E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
861 research outputs found
Sort by
PENGARUH ELEMEN PEMBENTUK RUANG UNIT RUMAH SUSUN TERHADAP KENYAMAN FISIK STUDI KASUS: RUMAH SUSUN DI KABUPATEN SEMARANG
Abstract: This research aims to analyze whether the architectural design of flat residential units in Semarang Regency is in accordance with the residents' expectations, namely flats that are livable, of high quality, and able to accommodate all the needs and activities of flat residents. The object of this research is flats in Semarang Regency, namely Ambarawa flats, Ungaran A and Ungaran B flats. (Karyono, 2013) states that 4 comforts are influenced by building design, namely spatial, thermal, audio and visual comfort which should be present to meet resident demands. The sample method in this research is random sampling, the sample results obtained were 131 people consisting of 52 residents of Ambarawa flats, 48 respondents of flats A and 31 respondents of flats B. The data analysis techniques used are factor analysis, hypothesis testing, chi-square test and regression.Keyword: architecture, space elements, flats house, perception, comfortAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah desain arsitektur unit hunian rumah susun di Kabupaten Semarang sudah sesuai dengan harapan penghuninya yaitu rumah susun yang layak ditinggali,    berkualitas    tinggi,    dan    mampu    mewadahi    segala kebutuhan dan kegiatan warga rusun. Objek   penelitian ini adalah rumah susun di Kabupaten Semarang yaitu rumah susun Ambarawa, rumah susun Ungaran A dan Ungaran B. (Karyono, 2013) menyatakan bahwa 4 kenyamanan yang dipengaruhi desain bangunan yaitu kenyamanan ruang, termal, audio, dan visual yang sebaiknya ada agar memenuhi tuntuan penghuni. Metode sampel dalam penelitian ini yaitu sample random sampling, hasil sampel yang didapatkan  sebesar 131 orang terdiri dari penghuni rumah susun Ambarawa sebanyak 52 responden, rumah susun A sebanyak 48 responden dan B sebanyak 31 responden. Teknik analisis data yang digunakan berupa analisis faktor, uji hipotesis, uji chi-square dan regresi.Kata Kunci: arsitektur, elemen ruang, rumah susun, persepsi, kenyamana
IMAJINASI PETA MENTAL PENYANDANG DISABILITAS NETRA TERHADAP KAWASAN SIMPANG LIMA SEMARANG
Abstract: The Simpang Lima area is the center and icon of Semarang City, in the form of a public space that has various legitimacy and imaginability in the minds of each observer. In this study, the visually impaired person were selected as a sample of observers, highlighting how visually impaired person are able to recognize elements of urban identity in their own way. Using a qualitative descriptive approach method to find out how these elements of urban identity can be understood from the area structure by exploration, as well as how they feel after they experience a process of interaction in that environment. The data used in this study were obtained from interviews with several sources, including persons with visual disabilities as the main informants and administrators of the disability community and the Semarang city government as supporting informants. In addition, this research is also supported by data from various other literature related to visual disabilities and the development of the Simpang Lima area and is supported by the image of the city theory, mental maps or spatial cognition and neuroscience theory.The research results have proven, that the elements of identity in the image of a city that stand out and can be recognized by Visually Impaired Person are Landmarks and Path elements. That the image of the city's environment, ease of access, availability of facilities, involvement in the planning process, and adequate navigational features are very important in increasing the ability of Visually Impaired Person to be orientated. In addition, psychological factors such as feelings of security and comfort also play an important role in influencing the breadth of the exploration area for Visually Impaired Person. On the other hand, using a neuroscience theory approach shows that the brain's nervous system of Visually Impaired Person has the ability to process