E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
861 research outputs found
Sort by
CODE SWITCHING USED BY NIKI ON THE VIDEO NGOBROL BARENG NIKI: YANG DIRINDUKAN DARI INDONESIA BY NAJWA SHIHAB: A SOCIOLINGUISTIC STUDY
Language is an important aspect for humans to communicate. The study that discusses the relationship between society and language is called sociolinguistics. In sociolinguistics, there is a phenomenon called bilingualism. Bilingualism is the ability of a speaker to use two languages and it is a common phenomenon in multilingual societies and this phenomenon is associated with code-switching. Code-switching refers to the practice of altering one’s language or language variety in different social or cultural contexts. This phenomenon happened in Najwa Shihab’s YouTube video entitled Ngobrol bareng NIKI: Yang dirindukan dari Indonesia. Therefore, this research aims to analyse the code switching used by Niki in her interview with Najwa Shihab. The purpose of this research is to describe the main types of code-switching used by Niki in her interview and to describe the reason why Niki switched one language to another in her interview. This research used a descriptive qualitative method. In collecting the data, the writer transcribed the utterance from the video to get the data. In analysing the data, Poplack’s theory was used to analyse the types of code-switching and Hoffmann’s theory were used to analyse the reasons for code-switching. After analysing the data, there was 53 data found for types of code-switching and 38 data found for code-switching reasons. For the types, tag-switching was found to be the main type that Niki used in her interview and for the reasons, talking about particular topics and intention of clarifying the speech content for the interlocutor was found to be the main reasons why Niki used code-switching
PHONOLOGICAL FEATURES IN HARLEM HOPSCOTCH POEM BY MAYA ANGELOU
ABSTRACT
Style is an essential component of every literary work. The poem is an example of a literary work. A poem's style can be researched in many ways, one of which is through its sound. As a result, the use of sound in a poem can be utilized to determine the author's style. In the case of sound, phonology provides an overview of the language's sound system. This thesis studied about analysis of pathological features in Maya Angelou's two selected poems. This research has two objectives to discuss. First, the researcher presents phonological features found in “Harlem Hopscotsh” poem by Maya Angelou. Second, the researcher finds Maya Angelou's style in making the poems through the phonological features which are found. This research applied a stylistic approach to assess the phonological features of the poems and find Angelou's style in her poem. The population study was applied to collect the data. The researcher concludes and presents the result of phonological features analysis which consists of rhyme, meter, assonance, consonance, alliteration, and style of two poems. The suggestion of this research is to provide a comprehension to the readers and the next researchers.
Keywords : Poem, Phonology, Phonological features, Stylistic
ANALISIS DIGITAL FORENSIK PADA DIGITAL FOOTPRINT UNTUK IDENTIFIKASI PELAKU CYBERCRIME DENGAN FRAMEWORK FDFI
Banyaknya pengguna media sosial pada saat sekarang ini, mengakibatkan banyaknya tindakan kejahatan (cybercrime), dan sulitnya mengidentifikasi pelaku cybercrime di media sosial karena kebanyakan dilakukan dengan cara anonym (menggunakan akun palsu). Namun dengan adanya digital footprint (jejak digital) yang ditinggalkan oleh pengguna dapat mempermudah proses identifikasi pelaku. Penelitian ini menggunakan Metode Social Network Analysis (SNA) untuk mengumpulkan data dan melakukan pendekatan terhadap media sosial kemudian menggunakan Framework Digital Forensik Investigation (FDFI) dalam melakukan analisis investigasi. Penelitian ini akan menganalisis pencarian bukti digital pada aplikasi Twitter. Temuan utama penelitian ini adalah bahwa pendekatan ini mampu mengidentifikasi jejak digital dengan akurasi tinggi dan mengaitkannya dengan identitas pelaku. Hasil penelitian ini memeiliki dampak penting dalam penegakan hukum dan pencegahan kejahatan dunia maya. Identifikasi pelaku yang efektif melalui analisis jejak digital dapat membantu lembaga penegak hukum dalam mengambil tindakan yang cepat dan akurat. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi dasar bagi perkembangan metode analisis digital forensik yang lebih canggih dan adaptif dalam menghadapi perkembangan teknologi dan metode kejahatan baru di dunia maya
