E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
    861 research outputs found

    Pengaruh Orientasi Ruang Ibadah Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran terhadap Tempat duduk Umat Sebelum dan Sesudah Gempa 2006

    Full text link
    Abstract: Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran is one of the oldest churches in Bantul Regency, Yogyakarta. Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran suffered damage after the 2006 earthquake at the west side entrance. In 2009, the church was rebuilt with the orientation of the building facing south. This research focuses on changes in the orientation of the church building towards the seating of the people in the church. The research method used is a qualitative research method with an abductive approach with a rationalistic paradigm in retrieving data and information related to changes in the orientation of Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran affecting Place Attachment. The results of the research are Place attachment carried out by parishioners in choosing a seat in the church when worshiping. Based on the analysis with the time budget and Place Attachment theory, people experience attachment to seats in the church before and after the 2006 earthquake. This shows, there are changes that occur in the church in the form of changes in the orientation of the face and the design of the worship space of Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran people still choose a similar or fixed seat both before and after the 2006 earthquake that hit the city of Yogyakarta. Keyword: Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus(HKTY) Ganjuran, Change of orientation facing the church, Place Attachment Abstrak: Gereja Katholik Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran merupakan salah satu gereja tertua di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran mengalami kerusakan pasca gempa 2006 di bagian pintu masuk gereja yang berada di sisi barat. Pada tahun 2009 Gereja dibangun kembali dengan orientasi bangunan menghadap ke selatan. Penelitian ini berfokus pada perubahan orientasi hadap bangunan gereja terhadap tempat duduk umat didalam gereja. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui perubahan fisik Gereja Katholik Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran mempengaruhi Place Attachment yang dilakukan oleh umat .Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan abduktif dengan paradigma rasionalistik dalam pengambilan data serta informasi terkait perubahan fisik Gereja Katholik Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran mempengaruhi Place Attachment . Hasil penelitian adanya Place attachment yang dilakukan oleh umat dalam memilih tempat duduk di dalam gereja ketika melakukan prosesi ibadah yang dilakukan secara bersama-sama dan personal. Berdasarkan analisis dengan time budget serta teori Place Attachment, umat mengalami keterikatan tempat duduk didalam gereja sebelum dan sesudah gempa 2006. Hal tersebut menunjukkan, adanya perubahan yang terjadi pada gereja berupa perubahan orientasi hadap serta desain ruang ibadah Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran umat tetap memilih tempat duduk yang serupa atau tetap baik sebelum dan sesudah gempa 2006 yang melanda kota Yogyakarta.  Kata Kunci: Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus(HKTY) Ganjuran, Perubahan orientasi Hadap Gereja, Aspek Place AttachmentGereja Katholik Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran merupakan salah satu gereja tertua di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran mengalami kerusakan pasca gempa 2006 di bagian pintu masuk gereja yang berada di sisi barat. Pada tahun 2009 Gereja dibangun kembali dengan orientasi bangunan menghadap ke selatan. Penelitian ini berfokus pada perubahan orientasi hadap bangunan gereja terhadap tempat duduk umat didalam gereja. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui perubahan fisik Gereja Katholik Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran mempengaruhi Place Attachment yang dilakukan oleh umat .Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan abduktif dengan paradigma rasionalistik dalam pengambilan data serta informasi terkait perubahan fisik Gereja Katholik Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran mempengaruhi Place Attachment . Hasil penelitian adanya Place attachment yang dilakukan oleh umat dalam memilih tempat duduk di dalam gereja ketika melakukan prosesi ibadah yang dilakukan secara bersama-sama dan personal. Berdasarkan analisis dengan time budget serta teori Place Attachment, umat mengalami keterikatan tempat duduk didalam gereja sebelum dan sesudah gempa 2006. Hal tersebut menunjukkan, adanya perubahan yang terjadi pada gereja berupa perubahan orientasi hadap serta desain ruang ibadah Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran umat tetap memilih tempat duduk yang serupa atau tetap baik sebelum dan sesudah gempa 2006 yang melanda kota Yogyakarta

    Technology Readiness and Acceptance Model in the Evaluation of the Singmanfaat System at the West Java Provincial Forestry Service