multisensory information from the built environment, including tactile and auditory information which will then produce emotional and meaningful responses to the built environment. There is also a relationship between past memory and the ability of Visually Impaired Person to recognize elements of urban identity, and the concept of attachment to a place can also influence the perception of Visually Impaired Person. This research provides enrichment of insights for planning a more inclusive and sustainable urban environment.The research area in this study is limited to the area along the Simpang Lima Semarang roundabout to a 100meter radius on the five road branches.Keyword: Visually Impaired Person, Mental Mapping, Simpang Lima Semarang AreaAbstrak: Kawasan Simpang Lima merupakan pusat Kota Semarang, berupa ruang publik yang memiliki legibilitas dan imajibilitas yang beragam dalam benak masing-masing pengamatnya. Pada penelitian ini dipilihlah para penyandang disabilitas netra yang akan menjadi sample pengamat, mengangkat akan bagaimana para penyandang disabilitas netra dengan keterbatasannya mampu mengenali akan elemen identitas perkotaan dengan cara mereka sendiri. Menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengetahui bagaimana elemen identitas perkotaan tersebut dapat dihapami dari sebuah struktur kawasan dengan cara penjelajahan peyandang disabilitas netra, serta bagaimana perasaan yang dirasakan dalam benak penyandang disabilitas netra setelah mereka mengalami suatu proses interaksi dalam lingkungan tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari hasil wawancara dengan beberapa sumber, diantaranya ialah para penyandang disabilitas netra sebagai informan utama dan pengurus komunitas disabilitas serta pemerintah kota semarang sebagai informan pendukung. Selain itu penelitian ini juga didukung oleh data dari berbagai literatur lain yang berkaitan dengan disabilitas netra serta perkembangan Kawasan Simpang Lima dan didukung oleh teori citra kota, peta mental atau kognisi spasial dan teori neuroscience. Hasil penelitian telah membuktikan, bahwa elemen identitas dalam citra sebuah kota yang menonjol dan dapat dikenali oleh para penyandang disabilitas netra ialah elemen Landmarks dan Path. Bahwa citra lingkungan kota, kemudahan akses, keberadaan fasilitas, keterlibatan dalam proses perencanaan, serta fitur navigasi yang memadai sangat penting dalam meningkatkan kemampuan penyandang disabilitas netra untuk dapat berorientasi. Selain itu, faktor psikologis seperti perasaan aman dan nyaman juga berperan penting dalam mempengaruhi luas jangkauan area penjelajahan penyandang disabilitas netra. Disisi lain, dengan menggunakan pendekatan teori neuroscience menunjukan bahwa sistem saraf otak para penyandang disabilitas netra memiliki kemampuan untuk memproses informasi multisensori dari lingkungan binaan, termasuk informasi taktil serta auditif yang kemudian akan menghasilkan respon emosi dan pemaknaan terhadap lingkungan binaan tersebut. Terdapat pula hubungan antara memori/kenangan masa lampau dan kemampuan penyandang disabilitas netra dalam mengenali elemen identitas perkotaan, serta konsep kelekatan pada sebuah tempat juga dapat mempengaruhi persepsi penyandang disabilitas netra. Penelitian ini memberikan pengkayaan wawasan bagi perencanaan lingkungan perkotaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Gambaran imajinasi peta mental yang digali pada penelitian ini mencakup pada area jalan disepanjang bundaran Kawasan Simpang Lima Semarang hingga radius 100meter pada kelima cabang jalannya.Kata Kunci: Disabilitas Netra, Peta Mental, Kawasan Simpang Lima Semaran
PENGHAWAAN ALAMI DAN KENYAMANAN TERMAL PADA MASJID KHALID AL-NAQOBI
