan pintas tersebut. Tindakan pribadinya merupakan kausalitas pada tindakan sosial terhadap kedua anaknya, suaminya, dan bagian dari kolektivitas masyarakat dipengaruhi oleh hubungan sosial selama ini berdasarkan tradisi sebagai norma kehidupan bersama, kemudian berubah cepat karena beragam faktor yang memengaruhinya. Kondisi baru ini melampaui batas kemampuan EN mengakibatkannya frustrasi tanpa solusi norma sebagai pengikatnya. Kesadaran kolektif yang mengedepankan kebersamaan di tengah keberagaman perlu diciptakan dan dirawat sebagai akibat pudarnya hubungan sosial, konflik identitas, ketimpangan sosial, dan perubahan nilai yang mengancam solidaritas sosial. Itulah tujuan penulisan ini menggunakan pendekatan sosiologi dengan metode eksplanatori kualitatif untuk memahami realita yang dihadapi EN sebagai individu dan makhluk sosial. Ancaman terhadap solidaritas sosial dan kohesi sosial menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama dalam mengelola keberagaman dan perbedaan individu yang memiliki nilai/norma moral dalam ikatan solidaritas dan tindakan sosial yang inklusif, berkeadilan, dan saling ketergantungan, sekaligus merawat dan membangun kesatuan masyarakat yang kokoh sebagai representasi perubahan sosial politik dalam menjaga tidak terjadi tragedi kehilangan keadaban kemanusiaan kita sendiri
KOMUNIKASI KEBANGSAAN: MEMAHAMI RELASI KEBANGSAAN DENGAN BENTUK NEGARA KESEJAHTERAAN
Realizing welfare as the ultimate goal of the state still requires a long struggle. The collective experience of the nation in manifesting welfare has been marked by various events that led to deviations from national ideals. Fundamental disruptions have occurred, each with broad and profound impacts. The emergence of foreign agents seeking to blur and alter the nation’s ideology and aspirations, the formalization of Pancasila, authoritarian leadership that tended to align with the axis of certain states, the rise of oligarchy, and political streams that diverted the nation’s struggle to achieve the ideal of welfare, all became part of these challenges. These events represent episodes in the nation’s journey to uphold Indonesia as an independent, strong, and prosperous nation. Based on these considerations, this study aims to examine the practice of national communication in the effort to achieve a welfare state. The method used in this research is qualitative, emphasizing data analysis drawn from media sources and other documents. The findings show that national communication can serve as an essential aspect in building commitment toward realizing the ideals of a welfare stateMewujudkan kesejahteraan sebagai tujuan akhir bernegara masih memerlukan perjuangan panjang. Pengalaman kolektif bangsa dalam memanifestasikan kesejahteraan diwarnai berbagai peristiwa yang mengarah pada penyimpangan cita-cita nasional. Terjadi gangguan-gangguan fundamental dengan pengaruhnya yang sangat luas. Kemunculan agen asing yang berusaha mengaburkan dan mengubah ideologi dan cita-cita kebangsaan, Pancasila yang diformasilisasikan, kepemimpinan otoriter dan cenderung berhaluan pada poros negara tertentu, terbentuknya oligarkhi, sampai aliran-aliran politik yang menjauhkan perjuangan bangsa dalam mewujudkan cita-cita kesejahteraan. Peristiwa-peristiwa ini menjadi episode perjalanan bangsa dalam menegakkan Indonesia sebagai bangsa yang mandiri, kuat, dan sejahtera. Berdasarkan atas paparan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik komunikasi kebangsaan dalam menuju terciptanya negara kesejahteraan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan menekankan pada jenis analisis data yang bersumber dari media serta berbagai dokumen lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi kebangsaan dapat menjadi aspek dalam membangun komitmen dalam mewujdukan cita-cita negara kesejehteraan
Strategi Komunikasi Organisasi Teater Sunda Kiwari dalam Menyukseskan Festival Drama Basa Sunda (FDBS) XXII Tahun 2024
