E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
861 research outputs found
Sort by
BAHASA KEBANGSAAN DALAM LINGKUP PERGAULAN BANGSA-BANGSA
Dynamic languages follow a cycle that continues to develop. In the process, assimilation occurs which involves various language elements originating from local or foreign absorption in every language in the world. Including Indonesian, sometimes in its use it is assimilated with terms taken from foreign languages. This especially appears in informal spaces. Elements of foreign absorption, both from English and other foreign languages, color the course of people's language behavior. Another space that provides flexibility for seeding foreign absorption is in the media. Therefore, in this regard, the research aims to determine the process of absorption of local languages into national languages. Meanwhile, the approach used is qualitative with a documentation study method. The research results show that the element of local absorption occurs because of the large number of media users in the wider community presented in the digital world. Absorption of foreign language elements is considered to improve social status because it can be interpreted as progress.
 
EPISODE PERJUANGAN BANGSA DALAM JURNALISME KORAN JAWA POS DALAM RUBIK “HOAX ATAU BUKAN”
In an era when information does not only come from journalists, but also from various media platforms and even from ordinary people, there is a lot that we consider as "information". Sometimes there is so much, we ignore and get lost in the truth of the information. Now there is the internet and social media, now printed newspapers are not the main source for citizens to obtain information. However, there is a principle that the Jawa Pos newspaper carries out, namely the educational function carried out by the Jawa Pos newspaper to prevent the spread of hoaxes with the rubric "Hoax or Not". This research uses a qualitative method with a case study approach to the "Hoax or Not" column of the Jawa Pos newspaper. Mass media can play a role in educating the public about the importance of media literacy and how to recognize false information. This includes providing guidance on how to check sources, recognize bias, and evaluate the credibility of news stories. This research concludes that the “Hoax or Not” column can maintain high standards of ethical journalism, such as not publishing unverified information or refraining from sensationalism, building trust with their audience and positioning themselves as a reliable source of information. In the current context, it helps reduce the spread of false information and increases public literacy awareness about the importance of fact verification.
 
Inovasi Aplikasi Pariwisata Cerdas: Penyewaan Layanan Pemandu Wisata di Lembang
Penelitian ini bertujuan mengatasi tantangan utama dalam industri pariwisata
Indonesia, yaitu kurangnya aksesibilitas informasi dan referensi yang akurat.
Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metodologi Extreme
Programming (XP), penelitian menekankan pentingnya integrasi layanan tour guide
dengan layanan lainnya. Sebagai solusi, penelitian mengusulkan sistem "Smart
Tourism" yang menggabungkan berbagai layanan wisata menjadi satu aplikasi
lengkap, menciptakan konsep one-stop solution holiday. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa aplikasi ini memudahkan wisatawan dalam memesan layanan
tour guide dan layanan lainnya, sambil memberikan pilihan yang dapat
dipersonalisasi oleh pengguna dan didukung oleh sistem pendukung keputusan
(DSS) berbasis collaborative filtering user, meningkatkan pengalaman pengguna
dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Dengan demikian, penelitian ini memiliki dampak yang signifikan dalam
mengubah paradigma perjalanan wisata, menyatukan layanan wisata, dan
memperkaya pengalaman wisatawan di Indonesia, serta mendukung visi smart city
yang lebih terintegrasi. Kontribusi ini bukan hanya dalam sektor pariwisata, tetapi
juga dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan
PERILAKU ANAK TERHADAP PENGGUNAAN FASILITAS BERMAIN DI TAMAN BUNGKUL SURABAYA
