E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
    861 research outputs found

    MENELUSURI GENIUS LOCI PASAR BARU JAKARTA

    Get PDF
    Abstract: Jakarta as the largest city in Indonesia has had the center of the economy for a long time. One of the historic economic centers is Pasar Baru, Central Jakarta. As a historical place, Pasar Baru has its own unique character compared to any other market through the spatial phenomena that have long ago been formed through the various ethnicities, cultures, and histories, which created their uniqueness in that area. This study aims to find the spirit of place in the Pasar Baru area using the Genius Loci concept by Norberg-Schulz to show the uniqueness of a place that was created through the interaction between the natural and built environment. The method used in this study is a qualitative descriptive method with data collection obtained through literature reviews, field observations, and interviews. Through research, it was found that there was a mixture of culture between Chinese and Indian and was followed by the local community that keeps the place alive. However, identities contained in this market are slowly receding. Therefore, this research is expected to discover the spirit that shapes and makes the place feel alive so it can provide additional insight for both readers and support the revitalization or other development in the future that may help maintain the identity and uniqueness of this place.Abstrak: Jakarta sebagai kota terbesar di Indonesia sudah memiliki pusat perekonomian sejak dahulu. Salah satu pusat perekonomian bersejarah berada di Kawasan Pasar Baru Jakarta Pusat. Sebagai tempat bersejarah, Pasar Baru memiliki karakter unik tersendiri dari pasar lainnya melalui fenomena-fenomena ruang yang telah lama terbentuk dari percampuran berbagai etnis, budaya, dan sejarah di dalamnya menciptakan keunikan tersendiri pada kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mencari spirit of place Kawasan Pasar Baru yang didasari dengan konsep Genius Loci oleh Norberg-Schulz untuk menunjukan keunikan sebuah tempat melalui interaksi yang tercipta antara lingkungan alam dan binaannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data diperoleh melalui kajian pustaka terhadap beberapa literatur yang relevan, observasi lapangan secara langsung, dan wawancara. Melalui penelitian yang telah dilakukan, ditemukan adanya percampuran budaya antara Tionghoa dengan India yang kemudian diikuti dengan masyarakat lokal sehingga membuat tempat ini tetap hidup hingga saat ini. Namun, secara perlahan identitas-identitas yang terkandung di dalam pasar ini kian surut. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan bagi para pembaca dan mendukung pengembangan Pasar Baru di masa mendatang yang turut menjaga identitas dan keunikan tempat ini

    KAJIAN FAKTOR PERILAKU PEMANFAATAN TERITORI PUBLIK OLEH PEDAGANG DI PASAR JATINGALEH SEMARANG

    Get PDF
    Abstract: Jatingaleh Market is a traditional market with high historical value in the city of Semarang, but currently the market conditions seem dirty. The phenomenon of market corridor’s use by traders is one of the main factors behind it. This phenomenon causes the market corridor become narrow from its proper width. Territory describes an individual's identity related to a sense of belonging to an area. The use of public territory in the market occurs when traders expand their trading area by claiming ownership of territory that is not legally theirs. This study aims to determine the condition of the Jatingaleh market compared to the initial planning and to find out the condition by the phenomenon public territory’s use in the Jatingaleh market and the factors behind it based on a literature study. The research was conducted using observation and mapping methods of the phenomenon and then examining the influencing factors through reference studies. The results showed that the behavior of using public territory was influenced by internal factors from individuals and external factors from settings or the environment.Abstrak: Pasar Jatingaleh merupakan pasar tradisional dengan nilai sejarah tinggi di kota Semarang, namun saat ini kondisi pasar terkesan kotor dan kumuh. Fenomena pemanfaatan koridor pasar oleh pedagang merupakan salah satu faktor utama yang melatarbelakanginya. Pemanfaatan ini menyebabkan koridor pasar menyempit dari lebar yang seharusnya. Teritori meggambarkan identitas seorang individu yang berhubungan dengan rasa memiliki terhadap sebuah area. Pemanfaatan teritori pada pasar terjadi saat pedagang memperluas area dagangnya dengan melakukan klaim kepemilikan terhadap teritori yang secara legal bukan miliknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi pasar Jatingaleh dibandingkan dengan perencanaan awal dan mengetahui kondisi fenomena pemanfaatan teritori publik di pasar Jatingaleh serta faktor yang melatarbelakanginya berdasarkan studi literatur. Penelitian dilakukan dengan metode observasi dan pemetaan terjadinya pemanfaatan kemudian mengkaji faktor yang mempengaruhi melalui studi referensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku pemanfaatan teritori publk dipengaruhi oleh faktor internal dari individu dan faktor eksternal dari seting atau lingkungan

