Atavisme: Jurnal Ilmiah Kajian Sastra
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Tio Ie Soei Dan Nona Tjoe Joe (Pertjinta'an Jang Membawa Tjilaka): Tegangan Antara Konservatif dan Modern
Nona Tjoe (Pertjinta'an Jang membawa Tjilaka) adalah sebuah cerita yang berbeda dari pcngarang ccrita peranakan China pada era 1920. Cerita ini juga memberikan karakteristik yang berbeda dari cerita-cerita Tio le Soci. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mcnjclaskan keadaan kehidupan sosial masyarakat/komunitas China yang ter-refleksi dalam Nona Tjoe Joe. Dengan memfokuskan pada representasi kehidupan komunitas China, tulisan ini berusaha mcnjawab beberapa pertanyaan "dimanakah kita sekarang dan apa yang terjadi dengan kehidupan kita sekarang dan akan datang" (2) bagaimana masyarakat China merespon pengaruh Barat (3) dengan analogi posisi wanita, seperti apa pilihan identitas peranakan China. Untuk menjawab pertanyaan itu, artikel ini memfokusukan pada teks sebagai refleksi fakta sosial. Kemudian, refleksi itu dianggap sebagai fakta kemanusian seperti perasaan, identitas, strategi untuk. bertahan hidup masyarakat China
Abstract:
Nona Tjoe Joe (Pertjinta 'an Jang membawa Tjilaka) is a different story compared to other peranakan Chinese stories in 1920 era. This story also gives the characteristic different from the other Tio le Soe.i stories, The study aims to explore and explain the condition of social life of Chinese community as reflected in Nona Tjoe Joe story. Giving the focus on the representation of the Chinese life, this article attempts to give answers of t.hc following questions: (1) how did Chinese community give answer "where is now and what happen with our present time and future", (2) how did Chinese community responds to the West influence, (3) with analogy of women position, what was the choices of identity peranakan Chinese. To answer those questions, this article gives the focus on the text as a reflection of social facts. The reflection is considered as human fact of feeling. identity, strategy to defending life of Chinese community.
Keywords: reflection Chinese community, conservatism, mode
Ajaran Islam dalam Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy
Novel, sebagai bagian dari fiksi, memiliki dua fungsi, yaitu bermanfaat dan menghibur. Habiburrahman El-Shirazy mengekspresikan pandangannya mengenai ajaran Islam melalui novel Ayat-Ayat Cinta (AAC). Dalam novel tersebut, Habiburrahman El-Shirazy menunjukkan pada pembaca bagaimana berhubungan dengan orang lain: muslim atau bukan, orang tua, tamu, dan hubungan antara pria dan wanita. Dia juga menunjukkan ajaran Islam lainnya, seperti pernikahan, etika berpakaian, dan mandi. Dia mengekspresikan pandangannya tentang ajaran Islam berdasarkan Alquran dan Hadis.
Abstract:
Novel as a part of fiction that tells story, has two functions. They are entertainment and esthetics functions. Habiburrahman El-Shirazy expresses his view about Islamic teachings through novel Ayat-Ayat Cinta (AAC). In the novel AAC, Habiburrahman El-Shirazy shows readers how to make relationship with other people: moslems or not, older people, a guest, and a relationship between man and woman. He also shows the readers about other Islamic teachings such as marrital, dressing up and bathing ethics. He expressed his view about Islamic teachings based on Alquran and Hadis.
Keywords: novel, esthetic functions, Islamic teaching
Proses Menjadi dalam Novel Tarian Setan Karya Saddam Hussein dan Siddhartha Karya Hermann Hesse
Artikel ini bertujuan menjelaskan pemikiran filsafat dalam novel Tarian Setan dan Siddharta (2007). Kumpulan pemikiran filsafat yang dibangun adalah hasrat karakter sebagai representasi manusia sehingga semua argumen yang dibangun berakar pada latar belakang kemunculan hasrat, proses hasrat, dan hasil hasrat. Berdasarkan pemikiran filsafat, bisa disimpulkan bahwa Hasqil dan Siddharta memiliki hasrat menjadi karena pengaruh imitasi, mimetik. Dalam proses menjadi yang disebabkan oleh mimetik, bisa diidentifikasi bahwa Hasqil lebih memiliki hasrat fisik, agresif, sementara Siddharta memiliki hasrat psikologis, reseptif. Sebagai subjek yang memiliki hasrat menjadi, Hasqil dan Siddharta bisa dianggap sebagai korban karena keduanya tidak pernah bebas dalam menentukan hasratnya sendiri. Individu adalah korban lingkungannya. Ironi tentang keterjebakan manusia pada hasrat libidinal telah didemonstrasikan oleh kedua karakter tersebut. Hasqil telah terjebak dalam hasrat libidinal sehingga menjadi orang gagal, sementara Siddharta secara sengaja menjebak dirinya sendiri untuk proses kesadaran menjadi karena prinsip bahwa hidup adalah tindakan. Hasrat kematian selalu menjadi bagian dari proses menjadi untuk tiap individu. Kematian adalah sebuah pelarian dari ketidakbahagiaan dan harapan untuk sekaligus meraih kebahagiaan.
