E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
861 research outputs found
Sort by
ANALISIS KONSEP BANGUNAN HIJAU PADA ASPEK KESEHATAN DAN KENYAMANAN RUANG KANTOR DIREKSI PT. HUTAMA KARYA DI STABAT
Abstract: The current infrastructure development process pays little attention to the impact it has on humans and the environment, for this reason it is necessary to apply the green building concept to maintain environmental balance. Office of the Directors of PT. Hutama Karya at Stabat is an office intended for PT. Hutama Karya Infrastructure is a spin off company from the Roads and Bridges Division as a contractor for the Binjai – Langsa Trans Sumatra Toll Road project. The Office of the Board of Directors was chosen as the object of research to determine the extent to which buildings located around rice fields and settlements are implementing sustainable green buildings with the aim of identifying and analyzing the application of green buildings to the health and comfort aspects of space in accordance with GBC Indonesia's greenship. The method used in the research on the analysis of the green building concept on the health and comfort aspects of the PT Hutama Karya board of directors office at Stabat is a qualitative and quantitative method which results in the conclusion that the office of the directors of Gohor criteria for a no-smoking campaign, thermal comfort, noise level, and user comfort. Points on the health and comfort aspects of space at the Office of  Gohor Directors earned 7 points with a percentage of 5.9% of the maximum total points of 20 points with a percentage of 17.09% in accordance with the principles of green building assessment version 1.1Keywords: Green Building, Directors Office, Indoor Health and ComfortAbstrak: Proses pembangunan infrastuktur saat ini kurang memperhatikan dampak yang ditimbulkan terhadap manusia dan lingkungan, untuk itu perlu menerapkan konsep bangunan hijau untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Kantor Direksi PT. Hutama Karya di Stabat merupakan kantor yang diperuntukan untuk PT. Hutama Karya Infrastruktur perusahaan spin off dari Divisi Jalan dan Jembatan sebagai kontraktor proyek Jalan Tol Trans Sumatera sesi Binjai – Langsa. Kantor Direksi ini dipilih sebagai objek penelitian untuk mengetahui sejauh mana bangunan yang berada disekitar lahan persawahan dan pemukiman dalam penerapan bangunan hijau yang berkelanjutan dengan tujuan mengidentifikasi dan menganalisa penerapan green building pada aspek kesehatan dan kenyamanan ruang sesuai dengan greenship GBC Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian analisis konsep bangunan hijau pada aspek kesehatan dan kenyaman ruang kantor direksi PT Hutama Karya di Stabat adalah metode kualitatif dan kuantitatif yang menghasilkan kesimpulan bahwa Kantor Direksi Gohor mencapai kriteria kampanye dilarang merokok, kenyamanan termal, tingkat kebisingan, dan kenyamanan pengguna. Poin pada aspek kesehatan dan kenyamanan ruang pada Kantor Direksi Gohor memperoleh 7 poin dengan persentasi 5,9 % dari total poin maksimal sebesar 20 point dengan persentasi 17,09% sesuai prinsip penilaian bangunan hijau terbangun versi 1.1.Kata kunci : Bangunan Hijau, Kantor Direksi, Kesehatan dan Kenyamanan Ruan
PENERAPAN KONSEP SANGA MANDALA PADA HUNIAN TEPI ANJIR DI DESA BASARANG JAYA, KALIMANTAN TENGAH
Abstract: Basarang Jaya Village in Kapuas Regency, Central Kalimantan is a placement location for transmigrants from the island of Bali. Transmigration does not only move the human body, but also the culture and customs. Interactions that occur between local communities and immigrant communities will cause a shift and development of the cultural values of these communities. The physical condition of the transmigration location environment using the anjir-handil-saka concept is also very much different from the physical environment where the transmigrants originate, in the form of mountains and the sea.This raises a theoretical gap that underlies this research through a problem statement, namely how to apply the concept of traditional Balinese architecture to residential areas on the edge of anjir. This study aims to determine the application of the concept of traditional Balinese architecture in residential areas on the edge of anjir. The research approach used is a qualitative approach with a case study method.The results showed that there was an adaptation in the application of the Sanga Mandala conception to the culture of the local community and the physical conditions of the environment. Residential