E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
861 research outputs found
Sort by
OPTIMALISASI POLA PENATAAN RUANG PADA PASAR TRADISIONAL GEMPOLKEREP, KABUPATEN MOJOKERTO
Abstract: This research is motivated by the condition of Pasar Gempolkerep which affects the productivity of buying and selling transaction activities in it which has an impact on the economy of Gempolkerep Village and its surroundings. The muddy conditions, the irregular position of the traders' kiosks, the location of the market at the entrance to the village make the face of the village look shabby and the buying and selling transactions in it are uncomfortable and irregular. These problems occur due to the confusion of the spatial division zone. Article 28 I paragraph (3) and Article 32 paragraph (1) of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia explain that traditional markets are a reflection of local wisdom and part of Indonesian national culture that must be preserved. The existence of the market is very vital for the economic joints of Gempolkererep Village and its surroundings. Most residents depend on their economy on this village market. Because of its very vital function, the village government makes the management of this market a priority, including its arrangement. According to Ching (1996) spatial planning patterns are spatial arrangements that are related to each other according to function, proximity, or circulation flow so that they are organized into spatial patterns that are closely related to each other or coherent. If the spatial pattern or spatial zone is considered appropriate, then the productivity of the community engaged in activities in it will be guaranteed and of course this will have a positive impact on the economy of Gempolkerep Village and its surroundings. The purpose of this study is to evaluate the existing spatial pattern so that it can later produce the right spatial zone for Pasar Gempolkerep. This study uses a method with a qualitative category through location surveys and literature studies. From this study, it is hoped that the spatial zone of Pasar Gempolkerep will be organized so that the productivity of economic activities in it increases and creates better market conditions.
Keyword: spatial pattern, traditional market, dry zone, wet zone
Abstrak: Penelitian ini dilatar belakangi oleh kondisi pasar Gempolkerep yang mempengaruhi produktifitas kegiatan transaksi jual beli didalamnya yang mana berdampak pada ekonomi Desa Gempolkerep dan sekitarnya. Kondisi becek, tak teraturnya posisi kios pedagang, letak pasar pada jalan masuk desa menjadikan wajah desa menjadi kumuh serta transaksi jual beli didalamnya tidak nyaman dan tidak teratur. Permasalahan tersebut terjadi akibat rancunya zona pembagian ruang. Pasal 28 I ayat (3) dan pasal 32 ayat (1) UUD Republik Indonesia Tahun 1945 menjelaskan bahwa pasar tradisional merupakan gambaran kearifan lokal dan bagian dari kebudayaan nasional Indonesia yang harus dilestarikan. Keberadaan pasar sangat vital bagi sendi perekonomian Desa Gempolkererep dan sekitar. Sebagian besar warga menggantungkan perekonomiannya pada pasar desa ini. Karena fungsinya yang sangat vital maka pemerintah desa menjadikan pengelolaan pasar ini prioritas, termasuk segi penataannya. Menurut Ching (1996) pola tata ruang adalah susunan ruang yang memiliki kaitan satu dengan lainnya menurut fungsi, kedekatan, atau alur sirkulasi sehingga terorganisir menjadi pola – pola bentuk ruang yang berkaitan erat satu sama lain atau koheren. Apabila pola tata ruang atau zona ruang dinilai sudah tepat, maka produktifitas masyarakat yang berkegiatan di dalamnya akan terjamin dan tentu hal tersebut akan memberikan dampak positif bagi perekonomian Desa Gempolkerep dan sekitar. Tujuan diadakannya penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi pola tata ruang yang ada agar nantinya dapat menghasilkan zona ruang yang tepat bagi Pasar Gempolkerep. Penelitian ini menggunakan metode dengan kategori kualitatif melalui survei lokasi dan studi literatur. Dari penelitian ini diharapkan zona ruang Pasar Gempolkerep tertata sehingga produktifitas kegiatan ekonomi di dalamnya meningkat dan menciptakan kondisi pasar lebih baik.