Abstract:
This paper is aimed to explain the philosophical way of thinking in the novels Tarian Setan and Siddharta (2007). The collection of a way of thinking built is the character’s desire as a human representation so that all arguments built are rooted in the background of desire emergence, desire process, and desire result. Based on the philosophical way of thinking, it can be concluded that Hasqil and Siddharta have a desire of being for the influence of imitation, mimetic. In the process of being caused by the mimetic, it can be identified that Hasqil has a more physical desire, aggressive, whereas Siddharta has a psychological desire, receptive. As a subject having a desire of being, Hasqil and Siddharta can be regarded as victims since both have never been free in deciding their own desire. Individuals are their environment’s victims. The irony of human entrapment towards libidinal desire has been demonstrated by the two characters. Hasqil has been trapped in the libidinal desire that he becomes a failed person, whereas Siddharta has intentionally trapped himself for the process of consciousness of being because of a principle that life is action. The desire of death has always become a part of the process of being for every individual. Death is an escape from unhappiness and a hope to get a hold of happiness all together.
Keywords: process of being, desire, Tarian Setan, Siddhart
Representasi Feminisme dalam Novel Nayla Karya D.Jenar Maesa Ayu
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara objektif representasi feminisme dalam novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu. Data penelitian adalah perataan, perbuatan, dan peristiwa yang dialami oleh tokoh utama, Sumber data penelitian adalah novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu edisi kedua yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2005. Data dikumpulkan mclalui teknik dokumentasi dan dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan analisis data, dapat disimpulkan bahwa Nayla adalah sebuah novel dengan pengarang yang secara sadar ingin memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama yang berkaitan dengan seksualitas. Tokoh pcrempuan dalam Naylai adalab seorang perempuan superior, bukan inferior, seorang perempuan yang 'mendominasi' laki-laki, bukan yang 'didominasi' oleh laki-laki. Pengarang juga berusaha untuk mengangkat posisi perempuan dengan menghadirkan seorang karakter perempuan yang menemukan kesadaran akan eksistensi diri, menyadari makna kebidupan dan hidup. Para tokohnya adalah perempuan- perempuan profesional yang bahkan dapat disejajarkan dengan para laki-laki. Mereka adalah tokoh perempuan yang jarang mengurusi urusan rumah tangga Terkait dengan seksualitas, sang tokoh (si pengarang) berpendapat bahwa perempuan tidak selayaknya diperlakukan sebagai objek semata, retapi seharusnya juga memiliki kesempatan untuk bersenang-senang dan disenangkan.
Abstract:
This research aims to describe objectively the representation of feminism in the novel Nayla by Djenar Maesa Ayu. The research data are speeches, actions, and happenings experienced by the main character. The source of the data was the novel Nayla by Djenar Maesa Ayu second edition published by Gramedia in 2005. The data were collected through documentation technique and analyzed descriptively. Based on the analysis of the data, it could be concluded that Nayla was a novel whose author consciously wished to struggle for women rights, especially those related to sexualities. The female character in Nayla is a superior woman, not an inferior one; a female who 'dominates' males, not the one who 'is dominated' by males. 'The author also strives to raise women's positions by presenting a female character who has found a consciousness of self-existence, realized the meanings of life and living. The characters are professional women who can even be equalized with men. 'They are female characters who seldom take care of domestic households. Related to sexualities, the character (the author) has the opinion that women should not have been treated as objects only, but should also have been given opportunities to enjoy themselves and to be spoiled.
Key Words: representation of feminism, radical feminis
Sastra Lisan Tengger Pilar Utama Pemertahanan Tradisi Tengger
Artikel ini bertujuan membahas sastra lisan Tengger sebagai tiang utama pemertahanan tradisi Tengger dengan pendekatan folklor. Sastra lisan yang dibahas adalah legenda Kasada dan Karo serta mantera. Dalam sejarah, legenda Kasada pernah terpengaruh oleh proses islamisasi, sementara legenda Karo memiliki pesan kultural yang menganjurkan persatuan dan kesatuan dalam perbedaan iman antara Budha-Hindu dan Islam. Meskipun demikian, dalam rekam jejak sejak era kolonial, legenda Kasada dan Karo serta mantra mengalami perubahan. Sastra lisan tersebut dapat bertahan hidup karena pewaris aktifnya telah menggunakannya sebagai tiang utama dalam tradisi Tengger.