houses no longer consist of many masses but only one single mass. Natah is also no longer located in the madya ning madya but is spread throughout the zone surrounding residential buildings, even though the utama ning madya is still maintained as a zone for sanggah.Abstrak: Desa Basarang Jaya di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah merupakan lokasi penempatan transmigran yang berasal dari Pulau Bali. Transmigrasi tidak hanya memindahkan fisik manusianya saja tetapi juga budaya serta adat istiadatnya. Interaksi yang terjadi antara masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang akan menimbulkan pergeseran dan perkembangan nilai-nilai kebudayaan dari masyarakat tersebut. Kondisi fisik lingkungan lokasi transmigrasi yang menggunakan konsep anjir-handil-saka juga sangat jauh berbeda dengan kondisi fisik lingkungan tempat transmigran berasal yang berupa pegunungan dan laut. Hal ini memunculkan celah teoritis yang mendasari penelitian ini melalui pernyataan masalah yaitu bagaimana penerapan konsep arsitektur tradisonal Bali pada hunian yang berada di tepi anjir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan konsep arsitektur tradisional Bali pada hunian yang berada di tepi anjir. Pendekatan penelitian yang dipergunakan adalah pendekatan kualitatif menggunakan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukan terjadi adaptasi dalam penerapan konsepsi Sanga Mandala menyesuaikan dengan budaya masyarakat lokal dan kondisi fisik lingkungan. Rumah tinggal tidak lagi terdiri atas massa banyak melainkan hanya satu massa tunggal saja. Natah juga tidak terletak lagi di zona madya ning madya melainkan tersebar keseluruh zona mengelilingi bangunan rumah tinggal meskipun demikian zona utama ning utama tetap dipertahankan sebagai zona peletakan sanggah
LEGITIMASI SIMBOLIS DALAM PENGETAHUAN MEMBANGUN RUMAH ADAT TORAJA
Abstract: Constructing process of traditional house requires knowledge, skill, material and technical expert by some actors.In Indonesia, Toraja societies have their own knowledge  to build their traditional. This research is purposed to explore actors’ roles, and knowledge distribution of Toraja traditional house constructing process. Based on tecnography approach, this research uses descriptive qualitative method to identify the making, distributed cognition and the construction of rules in this construction. Data is collected through observation, interview and documentation. It is found that there are four main process in building Toraja tradistional house of: taking agreement, discussion, collecting material, and construction. There are also identified several significant actors: the big family, To Tumoke Buriak, Pandai Paliuk, Pandai Manarang, To Manarang, Pandai Nunu, Passura’ and society of around the traditional house. This research concludes that the actors’ role and their knowledge based authorities are framed by symbolic legitimation of Toraja culture. Actors’ positions are prequisites for constructed house are legitimated as Toraja traditional house or just common house.Abstrak: Dalam mendirikan rumah adat, diperlukan pengetahuan, kemampuan, dan keahlian teknik dan materialitas yang dimiliki oleh beberapa pelaku.Di Indonesia, masyarakat Toraja mempunyai pengetahuan khusus tentang rumah adat mereka. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi peran distribusi pengetahuan dari aktor yang terlibat dalam pembanguan rumah adat Toraja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan teknografi, untuk mengidentifikasi proses pembuatan (the making), persebaran pengetahuan (distributed cognition) dan terbentuknya aturan (the construction of rules) dalam proses pembangunan tersebut. Data dikumpulkan lewat observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 4 proses mendirikan rumah adat Toraja yaitu, proses pengambilan kesepakatan, proses musyawarah, proses pengumpulan material, dan proses konstruksi. Ditemukan juga beberapa aktor yaitu, rumpun keluarga, To Tumoke Buriak, To Manarang, Pandai Manarang, Pandai Paliuk, Pandai Nunu, Passura’ dan masyarakat sekitar rumah adat yang memiliki peran masing masing dalam proses mendirikan rumah adat Toraja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peran pelaku beserta pengetahuan untuk kewenangan mengambil keputusan ada dalam kerangka legitimasi simbolis budaya Toraja. Legitimasi ini menjadi penting, apakah suatu rumah yang terbangun akan dianggap sebagai rumah adat atau sekadar rumah biasa
ANALISIS PEMANFAATAN RUANG BANTARAN KANAL BANJIR SUNGAI ACEH
