E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
    861 research outputs found

    DESAIN RUANG ADAPTIF SEBAGAI RESPON KEBUTUHAN GAYA HIDUP MASYARAKAT MASA KINI PADA PERANCANGAN PUJASERA

    Get PDF
    Abstract: The culinary industry in Indonesia is increasing following developments in today's people's lifestyles, the popularity of food courts is also increasing and is available in public, educational and health facilities. Food courts are generally homogeneous and not adaptive considering the lifestyle and behavior of today's society. Adaptive architecture is responsive in presenting spatial and environmental aspects which can follow the lifestyle behavior of today's society. The adaptive food court design aims to present a functional space with informative circulation access to suit the lifestyle behavior of people who work anywhere and like something practical. The adaptive food court will be designed using a force based framework method. The force method begins by looking at issues related to the context of today's people's lifestyles, people's culture of behavior, and the need for an adaptive space that adapts to the needs of its users. Then it is processed by looking at the assets and constraints of the surrounding environment, responding to forces by arranging elements, re-confirming the adaptive aspects of the elements and then proposing a design. The design results produce fin-like openings on the facade as a marker of time. Space facilities are divided based on characteristics with elevation as a differentiator. Patterns on the floor as signs for circulation. Green open space as a means of relaxation and natural air circulation. Arrangement of furniture in space at a distance to maintain user privacy.Keyword: adaptive space, food court, lifestyleAbstrak: Industri kuliner di Indonesia semakin meningkat mengikuti perkembangan gaya hidup masyarakat masa kini, popularitas pujasera juga semakin meningkat dan tersedia pada fasilitas umum, pendidikan, hingga kesehatan. Pujasera pada umumnya bersifat homogen dan tidak adaptif melihat gaya hidup perilaku masyarakat masa kini. Arsitektur adaptif bersifat responsif menghadirkan spasial dan lingkungan yang dapat mengikuti perilaku gaya hidup masyarakat masa kini. Desain pujasera adaptif bertujuan untuk menghadirkan sebuah ruang yang fungsional dengan akses sirkulasi informatif menyesuaikan perilaku gaya hidup masyarakat yang bekerja dimana saja dan menyukai sesuatu yang praktis. Pujasera adaptif akan dirancang dengan metode kerangka kerja force based framework. Metode force dimulai dengan melihat isu terkait context gaya hidup masyarakat masa kini, culture perilaku masyarakat, dan needs sebuah ruang adaptif yang menyesuaikan kebutuhan penggunanya. Kemudian diproses dengan melihat asset dan constraint lingkungan sekitar, merespon force dengan menyusun elemen, memastikan kembali aspek adaptif pada elemen dan kemudian mengusulkan desain. Hasil perancangan menghasilkan bukaan seperti sirip pada fasad sebagai penanda waktu. Fasilitas ruang terbagi berdasarkan sifat dengan elevasi sebagai pembeda. Pola pada lantai sebagai tanda untuk sirkulasi. Ruang terbuka hijau sebagai sarana relaksasi dan sirkulasi udara alami.  Penataan furnitur pada ruang berjarak untuk menjaga privasi pengguna.Kata Kunci: gaya hidup, pujasera, ruang adaptifÂ

    PENGARUH PERMUKIMAN KUMUH PINGGIR SUNGAI TERHADAP KUALITAS VISUAL KOTA (STUDI KASUS SUNGAI SEMAGUNG WONOSOBO)

