E-Jurnal Universitas Kebangsaan
Not a member yet
861 research outputs found
Sort by
the ANALISIS FAKTOR PENYEBAB LANGSUNG POTENSI KECELAKAAN KERJA DENGAN METODE EVENT AND CASUAL FACTOR ANALYSIS (ECFA) DAN FAULT TREE ANALYSIS (FTA) DI PT. SYGMA EXA GRAFIKA KOTA BANDUNG: ANALISIS FAKTOR PENYEBAB LANGSUNG POTENSI KECELAKAAN KERJA
Problems regarding Occupational Health and Safety often occur in industrial environments, especially in the printing industry. Implementation of Occupational Health and Safety (K3) is an effort to create a safe, comfortable working atmosphere and achieve the goal of highest productivity. Occupational Health and Safety (K3) is very important to implement because the implementation of Occupational Health and Safety (K3) can prevent and reduce the risk of accidents and illnesses resulting from work. The greater the worker's knowledge of the dangers of work accidents, the smaller the risk of work accidents. One of the methods applied in analyzing potential work accidents is the Event Casual and Fault Analysis (ECFA) and Fault Tree Analysis (FTA) methods. The results of the ECFA analysis are in the form of direct cause (direct cause), root cause (main cause), contribution cause (contributing cause) for each incident or potential work accident, as well as the results of the FTA analysis in the form of unsafe action (unsafe action) and unsafe condition (unsafe conditions) with the results of 12 unsafe actions and 7 unsafe conditions in the discovery of incidents or potential work accidents at PT. Sygma Exa Graphica Bandung City with a percentage of 63.16% and unsafe conditions with a percentage of 36.84% in the findings of potential work accidents.Permasalah mengenai Kesehatan dan Keselamatan Kerja sering terjadi di lingkungan industri khususnya di industri percetakan.Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan upaya untuk menciptakan suasana bekerja yang aman, nyaman dan mencapai tujuan yaitu produktivitas setinggi-tingginya. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) sangat penting untuk dilaksanakan karena penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dapat mencegah dan mengurangi resiko terjadinya kecelakaan maupun penyakit akibat melakukan kerja. Semakin besar pengetahuan pekerja akan bahaya kecelakaan kerja maka semakin kecil terjadinya resiko kecelakaan kerja. Salah satu metode yang diterapkan dalam menganalisis potensi kecelakaan kerja yaitu motode Event Casual and Fault Analysis (ECFA) dan Fault Tree Analysis (FTA). Hasil analisis ECFA berupa direct cause (penyebab langsung), root cause (penyebab utama), contribution cause (penyebab yang berkontribusi) terhadap masing-masing kejadian atau potensi kecelakaan kerja, serta hasil analisis FTA berupa unsafe action (tindakan tidak aman) dan unsafe condition (kondisi tidak aman) dengan hasil 12 unsafe action dan 7 unsafe condition pada temuan kejadian atau potensi kecelakaan kerja di PT. Sygma Exa Grafika Kota Bandung dengan jumlah persentase 63,16% dan unsafe condition dengan jumlah persentase 36,84% pada temuan potensi kecelakaan kerj
the ANALISIS KELAYAKAN FINASIAL PEMBUDIDAYAAN LOBSTER AIR TAWAR (STUDI KASUS : CILILIN KABUPATEN BANDUNG BARAT): ANALISIS KELAYAKAN FINASIAL
Freshwater lobster cultivation is one of the business opportunities that has great potential in meeting domestic and international market demand. This study aims to analyze the financial feasibility of freshwater lobster cultivation in Cililin, West Bandung Regency. This analysis uses a quantitative descriptive method with Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV), Break-Even Point (BEP), and Payback Period (PBP) analysis tools.The results of the study indicate that this business is very feasible to run. The IRR obtained is 3386%, far above the discount rate of 17% -18%, indicating significant potential returns. NPV is positive, each of IDR 5,991,695 at a 17% discount and IDR 5,636,373 at an 18% discount, indicating that this business is able to generate more income than the costs incurred after taking into account the time value of money. BEP is achieved at a sales volume of between 183 kg and 474 kg of lobster per year, depending on the year, with PBP achieved within 2.31 years. The conclusion of this study is that freshwater lobster cultivation is not only able to return capital