Abstract: Bungkul Park, located in Surabaya, Indonesia, is a prominent urban park distinguished by its captivating architectural style. The park is frequently used by youngsters, who are drawn to its setting and amenities that have been purposefully tailored to facilitate play and social interaction. However, further investigation is required to examine the behavioral patterns exhibited by children during their visits to Surabaya, as well as the safety measures implemented in various recreational facilities. The objective of this study is to gain insight into the behavioral patterns exhibited by youngsters in Taman Bungkul. The employed research methodology entails a qualitative approach, incorporating observation, behavior mapping, and questionnaires as data collection tools. The target population for this study comprises children aged 2-13 years who frequent Bungkul Park. The analysis of the existing text data will be conducted using the JMP analysis program. Researchers employ observational methods to examine the behavior of children, including activities such as running, playing, and engaging with architectural features such as benches, parks, and other recreational spaces. The behavior of the child is subsequently delineated using behavior mapping. In addition, the researchers employed questionnaires consisting of inquiries to obtain a more profound understanding of children's views and preferences about architectural designs within park settings. The findings of this study suggest that Bungkul Park exhibits considerable appeal as a recreational space for children. However, it is imperative to address some aspects, particularly pertaining to the safety of children, in order to enhance their overall experience. The behavior of children is subject to notable influences from both gender and age, although the magnitude of these influences may not be very substantial. The implications of the study's findings hold significance for urban garden designers and architects, as they pertain to the creation of spaces that effectively engage children and align with their preferences.Keyword: architecture; child behavior; city park; SurabayaAbstrak: Taman Bungkul merupakan salah satu taman kota di Surabaya, Indonesia, dengan desain arsitektur yang menarik. Taman ini sering dikunjungi oleh anak-anak dimana lingkungan dan fasilitas yang ada telah dirancang khusus untuk bermain dan berinteraksi. Namun, perlu dikaji mengenai bagaimana pola perilaku anak saat berkunjung di Surabaya serta keamanan yang ada di seluruh fasilitas bermain. Sehingga, tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana anak-anak berperilaku di Taman Bungkul. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan observasi, behaviour mapping dan kuisioner terhadap anak-anak berusia 2-13 tahun yang mengunjungi Taman Bungkul. Data text yang ada akan dianalisis dengan menggunakan software analisis JMP. Melalui observasi, peneliti mengamati perilaku anak-anak seperti berlari, bermain, berinteraksi dengan elemen arsitektur seperti bangku, taman, dan area rekreasi lainnya. Perilaku anak tersebut kemudian digambarkan melalui behaviour mapping. Selanjutnya kuisioner yang berupa pertanyaaan digunakan untuk memperoleh wawasan lebih dalam tentang persepsi dan preferensi anak terhadap desain arsitektur di taman. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Taman Bungkul merupakan area bermain yang cukup diminati oleh anak-anak tetapi masih ada beberapa yang harus dibenahi terutama dari segi keamanan untuk anak-anak. Perilaku anak sangat dipengaruhi berdasarkan jenis kelamin dan usia tetapi tidak terlalu signifikan. Temuan dari penelitian ini memiliki implikasi penting bagi perancang taman kota dan arsitek di dalam merancang lingkungan yang merangsang partisipasi anak agar dapat lebih menarik dan sesuai dengan kebutuhan mereka.Kata Kunci: arsitektur, perilaku anak, Surabaya, taman kota
KRITERIA ARSITEKTUR PEMULIH (HEALING) UNTUK PENYEGARAN MENTAL: KASUS SINDROM BURNOUT
Abstract: Stress causes a person's mental state to be unstable. A contributing factor to stress is emotional exhaustion caused by work routines. Recovery facilities that support the psychological needs of individuals are essential, but existing public facilities still have shortcomings, especially in implementing designs that consider the perspectives of users and stress issues. In the context of psychology, the natural environment is identified as an effective solution to cope with stress. Architecture, as a physical manifestation of the environment, is important in creating positive energy to overcome this. This research aims to evaluate building and environmental design elements integrated with user needs. This research uses a qualitative approach with literature studies and interviews as research methods. Restorative Healing Architecture design principles as a study aspect to produce architecture criteria. The results showed that to achieve emotional stability, natural and healthy environmental conditions are needed that are by user needs. Architectural criteria generated from natural elements can manage and control physiological stress, thereby improving self-quality.Keywords: Architecture, Environment, Psychology, and StressAbstrak: Stres mempengaruhi mental seseorang menjadi tidak stabil. Faktor penyebab stres adalah kelelahan emosianal yang dsebabkan oleh rutinitas pekerjaan. Fasilitas pemulihan yang mendukung kebutuhan psikologis individu menjadi kritis, namun fasilitas publik yang ada masih memiliki kekurangan, terutama dalam penerapan desain yang memperhatikan perspektif pengguna dan permasalahan stres. Dalam konteks psikologi, lingkungan alami diidentifikasi sebagai solusi yang efektif untuk mengatasi stres. Arsitektur, sebagai manifestasi fisik lingkungan, memiliki peran kunci dalam menciptakan energi positif terhadap kendala tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi elemen desain bangunan dan lingkungan yang terintegrasi dengan kebutuhan pengguna. