E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
861 research outputs found
Sort by
RANCANGAN SPASIAL RUMAH TINGGAL SEBAGAI RESPON TERHADAP TUNTUTAN FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL KELUARGA STUDI KASUS: Komplek Perumahan Depdikbud Cirendeu
Abstract: The need for houses is essentially a basic human need.The house as a place to live is a means for humans to move comfortably and is an effort to be able to take shelter from natural conditions and the outside environment, which ideally can meet the needs of the daily activities of its residents. According to Budihardjo (1991:56) in the results of the report (Tim HREIS, 2020) it states that a house isn’t a final product, but a process that continues to develop, continuously and in stages according to the needs and desires of its residents. In the end the house, within a certain period of time will experience changes due to the addition of family members and changes in needs. The Cirendeu Depdikbud (Ministry of Education and Culture) Housing Complex is a standard house built by the government, which is then allowed to be owned, so that a residence is possible to become a house owner, in which case the residents may have no connection with the department. The Cirendeu Depdikbud housing complex has reached the age of 44 years. The scope of this study was carried out in the field of architecture which focuses on spatial with a descriptive-analytical method using a qualitative approach, by examining how standard residential houses change in an effort to accommodate the development of residents' needs which reflected through their spatial layout.Keyword: Spatial Transformation, Residential Houses, Occupants NeedsAbstrak: Kebutuhan akan tempat tinggal pada hakikatnya merupakan kebutuhan dasar manusia. Rumah sebagai tempat tinggal merupakan sarana bagi manusia untuk beraktivitas dengan nyaman, dan merupakan upaya untuk dapat berlindung dari kondisi alam serta lingkungan luar dimana idealnya dapat memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari penghuninya. Menurut Budihardjo (1991:56) dalam hasil laporan (Tim HREIS, 2020) menyatakan bahwa rumah bukanlah produk akhir, melainkan proses yang terus berkembang, berkesinambungan, dan bertahap sesuai kebutuhan dan keinginan penghuninya. Rumah dalam jangka waktu tertentu akan mengalami perubahan sehubungan bertambahnya anggota keluarga dan terjadinya perubahan kebutuhan. Komplek Perumahan Depdikbud Cirendeu merupakan rumah standar yang dibangun oleh pemerintah yang kemudian boleh dimiliki, sehingga hunian yang awalnya berstatus sebagai rumah dinas dimungkinkan untuk bisa menjadi rumah dengan status pribadi, dalam hal ini penghuni bisa jadi sudah tidak ada keterkaitan lagi dengan kedinasannya. Komplek Perumahan Depdikbud Cirendeu merupakan permukiman yang telah berusia 44 tahun, secara umum memperlihatkan adanya perubahan arsitektur yang sangat beragam pada tata ruang rumah tinggal. Lingkup kajian ini dilakukan pada bidang arsitektur yang berfokus pada rancangan spasial dengan metode kajian deskriptif-analitis menggunakan pendekatan kualitatif, dengan mengkaji bagaimana rancangan rumah tinggal standar dalam upaya mengakomodasi perkembangan kebutuhan penghuni yang dicerminkan melalui tata ruangnya.Kata Kunci: Transformasi Spasial, Rumah Tinggal, Kebutuhan Penghun
KEMAMPUAN LAYANAN TPST UNTUK KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN SAMPAH DI KOTA DENPASAR
Pesatnya perkembangan perekonomian Kota Denpasar, menjadi daya tarik tersendiri, yang menyebabkan tingginya arus migrasi ke Kota Denpasar. Hal ini juga yang menjadi penyebab terus meningkatnya jumlah penduduk Denpasar, yang berdampak juga semakin tingginya volume sampah yang dihasilkan tiap harinya. Selama ini Kota Denpasar memanfaatkan TPA Regional Sarbagita sebagai tempat pembuangan akhir yang rencananya ditutup karena kapasitas yang sudah penuh. Upaya Kota Denpasar untuk pengelolaan sampah dengan adanya rencana penutupan TPA Regional Sarbagita adalah dengan pembangunan tempat pengolahan sampah terpadu (TPST). Tujuan penulisan adalah untuk mengetahui kemampuan layanan TPST yang dibangun dalam menampung dan mengolah timbulan sampah Kota Denpasar sesuai dengan rencana kapasitas pengelolaan dan daerah pelayanan masing-masing TPST. Kemampuan layanan dihitung berdasarkan rencana kapasitas pengelolaan timbulan sampah dibandingkan dengan proyeksi timbulan sampah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Dari hasil penelitian didapatkan kemampuan layanan dari 3 TPST yang dibangun untuk mengelola sampah di Kota Denpasar, 2 TPST yaitu TPST Tahura Ngurah Rai dan TPST Kesiman Kertalangu termasuk dalam kategori mencukupi, dan 1 TPST yaitu TPST Padangsambian Kaja termasuk dalam kategori tidak mencukupi
