Atavisme: Jurnal Ilmiah Kajian Sastra
Not a member yet
    235 research outputs found

    The Negotiation Between Queer Spectatorship and Queer Text on Riri Riza’s Soe Hok Gie

    Get PDF
    The emergence of young generation filmmakers who are more confident in depicting gender and sexual issues after the Soeharto era (1998), significantly changes the construction of sexual diversity in 2003-2006 Indonesian films. One of the considerable phenomena is the personal experience and social commitment to support sexual minorities such as gay and lesbian issues. At the same time Indonesian queer communities strive to read the discourse of homosexuality in different way. Physical contact and even intimacy between persons of the same-sex, in both public and private spaces, was common practice in Indonesian cultures, and did not carry any suggestion of homoerotic desire. In this Riri Riza’s film, Soe Hok Gie, however, cinematic technique, narrative and dialogue all contribute to an eroticising of same-sex relationships that is particularly perceptible in cultures that previously regarded physical and emotional interactions between persons of the same-sex as unremarkable. This article based on Benshoff and Griffin’s (2006) theory on queer film. Abstrak: Perkembangan film Indonesia setelah tumbangnya rezim Soeharto menunjukkan adanya fenomena di kalangan sutradara muda untuk mengeksplorasi tema tentang gender dan seksualitas. Isu tentang seksual minoritas seperti seksualitas gay dan lesbian adalah salah satu ciri yang cukup menonjol dalam film-film yang diproduksi setelah tahun 2003. Pada saat yang sama, penonton queer (seksualitas nonnormatif) terutama yang berasal dari komunitas queer membaca scene sebuah film terutama yang menampilkan kontak fisik dan keintiman antara orang-orang sesama jenis dengan cara yang baru. Dalam tradisi budaya Indonesia, kontak fisik dan keintiman itu tidak diterjemahkan dalam sebuah hubungan homoerotika . Pembacaan yang berbeda ditunjukkan pembaca dalam film Soe Hok Gie karya Riri Riza. Artikel ini menggunakan teori Queer Film yang dikemukakan oleh Benshoff dan Griffin (2006). Kata-Kata Kunci: queer spectatorship, homoerotisisme, Soe Hok Gi

    Obituari Prof. Dr. Umar Junus (1934-2010)

    Get PDF
    Obituari Prof. Dr. Umar Junus (1934-2010

    Lokasi Dan Kelompok Teater Indonesia 2001-2005 (Analisis Rubrik Teater Majalah Tempo)

    Get PDF
    Artikel ini bertujuan mendeskripsikan kelompok-kelompok teater yang berkecimpung dalam pementasan teater di Indonesia dan peta lokasi pementasan sebagaimana diulas dalam majalah Tempo tahun 2001-2005. Hasil penelitian ini menunjukan kelompok teater yang paling konsisten dalam mementaskan suatu naskah setiap tahunnya adalah Teater Koma. Kelompok teater berikutnya yang relatif banyak berkiprah dari tahun 2001-2005 berdasarkan artikel rubrik teater Tempo yaitu Teater Mandiri, Teater Garasi, dan Actors Unlimited Bandung. Kelompok teater pada jajaran berikutnya yang mementaskan lebih dari satu kali pada periode 2001-2005, yaitu Teater Gandrik, Bengkel Teater, dan Mainteater Jakarta. Lokasi pementasan teater selama 2001-2005 berdasarkan rubrik teater majalah Tempo sebagian besar berlangsung di berbagai gedung teater di Jakarta. Perbandingan jumlah lokasi pertunjukannya adalah sebagai berikut: Jakarta (50 pementasan), Yogyakarta (6 pementasan), Surakarta (2 pementasan) dan Bandung (1 pementasan). Abstract: This article aims to describe the theater groups being active in theater performances in Indonesia and the performance location map as reviewed in Tempo magazine in 2001-2005. The research result has shown that the most consistent theater group in performing a script each year is Teater Koma. The next group which have relatively many performances in 2001-2005 according to Tempo’s articles are Teater Mandiri, Teater Garasi, and Actors Unlimited Bandung. The next level groups which have more than one performance in 2001-2005 are Teater Gandrik, Bengkel Teater, and Mainteater Jakarta. The theater performance locations in 2001-2005, according to Tempo’s articles, mostly took place in Jakarta’s theater houses. The ratio of performance locations amount is as follows: Jakarta (50 performances), Yogyakarta (6 performances), Surakarta (2 performances), and Bandung (1 performance). Key Words: theater performance location, theater group, Tempo magazin

