E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
861 research outputs found
Sort by
IDENTIFIKASI TRANSFORMASI KORIDOR JALAN Ir. H. DJUANDA (DAGO) BANDUNG SEBAGAI PEMBENTUK PERSEPSI PENGGUNA
Abstract: Urban dynamics often provide changes to the urban order, which is also seen in Dago road corridor of Bandung. Dago road corridor is a primary artery that is part of downtown Bandung where along the road there are educational buildings, commerce, services, worship, and occupancy. This research will be discussed about the corridor elements as a result of the transformation of the city, by identifying road corridor elements, followed by evaluating the arrangement of good urban design elements in a road corridor. The evaluation was conducted based on the results of the perception of Dago road corridor users related to the comfort and safety of the road corridor elements. This research uses a qualitative approach to case studies. The data collection method is done by observation method, as well as questionnaires. The determination of respondents using non-random sampling where respondents are selected only practitioners in the field of architecture and design, as well as students in the same field. The results of the study showed that overall the Dago street corridor has met the requirements of a good street based on the Great Street theory, which can be seen from the perception of respondents who showed a positive response to almost all criteria. This research can be used to be a consideration in the planning and development of the Dago road corridor.Abstrak: Dinamika perkotaan acap kali memberikan perubahan pada tatanan perkotaan, yang juga tampak di koridor jalan Ir.H. Djuanda (Dago) kota Bandung. Koridor jalan Dago merupakan arteri primer yang menjadi bagian dari pusat kota Bandung dimana sepanjang jalan tersebut terdapat bangunan pendidikan, niaga, jasa, peribadatan serta hunian. Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai elemen koridor sebagai akibat dari transformasi kota, dengan melakukan identifikasi elemen koridor jalan, dilanjutkan dengan melakukan evaluasi mengenai penataan elemen rancang kota yang baik pada sebuah koridor jalan. Evaluasi tersetut dilakukan berdasarkan hasil persepsi pengguna koridor jalan Dago terkait kenyamanan serta keamanan terhadap elemen koridor jalan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi serta kuesioner. Penentuan responden menggunakan nonrandom sampling dimana responden yang dipilih hanya praktisi dalam bidang arsitektur dan desain, serta mahasiswa dalam bidang yang sama. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan koridor jalan Dago telah memenuhi persyaratan jalan yang baik berdasarkan teori Great Street, dimana dapat dilihat dari persepsi responden yang menunjukkan respon positif pada hampir semua kriteria. Penelitian ini dapat digunakan untuk menjadi pertimbangan dalam perencanaan dan pengembangan koridor jalan Dago
PENINGKATAN KUALITAS WALKBILITY DI RUAS JALAN H.Z. MUSTOFA KOTA TASIKMALAYA
Abstract: Walkability is an innovation concept in creating pedestrian path facilities that prioritize pedestrian comfort and minimize air pollution levels. The purpose of this study is to identify the application of the walkability concept in Tasikmalaya City, especially the H.Z. Musthofa to support the City of Tasikmalaya as a productive and sustainable city. The research uses a literature study methodology or literature review by reviewing books and journals related to walkability and other literature such as news and regulations. The results show that the application of the concept of walkability in Tasikmalaya City in realizing Tasikmalaya City as a productive and sustainable city is still very low when viewed from several global walkability index indicators. In realizing the City of Tasikmalaya as a pedestrian-friendly city, there are still some obstacles, such as the misuse of pedestrian paths as parking lots or as places or stalls for Street Vendors (PKL).Abstrak: Walkability merupakan sebuah konsep inovasi dalam menciptakan fasilitas jalur pedestrian yang mengutamakan kenyamanan pejalan kaki dan meminimalisir tingkat polusi udara.