    Get PDF
    Abstract : The population increase that occurred in urban areas resulted in inadequate housing for people, especially people with lower middle class economies. This happens because of the lack of job opportunities and uncertain economic conditions so that people decide to build a residence in an inappropriate place, one of which is on the river bank.  Some of the houses and buildings that stand around the river are uninhabitable and rundown, apart from that, other buildings do not have an organized concept so that the buildings around the river have irregular patterns and layouts. This research was conducted using a qualitative descriptive method by collecting data through observing buildings around the river and extracting information from informants. The aim of this research is to find out the influence of the Semagung river on the visual quality of the city so that the research results show that the Semagung river has a significant impact on the beauty of the city due to the appearance of slum and disorganized buildings.Keywords: slum settlements, quality, city visualsAbstrak: Lonjakan penduduk yang terjadi di perkotaan mengakibatkan tidak terpenuhinya hunian bagi masyarakat khususnya masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah. hal ini terjadi karena kurangnya lapangan pekerjaan dan kondisi ekonomi yang tidak menentu sehingga masyarakat memutuskan untuk membuat suatu hunian di tempat yang tidak semestinya salah satunya adalah di pinggir sungai.  Rumah-rumah dan bangunan yang berdiri di sekitar sungai ini  beberapa tidak layak huni dan kumuh, selain itu bangunan lain tidak memiliki konsep yangb tertata sehingga bangunan-bangunan di sekitar sungai memiliki pola dan tata letak nyang tidak beraturan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptip kualitatif dengan cara pengumpulan data melalui pengamatan terhadap bangunan-bangunan sekitar sungai dan penggalian informasi kepada informan. Tujuan penelitian ini untuk menemukan pangaruh suangi Semagung terhadap kualitas visual Kota sehingga diperoleh hasil penelitian bahwa sungai Semagung memberikan dampak yang buruk pada keindahan kota yang diakibatkan oleh munculnya bangunan-bangunan kumuh dan tidak tertata.Kata Kunci: Permukiman Kumuh, Kualitas , Visual kot

    TATA NILAI KOMUNITAS SEBAGAI KOMPONEN UTAMA DALAM TRANSFORMASI FASAD PADA BANGUNAN CAGAR BUDAYA MASJID ANGKE JAKARTA

    Get PDF
    Abstract: Although the Angke Mosque is a cultural heritage building designated through the Decree of the Governor of the DKI Jakarta Provincial Government Number 1371 of 2019, in reality until now there have been changes in the shape of the building. This study aims to examine the concepts and values that are still believed in by the community that made changes to the shape of the mosque in relation to the context of cultural heritage buildings. The method used is quasi-qualitative based on the post-positivism paradigm. The observation unit is the building facade elements including stairs, doors, windows, walls, and roofs. The exploration of community values was carried out through interviews with several informants using a butterfly diagram. The study resulted in findings that the community still holds values as the basis for preserving buildings in the form of very strong ties to the shape of the facade components, especially the door and roof elements, so that it can be the basis for preserving the Angke Mosque as a cultural heritage building.Keywords: cultural heritage, concept, facade, mosque, communityAbstrak: Meskipun Masjid Angke merupakan bangunan cagar budaya yang ditetapkan melalui  SK Gubernur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Nomor 1371 Tahun 2019, pada kenyataannya sampai sekarang sudah mengalami perubahan-perubahan pada bentuk bangunannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep dan tata nilai yang masih diyakini oleh komunitas yang melakukan perubahan pada bentuk masjid dalam kaitannya dengan konteks bangunan cagar budaya. Metode yang digunakan adalah kuasi kualitatif yang dilandasi paradigma post positivism. Unit amatan adalah elemen fasad bangunan meliputi tangga, pintu, jendela, dinding, dan atap. Penggalian tata nilai komunitas dilakukan melalui wawancara terhadap beberapa informan dengan menggunakan diagram kupu-kupu. Penelitian menghasilkan temuan bahwa komunitas masih memegang tata nilai sebagai dasar pelestarian bangunan dalam bentuk ikatan yang sangat kuat terhadap bentuk komponen fasad khususnya pada elemen pintu, dan atap sehingga dapat menjadi dasar pelestarian Masjid Angke sebagai bangunan cagar budaya.Kata Kunci: cagar budaya, konsep, fasad, masjid, komunita