Kata Kunci: pola tata ruang, pasar tradisional, zona kering, zona basahPenelitian ini dilatar belakangi oleh kondisi pasar Gempolkerep yang mempengaruhi produktifitas kegiatan transaksi jual beli didalamnya yang mana berdampak pada ekonomi Desa Gempolkerep dan sekitarnya. Kondisi becek, tak teraturnya posisi kios pedagang, letak pasar pada jalan masuk desa menjadikan wajah desa menjadi kumuh serta transaksi jual beli didalamnya tidak nyaman dan tidak teratur. Permasalahan tersebut terjadi akibat rancunya zona pembagian ruang. Pasal 28 I ayat (3) dan pasal 32 ayat (1) UUD Republik Indonesia Tahun 1945 menjelaskan bahwa pasar tradisional merupakan gambaran kearifan lokal dan bagian dari kebudayaan nasional Indonesia yang harus dilestarikan. Keberadaan pasar sangat vital bagi sendi perekonomian Desa Gempolkererep dan sekitar. Sebagian besar warga menggantungkan perekonomiannya pada pasar desa ini. Karena fungsinya yang sangat vital maka pemerintah desa menjadikan pengelolaan pasar ini prioritas, termasuk segi penataannya. Menurut Ching (1996) pola tata ruang adalah susunan ruang yang memiliki kaitan satu dengan lainnya menurut fungsi, kedekatan, atau alur sirkulasi sehingga terorganisir menjadi pola – pola bentuk ruang yang berkaitan erat satu sama lain atau koheren. Apabila pola tata ruang atau zona ruang dinilai sudah tepat, maka produktifitas masyarakat yang berkegiatan di dalamnya akan terjamin dan tentu hal tersebut akan memberikan dampak positif bagi perekonomian Desa Gempolkerep dan sekitar. Tujuan diadakannya penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi pola tata ruang yang ada agar nantinya dapat menghasilkan zona ruang yang tepat bagi Pasar Gempolkerep. Penelitian ini menggunakan metode dengan kategori kualitatif melalui survei lokasi dan studi literatur. Dari penelitian ini diharapkan zona ruang Pasar Gempolkerep tertata sehingga produktifitas kegiatan ekonomi di dalamnya meningkat dan menciptakan kondisi pasar lebih baik
TINGKAT WALKABILITY PADA KORIDOR JALAN DANAU TAMBLINGAN, KELURAHAN SANUR, KOTA DENPASAR
Abstract: This study aims to analyze the level of walkability of pedestrian pathways (sidewalks) based on the Global Walkability Index (GWI) and to analyze the gap between user perception and expectation in the Jalan Danau Tamblingan corridor. The research object is the pedestrian pathway of Jalan Danau Tamblingan, and the subjects are its users. The methods used include the analysis of the GWI walkability level through field observation and a gap analysis of perception using a Likert-scale questionnaire. Sampling was conducted using a non-probability sampling technique of the accidental sampling type, involving a total of 99 respondents. The results show that the walkability level of Jalan Danau Tamblingan is classified as low to moderate. Although sidewalks are available, the low GWI score is primarily caused by a total failure in disability accessibility (identified as the most critical weakness), as well as high conflict with vehicles and inconsistent physical obstructions along the corridor. Significant improvement in walkability (to achieve a high GWI score) necessitates serious intervention in infrastructure repair and the implementation of universal design. The analysis of the perception and expectation gap also provides a guide for prioritizing the interventions most needed by users.
Keyword: Walkability, Perception, Expectation.
Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat walkability jalur pejalan kaki (trotoar) berdasarkan Global Walkability Index (GWI) dan menganalisis kesenjangan (gap) antara persepsi dan harapan pengguna di koridor Jalan Danau Tamblingan. Objek penelitian adalah jalur pejalan kaki Jalan Danau Tamblingan, dengan subjek penelitian adalah penggunanya. Metode yang digunakan mencakup analisis tingkat walkability GWI melalui observasi lapangan dan analisis gap persepsi menggunakan kuesioner berskala Likert. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non-probability sampling jenis accidental sampling dengan total 99 responden. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat walkability Jalan Danau Tamblingan tergolong rendah hingga sedang. Meskipun trotoar tersedia, skor rendah GWI disebabkan oleh kegagalan total dalam aksesibilitas disabilitas (menjadi kelemahan paling kritis), serta konflik tinggi dengan kendaraan dan hambatan fisik yang inkonsisten di sepanjang koridor. Peningkatan signifikan walkability (mencapai skor GWI tinggi) memerlukan intervensi serius pada perbaikan infrastruktur dan penerapan desain universal. Analisis gap persepsi dan harapan juga dapat memberikan panduan untuk memprioritaskan intervensi yang paling dibutuhkan pengguna.
Kata Kunci: Walkability, Harapan, Persepsi.
Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat walkability jalur pejalan kaki (trotoar) berdasarkan Global Walkability Index (GWI) dan menganalisis kesenjangan (gap) antara persepsi dan harapan pengguna di koridor Jalan Danau Tamblingan. Objek penelitian adalah jalur pejalan kaki Jalan Danau Tamblingan, dengan subjek penelitian adalah penggunanya. Metode yang digunakan mencakup analisis tingkat walkability GWI melalui observasi lapangan dan analisis gap persepsi menggunakan kuesioner berskala Likert. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non-probability sampling jenis accidental sampling dengan total 99 responden. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat walkability Jalan Danau Tamblingan tergolong rendah hingga sedang. Meskipun trotoar tersedia, skor rendah GWI disebabkan oleh kegagalan total dalam aksesibilitas disabilitas (menjadi kelemahan paling kritis), serta konflik tinggi dengan kendaraan dan hambatan fisik yang inkonsisten di sepanjang koridor. Peningkatan signifikan walkability (mencapai skor GWI tinggi) memerlukan intervensi serius pada perbaikan infrastruktur dan penerapan desain universal. Analisis gap persepsi dan harapan juga dapat memberikan panduan untuk memprioritaskan intervensi yang paling dibutuhkan pengguna.
Kata Kunci: Walkability, Harapan, Persepsi
TRANSFORMASI PERUBAHAN BENTUK RUMAH TINGGAL ARSITEKTUR BETAWI PINGGIRAN DI DEPOK
Abstract: Since the establishment of Jakarta (formerly Batavia), the coastal area, specifically at the mouth of the Ciliwung River, has been the birthplace of the Betawi ethnic. Rapid development has caused the Betawi people to gradually shift and choose to settle on the outskirts of Jakarta, one of which is Depok. As a result, Depok has become increasingly socially and culturally integrated with Jakarta, giving rise to the Betawi people of Depok known as the Betawi Pinggiran. This study aims to explore the characteristics of Betawi architecture that have transformed and adapted in the outskirts of Jakarta, while still retaining its local values. The method used in this study is a qualitative descriptive method, which involves studying and conducting direct observations of the physical characteristics of Betawi Pinggiran, based on literature studies of the mass & spatial layout, architectural elements, and construction structures of Betawi Pinggiran house objects in Depok. The result shows that the physical characteristics of Betawi houses in Betawi Pinggiran houses are somewhat influenced by Sundanese architecture, particularly in the use of materials and house shapes. This is still represented in the selected research objects, as seen in the use of gable roofs with serondoyan, umpak foundation structure, the use of gedhek, krepyak doors and krepyak windows, langkan, gigi balang, and balaksuji or gelodog stairs, which typically consist of no more than three steps. In some of the remaining Betawi Pinggiran houses, these features are gradually being abandoned with only minor modifications to the carvings, these modifications can be seen in ornaments such as doors, windows, air vents, gigi balang, and langkan.
Keyword: Betawi Houses, Physical Characteristics, Betawi Pinggiran, Depok
Abstrak: Sejak awal berdirinya Jakarta (dahulunya Batavia), wilayah pesisir tepatnya di daerah muara Sungai Ciliwung merupakan wilayah cikal bakal etnis Betawi bermula. Pesatnya pembangunan, menyebabkan masyarakat Betawi perlahan tergeser dan memilih untuk menetap di pinggiran kota Jakarta, salah satunya Depok. Sehingga, Depok secara sosial budaya semakin terinklusi dengan Jakarta, yang kemudian melahirkan orang Betawi Depok sebagai generasi Betawi Pinggiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakteristik arsitektur Betawi yang bertransformasi dan beradaptasi di wilayah pinggiran Jakarta dengan tetap mengandung nilai lokalitas. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif dengan mempelajari dan melakukan pengamatan atau observasi langsung terhadap karakteristik fisik Betawi Pinggiran berdasarkan studi literatur bentuk massa dan tata ruang, elemen arsitektural dan struktur konstruksi, pada objek rumah Betawi Pinggiran di Depok. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa penerapan karakteristik fisik rumah Betawi pada rumah Betawi Pinggiran, sedikit banyak dipengaruhi oleh arsitektur Sunda, terutama dalam penggunaan bahan material dan bentuk rumah. Hal tersebut masih terwakilkan pada objek penelitian terpilih, terlihat dari penggunaan atap pelana dengan serondoyan, struktur pondasi umpak, penggunaan gedhek, pintu dan jendela krepyak, langkan, gigi balang dan tangga balaksuji atau gelodog yang tidak lebih dari 3 anak tangga. Namun keberadaannya pada rumah tinggal sesungguhnya sudah mulai ditinggalkan, pada beberapa rumah tinggal Betawi Pinggiran yang masih tersisa, hanya dapat dijumpai beberapa modifikasi bentuk ukiran pada ornamen di pintu, jendela, lubang angin dan juga langkan.
