E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
861 research outputs found
Sort by
IMPLEMENTASI STOCK OPNAME BERBASIS TAG RFID DAN SISTEM MONITORING UNTUK MENDUKUNG OPTIMISASI PEMANTAUAN BARANG
Pengelolaan stok barang merupakan aspek krusial dalam operasional bisnis modern. Teknologi RFID (Radio Frequency Identification) telah muncul sebagai potensi teknologi yang dapat dimanfaatkan. RFID memungkinkan pengiriman data melalui gelombang radio, menghilangkan kebutuhan akan kontak fisik. Penggunaan label RFID pada barang-barang dapat memfasilitasi proses stok opname yang otomatis dan mendetail. Penelitian ini mengusulkan implementasi metode RAD (Rapid Application Development) dalam merancang dan mengembangkan sistem stok opname berbasis label RFID dan sistem monitoring stok. Metode RAD dikenal akan pendekatan berulang yang cepat dan fleksibel dalam pengembangan sistem. Fokus penelitian ini adalah pada UMKM Annura di Kabupaten Bandung, yang menjadi lingkungan nyata untuk pengujian efektivitas teknologi RFID dalam pengelolaan stok. Dengan memanfaatkan pendekatan RAD, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan solusi yang cepat dan tanggap terhadap kebutuhan UMKM dalam mengelola stok barang mereka. Penggunaan teknologi RFID diharapkan akan memberikan informasi yang lebih akurat dan real-time, memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih tepat. Dengan demikian, penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi signifikan dalam mengatasi tantangan pengelolaan stok yang dihadapi oleh UMKM dan bisnis pada umumnya.
Kata Kunci: Stockopname, RFID, RAD, UMKM Annura, Kabupaten Bandung
OPERASI TERBUKA PARA INFLUENCER DI TENGAH RENDAHNYA LITERASI KHALAYAK
A convincing style of speech combined with supportive gestures creates its own appeal. In a scene on a social media screen, photos and videos highlight objects in close-up with an appetizing effect. Someone appears, acting like an expert who then reviews the product he endorses. Instantly the audience is captivated. However, they do not realize that they are trapped in a persuasion trap spread by the influencers. Whatever is conveyed is able to hypnotize even though if digested more deeply there is an essential error in the meaning of the product. However, because they have been persuaded by the invitation, they secretly note down the address of the culinary product. This is the marketing communication model in the digital era. To further examine the activities of influencers, this study aims to analyze the conditions of the audience who are directly influenced by the invitation of influencers. The approach used in this study is a qualitative method with a narrative analysis type. The results of the study show that the level of audience literacy is still relatively low, resulting in a persuasive effect that moves the audience to make decisions, while in a society with a high level of literacy, it will not be easily influenced by the persuasion conveyed by influencers.Gaya tutur meyakinkan berpadu gestur yang mendukung memunculkan daya tarik tersendiri. Dalam sebuah adegan di layar media sosial, foto-foto dan video menyorot objek secara close up dengan efek yang membangkitkan selera. Seseorang muncul, bertindak layaknya pakar yang kemudian melakukan review atas produk yang diendorsenya. Seketika khalayak terpikat. Namun tak menyadari kalau mereka tengah terperangkap pada jebakan persuasi yang ditebar para infleuncer. Apapun yang disampaikan mampu menghipnotis meski jika dicerna lebih dalam terdapat kesalahan makna yang esensial atas produknya. Namun karena sudah terbujuk pada ajakan tersebut diam-diam mencatat alamat tempat produk kuliner tersebut. Inilah model komunikasi pemasaran di era digital. Untuk meneliti lebih jauh tentang aktivitas para influencer, penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi khalayak yang langsung terpengaruh ajakan para influencer. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis analisis naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi khalayak yang masih relatif rendah menghasilkan efek bujukan yang menggerakan khalayak untuk mengambil keputusan, sedangkan pada masyarakat dengan derajat literasi yang tinggi tidak akanmudah terpengaruh bujukan yang disampaikan influencer
TRANSFORMASI DESAIN SEBAGAI STUDI TIPOLOGI RUMAH BA’ANJUNG DAN BALLA