TIPOLOGI PERUBAHAN POLA TATA LETAK RUANG RUMAH PANGGUNG DIATAS SUNGAI KARANG MUMUS KOTA SAMARINDA
Abstract: Settlements on the river are unique because the physical properties of homes adjust to the conditions and surroundings of the upper river. The island of Borneo is divided by a large river that divides the city of samarinda, causing settlements on the river. The gulf of mumus was the smooth stream of mastership flowing in the city of samarinda. The settlements in the town of samarinda are unique as they face the river, but today as the settlements adjust to the environment, giving rise to new customs of living and living overlooking the river. The stilted house on the mumus river was meant to be a home where a settlement on the water provided a merging identity between the physical and the social life of its people. As the cultural age advanced across the river, a change in the layout pattern resulting from a change in the orientation of the stage home. The method used is qualitative desensitization with a typology approach using a sampling. The purpose of this article was to know the typology of the layout of the living space on the mumus river in view of the development pattern.Keyword: Typology, the Settlements Above the River, Karang Mumus Abstrak: Permukiman diatas sungai memiliki keunikan dikarenakan fisik bangunan rumah menyesuaikan dengan kondisi dan lingkungan di daerah diatas sungai. Pulau Kalimantan dibelah oleh sungai besar yang membelah kota Samarinda, dan menyebabkan adanya permukiman diatas sungai. Sungai Karang Mumus merupakan anak Sungai Mahakam yang mengalir di Kota Samarinda. Persebaran permukiman di Kota Samarinda memiliki keunikan berorientasi menghadap kearah sungai, namun saat ini seiring perkembangan permukiman menyesuaikan dengan lingkungan sehingga menimbulkan adanya kebiasaan baru untuk bertempat tinggal dan hidup menghadap sungai. Rumah panggung diatas Sungai Karang Mumus merupakan rumah panggung yang memiliki makna suatu permukiman diatas air yang memberikan identitas yang menyatu antara wujud fisik dan kehidupan sosial budaya masyarakatnya. Seiring perkembangan zaman budaya berumah panggung disepanjang Sungai mengalami perubahan pada pola tata letak ruang yang diakibatkan oleh adanya perubahan orientasi rumah panggung. Metode yang digunakan adalah metode Deskriptof Kualitatif dengan pendekatan tipologi menggunakan purposive sampling. Tujuan penulisan artikel ini untuk mengetahui tipologi pola perubahan tata letak ruang rumah panggung diatas Sungai Karang Mumus ditinjau dari pola perkembangannya.Kata Kunci: Tipologi, Permukiman diatas Sungai, Sungai Karang Mumus
EFEKTIVITAS PENGANGKUTAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN STUDI KASUS PT PENGELOLA LIMBAH KUTAI KARTANEGARA
Saat ini peningkatan pertumbuhan dari berbagai sektor industri di Indonesia telah menghasilkan banyak Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) atau disingkat LB3. Setiap penghasil LB3 wajib mengelola LB3 yang dihasilkannya atau dikelola oleh pihak jasa pengelolaan LB3 yang telah mengantongi izin. Dengan adanya ketentuan yang terbaru yaitu Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 dan Peraturan Menteri LHK No. 6 Tahun 2021 penelitian ini berfokus untuk mengetahui keefektifan pengelolaan LB3 pada kegiatan pengangkutan LB3 yang dilakukan oleh pihak jasa pengelolaan LB3. Penelitian ini dilakukan di PT Pengelola Limbah Kutai Kartanegara sebagai perusahaan jasa pengelolaan LB3 di Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Metode penelitian ini merupakan kualitatif dengan dua jenis data yaitu data primer dan sekunder. Pengambilan data primer dilakukan menggunakan Checklist Observasi dan Wawancara Informan sedangkan data sekunder dilakukan menggunakan literatur studi/perusahaan. Analisis data dilakukan dengan menghitung persentase dari jumlah Checklist dan dibandingkan dengan kategori penilaian efektivitas. Hasil dari penelitian ini yaitu PT Pengelola Limbah Kutai Kartanegara telah melakukan kegiatan pengangkutan LB3 sesuai dengan ketentuan yang terbaru dengan efektivitas baik sekali dengan hasil persentase sebesar 100%.Kata Kunci: Efektivitas, Limbah B3, Lingkungan, Pengangkutan Limbah B
Analisis Reduksi Sampah Organik di Rumah Kompos Wonorejo, Surabaya