    KONSEP KOTA KOMPAK DALAM KAMPUNG TRADISIONAL KAUMAN SEMARANG

    Get PDF
    Abstract: If the compact city concept is a modernization of the city concept, therefore in the context of a traditional city that has been developed for centuries could be claimed to have the opposite concept. This study is going to explain that the compact city concept can be found in the traditional city. The purpose of this study is to identify the traditional Kauman village which is a heritage village, according to the compact city aspects, using descriptive qualitative method within the Kauman heritage area of Semarang. The results of this study show that Kauman, when measured using a compact city assessment according to Lim's Theory, has met several criteria even though it is still in the form of a traditional village. However, in terms of mobility and accessibility, Kauman has not met the qualifications. It turns out that cities that have been built traditionally, in their development have adopted several sustainable compact city concepts in their own way in terms of sustainability and maintenance of the village as a heritage area.Abstrak: Jika konsep kota kompak adalah gagasan modernisasi pada konsep kota, maka dalam konteks kota tradisional yang sudah berkembang dalam hitungan abad, konsep ini dapat dikatakan berlawanan. Penelitian ini akan mengkaji tentang bagaimana konsep kota kompak ditemukan dalam kota tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kampung tradisional Kauman yang merupakan kampung heritage, terhadap aspek-aspek yang ada dalam kota kompak, menggunakan metode kualitatif deskriptif di lingkup wilayah heritage Kauman Semarang. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Kauman, jika diukur menggunakan penilaian kota kompak menurut Teori Lim, sudah memenuhi beberapa kriteria walaupun masih dalam bentuk kampung tradisional. Namun dalam aspek mobilitas dan aksesibilitas, Kauman belum memenuhi kualifikasi. Ternyata kota yang dibangun secara tradisional, dalam pembangunannya sudah mengadopsi beberapa konsep kota kompak yang berkelanjutan dengan cara mereka sendiri dalam keberlangsungan dan pemeliharaan kampung sebagai kawasan heritage

    RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA KELURAHAN PELINDUNG HEWAN (RUSUNAWA PELWAN)

    Get PDF
    Abstract: The rate of population growth in Indonesia is growing very rapidly, but this is not accompanied by the availability of adequate decent housing. Limited land in urban areas in Indonesia is one of the important issues behind the unavailability of decent housing for all groups. The decent housing that has been built offers prices that are not affordable for most people. This certainly needs to find a solution so that all people can still get decent housing by utilizing limited urban land, especially for people with middle to lower economic levels or Low Income Communities (MBR). Land efficiency by making residential terraces up or vertical can be a low-cost housing solution for MBR. Through the role of architecture in creating vertical settlements in the form of flats that meet standards, the concept of Pragmatic Architecture which prioritizes aspects of function over aesthetics is considered capable of answering the findings of certain problems that are real and measurable such as population density, limited land, allocation of funds, supporting facilities for the needs of daily residents. day, structure & construction and various other aspects. It is hoped that this functional design will be effective in improving the quality of life for the occupants of the flats in order to provide decent housing in limited urban land.Abstrak: Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia berkembang sangat pesat namun hal ini tidak diiringi dengan ketersediaan hunian layak yang memadai. Keterbatasan lahan di perkotaan di Indonesia menjadi salah satu isu penting dibalik tidak tersedianya hunian layak bagi semua kalangan. Adapun hunian layak yang terbangun menawarkan harga yang tidak terjangkau bagi sebagian besar masyarakat. Hal ini tentu perlu dicari solusi agar seluruh kalangan masyarakat tetap mendapatkan hunian layak dengan memanfaatkan lahan perkotaan yang terbatas terkhusus bagi masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah kebawah atau Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Efisiensi lahan dengan membuat hunian bersusun keatas atau vertikal dapat menjadi solusi hunian murah bagi MBR. Melalui peran arsitektur guna menciptakan pemukiman vertikal berupa rumah susun yang memenuhi standar, konsep Arsitektur Pragmatik yang memprioritaskan aspek fungsi diatas estetika dinilai mampu menjawab temuan permasalahan tertentu yang nyata adanya serta dapat diukur seperti kepadatan penduduk, keterbatasan lahan, pengalokasian dana, fasilitas penunjang kebutuhan penghuni sehari hari, struktur & konstuksi dan berbagai aspek lainnya. Harapan dari desain yang fungsional ini dapat efektif dalam meningkatkan kualitas hidup penghuni rumah susun dalam rangka memberikan hunian layak di keterbatasan lahan perkotaan