Abstract: The mosque is a place for Muslims to worship. As a place of worship, of course the user's comfort while worshiping in the mosque is very important so that users can worship solemnly. The Khalid Al-Naqobi Mosque is one of the mosques in the program to build 100 waqf mosques from Qatar whose construction is being managed by PBNU in Indonesia. The waqf mosque will begin to be built at the end of 2021 and will be built in various regencies and cities, however, during its construction, the management has determined a blue print design and materials to be used in almost all waqf mosque constructions with different existing conditions. So it is likely that the conditioning factors in the building are not considered. The purpose of this study was to evaluate whether the design of the Khalid Al-Naqobi mosque was able to overcome room conditioning in realizing the thermal comfort of its users. The results of this observation can be used as a consideration in designing mosques with natural ventilation.Keyword: Mosque, Architecture, Thermal ComfortAbstrak: Masjid merupakan tempat umat muslim untuk beribadah. Sebagai tempat beribadah tentunya kenyamanan pengguna saat beribadah di dalam masjid sangatlah penting agar pengguna bisa beribadah dengan khusuk. Masjid Khalid Al-Naqobi merupakan salah satu masjid dari program pembangunan 100 masjid wakaf dari Qatar yang dikelola pembangunannya oleh PBNU di Indonesia. Masjid wakaf ini mulai di bangun pada akhir tahun 2021 dan dibangun di berbagai kabupaten maupun kota, namun dalam pembangunannya pengelola sudah menentukan satu desain blue print serta material-material yang digunakan untuk diterapkan hampir di semua pembangunan masjid wakaf dengan kondisi eksisting yang berbeda-beda. Sehingga besar kemungkinan faktor-faktor pengkondisian dalam bangunan kurang diperhatikan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi apakah desain masjid Khalid Al-Naqobi ini mampu mengatasi pengkondisian ruangan dalam mewujudkan kenyamanan termal penggunanya. Hasil dari pengamatan ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam perancangan masjid dengan penghawaan alami.Kata Kunci: Â Masjid, Arsitektur, Kenyamanan termal.Â
IDENTITAS KAWASAN HERITAGE GAJAH MADA DENPASAR MELALUI KEARIFAN LOKAL
Perkembangan pembangunan kawasan heritage gajah mada didasari oleh kearifan lokal yang membentuk identitas kawasan sebagai urban heritage kota Denpasar. Elemen-elemen kearifan lokal yang ada pada kawasan menjadi salah satu fokus dalam penilain identitas kawasan heritage gajah mada. Penulisan artikel ini membahas mengenai identitas kawasan heritage gajah mada yang didasari oleh kearifan lokal yang ada di sekitarnya. Secara empiris, interaksi sosial masyarakat adalah pembentuk utama dalam menghasilkan identitas kawasan ini. Symbol budaya yang ada pada kawasan berupa arsitektur bangunan pada kawasan dipengaruhi oleh kegiatan sosial dan ekonomi yang ada pada kawasan. Hal ini kemudian memperlihatkan bahwa dalam perjalanan perkembangan kawasan ini menghasilkan pemikiran logis yang kemudian menghasilkan identitas kawasan heritage gajah mada
EVALUASI ALIRAN ANGIN PADA BUKAAN TERHADAP PENYEBARAN NYAMUK MALARIA MENGGUNAKAN SIMULASI
Abstract: The government's target of malaria freedom is known to have not yet reached the expected target, especially in eastern Indonesia such as Sikka district in East Nusa Tenggara. Some of the factors that influence the spread of mosquitoes include the influence of openings that are less than 1 meter apart. Based on this reference, field observations were made at a location with a similar case, namely Sikka police station. After observation, an experiment was conducted using Ecotect analysis by using a comparison of the distance of openings in the dwelling of 1 meter, 5 meters, and 10 meters to determine the wind pattern and speed that occurs in the area. The results found that the wind speed created showed that the distance does not affect the wind speed that occurs but rather affects the pattern of its distribution where the greater the distance between openings, will more diffuse the airflow pattern that will also affect the spread of mosquitoes in the surrounding area. (ARIAL 10, spasi tunggal).Keyword: Airflow, Mosquitoes, Opening distanceAbstrak: Target pemerintah akan bebasnya malaria diketahui hingga sat ini belum mencapai pada target yang diharapkan terutama pada wilayah timur Indonesia seperti kabupaten Sikka yang berada di Nusa Tenggara Timur. Beberapa faktor yang mempengaruhi penyebaran nyamuk tersebut antara lain terletak pada pengaruh bukaan yang berjarak kurang dari 1 meter. Berdasarkan acuan tersebut, maka