Pengaruh Penggunaan Media Sosial Pada Akun Twitter @Narasinewsroom Terhadap Perkembangan Kasus Ferdy Sambo
Media sosial saat ini menjadi salah satu hiburan masyarakat yang senantiasa memberikan banyak dampak bagi penggunanya, salah satu media sosial yang cukup banyak digemari adalah Twitter. Melalui Twitter, masyarakat dapat dengan mudah mengakses berita/informasi terkait banyaknya kasus di Indonesia, salah satunya kasus Ferdy Sambo yang beberapa bulan ini begitu ramai diperbincangkan. Berdasarkan pada latar belakang tersebut, adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah pengaruh dari penggunaan media sosial Twitter di akun twitter @NarasiNewsRoom terhadap Kasus Ferdy Sambo. Penelitian ini menggunakan tiga teori, yaitu teori jarum hipodermik, teori media baru dan teori komunikasi massa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan purposive sampling dan terdapat 300 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dalam bentuk google form. Dalam pengolahan maupun teknik analisis datanya menggunakan software IBM SPSS statistic 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial Twitter berpengaruh terhadap perkembangan kasus Ferdy Sambo dengan tingkat regresi sebesar 0,973 dan nilai t sebesar 19,172 dengan taraf signifikansi sebesar 95%. Kata Kunci : Penggunaan Media Sosial, Twitter, Ferdy Samb
LANGGAM ARSITEKTUR GEREJA GEREFORMEERD SEMARANG SEBAGAI NILAI PENTING DALAM UPAYA KONSERVASI BANGUNAN CAGAR BUDAYA
Abstract: In the city of Semarang, many old buildings are still original and have many stories behind their architectural design styles, one of which is the Gereformeerd Church. Due to its age, Gereformeerd Church has been designated as a cultural heritage building by the Semarang city government, but the lack of data on the Gereformeerd Church building causes a lack of conservation measures that can be taken for this church. The purpose of this research is to support the data of the church's cultural heritage building on the important points of the Gereformeerd Church style using an architectural approach so that it can be used as a reference for further research on the conservation of the Gereformeerd Church building in Semarang. The Gereformeerd Church has an architectural style that is heavily influenced by gothic and romanesque architecture which is very closely related to European churches in the 16th-18th centuries. In addition, with Art Deco influence on the interior decoration of the church, it becomes more of an attraction if the analogies and meanings behind the interior design and architectural style are explored and to be used as the basis for the conservation of the cultural heritage of the Semarang Gereformeerd church.Abstrak: Di Kota Semarang, banyak sekali bangunan tua yang masih asli dan menyimpan banyak cerita di balik gaya desain arsitekturnya, salah satunya adalah Gereja Gereformeerd. Karena usianya, Gereja Gereformeerd ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah kota Semarang, namun minimnya data mengenai bangunan Gereja Gereformeerd menyebabkan kurangnya langkah-langkah konservasi yang dapat diambil untuk gereja ini. Mendata bangunan cagar budaya harus meliputi usia dan nilai penting bangunan. Nilai penting bangunan dibagi menjadi dua yaitu keaslian dan langgam bangunan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk men-support data bangunan cagar budaya Gereja pada nilai penting langgam Gereja Gereformeerd menggunakan pendekatan arsitektur, sehingga dapat dijadikan acuan bagi penelitian lanjutan mengenai konservasi bangunan Gereja Gereformeerd Semarang. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk mencapai tujuan atau objektif di dalam penelitian ini, dengan memfokuskan pada data-data yang dapat diolah secara visual dan pikiran. Gereja Gereformeerd memiliki langgam arsitektur yang terpengaruh berat oleh arsitektur gotik dan romantik yang sangat erat dengan gereja Eropa pada abad ke 16-18. Selain itu, dengan pengaruh Art Deco pada dekorasi interior gereja menjadi sebuah daya tarik lebih jika dieksplor mengenai analogi dan arti di balik desain interior dan langgam arsitektur untuk dijadikan sebagai dasar konservasi bangunan cagar budaya Gereja Gereformeerd Semarang