This study aims to describe the organizational communication strategy of the Kiwari Sundanese Theatre in ensuring the success of the 22nd Sundanese Drama Festival (FDBS) in 2024. The research approach used was qualitative with descriptive methods, through in-depth interviews, observations, and documentation studies of administrators, members, and related parties in organizing the festival. The results of the study indicate that the Kiwari Sundanese Theatre implements a structured organizational communication strategy in three main dimensions: internal communication, external communication, and public communication. Internal communication is carried out through regular meetings, online groups, and a clear division of tasks to strengthen coordination between members. External communication is realized in collaboration with the Government, sponsors, the media, and other arts communities as an effort to expand networks and support. Meanwhile, public communication is focused on promoting the festival through social media, radio broadcasts, and creative campaigns based on local wisdom to attract the attention of the wider community. The implemented strategy is considered effective in increasing participation, enthusiasm, and the success of the 22nd FDBS. This study recommends strengthening digital-based communication innovation and increasing human resource capacity within the organization to face the challenges of organizing festivals in the future.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi komunikasi organisasi Teater Sunda Kiwari dalam menyukseskan pelaksanaan Festival Drama Basa Sunda (FDBS) XXII tahun 2024. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif, melalui teknik wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi terhadap pengurus, anggota, serta pihak terkait dalam penyelenggaraan festival. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Teater Sunda Kiwari menerapkan strategi komunikasi organisasi yang terstruktur dalam tiga dimensi utama: komunikasi internal, komunikasi eksternal, dan komunikasi publik. Komunikasi internal dilakukan melalui rapat rutin, grup daring, dan pembagian tugas yang jelas untuk memperkuat koordinasi antar anggota. Komunikasi eksternal diwujudkan dalam kerja sama dengan pihak Pemerintah, sponsor, media, dan komunitas seni lain sebagai upaya memperluas jaringan dan dukungan. Sementara itu, komunikasi publik difokuskan pada promosi festival melalui media sosial, siaran radio dan kampanye kreatif berbasis kearifan lokal untuk menarik perhatian masyarakat luas. Strategi yang diterapkan dinilai efektif dalam meningkatkan partisipasi, antusiasme, dan keberhasilan pelaksanaan FDBS XXII. Penelitian ini merekomendasikan penguatan inovasi komunikasi berbasis digital serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam organisasi untuk menghadapi tantangan penyelenggaraan festival di masa mendatang
PENGARUH BESARAN RASIO BUKAAN TERHADAP KENYAMANAN TERMAL PADA KAMAR KOS DI SALATIGA
Abstract: The aperture ratio is one of the important factors for the thermal comfort of a space. The size of the opening affects natural ventilation besides the influence of building location, orientation, and local climate. This study aims to determine the influence of the aperture ratio on thermal comfort. The research was conducted in one of the boarding houses in the city of Salatiga. The building studied is one that requires natural ventilation to reduce the cost of artificial ventilation consumption. This research used a quantitative research method by measuring indoor and outdoor air temperature and humidity. The study shows that the room conditions in the boarding house, which has an opening ratio of 38,89% to the floor area, still meet the humidity comfort standard. However, in terms of temperature, it has exceeded the comfort standard due to the research being conducted during extreme weather conditions.
Keyword: Aperture ratio, thermal comfort, ventilation
Abstrak: Rasio bukaan merupakan salah satu faktor yang penting terhadap kenyamanan termal sebuah ruang. Besaran bukaan berpengaruh terhadap penghawaan alami selain dari pengaruh letak bangunan, orientasi, dan iklim setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh besaran rasio bukaan terhadap termal. Lokasi penelitian berada di salah satu bangunan kos yang ada di Kota Salatiga. Bangunan yang menjadi obyek penelitian ini adalah bangunan yang benar-benar membutuhkan penghawaan alami untuk mengurangi biaya konsumsi penghawaan buatan. Penelitian yang dilakukan ini menggunakan metode penelitian kuantiatif dengan melakukan pengukuran suhu udara dan kelembapan pada dalam ruangan dan luar ruangan. Penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi ruangan pada bangunan kos tersebut yang memiliki rasio bukaan sebesar 38,89% terhadap luas lantai masih ada pada standar kenyamanan pada aspek kelembapan. Sedangkan pada aspek suhu sudah melewati batas standar kenyamanan yang disebabkan oleh pelaksanaan penelitian dilakukan pada saat cuaca yang tergolong ekstrem.