Kata Kunci: Rumah Betawi, Karakteristik Fisik, Betawi Pinggiran, DepokSejak awal berdirinya Jakarta (dahulunya Batavia), wilayah pesisir tepatnya di daerah muara Sungai Ciliwung merupakan wilayah cikal bakal etnis Betawi bermula. Pesatnya pembangunan, menyebabkan masyarakat Betawi perlahan tergeser dan memilih untuk menetap di pinggiran kota Jakarta, salah satunya Depok. Sehingga, Depok secara sosial budaya semakin terinklusi dengan Jakarta, yang kemudian melahirkan orang Betawi Depok sebagai generasi Betawi Pinggiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakteristik arsitektur Betawi yang bertransformasi dan beradaptasi di wilayah pinggiran Jakarta dengan tetap mengandung nilai lokalitas. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif dengan mempelajari dan melakukan pengamatan atau observasi langsung terhadap karakteristik fisik Betawi Pinggiran berdasarkan studi literatur bentuk massa dan tata ruang, elemen arsitektural dan struktur konstruksi, pada objek rumah Betawi Pinggiran di Depok. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa penerapan karakteristik fisik rumah Betawi pada rumah Betawi Pinggiran, sedikit banyak dipengaruhi oleh arsitektur Sunda, terutama dalam penggunaan bahan material dan bentuk rumah. Hal tersebut masih terwakilkan pada objek penelitian terpilih, terlihat dari penggunaan atap pelana dengan serondoyan, struktur pondasi umpak, penggunaan gedhek, pintu dan jendela krepyak, langkan, gigi balang dan tangga balaksuji atau gelodog yang tidak lebih dari 3 anak tangga. Namun keberadaannya pada rumah tinggal sesungguhnya sudah mulai ditinggalkan, pada beberapa rumah tinggal Betawi Pinggiran yang masih tersisa, hanya dapat dijumpai beberapa modifikasi bentuk ukiran pada ornamen di pintu, jendela, lubang angin dan juga langka
ANALISIS KUALITAS KENYAMANAN JALUR PEDESTRIAN DI KAWASAN WISATA SANUR DENPASAR
Abstract : This study analyzes the quality of pedestrian comfort in the Sanur Tourism Area, Denpasar, where pedestrian paths play an important role in supporting tourism activities, social interaction, and public mobility. The purpose of this research is to evaluate the quality of pedestrian comfort and identify the factors influencing user comfort along the Sanur coastal pedestrian corridor. This study employed a qualitative descriptive approach through field observations and visual documentation conducted along a 5.8 km pedestrian corridor divided into four segments. The analysis was based on eight comfort aspects, namely circulation, climate, noise, odor, form, safety, cleanliness, and aesthetics. The results show that the level of comfort varies between segments. Segment 2 demonstrates the highest comfort level due to well-organized circulation, adequate shading, good safety, cleanliness, and strong visual aesthetics. Segments 1 and 4 show moderate comfort levels influenced by high tourist activity and coastal environmental factors. Segment 3 exhibits the lowest comfort level due to limited shading, sand intrusion, unclear circulation separation, low lighting, and weak visual elements. The findings indicate that pedestrian comfort in coastal tourism areas is influenced not only by natural beauty but also by proper spatial organization and facility managementKeyword: Pedestrian Path, Comfort, Sanur Tourism Area
Abstrak: Penelitian ini menganalisis kualitas kenyamanan jalur pedestrian di Kawasan Wisata Sanur, Denpasar, yang berperan penting dalam menunjang aktivitas wisata, interaksi sosial, dan mobilitas masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kualitas kenyamanan jalur pedestrian serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kenyamanan pengguna di sepanjang koridor pedestrian Pantai Sanur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan dan dokumentasi visual pada jalur pedestrian sepanjang 5,8 km yang dibagi menjadi empat segmen. Analisis dilakukan berdasarkan delapan aspek kenyamanan, yaitu sirkulasi, iklim, kebisingan, aroma, bentuk, keamanan, kebersihan, dan estetika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kenyamanan berbeda pada setiap segmen. Segmen 2 memiliki tingkat kenyamanan paling optimal karena didukung sirkulasi yang tertata, peneduhan yang baik, keamanan, kebersihan, dan kualitas estetika yang tinggi. Segmen 1 dan Segmen 4 berada pada tingkat kenyamanan sedang, sedangkan Segmen 3 memiliki tingkat kenyamanan terendah akibat minimnya vegetasi peneduh, masuknya pasir ke jalur, rendahnya pencahayaan, serta keterbatasan elemen visual buatan. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa kenyamanan jalur pedestrian kawasan wisata dipengaruhi oleh faktor alam dan kualitas penataan ruang.Kata Kunci: Jalur Pedestrian, Kenyamanan, Wisata SanurPenelitian ini menganalisis kualitas kenyamanan jalur pedestrian di Kawasan Wisata Sanur, Denpasar, yang berperan penting dalam menunjang aktivitas wisata, interaksi sosial, dan mobilitas masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kualitas kenyamanan jalur pedestrian serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kenyamanan pengguna di sepanjang koridor pedestrian Pantai Sanur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan dan dokumentasi visual pada jalur pedestrian sepanjang 5,8 km yang dibagi menjadi empat segmen. Analisis dilakukan berdasarkan delapan aspek kenyamanan, yaitu sirkulasi, iklim, kebisingan, aroma, bentuk, keamanan, kebersihan, dan estetika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kenyamanan berbeda pada setiap segmen. Segmen 2 memiliki tingkat kenyamanan paling optimal karena didukung sirkulasi yang tertata, peneduhan yang baik, keamanan, kebersihan, dan kualitas estetika yang tinggi. Segmen 1 dan Segmen 4 berada pada tingkat kenyamanan sedang, sedangkan Segmen 3 memiliki tingkat kenyamanan terendah akibat minimnya vegetasi peneduh, masuknya pasir ke jalur, rendahnya pencahayaan, serta keterbatasan elemen visual buatan. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa kenyamanan jalur pedestrian kawasan wisata dipengaruhi oleh faktor alam dan kualitas penataan ruang.Kata Kunci: Jalur Pedestrian, Kenyamanan, Wisata Sanu
KAJIAN KARAKTERISTIK PEMBENTUK KENYAMANAN TERMAL PADA PASAR RAKYAT GIANYAR
Abstract: Traditional markets are public facilities that play an important role in supporting daily economic and social activities; therefore, thermal comfort within market buildings is an essential aspect that requires attention. In tropical humid regions such as Indonesia, high air temperature and relative humidity often lead to thermal discomfort in market buildings. This study aims to analyze the thermal comfort conditions of the Gianyar Traditional Market building and to evaluate its compliance with ASHRAE Standard 55-2017 and SNI 03-6572-2001. The research employed a quantitative method with a descriptive approach. Primary data were obtained through direct field measurements of thermal environmental parameters, including air temperature, relative humidity, air velocity, and mean radiant temperature, as well as questionnaires distributed to traders and visitors to assess thermal comfort perception. Thermal comfort analysis was conducted using the PMV Calculator V2 Modified to determine the Predicted Mean Vote (PMV) and Predicted Percentage of Dissatisfied (PPD) values. The results indicate that all floors of the Gianyar Traditional Market building fall within the neutral to slightly warm category and generally meet the comfort range specified by ASHRAE standards. User perception analysis shows that most traders and visitors feel comfortable performing their activities inside the market building. However, relative humidity levels on all floors exceed the recommended standard limits. Therefore, improvements in thermal comfort are required, particularly through humidity control strategies, such as the application of dehumidifiers and appropriate passive cooling systems that align with the characteristics of traditional market buildings.
Keyword: thermal comfort, traditional market, PMV, ASHRAE 55, SNI 03-6572-2001.
Abstrak: Pasar rakyat merupakan fasilitas publik yang memiliki peran penting dalam menunjang aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat, sehingga kenyamanan termal di dalamnya perlu mendapat perhatian. Pada wilayah beriklim tropis lembap seperti Indonesia, suhu dan kelembapan udara yang tinggi sering menimbulkan ketidaknyamanan termal pada bangunan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kenyamanan termal Gedung Pasar Rakyat Gianyar serta mengevaluasi kesesuaiannya terhadap standar ASHRAE Standard 55-2017 dan SNI 03-6572-2001. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Data primer diperoleh melalui pengukuran langsung parameter lingkungan termal yang meliputi suhu udara, kelembapan udara, kecepatan angin, dan temperatur radiasi, serta melalui kuesioner persepsi kenyamanan termal kepada pedagang dan pengunjung. Analisis kenyamanan termal dilakukan menggunakan PMV Calculator V2 Modified untuk memperoleh nilai Predicted Mean Vote (PMV) dan Predicted Percentage of Dissatisfied (PPD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh lantai Gedung Pasar Rakyat Gianyar berada pada kategori neutral hingga slightly warm dan secara umum masih termasuk dalam rentang kenyamanan menurut standar ASHRAE. Persepsi pengguna menunjukkan bahwa mayoritas pedagang dan pengunjung merasa nyaman beraktivitas di dalam gedung pasar. Namun demikian, parameter kelembapan udara pada seluruh lantai masih berada di atas batas standar yang ditetapkan. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kenyamanan termal melalui pengendalian kelembapan udara, antara lain dengan penggunaan dehumidifier dan sistem pendinginan pasif yang sesuai dengan karakteristik bangunan pasar rakyat.