Abstract: Illegal use of floodplain is something that is often found in cities in Indonesia, including in Banda Aceh. The use of state-owned land has been carried out by the local community and it is feared that it will interrupt its function as a flood control. Based on this phenomenon, land clearing has been carried out by the government, BWSS I, and resulted a positive and negative reaction from local communities. BWSS I has also set a plan for land use plan along the floodplain of the Aceh River (Bakoi Village – Lamnyong Bridge) into 5 zones. A good process of planning and designing riverfront needs to involve the aspirations of the community. the alignment of goals and perceptions between the government and the community as users is important to be investigated. Based on observations of environmental settings and activities and local interviews, author found that villagers around riverside accept the program with terms and condition, yet there were several other activities that were in line with government programs but are not in the planned zone. The results of the study is proposal of an alternative space uses that can be considered for future studies.Keyword: land use, riverside, floodplain, aceh river.Abstrak: Pemanfaatan bantaran sungai ilegal merupakan hal yang sering ditemui di kota-kota di Indonesia, termasuk di Kota Banda Aceh. Pemanfaatan lahan milik negara tersebut telah dilakukan oleh masyarakat setempat dan dikhawatirkan menggangu fungsinya sebagai area tangkap air dan pengendali banjir. Berdasarkan fenomena tersebut maka telah dilakukan penertiban dan pembersihan lahan dari bangunan dan tanaman keras oleh instansi pengelola sumber daya air BWSS I yang diwarnai pro dan kontra oleh masyarakat setempat. BWSS I juga telah menetapkan rencana penataan lahan bantaran kanal banjir Sungai Aceh (Desa Bakoi – Jembatan Lamnyong) dalam 5 zona. Pemanfaatan ruang publik yang baik adalah turut melibatkan aspirasi masyarakat, penyamaan tujuan dan persepsi antara pemerintah dan masyarakat sebagai pengguna penting untuk diteliti guna menghasilkan program pemanfaatan ruang bantaran sungai yang maksimal. Berdasarkan pengamatan akan setting lingungan dan aktivitas serta hasil wawancara, penulis menemukan bahwa program pemerintah diterima dengan sukarela oleh warga dengan beberapa kondisi serta terdapat beberapa aktivitas lain yang sudah sejalan dengan program pemerintah namun tidak berada pada zona yang direncanakan. Hasil penelitian mengusulkan alternatif program pemanfaatan ruang yang dapat dipertimbangkan untuk bahan kajian ke depan.Kata Kunci: pemanfaatan ruang, bantaran sungai, bantaran kanal banjir, sungai ace
EVALUASI EFEKTIFITAS PENYALURAN PROGRAM PERUMAHAN SUBSIDI (STUDI KASUS: PERUMAHAN RANCAEKEK PERMAI 2 BANDUNG)
Berbagai program subsidi perumahan yang telah disalurkan oleh pemerintah khususnya bagi golongan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) masih kerap terjadi berbagai permasalahan. Banyak ditemukan banyak unit rumah dimiliki oleh kelompok yang bukan sasarannya, banyaknya terdapat rumah yang sudah dibeli tetapi tidak dihuni oleh pemiliknya dan buruknya kondisi prasarana dan fisik bangunan, yang mana hal ini juga terjadi di Perumahan Rancaekek Permai 2, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Berangkat dari fenomena tersebut artikel ini mengkaji apakah penyaluran subsidi perumahan yang ada di Kecamatan Rancaekek apakah telah efektif atau belum. Penelitian ini menggunakan metode mix-method (kualitatif dan kuantitatif) dengan pengambilan data berupa in-depth interview terstruktur dan observasi. Wawancara dilakukan kepada 10 informan yang tinggal di Perumahan Rancaekek Permai 2, 1 Ketua Rukun Warga dan 1 Humas Pihak Pengembang. Analisis data menunjukkan persentase variabel mekanisme program 80% atau baik. Sedangkan, variabel produk perumahan memiliki persentase sebesar 33,75% atau tidak baik. Sehingga, Penelitian ini mengungkapkan bahwa penyaluran perumahan bersubsidi di Perumahan Rancaekek Permai 2 memiliki persentase sebesar 56,87% atau efektif. Meskipun demikian, persentase ini relatif kecil dan patut untuk ditingkatkan. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa aspek kelompok sasaran, fisik bangunan dan prasarana umum harus ditingkatkan dan harus dilakukan pengawasan ketat oleh pemerintah
TINGKAT KENYAMANAN PEJALAN KAKI DI KOTA BANDAR LAMPUNG BERDASARKAN TEORI URBAN WALKABILITY STUDI KASUS : Jl. Kartini, dan Jl. Raden Intan, Bandar Lampung