Kata Kunci: rasio bukaan, kenyamanan termal, penghawaa
Exploring Sensory Perception and Space Quality in Shaping Rural Cultural Landscape Tourism Experience
Abstract: Humans have the most developed senses among living creatures, which shape their perceptions, including spatial quality. In tourism, the tourist experience is the most important, especially in rural cultural landscape. This study examines how sensory elements—such as visual, auditory, tactile, and olfactory stimuli—interact with physical and spatial features, influencing tourists’ emotional responses. The method in this study is qualitative with the research technique being a literature review, focusing on the integration of traditional land use, architecture, and rural cultural landscape, this study explores how sensory factors shape spatial perception. The aim is to understand the importance of sensory experiences in enhancing space quality, thereby enhancing tourists’ experiences in rural cultural landscape. This study ultimately aims to offer insights into maintaining the integrity of these landscapes through sustainable tourism management that prioritizes sensory and space quality.
Keywords: Sensory perception, rural cultural landscape, space quality.
Abstrak: Manusia memiliki indera yang paling berkembang di antara makhluk hidup, yang membentuk persepsi mereka, termasuk kualitas ruang. Dalam pariwisata, pengalaman wisata adalah yang terpenting, terutama di lanskap budaya pedesaan. Studi ini meneliti bagaimana elemen sensori—seperti rangsangan visual, pendengaran, sentuhan, dan penciuman—berinteraksi dengan fitur fisik dan ruang, yang memengaruhi respon emosional wisatawan. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik penelitian adalah studi literatur, yang berfokus pada integrasi penggunaan lahan tradisional, arsitektur, dan lanskap budaya pedesaan, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana faktor sensori membentuk persepsi ruang. Tujuannya adalah untuk memahami pentingnya pengalaman sensori dalam meningkatkan kualitas ruang, sehingga meningkatkan pengalaman wisatawan di lanskap budaya pedesaan. Studi ini pada akhirnya bertujuan untuk menawarkan wawasan dalam menjaga integritas lanskap ini melalui manajemen pariwisata berkelanjutan yang memprioritaskan kualitas sensori dan ruang.
Kata Kunci: persepsi sensori, lanskap budaya pedesaan, kualitas ruang.
Keywords: Sensory perception, rural cultural landscape, space quality.Manusia memiliki indera yang paling berkembang di antara makhluk hidup, yang membentuk persepsi mereka, termasuk kualitas ruang. Dalam pariwisata, pengalaman wisata adalah yang terpenting, terutama di lanskap budaya pedesaan. Studi ini meneliti bagaimana elemen sensori—seperti rangsangan visual, pendengaran, sentuhan, dan penciuman—berinteraksi dengan fitur fisik dan ruang, yang memengaruhi respon emosional wisatawan. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik penelitian adalah studi literatur, yang berfokus pada integrasi penggunaan lahan tradisional, arsitektur, dan lanskap budaya pedesaan, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana faktor sensori membentuk persepsi ruang. Tujuannya adalah untuk memahami pentingnya pengalaman sensori dalam meningkatkan kualitas ruang, sehingga meningkatkan pengalaman wisatawan di lanskap budaya pedesaan. Studi ini pada akhirnya bertujuan untuk menawarkan wawasan dalam menjaga integritas lanskap ini melalui manajemen pariwisata berkelanjutan yang memprioritaskan kualitas sensori dan ruang.