Sebagian besar timbulan sampah yang dihasilkan di Kota Surabaya merupakan sampah organik. Salah satu usaha yang bisa kita lakukan dalam mengurangi sampah organik dengan melakukan pengelolaan sampah di rumah kompos. Rumah kompos Wonorejo merupakan salah satu tempat yang melakukan pengelolaan sampah organik untuk menurunkan jumlah dari timbulan sampah yang memasuki TPA. Emisi dari proses pengomposan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap dampak lingkungan seperti pengasaman, eutrofikasi, pemanasan global, toksisitas manusia dan penipisan abiotik (Ng, Chee Guan, et al., 2021). Sehingga, dibutuhkan penelitian dengan melakukan uji reduksi sampah organik di Rumah Kompos Wonorejo, sehingga dapat memberikan rekomendasi skenario yang tepat untuk pengelolaan di rumah kompos yang menghasilkan reduksi terbesar dengan dampak lingkungan yang terkecil. Dalam penelitian ini akan digunakan empat skenario reduksi sampah organik. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kemampuan reduksi sampah di rumah kompos pada skenario 1, 2, 3, dan 4 berturut-turut adalah 70,69%, 70,74%, 71,18%, dan 71,23%. Angka persentase tersebut dapat ditingkatkan dengan menambahkan mesin pencacah pada proses pengomposan sehingga meningkat sebesar 10%
Designing E-Commerce For Umkm Ried Kantongku Based On A Website Using Laravel Framework
With the rapid development of the internet, many companies are utilizing it to market their products, expanding their marketing reach. There are small and medium-sized enterprises (UMKM) in Bandung that still follow conventional selling methods, such as Ried Kantongku UMKM, which operates in the field of fashion bags. However, in this digital era, UMKM entrepreneurs are urged to adapt to technological advancements. One of the efforts that can be made is to engage in digital marketing by creating a website for selling their products. Therefore, considering the various issues in this research, a web-based application will be developed to facilitate the digitalization of the sales process. The framework used for this will be Laravel, and the programming languages employed will be HTML, PHP, and Javascript. The database will be PostgreSQL/XAMPP
SEMANTIC EXPRESSIONS OF POSTERS OF COVID-19 PANDEMIC; TRIBUNNEWS.COM
Covid-19 is becoming pandemic of such magnitude that it has caused a global issue to society. The research aim is to know the effectiveness of posters of Covid-19 Pandemic which taken from Tribunnews.com Mass Media. The research uses Semiotic method which is used to uncover the semiotic meaning from the poster expressions of Covid-19 Pandemic. The research aims to find out signs that represent the posters; to find out meanings that contain on poster. This study uses qualitative method. The findings of the research shows that there are 3 meaning on the poster namely semantic lexical, grammatical and contextual. Each sign has meaning. The way illustrator attracting audience’s attention is very smooth. Although the poster looks simply, the visual and the way s/he uses the colours. By the written, the slogan, the colour, and the design, the illustrator is successful in building people’s enthusiasms on the posters
CITY PARK AS ONE OF THE CITY INFRASTRUCTURE SYSTEM (CASE STUDY: TAMAN KAMBANG IWAK PALEMBANG)
Abstract: Palembang or Pempek City is the capital city of South Sumatra Province. Palembang itself is included as the 2nd largest city in Sumatra. With an area of 400 km² and 1.6 million inhabitants in it. Palembang is now classified as a metropolitan city with the fifth density level in Indonesia following Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya and is ranked nineteenth in Southeast Asia. It’s recorded in history that it was the capital of the largest Buddhist kingdom, namely the Sriwijaya Kingdom in the ninth century. Palembang has existed since June 16, 683AD and is the oldest city in Indonesia. Along with the development of Palembang and its rapidly growing population, the government seeks to improve the city's infrastructure system in Palembang by referring to the economic, social, and cultural aspects of the people of Palembang itself. One of the City Infrastructure Systems that supports community activities is seen in the city park area on Tasik, namely Kambang Iwak Park. For this research, this research was carried out by applying a qualitative descriptive method, which if defined according to Sugiyono (2016) this research method depends on the philosophy of postpositivism which aims to examine natural objects.Keyword: Palembang city; City Infrastructure System; Kambang Iwak ParkAbstrak: Palembang atau kota pempek adalah Ibu Kota Provinsi Sumatera Selatan. Palembang sendiri masuk ke dalam kota terbesar ke-2 se-Sumatera. Dengan luas 400 km² dan 1,6 juta jiwa penduduk di dalamnya. Palembang sekarang tergolong dalam kota Metropolitan dengan tingkat kepadatan nomor lima se-Indonesia menyusul Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya dan menduduki peringkat sembilan belas di Asia Tenggara. Tercatat dalam sejarah pernah menjadi Ibukota Kerajaan Budha terbesar yaitu Kerajaan Sriwijaya pada abad kesembilan. Palembang sudah ada sejak tanggal 16 Juni 683M dan merupakan kota tertua di Indonesia. Seiring perkembangan zaman pembangunan sarana dan prasarana Kota Palembang serta penduduknya semakin pesat, pemerintah berupaya meningkatkan sistem prasarana kota di Kota Palembang dengan beracuan pada ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat Palembang sendiri. Salah satu Sistem Prasarana Kota yang menunjang kegiatan masyarakat terlihat pada kawasan taman kota yang ada di jalan Tasik yaitu Taman Kambang Iwak. Untuk penelitian kali ini dilakukan dengan penerapan metode deskriptif kualitatif, yang mana jika didefinisikan menurut Sugiyono (2016) metode penelitian ini tergantung pada filsafat postpositivisme yang bertujuan untuk meneliti objek alamiah.Kata Kunci: Kota Palembang; Sistem Prasarana Kota; Taman Kambang Iwak