Abstract: In keeping up with the rapid development of the city requires the support of adequate public facilities. Pedestrians are one of the things that need attention, the provision of facilities and infrastructure for pedestrians. Able to create the realization of a comfortable city (Liveable City) and friendly for pedestrians (Walkable). Moving from curiosity about the level of pedestrian comfort in the city of Bandar Lampung, we conducted research with a case study object on Jl. Kartini and Jl. Raden Intan, City of Bandar Lampung. Through this research we aim to determine the level of pedestrian comfort in the city of Bandar Lampung based on urban walkability theory and to determine the factors that influence the level of pedestrian comfort on Jl. Kartini and Jl. Raden Intan, City of Bandar Lampung. The results of this study show the comfort level of pedestrians on Jl. Kartini and Jl. Raden Intan, City of Bandar Lampung based on the theory of urban walkability is said to be still uncomfortable. This statement is reinforced by the results of observation and interviews of pedestrians at the study site.Keyword: walkability, pedestrian, trotoarAbstrak: Dalam mengimbangi perkembangan kota yang pesat memerlukan dukungan fasilitas publik yang memadai. Pejalan kaki menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, penyedian sarana dan prasarana bagi pejalan kaki. Mampu menciptakan terwujudnya kota yang nyaman (Liveable City) dan ramah untuk pejalan kaki (Walkable). Bergerak dari keingintahuan tentang tingkat kenyamanan pejalan kaki di kota Bandar Lampung kami melakukan penelitian dengan objek studi kasus di Jl. Kartini dan Jl. Raden Intan, Kota Bandar Lampung. Melalui penelitian ini kami bertujuan untuk mengetahui tingkat kenyamanan pejalan kaki di Kota Bandar Lampung berdasarkan teori urban walkability dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kenyamanan pejalan kaki di Jl. Kartini dan Jl. Raden Intan, Kota Bandar Lampung. Dalam hasil penelitian ini sendiri menunjukan tingkat kenyamanaan pejalan kaki di Jl. Kartini dan Jl. Raden Intan, Kota Bandar Lampung berdasarkan teori urban walkability dikatakan masih kurang nyaman. Penyataan tersebut diperkuat dengan hasil dari observasi dan wawancara pejalan kaki di lokasi penelitian.Kata Kunci: walkability, pedestrian, trotoa
IDENTIFIKASI PENGARUH PARAMETER ELEMEN PEMBAYANG TERHADAP PAPARAN RADIASI PADA HUNIAN VERTIKAL
Abstract: Environmental problems are caused by climatic conditions and the results of sunlight entering buildings that cannot be controlled. Shading device become part of the building and interact directly with the environment and space in the building. Shading device can be applied to buildings to respond to environmental conditions such as solar radiation. Conditioning solar radiation entering buildings can be reduced to reduce building energy use. The results of this simulation show that the length (P) and angle (S) parameters have a significant positive effect on decreasing the intensity of solar radiation. Elements of the Horizontal Louvers type with a change in the value of the Angle (S) parameter from the basic design results in a decrease in radiation intensity of up to 44.3% when the angle changes to 150 with respect to the horizontal wall. In the Brise-Soleil Semi Façade With Louvers type, changing the value of the Length parameter (P) from the basic design results in a decrease in radiation intensity of up to 40.3% in the shading element with a length of 0.8 meters. On the other hand, changes in the distance parameter (J) of the shading element to the horizontal wall tend to increase the intensity of solar radiation. In the Horizontal Louvers type, the change in the parameter Distance (J) to the wall with a distance of 0.3 meters from the horizontal wall results in an increase in intensity of up to 81.1% when compared to the design basis.Keyword: Shading Device, Solar Radiation, Design Parameters, Vertical HousingAbstrak: Permasalahan lingkungan disebabkan oleh kondisi iklim dan akibat sinar matahari yang masuk ke bangunan yang tidak dapat dikendalikan. Perangkat peneduh menjadi bagian dari bangunan dan berinteraksi langsung dengan lingkungan dan ruang di dalam bangunan. Shading device dapat diterapkan pada bangunan untuk merespon kondisi lingkungan seperti radiasi matahari. Pengkondisian radiasi matahari yang masuk ke gedung dapat dikurangi untuk mengurangi penggunaan energi gedung. Hasil simulasi menunjukkan bahwa parameter panjang (P) dan sudut (S) berpengaruh positif signifikan terhadap penurunan intensitas penyinaran matahari. Elemen tipe Horizontal Louvers dengan perubahan nilai parameter Angle (S) dari desain dasar menghasilkan penurunan intensitas radiasi hingga 44,3% ketika sudut berubah menjadi 150 terhadap dinding horizontal. Pada tipe Brise-Soleil Semi Façade With Louvers, perubahan nilai parameter Length (P) dari basic design menghasilkan penurunan intensitas radiasi hingga 40,3% pada shading element dengan panjang 0,8 meter. Sebaliknya, perubahan parameter jarak (J) elemen peneduh ke dinding horizontal cenderung meningkatkan intensitas penyinaran matahari. Pada tipe Horizontal Louvers, perubahan parameter Jarak (J) ke dinding dengan jarak 0,3 meter dari dinding horizontal menghasilkan peningkatan intensitas hingga 81,1% jika dibandingkan dengan desain dasar.Kata Kunci: Elemen Pembayang, Radiasi Matahari, Parameter Desain, Hunian Vertika
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR PERILAKUPADA PANTI WERDHA DI TAMAN MALIBU MEDAN
Abstract: The elderly are the last phase in a person's life cycle, where physical and mental changes become more pronounced, thus requiring special attention to improve their well-being. However, with the advancement of time and increasingly busy lives, families tend to pay less attention and care for elderly parents. Changes in the family structure make them realize that the presence of the elderly in the family can be a burden. In designing a solution to this problem, the analytical method is used by conducting field observations, face-to-face interviews, and direct interaction with the elderly to thoroughly understand the problems they face. In designing the residence, the concept created aims to support the activities of elderly residents. In addition, the concept of behavioral architecture is used to create a comfortable environment and have a positive impact on the nursing home. The importance of physical comfort in buildings also has a positive psychological effect on elderly residents. However, in designing a retirement home specifically for the elderly, it is important to understand their characteristics and needs. The management of degenerative diseases is of particular concern, especially in behavioral architecture principles that concern safety and comfort. However, many nursing homes currently face obstacles in performing their functions well. Therefore, it is also necessary to pay attention to facilities that can support the psychological aspects of the elderly.Keyword: elderly, retirement home, behaviroal architectureAbstrak: Lansia adalah fase terakhir dalam siklus kehidupan seseorang, di mana perubahan fisik dan mental menjadi lebih nyata, sehingga perlu perhatian khusus untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Namun, dengan kemajuan zaman dan kehidupan yang semakin sibuk, keluarga cenderung kurang memperhatikan dan merawat orang tua lanjut usia. Perubahan dalam struktur keluarga membuat mereka menyadari bahwa kehadiran lansia dalam keluarga bisa menjadi beban. Dalam merancang solusi untuk masalah ini, metode analitik digunakan dengan melakukan observasi lapangan, wawancara tatap muka, dan interaksi langsung dengan lansia untuk memahami masalah yang mereka hadapi secara menyeluruh. Dalam perancangan hunian, konsep yang diciptakan bertujuan untuk mendukung aktivitas penghuni lansia. Selain itu, konsep arsitektur perilaku digunakan untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan berdampak positif bagi panti werdha. Pentingnya kenyamanan fisik dalam bangunan juga memiliki efek psikologis yang positif bagi penghuni lansia. Namun, dalam merancang panti werdha khusus untuk lansia, penting untuk memahami karakteristik dan kebutuhan mereka. Penanganan penyakit degeneratif menjadi perhatian khusus, terutama dalam prinsip arsitektur perilaku yang menyangkut keamanan dan kenyamanan. Namun, banyak panti werdha saat ini menghadapi kendala dalam menjalankan fungsinya dengan baik. Oleh karena itu, perlu diperhatikan juga fasilitas yang dapat mendukung aspek psikologis lansia.Kata Kunci: lansia, panti werdha, arsitektur perilak
PENERAPAN PRINSIP SUSTAINABLE ARCHITECTURE PADA DESAIN HOTEL BINTANG 5 MEDAN