quickly but also has significant profit potential. Therefore, it is recommended to continue this project with a flexible and responsive management strategy to market changes, as well as continuous financial monitoring to maintain business continuity.Budidaya lobster air tawar merupakan salah satu peluang usaha yang memiliki potensi besar dalam memenuhi permintaan pasar domestik dan internasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial dari usaha budidaya lobster air tawar di Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Analisis ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan alat analisis Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV), Break-Even Point (BEP), dan Payback Period (PBP).Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha ini sangat layak untuk dijalankan. IRR yang diperoleh adalah 3386%, jauh di atas tingkat diskonto sebesar 17%-18%, menunjukkan potensi pengembalian yang signifikan. NPV bernilai positif, masing-masing sebesar Rp 5.991.695 pada diskonto 17% dan Rp
5.636.373 pada diskonto 18%, mengindikasikan bahwa usaha ini mampu menghasilkan lebih banyak pendapatan dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan setelah memperhitungkan nilai waktu dari uang. BEP tercapai pada volume penjualan antara 183 kg hingga 474 kg lobster per tahun, tergantung pada tahunnya, dengan PBP yang dicapai dalam waktu 2,01 tahun
PENERAPAN SECONDARY SKIN ACP BERLUBANG RASIO 50% PADA GEDUNG PARIPURNA DPRD KABUPATEN PEMALANG
Abstract: This study examines the application of Aluminum Composite Panel (ACP) with a 50% perforated pattern as a secondary skin on the Plenary Building of DPRD Pemalang Regency to enhance thermal performance and energy efficiency in a tropical climate. The research aims to evaluate the thermal performance of buildings with and without the secondary skin, analyze temperature changes, and identify factors affecting its effectiveness. Field surveys, thermal sensor measurements, and statistical analysis were employed to collect and evaluate data. Results indicate that the secondary skin reduces indoor temperatures by 4%-5%, with further reductions of 16% for brick wall elements and 13% for 5 mm clear glass elements. The findings suggest that material selection and secondary skin design significantly influence thermal comfort, offering a viable solution for office buildings in tropical regions like Pemalang Regency.
Keyword: Aluminum Composite Panel, Secondary Skin, Thermal Performance
Abstrak: Penelitian ini mengkaji penerapan Aluminum Composite Panel (ACP) dengan pola berlubang 50% sebagai secondary skin pada Gedung Paripurna DPRD Kabupaten Pemalang untuk meningkatkan kinerja termal dan efisiensi energi di iklim tropis. Penelitian bertujuan mengevaluasi kinerja termal bangunan dengan dan tanpa secondary skin, menganalisis perubahan suhu, serta mengidentifikasi faktor yang memengaruhi efektivitasnya. Survei lapangan, pengukuran sensor termal, dan analisis statistik digunakan untuk mengumpulkan dan mengevaluasi data. Hasil menunjukkan secondary skin menurunkan suhu dalam ruangan sebesar 4%-5%, dengan penurunan tambahan 16% untuk elemen dinding bata dan 13% untuk kaca clear 5 mm. Temuan ini menunjukkan bahwa pemilihan material dan desain secondary skin sangat memengaruhi kenyamanan termal, menawarkan solusi untuk bangunan perkantoran di wilayah tropis seperti Pemalang.
Kata Kunci: Aluminum Composite Panel, Secondary Skin, Kinerja TermalAbstrak: Penelitian ini mengkaji penerapan Aluminum Composite Panel (ACP) dengan pola berlubang 50% sebagai secondary skin pada Gedung Paripurna DPRD Kabupaten Pemalang untuk meningkatkan kinerja termal dan efisiensi energi di iklim tropis. Penelitian bertujuan mengevaluasi kinerja termal bangunan dengan dan tanpa secondary skin, menganalisis perubahan suhu, serta mengidentifikasi faktor yang memengaruhi efektivitasnya. Survei lapangan, pengukuran sensor termal, dan analisis statistik digunakan untuk mengumpulkan dan mengevaluasi data. Hasil menunjukkan secondary skin menurunkan suhu dalam ruangan sebesar 4%-5%, dengan penurunan tambahan 16% untuk elemen dinding bata dan 13% untuk kaca clear 5 mm. Temuan ini menunjukkan bahwa pemilihan material dan desain secondary skin sangat memengaruhi kenyamanan termal, menawarkan solusi untuk bangunan perkantoran di wilayah tropis seperti Pemalang.