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi penerapan konsep walkablility di Kota Tasikmalaya khususnya Ruas Jalan H.Z. Musthofa untuk mendukung Kota Tasikmalaya sebagai kota yang produktif dan berkelanjutan. Penelitian menggunakan metodologi studi kepustakaan atau literature review dengan menelaah buku dan jurnal terkait walkability serta litelature lainnya seperti berita dan regulasi. Hasil penelitian menunjukkan penerapan konsep walkability di Kota Tasikmalaya dalam mewujudkan Kota Tasikmalaya sebagai kota yg produktif dan berkelanjutan masih sangat rendah apabila dilihat dari beberapa indikator global walkability index. Dalam mewujudkan Kota Tasikmalaya sebagai Kota yang ramah bagi pejalan kaki masih ditemui beberapa hambatan seperti halnya penyalahgunaan jalur pedestrian sebagai lahan parkir maupun dijadikan tempat atau lapak Pedagang Kaki Lima (PKL)
LANSKAP SEBAGAI PROSES DAN PRODUK (LANSKAP BUDAYA, LANSKAP PERKOTAAN, DAN LANSKAP PERKOTAAN BERSEJARAH)
Abstract: The etymological meaning of the word landscape needs to be studied as a basis for conducting further research. In the extension of this meaning, the semantics of landscape need to be studying as a strategy to choose the right term. The purpose of this study is to collect and analyse the suitable theories in discussing landscape as the processes and landscape as the products. This study focuses on the context of the landscape and the development of the meaning of landscape, in terms of its relationship to nature and culture, which proceeds through the urban landscape. One of the components that make up the urban landscape is the history of the city. The methode of the study are using the literature review by collecting various theories related to the context of the discussion, to be further analyzed and described as a well-structured discussion. This study approach also use a case study method by focusing on Braga Area, to find out how and why a historic urban landscape can become an influential concept in shaping the urban landscape. Historic urban landscape can be seen as a process by studying how interactions are formed with the surrounding area, while as a product, historic urban landscape can be seen in the image of the city that is formed.Abstrak: Makna dari kata lanskap secara etimologi perlu dipelajari sebagai dasar dalam melakukan sebuah penelitian lanjutan. Dalam perkembangan makna tersebut, semantik dari lanskap juga menjadi pertimbangan dalam memilih penggunaan istilah yang tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan teori yang tepat dalam membahas lanskap sebagai proses dan lanskap sebagai produk. Kajian ini fokus kepada konteks lanskap dan rekayasa pengembangan dari makna lanskap, ditinjau dari hubungannya dengan alam dan budaya, yang berproses melalui lanskap perkotaan. Salah satu komponen pembentuk lanskap perkotaan adalah sejarah kota tersebut. Kajian ini menggunakan metode literatur review dengan mengumpulkan berbagai teori yang berhubungan dengan konteks pembahasan, untuk selanjutnya dianalisis dan di deskripsikan sebagai satu kesatuan pembahasan yang tersusun dengan baik. Pendekatan kajian ini juga menggunakan metode studi kasus dengan mempelajari lokus Kawasan Braga Kota Bandung untuk mengetahui faktor bagaimana dan mengapa sebuah lanskap perkotaan bersejarah dapat menjadi sebuah konsep yang berpengaruh dalam membentuk lanskap perkotaan. Lanskap perkotaan bersejarah dapat dilihat sebagai proses dengan mempelajari bagaimana interaksi yang dibentuk dengan kawasan sekitarnya, sedangkan sebagai produk, lanskap perkotaan bersejarah dapat dilihat pada citra kota yang dibentuknya
MODIFIKASI DESAIN BANGUNAN UNTUK PENANGGULANGAN SAMPAH DI PERMUKIMAN LAHAN BASAH TEPIAN SUNGAI