Kata Kunci: persepsi sensori, lanskap budaya pedesaan, kualitas ruang
THE SCEPTRE (KEKUASAAN) DAN THE SPECTRE (HANTU): DUA WAJAH POPULISME DALAM DEMOKRASI (LIBERAL)
The phenomenon of populism emerged in contemporary politics in the era of global democracy, including Indonesia, with the trigger being the economic and political crisis. Populism has a positive meaning in (liberal) democracy by placing antagonistic discourse to fight for the values of justice, equality, prosperity, and fairness for the populus which reveals the corruption of the other, the political and business elite in the sceptre (power) of the oligarchy. Populist actors move dynamically and flexibly in the name of the populus as the spectre of the oligarchy by carrying out propaganda of resistance against the sceptre which is corrupt, oligarchic, and oppressive to the people. They fight for the improvement of the people's fate and play an antagonistic role against the oligarchic elite, corruption, globalization with its neo-liberalism. However, populism has a negative meaning as an effort to find a vehicle and entry ticket as a new player in the oligarchy, so that populism becomes rhetoric for efforts to seize power because it was born as part of the oligarchy vortex. That is the purpose of this writing with a critical study as a political philosophy approach using a qualitative explanatory method to examine the changes in the term populism since its emergence as a form of opposition to oligarchic power in (liberal) democracy whose boundaries are no longer clear. Populism can be a transformative force in Indonesia with an antagonistic role against the increasingly strong oligarchic power. However, it failed as an antagonistic anti-status quo and emancipatory force because it also perpetuated the sceptre of corrupt and greedy oligarchy, even forming a final identity as a shadow democratic power, instead of becoming the spectre of oligarchic power.Fenomena populisme muncul dalam politik kontemporer pada era demkrasi global, termasuk Indonesia dengan pemicunya adalah krisis ekonomi dan politik. Populisme bermakna positif dalam demokrasi (liberal) dengan menempatkan wacana antagonistik untuk memperjuangkan nilai-nilai keadilan, kesetaraan, kemakmuran, dan keadilan bagi populus yang membuka kebobrokan the other, elit politik dan bisnis dalam the sceptre (kekuasaan) oligarki. Aktor populis bergerak dinamis dan fleksibel atas nama populus sebagai the spectre oligarki dengan melakukan propaganda perlawanan terhadap the sceptre yang korup, oligarkis, dan menindas rakyat. Mereka berjuang untuk perbaikan nasib rakyat dan berperan antagonis terhadap elit oligarki, korupsi, globalisasi dengan neo-liberalnya. Namun, populisme justru bermakna negatif menjadi upaya pencarian kendaraan dan tiket masuk sebagai pemain baru di dalam oligarki, sehingga populisme menjadi retorika bagi upaya perebutan kekuasaan karena lahir sebagai bagian dalam pusaran oligarki. Itulah tujuan dari penulisan ini dengan studi kritis sebagai pendekatan filsafat politik menggunakan metode eksplanatori kualitatif untuk mencermati perubahan terma populisme sejak kemunculannnya sebagai bentuk oposisi terhadap kekuasaan oligarki dalam demokrasi (liberal) yang tidak lagi jelas batasnya. Populisme dapat menjadi kekuatan transformatif di Indonesia dengan peran antagonis terhadap kekuasaan oligarki yang kian menguat. Namun gagal sebagai kekuatan antagonis anti-status quo dan emansipatoris karena turut melanggengkan the sceptre oligarki korup dan rakus, bahkan membentuk identitas final sebagai kuasa demokrasi bayangan, bukannya menjadi the spectre kekuasaan oligarki
Proses Labeling PROSES LABELING PADA FIGUR PUBLIK: STUDI KASUS EKY PRIYAGUNG SEBAGAI ‘DUTA BROKEN HOME’ DI INSTAGRAM : STUDI KASUS EKY PRIYAGUNG SEBAGAI ‘DUTA BROKEN HOME’ DI INSTAGRAM
Labeling is an aspect that arises from society's reaction to a person's behavior that is considered deviant. The labeling perspective emphasizes the interactionism approach by concentrating on the consequences of interactions between deviants and social control agents. This research using descriptive methods to find out how Eky Priyagung's broken home content on Instagram gave rise to a broken home ambassador labeling on Eky Priyagung. The data obtained in this research through direct interviews with Eky Priyagung's sources. The results of this study prove that the labels given by the public can influence how a person behaves, creates strategies, and takes advantage of opportunities, ultimately forming an influential figure in raising social issues.Labeling merupakan suatu aspek yang muncul akibat reaksi masyarakat terhadap perilaku seseorang yang dianggap menyimpang. Perspektif labeling mengetengahkan pendekatan interaksionisme dengan berkosentrasi pada konsekuensi interaksi antara penyimpang dengan agen kontrol sosial. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif untuk mengetahui bagaimana konten broken home dari Eky Priyagung di Instagram memunculkan sebuah labeling duta broken home pada Eky Priyagung. Data yang didapatkan pada penelitian ini melalui wawancara secara langsung dengan narasumber Eky Priyagung. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa label yang diberikan publik dapat memengaruhi cara seseorang bersikap, membuat strategi, dan memanfaatkan peluang, hingga akhirnya membentuk figur yang berpengaruh dalam mengangkat isu sosial