Kata Kunci: Aluminum Composite Panel, Secondary Skin, Kinerja Terma
PENERAPAN ORNAMEN MAJAPAHIT DALAM RE-DESAIN INTERIOR TERMINAL GENTENG BARU MELALUI PENDEKATAN ARSITEKTUR TROPIS
Abstract: The interior redesign of Genteng Baru Bus Station integrates Majapahit ornaments through a tropical architectural approach to create a transit place that preserves Nusantara culture, especially Majapahit culture. Majapahit ornaments, as a symbol of cultural heritage, are innovatively applied to interior elements such as walls, floors, columns, and ceilings to present a visual cultural identity. The tropical architectural approach is implemented through the selection of local materials such as red bricks and wood, as well as optimizing lighting and natural air circulation that create a comfortable and sustainable space. The purpose of this redesign is to preserve or introduce Majapahit ornaments and improve the terminal user experience by creating an aesthetic, functional space rooted in Majapahit local wisdom using qualitative-descriptive methods. The results are expected to be a model for public space design that respects history and culture, while being responsive
Keywords: Ornaments Majapahit, Majapahit Kingdom, Architecture Tropic, Re-Design, and Bus Station of Genteng Baru
Abstrak: Re-desain interior Terminal Genteng Baru mengintegrasikan ornamen Majapahit melalui pendekatan arsitektur tropis untuk menciptakan tempat transit yang melestarikan budaya Nusantara khususnya budaya Majapahit. Ornamen Majapahit, sebagai simbol warisan budaya, diterapkan secara inovatif pada elemen-elemen interior seperti dinding, lantai, kolom, dan plafon untuk menghadirkan identitas visual budaya. Pendekatan arsitektur tropis diimplementasikan melalui pemilihan material lokal seperti batu bata merah dan kayu, serta optimalisasi pencahayaan dan sirkulasi udara alami yang menciptakan ruang yang nyaman dan berkelanjutan. Tujuan dari re-desain ini adalah untuk melestarikan atau mengenalkan ornamen Majapahit dab meningkatkan pengalaman pengguna terminal dengan menciptakan ruang yang estetis, fungsional, dan berakar pada kearifan lokal Majpahit dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif. Hasilnya diharapkan dapat menjadi model desain ruang publik yang menghargai sejarah dan budaya, sekaligus responsif terhadap iklim tropis.
Kata Kunci: Ornamen Majapahit, Kerajaan Majapahit, Arsitektur Tropis, Re-Desain, dan Terminal Genteng BaruRe-desain interior Terminal Genteng Baru mengintegrasikan ornamen Majapahit melalui pendekatan arsitektur tropis untuk menciptakan tempat transit yang melestarikan budaya Nusantara khususnya budaya Majapahit. Ornamen Majapahit, sebagai simbol warisan budaya, diterapkan secara inovatif pada elemen-elemen interior seperti dinding, lantai, kolom, dan plafon untuk menghadirkan identitas visual budaya. Pendekatan arsitektur tropis diimplementasikan melalui pemilihan material lokal seperti batu bata merah dan kayu, serta optimalisasi pencahayaan dan sirkulasi udara alami yang menciptakan ruang yang nyaman dan berkelanjutan. Tujuan dari re-desain ini adalah untuk melestarikan atau mengenalkan ornamen Majapahit dab meningkatkan pengalaman pengguna terminal dengan menciptakan ruang yang estetis, fungsional, dan berakar pada kearifan lokal Majpahit dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif. Hasilnya diharapkan dapat menjadi model desain ruang publik yang menghargai sejarah dan budaya, sekaligus responsif terhadap iklim tropis
Analisis Tata Ruang Pada Pusat Rehabilitasi Mental Berdasarkan Kenyamanan Pengguna
Abstract: Mental rehabilitation centers are a type of integrated treatment for people with mental health issues to help them get back to functioning and being independent. When it comes to healing, the physical environment of the rehab center is a big deal. Comfort factors based on the patient's biological, psychological, and social characteristics will create an environment that helps the patient recover. The primary objective of this study is to analyze patient comfort related to spatial arrangement at the rehabilitation center, referencing the provisions of Ministry of Public Works Regulation No. 29 of 2006 on building comfort. The study employs a qualitative descriptive method with a case study approach, with data collected through field observations and interviews. Results of the analysis indicate that, based on patient characteristics and applicable regulations, the mental rehabilitation center under study meets comfort standards for its users.