Abstract: Residential activities on the banks of the river produce a lot of garbage that floats in the river overflow. These settlements lack waste management systems and infrastructure and littering behavior. The results of this study recommend building and environmental modifications related to these problems. The modification takes into account the geographical conditions and the resident behavior. The research location is in a densely populated residential area on the banks of the Musi River, Palembang. Data was collected through a survey by observing the function and physical structure of the building as well as interviews that recorded the behavior and perceptions of the local community. Observations show that the most waste accumulates under stilt houses and yards on land that is flooded by a river overflow. Piles of garbage were also found at small rivers stream. Garbage drifts between houses on stilts without fences carried by the water flow. Most residents always litter on land without owners or in the streams. Making a net fence as a barrier between the yard and the under a building, as well as structuring the landscape with wetland vegetation, can prevent the drifting away garbage for facilitating disposal. can also be modified with wire netting as a barrier for littering.Abstrak: Aktivitas pemukiman di bantaran sungai banyak menghasilkan sampah yang mengapung di luapan sungai. Permukiman ini tidak memiliki sistem dan infrastruktur pengelolaan sampah dan perilaku membuang sampah sembarangan. Hasil penelitian ini merekomendasikan modifikasi bangunan dan lingkungan terkait dengan permasalahan tersebut. Modifikasi memperhitungkan kondisi geografis dan perilaku penduduk. Lokasi penelitian berada di kawasan pemukiman padat penduduk di bantaran Sungai Musi, Palembang. Pengumpulan data dilakukan melalui survei dengan mengamati fungsi dan struktur fisik bangunan serta wawancara yang merekam perilaku dan persepsi masyarakat setempat. Pengamatan menunjukkan bahwa sampah paling banyak menumpuk di bawah rumah panggung dan pekarangan di lahan yang tergenang luapan sungai. Tumpukan sampah juga ditemukan di aliran sungai-sungai kecil. Sampah hanyut antar rumah panggung tanpa pagar terbawa aliran air. Sebagian besar penduduk selalu membuang sampah sembarangan di tanah tanpa pemilik atau di sungai. Pembuatan pagar jaring sebagai pembatas antara halaman dan kolong bangunan, serta penataan lanskap dengan vegetasi lahan basah, dapat mencegah hanyutnya sampah untuk memudahkan pembuangan. Aliran juga dapat dimodifikasi dengan jaring kawat sebagai penghalang untuk membuang sampah sembarangan
SISTEM PENGHAWAAN PADA KAMAR HOTEL
Abstract: Nowadays, development in urban areas is progressing very rapidly, accompanied by an increase in the number of residents and various kinds of activities carried out. Seeing this phenomenon, many developers are competing to build multi-layered high buildings. Air conditioning systems in high-rise buildings are generally carried out with artificial air arrangements. The Grand Edge Hotel Semarang building is one of the multi-layered high-rise buildings that will be the case study. This hotel building is located in Semarang on an area of 2860 m2, 7 floors above ground and 3 basement floors as deep as 9 meters from ground level, total floor area is 15,958 m2. The electricity used from PLN is 700 KVA, equipped with 1 generator unit with a capacity of 650 KVA. The ventilation system used in this building is in the form of an artificial air system, including: Direct Air Conditioning (AC) Fan Coil Unit with Split Ducting system, as many as 117 units, with capacities of 1.5 PK, 2 PK, 3.5 PK and 10 PK. The ventilation system used in terms of the specifications of the AC unit used is able to produce conditions according to the PERMENKES No. 1077/MENKES/PER/V/2011, especially in hotel rooms. The information obtained at this time is a prelude to obtaining quantitative-qualitative data about the existing problems, as well as the form of the solution, it is necessary to deepen and add cases in the project.Abstrak: Dewasa ini pembangunan di perkotaan melaju sangat pesat yang disertai dengan jumlah