dilakukanlah observasi lapangan pada lokasi dengan kasus serupa yakni polres Sikka. Setelah observasi, dilanjutkan dengan eksperimen menggunakan Ecotect analysis dengan menggunakan perbandingan jarak bukaan pada hunian sebesar 1 meter, 5 meter dan 10 meter untuk mengetahui pola dan kecepatan angin yang terjadi pada wilayah tersebut. Hasil penelitian menemukan bahwa kecepatan angin yang tercipta menunjukkan bahwa jarak tidak mempengaruhi kecepatan angin yang terjadi namun lebih berpengaruh terhadap pola penyebarannya dimana semakin jauh jarak antar bukaan, maka akan membentuk pola aliran udara yang menyebar sehingga akan berpengaruh pula terhadap penyebaran nyamuk pada wilayah sekitar.Kata Kunci: Aliran udara, Nyamuk, Jarak bukaa
BIBLIOMETRIK ANALISIS: KONSEP STUDI URBAN ARCHITECTURE DI INDONESIA TAHUN 2017-2022
Abstract: Penelitian ini ingin melihat bagaimana konsep urban architecture di indonesia berkembang dalam 5 tahun terakhir secara luas. Pergeseran disiplin ini telah membuka cara pandang baru dalam memandang lanskap binaan yang tidak dibatasi oleh asumsi normatif nilai estetika universal atau karya individu, arsitek, atau patron sebagai subjek kajian utama. Perkembangan arsitektur perkotaan di seluruh dunia ditunjukkan dalam penelitian ini, yang memanfaatkan bibliometrik untuk melakukannya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi kepustakaan. Sumber data berasal dari database artikel di Scopus. Pemilahan data dilakukan dalam 5 tahun terakhir yaitu dari tahun 2017 hingga 2022 dengan sitasi tertinggi sehingga diperoleh data sebanyak 74 artikel. Data artikel jurnal kemudian diunduh dari database Scopus dalam format tipe RIS yang diimpor ke perangkat lunak Vosviewer untuk dianalisis. Jumlah publikasi Scopus terkait konsep arsitektur perkotaan di Indonesia mengalami penurunan rata-rata 11% dalam 5 tahun terakhir. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Universitas Indonesia memperoleh persentase 40% dalam kontribusinya terhadap arsitektur perkotaan. 19,7% konsep arsitektur perkotaan dicakup oleh teknik, diikuti oleh ilmu lingkungan dan studi bumi dan planet. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran dalam arsitektur dan Indonesia merupakan kata kunci terbesar dalam konsep arsitektur perkotaan di Indonesia.Abstrak: This study wants to see how the concept of urban architecture in Indonesia has developed in the last 5 years broadly. This disciplinary shift has opened a new way of looking at the built landscape that is not limited by normative assumptions of universal aesthetic values or the work of individuals, architects, or patrons as the main subject of study. The development of urban architecture around the world is demonstrated in this study, which makes use of bibliometrics to do so. This research uses qualitative research methods with literature study. The data source comes from the article database on Scopus. Data sorting was carried out in the last 5 years, namely from 2017 to 2022 with the highest citations so that data were obtained as many as 74 articles. The journal article data was then downloaded from the Scopus database in RIS type format which was imported into the Vosviewer software for analysis. The number of Scopus publications related to urban architectural concepts in Indonesia has decreased by an average of 11% in the last 5 years. The results of this study indicate that the University of Indonesia obtains a percentage of 40% in its contribution to urban architecture. 19.7% of urban architectural concepts are covered by engineering, followed by environmental science and earth and planetary studies. The findings of this study indicate that size in architecture and Indonesia is the biggest keyword in the concept of urban architecture in Indonesia
PERUBAHAN TIPOLOGI FASAD PADA RUMAH TRADISIONAL KAMPUNG PITU GUNUNG KIDUL