Keywords: Spatial Layout, Comfort, Rehabilitation Center
Abstrak: Pusat rehabilitasi mental merupakan salah satu bentuk penanganan terpadu yang ditujukan bagi individu dengan gangguan kesehatan jiwa guna mengembalikan fungsi dan kemandirian mereka secara optimal. Dalam kaitannya dengan proses penyembuhan tersebut, peran lingkungan fisik tempat rehabilitasi merupakan faktor penting yang tidak dapat diabaikan. Faktor kenyamanan yang ditinjau dari karakteristik pasien meliputi aspek biologis, psikologis dan sosial akan menghasilkan lingkungan yang mendukung proses pemulihan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kenyamanan pasien terkait penataan ruang pada pusat rehabilitasi, dengan merujuk pada ketentuan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.29 Tahun 2006 mengenai kenyamanan bangunan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara. Hasil analisis menunjukkan bahwa, berdasarkan karakteristik pasien dan ketentuan peraturan yang berlaku, pusat rehabilitasi mental yang diteliti telah memenuhi standar kenyamanan bagi penggunanya.
Kata Kunci: Tata Ruang, Kenyamanan, Pusat RehabilitasiPusat rehabilitasi mental merupakan salah satu bentuk penanganan terpadu yang ditujukan bagi individu dengan gangguan kesehatan jiwa guna mengembalikan fungsi dan kemandirian mereka secara optimal. Dalam kaitannya dengan proses penyembuhan tersebut, peran lingkungan fisik tempat rehabilitasi merupakan faktor penting yang tidak dapat diabaikan. Faktor kenyamanan yang ditinjau dari karakteristik pasien meliputi aspek biologis, psikologis dan sosial akan menghasilkan lingkungan yang mendukung proses pemulihan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kenyamanan pasien terkait penataan ruang pada pusat rehabilitasi, dengan merujuk pada ketentuan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.29 Tahun 2006 mengenai kenyamanan bangunan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara. Hasil analisis menunjukkan bahwa, berdasarkan karakteristik pasien dan ketentuan peraturan yang berlaku, pusat rehabilitasi mental yang diteliti telah memenuhi standar kenyamanan bagi penggunanya.
Kata Kunci: Tata Ruang, Kenyamanan, Pusat Rehabilitas
TRANSFORMASI ARSITEKTUR VERNAKULAR BALI AGA (STUDI KASUS: BALE GAJAH TUMPANG SALU DI DESA SIDETAPA, KABUPATEN BULELENG, BALI)
Abstract: This study explores the transformation of Bali Aga vernacular architecture in Sidetapa Village, Buleleng Regency, focusing on Bale Gajah Tumpang Salu as a representative traditional house with high historical, spiritual, and socio-cultural value. The vernacular architecture in this village reflects the community’s adaptation to environmental conditions, local cosmology, and evolving social dynamics. Using a qualitative approach and a case study method, the research examines changes in form, materials, and building functions influenced by modernization and contemporary functional needs. Findings reveal that despite significant changes in building orientation, the use of modern materials, and the addition of functional spaces such as kitchens and bathrooms, the people of Sidetapa strive to preserve the core values of their traditional houses. Sacred spaces, internal wooden structures, and symbolic elements like selepitan and jaro are still maintained. Furthermore, traditional houses serve economic functions, such as the production of bamboo crafts, which remain the primary livelihood for many residents. This study highlights the importance of preserving vernacular architecture as a dynamic expression of cultural identity. Conservation strategies that balance modern needs with traditional values are essential to ensuring the continuity of Bali Aga cultural heritage amid changing times.
