Atavisme: Jurnal Ilmiah Kajian Sastra
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Formula Dan Ekspresi Formulaik: Aspek Kelisanan Mantra Dalam Pertunjukan Reog
Artikel ini bertujuan mendiskusikan aspek kelisanan mantra yang digunakan dalam pertunjukan reog. Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam seni tradisi reog, mantra merupakan media verbal yang digunakan oleh pembarong untuk mendatangkan kekuatan magis dalam rangkaian tari dhadhak merak. Mantra-mantra di antaranya Mantra Prosesi Drojogan dan Mantra Pangracutan dalam konteks pertunjukan reog merupakan wujud aspek kelisanan. Mantra-mantra tersebut tersusun atas formula-formula, yakni formula repetisi tautotes, formula paralelisme sintaktis, formula konkatenasi, formula repetisi anafora, dan formula repetisi epifora. Dengan beragam formula tersebut, mantra memiliki perulangan yang berpola dan men- jadi terasa ritmis sehingga menunjukkan ekspresi formulaik. Formula dan ekspresi formulaik tersebut merupakan aspek kelisanan utama yang mencerminkan sakralitas dan spiritualitas da- lam seni tradisi reog.
Abstract:
This article aims to discuss aspects of spells (magic-formula) orality used in the reog show. The study shows that in the reog tradition art, the spells is a verbal medium used by pembarong to bring in a series of magical power dhadhak merak dance. Spells among others, Prosesi Drojogan and Pangracutan spells in the context of the show is a form of reog orality aspects. Spells are made up of formulas, i.e. tautotes repetition formula, syntactic parallelism formula, concatenate formula, anaphora repetition formula, and epifora repetition formula. With a variety of formulas, the repetition of the spells has become patterned and rhythmic feel, thereby indicating formulaic expression. The formulas and formulaic expressions are the main orality aspects that reflect sacredness and spirituality in reog traditions art.
Key Words: spells or magic-formula, formulas, sacredness, spirituality, tradition ar
Umbu Landu Paranggi dalam Pembinaan Sastrawan Indonesia: Studi Kasus Persada Studi Klub
Tulisan ini bertujuan memaparkan cara Umbu Landu Paranggi dalam membina sastrawan Indonesia melalui komunitas Persada Studi Klub dengan perspektif sosiologi sastra. Pada tanggal 5 Maret 1969, Umbu Landu Parangi dan teman-temannya mendirikan komunitas sastra atau komunitas seni pada umumnya di Yogyakarta yang diberi nama Persada Studi Klub (PSK). Aggota PSK umumnya adalah penulis muda yang dapat menunjukkan karyanya atau sekurang-kurangnya mempunyai ketertarikan yang serius kepada seni. Setiap anggota PSK didorong untuk menjadi penulis yang berhasil. Umbu membina para pengarang pemula itu secara persuasif, disiplin, dan mandiri. Umumnya karya mereka dipublikasikan dalam dua rubrik surat kabar Pelopor Jogja, yaitu rubrik “Sabana” dan “Persada”. Kedua rubrik itu diasuh oleh Umbu Landu Paranggi. Jadi, sebagai anggota PSK, penulis muda tidak hanya mendapat kesempatan untuk meningkatkan dan mengeksplorasi kemampuannya melainkan juga memperoleh kesempatan untuk menerbitkan dan memperkenalkan karya-karyanya ke masyarakat luas.
Abstract:
This paper is aimed to describe Umbu Landu Paranggi method in Indonesian man of letters build through Persada Studi Klub community by sociology of literature perspectives. In March 5, 1969, Umbu Landu Paranggi and his colleagues founded literature community, or art in general, in Yogyakarta which is named Persada Studi Klub (PSK). The member of PSK are mostly young writer who can show their works or at least they have serious interest on the arts. Every PSK member was encouraged to be success writer. Umbu cultivate the beginner's authors persuasive, discipline, and independent. Mostly their works were published in two rubrics of Pelopor Jogja newspapers, i.e. “Sabana” and “Persada”. Both rubrics was hosted by Umbu Landu Paranggi himself. So, as the PSK member, the young writers not only have a chance to improve and explore their capability but also to publish and introduce their works to the wider community.