The phenomenon of the Indonesian capital relocation has shifted the development focus from Java Island towards the central part of Indonesia. The islands of Kalimantan and Sulawesi are preparing to carry out an entirely new planned city, including the modernization of these two islands, while their current condition is relatively traditional. The problem includes marginalized, threatened, eroded local culture and natural environment as the move would have grave repercussions for the entire region, such as deforestation, global cultural influences, and instantaneous modernization. Conservation and preservation of local architectural DNA have become urgent research; this paper presents a design idea as a study based on two representatives’ local architecture. The research objective is to study the various potency of two tribal houses' typological transformation, they are called Ba’anjung (Kalimantan) and Balla (Sulawesi), as alternative variations to embrace modernized tradition. It aims to promote its genetic structure as the arch-type for present-day development. Typology is utilized to study morphological formations, demonstrating the design process while investigating the two-house types as the case studies. Research steps include 1) Typological study, 2) Module Configuration, and 3) Design transformation. The outcome is a typo-morphological study based on unit design transformation. The novelty is a unit variation of forms Ba’anjung and Balla.Fenomena pemindahan ibu kota Indonesia telah menggeser fokus pembangunan dari Pulau Jawa ke wilayah Indonesia bagian tengah. Pulau Kalimantan dan Sulawesi tengah bersiap untuk melaksanakan tata kota terencana yang sama sekali baru, termasuk modernisasi kedua pulau tersebut, sementara kondisinya saat ini relatif masih tradisional. Permasalahan tersebut meliputi budaya lokal dan lingkungan alam yang terpinggirkan, terancam, dan terkikis karena pemindahan tersebut akan berdampak buruk bagi seluruh wilayah, seperti penggundulan hutan, pengaruh budaya global, dan modernisasi yang terjadi secara tiba-tiba. Konservasi dan pelestarian DNA arsitektur lokal menjadi urgensi penelitian; makalah ini menyajikan ide desain sebagai kajian yang didasarkan pada arsitektur lokal dari dua perwakilan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari berbagai potensi transformasi tipologi dua rumah adat, yaitu Ba’anjung (Kalimantan) dan Balla (Sulawesi), sebagai variasi alternatif untuk merangkul tradisi modern. Tujuannya adalah untuk mempromosikan struktur genetiknya sebagai tipe lengkung untuk pembangunan masa kini. Tipologi digunakan untuk mempelajari formasi morfologi, menunjukkan proses desain sambil menyelidiki dua tipe rumah sebagai studi kasus. Tahapan penelitian meliputi: 1) Kajian tipologi, 2) Konfigurasi modul, dan 3) Transformasi desain. Hasil yang diperoleh adalah kajian tipomorfologi berdasarkan transformasi desain unit. Hasil baru berupa variasi unit bentuk Ba’anjung dan Balla
KAJIAN PENDEKATAN MULTISENSORI PADA DESAIN JAWA TIMUR PARK 1
Abstract: Nowadays, educational tourism is gaining popularity as an alternative learning method outside traditional classrooms. Through recreational facilities with educational value, visitors are encouraged to learn while engaging in play. One notable destination is Jawa Timur Park 1, located in Batu, Malang. This park combines amusement rides with interactive science and cultural education exhibits, making it a unique educational tourism attraction. A major challenge for educational tourism is to provide a comprehensive and meaningful learning experience. The multisensory approach is considered an effective strategy to overcome this challenge. By integrating visual, auditory, kinesthetic, and other sensory elements, this approach aims to stimulate all senses of the visitors, thereby enhancing their understanding, engagement, and enjoyment of the learning process. This study uses a qualitative descriptive method to analyze how the multisensory approach is applied in Jawa Timur Park 1, based on the principles outlined in Peter Zumthor’s theory. The analysis identifies that the park successfully incorporates key multisensory elements, including spatial experience (the body of architecture), material coherence, lighting, visual engagement, soundscapes, and tactile experiences. Although not all elements are applied equally across every attraction, Jawa Timur Park 1 demonstrates how multisensory architecture can enrich educational tourism and improve visitor satisfaction.