    Full text link
    Using the Technology Readiness and Acceptance Model (TRAM) approach, the research investigates the readiness and acceptance of the SINGMANFAAT application among users working for the West Java Provincial Forestry Service.  Optimism and insecurity were discovered to have a substantial influence regarding perceived utility and simplicity of use, according to the findings of the research that involved 88 employees.  The only thing that was affected by innovativeness was the convenience of use; pain was not altered.  According to the findings of the survey, enhancing user comfort and bolstering faith in data security are two of the most important factors in ensuring successful adoption of technology.  The findings can serve as a reference for the implementation of information systems that are based on technology in government entities

    DETERMINE THE EVALUATION RUBRIC WEIGHTS USING THE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS METHOD FOR OIL AND GAS COMPANY STRATEGIC PROJECT

    No full text
    This study establishes a comprehensive framework to evaluate the feasibility of logistics projects in the oil and gas industry. It focuses on developing and weighting key decision-making criteria using the Analytic Hierarchy Process (AHP) method. The five main criteria considered are: Safety & Asset Integrity, Net Present Value (NPV) Efficiency, Operational Supply, Operational Distribution, and Terminal & New Business Flexibility. Data were obtained through expert questionnaires, and responses were processed using the geometric mean method. The resulting pairwise comparison matrices were tested for consistency using the maximum eigenvalue (λ_max), Consistency Index (CI), and Consistency Ratio (CR); only matrices with CR values below 0.1 were accepted. The analysis showed that “Safety & Asset Integrity” was the most significant criterion with a weight of 38%, followed by “NPV Efficiency” at 22%. Sub-criteria such as “Safety” (35%) and “Supply Options” (42%) were also highly prioritized. The final weights were validated through expert review to ensure alignment with actual logistics needs. This structured evaluation model supports balanced, multi-perspective decision-making. Ultimately, the study provides a robust rubric for evaluating strategic logistics projects, allowing decision-makers to assess feasibility more objectively, beyond financial performance alone, and incorporating operational, safety, and future development factors.Penelitian ini membangun kerangka evaluasi komprehensif untuk menilai kelayakan proyek logistik di industri minyak dan gas. Fokus utama penelitian adalah mengembangkan dan memberikan bobot pada kriteria-kriteria utama pengambilan keputusan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Lima kriteria utama yang digunakan meliputi: Keselamatan & Integritas Aset, Efisiensi Net Present Value (NPV), Pasokan Operasional, Distribusi Operasional, dan Fleksibilitas Terminal & Pengembangan Bisnis Baru. Data diperoleh melalui kuesioner yang diisi oleh para pakar, dan dianalisis menggunakan metode rata-rata geometrik. Matriks perbandingan berpasangan diuji konsistensinya melalui nilai maksimum eigen (λ_max), Consistency Index (CI), dan Consistency Ratio (CR); hanya matriks dengan CR di bawah 0,1 yang diterima. Hasil analisis menunjukkan bahwa “Keselamatan & Integritas Aset” merupakan kriteria paling penting dengan bobot 38%, diikuti “Efisiensi NPV” sebesar 22%. Sub-kriteria seperti “Keselamatan” (35%) dan “Opsi Pasokan” (42%) juga mendapatkan bobot tinggi. Bobot akhir divalidasi melalui tinjauan para pakar untuk memastikan kesesuaiannya dengan kondisi logistik nyata. Model evaluasi ini mendukung pengambilan keputusan yang seimbang dan multi-perspektif. Dengan demikian, studi ini menghasilkan rubrik evaluasi proyek logistik strategis yang kuat, memungkinkan penilaian kelayakan secara objektif melampaui aspek finansial semata, dengan mempertimbangkan faktor operasional, keselamatan, dan potensi pengembangan

    Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru

    Full text link
    Introduction: Teacher performance is pivotal to learning quality in Indonesian schools, and two levers— principals’ transformational leadership and teachers’ work motivation— are frequently cited but unevenly enacted across Islamic education foundations. Background Problems: Many schools report inconsistent teacher performance; the research question is: To what extent do the principal’s transformational leadership style and teachers’ work motivation affect teacher performance, both individually and jointly? Novelty: Prior work rarely quantifies the simultaneous effects of these constructs within Islamic educational foundations; this study adds context-specific evidence by examining a single foundation and linking leadership behaviors with motivation in one model. Research Methods: A quantitative, associative design was used at the Darul Muttaqin Islamic Education Foundation (n = 44 teachers). Data were collected via validated questionnaires and analyzed using multiple linear regression (SPSS 25) with t-tests (partial) and F-tests (simultaneous). Finding/Results: Both transformational leadership and work motivation significantly improve teacher performance; the model is significant (F = 18.186 > 3.23, p < 0.05), shows a moderate multiple correlation (R = 0.567), and explains substantial variance (R² = 0.831). Conclusion: Enhancing principals’ transformational practices together with systematic motivation initiatives (recognition, development opportunities, supportive facilities) can meaningfully raise teacher performance in Islamic secondary schools and should be prioritized in leadership and HR policies