    KAJIAN SISTEM WAYFINDING DI JALAN ASIA AFRIKA BANDUNG

    Get PDF
    Abstract: Wayfinding is collecting information, determining and making decision about where to go and move through a space through mental map and object recognition (Dharmawan et al, 2021; Ninda H et al, 2020). The significance criteria of the wayfinding system are safety, a pleasant spatial experience and impact of commercial of a land value, the possibility for people returning back and how long they spending time in a public space (Symonds, 2018). Asia Afrika street  is the anchor for people’s activities in Bandung City. In unfamiliar space, we often faced the problem finding the destination. Particulary if the urban space is relatively hard to understand and legitimate due to unidentified as a distinctive character. This research aims to find out the knowledge of user’s wayfinding patterns when exploring Asia Afrika’s public open space by using a qualitative-exploratory approach. Data were collected by survey, observation, interview and identifying wayfinding objects along the research location.  Data was analyzed by using content analysis. Hopefully, this result  contributes  to urban planning in determining wayfinding elements,  imageable streetscape and accesible  for all users (walkable). Keyword: Wayfinding, walkable space, mental mapAbstrak: Wayfinding adalah proses pengumpulan data, penentuan dan pembuatan keputusan arah bergerak dalam suatu ruang melalui peta mental dan pengenalan objek (Dharmawan et al, 2021; Ninda H et al, 2020). Signifikansi kriteria sistem wayfinding adalah keselamatan, pengalaman spasial yang menyenangkan dan dampak komersial nilai lahan di suatu ruang publik (Symonds, 2018). Jalan Asia Afrika merupakan salah satu pusat aktivitas di Kota Bandung. Di ruang non familiar, manusia seringkali mengalami kesulitan dalam menemukan tujuan. Khususnyadi ruang publik yang relatif sulit dimengerti dan diidentifikasi karena karakternya yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk  untuk menemukan pengetahuan tentang pola wayfinding ketika mengeksplorasi ruang di Jalan Asia Afrika melalui pendekatan kualitatif – eksploratif. Pengumpulan data dilakukan melalui survey, observasi dan wawancara serta identifikasi objek – objek wayfinding di sepanjang lokasi penelitian. Data dianalisis dengan menggunakan analisis isi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam perencanaan elemen wayfinding, bentang jalan (streetscape) yang mudah dikenali,  aksesibel dan walkable untuk semua pengguna.Kata Kunci: wayfinding, ruang walkable, peta menta

    MEMAHAMI CITRA KOTA MENGGUNAKAN PENDEKATAN PEMAHAMAN BENTUK KOGNISI SPASIAL DAN PERSEPSI PENGAMATAN (STUDI KASUS: KOTA SURABAYA)

    Get PDF
    Identitas kota selayaknya sarat dengan nilai sejarah dari kota itu sendiri. Identitas kota yang dibentuk dengan terburu-buru hanya menghadirkan kepalsuan karena dipenuhi oleh manipulasi saja. Citra kota akan dapat mudah dipahami apabila disampaikan dalam bentuk spasial jika dibandingkan secara visual. Kota Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia, yang masuk administratif Provinsi Jawa Timur, dengan memiliki luas 374,1 km². Lanskap yang ditampilkan oleh Kota Surabaya cukup beragam. Beberapa objek-objek yang menjadi representatif dari citra Kota Surabaya di antaranya adalah Kawasan Patung Suro-Boyo, Kawasan Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Taman Bungkul, Kampung Bulak, Jalan Kembang Jepun, Kawasan Monumen Bambu Runcing, Food Junction Grand Pakuwon serta Hotel Majapahit. Identitas kota seharusnya berakar kuat pada nilai sejarahnya. Studi ini mengeksplorasi kognisi spasial dan persepsi citra kota Surabaya melalui pendekatan deskriptif kualitatif. Elemen-elemen kota, seperti landmark, path, node, edge, dan district yang membentuk citra kota secara kognitif akan diidentifikasi. Observasi lapangan mengungkapkan elemen-elemen ikonik seperti Patung Suro-Boyo, Tugu Pahlawan, dan Taman Bungkul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen-elemen ini berperan penting dalam mempertahankan identitas unik kota Surabaya di tengah modernisasi