Kata Kunci: kenyamanan termal, pasar rakyat, PMV, ASHRAE 55, SNI 03-6572-2001.
Pasar rakyat merupakan fasilitas publik yang memiliki peran penting dalam menunjang aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat, sehingga kenyamanan termal di dalamnya perlu mendapat perhatian. Pada wilayah beriklim tropis lembap seperti Indonesia, suhu dan kelembapan udara yang tinggi sering menimbulkan ketidaknyamanan termal pada bangunan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kenyamanan termal Gedung Pasar Rakyat Gianyar serta mengevaluasi kesesuaiannya terhadap standar ASHRAE Standard 55-2017 dan SNI 03-6572-2001. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Data primer diperoleh melalui pengukuran langsung parameter lingkungan termal yang meliputi suhu udara, kelembapan udara, kecepatan angin, dan temperatur radiasi, serta melalui kuesioner persepsi kenyamanan termal kepada pedagang dan pengunjung. Analisis kenyamanan termal dilakukan menggunakan PMV Calculator V2 Modified untuk memperoleh nilai Predicted Mean Vote (PMV) dan Predicted Percentage of Dissatisfied (PPD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh lantai Gedung Pasar Rakyat Gianyar berada pada kategori neutral hingga slightly warm dan secara umum masih termasuk dalam rentang kenyamanan menurut standar ASHRAE. Persepsi pengguna menunjukkan bahwa mayoritas pedagang dan pengunjung merasa nyaman beraktivitas di dalam gedung pasar. Namun demikian, parameter kelembapan udara pada seluruh lantai masih berada di atas batas standar yang ditetapkan. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kenyamanan termal melalui pengendalian kelembapan udara, antara lain dengan penggunaan dehumidifier dan sistem pendinginan pasif yang sesuai dengan karakteristik bangunan pasar rakyat.
Kata Kunci: kenyamanan termal, pasar rakyat, PMV, ASHRAE 55, SNI 03-6572-2001
SOSIALISASI HASIL PERENCANAAN TEKNIS JARINGAN DISTRIBUSI AIR BERSIH DESA CIPAGERAN, KOTA CIMAHI, JAWA BARAT
The availability of clean water is a crucial aspect of water security efforts to achieve national resilience. However, several regions in Indonesia still experience limited clean water supply in terms of quantity. Cipageran Village is one of the area that experienced limited clean water supply. Clean water distribution in the area is still inadequate. Therefore, residents of Cipageran Village drill wells to obtain clean water. Clean water sourced from these wells requires planning for distribution to residents' homes. Therefore, a technical plan for the clean water distribution network from the drilled wells to residents' homes is needed. The results of the technical planning for the clean water distribution network using the Epanet 2.2 software were then socialized to residents. In addition, the budget plan required to build the clean water distribution network was also delivered to residents. This socialization was expected to provide residents with the information needed to build a clean water distribution network from the drilled wells to residents' homes.Ketersediaan air bersih merupakan salah satu aspek penting dalam upaya ketahanan air dalam rangka mewujudkan ketahanan bangsa. Namun, terdapat beberapa daerah di Indonesia yang masih mengalami keterbatasan air bersih dari segi kuantitas. Salah satu daerah yang mengalami permasalahan tersebut adalah Desa Cipageran. Distribusi air bersih masih belum terpenuhi dengan baik di wilayah tersebut. Sehingga warga Desa Cipageran melakukan pengeboran sumur untuk mendapatkan sumber air bersih. Air bersih yang bersumber dari sumur tersebut membutuhkan suatu perencanaan terkait distribusi ke rumah warga. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu perencanaan teknis jaringan ditribusi air bersih dari sumur bor ke rumah warga. Hasil dari perencanaan teknis jaringan distribusi air bersih menggunakan Software Epanet 2.2 kemudian disosialisaikan kepada warga. Selain itu, rencana anggaran biaya (RAB) yang dibutuhkan untuk membangun jaringan distribusi air bersih juga disampaikan kepada warga. Sosialisasi ini diharapkan mampu memberikan informasi yang dibutuhkan oleh warga untuk membangun jaringan distribusi air bersih dari sumur bor ke rumah warga
PERAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM IMPLEMENTASI TOLERANSI SOSIAL MAHASISWA DI PERGURUAN TINGGI