    Perempuan Seni Tradisi: Multidimensi dan Generalisasi

    Get PDF
    Resensi Buk

    Citraan Perlawanan Simbolis Terhadap Hegemoni Patriarki Melalui Pendidikan dan Peran Perempuan di Arena Publik dalam Novel-Novel Indonesia

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengungkap gambaran perlawanan simbolis terhadap hegemoni patriarki melalui pendidikan dan peran perempuan di arena publik dalam novel-novel Indonesia dengan kritik sastra feminis. Untuk mencapai tujuan tersebut, secara purposif dipilih sejumlah novel periode 1920 sampai 1980-an yang secara intens mengangkat isu pendidikan bagi perempuan dan peran perempuan di ranah publik. Hasil penelitian menunjukkan adanya perlawanan terhadap hegemoni patriarki dalam bentuk perjuangan para perempuan untuk mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan yang masih digunakan untuk mempersiapkan tugas-tugas domestiknya, sebagai ibu rumah tangga (Azab dan Sengsara dan Sitti Nurbaya), pendidikan bagi perempuan yang mempersiapkan dirinya ke dalam pekerjaan di sektor publik, terutama sebagai guru (Layar Terkembang, Kehilangan Mestika, Widyawati, dan Manusia Bebas), yang dilanjutkan dengan masuknya perempuan terpelajar tersebut dalam organisasi perempuan untuk memperjuangan emansipasi perempuan dan perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia (Layar Terkembang, Manusia Bebas, dan Burung-burung Manyar). Abstract: This study is aimed at exposing the depiction of symbolic resistance of patriarchal domination through education and the role of women in public domain and in the novels of Indonesia by feminist literary criticism. To achieve these objectives, a number of novel from 1920 until 1980s that raised the issue of intensive education for women and the role of women in the public domain were purposively selected. The result shows the resistance to the hegemony of patriarchy in the form of women’s struggle to get a chance to still use their education to prepare for domestic tasks, as housewives (Kehilangan Mestika and Sitti Nurbaya), education for women who are preparing themselves to work in a public sector, primarily as a teacher (Layar Terkembang, Kehilangan Mestika, Widyawati, and Manusia Bebas), continuing with the entry of women educated in women’s organizations to women’s emancipation and the struggle towards independence of Indonesia (Layar Terkembang, Manusia Bebas, and Burung-burung Manyar). Key Words: symbolic resistance, patriarch, nove

    Makna Mantra Melaut Suku Bajo

    Get PDF
    Mantra adalah salah satu genre puisi lama yang pembacaannya dimaksudkan untuk menimbulkan efek magis atau kekuatan tertentu. Mantra, dalam pandangan masyarakat Bajo, diyakini dapat memberikan kekuatan demi pencapaian tertentu terhadap suatu tujuan. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap makna yang terkandung dalam mantra melaut suku bajo. Data yang dianalisis terdiri atas dua mantra, yaitu mantra untuk memasang pukat dan mantra untuk mengatasi badai. Analisis yang dilakukan menggunakan teori semiotik menurut pandangan Michael Riffatere. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum teks mantra melaut suku Bajo memiliki hubungan yang dekat dengan teks Alquran. Artinya, penciptaan mantra melaut mendapat inspirasi dari kandungan teks Alquran. Abstract: Spell is one of the old poetry genres that is used to raise particular power or magical effect. Spell, in the view of Bajo society, is believed giving a power to reach particular desire. This research is aimed to explore the meaning that is contained in Bajo society’s spell when going to sea. In this study, there are two spells analyzed, spell when going to put on seine and spell when going to handle the sea storm, by using Michael Riffatere’s semiotic theory. The result of this study shows that generally texts in the spell have a close relationship with Quran. It means that the making of spell when going to sea takes inspiration from Quran. Key Words: Bajo of Etnic; spell when go to sea; Riffatere’s semioti