ANALISIS PEMANFAATAN FUNGSI EKONOMI DAN ADAPTASI PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DI TAMAN KOTA TARUNA KOTA GORONTALO DI ERA NEW NORMAL
Abstract: The city parks and street vendors (PKL) are an inseparable part of human life. The existence of street vendors in the city parks will assist the economic needs and an architecture behavioral study is needed to discusses the relationship between humans and humans to their environment. The object of this research is the adaptation of architecture behavioral in Taruna park. This research used a qualitative descriptive and it used the behavior mapping method. This research aims to analyze about mapping the behavior of activities and the adaptation of street vendors' interactions with visitors in the Taruna park which is expected to contribute the arrangement of the city parks in order to accommodate the existence of street vendors. The result of the research is that it is known as the economic turnover in Taruna Park is around Rp. 5.001.200.000/year. This is a very fantastic figure to increase the economic value of the Gorontalo people. Moreover, there are five categories of street vendors in Taruna park, namely; sedentary, semi-permanent, semi-permanent, semi-static and with agglomeration distribution patterns, accessibility, and kinship as well as interaction distance which is more influenced by cognitive factors and physical environmental situation.Keyword: Taruna Park; Street Vendors; Architecture Behavioral.Abstrak: Taman kota dan pedagang kaki lima (PKL) adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Keberadaan PKL di taman kota dapat memenuhi kebutuhan ekonomi sehingga dibutuhkan kajian arsitektur perilaku yang membahas tentang hubungan antara manusia dengan manusia dengan lingkungannya. Objek penelitian ini adalah adaptasi perilaku arsitektur di taman Taruna, Penelitian ini ialah penelitian deskriptif kualiatiatif menggunakan metode peta perilaku (behavior mapping). Penelitian ini bertujuan untuk mengananlisis, memetakan perilaku aktivitas dan adaptasi interaksi PKL dengan pengunjung taman Taruna yang diharapkan dapat memberi kontribusi terhadap penataan taman kota yang mampu mengakomodasi keberadaan PKL. Hasil Penelitian diketahui bahwa perputaran ekonomi di taman Taruna sekitar Rp.5.001.200.000/tahun. Angka yang sangat fantastis untuk menggerakkan ekonomi masyarakat Gorontalo. PKL di Taman Taruna terdapat lima ketegori yaitu; menetap, semi menetap, semi permanen, semi static serta dengan pola penyebaran aglomerasi, aksebilitas, dan kekeluargaan serta jarak interaksi yang lebih dipengaruhi oleh faktor kognitif dan situasi lingkungan fisik.Kata Kunci: Taman Taruna; Pedagang kaki lima; Perilaku arsitektur
STUDI PENCAHAYAAN ALAMI HUNIAN TIPIKAL BERDERET DI PERUMAHAN GRAHA PADMA TAMAN RAFFLESSIA
Abstract: A small house tends to have good quality natural lighting due to its small span between walls. Because of that, natural lighting will be available to spread evenly and illuminate every corner of the room. This article will discuss the quality of natural lighting inside the row houses that has small span. By conducting research, it will answer questions regarding how good the quality of natural lighting inside the row houses in comparison to well-lighted single small house with the same type and design is. The data was obtained through direct observation on the field, which was Graha Padma Taman Rafflessia. It was done by measuring the intensity of natural lighting inside the three houses at the same time using luxmeter. Data will be compared with the intensity of natural lighting inside the single house. The result of the analysis will explain the effects of natural lighting due to houses placement.Keyword: Design, Housing, Natural LightingAbstrak: Rumah berukuran kecil yang berdiri sendiri umumnya memiliki kualitas pencahayaan alami yang baik, bahkan condong berlebih. Hal tersebut diakibatkan oleh bentang kecil di tiap ruang yang memungkinkan persebaran cahaya matahari secara merata. Topik ini menjadi menarik apabila pengamatan dilakukan terhadap rumah tinggal yang berukuran kecil tadi disusun secara berderet. Penelitian akan menjawab pertanyaan bagaimana perbedaan kualitas pencahayaan alami di dalam rumah tinggal berderet terhadap rumah tinggal yang berdiri sendiri dengan tipe yang sama. Data diperoleh dari hasil pengamatan langsung di lapangan, yaitu kawasan Perumahan Graha Padma Taman Rafflessia. Pengukuran dilakukan dengan cara pengukuran tiga rumah sederet di waktu yang bersamaan. Kemudian, data yang telah diperoleh tersebut dikomparasi dengan intensitas cahaya matahari rumah kecil yang berdiri sendirian tanpa dikelilingi oleh tetangga. Hasil dari analisis dapat diketahui bagaimana pengaruh peletakan rumah yang berderet terhadap kualitas pencahayaan alami di dalam bangunan.Kata Kunci: Desain, Pencahayaan Alami, Perumaha