    VERNACULAR GOVERNANCE DAN PENGARUHNYA TERHADAP POLA SPASIAL KAKI LIMA DI KEMAYORAN

    Get PDF
    Abstract: Street vendors as a representation of private informal economy businesses, seem to be a perennial urban problem in big cities in Indonesia, as well as other cities in Southeast Asia. This is due to the presence of those who intervene in the city's public spaces, namely sidewalks and roads-which are stipulated in the prohibition on private businesses. However, there are times when the existence of street vendors is treated permissively, seen as a form that is allowed to exist. In several studies, this situation is supported because of the involvement of public-private actors in the meta-space network or the spatial topology. This research is structured as a form of development of previous research studies. While previous researchers have introduced several terms, in this study the problem of street vendors is in another term, namely vernacular governance. Through a case study approach of street vendors in Kemayoran Quadrant A, this research is expected to increase understanding and introduce the term vernacular governance in urban studies. At the same time, to provide an understanding of how vernacular governance in practice affects the practice and negotiation process, as well as the spatial pattern of street vendors in urban areas, so that street vendors can survive or are 'allowed' to exist in the midst of urban communities with diverse interests and socioeconomic status.Abstrak: Pedagang kaki lima (PKL) sebagai representasi dari usaha privat ekonomi informal, sepertinya menjadi permalasahan abadi perkotaan di kota-kota besar di Indonesia, maupun kota-kota lain di Asia Tenggara. Hal ini dikarenakan keberadaannya yang mengintervensi ruang publik kota, yakni trotoar dan jalan yang dalam pemanfaatannya melarang usaha-usaha yang bersifat privat. Namun, ada kalanya keberadaan dan eksitensi PKL disikapi secara permisif, terlihat sebagai bentuk pelanggaran yang dibiarkan ada. Dalam beberapa penelitian, situasi tersebut didukung karena adanya keterlibatan para aktor publik-privat dalam jaringan meta space atau pun topologi/jaringan ruang. Penelitian ini disusun sebagai bentuk pengembangan atas kajian-kajian peneliti terdahulu. Sementara peneliti terdahulu telah perkenalkan beberapa istilah, dalam penelitian ini persoalan PKL dikaitkan dengan istilah lain, yakni vernacular governance. Melalui pendekatan kualitatif studi kasus pedagang kaki lima di Kemayoran Kuadran A, penelitian ini diharapkan dapat menambah pemahaman dan memperkenalkan istilah vernacular governance dalam kajian perkotaan. Sekaligus, untuk memberi pemahaman terkait bagaimana vernacular governance dalam praktiknya memengaruhi praktik dan proses negosiasi, serta pola spasial PKL di suatu wilayah perkotaan, sehingga PKL dapat bertahan atau ‘diperbolehkan’ ada di tengah masyarakat perkotaan yang beragam kepentingan dan status ekonomi sosialnya