Abstract:
This writing is aimed to discuss Tengger oral literature as a main pillar of Tengger tradition mainte- nance with folklore approach. Oral literature being discussed are Kasada and Karo legend and magic formula. In the history, Kasada legend has ever been influenced by islamization process, while Karo legend has a cultural message that suggests the unity in differences between Buddha-Hindu and Islam. Although, in the track record since colonial era, Kasada and Karo legend and magic formula sometimes change, the oral literatures can be still alive because their active heir has used them as a main pillar of Tengger tradition.
Keywords: Tengger, oral literature, Kasada legend, Karo legen
Kreativitas Individual Danarto dalam Konteks Makna Sosial pada "Gergasi"
Membicarakan kreativitas individual pada karya sastra dalam konteks makna sosial akan mengarahkan pemahaman melalui pendekatan umum mengenai karya sastra untuk dipelajari sebagai dokumen sosial. Perjalanan karya sastra dan pencipta akan menghidupi pemahaman masyarakat sosial, sebagai cerminan. Faktor sosial mempengaruhi secara langsung dan tidak langsung. Pertimbangan atas relevansi sastra dan masyarakat menghadirkan identitas di tengah masyarakat sebagai kepemilikan berupa dunia dalam kata, yaitu dunia sastra. Fenomena keterlibatan karya sastra dalam masyarakat sosial akan terus mengkaitkan identitas dan karakter secara individu si pengarang untuk ditafsirkan makna serta nilai yang diusung pada hasil karya ciptaannya, Hal ini merupakan salah satu wujud eksistensi penafsiran pembaca pada karya sastra sebagai pemahaman terhadap karakteristik seorang penulis tertentu. Kenyataan yang dilukiskan dengan cara meng-afirmasi, merestorasi, menegasi dan menghadirkan inovasi merupakan wujud nyata yang tidak mampu dipalingkan. Pada penafsiran karya Danarto ini dalam raogka memahami karakteristik individu menghadirkan budaya Jawa yang mcmpengaruhi kelahiran karya sastra. Nilai, norma, tradisi, budaya, serta identitas dimunculkan secara imajinatif dan kreatif melalui sebuah karya cipta sastra. Realitas dihadirkan melalui karya sastra untuk disampaikan dan dipahami dalam konteks makna sosial, serta keberadaan karya sastra secara fungsional. Kehidupan yang paniang disejajarkan dengan cerita pewayangan, dunia nyata dan maya. Interelasi nilai-nilai estetis dalam perubahan struktur sosial ditunjukkan melalui sosiologi sastra dengan penggunaan metafora yang mengacu pada kcabadian seni pewayangan. lnilah karakter individual Danarto dalam berkarya sikap Javanism yang kental mencapai tujuan di dunia sastra.
Abstract:
Talking about personal creativity for a masterpiece of literary, on the social context of meaning will bring our mind to understand what is the meaning of a conventional approach about literary as a social document, Masterpiece and the creator will gift a soul, deep inside of public understanding about a literary as a mirror of life. The side of social life will take a part of the understanding. Consider the literary relevantly and public will present the identity of public as words of world owner, a literary. Between literary and the public phenomenon will lake some identity and character of creator personality to interpret of the meaning of the masterpiece. It is a show up of the existence of reader interpret to the masterpiece as the understanding of creator identity. Factually some thing that has wrote with affirmation way, the restoration, negation, dan present the innovation is a real thing that cannot be denied. To the Danarto interpretation to understanding of his character, show the javanis culture that has participate on his masterpiece. Esensi, norms, tradition, culture and identity has show up with the an imaginary way and creative way by a masterpiece. The reality is show up to be understanding of the meaning functionality, Long lifes can be lined with the story of wayang, real life, and fiction. This is a personality character of Danarto. Javanism get U1e point with the literary of masterpiece.
Keywords: Personal creativity, javanis
Sastra Jawa Kuna: Sebuah Cermin
Artikel ini bertujuan menjelaskan keberadaan sastra Jawa Kuna, kontribusinya, dan juga keterkaitannya dengan kehidupan Indonesia. Para pendiri Indonesia telah menemukan nilai-nilai di dalamnya dan menggunakannya sebagai nama ideologi, semboyan, dan simbol negara. Sastra Jawa Kuna bisa digunakan sebagai sumber untuk memahami kehidupan masyarakat di masa lalu. Selain itu, nilai-nilai tersebut bisa digunakan sebagai panduan hidup.
Abstract:
This writing is aimed to explain the existence of old Java literature, its contribution and also its relevance for Indonesian’s live. The Indonesian founders have discovered the values in it and used it as a name of state ideology, country motto, and state symbol. Old Java literature can be used as a source to understand society life in the past. In addition, the values can be used as life guidance.