    PENGARUH PERILAKU PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR TERHADAP TATANAN RUANG: STUDI KASUS SD MUHAMMADIYAH KOTA PROBOLINGGO

    Full text link
    Abstract: Education is one of the most important aspects of human life. Referring to this, every person in Indonesia has the right to receive education services. SD Muhammadiyah Probolinggo City is an education provider at the basic level. During the elementary level, children continue to develop both in motor behavior and cognitive abilities. With the behavior that is owned and will continue to develop, a space is needed that can facilitate children during school, so that changes in spatial planning are needed. By using qualitative descriptive methods, it can be seen that changes or developments in behavior can affect the spatial arrangement and during the development of the behavior of children at SD Muhammdiyah Probolinggo City can provide a variety of spatial arrangements that can be done by educators to facilitate it. Keyword: Elementary School, Child Behavior, Room Layout Abstrak: Pendidikan merupakan salah satu aspek penting pada kehidupan manusia. Merujuk pada hal tersebut, bahwa setiap orang yang berada di Indonesia berhak mendapat pelayanan pendidikan. SD Muhammadiyah Kota Probolinggo merupakan penyelenggara pendidikan pada tingkat dasar. Selama dalam tingkat dasar anak terus berkembang baik secara perilaku motorik ataupun kemampuan kognittif anak. Dengan perilaku yang dimiliki dan akan terus berkembang diperlukan ruang yang dapat memfasilitasi anak selama sekolah, sehingga perlu perubahan dalam penataan ruang. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, dapat diketahui dengan perubahan atau perkembangan perilaku dapat berpengaruh dalam penataan ruang dan selama dalam perkembangannya perilaku dari anak di SD Muhammdiyah Kota Probolinggo dapat memberikan berbagai macam penataan ruang yang dapat dilakukan oleh tenaga kerja pendidik untuk memfasilitasinya. Kata Kunci: Sekolah Dasar, Perilaku Anak, Tata Ruan

    Adaptasi Permukiman Berkelanjutan Di Daerah Banjir Rob: Studi Kasus Di Kelurahan Panjang Baru Pekalongan