Key Words: guiding young writer, persuation, communit
Seni Sastra, Teater, dan Film dalam Konteks Perkotaan: Industrialisasi dan Urbanisme (Studi Kasus Serial Sinetron Film ”Intan”)
Tulisan ini bertujuan memaparkan korelasi antara produksi seni sastra, seni teate, dan film serta menjelaskan keterkaitan yang erat antara urbanisasi, industrialisasi, dan urbanisme dengan perkembangan iptek dan seni, termasuk seni sastra, seni drama/teater, dan seni film/sinetron. Seirama dengan dinamika proses globalisasi di segala bidang, termasuk budaya dan seni, fenomena tersebut akan berdampak pada proses akulturasi lintas/silang budaya, perge- seran dan atau perubahan tata nilai dan identitas budaya bangsa. Akankah muncul identitas bu- daya ’baru’ (sebut yang khas ’urban’) dengan cara mengesampingkan atau membuang jauh-jauh identitas budaya ’lama’ (sebut tradisional) yang dianggap sudah ketinggalan zaman? Bagaimana sepantasnya ’masyarakat sastra, teater, dan film’ menyikapi fenomena-fenomena tersebut secara kritis, realistis, dinamis, dan arif? Serial Sinetron Film “Intan” dalam makalah ini diambil seba- gai studi kasus karena rating-nya yang relatif konstan tertinggi jika dibandingkan dengan serial sinetron film lainnya di media yang sama dalam kurun waktu yang sama.
Abstract:
This paper is aimed to describe correlation between literary, theater, and film art production and explain the strong interrelatedness between urbanization, industrialization, and urbanism by the development of science technology and art, including literary art, drama/theater art, and film/sinetron art. Along with the dynamic of globalization process in all aspects, including culture and art (literary, theater, and film art in this case), the phenomena will have influences to cross/inter-cultural acculturation process, shift and/or change in a nation’s cultural identity and values. Will a ‘new’ (call it urban) cultural identity emerge by putting aside or getting rid of the ‘old’ cultural identity (call it traditional) which is regarded as old fashion? How should a ‘literary, theater, and film community’ behave critically, realistically, and dynamically, and wisely to the phenomena? Sinetron series Intan in this article has been taken as a case study for its relatively-constant-high rating compared to other sinetrons in the same media and period.
Key Words: literary art, industrialization, urbanis
Analisis Makna Lagu Bugis “Sajang Rennu” Ciptaan Yusuf Alamudi Melalui Pendekatan Hermeneutika
Tulisan ini bertujuan membahas makna lagu Bugis Sajang Rennu ciptaan Yusuf Alamudi melalui pendekatan hermeneutika. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik inventarisasi, baca-simak, dan pencatatan dalam pengumpulan datanya. Teknik analisis data melalui tahap identifikasi, klasifikasi, analisis, dan deskripsi. Analisis makna lagu dengan pendekatan hermeneutika ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu analisis kata dalam larik lagu, analisis larik dalam bait, dan analisis bait dalam lagu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna lagu Sajang Rennu ciptaan Yusuf Alamudi adalah adanya rasa sirik ‘malu’ dari seorang lelaki karena kekasih pujaan hatinya menikah dengan orang lain tanpa kabar berita. Konsekuensi dari rasa sirik ‘malu’ ini membuatnya berpikir untuk mengakhiri hidupnya.
Abstract:
This writing is intended to discuss the meaning of Buginese song Sajang Rennu by Yusuf Alamudi using hermeneutic approach. This research applies descriptive qualitative method by collecting data using inventory technique, reading-observing, and noting. The technique of data analysis is identification, classification, analysis, and description. The result of the research shows that the meaning of Sajang Rennu by Yusuf Alamudi is sirik or feeling embarassed of a man since his girl friend gets married to another man without any notification before. The consequence of sirik makes him think of suicide. It is figured by the statement that one day people will find a new grave, and he is in.
Key Words: meaning; Buginese song; hermeneutic researc
Baruang Ka Nu Ngarora: Representasi Perubahan Sosial Masyarakat Sunda Abad XIX
Mikihiro Moriyama menjelaskan bahwa tradisi cetak baru masuk ke daerah Sunda sekitar pertengahan abad ke-19. Masuknya mesin cetak dapat diperkirakan bersamaan dengan mulai dikenalnya kertas. Sebelumnya, orang Sunda lebih banyak menulis di atas daun lontar dan media lain seperti kulit kayu dan batu. Situasi ini memicu adanya perubahan dan perkembangan di seputar dunia tulis-menulis. Meskipun tidak secara drastis, pergeseran dalam dunia sastra Sunda telah muncul. Secara simbolis pergeseran itu ditandai dengan munculnya novel Sunda pertama, yaitu Baruang Ka Nu Ngarora ‘Racun bagi Remaja’. Makalah ini merepresentasikan berbagai perubahan sosial yang terjadi di Masyarakat Sunda abad ke-19 sebagai lingkungan pendukung novel Baruang Ka Nu Ngarora. Selain itu, makalah ini juga membahas novel Baruang Ka Nu Ngarora yang menggambarkan berbagai kebaruan sebagai akibat adanya perubahan sosial tersebut.