Abstract: This Village unique and sacred research began to be introduced in 2015, the uniqueness of the settlement appeared in the combination of customs and traditions that were maintained authenticity with the indigenous people of Pitu Village. This affects change in the facade settlenet past and present seen from the Architectural aspects in the Pitu Village settlement, one of which is through the condition of houses there. The purpose of this study is to determine the typology of the traditional facade of Pitu Village with cultural elements and indirect communication between humans as a traditional the collection of research data is. This study uses a qualitative descriptive method The collection of research data was the result of interviews and observations at the research site with seven houses in Pitu Village. The changes of traditional houses typical of Pitu Village as a result of community planning into Vernacular Architecture is rated from the peculiarities of cultural aspects, building philosophy, of the village and one of the peculiarities of the community's house. This is considered to know the peculiarities in the area, especially the façade at Pitu Village residential house in applying the Vernacular Architecture Concept to the building style, it is necessary to analyze it with a comparative form before and after in the location of the area, the façade of the Pitu Village residential house by finding out the characteristics of the local Vernacular Architecture and the Characteristics of Ventakular Architecture with the points and shapes of the façade in the building planned in Pitu Village. The conclusions in this study reveal the development of an approach at the concept of vernacular traditional architecture into a modern livable house concept.Abstrak: Penelitian perkampungan Unik dan sakral mulai diperkenalkan pada tahun 2015, keunikan permukiman muncul dalam perpaduan adat dan tradisi yang terjaga keasliannya dengan warga asli Kampung Pitu. hal ini berpengaruh terhadap adanya perubahan permukiman fasad rumah dahulu dan fasad rumah sekarang di lihat dari Aspek Arsitektural permukiman Kampung Pitu, salah satunya melalui kondisi rumah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tipologi fasad tradisional Kampung Pitu dengan unsur kebudayaan dan komunikasi tidak langsung antar manusia sebagai perancang rumah tradisional di kawasan Kampung Pitu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, pengumpulan data penelitian merupakan hasil dari wawancara dan pengamatan di lokasi penelitian bersama tujuh masyarakat asli Kampung Pitu. Perubahan rumah tradisional khas Kampung Pitu hasil dari perencanaan masyarakat menjadi Arsitektur Vernakular dinilai dari kekhasan segi budaya, filosofi bangunan salah satu kekhasan pada rumah masyarakatnya. Hal tersebut dipandang memiliki potensi desa, kekhasakan kawasan terutama fasad rumah tinggal Kampung Pitu dalam menerapkan Konsep Arsitektur Vernakular terhadap gaya bangunan, maka perlu adanya analisis dengan bentuk perbandingan sebelum dan sesudah fasad rumah tinggal Kampung Pitu dengan mencari tau ciri Arsitektur Vernakular setempat dan dengan adanya poin dan bentuk secara fasad dalam bangunan yang direncanakan. Penelitian ini mengungkapkan pengembangan sebuah pendekatan konsep Arsitektur tradisonal Vernakular menjadi konsep rumah modern layak huni
ADAPTASI BENTUK ARSITEKTUR VERNAKULAR PADA HUNIAN PERKOTAAN KOLONIAL GORONTALO
Abstract: The arrival of the Dutch to Gorontalo instigated the interaction between the Dutch colonial culture and the culture of the local people. One of the modes of cultural interaction is the adaptation of Gorontalo's vernacular architectural forms to the houses where the Dutch lived in urban areas. The adaptation process occurred to meet the demands of everyday life and adapt to climatic conditions and the surrounding environment. The adaptation of Gorontalo's vernacular architectural forms occurs in dwellings located in colonial government areas, where the physical appearance clearly shows a meeting between European/Dutch architectural elements and local Gorontalo architectural elements. The adaptation of Gorontalo's vernacular architectural forms to the Dutch houses in urban areas during the colonial period also determined the further development of the character and identity of the city of Gorontalo. This study aims to identify the various forms of Gorontalo vernacular adaptations carried out by the Dutch in their dwellings and their implications for developing