    ATMOSFER SEBAGAI PEMBENTUK PENGALAMAN RUANG DI SENDANGSONO

    Get PDF
    Abstract: Sendangsono is one of the works that create an interesting space experience through the atmospheric space. This study tries to understand the atmosphere element of Sendangsono's space and how these elements create dialogue with human multisensory in creating spatial experience. This study found how spatial experience is built from strengthening the genius loci, the combination of spatial sequences and material uniqueness provides behavioral stimuli, as well as the mix between natural and natural elements. The dialogue between atmosphere element and human multisensory immerse user in explorative behavior and feelings of solemnity and relaxation.Keyword: Atmosphere, Spatial experience, Sendangsono, PhenomenologyAbstrak: Sendangsono merupakan salah satu karya yang menciptakan pengalaman ruang yang menarik melalui atmosfer ruang. Penelitian ini mencoba memahami atmosfer ruang Sendangsono serta bagaimana elemen tersebut berdialog dengan multisensori dalam membangun pengalaman ruang. Dalam penelitian ini ditemukan bagaimana pengalaman ruang dibangun dari penguatan genius loci, kombinasi sekuen ruang dan keunikan material yang menstimulus perilaku, serta bauran antara elemen natural dan alami. Dialog antara elemen arsitektural dan multisensori manusia mampu menghanyutkan pengguna pada perilaku eksploratif dan perasaan khidmat dan relaksasi.Kata Kunci: Atmosfer, Pengalaman ruang, Sendangsono, Fenomenolog

    PERGESERAN INDUSTRI KONVENSIONAL MENJADI GREEN INDUSTRI

    Get PDF
    Abstract: The concept of conventional industry, which is still managed traditionally, is that waste treatment is still managed individually and stops until the waste is disposed of in landfills. The location of the industrial area has also not been utilized properly so that it can increase income from the industry it produces. The eco-green industrial park concept, which has been widely implemented and developed in Europe, America, and Asia, offers a concept to improve industrial economic performance in an industrial area while minimizing the negative impact on the environment where the industry is located. The development of conventional industries into green industries is expected to reduce the potential for environmental damage and pollution arising from these industrial activities and can be minimized in proportion to the economic benefits obtained by the industry. The application of industrial concepts can be viewed from various aspects, namely the extent to which industrial activities can be integrated with natural systems, energy systems used, material flow and waste management in all industrial areas, water use, the effectiveness of industrial green management, material use, and building technology, as well as the extent of integration with the surrounding community.Keyword: Conventional, Green IndustryAbstrak: Konsep industri konvensional, yang dikelola secara tradisional, dimana pengolahan limbah dikendalikan secara individual serta berhenti sampai limbah tersebut dibuang di tempat pembuangan sampah. Lokasi area industri juga tidak dipilihkan secara benar sehingga kurang dapat meningkatkan pendapatan dari industri yang ada. Konsep eco-green industrial park, yang banyak diterapkan serta dikembangkan di Eropa, Amerika, serta Asia, menawarkan konsep meningkatkan kinerja ekonomi industri di area industri serta meminimalkan dampak negatif lingkungan. Perkembangan industri konvensional menjadi industri hijau diharapkan mampu mengurangi potensi kerusakan lingkungan serta polusi yang timbul dari kegiatan industri, serta diharapkan meningkatkan secara proporsional manfaat ekonomi dari industri tersebut. Aplikasi konsep industri dapat dilihat secara multi aspek, diantaranya sejauh mana kegiatan industri dapat diintegrasikan dengan sistem alam, sistem energi yang digunakan, aliran material serta pengelolaan limbah industri, penggunaan air, efektivitas manajemen hijau, bahan penggunaan, serta teknologi bangunan, serta integrasi dengan masyarakat sekitar.Kata Kunci: Konvensional, Industri Hija