PENDEKATAN FENOMENOLOGI PADA PROSES PEMROGRAMAN ARSITEKTURAL
Abstract: Design activities in architecture are activities to composing elements of architectural design whose design stages consist of two stages, namely programming and designing. Programming activities are analytical, while design is synthesis. The two stages of design cannot be separated to achieve design results in accordance with the goals set. Programming activities (order of behavior) of a rational nature. Its rational nature means allowing the research approach to find guidelines at the stage of physical design (physical order). Various research methods can be implemented at the stage of architectural programming, both quantitative methods and qualitative methods. One of the qualitative research methods is the phenomenological method. The study in this paper is to find the role of phenomenological methods in the programming process. The phenomelogical method is generally used to reveal the meaning of an object of study. Treating architectural works in order to have soul, spirit, value or meaning for both the user and owner is important. How and where phenomenology as an approach to the process of architectural programming can play a role. To obtain answers to these problems, library research methods are used. The results of this study show that the research process carried out in the phenomenological qualitative research method can be used to reveal the demands of an essence of architectural design which is part of the design problem.Keyword: Process, Programming, Fenomenology.Abstrak: Kegiatan merancang di dalam arsitektur adalah kegiatan mengatur elemen perancangan arsitektur yang tahapan perancangannya terdiri pemrograman (programming) dan perancangan (desaining). Kegiatan pemrograman bersifat analisis, sedangkan perancangan bersifat sintesis. Dua tahapan perancangan tersebut tidak dapat dipisahkan untuk mencapai hasil perancangan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Kegiatan pemrograman (tatanan perilaku) yang bersifat rasional. Sifat rasionalnya berarti memungkinkan pendekatan penelitian untuk menemukan panduan-panduan pada tahap perancangan fisik (tatanan fisik). Berbagai metode penelitian dapat diimplementasikan pada tahap pemrograman arsitektur, baik metode kuantitatif maupun metode kualitatif. Salah satu metode penelitian adalah metode kualitatif fenomenologi. Kajian dalam penulisan ini adalah untuk menemukan peran metode fenomenologi di dalam proses programming. Metode fenomenologi dalam arsitektur umumnya digunakan untuk mengungkap makna suatu objek kajian. Memperlakukan karya arsitektur agar memiliki jiwa, roh, nilai atau makna bagi pengguna maupun pemiliknya adalah hal yang penting. Bagaimana dan dimanasajakah fenomenologi sebagai pendekatan pada proses pemrograman arsitektur dapat berperan. Untuk memperoleh jawaban atas permasalahan tersebut digunakan metode kajian pustaka (library research). Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa proses penelitian yang dilakukan dalam metode penelitian kualitatif fenomenologi dapat digunakan untuk mengungkap tuntutan dari suatu esensi perancangan arsitektur yang merupakan bagian dari problem desain.Kata Kunci: Proses, Pemrograman, Fenomenologi
TRANSLASI PENDEKATAN SINEMATIK KE DALAM PERANCANGAN ULANG INTERIOR BANDUNG CREATIVE HUB