KONTEN VISUAL INSTAGRAM SEBAGAI MEDIA PROMOSI PADA KOMUNIKASI PEMASARAN DALAM MEMBANGUN BRAND IMAGE KAMALEENS
This research is motivated by the growing use of social media as a promotional tool in marketing communication, particularly through Instagram. Kamaleens, as a local fashion brand, utilizes visual content on Instagram to build a strong brand image in the minds of consumers. The purpose of this study is to identify and explain the role of visual content on Instagram @kamaleens in marketing communication to shape its brand image through three aspects of the hierarchy of effects theory: cognitive, affective, and conative. This research applies a qualitative method with a descriptive approach, while data collection techniques include in-depth interviews, observation of Instagram @kamaleens content, digital documentation, and literature study. The findings reveal that in the cognitive aspect, Kamaleens successfully builds audience awareness and knowledge of the brand through aesthetic, informative, and consistent visual design. In the affective aspect, visual content generates positive emotions through comfortable displays, relevant lifestyles, and collaborations with influencers who represent the values of the audience, thus fostering liking and preference. In the conative aspect, visual content encourages confidence and purchasing actions through persuasive messages, testimonials as social proof, and loyalty programs such as discounts and membership. Overall, the visual content strategy of Instagram @kamaleens is effective in shaping its brand image through the stages of marketing communication explained in the hierarchy of effects theory.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi dalam komunikasi pemasaran, khususnya melalui Instagram. Kamaleens sebagai merek fashion lokal menggunakan konten visual Instagram untuk membangun brand image yang kuat di benak konsumen. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan menjelaskan peran konten visual Instagram @kamaleens dalam komunikasi pemasaran untuk membentuk brand image melalui tiga aspek dalam teori hierarki efek: kognitif, afektif, dan konatif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, sedangkan teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi konten Instagram @kamaleens, dokumentasi digital, serta studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek kognitif, Kamaleens berhasil membangun kesadaran dan pengetahuan audiens terhadap merek melalui desain visual yang estetik, informatif, dan konsisten. Pada aspek afektif, konten visual membangkitkan emosi positif melalui tampilan nyaman, gaya hidup yang relevan, serta kolaborasi dengan influencer yang sesuai dengan nilai audiens, sehingga menumbuhkan rasa suka dan preferensi. Pada aspek konatif, konten visual mendorong keyakinan dan tindakan pembelian melalui pesan persuasif, testimoni sebagai bukti sosial, serta program loyalitas seperti diskon dan membership. Secara keseluruhan, strategi konten visual Instagram @kamaleens terbukti efektif membentuk brand image melalui tahapan komunikasi pemasaran yang dijelaskan dalam teori hierarki efek
Pengaruh Personal Branding dan Sistem Pembayaran Digital Terhadap Keputusan Pembelian
Introduction: The expansion of digital technology has transformed consumer behavior and purchasing decisions, particularly in the food and beverage sector. This study focuses on Menantea, a brand cofounded by public figure Jerome Polin, to explore how personal branding and digital payment systems influence consumer purchase decisions. Background Problems: Despite the popularity of digital platforms, many consumers still rely on cash transactions, prompting the research question: Do personal branding and digital payment systems significantly affect consumers’ purchase decisions at Menantea in Bandung? Novelty: While prior studies have discussed branding and fintech adoption separately, limited research has investigated their combined influence within the Indonesian retail beverage industry, particularly when associated with a well-known influencer. This study addresses that gap. Research Methods: A quantitative approach was applied, utilizing incidental sampling to survey 96 respondents familiar with Menantea. Data were collected via online questionnaires and analyzed through multiple linear regression using SPSS 25. Finding/Results: The results indicate that both personal branding and digital payment systems positively and significantly affect purchasing decisions. Personal branding has a stronger influence (β = 0.523) compared to digital payments (β = 0.398), with a combined determination coefficient (R²) of 64.9%. Conclusion: The study concludes that both personal branding and digital payment efficiency are strategic levers in driving customer purchase behavior. These insights are particularly useful for businesses leveraging influencer-based marketing and tech-driven payment innovation