This study aims to analyze the role of Civic Education in instilling values of tolerance among university students in a religiously and regionally homogeneous environment. Employing a descriptive qualitative approach using observation and documentation methods, the research was conducted on the 2022 cohort of the Informatics Engineering Study Program at UKRI. The findings indicate that the Civic Education course effectively fosters tolerant attitudes through learning outcomes that emphasize appreciation of diversity, national integration, and democratic culture. Although challenges persist, such as the perception of the course as a formality and limited interactive learning methods, strategies like multicultural discussions and social simulations have proven effective in internalizing tolerance values. These findings highlight the importance of contextual and inclusive curriculum design and campus policies in creating a harmonious academic environment rooted in national characterPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam menanamkan nilai-nilai toleransi di lingkungan mahasiswa perguruan tinggi yang homogen secara agama dan daerah asal. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode observasi, dan dokumentasi. Penelitian dilakukan terhadap mahasiswa Program Studi Teknik Informatika UKRI angkatan 2022. Hasil menunjukkan bahwa mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan mampu mendorong tumbuhnya sikap toleran melalui capaian pembelajaran yang menekankan penghargaan terhadap kebhinnekaan, integrasi nasional, dan budaya demokrasi. Meski masih terdapat hambatan dalam penerapan seperti persepsi formalitas dan metode pembelajaran yang minim interaksi, strategi seperti diskusi multikultural dan simulasi sosial terbukti efektif dalam menginternalisasi nilai toleransi. Temuan ini menegaskan pentingnya desain kurikulum dan kebijakan kampus yang kontekstual dan inklusif guna menciptakan ruang akademik yang harmonis dan berkarakter kebangsaa
P PENERAPAN SISTEM INFORMASI JALAN RAYA DALAM MENEGAKKAN BUDAYA DISIPLIN BANGSA
Highways are among the worst communication environments. Various incidents that indicate communication failure always occur. Highways are indeed not designed as communication spaces, but communication symbols are scattered. It takes understanding and a mature attitude from communicators and communicants because they communicate more predominantly using nonverbal communication. The goal is to understand the symbols that appear through vehicles. However, communication will turn bad when the other party misinterprets the symbol. Egotistical-subjective assumptions arise that provoke emotions until physical fights inevitably occur. In this regard, this study aims to determine the factors that change the perception of road users to cause communication failure. Using qualitative methods with descriptive analysis types to reveal the facts that occur. The results of the study indicate that negative communication occurs because the ability to control road users is loose and unable to avoid it when brought to an emotional atmosphere. Meanwhile, negative communication in the form of curses or dirty words is included in the vocabulary of words in the emotional mental scope.Jalan raya termasuk lingkungan komunikasi paling buruk. Berbagai kejadian yang menunjukkan kegagalan komunikasi selalu terjadi. Jalan raya memang tidak didesain sebagai ruang komunikasi, namun lambang-lambang komunikasi tertebar. Dibutuhkan pemaham dan sikap dewasa para komunikator dan komunikan karena mereka berkomunikasi yang lebih dominan menggunakan jenis komunikasi nonverbal. Sasarannya adalah memahami simbol-simbol yang dimunculkan melalui kendaraan. Namun komunikasi akan berubah buruk ketika pihak lain salah memaknai simbol. Muncul anggapan egoistis-subjektif yang memancing emosi hingga tak terelakan terjadi adu fisik. Berkenaan dengan itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mengubah persepsi pengguna jalan hingga menyebabkan terjadinya kegagalan komunikasi. Menggunakan metode kualitatif dengan jenis analisis deskriptif untuk mengungkap fakta yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya komunikasi negatif karena kemampuan pengendalian diri pengguna jalan lepas dan tidak mampu mengelak ketika dibawa pada suasana emosi. Sedangkan komunikasi negatif berupa makian ataupun kata-kata kotor termasuk ke dalam perbendaharaan kata-kata dalam lingkup mental emosional
IMPLEMENTASI ALGORITMA K-NEAREST NEIGHBOR DAN NAIVE BAYES DALAM MEMPREDIKSI STATUS SELEKSI PADA PPDB
Abstracts, This study aims to implement the K-Nearest Neighbor (KNN) and Naive Bayes algorithms to predict the selection status of New Student Admissions (PPDB) at the junior high school level in Cianjur Regency. PPDB is an annual agenda that plays a crucial role in determining the transition of students to higher education levels. However, the selection process often poses challenges, particularly due to limited information and subjectivity in decision-making by students and parents. This research adopts a quantitative approach by utilizing historical registration data from 20 public junior high schools in Cianjur Regency. The research procedure includes data collection, preprocessing, implementation of the KNN and Naive Bayes algorithms, and evaluation using the Confusion Matrix. The results indicate that both algorithms are capable of predicting students’ acceptance status through the zoning and achievement tracks with accuracy levels above 85%. Naive Bayes demonstrates advantages in computational efficiency, while KNN provides greater flexibility in handling variations in data. The developed prediction system is expected to assist students and parents in determining the