the character and identity of the city of Gorontalo. The research area covers the administrative center area of the assistant resident during the colonial era, now known as the urban center of Gorontalo. The research utilizes a qualitative descriptive method supported by literature and field observation data. The results confirmed that the interaction between the Dutch colonial culture and the culture of the local community has led to the adaptation of Gorontalo's vernacular architectural forms to the houses where the Dutch lived in urban areas and significant changes in the socio-cultural and political aspects of the city of Gorontalo.Abstrak: Kedatangan orang Belanda ke Gorontalo telah menyebabkan terjadinya interaksi antara budaya kolonial Belanda dengan budaya masyarakat lokal. Salah satu modus dari interaksi budaya tersebut adalah adaptasi bentuk arsitektur vernakular Gorontalo pada rumah tempat tinggal orang Belanda di perkotaan. Proses adaptasi dilakukan dalam upaya memenuhi tuntutan kehidupan sehari-hari dan menyesuaikan diri dengan kondisi iklim dan lingkungan sekitar. Adaptasi bentuk arsitektur vernakular Gorontalo tersebut tampak pada hunian yang berlokasi di kawasan pemerintahan kolonial, di mana tampilan fisiknya jelas memperlihatkan adanya pertemuan antara unsur arsitektur Eropa/ Belanda dengan unsur arsitektur lokal Gorontalo. Adaptasi bentuk arsitektur vernakular Gorontalo pada rumah tempat tinggal orang Belanda di perkotaan pada masa kolonial turut menentukan perkembangan karakter dan identitas kota Gorontalo selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ragam bentuk adaptasi vernakular Gorontalo yang dilakukan orang Belanda pada huniannya serta implikasinya terhadap perkembangan karakter dan identitas kota Gorontalo. Penelitian dilakukan di wilayah pusat pemerintahan asisten residen pada masa pemerintahan kolonial, yang kini dikenal sebagai pusat perkotaan Gorontalo. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif, didukung oleh studi pustaka dan data pengamatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara budaya kolonial Belanda dengan budaya masyarakat lokal tidak hanya menyebabkan terjadinya adaptasi bentuk arsitektur vernakular Gorontalo pada rumah tempat tinggal orang Belanda di perkotaan, tetapi juga perubahan yang signifikan pada aspek sosial budaya dan politik kota Gorontalo
IDENTIFIKASI INOVASI KONSEP RUANG RUMAH SEDERHANA AKIBAT PERUBAHAN PERSEPSI KEBUTUHAN MASYARAKAT KOTA KUPANG
Abstract: A simple house is a livable place where the indoor and outdoor spaces are limited, so that it can be a solution to the problem of lack of land and costs to build a house. This concept has been around for a long time and the government has set a minimum standard for a comfortable area in a simple house and has been applied by developers to build throughout Indonesia, including in the city of Kupang. In the process of growth, the people of Kupang City experienced a change in perception regarding the need for space which led to the emergence of new activities, which had an impact on the inability of the existing spaces in modest homes to accommodate new occupants' activities. The purpose of this paper is to identify innovative simple house space concepts due to changes in the perception of the needs of the people of Kupang City. The method used is a qualitative method using Habraken's theory as a basic reference, namely the theory of zoning and spatial components, and data collection using observation and questionnaire methods. The results of this study indicate that changes in the perception of the space requirements of the people of Kupang City have an impact on the addition of new activities to indoor and outdoor spaces resulting in changes to the zoning and patterns of simple residential spaces.Abstrak: Rumah sederhana ialah tempat kediaman layak huni yang luasan ruang dalam dan luarnya terbatas, sehingga dapat menjadi solusi mengatasi masalah kurangnya lahan dan biaya untuk membangun rumah tinggal. Konsep ini telah ada sejak lama dan pemerintah telah menetapkan standar minimal luasan yang nyaman pada sebuah rumah sederhana dan telah diaplikasikan oleh pihak pengembang untuk membangun di seluruh wilayah Indonesia termasuk di Kota Kupang. Pada proses bertumbuhnya, masyarakat Kota Kupang mengalami perubahan persepsi terkait kebutuhan ruang yang menyebabkan munculnya aktivitas baru, sehingga berdampak pada ketidakmampuan ruang-ruang yang ada pada rumah sederhana saat ini untuk mengakomodasi aktivitas baru penghuni. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengidentifikasi inovasi konsep ruang rumah sederhana akibat perubahan persepsi kebutuhan masyarakat Kota Kupang. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan teori Habraken sebagai dasar acuan yaitu teori zonasi dan komponen penyusun ruang, dan pengumpulan data menggunakan metode observasi dan kuesioner. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa perubahan persepsi kebutuhan ruang masyarakat Kota Kupang berdampak pada penambahan aktivitas baru pada ruang dalam dan luar sehingga mengakibatkan zonasi dan pola ruang hunian sederhana mengalami perubahan
TIPOLOGI PERUBAHAN RUANG PADA RUMAH PANGGUNG MASYARAKAT DESA PAGAR DEWA KECAMATAN WARKUK RANAU SELATAN
Abstract: The house is the result of the culture of an ethnic group which produces specific dwellings based on tradition in the process of its formation. One manifestation of this cultural product is the Stilt House of the Ranau community, which is one of the tribes in South Sumatra Province, which is located in Pagar Dewa Village, Warkuk Ranau Selatan, Ogan Komering Ulu Selatan District. The people of the Pagar Dewa Village Stilt House are currently experiencing changes in space in the area below the house and the area above the house which forms a new spatial pattern with various factors causing the changes. The purpose of this study was to determine the typographical form of changes in the space on stilts in the Pagar Dewa village community, to determine the factors causing the changes in space and to categorize the forms of changes in space into several types of changes. This research uses a qualitative approach with descriptive methods. For the sampling technique, the sample was taken purposively random, with the Quota Sampling model, namely determining the leading key area and the key group (respondents) determined based on the hamlet that became the first hamlet to start civilization in Pagar Dewa Village (Dusun I), a hamlet that has educational facilities, bridges and other facilities. Religious (Dusun II), a hamlet that has a direct orientation towards the river and rice fields (Dusun VII). In this study, 3 forms of typography were obtained from the changes in the space on the stilt houses of the Pagar Dewa village community.Keyword: Tipology, Transformasion of Space, Stilt HouseAbstrak: Rumah merupakan sebuah hasil kebudayaan sebuah suku bangsa yang menghasilkan hunian yang spesifik berdasarkan tradisi dalam proses pembentukannya. Salah satu wujud dari hasil kebudayaan tersebut adalah Rumah Panggung masyarakat Ranau yang merupakan salah satu suku di Provinsi Sumatera Selatan yang berada di Desa Pagar Dewa Kecamatan Warkuk Ranau Selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Rumah Panggung masyarakat desa Pagar Dewa saat ini banyak yang mengalami perubahan ruang pada area bawah rumah dan area atas rumah yang membentuk sebuah pola ruang baru dengan berbagai factor penyebab perubahannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk tipologi perubahan ruang rumah panggung masyarakat desa Pagar Dewa, mengetahui faktor penyebab perubahan ruang dan mengelompokan bentuk perubahan ruang tersebut menjadi beberapa tipe perubahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik sampling Sampel diambil secara purposive random, dengan model Quota Sampling yaitu menetapkan terdahulu key area dan key group (responden) ditentukan berdasarkan Dusun yang menjadi Dusun Pertama memulai peradaban di Desa Pagar Dewa (Dusun I), Dusun yang memiliki fasiltas Pendidikan, Jembatan dan fasilitas Keagamaan (Dusun II), Dusun yang memiliki orientasi langsung ke arah sungai dan sawah (Dusun VII ). Pada penelitian ini mendapatkan 3 bentuk tipologi perubahan ruang rumah panggung masyarakat desa Pagar Dewa.Kata Kunci: Tipologi, Perubahan Ruang, Rumah Panggun