    Marginalisasi dan Revitalisasi Parikan di Era Kelisanan Sekunder

    Get PDF
    Sastra lisan parikan termarginalisasikan dari masyarakatnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah karena: makin langkanya habitat tempat munculnya parikan (ludruk, tayub, dll.); melimpahnya acara pop di media elektronik TV; punahnya budaya sindiran; tergusurnya lembah lokalisasi; makin berkurangnya jumlah penjual jamu di pasar tradisional dan para pedagang keliling berlayar tancap; lenyapnya budaya cangkrukan/jagongan. Meskipun demikian, ada dua komunitas yang tetap melestarikan parikan, yaitu komunitas pesantren, yang tetap mempertahankan parikan sebagai produk kelisanan primer, dan masyarakat Jawa pedesaan serta komunitas urban etnis Jawa, yang melestarikan parikan sebagai produk kelisanan sekunder dalam kemasan media elektronik. Di antara parikan yang masih tersisa, terdapat parikan pelesetan, yang hanya main-main oleh dagelan ludruk, dan parikan serius, sebagai media iklan resmi layanan masyarakat oleh kepolisian, parpol, perusahaan, dan media massa, serta sebagai kritik sosial terhadap ketimpangan keadaan dan kesewenangan penguasa, juga oleh dagelan ludruk. Abstract: Parikan as oral literature is marginalized from its society in East Java and Central Java because the more rarely of habitat it emerges (ludruk, tayub, etc); the abundance of popular programs in TV electronic media; the vanishing satirical culture; the abolition of prostitution locality; the lesser of the amount of herbs seller in traditional market and vendors on layar tancap; the diminishing of the culture of cangkrukan/jagongan. Fortunately, yet there are two communities keeping on conserve parikan, they are pesantren community, which keeps parikan as the product of primary orality, and Javanese villagers and also Javanese urban community who conserve parikan as the product of secondary orality in electonic media packaging. Among the rest of parikan, there are plesetan parikan, merely for jokes which come from ludruk comedians, and serious parikan, as the official advertising media of public service by police department, politic parties, companies, and mass media, also as the social critique by ludruk comedians towards social injustice and despotism of public officers. Key Words: oral literature; revitalization; secondary orality; social critique; marginalizatio

    Karakter Masysrakat Madura dalam Syair-Syair Lagu Daerah Madura

    No full text
    Lagu dan syair Madura merupakan salah satu wujud kebudayaan masyarakat Madura. Sayangnya, faktor keterbatasan pemahaman tcntang syair lagu Madura menjadikan syair-syair itu kurang bermakna. Akibatnya, masyarakat. Madura kurang bisa menghargai syair-syair tersebut dan hanya menempatkannya sebagai karya budaya yang tidak memiliki peran signifikan dalam membangun masyarakat Madura. Padahal apabila dikaji lebih jauh, syair- syair dalam lagu-lagu Madura memiliki makna yang dalam karena mampu memberikan gambaran tentang jati diri masyarakat dan simbol-simbol sosial mcrcka yang dapat dipakai sebagai acuan dan pegangan hidup. Artikel ini berusaha memberikan gambaran tcntang jari diri masyarakat Madura yang tergambar dalam syair-syair lagu Madura. Abstract Madurese traditional songs and the traditional songs' lyrics are two of Madurese cultures. But, because Madurese people lack understanding of the Madurese Lyrics values, this makes the lyrics meaningless. Because of that, Madurese pay little attentions to the lyrics and consider them as ordinary cultural works which play no role towards their society. In fact, when they study further the values behind the lyrics, they will realize that, actually, the lyrics contain a lot of wisdoms and are able to give them a picture that shows them who they really are. This picture can become a form of guidance in their society. This article informs the reader the truth portrait about the real Madurese characters that are reflected from Madurese traditional songs' lyrics. Keywords: traditional songs' lyrics, Madurese, life character

    Gandrung dalam Kemasan Kritik Sosial Bernuansa Parodi

    Get PDF
    Gandrung (Kumpulan Naskah Drama) oleh Ilham Zoebazary. Visart Global Media, Jember, 2009, viii + 190 halama

    Membaca Indonesia dalam Orang-Orang Bawah Tanah: Kumpulan Naskah Drama

    No full text
    Sebagai institusi sosial, karya sastra menghadirkan kehidupan dan masalah-masalah realitas sosial dalam rnasyarakat yang memengaruhi kehidupannya. Itulah sebabnya mengapa karya sastra memiliki fungsi sosial sebagai reaksi, penerimaan, kritik, atau ilustrasi tentang keadaan tertentu sebagaimana llham Zoebazary menggambarkan Indonesia sejak Orde Baru hingga reformasi dalam kumpulan naskah dramanya. Kritik yang diketengahkan berhubungan dengan pelayanan pemerintah, perilaku aparat pemerintah, kehidupan rakyat kecil, dan persoalan- persoalan sosial lainnya Abstract: As a social institution, a literary work presents a life and consists of-mostly-social realities that influence life. That is why literary works have social functions as a reaction, conception, criticism, or illustration about certain situation. As llham Zoebazary describes Indonesia since new era government until reformation period in his collection of drama texts. Criticisms that are presented interrelated with governments service, behavior and attitude of government official, proletariat's life, and so on. Keywords: the collection of drama, underground people. and proletaria

    156

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Atavisme: Jurnal Ilmiah Kajian Sastra
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