    Full text link
    Abstract: Panjang Baru Village in Pekalongan City is one of the coastal areas affected by tidal flooding. This condition has a direct impact on the quality of life of the community and the sustainability of settlements in the area. This study aims to identify sustainable settlement adaptations implemented by local communities in facing the risk of tidal flooding. The method used is a descriptive qualitative approach, with primary data collection through field observations, in-depth interviews, and documentation, as well as secondary data from literature reviews and local government data. The results show that the community developed various forms of individual and communal environmental, economic and cultural adaptations, such as house repairs, road and water channel repairs, the use of waterproof building materials, independent drainage systems, and strengthening community social networks. In addition, the role of local government in supporting these adaptation efforts is to build tidal embankments, repair roads and water channels, procurement of large-capacity water pumps and also through settlement planning programs and disaster education. This study concludes that participatory and locally based settlement adaptation is key to realizing environmental resilience and sustainability in disaster-prone coastal areas. Keywords: adaptation, sustainable settlement, tidal flooding, coastal areas, Pekalongan Abstrak: Kelurahan Panjang Baru di Kota Pekalongan merupakan salah satu kawasan pesisir yang terdampak banjir rob. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat serta keberlanjutan permukiman di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adaptasi permukiman berkelanjutan yang diterapkan oleh masyarakat lokal dalam menghadapi risiko banjir rob. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data primer melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi, serta data sekunder dari kajian literatur dan data pemerintah setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat mengembangkan berbagai bentuk adaptasi individu dan komunal lingkungan, ekonomi dan budaya, seperti perbaikan bangunan rumah, perbaikan jalan dan saluran air, penggunaan material bangunan tahan air, sistem drainase mandiri, serta penguatan jaringan sosial komunitas. Selain itu, peran pemerintah daerah dalam mendukung upaya adaptasi tersebut adalah membangun tanggul rob, perbaikan jalan dan saluran air, pengadaan pompa air berkapasitas besar dan juga melalui program penataan permukiman dan edukasi kebencanaan. Studi ini menyimpulkan bahwa adaptasi permukiman yang partisipatif dan berbasis lokal merupakan kunci dalam mewujudkan ketahanan lingkungan dan keberlanjutan kawasan pesisir yang rawan bencana. Kata kunci: adaptasi, permukiman berkelanjutan, banjir rob, pesisir, PekalonganKelurahan Panjang Baru di Kota Pekalongan merupakan salah satu kawasan pesisir yang terdampak banjir rob. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat serta keberlanjutan permukiman di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adaptasi permukiman berkelanjutan yang diterapkan oleh masyarakat lokal dalam menghadapi risiko banjir rob. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data primer melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi, serta data sekunder dari kajian literatur dan data pemerintah setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat mengembangkan berbagai bentuk adaptasi individu dan komunal lingkungan, ekonomi dan budaya, seperti perbaikan bangunan rumah, perbaikan jalan dan saluran air, penggunaan material bangunan tahan air, sistem drainase mandiri, serta penguatan jaringan sosial komunitas. Selain itu, peran pemerintah daerah dalam mendukung upaya adaptasi tersebut adalah membangun tanggul rob, perbaikan jalan dan saluran air, pengadaan pompa air berkapasitas besar dan juga melalui program penataan permukiman dan edukasi kebencanaan. Studi ini menyimpulkan bahwa adaptasi permukiman yang partisipatif dan berbasis lokal merupakan kunci dalam mewujudkan ketahanan lingkungan dan keberlanjutan kawasan pesisir yang rawan bencana. Kata kunci: adaptasi, permukiman berkelanjutan, banjir rob, pesisir, Pekalonga

    The Elderly Wayfinding: Wayfinding Lanjut Usia Berbasis Sensorik Pendengaran, Penciuman, dan Kulit di Kota Tua Jakarta

    No full text
    Abstract: One of the actions in the program is the National Programs for Age-Friendly Cities and Communities (AFCC) is to support all elderly people enjoying independence and good health. To enhance independence, an elderly-friendly environment needs to pay attention to the elderly-friendly wayfinding aspect to help the process of achieving and moving activities independently. However, elderly wayfinding have not been studied in a lot. The wayfinding process is influenced by the individual's sensory abilities and the condition of the physical setting (environment). The physical condition of the elderly continues to decline with increasing age. The research question from the problem above is what is the role of physical settings on sensory in elderly wayfinding. The purpose of this study is to obtain a picture of the influence of physical settings on the sensory abilities of the elderly in wayfinding patterns particularly responded by kinesthesia and haptic sensory. The method in this study aims to obtain a picture of the physical environment responded by kinesthesia and haptic sensory that is friendly to the elderly in supporting independence. The research method used in this study is a quantitative method. This method uses a study approach to the Jakarta History Museum and Fatahillah Park Kota Tua in the old city area of Jakarta. The research method is carried out by observing the relationship between sensory abilities in a particular setting in the wayfinding process. Keywords:  Wayfinding, Elderly, Physical Setting, Sensory Abstrak: Salah satu tindakan dalam program tersebut adalah National Programs for Age-Friendly Cities and Communities (AFCC) untuk mendukung semua orang lanjut usia menikmati kemandirian dan kesehatan yang baik. Untuk meningkatkan kemandirian, lingkungan yang ramah lansia perlu memperhatikan aspek wayfinding ramah lansia untuk membantu proses mencapai dan memindahkan aktivitas secara mandiri. Namun, wayfinding lansia belum banyak dipelajari. Proses wayfinding dipengaruhi oleh kemampuan sensorik individu dan kondisi setting fisik (lingkungan). Kondisi fisik lansia terus menurun seiring bertambahnya usia. Pertanyaan penelitian dari masalah di atas adalah apa peran setting fisik terhadap sensorik dalam wayfinding lansia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang pengaruh setting fisik terhadap kemampuan sensorik lansia dalam pola wayfinding khususnya yang direspon oleh kinestesi dan sensorik haptik. Metode dalam penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang lingkungan fisik yang direspon oleh kinestesi dan sensorik haptik yang ramah terhadap lansia dalam mendukung kemandirian. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Metode ini menggunakan pendekatan studi kasus di Museum Sejarah Jakarta dan Taman Fatahillah Kota Tua di kawasan kota tua Jakarta. Metode penelitian dilakukan dengan mengamati hubungan antara kemampuan sensorik pada suatu setting tertentu dalam proses pencarian jalan. Kata Kunci: Pencarian Jalan, Lansia, Setting Fisik, SensorikAbstrak: Salah satu tindakan National Programs for Age-Friendly Cities and Communities (AFCC) untuk mendukung semua orang lanjut usia menikmati kemandirian dan kesehatan yang baik. Untuk meningkatkan kemandirian, lingkungan yang ramah lansia perlu memperhatikan aspek wayfinding ramah lansia untuk membantu proses mencapai dan memindahkan aktivitas secara mandiri. Namun, wayfinding lansia belum banyak dipelajari. Proses wayfinding dipengaruhi oleh kemampuan sensorik individu dan kondisi setting fisik (lingkungan). Kondisi fisik lansia terus menurun seiring bertambahnya usia. Pertanyaan penelitian dari masalah di atas adalah apa peran setting fisik terhadap sensorik dalam wayfinding lansia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang pengaruh setting fisik terhadap kemampuan sensorik lansia dalam pola wayfinding khususnya yang direspon oleh kinestesi dan sensorik haptik. Metode dalam penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang lingkungan fisik yang direspon oleh kinestesi dan sensorik haptik yang ramah terhadap lansia dalam mendukung kemandirian. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Metode ini menggunakan pendekatan studi kasus di Museum Sejarah Jakarta dan Taman Fatahillah Kota Tua di kawasan kota tua Jakarta. Metode penelitian dilakukan dengan mengamati hubungan antara kemampuan sensorik pada suatu setting tertentu dalam proses pencarian jalan. Kata Kunci: Pencarian Jalan, Lansia, Setting Fisik, Sensori