Abstract:
Mikihiro Moriyama explained that the new print tradition arrived in Sundanese region approximately in the middle of 19th century. It can be estimated that the entrance of printing was simultaneous with the existance of paper start he knew the paper. Previously, Sundanese wrote more on palm leaves and other medias such as leather, wood and stone. This situation has triggered the changes and developments around the world of writing. While not drastically, shifts in the world of Sundanese literature has emerged. Symbolically, the shift was marked by the emergence of the Sundanese first novel, namely Baruang Ka Nu Ngarora 'Toxic for Teens'. This paper represents the various social changes that occurred in the Sundanese Society in 19th century as a supporting environmental to novel Baruang Ka Nu Ngarora. In addition, this paper also discusses the novel depicting various novelty as a result of the social changes.
Key Words: oral tradition, manuscripts (wawacan), mol
Pelapisan Sosial dan Pernikahan Ideal dalam Mitos Sangkuriang: Telaah Struktural Antropologi Lévi-Strauss
Mitos Sangkuriang merupakan mitos yang pesan kearifan tradisinya “gagal” dicerna oleh masyarakat pemiliknya. Mitos ini pada akhirnya hanya mampu menceritakan asal mula
”kelahiran” sebuah gunung dan cekungan Bandung, dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan manusia kecuali tentang perjalanan kehidupan seorang anak manusia yang durhaka pada orang tuanya. Tampak bahwa, pesan-pesan mitos ini sedemikian naifnya jika dibandingkan dengan dinamika perjalanan kehidupan yang dijalani oleh manusia Sangkuriang. Karena itulah perlu cara pandang, pemahaman dan penafsiran yang tidak hanya menangkap berbagai fenomena atas peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga untuk melihat ‘batin sosial’ suatu masyarakat bahkan melihat ke dalam ‘struktur dalam’ (deep structure) suatu masyarakat. Dengan demikian mitos sebagai sebuah ”proses komunikasi” lintas generasi dalam tataran simbolis mampu hadir dan bermakna dalam tatanan yang apik dan rapih sebagai alternatif solusi mengatasi atau memecahkan berbagai kontradiksi empiris yang selama ini tidak terpahami oleh nalar manusia.
Abstract:
Sangkuriang myth represents myth whose message of its tradition wisdom is "fail" to be digested by its owner society. This myth in the end only can narrate provenance "birth" a Bandung hollow and mount, and there no relation with human life except about life journey a disaffected human being child at its old fellow. See that, messages of this myth is naive in such a way in comparison with life journey dynamics experienced by Sangkuriang human being. Therefore, it needs a way of approach, interpretation and understanding which do not only catch various phenomenon to the event that happened in everyday life, but also to see 'social mind' society, even see into 'structure in' (structure deep) society. Thereby myth as a "communications process" passed by quickly generation in symbolic devices can attend and have a meaning of in nice structure and good alternatively solution overcome or solve various empirical contradiction is not comprehended by human being natural existence
Key Words: incest, social veneering, and Sangkurian
Etnografi Sastra Using: Ruang Negosiasi dan Pertarungan Identitas
Kajian ini menekankan bagaimana komunitas Using memandang, menyikapi, dan mensiasati sastra sebagai ungkapan identitas diri dan persentuhannya dengan kekuatan-kekuatan lain, terutama modernisasi, agama, dan kebijakan negara. Hal ini tampak terlihat pada teks lakon Jinggoan, syair-syair dalam pertunjukan Gandrung, dan basanan wangsalan dalam Warung Bathokan sebagai bentuk resistensi dan representasi identitas Using. Perlawanan terhadap berbagai ancaman, baik yang bersifat fisik maupun pencitraan negatif berulang kali terjadi dalam kesejarahan masyarakat Using. Konsep yang membangun hegemoni adalah budaya dominan (yang sedang berkuasa), budaya residual (unsur budaya yang tersisa dari masa lalu), dan budaya emegrent (unsur budaya yang baru muncul). Dalam analisis etnografis, metode interpretasi dipergunakan untuk mengakses lebih dalam terhadap berbagai domain yang dialamiahkan dan aktivitas karakteristik pelaku budaya yang diteliti.
Abstract:
This study emphasizes on how Using community view, respond, and anticipate literature as an expression of self identity and relation with other forces, especially modernization, religion and state policy. This can be seen on Jinggoan stories, poems, and basanan Gandrung wangsalan in Warung Bathokan as a form of resistance and the representation of Using identity. Resistance against various threats, both physical and negative imagery occur repeatedly in Using history. The concept that builds hegemony is the dominant culture (which is in power), the residual culture (cultural elements remaining from the past) and culture emegrent (newly emerging cultural elements). In the ethnographic analysis, interpretation method is used to access more of the various domains in which characteristics of perpetrators of cultural activities is being investigated.
Key Words: Using literature, resistance, contestation, negotiation, identit
“Kondisi Postmodern Kesusastraan Indonesia”: Sebuah Laporan Sejarah Sastra Indonesia
Judul Buku : Kondisi Postmodern Kesusastraan Indonesia. Penulis : Ribut Wijoto.
Penerbit : Dewan Kesenian Jawa Timur.
Tahun Terbit : November, 2009.
Jumlah Halaman : 278 halaman