    RATTAN CRAFTSMANSHIP CENTER AND WOODWORKING KABUPATEN CIREBON

    Get PDF
    Abstract: Local cultural assets include the cultural wealth of an area, both in physical and non-physical aspects that grow and develop from generation to generation. Craftsmanship tends to have a fairly broad exploration of ideas in making works or products of their creation. Rattan as a local product that has become part of the body of the people of Cirebon Regency, especially the Galmantro Rattan Tourism Village. The activities and potentials in this village seem to give a "soul" to Tegalwangi Village which is rarely owned by other villages. The potential of this activity finally gives identity to the area and buildings that are designed to use the “spirit of placeâ€as the  concept theme from this planning programming. This theme connected through the genius loci of local wisdom which has several basic materials to be connected to the design concept, namely Nusantara Architecture. Architecture Nusantara includes: The existence of a terrace / porch as a communal space. Rattan Craftsmanship Center and Woodworking West Java, especially Cirebon Regency, is planned by considering the local materials and values of Nusantara Architecture.Keyword: Craftsmanship, Rattan, Nusantara ArchitectureAbstrak: Aset budaya local termasuk kedalamnya ialah kekayaan budaya sebuah daerah, baik dalam aspek fisik maupun non-fisik yang tumbuh serta berkembang secara turun-temurun. Craftsmanship cenderung memiliki eksplorasi ide yang cukup luas dalam membuat karya atau produk ciptaanya. Rotan sebagai produk lokal yang telah menjadi bagian tubuh dari masyarakat Kabupaten Cirebon khususnya Kampung Wisata Rotan Galmantro. Aktivitas dan potensi di kampung ini seakan memberikan “jiwa†pada Desa Tegalwangi yang jarang dimiliki desa lain. Potensi dari kegiatan ini akhirnya memberikan identitas pada wilayah dan bangunan yang dirancang untuk menggunakan tema “spirit of placeâ€- nya dari kawasan ini. Tema ini kemudian terhubung melalui genius loci dari kearifan lokal budaya setempat yang memiliki beberapa material dasar untuk dapat dihubungkan kepada konsep perancangan, yakni Arsitektur Nusantara Arsitektur Nusantara diantaranya ialah : Adanya teras / serambi sebagai ruang yang dipakai secara komunal. Rattan Craftsmanship Center and Woodworking Jawa Barat, khususnya Kabupaten Cirebon, direncanakan dengan mempertimbangkan material dan nilai-nilai lokal Arsitektur Nusantara.Kata Kunci: Craftsmanship, Rotan, Arsitektur Nusantar