Abstract: Spatial experience is often the cause of the success of a useful and well-functioning building. This study is related to the montage strategy as the main basis in the interior design process through spatial experience. Montage is a part of discourse related to cinematic, film, and architecture. This discussion is based on the idea that montage emphasizes three things, namely sequence, layer of meaning, and movement. All three exist as a strategy that will be part of the production process to develop a montage-based cinematic interior design, creating new spatial sequences that provide alternative spatial experiences. The purpose of this research is to expand knowledge about cinematic-based interior design. As a case study, Bandung Creative Hub was chosen because it has different activities in each space. Through qualitative methods, literature studies, data documentation in the form of photos and narrations are taken to find new spatial patterns, as a form of improvisation through spatial dialogue.Keyword: Cinematic Interior, Spatial Dialogue, Creative Hub DesignAbstrak: Pengalaman spasial seringkali menjadi penyebab dari keberhasilan sebuah bangunan yang bermanfaat dan berfungsi dengan baik. Studi ini terkait dengan strategi montase sebagai dasar utama dalam proses desain interior melalui pengalaman spasial. Montase adalah bagian dari diskursus yang berkaitan dengan sinematik, film, dan arsitektur. Diskusi ini didasarkan pada gagasan bahwa montase menekankan tiga hal, yaitu sequence, layer of meaning, dan movement. Ketiganya ada sebagai strategi yang akan menjadi bagian dari proses produksi untuk mengembangkan desain interior sinematik berbasis montase, menciptakan rangkaian spasial baru yang memberikan alternatif pengalaman spasial. Tujuan penelitian ini, memperluas pengetahuan tentang desain interior berbasis sinematik. Sebagai studi kasus, Bandung Creative Hub, dipilih karena memiliki kegiatan yang berbeda di setiap ruangnya. Melalui metode kualitatif , studi literatur, dokumentasi data berupa foto dan narasi, diambil untuk mencari pola spasialitas baru, sebagai bentuk improvisasi melalui dialog spasial.Kata Kunci: Interior Sinematik, Dialog Spasial, Desain Creative Hu
KAJIAN TATA KELOLA KOTA TUA MENGGALA KABUPATEN TULANG BAWANG LAMPUNG SEBAGAI KAWASAN CAGAR BUDAYA
Abstract: Menggala City has several strategic areas to be preserved, such as in the East Menggala area, Gedong Aji, Old Market, and River Harbor, so that these areas can be used as Cultural Heritage Areas, because there are historical buildings, in the form of a king's staircase site, ancestral tombs. and traditional houses on stilts. This research was conducted to analyze the Menggala Old Town Area as a city that has many historical relics, as well as to organize the Management of the Menggala Old Town Area to become a Cultural Heritage Area and a tourist destination. The method applied uses a qualitative approach with descriptive methods. Data collection techniques through direct observation, interviews, questionnaires, and photo documentation. The results obtained by the Management of the old town area of Menggala City have not been properly touched by the local government, traditional leaders and the people in Menggala City. Development of concepts in the management of Cultural Heritage Areas, it is necessary to place areas and management that are intended as cultural centers so that sustainability is maintained. As well as the need for support and commitment from the local government in preserving the Menggala old city as a cultural heritage areaKeyword: Cultural Heritage, Menggala, GovernanceAbstrak: Kota Menggala salah satu kota tua yang perlu di lestarikan, seperti di daerah Menggala Timur, Gedong Aji, Pasar Lama, dan Pelabuhan Sungai, sehingga di daerah tersebut bisa dijadikan sebagai Kawasan Cagar Budaya, karena terdapat bangunan bersejarah, berupa situs tangga raja, makam leluhur dan bangunan tradisional rumah panggung. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis Kawasan Kota Tua Menggala sebagai kota yang mempunyai banyak peninggalan bersejarah, dan perlu ditata Kelola Kawasan Kota tua Menggala agar dapat dijadikan Kawasan Cagar Budaya dan destinasi wisata. Metode penelitian yang diterapkan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan atau observasi langsung di lapangan, interview atau wawancara, serta foto dokumentasi. Hasil yang didapat tata kelola Kawasan kota tua kota Menggala belum terjamah dengan baik dari pemerintah daerah, tokoh adat maupun masyarakat yang ada di kota Menggala. Pengembangan konsep dalam tata Kelola Kawasan Cagar Budaya, diperlukan adanya penempatan Kawasan dan tata Kelola yang memang peruntukannya sebagai pusat budaya agar kelestarian tetap terjaga. Hal ini perlukan kerjasama antara masyarakat dan komitmen dari pemerintah daerah dalam melestarikan kota tua Menggala sebagai Kawasan cagar budayaKata Kunci: Cagar Budaya, Menggala, Tata kelola Â