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kajian literatur dan wawancara sebagai metode penelitian. Prinsip desain Arsitektur Pemulih sebagai aspek kajian untuk menghasilkan kriteria Arsitektur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mencapai kestabilan emosional diperlukan kondisi lingkungan yang alami dan sehat yang sesuai bagi penggunanya. Kriteria Arsitektur yang dihasilkan dari elemen alami dapat mengelola dan mengontrol stres fisiologis, sehingga dapat meningkatkan kualitas diri.Kata Kunci: Arsitektur, Lingkungan, Psikologi, dan Stre
Signifikansi Penggunaan Kaca sebagai Material Double Skin Façade dalam Penurunan Suhu dalam Ruangan Studi Kasus Gedung Fakultas Psikologi Undip
Abstract: The use of glasses for building wall provides psychological comfort because the glasses functioned as connecting media between outer and inner building. In achieving the energy saver based on Green Building rules, Passive Design Strategy is applied that is by Facade Modification. One of the materials used is glasses as the outer skin. According to Widodo (2016: 23), the comfortable room temperature is between 25 – 280C. From the average temperature calculation at the Psychology Faculty at noon is above 290C, or it exceeds the normal temperature, although it has used double skin façade. Therefore, after measuring by using One Way ANOVA method, it shows that double skin façade glass on that building temperature is significantly decreased although it has not achieved the standard of comfortable room.Keywords: Double Skin Façade, Green Building, Heat SaverAbstrak: Penggunaan material kaca pada dinding bangunan memberikan kenyamanan psikologis karena menjadi media penghubung antara lingkungan luar dan dalam bangunan. Dalam Mencapai Penghematan Energi Sesuai Dengan Kaidah Green Building, dilakukan Strategi Desain Pasif, yakni melalui Modifikasi Façade. Salah satu material yang dapat digunakan adalah kaca sebagai outer skin. Menurut Widodo (2016: 23), suhu ruangan yang nyaman yakni berkisar antara 25-28oC. Dari hasil pengukuran suhu pada siang hari yaitu suhu rata rata ruangan pada Gedung Fakultas Psikologi diatas 29oc, diatas standar suhu ruang yang nyaman walaupun sudah menggunakan double skin façade. Setelah dilakukan perhitungan dan pengujian menggunakan metode One Way ANOVA diketahui bahwa double skin façade kaca pada Gedung tersebut cukup signifikan dalam menurunkan suhu ruangan meskipun masih belum dalam mencapai standart kenyamanan ruang yang ditentukan.Kata Kunci: Double Skin Facade, Green Building, Enegi Pana
KAJIAN KAWASAN PUSAKA NIAGA DI SURAKARTA (Studi Kasus: Kawasan Pecinan sekitar Pasar Gede)
Abstract: The term "commercial heritage area" represents a novel approach in the preservation of historic commercial districts within Indonesian heritage cities. Derived from the United States' Main Street Program, this concept aims to revitalize abandoned historic city centers by focusing on design, organization, promotion, and economic vitality. The success of the Main Street Program can be adapted to the Indonesian context while considering local nuances. This study investigates the Chinatown area around Pasar Gede, examining its current state through the lens of the four key aspects of the Main Street Program. This research uses a descriptive-qualitative method from a case study. The results of this research are explorations of the existing conditions of building facades, architectural styles, historical significance, and street furniture in relation to the design aspects; community dynamics and inter-community relationships regarding the organization aspects; events and celebrations for the promotion aspects; and the economic landscape concerning the economic vitality. The findings aim to serve as a guideline for preserving the Chinatown area around Pasar Gede as a commercial heritage area in Surakarta. Keyword: commercial heritage area, heritage cities preservation, chinatown in pasar gede Abstrak: Kawasan pusaka niaga merupakan istilah baru dalam pelestarian kota pusaka yang berfokus pada pelestarian suatu kawasan komersial bersejarah di kota pusaka di Indonesia. Istilah kawasan pusaka niaga ini diadopsi dari Program Main Street dari Amerika Serikat yang bertujuan untuk menghidupkan kembali pusat kota bersejarah yang ditinggalkan penduduknya. Aspek penting pada program ini meliputi desain, organisasi, promosi, dan vitalitas ekonomi. Keberhasilan Program Main Street dapat diimplementasikan di Indonesia dengan tetap memperhatikan konteks lokal yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi kondisi eksisting kawasan pecinan sekitar Pasar Gede saat ini berdasarkan empat aspek Program Main Street. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualititatif dari studi kasus. Hasil dari penelitian berupa eksplorasi kondisi eksisting di setiap aspek mulai dari kondisi fasad bangunan, corak arsitektur, sejarah kawasan, dan furnitur jalan pendukung untuk aspek desain, komunitas dan hubungan antar komunitas di kawasan untuk aspek organisasi, acara dan perayaan di kawasan untuk aspek promosi, dan kondisi perekonomian di kawasan untuk aspek vitalitas ekonomi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman untuk pelestarian kawasan pecinan sekitar Pasar Gede sebagai kawasan pusaka niaga di Surakarta.Kata Kunci: kawasan pusaka niaga, pelestarian kota pusaka, pecinan pasar ged
IDENTIFIKASI HUBUNGAN ANTARA KEBERADAAN PERMUKIMAN KUMUH DAN TINGKAT AKSESIBILITAS JALAN DI KOTA BANDUNG (MENGGUNAKAN METODE SPACE SYNTAX)
Abstract: As a metropolitan capital, Bandung City is inseparable from the challenges of urbanization which in turn creates slums. Residents of slum areas tend to choose to walk, use motorbikes and public transportation to mobilize. However, this is not offset by the provision of good vehicle and pedestrian paths. Slum settlements have poor road service coverage and quality, thereby reducing the ease of movement for people. Accessibility in both motorized and non-motorized-based transportation is an important component. In the Bandung City, vehicle and pedestrian routes with good service coverage and quality are only concentrated in the city center. This results in an imbalance where certain groups that are spatially in the slum area are not served by transportation services. This study aims to determine the relationship between the existence of slum settlements and the level of road accessibility in terms of space syntax assessment dimensions. This type of research is descriptive with a quantitative and qualitative method approach. This study uses the space syntax and the Pearson correlation test method. The results showed that road accessibility variables that have a fairly strong correlation with slum settlements are local integration (R5) and global integration variables.Keyword: space syntax; slum settlement; accessibilityAbstrak: Sebagai ibukota metropolitan, Kota Bandung tidak terlepas dari tantangan urbanisasi yang pada akhirnya menciptakan permukiman kumuh. Penduduk kawasan kumuh cenderung memilih untuk berjalan kaki, menggunakan sepeda motor, dan angkutan umum untuk bermobilisasi. Namun, hal ini tidak diimbangi dengan penyediaan jalur kendaraan dan pejalan kaki yang baik. Permukiman kumuh memiliki cakupan pelayanan jalan dan kualitas yang buruk sehingga mengurangi kemudahan masyarakat dalam melakukan pergerakan. Aksesibilitas dalam transportasi baik berbasis motorized maupun non-motorized merupakan komponen yang penting. Di kota Bandung, jalur kendaraan dan pejalan kaki dengan cakupan pelayanan dan kualitas yang baik hanya terkonsentrasi di pusat kota. Hal tersebut mengakibatkan adanya ketimpangan dimana kelompok tertentu yang secara spasial berada di lingkungan permukiman kumuh tidak terlayani oleh layanan transportasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keberadaan dari permukiman kumuh dan tingkat aksesibilitas jalan yang ditinjau dari dimensi penilaian space syntax. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan metode kuantitatif dan kualitatif. Metode analisis yang digunakan yaitu space syntax dan uji korelasi pearson. Hasil penelitian menunjukkan variabel aksesibilitas jalan yang memiliki korelasi cukup kuat dengan permukiman kumuh yaitu variabel local integration (R5) dan global integration.Kata Kunci: space syntax; permukiman kumuh; aksesibilita
PERANCANGAN PUSAT PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN INDIVIDU AUTIS DI BERBASIS LINGKUNGAN ARSITEKTUR MULTISENSORI DI KOTA SEMARANG
Abstract: In the city of Semarang, there are many therapy facilities for autistic individuals that are part of a central health facility such as a hospital or are located in a single building, but the author considers the infrastructure to be less than representative. Also with the characteristics of the rooms provided, which often causes clients to be less focused on the material and less relaxed. The aim of this research is to obtain a conclusion about how the influence of multisensory architecture-based design is able to optimize therapy activities and development of autistic individuals. The theoretical basis used is multisensory architectural design and other aspects related to this. The research method used is through data collection in the form of literature studies through