    KORELASI BENTUK PERKOTAAN DENGAN MOBILITAS PERKOTAAN PADA KOTA-KOTA DI NEGARA BERKEMBANG: TINJAUAN SISTEMATIK LITERATUR

    Full text link
    Abstract: Urban growth in the 21st century is characterized by massive urbanization, creating complex challenges related to urban form and mobility. This study examines the correlation between urban form and urban mobility in developing countries through a systematic literature review using the SALSA method (Search, Appraisal, Synthesis, and Analysis). A total of 20 articles published between 1999 and 2024 were analyzed, focusing on variables such as density, land-use mix, street connectivity, and transit accessibility. The findings indicate that compact, mixed-use, and well-connected urban forms encourage public transport use, walking, and cycling, thereby reducing dependence on private vehicles and lowering emissions. Conversely, urban sprawl exacerbates congestion, pollution, and energy consumption. Developing countries face unique challenges, including socio-economic disparities, dominance of informal transport, and limited data and governance capacity. These findings highlight the importance of integrating spatial planning with sustainable mobility policies. The study concludes that compact and inclusive transit-oriented development, supported by pedestrian- and cyclist-friendly infrastructure and regulation of informal transport, is essential for achieving sustainable and equitable urban mobility. Keyword: Urban Form, Urban Mobility, SALSA. Abstrak Pertumbuhan kota di abad ke-21 ditandai oleh urbanisasi masif yang menghadirkan tantangan kompleks terkait bentuk perkotaan dan mobilitas. Penelitian ini mengkaji korelasi antara bentuk perkotaan dan mobilitas di negara berkembang melalui tinjauan sistematik literatur dengan metode SALSA (Search, Appraisal, Synthesis, and Analysis). Sebanyak 20 artikel terbitan 1999–2024 dianalisis dengan fokus pada variabel – variabel dalam bentuk perkotaan dan mobilitas perkotaan. Hasil menunjukkan bahwa kota yang padat, bercampur fungsi, dan terhubung baik mendorong penggunaan transportasi umum, berjalan kaki, dan bersepeda, sehingga mengurangi ketergantungan kendaraan pribadi dan menekan emisi. Sebaliknya, urban sprawl memperparah kemacetan, polusi, dan konsumsi energi. Negara berkembang menghadapi tantangan khusus, seperti kesenjangan sosial-ekonomi, dominasi transportasi informal, serta keterbatasan data dan tata kelola. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi perencanaan ruang dan kebijakan mobilitas berkelanjutan. Studi ini menyimpulkan bahwa pengembangan kota padat dan inklusif berorientasi transit, didukung infrastruktur ramah pejalan kaki dan pesepeda serta regulasi transportasi informal, merupakan kunci untuk mewujudkan mobilitas perkotaan yang adil dan berkelanjutan. Kata Kunci: Bentuk Perkotaan, Mobilitas Perkotaan, SALSA.  Pertumbuhan kota di abad ke-21 ditandai oleh urbanisasi masif yang menghadirkan tantangan kompleks terkait bentuk perkotaan dan mobilitas. Penelitian ini mengkaji korelasi antara bentuk perkotaan dan mobilitas di negara berkembang melalui tinjauan sistematik literatur dengan metode SALSA (Search, Appraisal, Synthesis, and Analysis). Sebanyak 20 artikel terbitan 1999–2024 dianalisis dengan fokus pada variabel – variabel dalam bentuk perkotaan dan mobilitas perkotaan. Hasil menunjukkan bahwa kota yang padat, bercampur fungsi, dan terhubung baik mendorong penggunaan transportasi umum, berjalan kaki, dan bersepeda, sehingga mengurangi ketergantungan kendaraan pribadi dan menekan emisi. Sebaliknya, urban sprawl memperparah kemacetan, polusi, dan konsumsi energi. Negara berkembang menghadapi tantangan khusus, seperti kesenjangan sosial-ekonomi, dominasi transportasi informal, serta keterbatasan data dan tata kelola. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi perencanaan ruang dan kebijakan mobilitas berkelanjutan. Studi ini menyimpulkan bahwa pengembangan kota padat dan inklusif berorientasi transit, didukung infrastruktur ramah pejalan kaki dan pesepeda serta regulasi transportasi informal, merupakan kunci untuk mewujudkan mobilitas perkotaan yang adil dan berkelanjutan