Keyword: Jawa Timur Park 1, Educational Tourism, Multisensory Approach.
Abstrak: Pariwisata edukatif kini semakin menjadi sorotan karena mampu menghadirkan proses pembelajaran di luar sekolah melalui rekreasi yang bersifat edukatif. Pengunjung diajak bermain sambil belajar, seperti yang ditawarkan Jawa Timur Park 1 Batu, Malang. Tempat ini menggabungkan taman bermain dengan wahana edukasi budaya dan sains secara interaktif. Namun, pariwisata edukatif menghadapi tantangan dalam memberikan pengalaman belajar yang menyeluruh dan efektif. Pendekatan multisensori dinilai mampu mengatasi tantangan tersebut dengan mengintegrasikan elemen visual, auditif, kinestetik, dan sensorik lainnya. Pendekatan ini merangsang seluruh panca indra, sehingga meningkatkan pemahaman, keterlibatan, dan daya tarik pengalaman belajar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan analisis deskriptif dengan menguraikan prinsip-prinsip pendekatan multisensori menurut teori Peter Zumthor. Tujuannya adalah memberikan landasan ilmiah tentang bagaimana pariwisata edukatif dapat dikatakan responsif dan menciptakan pengalaman wisata yang berkesan. Studi kasus dilakukan pada Jawa Timur Park 1. Hasil analisis menunjukkan bahwa bangunan tersebut telah memenuhi beberapa parameter multisensori, seperti body of architecture, material compatibility, lighting, visual, auditory, dan haptic experience. Meskipun tidak semua aspek diterapkan secara menyeluruh, penerapan pendekatan ini memberikan kontribusi terhadap kualitas pengalaman pengunjung.
Kata Kunci: Jawa Timur Park 1, Wisata Edukasi, Pendekatan Multisensori.Pariwisata edukatif kini semakin menjadi sorotan karena mampu menghadirkan proses pembelajaran di luar sekolah melalui rekreasi yang bersifat edukatif. Pengunjung diajak bermain sambil belajar, seperti yang ditawarkan Jawa Timur Park 1 Batu, Malang. Tempat ini menggabungkan taman bermain dengan wahana edukasi budaya dan sains secara interaktif. Namun, pariwisata edukatif menghadapi tantangan dalam memberikan pengalaman belajar yang menyeluruh dan efektif. Pendekatan multisensori dinilai mampu mengatasi tantangan tersebut dengan mengintegrasikan elemen visual, auditif, kinestetik, dan sensorik lainnya. Pendekatan ini merangsang seluruh panca indra, sehingga meningkatkan pemahaman, keterlibatan, dan daya tarik pengalaman belajar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan analisis deskriptif dengan menguraikan prinsip-prinsip pendekatan multisensori menurut teori Peter Zumthor. Tujuannya adalah memberikan landasan ilmiah tentang bagaimana pariwisata edukatif dapat dikatakan responsif dan menciptakan pengalaman wisata yang berkesan. Studi kasus dilakukan pada Jawa Timur Park 1. Hasil analisis menunjukkan bahwa bangunan tersebut telah memenuhi beberapa parameter multisensori, seperti body of architecture, material compatibility, lighting, visual, auditory, dan haptic experience. Meskipun tidak semua aspek diterapkan secara menyeluruh, penerapan pendekatan ini memberikan kontribusi terhadap kualitas pengalaman pengunjung.