previous sources and precedent studies, design approaches, data analysis, then the entire method is formulated into a design synthesis which will become the design concept. The design concept consists of three parts, namely, land design concept, architectural design and landscape design. The principle of multisensory architectural design which is realized in an environment/built area in one location, which is supported by aspects of inclusivity, is the basic basis for building design which accommodates various kinds of activities for autistic individuals.Keyword : Autism, Multisensory Architecture, TherapyAbstrak: Di Kota Semarang, banyak dijumpai fasilitas terapi individu autis yang menjadi satu bagian dengan pusat fasilitas kesehatan seperti rumah sakit maupun berada pada bangunan tunggal, namun secara prasarana penulis anggap kurang representatif. Juga dengan karakteristik ruangan-ruangan yang disediakan, yang tidak jarang menyebabkan klien kurang fokus terhadap materi dan kurang rileks. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan suatu kesimpulan bagaimana pengaruh perancangan berbasis arsitektur multisensori, mampu mengoptimalkan kegiatan terapi dan pengembangan individu autis. Landasan teori yang digunakan adalah perancangan arsitektur multisensori dan aspek lainnya yang berkaitan dengan hal tersebut. Metode penelitian yang digunakan yaitu melalui pengumpulan data berupa kajian literatur melalui sumber – sumber terdahulu maupun studi preseden , pendekatan desain, analisa data, yang kemudian keseluruhan metode tersebut dirumuskan menjadi suatu sintesa desain yang akan menjadi konsep perancangan. Konsep desain terdiri dari tiga bagian yaitu, konsep perancangan lahan, perancangan arsitektur dan perancangan lansekap. Prinsip perancangan arsitektur multisensori yang diwujudkan dalam suatu lingkungan / Kawasan binaan dalam satu lokasi, yang ditunjang dengan aspek inklusivitas menjadi landasan dasar desain bangunan yang didalamnya mengakomodir berbagai macam kegiatan bagi individu autis.Kata Kunci : Autisme, Arsitektur Multisensori, Terap
KRITERIA DESAIN PADA PERANCANGAN PUSAT PEDAGANG KAKI LIMA BERDASARKAN AKTIVITASNYA DI PUSAT KOTA JEPARA
Abstract: Almost every city in Indonesia experiences a dualistic condition where the formal and informal sectors are interconnected. Street vendors often create a dilemma for city governments. Its existence is believed to improve the city's economy, but on the other hand it often damages the city's public space. This phenomenon certainly needs special attention by involving and handling street vendors in design and policy seriously. So, this research aims to identify the characteristics, behavior and needs of street vendors in their activities so that they can be used as a reference in determining design criteria for the street vendor center in Jepara. The approach used is a qualitative approach with descriptive methods and data collection techniques based on field observations supported by literature study. The results obtained showed that street vendors' activities including their behavior and characteristics were influenced by trading times in the morning, afternoon and evening which were adjusted to the location's crowds. Apart from that, the main characteristic of street vendors in Jepara is their flexible and dynamic spatial nature. Apart from characteristics, the design criteria for designing a street vendor center are also greatly influenced by site selection and local building regulationsKeyword: Street Vendors, Activities, Jepara City CenterAbstrak: Hampir di setiap kota di Indonesia mengalami kondisi dualistik dimana adanya sektor formal dan informal saling bersinggungan. PKL sering menimbulkan kondisi dilematis bagi pemerintah kota. Keberadaannya diyakini menaikkan ekonomi kota, namun di sisi lain kerapkali mencacati ruang publik kota. Fenomena ini tentunya perlu mendapatkan perhatian khusus dengan melibatkan dan menangani PKL dalam perancangan dan kebijakan secara serius. Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik, perilaku dan kebutuhan PKL dalam aktivitasnya untuk dapat dijadikan acuan dalam penentuan kriteria perancangan pada pusat PKL di Jepara. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan teknik pengumpulan datanya berdasarkan pengamatan lapangan yang didukung dengan studi pustaka. Didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa aktivitas PKL yang mencakup perilaku dan karakteristiknya dipengaruhi oleh waktu berdagang baik pagi, siang dan malam yang disesuaikan dengan keramaian lokasi. Selain itu karakteristik utama PKL di Jepara mengarah pada sifat keruangan yang fleksibel dan dinamis. Selain karakteristik, kriteria desain pada perancangan pusat PKL juga sangat dipengaruhi oleh pemilihan tapak, peraturan bangunan setempat.Kata Kunci: Pedagang Kaki Lima, Aktivitas, Pusat Kota Jepar