Keyword: Vernacular Architecture, Bali Aga, Sidetapa Village, Gajah Tumpang Salu, Traditional House Transformation
Abstrak: Penelitian ini membahas transformasi arsitektur vernakular Bali Aga di Desa Sidetapa, Kabupaten Buleleng, dengan fokus pada Bale Gajah Tumpang Salu sebagai representasi rumah adat yang memiliki nilai historis, spiritual, dan sosial budaya tinggi. Arsitektur vernakular di desa ini mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap kondisi lingkungan, kosmologi lokal, serta dinamika sosial yang terus berkembang. Dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, penelitian ini mengeksplorasi perubahan bentuk, material, dan fungsi bangunan tradisional akibat pengaruh modernisasi dan kebutuhan fungsional masa kini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terjadi perubahan signifikan dalam orientasi bangunan, penggunaan material modern, dan penambahan ruang fungsional seperti dapur dan kamar mandi, masyarakat Sidetapa tetap berupaya mempertahankan nilai-nilai inti rumah adat mereka. Ruang-ruang suci, struktur kayu dalam, serta elemen-elemen simbolik seperti selepitan dan jaro masih dijaga eksistensinya. Selain itu, rumah adat juga berperan dalam aktivitas ekonomi seperti produksi kerajinan bambu yang menjadi mata pencaharian utama warga. Penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian arsitektur vernakular sebagai wujud identitas budaya yang dinamis. Strategi pelestarian yang mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan modern dan nilai tradisional menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya Bali Aga di tengah perubahan zaman.
Kata Kunci: Arsitektur Vernakular, Bali Aga, Desa Sidetapa, Gajah Tumpang Salu, Transformasi Rumah Adat
Penelitian ini membahas transformasi arsitektur vernakular Bali Aga di Desa Sidetapa, Kabupaten Buleleng, dengan fokus pada Bale Gajah Tumpang Salu sebagai representasi rumah adat yang memiliki nilai historis, spiritual, dan sosial budaya tinggi. Arsitektur vernakular di desa ini mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap kondisi lingkungan, kosmologi lokal, serta dinamika sosial yang terus berkembang. Dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, penelitian ini mengeksplorasi perubahan bentuk, material, dan fungsi bangunan tradisional akibat pengaruh modernisasi dan kebutuhan fungsional masa kini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terjadi perubahan signifikan dalam orientasi bangunan, penggunaan material modern, dan penambahan ruang fungsional seperti dapur dan kamar mandi, masyarakat Sidetapa tetap berupaya mempertahankan nilai-nilai inti rumah adat mereka. Ruang-ruang suci, struktur kayu dalam, serta elemen-elemen simbolik seperti selepitan dan jaro masih dijaga eksistensinya. Selain itu, rumah adat juga berperan dalam aktivitas ekonomi seperti produksi kerajinan bambu yang menjadi mata pencaharian utama warga. Penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian arsitektur vernakular sebagai wujud identitas budaya yang dinamis. Strategi pelestarian yang mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan modern dan nilai tradisional menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya Bali Aga di tengah perubahan zaman
Tren Penelitian Grafik yang Dihasilkan AI: Analisis Bibliometrik Publikasi 2020-2025
This study aims to identify trends and developments in scientific research on AI-generated graphics during the period 2020–2025 using a bibliometric approach. The analysis focuses on publication trends, institutional and country collaborations, thematic distributions, and research network visualizations. Bibliometric data were collected from the Scopus database, resulting in 4,968 scientific documents retrieved using keywords such as “AI-generated graphics,” “text-to-image,” “DALL-E,” “Stable Diffusion,” and “Midjourney.” The analysis was conducted using VOSviewer to examine keyword co-occurrence, co-authorship, co-citation, and bibliographic coupling. The results show a significant increase in publications, with a notable peak in 2024. China emerged as the leading contributor, followed by the United States, supported by major research funding institutions such as the National Natural Science Foundation of China (NSFC). Thematic analysis indicates a shift from GAN-based models toward diffusion-based text-to-image models, accompanied by growing attention to semantic, ethical, and social issues. Network visualization reveals ten major research clusters, including health, digital arts, and computer vision. Unlike previous bibliometric studies that primarily focus on general artificial intelligence or isolated generative models, this study provides a comprehensive and up-to-date mapping of AI-generated graphics research by integrating technological evolution, creative AI platforms, and ethical dimensions within a single analytical framework. These findings offer a holistic understanding of the research landscape and serve as a foundation for future technological development and interdisciplinary collaboration in AI-generated graphics.Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi tren dan perkembangan penelitian ilmiah tentang grafik yang dihasilkan AI selama periode 2020–2025 menggunakan pendekatan bibliometrik. Analisis ini berfokus pada tren publikasi, kolaborasi institusi dan negara, distribusi tematik, dan visualisasi jaringan penelitian. Data bibliometrik dikumpulkan dari basis data Scopus, menghasilkan 4.968 dokumen ilmiah yang diambil menggunakan kata kunci seperti "grafik yang dihasilkan AI," "teks ke gambar," "DALL-E," "Stable Diffusion," dan "Midjourney." Analisis dilakukan menggunakan VOSviewer untuk memeriksa ko-okurensi kata kunci, ko-penulis, ko-sitasi, dan penggabungan bibliografi. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam publikasi, dengan puncak yang menonjol pada tahun 2024. Tiongkok muncul sebagai kontributor utama, diikuti oleh Amerika Serikat, yang didukung oleh lembaga pendanaan penelitian utama seperti Yayasan Ilmu Pengetahuan Alam Nasional Tiongkok (NSFC). Analisis tematik menunjukkan pergeseran dari model berbasis GAN menuju model teks-ke-gambar berbasis difusi, disertai dengan meningkatnya perhatian pada isu-isu semantik, etika, dan sosial. Visualisasi jaringan mengungkapkan sepuluh kluster penelitian utama, termasuk kesehatan, seni digital, dan penglihatan komputer. Berbeda dengan studi bibliometrik sebelumnya yang terutama berfokus pada kecerdasan buatan umum atau model generatif terisolasi, studi ini memberikan pemetaan komprehensif dan terkini dari penelitian grafis yang dihasilkan AI dengan mengintegrasikan evolusi teknologi, platform AI kreatif, dan dimensi etika dalam satu kerangka analitis. Temuan ini menawarkan pemahaman holistik tentang lanskap penelitian dan berfungsi sebagai dasar untuk pengembangan teknologi di masa depan serta kolaborasi interdisipliner dalam grafik yang dihasilkan AI
H PENINGKATAN LITERASI DIGITAL MELALUI WORKSHOP INTERAKTIF MEDIA DIGITAL DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DI SMP PLUS AL ITTIHAT
Digitalization has brought significant changes to the teaching and learning process, especially in English language learning. By integrating technology and information communication into its activities, moreover, it provides opportunities to create more interactive and engaging learning. This community service carried out at SMP Plus Al Ittihat Garut aimed at improving digital literacy of the teachers and students. The program was conducted through seminars, workshops, and intensive mentoring methods to implement affectively the program. The results of the activity showed an increase in positive attitudes towards the use of technology, digital skills, and teachers' ability to integrate digital media into English language learning. However, the limited internet access, imbalance in the availability of digital devices, and low digital literacy among teachers and students were considered as major obstacles in optimizing activities and utilizing technology in their implementation at this school. Based on the responses and enthusiasm of teachers and students, this digital literacy activity required a good sustainability to support more effective, creative, and adaptive learning in the digital era so that it can be a strategic step in overcoming the technology gap and improving the quality of education in the rural areas with limited resources.Digitalisasi telah membawa perubahan signifikan dalam proses pembelajaran di sekolah, terutama dalam pembelajaran bahasa Inggris karena memberikan peluang untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik dengan mengintegarasikan teknologi dan informasi komunikasi dalam kegiatannya. Pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di SMP Plus Al Ittihat Garut bertujuan meningkatkan literasi digital melalui seminar, workshop, dan pendampingan intensif bagi guru dan siswa. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan sikap positif terhadap penggunaan teknologi, keterampilan digital, serta kemampuan guru dalam mengintegrasikan media digital ke dalam pembelajaran bahasa Inggris. Walaupun demikian, keterbatasan akses internet, ketidakseimbangan ketersediaan perangkat digital, dan rendahnya literasi digital di kalangan guru dan siswa menjadi kendala utama dalam optimalisasi kegiatan dan pemanfaatan teknologi dalam pelaksanaannya di sekolah ini. Dengan melihat tanggapan dan antusias guru dan siswa kegiatan literasi digital ini perlu keberlanjutan yang baik untuk mendukung pembelajaran yang lebih efektif, kreatif, dan adaptif di era digital sehingga dapat menjadi langkah strategis dalam mengatasi kesenjangan teknologi dan meningkatkan kualitas pendidikan di daerah dengan keterbatasan sumber daya