most suitable school objectively and support schools and education authorities in providing data-driven recommendations. Furthermore, this study reinforces findings from previous research, emphasizing the potential of data mining as an effective approach to support educational selection processes and decision-making.Abstrak, Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan algoritma K-Nearest Neighbor (KNN) dan Naive Bayes dalam memprediksi status seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Cianjur. PPDB merupakan agenda tahunan yang penting dalam menentukan transisi pendidikan siswa ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, proses seleksi sering kali menimbulkan kendala, terutama karena keterbatasan informasi dan subjektivitas dalam pengambilan keputusan oleh calon siswa maupun orang tua. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data historis pendaftar dari 20 SMP Negeri di Kabupaten Cianjur. Proses penelitian meliputi tahap pengumpulan data, preprocessing, penerapan algoritma KNN dan Naive Bayes, hingga evaluasi menggunakan Confusion Matrix. Hasil implementasi menunjukkan bahwa kedua algoritma mampu memprediksi status diterima atau tidak diterimanya siswa melalui jalur zonasi dan jalur prestasi dengan tingkat akurasi di atas 85%. Naive Bayes memiliki keunggulan dari sisi kecepatan komputasi, sedangkan KNN unggul dalam fleksibilitas penanganan variasi data. Sistem prediksi yang dibangun diharapkan mampu membantu siswa dan orang tua dalam menentukan sekolah tujuan secara lebih objektif, serta menjadi alat bantu bagi pihak sekolah dan dinas pendidikan dalam memberikan rekomendasi berbasis data. Temuan penelitian ini juga memperkuat hasil studi terdahulu yang menegaskan potensi data mining sebagai pendekatan efektif dalam mendukung proses seleksi pendidikan.
 
PENGUATAN LEGALITAS PRODUK UMKM DESA PADAASIH MELALUI EDUKASI SERTIFIKASI HALAL
MSMEs have a strategic role in national economic development, but still face various challenges, especially in terms of legality and improving product quality. One aspect of legality that is important, but has not been widely accessed by MSMEs in Padaasih Village, West Bandung Regency, is halal certification. In fact, halal certification not only guarantees religious aspects, but also increases consumer confidence and product competitiveness in domestic and international markets. This community service activity aims to increase the understanding and capacity of MSME actors in the halal certification process and strengthening product quality through an educational and participatory approach. The activity was carried out at PKBM Bina Bangsa Berkarakter as a strategic local partner, involving 25 MSME players engaged in the food and beverage sector. Implementation methods include socialisation, simulation training for applying for halal certification, product quality training, and interactive discussions. The results of the activity showed a significant increase in participants' understanding of the procedures and benefits of halal certification. In addition, participants also gained basic skills in improving packaging and product quality according to food safety standards. The final evaluation showed that 92% of participants stated that the activity was very useful and encouraged their interest in taking care of product legality independently. This activity strengthens the role of PKBM as a community learning centre that can bridge MSMEs in accessing halal certification information and services.UMKM memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, namun masih menghadapi berbagai tantangan, khususnya dalam hal legalitas dan peningkatan kualitas produk. Salah satu aspek legalitas yang penting, namun belum banyak diakses oleh UMKM di Desa Padaasih, Kabupaten Bandung Barat, adalah sertifikasi halal. Padahal, sertifikasi halal tidak hanya menjamin aspek religius, tetapi juga meningkatkan kepercayaan konsumen dan daya saing produk di pasar domestik maupun internasional. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas pelaku UMKM dalam proses sertifikasi halal serta penguatan kualitas produk melalui pendekatan edukatif dan partisipatif. Kegiatan dilaksanakan di PKBM Bina Bangsa Berkarakter sebagai mitra lokal strategis, dengan melibatkan 25 pelaku UMKM yang bergerak di sektor makanan dan minuman. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan simulasi pengajuan sertifikasi halal, pelatihan mutu produk, serta diskusi interaktif. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta terkait prosedur dan manfaat sertifikasi halal. Selain itu, peserta juga mendapatkan keterampilan dasar dalam memperbaiki kemasan dan mutu produk sesuai standar keamanan pangan. Evaluasi akhir menunjukkan bahwa 92% peserta menyatakan kegiatan sangat bermanfaat dan mendorong minat mereka untuk mengurus legalitas produk secara mandiri. Kegiatan ini memperkuat peran PKBM sebagai pusat pembelajaran masyarakat yang dapat menjembatani UMKM dalam mengakses informasi dan layanan sertifikasi halal