peningkatan penduduk dan berbagai macam aktivitas yang dilakukan nya. Melihat fenomena tersebut maka banyak dari para developer berlomba-lomba untuk membangun bangunan tinggi berlapis. Sistem penghawaan pada bangunan tinggi umum nya dilakukan dengan tatanan udara buatan. Bangunan Hotel Grand Edge Semarang adalah salah satu bangunan tinggi berlapis yang akan menjadi studi kasus ini. Bangunan hotel ini terletak di Semarang diatas lahan 2860 m2, berlantai 7 lapis diatas tanah dan 3 lantai basement sedalam 9 meter dari permukaan tanah, luas lantai total 15.958 m2. Tenaga listrik yang digunakan dari PLN sebesar 700 KVA, dilengkapi 1 unit genset dengan kapasitas 650 KVA. Sistem penghawaan yang digunakan bangunan ini berupa tatanan udara buatan, meliputi : Air Conditioning (AC) langsung Fan Coil Unit dengan sistem Split Ducting, sebanyak 119 buah, dengan kapasitas 1,5 PK, 2 PK, 3,5 PK dan 10 PK. Sistem penghawaan yang digunakan dari sisi spesifikasi unit AC yang dipakai mampu menghasilkan kondisi yang sesuai standar PERMENKES No. 1077/MENKES/PER/V/2011, khususnya pada kamar hotel. Â Info yang didapatkan saat ini adalah sebuah awalan untuk mendapatkan data kuantitatif-kualitatif tentang permasalahan yang ada, serta bentuk solusinya perlu diadakan pendalaman dan penambahan kasus di proyek
KAJIAN KELAYAKAN FASILITAS PEJALAN KAKI PADA KAWASAN STASIUN PONDOK CINA
Abstract: As a public facility, stations must meet the needs of their users including pedestrian paths. The feasibility of the pedestrian paths can be seen from various aspects such as the width of the street and the comfort of the user. In Indonesia most of the pedestrian paths do not meet the specified criteria or even do not have the pedestrian paths. To verify, a survey was conducted in the area of Pondok Cina Station. The research method used is qualitative with a case study approach to analyse and explain existing problems and compare them with related literature. The results of the study show the feasibility of a pedestrian facility that can be used as a design recommendation.Abstrak: Sebagai fasilitas publik, stasiun harus memenuhi kebutuhan pengguna. Salah satunya jalur pejalan kaki dimana kelayakan dari jalur pejalan kaki ditinjau dari beberapa aspek, salah satunya adalah lebar ruang jalan dan kenyamanan pejalan kaki sebagai pengguna. Tidak jarang fasilitas pejalan kaki tidak sesuai dengan standar yang sudah ditentukan. Untuk meninjau kelayakan tersebut dilakukan studi pada kawasan Stasiun Pondok Cina, Kota Depok. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk menganalisis dan menggambarkan permasalahan yang ada lalu dibandingkan dengan studi literatur terkait. Hasil dari penelitian dapat diketahui kelayakan fasilitas pejalan kaki yang dapat digunakan sebagai rekomendasi dalam perancangan
IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK BIOFISIK DAS CILIWUNG TENGAH
Abstract: Watersheds (DAS) in Indonesia are experiencing degradation due to population growth that changes land functions for economic. The purpose of this research is to identify the biophysical characteristics of the watershed as the basis for planning the management of the Central Ciliwung watershed. The method used is a field survey; this research was carried out in three stages, namely (a) primary and secondary data collection, (b) identification and analysis of biophysical characteristics in the Central Ciliwung watershed including soil physical conditions, slope and land use, (c) results of analysis of biophysical characteristics of the Central Ciliwung watershed. It is displayed spatially. The results show that the area of the Central Ciliwung watershed is 15,706.73 Ha, dominated by flat topography of 9576.86 Ha or 60.97% of the total watershed area. Land use for settlements is the most extensive, namely 12891.53 ha with a percentage of 82.06% of the total area of the watershed. Soil type in general is latosol association covering an area of 13151.36 Ha with a percentage of 83.74% of the total watershed