    ENHANCING TOURISM ACCESSIBILITY IN BATAM CITY THROUGH SMART SUSPENDED MONORAIL ROUTE MODELLING

    Full text link
    The transportation fulfils as the support of human activity and is the leading factor for economy as well as tourism development. Batam City, positioned strategically close to Singapore and Malaysia, is confronted with severe problems in urban mobility after experiencing a rapid rise in population and the inflow of international tourists. The low capacity of Trans Batam and infrastructure development stagnation have restricted tourism access, calling for urgent new and sustainable solutions for transportation. In this research, an integrated suspended monorail route in the framework of the Smart City will be designed to enhance tourism connectivity and sustainable urban mobility in this regard. It is a qualitative approach, including interviews with stakeholders, observation on the field and survey of 400 tourists, both domestic and international. Thematic analysis based on GIS spatial mapping was utilized to analyze accessibility gaps and to develop strategic routes. The results indicate that there is a strong support from public and institutional to introduce a technology-based monorail system that will connect Nongsa-Batam Center-Harbour Bay as the main tourism nodes. Its potential integration with Intelligent Transportation Systems (ITS) and Smart Tourism concepts further emphasizes its importance in improving efficiency, equity, and the experience of the visitors. This paper makes conceptual contributions by linking spatial–qualitative methods and smart transport design in the context of mid-sized cities in Southeast Asia, and offers practical policy implications for tourism-based sustainable mobility innovation in Batam.Transportasi berfungsi sebagai penopang aktivitas manusia dan merupakan faktor utama bagi perekonomian serta pengembangan pariwisata. Kota Batam, yang secara strategis berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, dihadapkan pada masalah serius dalam mobilitas perkotaan setelah mengalami peningkatan pesat populasi dan arus masuk wisatawan internasional. Rendahnya kapasitas Trans Batam dan stagnasi pembangunan infrastruktur telah membatasi akses pariwisata, sehingga membutuhkan solusi baru dan berkelanjutan yang mendesak untuk transportasi. Dalam penelitian ini, rute monorel gantung terintegrasi dalam kerangka Kota Cerdas akan dirancang untuk meningkatkan konektivitas pariwisata dan mobilitas perkotaan berkelanjutan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, meliputi wawancara dengan para pemangku kepentingan, observasi lapangan, dan survei terhadap 400 wisatawan, baik domestik maupun internasional. Analisis tematik berdasarkan pemetaan spasial SIG digunakan untuk menganalisis kesenjangan aksesibilitas dan mengembangkan rute strategis. Hasil penelitian menunjukkan adanya dukungan kuat dari publik dan lembaga untuk memperkenalkan sistem monorel berbasis teknologi yang akan menghubungkan Nongsa-Batam Center-Harbour Bay sebagai simpul pariwisata utama. Potensi integrasinya dengan Sistem Transportasi Cerdas (ITS) dan konsep Pariwisata Cerdas semakin menekankan pentingnya dalam meningkatkan efisiensi, kesetaraan, dan pengalaman pengunjung. Makalah ini memberikan kontribusi konseptual dengan menghubungkan metode spasial-kualitatif dan desain transportasi cerdas dalam konteks kota-kota menengah di Asia Tenggara, dan menawarkan implikasi kebijakan praktis bagi inovasi mobilitas berkelanjutan berbasis pariwisata di Batam