    KENYAMANAN TERMAL PADA PENGHUNI RUMAH PANGGUNG VERNAKULAR SUKU REJANG

    Get PDF
    Abstract: The house is a basic human need to survive and improve the physical and psychological characteristics of its inhabitants. The stilt house is one form of residential construction that has developed in various remote areas. Seeing the problems of existing conditions, the purpose of this study was to determine the performance of the facade cladding on several research samples using the simulation method. The method used is a quantitative method by collecting data on temperature, humidity and wind speed from ventilation openings, windows and doors. Data collection was carried out for 2 weeks in August 2022 with detailed measurements for 1 (one) day at 07.00, 12.00 and 17.00. For the Predicted Mean Vote (PMV) and Standard Effective Temperature (SET) values using the CBE Thermal Comfort Tool, which can be accessed online. Based on the results obtained, the two houses on stilts of the Rejang tribe in Gunung Alam Village have different opening capability values that affect the quality of lighting, ventilation, humidity, and comfort that enter the residential building. It is also known that clothing and activities of occupants' movements in the house affect the quality of thermal comfort of the occupants' bodies, therefore movement in the house creates a neutral and comfortable feeling.Keyword: CBE, PMV, SET, stilt house, vernacular Abstrak: Rumah merupakan kebutuhan pokok manusia untuk bertahan hidup dan meningkatkan sifat fisik dan psikis penghuninya. Rumah panggung merupakan salah satu bentuk konstruksi perumahan yang berkembang di berbagai daerah terpencil. Melihat permasalahan kondisi eksisting, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja cladding fasad pada beberapa sampel penelitian dengan menggunakan metode simulasi. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan mengumpulkan data suhu, kelembaban dan kecepatan angin dari bukaan ventilasi, jendela dan pintu. Pengumpulan data dilakukan selama 2 minggu pada bulan Agustus 2022 dengan rincian pengukuran selama 1 (satu) hari pada pukul 07.00, 12.00 dan 17.00. Untuk nilai Predicted Mean Vote (PMV) dan Standard Effective Temperature (SET) menggunakan CBE Thermal Comfort Tool yang dapat diakses secara online. Berdasarkan hasil yang diperoleh, kedua rumah panggung suku Rejang di Desa Gunung Alam mempunyai nilai kemampuan bukaan yang berbeda sehingga mempengaruhi kualitas penerangan, ventilasi, kelembapan, dan kenyamanan yang masuk ke dalam bangunan tempat tinggal. Diketahui juga bahwa pakaian dan aktivitas pergerakan penghuni dalam rumah mempengaruhi kualitas kenyamanan termal tubuh penghuninya, oleh karena itu pergerakan dalam rumah menimbulkan perasaan netral dan nyaman.Kata Kunci: CBE, PMV, SET, rumah panggung, vernakula

    PENGARUH KOMPLEKS WISATA SUNAN MURIA TERHADAP TATA RUANG DAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN

    Get PDF
    Abstract: The tourist area or Sunan Muria tourism complex is an area that is familiar to the community, especially the Muslim community. The Sunan Muria tourist complex is located in the northern part of Kudus Regency. Every day it is always busy with tourists both inside and outside the city. With the large number of visitors and the increasing development of this tourist area , it ultimately has several positive and negative impacts on the spatial and environtmental layout of the area. This research was carried out using a qualitative research methods with a descriptive method, namely  by digging to find out and then describing in detail the impacts that occur due to the existence of the Sunan Muria tourism area. The data collection technique used is by direct observations of the research object and conducting  interviews with informants,related from the results of observations and research, it shows that the  object and conducting existence of the Sunan Muria tourist complex has an impact on the environtment, namely the spatial layout of the tourist complex and local settlements has canged, the economy has improved, the visual quality of the buildings and so on.Keyword: Sunan Muria, Spatial, environtmentAbstrak: Kawasan wisata atau kompleks pariwisata Sunan Muria merupakan kawasan yang tidak asing lagi bagi masyarakat khususnya masyarakat muslim. Kompleks wisata Sunan Muria ini terletak di Kabupaten Kudus bagian utara, Kawaasan ini setiap harinya selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan baik dalam maupun luar kota. Dengan banyaknya pengunjung dan semakin berkembangnya Kawasan wisata ini akhirnya menimbulkan beberapa dampak baik positif maupun negatif bagi tata ruang dan lingkungan Kawasan tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode penelitian kualitatif dengan metode deskriptif yaitu dengan cara menggali mencari tahu kemudian mendeskripsikan secara rinci dampak-dampak yang terjadi akibat adanya Kawasan pariwisata Sunan Muria, Teknik pengumpualn data yang digunakan adalah dengan cara observasi langsung kepada obyek penelitian dan melakukan wawancara kepada informan terkait. Dari hasil observasi dan penelitian menunjukkan bahwa eksistensi kompleks wisata Sunan Muria memberikan dampak pada lingkungan yaitu, tata ruang komplek wisata dan permukiman setempat yang telah berubah, perekonomian yang meningkat, kualitas visual bangunan dan lain sebagainya.Kata Kunci: Sunan Muria, Tata Ruang, Lingkunga

    759

    full texts

    861

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Jurnal Universitas Kebangsaan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