area.Abstrak: Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia mengalami degradasi akibat dari pertambahan penduduk yang merubah fungsi lahan untuk kepentingan ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik biofisik DAS sebagai dasar perencanaan pengelolaan DAS Ciliwung Tengah. Metode yang digunakan adalah survei lapang; penelitian ini dilaksanakan melalui tiga tahap yaitu (a) pengumpulan data primer dan data sekunder, (b) identifikasi dan analisis karakteristik biofisik di DAS Ciliwung Tengah meliputi keadaan fisik tanah, kemiringan lereng dan penggunaan lahan, (c) hasil analisis karakteristik biofisik DAS Ciliwung Tengah ini ditampilkan secara spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas DAS Ciliwung Tengah sebesar 15,706,73 Ha, didominasi oleh jenis topografi datar seluas 9576,86 Ha atau 60,97 % dari total luas DAS. Penggunaan lahan untuk Pemukiman merupakan paling luas yaitu 12891.53 Ha dengan persentase 82,06 % dari total luas keseluruhan DAS. Jenis tanah pada umumnya adalah asosiasi latosol seluas 13151.36 Ha dengan persentase 83.74 % dari total luas DAS
KONDISI DAN RESPON MASYARAKAT PADA RUANG TERBUKA PUBLIK DI SURABAYA SAAT PANDEMI COVID-19
Abstract: Public open spaces used for social interaction, recreation, and economics are now experiencing a crisis. The spread of the COVID-19 pandemic since the end of 2019 has caused various problems in public spaces. This study uses a qualitative descriptive method to determine how the community responds to public open spaces during a pandemic. A questionnaire survey by google form was conducted because of the social restrictions. And 84 respondents participated in this study. The data were analyzed descriptively, which consisted of analyzing, describing, and summarizing. And the results show that the park condition in Surabaya during the pandemic objectively and subjectively changed related to the arrangement of parks in Surabaya, which became cleaner and neater. The community also responded that the park's current condition was quite good, but the park closure made people feel bored and start visiting the park. So activities in the park that were initially spread throughout the park area now became centered on the park's edge. It emphasizes that parks are important to increase the quality of community, and improving public open space services that refer to the public needs during the COVID-19 pandemic is also needed.Abstrak: Ruang terbuka publik yang digunakan masyarakat untuk berinteraksi sosial, rekreasi dan nilai ekonomi kini mengalami krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Penyebaran pandemi COVID-19 yang telah terjadi sejak akhir 2019 menyebabkan berbagai permasalahan pada ruang publik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mengetahui bagaimana respon masyarakat terkait ruang terbuka publik saat pandemi. Pengambilan data dengan kuesioner dengan google form dilakukan akibat pembatasan sosial yang berlaku. Dan sebanyak 84 responden berpartisipasi dalam penelitian ini. Data kemudian dianalisis secara deskriptif yang terdiri dari menganalisis, menggambarkan dan meringkas kondisi situasi. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa kondisi Taman di Surabaya saat pandemi secara objektif dan subjektif menunjukkan perubahan terkait penataan Taman di Surabaya yang pada saat pandemi menjadi semakin bersih dan rapi. Masyarakat juga merespon bahwa kondisi Taman saat ini sudah cukup baik, namun tutupnya Taman membuat orang menjadi jenuh dan mulai berkunjung ke Taman. Sehingga aktivitas di Taman yang awalnya tersebar di seluruh area Taman kini menjadi berpusat di pinggir Taman. Hal tersebut menekankan bahwa pentingnya Taman dalam meningkatkan kualitas masyarakat, dan peningkatan pelayanan ruang terbuka publik yang mengacu pada kebutuhan masyarakat saat pandemi COVID-19 juga dibutuhkan
ANALISIS TRANSFER PANAS MENYELURUH PADA SELUBUNG BANGUNAN DI DAERAH TROPIS