Abstract: The city of Medan is a city which is one of the most visited tourist destinations in Indonesia. There are also various tourism potentials that can be developed. Tourism potential in the city of Medan. To accommodate all existing tourism services, it is necessary to build a hotel as a place to stay for guests visiting the city of Medan. The construction of hotels in strategic areas is very important. This design presents the design of a hotel to accommodate tourism activities in the city of Medan by applying the concept of sustainable architecture to hotel buildings in strategic urban areas of the city of Medan.The principles of sustainability that are applied also take into account KDB and KLB regulations of the city of Medan. The sustainable architecture of the hotel design is shown through the use of used materials, the use of solar panels as energy utilization, and the use of secondary skin as a barrier to direct sunlight.The results of this design are expected to become recommendations tourists to spend the night also rest.Besides that it can also have a positive effect on the environment and the surrounding community.Keyword: sustainable architecture,hotel,architectural principlesAbstrak: Kota Medan adalah kota yang menjadi salah satu tujuan wisata yang banyak dikunjungi di Indonesia.Potensi wisata yang dapat dikembangkan juga beragam. Potensi wisata di kota Medan.Untuk mewadahi semua jasa wisata yang ada, maka perlu dibangun hotel sebagai tempat menginap bagi para tamu yang berkunjung ke kota Medan.Pembangunan hotel di kawasan strategis sangatlah penting.Isu lingkungan yang semakin serius mendorong penulis untuk menerapkan prinsip keberlanjutan di desain tersebut.Naskah ini menyajikan perancangan hotel untuk mengakomodasi kegiatan pariwisata di kota Medan dengan penerapan konsep arsitektur berkelanjutan pada bangunan hotel di kawasan strategis perkotaan kota Medan. Prinsip keberlanjutan yang diterapkan juga mempertimbangkan peraturan KDB dan KLB kota Medan.Arsitektur berkelanjutan pada desain hotel tersebut ditunjukkan melalui penggunaan material bekas, penggunaan solar panel sebagai pemanfataan energi,dan penggunaan secondary skin sebagai penghalau sinar matahari secara langsung.Hasil dari perancangan ini diharapkan menjadi rekomendasi wisatawan untuk bermalam juga beristirahat. selain itu juga dapat memberikan efek positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.Kata Kunci:arsitektur berkelanjutan,hotel, prinsip arsitektu
KAJIAN POTENSI LANSKAP DI DAERAH PERSAWAHAN UNTUK PENGEMBANGAN OBJEK WISATA DI KOTA BINJAI
Abstract: Binjai City is a level II city area with the status of.a municipality within the province of North Sumatra, Indonesia. Binjai is located about 22 Km west of the provincial capital of North Sumatra. Binjai City is divided into 5 districts, namely Kota Binjai, North Binjai, South Binjai, West Binjai, East Binjai. Binjai is one of the cities that has a large rice field area. Binjai City is also one of the tourist cities that is currently very often visited by many people. This study aims to landscape development to analyze the development of potential landscapes in rice fields as a means of developing tourist attractions in binjai city. Based on the questioner research 73% respondent strongly agreed and 27% agreed to lanctioning rice fields as tourism object.The results of this activity are in the form of design designs for educational areas about planting rice fields, outbound, relaxing areas, playgrounds, and supporting facilities. The excavation of information from the villagers was also welcomed and added to the enthusiasm of the residents to make East Binjai a tourist village. The results of the Park Tourism design can help for development even though it is carried out in stages.Keyword: Agrotourism, Binjai City, LandscapeAbstrak: Kota Binjai merupakan kawasan kota tingkat II yang berstatus kotamadya di dalam provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Binjai terletak sekitar 22 Km sebelah barat ibu kota provinsi Sumatera Utara. Kota Binjai terbagi menjadi 5 kabupaten yaitu Kota Binjai, Binjai Utara, Binjai Selatan, Binjai Barat, Binjai Timur. Binjai merupakan salah satu kota yang memiliki areal persawahan yang luas. Kota Binjai juga merupakan salah satu kota wisata yang saat ini sangat sering dikunjungi banyak orang. Penelitian ini bertujuan pengembangan lanskap untuk menganalisis pengembangan potensi lanskap di persawahan sebagai sarana pengembangan daya tarik wisata di kota binjai. Berdasarkan penelitian kuesioner 73% responden sangat setuju dan 27% setuju untuk menjadikan sawah lanctioning sebagai objek wisata.Hasil dari kegiatan ini berupa desain desain untuk area edukasi tentang penanaman sawah, outbond, area santai, taman bermain, dan fasilitas penunjang. Penggalian informasi dari warga juga disambut baik dan menambah semangat warga untuk menjadikan Binjai Timur sebagai desa wisata. Hasil rancangan Taman Wisata dapat membantu untuk pengembangan meskipun dilakukan secara bertahap.Kata Kunci : Agrowisata, Kota Binjai, Lanska