    HIERARKI DAN INFORMALITAS SOSIAL PADA PRODUKSI RUANG DI NAGARI PARIANGAN, SUMATERA BARAT

    Get PDF
    Abstract: Nagari Pariangan is an old village in Minangkabau, West Sumatra. Nagari is a customary law community unit consisting of a collection of several tribes and has its own territorial boundaries. The phenomenon of the nagari shows the production of social space based on Minangkabau villages culture. The purpose of this paper is to determine the relationship between the architectural elements of Nagari Pariangan and their relationship with their environment associated with the spatial production, uses Spatializing Culture approach (Low, 2017). Research is conducted by ethnographic approach data is collected by observation and in-depth interview. It is resulted, that the spaces of Nagari are formed mostly based on the social hierarchy of community, but also provided spaces for informal relationship.  Political culture of the Nagari is important factor in governing spatial production by the traditonal community, but the other side, the community also produces their own communal spaces.Abstrak: Nagari Pariangan adalah nagari tuo yang ada di Minangkabau, Sumatra Barat. Nagari merupakan satu kesatuan masyarakat hukum adat yang terdiri dari kumpulan beberapa suku dan mempunyai batas wilayahnya sendiri.  Fenomena Nagari menunjukkan adanya produksi ruang sosial berdasarkan budaya pada Nagari di Minangkabau. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui hubungan antara elemen arsitektur pembentuk Nagari Pariangan dan relasi sosial yang memproduksi ruang yang ditelaah melalui pendekatan Spatializing Culture (Low, 2017). Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan etnografi, data dikumpulkan lewat observasi dan wawancara mendalam. Ditemukan, ruang-ruang Nagari terbentuk berdasarkan hierarki sosial, namun tetap tersedia ruang-ruang informal. Budaya politik dari Nagari menjadi faktor terpenting dalam tata kelola produksi ruang oleh komunitas adat, namun di sisi lain, komunitas Adat juga memproduksi ruang-ruang komunalnya sendiri

    PERBANDINGAN DAMPAK INTENSITAS PARIWISATA TERHADAP LINGKUNGAN FISIK (Studi Komparasi: Pantai Kukup Dengan Pantai Sanglen Di Kabupaten Gunung Kidul)

    Get PDF
    Abstract : Tourism activities are closely related to the environment, especially for impact on the physical environment, both positive and negative. The physical environment of tourism is in the form of a built area as an infrastructure that supports tourism activities which are prone to negative impacts due to the intensity of existing tourism activities. At high tourism intensity, it often has a negative impact due to the lack of good management and supervision in the tourist area. Kukup Beach in Gunung Kidul is one of the beaches that has a high intensity of tourism activity. There is also a beach next to it with low tourism intensity at Sanglen Beach. The research method is a comparative method, qualitatively by interview and observation which aims to find the relationship between tourism and the physical environmental impacts caused on Kukup Beach and Sanglen Beach, find out the physical causal factors and find a comparison of the physical environmental impacts that occur on Kukup Beach and Sanglen Beach. Sanglen. This comparison is carried out to serve as material for exploring ideas for planning tourist areas in areas that have relatively the same designation and characteristics because they are close together but have different intensities.Abstrak: Aktivitas kepariwisataan erat kaitannya dengan lingkungan, terlebih pada dampak yang ditimbulkan pada lingkungan fisik baik positif maupun negatif. Lingkungan fisik pariwisata berupa area terbangun sebagai sarana prasarana yang mendukung kegiatan wisata yang rawan pula terkena dampak negatif karena intensitas kegiatan wisata yang ada. Pada intensitas pariwisata yang tinggi sering memberi dampak negatif karena kurangnya pengelolaan dan pengawasan yang baik di area kawasan wisata tersebut. Pantai Kukup di Gunung Kidul merupakan salah satu pantai yang memiliki intensitas aktivitas kepariwisataan yang tinggi. Adapula pantai disebelahnya dengan intensitas kepariwisataan rendah berada di Pantai Sanglen. Metode penelitian adalah metode perbandingan, kualitatif dengan wawancara dan observasi yang bertujuan untuk menemukan hubungan pariwisata dengan dampak lingkungan fisik yang ditimbulkan di Pantai Kukup dan Pantai Sanglen, mengetahui faktor-faktor penyebab fisik serta menemukan perbandingan dampak lingkungan fisik yang terjadi di Pantai Kukup dan Pantai Sanglen. Perbandingan ini dilakukan untuk menjadi bahan eksplorasi ide perencanaan kawasan wisata pada daerah yang memiliki peruntukan dan karakteristik yang relatif sepadan karena berdekatan tetapi memilki intensitas yang berbeda