Abstract: The creation of architectural works in tropical climates must be appropriate and responsive to the climate. In its application, it is expected to comply with the criteria for green building design requirements in SNI 03-6389-2011 and Regulation of the Minister of Public Works and Public Housing Number: 21 of 2021 concerning Green Building Performance Assessment, namely that the overall heat transfer value of the building envelope does not exceed 35 W/m2. The choice of material used in the building envelope affects the amount of heat transfer value in a building. The building envelope of the Polytechnic of Furniture Industry and Wood Processing Campus Education Building on all four sides are dominated by Asahimas green stopsol reflective glass material with a glass thickness of 8 mm and conwood material in several parts. The amount of heat transfer value is analyzed using quantitative research methods with the calculation of OTTV (Overall Thermall Transfer Value). From the analysis, it is known that the overall OTTV value of the building is 54,94 W/m2, so it does not meet the criteria for green building design requirements. It is necessary to make retrofit design efforts to reduce the OTTV value in order to achieve OTTV value as mentioned in the SNI 03-6389-2011 and Regulation of the Minister of Public Works and Public Housing Number: 21 of 2021.Abstrak: Pembuatan karya arsitektur di iklim tropis harus tepat dan responsif terhadap iklim. Dalam penerapannya diharapkan sesuai dengan kriteria persyaratan perancangan bangunan hijau pada SNI 03-6389-2011 dan Permen PUPR RI Nomor: 21 Tahun 2021 tentang Penilaian Kinerja Bangunan Gedung Hijau, yaitu bahwa nilai transfer panas menyeluruh pada selubung bangunan tidak melebihi 35 W/m2. Pemilihan jenis material yang digunakan pada selubung bangunan berpengaruh terhadap nilai transfer panas pada suatu bangunan. Selubung bangunan Gedung Pendidikan Kampus Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu pada keempat sisinya didominasi material kaca reflektif stopsol green Asahimas dengan ketebalan kaca 8 mm dan material conwood di beberapa bagian. Untuk mengetahui besarnya nilai transfer panas dilakukan analisa menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan perhitungan OTTV (Overall Thermall Transfer Value). Dari hasil analisa diketahui bahwa nilai OTTV keseluruhan bangunan sebesar 54,94 W/m2, sehingga tidak memenuhi kriteria persyaratan perancangan bangunan hijau. Perlu dilakukan upaya retrofit desain untuk menurunkan nilai OTTV tersebut agar mencapai nilai OTTV sesuai SNI 03-6389-2011 dan Permen PUPR RI Nomor: 21 Tahun 2021
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERDESAAN MELALUI WISATA PERDESAAN
Wisata perdesaan merupakan salah satu upaya mendukung kebijakan pemerintah Indonesia untuk menumbuhkan ekonomi non-pertanian dalam mengatasi lemahnya ekonomi di perdesaan. Di samping itu, hal ini dilakukan sebagai upaya pengelolaan lingkungan agar kawasan perdesaan bisa terjaga kelestariannya. Setiap daerah memiliki potensi yang berbeda- beda untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model pengelolaan lingkungan pedesaan yang sesuai dengan potensi Desa Cikole. Metode yang digunakan adalah metode gabungan kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan instrumen pedoman wawancara, kuesioner, observasi lapangan, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi lingkungan perdesaan yang dapat dikembangkan dari potensi eksisting yang ada di Desa Cikole adalah potensi wisata perdesaan agrowisata yang dikembangkan dari potensi agro-pertanian dan agro-peternakan, serta potensi wisata alam yang dikembangkan dari potensi wana-wisata (wisata berbasis hutan) dan geo-wisata. Adapun model pengelolaan lingkungan perdesaan berbasis wisata yang dapat dikembangkan di Desa Cikole adalah model wisata perdesaan yang menitikberatkan kepada model yang mengintegrasikan agro-wana-geo-wisata yang dapat mengangkat beberapa nilai, diantaranya sebagai pusat kegiatan ilmiah dan pengembangan ilmu pengetahuan, kontribusi terhadap lingkungan, kontribusi terhadap ekonomi, nilai rekreasi, dan nilai estetika