Kata Kunci: Jawa Timur Park 1, Wisata Edukasi, Pendekatan Multisensori
KARAKTERISTIK BENTUK DAN RUANG PADA PUSAT REHABILITASI KANKER MENURUT TEORI DESAIN SUPORTIF
Abstract: A patient can be healed physically and psychologically through a recovery process. For patients with certain diseases such as cancer, the recovery process can sometimes be difficult due to psychological disorders such as stress and depression. So for some patients, the recovery process needs to be supported by an environment or place such as a cancer rehabilitation center to restore the patient's physical and psychological quality in balance. According to the supportive design theory of Roger S. Ulrich, a professor at Texas A&M University's College of Architecture, environmental or health service settings design such as cancer rehabilitation centers need to consider aspects such as privacy and control, social support, and natural factors (Ulrich, 2001). This research aims to examine the shape and space of a cancer rehabilitation center based on aspects of supporting design theory so that the characteristics of a cancer rehabilitation center that suit patient needs are obtained. The method used in this research is literature study and identification of spaces in several cancer rehabilitation centers to be able to analyze the most widely used design aspects according to supportive design theory.
Keyword: architecture, form and space, cancer rehabilitation center, supportive design theory
Abstrak: Seorang pasien dapat sembuh secara fisik maupun psikologis melalui sebuah proses pemulihan. Bagi pasien dengan penyakit tertentu seperti kanker, proses pemulihan terkadang bisa menjadi sulit karena adanya kemunduran psikologis seperti stres dan depresi. Maka untuk beberapa pasien, proses pemulihan perlu didukung oleh suatu lingkungan atau tempat khusus seperti pusat rehabilitasi kanker untuk mengembalikan kualitas fisik dan psikologis pasien secara seimbang. Menurut teori desain suportif dari Roger S. Ulrich, seorang profesor di Texas A & M University’s College of Architecture, perancangan lingkungan atau tempat layanan kesehatan seperti pusat rehabilitasi kanker perlu mempertimbangkan aspek-aspek seperti privasi dan kontrol, dukungan sosial, dan faktor alam (Ulrich, 2001). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk dan ruang pusat rehabilitasi kanker berdasarkan aspek-aspek teori desain suportif sehingga diperoleh karakteristik pusat rehabilitasi kanker yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah studi literatur dan identifikasi ruang di beberapa pusat rehabilitasi kanker untuk dapat dianalisis aspek-aspek perancangan yang paling banyak digunakan menurut teori desain suportif.
Kata Kunci: arsitektur, bentuk dan ruang, pusat rehabilitasi kanker, teori desain suportif
Seorang pasien dapat sembuh secara fisik maupun psikologis melalui sebuah proses pemulihan. Bagi pasien dengan penyakit tertentu seperti kanker, proses pemulihan terkadang bisa menjadi sulit karena adanya kemunduran psikologis seperti stres dan depresi. Maka untuk beberapa pasien, proses pemulihan perlu didukung oleh suatu lingkungan atau tempat khusus seperti pusat rehabilitasi kanker untuk mengembalikan kualitas fisik dan psikologis pasien secara seimbang. Menurut teori desain suportif dari Roger S. Ulrich, seorang profesor di Texas A & M University’s College of Architecture, perancangan lingkungan atau tempat layanan kesehatan seperti pusat rehabilitasi kanker perlu mempertimbangkan aspek-aspek seperti privasi dan kontrol, dukungan sosial, dan faktor alam (Ulrich, 2001). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk dan ruang pusat rehabilitasi kanker berdasarkan aspek-aspek teori desain suportif sehingga diperoleh karakteristik pusat rehabilitasi kanker yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah studi literatur dan identifikasi ruang di beberapa pusat rehabilitasi kanker untuk dapat dianalisis aspek-aspek perancangan yang paling banyak digunakan menurut teori desain suportif
The Use of Manipulative Language by Esther in the Film "Orphan" by David Leslie Jhonson: Manipulative Language, Linguistic Manipulation, Orphan Film by David Leslie Jhonson (2009), Power and Control, Emotional Framing
This research examines the use of manipulative language in the film Orphan by David Leslie Jhonson a story by Alex Mace (2009), focusing on the character Esther who, despite her innocent appearance, uses sophisticated linguistic strategies to influence, deceive, and control others to achieve her hidden goals, by employing emotional framing, exploiting sympathy, and combining lies with incomplete thrust, Esther successfully manipulates how people around her perceive Esther. This research will analyse these manipulation tactics from psychological and linguistic perspectives, emphasizing the power and control dynamics demonstrated through Esther's character in this Orphan film. Additionally, this research compares the manipulative language in the film with its real-world applications in interpersonal relationships involving varying degrees of power. The research focuses on Esther’s conversation with other characters to show how she uses language to manipulate, which heightens narrative tension, influences audience perception, and reflects human behaviour.