    Analisis Sumber Inspirasi Mahasiswa Arsitektur dalam Gubahan Massa Bangunan Bentang Lebar

    Full text link
    Abstract: This study aims to identify the sources of ideas used by architecture students during the process of mass composition exploration in two types of buildings, medium-rise buildings and wide-span buildings. The research method used a descriptive quantitative approach involving 74 students as respondents who produced two mass compositions each. The data obtained were then analyzed qualitatively and quantitatively to identify the origin of ideas, both from the building function, environmental elements, basic geometric forms, and cultural context. Findings reveal that the predominant source of ideas is derived from pure geometric transformations, followed by objects in the surrounding environment and thematic concepts such as organic and tropical styles. A minority applied pragmatic inspiration adapting to environmental conditions. These results underline the diversity of conceptual approaches among students and emphasize the importance of environmental context and cultural elements in architectural creativity. The study contributes to better understanding of the creative process in architectural education and provides insights for curriculum development aimed at nurturing student creativity. Keyword: Mass composition, Idea sources, Architecture students, Design process, Architectural education, Creative process. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sumber ide yang digunakan mahasiswa arsitektur dalam proses eksplorasi gubahan massa pada dua jenis bangunan, yaitu bangunan bertingkat sedang dan bangunan bentang lebar. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 74 mahasiswa sebagai responden yang menghasilkan dua gubahan massa masing-masing. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk mengidentifikasi asal usul ide, baik dari fungsi bangunan, elemen lingkungan, bentuk geometri dasar, maupun konteks budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber ide dominan berasal dari perubahan bentuk geometri murni, diikuti oleh ide dari objek atau benda sekitar, dan konsep tematik seperti organik dan tropis. Sebagian kecil menggunakan ide pragmatis sebagai bentuk adaptasi dan respon terhadap lingkungan. Temuan ini menegaskan keragaman pendekatan mahasiswa dalam mencari ide untuk eksplorasi gubahan massa, serta pentingnya konteks lingkungan dan konteks budaya dalam proses kreatif perancangan arsitektur. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman proses kreatif dalam pendidikan arsitektur dan dapat menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum yang menunjang kreativitas mahasiswa. Kata Kunci: Gubahan massa, Sumber ide, Mahasiswa arsitektur, Proses perancangan, Pendidikan arsitektur, Kreativitas desain.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sumber ide yang digunakan mahasiswa arsitektur dalam proses eksplorasi gubahan massa pada dua jenis bangunan, yaitu bangunan bertingkat sedang dan bangunan bentang lebar. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 74 mahasiswa sebagai responden yang menghasilkan dua gubahan massa masing-masing. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk mengidentifikasi asal usul ide, baik dari fungsi bangunan, elemen lingkungan, bentuk geometri dasar, maupun konteks budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber ide dominan berasal dari perubahan bentuk geometri murni, diikuti oleh ide dari objek atau benda sekitar, dan konsep tematik seperti organik dan tropis. Sebagian kecil menggunakan ide pragmatis sebagai bentuk adaptasi dan respon terhadap lingkungan. Temuan ini menegaskan keragaman pendekatan mahasiswa dalam mencari ide untuk eksplorasi gubahan massa, serta pentingnya konteks lingkungan dan konteks budaya dalam proses kreatif perancangan arsitektur. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman proses kreatif dalam pendidikan arsitektur dan dapat menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum yang menunjang kreativitas mahasiswa

    759

    full texts

    861

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Jurnal Universitas Kebangsaan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