    PENGARUH DIMENSI MOTIVASI, KARAKTERISTIK LINGKUNGAN, DAN AKTIVITAS PADA SENSE OF PLACE SHOPPING MALL

    Get PDF
    Abstract: The rapid growth of shopping malls in Indonesia creates differences in people's spending motivation. The main purpose of visiting shopping malls is not only for utilitarian activities but for hedonic activities. The difference in shopping motivation is related to the behavior patterns of visitors in carrying out activities. The characteristics of the mall environment play a role in influencing the selection of malls that visitors find attractive. Seeing this phenomenon, this study aims to see the causal relationship between motivation, characteristics of the physical environment, activities, and sense of place experienced by visitors at shopping malls. The research was conducted in two phases, qualitative and quantitative. From the analysis results obtained 7 dimensions of internal motivation, for the category of hedonic motivation (relaxation shopping, role shopping, social shopping, value shopping, adventure shopping), categories of utilitarian motivation (anticipated utility and efficiency shopping), 2 dimensions of physical environment characteristics (green open space). , completeness of facilities), 3 dimensions of activity (group/social, functional and recreational, and entertainment), 3 measurable variables of sense of place (want to visit again, want to linger, feel comfortable). Based on multivariate regression, the results obtained that internal motivation (social shopping) has a strong influence on sense of place, and environmental characteristics do not have a direct influence on sense of place but environmental characteristics encourage a strong influence for someone to carry out certain activities at the shopping mall. and the activities carried out also affect the sense of place in the shopping mall.Abstrak: Pesatnya pertumbuhan shopping mall saat ini, menyebabkan perbedaan motivasi berbelanja dalam mengunjungi mall. Tujuan utama mengunjungi mall bukan hanya melakukan aktivitas utilitarian tetapi juga aktivitas hedonik. Perbedaan ini berkaitan dengan pola perilaku pengunjung dalam melakukan aktivitas. Karakteristik lingkungan mall berperan dalam mempengaruhi pemilihan mall yang menurut pengunjung menarik. Melihat fenomena tersebut, adapun penelitian ini berusaha untuk melihat hubungan sebab akibat antara motivasi, karakteristik lingkungan fisik, aktivitas, dan sense of place yang dialami pengunjung saat di shopping mall. Penelitian dilakukan dalam dua fase, kualitatif dan kuantitatif. Dari hasil analisis diperoleh 7 dimensi motivasi internal, untuk kategori motivasi hedonik (relaxation shopping, role shopping, social shopping, value shopping, adventure shopping), kategori motivasi utilitarian (anticipated utility dan efficency shopping ), 2 dimensi karakteristik lingkungan fisik ( ruang terbuka hijau, kelengkapan fasilitas), 3 dimensi aktivitas (berkelompok/sosial, fungsional dan rekreasional, dan hiburan), 3 variabel terukur sense of place (ingin berkunjung kembali, ingin berlama-lama, merasa nyaman). Berdasarkan regresi multivariat, diperoleh hasil motivasi internal (social shopping) memiliki pengaruh yang kuat terhadap sense of place, dan karakteristik lingkungan tidak memiliki pengaruh secara langsung terhadap sense of place namun karakteristik lingkungan mendorong pengaruh yang kuat bagi seseorang untuk melakukan kegiatan tertentu di shopping mall, dan kegiatan yang dilakukan tersebut juga mempengaruhi sense of place di shopping mal