WORD FORMATION ANALYSIS FOUND IN ENGLISH SLANGS USED BY CARDI B ON INSTAGRAM
This study aims to investigate the word formation processes found in English slang used in the Instagram captions posted by Cardi B. A qualitative descriptive method was employed to explore the linguistic features of slang expressions in Cardi B’s captions. The analysis is grounded in Yule’s theory of word formation processes. Data were collected using documentation techniques, involving close observation and careful transcription of textscontaining slang elements. The slang words identified were then classified according to theirword formation types and analyzed based on the relevant theoretical framework. The findings reveal that eight out of ten types of word formation processes proposed by Yule are present inCardi B’s Instagram captions. These include: (1) Clipping, (2) Derivation, (3) Coinage, (4)Blending, (5) Acronym, (6) Conversion, (7) Compounding, and (8) Borrowing. The most frequently occurring type was clipping, which appeared in 26 instances (52%). This suggeststhat Cardi B tends to favor concise word forms to create a casual, rapid, and easily understoodlinguistic style. Such a tendency reflects the informal nature of urban language, typical of socialmedia discourse and popular culture
-: Indonesia
This paper explores how narrative suspense is constructed in the works of Shirley Jackson and Jordan Peele. A central technique employed by both artists is the use of layered storytelling that builds tension through the interplay of two interconnected narrative strands. An analysis of Jackson’s fiction and Peele’s films demonstrates that the suspense in their works does not rely on traditional Gothic tropes, but rather on carefully designed plots that deliberately guide and manipulate audience attention. The article begins by outlining the concept of narrative suspense, followed by an examination of the structural techniques employed by Jackson and Peele, and concludes with an analysis of specific narrative strategies in their respective works. By adopting a comparative approach, this study offers insights into the mechanics of suspense storytelling across different media.Makalah ini mengeksplorasi bagaimana ketegangan naratif dibangun dalam karya-karya Shirley Jackson dan Jordan Peele. Salah satu teknik utama yang digunakan oleh kedua seniman ini adalah penggunaan alur cerita berlapis yang membangun ketegangan melalui interaksi antara dua jalur naratif yang saling terhubung. Analisis terhadap fiksi Jackson dan film-film Peele menunjukkan bahwa ketegangan dalam karya-karya mereka tidak bergantung pada trope Gotik tradisional, melainkan pada alur cerita yang dirancang dengan cermat untuk secara sengaja mengarahkan dan memanipulasi perhatian audiens. Artikel ini diawali dengan pemaparan konsep ketegangan naratif, dilanjutkan dengan pemeriksaan teknik-teknik struktural yang digunakan oleh Jackson dan Peele, serta diakhiri dengan analisis strategi naratif tertentu dalam karya masing-masing. Dengan menggunakan pendekatan komparatif, studi ini menawarkan wawasan mengenai mekanisme penceritaan ketegangan di berbagai media
Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Kepuasan Kerja Terhadap Tingkat Loyalitas Karyawan
Introduction: In service-based industries like wedding organizers, employee loyalty is a crucial factor that supports operational continuity and organizational reputation. This study examines how leadership style and job satisfaction influence employee loyalty at PT. Koloni Semut Pratama, a wedding organizer company based in Bandung. Background Problems: The main research problem revolves around the observed fluctuation in employee loyalty, possibly linked to leadership effectiveness and perceived job satisfaction. The central research question is: To what extent do leadership style and job satisfaction influence employee loyalty, both individually and collectively? Novelty: While numerous studies have explored similar variables in corporate settings, few have analyzed them within creative service companies like event organizers. This study fills that gap by focusing on a dynamic, client-facing industry with unique leadership and job satisfaction challenges. Research Methods: This quantitative study utilized a saturated sampling technique involving 45 employees. Data were collected through structured questionnaires and analyzed using multiple linear regression via SPSS 25, along with t-tests and F-tests to examine partial and simultaneous effects. Finding/Results: The findings show that both leadership style and job satisfaction significantly affect employee loyalty. Leadership style contributes 50.3% and job satisfaction 28.6% to the variance, with a combined effect of 78.9%. Conclusion: The study concludes that enhancing leadership effectiveness and improving job satisfaction are critical strategies to foster stronger employee loyalty in the event service industry. These findings provide practical insights for HR management in similar organizational contexts