Komunikasi Suportif Pelatih Kepada Atlet Taekwondo BGFC Pasca Kekalahan Di Kejuaraan
Defeat in a championship is a major challenge for athletes, not only physically but also emotionally, which can potentially lower self-confidence, motivation, and even the desire to continue training. This study aims to understand how coaches support BGFC Taekwondo athletes after losing in a championship. The main focus of this study includes the emotional, informational, and instructional support provided by coaches to help athletes recover from failure. This study employs a qualitative method with a descriptive approach, utilizing data collection techniques such as observation, in-depth interviews, and documentation involving one coach and three athletes at the BGFC Taekwondo unit. The results indicate that supportive communication, both verbal and non-verbal, plays a crucial role in rebuilding athletes' self-confidence and accelerating mental recovery after a loss. Coaches who provide empathetic support, constructive feedback, and clear technical guidance are able to create positive interpersonal relationships, thereby encouraging athletes' motivation and readiness to train again and achieve success in the future. This study makes an important contribution to enriching the literature on sports communication and can serve as a practical reference for coaches in creating effective and supportive communication patternsKekalahan dalam kejuaraan merupakan tantangan besar bagi atlet, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara emosional, yang berpotensi menurunkan kepercayaan diri, motivasi, hingga keinginan untuk berhenti berlatih. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana dukungan yang dilakukan oleh pelatih kepada atlet Taekwondo BGFC pasca kekalahan dalam kejuaraan. Fokus utama penelitian ini meliputi dukungan emosional, informasional, dan instruksional yang diberikan oleh pelatih guna membantu atlet bangkit dari kegagalan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melalui teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap satu pelatih dan tiga atlet di unit Taekwondo BGFC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi suportif yang dilakukan secara verbal dan non-verbal berperan penting dalam membangun kembali kepercayaan diri atlet dan mempercepat pemulihan mental pasca kekalahan. Pelatih yang memberikan dukungan empatik, umpan balik yang membangun, serta arahan teknis yang jelas mampu menciptakan hubungan interpersonal yang positif, sehingga mendorong semangat dan kesiapan atlet untuk berlatih kembali dan berprestasi di masa mendatang. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memperkaya literatur komunikasi olahraga serta dapat dijadikan rujukan praktis bagi pelatih dalam menciptakan pola komunikasi yang efektif dan suportif
KAJIAN SPASIAL PADA SISTEM KEKERABATAN MATRILINEAL MASYARAKAT MINANGKABAU NAGARI KOTO BARU DALAM RUMAH GADANG
Sistem kekerabatan matrilineal menggambarkan realitas sosial, budaya masyarakat Minangkabau. Salah satu ciri dari sistem kekerabatan matrilineal adalah Rumah gadang. Rumah Gadang merupakan representasi budaya masyarakat Minangkabau. Rumah gadang memiliki tata ruang yang dirancang untuk mencerminkan hierarki dan fungsi sosial, dengan beberapa area khusus untuk perempuan yang hidup di dalamnya. Nagari Koto Baru merupakan sebuah wilayah yang masih memuat banyak bangunan Rumah Gadang. Namun tradisi sistem matrilineal dalam pelestarian Rumah Gadang secara fisik dan non fisik terganggu karena adanya urbanisasi, modernisasi dan perubahan gaya hidup. Tercatat 12 Rumah gadang yang beralih fungsi menjadi homestay. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji tentang ruang arsitektur yang terbentuk dari sistem kekerabatan Matrilineal pada Rumah Gadang masyarakat Minangkabau di Nagari Koto Baru. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan cara pengamatan langsung ke lapangan, wawancara, dan dokumentasi berupa gambar dan sketsa denah rumah. Hasil penelitian menunjukkan Rumah Gadang yang beralih fungsi menjadi homestay mengubah aspek fisik dan non fisik secara keseluruhan di Rumah Gadang. Peralihan fungsi membuat peran pewaris melestarikan Rumah Gadang untuk tujuan wisata saja. Sedangkan pewaris Rumah Gadang rakyat Kampai masih menjadikan sistem kekerabatan matrilineal untuk melestarikan Rumah Gadang termasuk sosial budaya yang terjadi di dalam Rumah Gadang itu sendiri