Keywords: old Java literature, relevance, valu
Nilai Harmoni dan Keselamatan Alam Semesta
Reaason for Harmony: Anthology of Indonesian Writing in Translation oleh Kadek Krishna Adidharma(ed.).
Ubud Writers & Readers Festival. 2008. ix+ 102 halama
Feminisme dalam Sastra Jawa Sebuah Gambaran Dinamika Sosial
Artikel ini bertujuan membahas feminisme dalam sastra Jawa, salah satu sastra etnis di Indonesia yang masih eksis sampai saat ini. Sebelum kemunculan pengarang perempuan, perempuan dalam sastra Jawa ditulis oleh pengarang laki-laki sehingga mereka dideskripsikan sebagai makhluk tak berdaya dan setia pada pria, bukan sebagai sosok atau figur yang kuat. Baru tahun 1917-an, dengan munculnya pengarang perempuan muda dari Yogya dan Surabaya, persepsi feminisme dalam sastra Jawa berubah. Dalam karya-karyanya, mereka mendemonstrasikan solidaritas terhadap perempuan yang menjadi korban ketidaksetaraan gender. Saat ini, sastra Jawa feminis ditulis baik oleh pengarang perempuan maupun laki-laki. Pengarang perempuan menyuguhkan sebuah konsep feminisme yang mengarah pada kesetaraan gender, sementara pengarang laki- laki berusaha untuk membela perempuan tertindas dengan cara laki-laki
Abstract:
This article is aimed to discuss feminism in Javanese literature, one of the ethnical literatures in Indonesia which still exist up till now. Prior to the emergence of female authors, women in the Javanese literature had been written by male authors so that they had been described as being submissive and loyal to men instead of an image or figure of strong ones. Not until 1917s, by the emergence of young female authors from Yogya and Surabaya, did the perception of feminism in Javanese literature change. In the works, they have demonstrated solidarity to women who became the victims of gender inequality. At the present time, feminist Javanese literatures are written by either female or male author. Female authors present a feminism concept which leads to gender equality, whereas male authors make an effort to defend oppressed women by manly methods.
Keywords: feminist, Javanese literature, gender equality, female author
Telaah Estetika dalam Novel Nayla Karya Djenar Maesa Ayu
Sebuah karya sastra adalah produk kreativitas seorang pengarang dalam memandang kehidupan dan lingkungan sosial ketika karya tersebut diperkenalkan. Dalam proses kreatifnya, seorang pengarang melakukan kerja keras dan serius dalam berbagai dimensi kehidupan dengan realisasi estetiknya dan berujung pada proses imajinatif, kontemplatif, reaktif, reflektif, dan refraktif. Ini dilakukan untuk merepresentasikan karya-karya sastra pengarang. Oleh karena itu, estetika diinternalisasikan ke dalam karya-karya sastra beserta genrenya. Masalah estetika sastra adalah aspek menarik untuk diteliti karena mewarisi gagasan kontemporer mengenai simbol dan pengalaman estetik dengan sifat uniknya. Dalam perjalanan kontemplasinya, seorang pengarang terkadang dihadapkan pada sebuah kontradiksi antara konvensi dan kreasi yang membuat pembacanya terkejut. Fenomena yang hampir sama terjadi dalam novel berjudul Nayla karya Djenar Maesa Ayu. Dalam novel ini, pengarang memiliki semacam kesensitifan untuk menghadapi sebuah objek dan kemampuan untuk menyerap makna keindahan. Keindahan tersebut ditata dengan menghubungkan sifat subjek dan objek melalui keterampilan dalam menata dan mengombinasikan bahasa. Itulah cara bagaimana seorang pengarang bekerja dalam koridor estetika untuk mengekspos konflik, perjuangan, dan dominasi dalam teks sastra.
Abstract:
A literary work is an author creativity product in seeing life and social environment in the time when the work is introduced. In his creative process, an author performs a hard and serious work on various life dimensions with their esthetic realization that ends in the imaginative, contemplative, reactive, reflective, and refractive process. This is done to represent the author’s literary works. Therefore, esthetics is internalized in the literary works along with their genres. The issues on esthetics in literature are interesting aspects to investigate since they inherit contemporary ideas pertaining to symbols and esthetic experience with its unique features. In his journey of contemplation, an author is sometimes confronted with a contradiction between convention and creation that makes the readers get surprised. Almost similar phenomenon takes place in the novel entitling Nayla written by Djenar Maesa Ayu. In this novel, the author has a kind of sensitivity to face an object and ability to absorb the sense of beauty. The beauty is arranged by relating the nature of subject and object through the skills in arranging and combining languages. That is the way how an author works in esthetic corridor to expose conflicts, struggles, and domination in literary texts.
Keywords: creative process, esthetics, reality of subject and objec