    KAJIAN KENYAMANANAN VISUAL MELALUI PENCAHAYAAN PADA RUANG KERJA

    Get PDF
    Abstract: Basically, humans need light to visually see an object. It is the light that is reflected by these objects so that we can see it clearly and the eyes are comfortable to see. A good workspace is a comfortable workspace to do a job so that work results are optimal. Visual comfort can be achieved if the points of visual comfort are applied optimally, among others, by conformity of the design with the recommended light standards and the arrangement of room layouts in accordance with the distribution of lighting. This paper is a brief study of visual comfort through the lighting system in the room. This paper aims to analyze lighting and furniture layout arrangements in order to obtain design proposals in the process of redesigning the general and staffing subdivision space at the Tegal City DPUPR office.Abstrak: Pada dasarnya manusia memerlukan cahaya untuk melihat secara visual suatu obyek/benda. Cahaya yang dipantulkan oleh objek-objek tersebutlah maka kita dapat melihatnya secara jelas dan mata nyaman untuk melihat. Ruang kerja yang baik adalah ruang kerja yang nyaman untuk melakukan suatu pekerjaan agar hasil kerja optimal. Kenyamanan visual dapat tercapai jika poin-poin kenyamanan visual teraplikasikan secara optimal antara lain dengan kesesuaian rancangan dengan standar terang yang direkomendasikan dan penataan layout ruangan yang sesuai dengan distribusi pencahayaan. Tulisan ini merupakan kajian singkat mengenai kenyamanan visual melalui sistem pencahayaan pada ruang. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisa pencahayaan dan penataan layout perabot guna mendapatkan usulan desain pada proses re-desain ruang subbag umum dan kepegawaian pada kantor DPUPR Kota Tegal

    RUANG KOMUNAL UNTUK KEBERLANJUTAN INTERAKSI SOSIAL MASYARAKAT MINANGKABAU

    Get PDF
    Abstract: Communal activity done by Minangkabau society until now. The need of communication and social activity with internal community and the change of places are meaningful to nation sustainability. Human needs to interior activities can be analyzed through cultural and interior design approach, to know the communal room’s role in Rumah Gadang and Minangkabau people’s house in urban area. This research aims to understand the concept of communal room in Rumah Gadang at West Sumatera including its meaning and philosophy, and to know the implementation of communal room in Minangkabau people’s house in urban area as social interaction sustainability of Minangkabau peoples nowadays. This research used qualitative method to describe the meaning, function, and philosophy of Rumah Gadang in Minangkabau and its sustainability in Minangkabau people’s houses in urban area. The data collecting method is documentation and interview with resources to know how they used the communal rooms in the Rumah Gadang Istana Basa Pagaruyung and two houses as study cases of this research. The result is description of Minangkabau people’s communal room in traditional Rumah Gadang to urban houses that carries Minangkabau philosophy in their implementation activities.Abstrak: Aktivitas komunal dilakukan oleh masyarakat Minangkabau sejak dulu hingga saat ini. Adanya kebutuhan masyarakat Minangkabau untuk tetap melakukan aktivitas komunikasi dan sosial bersama saudara sekaum, dan adanya perubahan tempat di mana kegiatan tersebut dilakukan merupakan kondisi sosial masyarakat Indonesia yang bermakna penting untuk keberlanjutan bangsa. Kebutuhan manusia dalam melakukan aktivitas di dalam ruang dapat dikaji melalui pendekatan budaya dan desain interior, sehingga dapat diketahui peran ruang komunal pada Rumah Gadang dan rumah tinggal masyarakat Minangkabau di perantauan. Penelitian ini dilakukan untuk memahami konsep ruang komunal pada Rumah Gadang di Sumatera Barat meliputi makna dan filosofinya, serta mengetahui bagaimana implementasi ruang komunal pada rumah tinggal orang Minangkabau perantauan sebagai bentuk keberlanjutan interaksi sosial masyarakat Minangkabau saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk mendeskripsikan makna, fungsi dan falsafah ruang komunal Rumah Gadang di Minangkabau dan keberlangsungannya di rumah tinggal masyarakat Minangkabau di perkotaan. Data dikumpulkan dengan metode dokumentasi dan wawancara dengan narasumber untuk mengetahui pemanfaatan ruang komunal Rumah Gadang Istana Basa Pagaruyung dan dua buah rumah tinggal yang menjadi studi kasus penelitian ini. Hasil penelitian ini adalah deskripsi ruang komunal masyarakat Minangkabau dari Rumah Gadang tradisional ke rumah tinggal di perantauan yang masih membawa falsafah adat Minangkabau dalam implementasi penggunaannya

    759

    full texts

    861

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Jurnal Universitas Kebangsaan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