Inklusi Kegiatan Bersepeda Dalam Perencanaan Keruangan Kota Berkelanjutan Di Kawasan Perkotaan Bangli
Abstract: The Province of Bali is currently facing increasingly widespread traffic congestion problems, not only limited to the SARBAGITA metropolitan area (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan), but also extending to other cities, including the Urban Area of Bangli. The rise in the number of motorized vehicles, as a consequence of economic growth, has become one of the main contributing factors to congestion, which in turn affects the overall quality of life for the community. One emerging alternative solution is cycling, which, in addition to being a lifestyle trend and a form of exercise, also serves as an environmentally friendly mode of transportation. This study aims to explore the community’s needs for space and supporting infrastructure for cycling activities in the Urban Area of Bangli. The methodology employed is a narrative qualitative approach, with data collection techniques including observation, interviews, and documentation. The findings reveal that although cycling activities are on the rise, supporting facilities such as bike lanes and public spaces remain very limited. The Bangli Regional Government is expected to respond to this phenomenon by providing adequate dedicated bike lanes and developing supportive public space infrastructure in order to create a healthy, connected, and sustainable urban environment.
Keyword: Traffic Congestion, Cycling, Public Space
Abstrak: Provinsi Bali saat ini menghadapi permasalahan kemacetan lalu lintas yang semakin meluas, tidak hanya terbatas di wilayah metropolitan SARBAGITA (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan), tetapi juga merambah ke kota-kota lain, termasuk Kawasan Perkotaan Bangli. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor sebagai dampak pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu faktor utama penyebab kemacetan yang berdampak pada penurunan kualitas hidup masyarakat. Salah satu solusi alternatif yang mulai berkembang adalah bersepeda, yang selain menjadi tren gaya hidup dan sarana olahraga, juga merupakan transportasi ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kebutuhan masyarakat terhadap ruang dan infrastruktur pendukung bersepeda di Kawasan Perkotaan Bangli. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif naratif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun aktivitas bersepeda meningkat, fasilitas pendukung seperti jalur sepeda dan ruang publik masih sangat terbatas. Pemerintah Daerah Bangli diharapkan dapat merespon fenomena ini dengan menyediakan jalur khusus sepeda yang memadai serta membangun infrastruktur ruang publik yang mendukung, guna menciptakan kota yang sehat, terhubung, dan berkelanjutan.
Kata Kunci: Kemacetan, Bersepeda, Ruang PublikProvinsi Bali saat ini menghadapi permasalahan kemacetan lalu lintas yang semakin meluas, tidak hanya terbatas di wilayah metropolitan SARBAGITA (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan), tetapi juga merambah ke kota-kota lain, termasuk Kawasan Perkotaan Bangli. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor sebagai dampak pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu faktor utama penyebab kemacetan yang berdampak pada penurunan kualitas hidup masyarakat. Salah satu solusi alternatif yang mulai berkembang adalah bersepeda, yang selain menjadi tren gaya hidup dan sarana olahraga, juga merupakan transportasi ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kebutuhan masyarakat terhadap ruang dan infrastruktur pendukung bersepeda di Kawasan Perkotaan Bangli. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif naratif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun aktivitas bersepeda meningkat, fasilitas pendukung seperti jalur sepeda dan ruang publik masih sangat terbatas. Pemerintah Daerah Bangli diharapkan dapat merespon fenomena ini dengan menyediakan jalur khusus sepeda yang memadai serta membangun infrastruktur ruang publik yang mendukung, guna menciptakan kota yang sehat, terhubung, dan berkelanjutan