PEMANFAATAN RUANG TERBUKA SEBAGAI RUANG TUNGGU RAMAH PENUMPANG (STUDI KASUS: RUANG TERBUKA FLY OVER KUNINGAN, JAKARTA)
Open space in Jakarta is also now increasingly reduced because of the many infrastructure developments, such as toll roads, highways, and others. Flyover construction creates open spaces that have not been used optimally. One of them is open space at the Transjakarta shelter in Kuningan Barat, which is located below the fly over. The open space has the potential to be used as a waiting room at passenger-friendly Transjakarta shelter. The open space has the potential to be used as a waiting room at passenger-friendly Transjakarta shelter. Besides being friendly to passengers, open space must also be able to add facilities to the needs of the users of the shelter. A descriptive method will be used to carried out to make a description, description systematically factually and accurately regarding the facts, characteristics and relationships between the phenomena investigated. This description is obtained through field observations, interviews and data from relevant agencies. The method of the approach taken to achieve the predetermined goals is the Identification of Design Norms; Identification of Comparative Studies and Identification of Potentials and Problems. The results of this study are in the form of a redesign of the sidewalk which functions as a Transit Pedestrian so that it can accommodate pedestrian needs and become a means of transit. This research is expected to provide input regarding the concept of using open space as a passenger-friendly waiting room at a Transjakarta shelter.Â
INOVASI MODEL MINIATUR UNTUK DESAIN ARSITEKTUR DINAMIS DAN FASAD KINETIK
Abstract: Miniatur dibuat sebagai alat bantu pemodelan bentuk-bentuk arsitektur baik itu bangunan ataupun elemen-elemen dari bangunan itu sendiri seperti fasad, atap dan lainnya. Untuk menghasilkan sebuah desain arsituktur yang dapat bergerak dinamis atau desain fasad kinetik yang dapat bergerak fleksibel maka pemodelan dilakukan menggunakan miniatur sehingga sangat memudahkan visualisasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengembangan (research and development) yakni dengan studi literatur dan observasi objek acuan, lalu dilanjutkan dengan proses desain dan pembangunan model miniatur. Dalam tahapan pembangunan diterapkan metode trial and error hingga mencapai miniatur yang dapat bergerak sesuai dengan desain awal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan model bangunan dan fasad yang dapat bergerak adaptif terhadap kondisi lingkungan, misalnya cahaya matahari sehingga dapat mereduksi sinar matahari langsung pada bangunan agar tidak menyebabkan kenaikan suhu yang berlebihan pada bangunan. Hasil dari penelitian ini dapat menunjukkan visualisasi bentuk 4 dimensi yang mana objek dalam bentuk fasad dapat bergerak secara dinamis sehingga memudahkan proses desain keseluruhan tanpa simulasi komputer.Keyword: Model miniatur, arsitektur dinamis, fasad kinetikAbstrak: Miniature is made as a tool for modeling architectural forms, be it buildings or elements of the building itself, such as facades, roofs and others. To produce an architectural design that can move dynamically or a kinetic facade design that can move flexibly, modeling is done using miniatures so that it makes visualization very easy. The method used in this study is the research and development method, namely by studying literature and observing reference objects, then proceed with the process of designing and building miniature models. During the construction phase, a trial and error method was applied to achieve a miniature that could move according to the initial design. The purpose of this research is to obtain a model of buildings and facades that can move adaptively to environmental conditions, for example sunlight so that they can reduce direct sunlight on buildings so as not to cause excessive temperature rises in buildings. The results of this study can show the visualization of 4-dimensional shapes where objects in the form of facades can move dynamically so as to facilitate the overall design process without computer simulation.Kata Kunci: Miniature models, dynamic architecture, kinetic facade